Senin, 27 Juli 2020

Top 3 Drama Korea Penyebab Second Lead Syndrome

Juli 27, 2020 3 Comments

Lagi-lagi tulisan ini akan membahas tentang drama Korea. Haha. Jangan bosan ya! Tulisan ini adalah tulisan untuk topik ke-20 tantangan menulis drama Korea bersama teman-teman KLIP Drakor dan Literasi, teman-teman yang sehobi suka menonton drama Korea plus suka menulis.

Memang banyak sekali hal yang bisa dibahas hanya dari 2 kata, Drama Korea. Banyak tema dan cerita yang bisa digali darinya, rasanya kalau berbicara tentang drama Korea bahasannya bisa panjang dan bercabang kemana-mana. Terutama bagi fans garis kerasnya, 7x24 jam mungkin tidak cukup untuk membahas drama yang mereka sukai. lol.
Selain alur cerita yang menarik, salah satu daya tarik dari drama Korea adalah dari para pemainnya. Bukan hanya pemain utamanya tapi juga pemain pendukungnya yang disebut dengan second lead actor/actress.

Tidak jarang cerita-cerita tentang second lead couple dalam sebuah drama Korea menjadi hal yang dinanti-nanti penonton selain cerita tentang pemeran utama.

Aku sendiri termasuk orang yang selalu tertarik dengan kisah dari second lead couple. Lebih senang lagi, jika tidak ada cerita tentang perebutan pasangan dengan pemeran utama. Hidup masing-masing dengan kisah hidupnya sendiri.

Dari sekian banyak cerita second lead couple, ada beberapa yang masih membekas dalam hatiku (ejiyee~) dan bahkan membuatku cukup sulit melupakan cerita mereka karena suka sekali dengan kisah pasangan-pasangan second lead ini.
Drama-drama Korea yang membuat diriku cukup mengalami second lead couple syndrome adalah :

1. Descendants of The Sun

Letnan Yoo Myeong Joo dan Sersan Seo Dae Young
(Source : soomli.com)
Selain cerita tentang SongSong couple, ada juga kisah tentang sahabat dari Kapten Yoo Shi Jin (Song Joong Ki) dan dokter Kang Mo Yeon (Song Hye Kyo) yaitu Seo Dae Young (Jin Goo) dan Yoon Myeong Joo (Kim Ji Won).

Dari awal membaca topik tentang second lead syndrome ini, yang pertama terbesit dipikiranku adalah pasangan letnan dan sersan ini. Jinjja, mereka berdua sukses membuatku baper dan selalu menanti-nanti ceritanya dalam drama DOTS.

Letnan Yoon Myeong Joo diceritakan jatuh cinta dengan bawahannya yaitu Sersan Seo Dae Young. Mereka berdua saling tertarik awalnya ketika secara tidak sengaja Myeong Joo mengajak Dae Young untuk menghadiri pesta pernikahan mantannya dan mereka berpura-pura datang sebagai pasangan kekasih.
Tentu saja, pangkat sersan yang berada di bawah letnan menjadi ganjalan dalam hubungan keduanya. Ayah letnan Yoon Myeong Joo yaitu Letnan Jendral Yoon Gil Joon menentang keras hubungan putrinya dengan prajurit yang berpangkat lebih rendah.

Source : soompi.com
Dalam drama, kita akan melihat bagaimana perjuangan Myeong Joo meluluhkan hati Dae Young yang bersikeras tidak ingin melanjutkan hubungan mereka dengan alasan restu dari ayah Myeong Joo yang mustahil didapatkan.

Hubungan mereka bagaikan roller coaster. Naik, turun juga berkelok-kelok. Suatu hari, Myeong Joo terserang penyakit mematikan saat bertugas ke sebuah negara berkonflik di Urk. Setelah sembuh, Seo Dae Young baru menyadari betapa ia tidak ingin kehilangan Myeong Joo dari hidupnya.

Dengar-dengar, sebenarnya kisah Myeong Joo dan Dae Young seharusnya berakhir tragis dengan kematian Myeong Joo akibat terinfeksi virus tersebut. Namun, hamdallah penulis naskah mengubah cerita mereka berdua hingga berujung manis.

Kim Ji Won dan Jin Goo sukses betul memerankan peran mereka. Melihat Myeong Joo bersusah payah memperjuangkan hubungannya dengan Dae Yong, sementara sang sersan bersikeras jaim dan ingin menjauh bikin gemas hingga gregetan sendiri melihatnya. 

2. Goblin

Grim Reaper dan Sunny
Source : soompi.com
Karakter yang diperankan oleh Lee Dong Wook dan Yoo In Na sebagai Wang Yeo (Grim Reaper) dan Sunny (Kim Sun) dalam drama bertajuk Goblin ini sukses membuat banyak penonton mengalami second lead syndrome.

Berkat kesuksesan mereka berdua membuat baper para penikmat dramanya, kemudian muncul drama berjudul Touch Your Heart dimana kali ini Lee Dong Wook dan Yoo In Na menjadi pemeran utamanya.

Selain cerita masa lalu tentang Kim Shin sang Goblin, masa lalu tentang Malaikat Pencabut Nyawa dan wanita bernama Sunny ini juga membuat penonton penasaran. Ada apa dengan kehidupan mereka sebelum berada di kehidupan saat itu (dalam drama)?

Ternyata sebelum bereinkarnasi menjadi Grim Reaper dan Sunny, Grim Reaper adalah seorang raja bernama Wang Yeo dari kerajaan Goryeo sementara Sunny adalah Kim Sun, adik perempuan dari Kim Shin (Goblin).
Si kehidupan sebelumnya, kisah cinta mereka benar-benar tragis. Wang Yeo diceritakan membunuh Kim Sun, perempuan yang dicintainya. Selanjutnya, Wang Yeo membunuh dirinya sendiri karena tidak sanggup kehilangan Kim Sun.

Bahkan dalam kehidupan mereka setelah menjadi Grim Reaper dan Sunny, akhir cerita mereka juga tidak bisa disebut bahagia karena Grim Reaper menghapus semua ingatan Sunny akan dirinya setelah memberikan sebuah kecupan perpisahan.

Kisah tragis mereka berdua kemudian membawa seorang produser drama untuk menjadikan mereka sebagai pasangan utama dalam drama Touch Your Heart. Karena ternyata, cukup banyak penonton yang menjadi shipper mereka berdua.

Seolah ingin mengobati luka penonton Goblin yang menginginkan cerita bahagia antara Grim Reaper dan Sunny, Touch Your Heart memberikan sentuhan berbeda dengan Goblin. Dalam drama Touch Your Heart, kita akan menyaksikan bagaimana romansa keduanya berbalut komedi dan tidak ada scene tragis dan berdarah-darah seperti dalam drama Goblin.

3. Crash Landing On You

Gu Seung Joon dan Seo Dan
Source : dramabean.com
Saat pertama Seo Dan (Seo Ji Hye) muncul sebagai tunangan dari Kapten Ri Jeong Hyeok (Hyun Bin), aku langsung naksir pada pandangan pertama dengan parasnya yang cantik. Haha. Sebagai seorang perempuan, demen juga gue liat yang bening-bening begitu kan.

Sayang seribu sayang, Kapten Ri Jeong Hyeok memilih untuk memutuskan pertunangannya dengan Seo Dan dan memilih Yoon Se Ri (Son Ye Jin), wanita asal Korea Selatan yang secara tidak sengaja mendarat ke Korea Utara.

Seo Dan yang berasal dari Korea Utara bertemu dangan Gu Seung Joon aka Alberto Gu (Kim Jung Hyun), pria asal Korea Selatan yang pernah mencoba mendekati Yoon Se Ri. Seo Dan pun lama-lama teralihkan oleh Seung Joon yang entah bagaimana selalu ada saat Seo Dan membutuhkan teman bercerita.

Source : dramabean.com
Awalnya mereka berteman karena saling membutuhkan, butuh untuk mengambil kembali Ri Jeong Hyeok dan Yoon Se Ri ke sisi masing-masing. Namun, perlahan justru perasaan pada pasangan terdahulu pudar dan tergantikan dengan cinta yang baru.

Melihat kisah cinta mereka berdua tidak kalah menarik dengan cerita pemeran utama dalam CLOY ini. Kadang, aku malah menanti-nanti adegan antara Seo Dan dan Seung Joon. Seo Dan digambarkan sebagai sosok wanita angkuh, sombong dan sangat jaga image sedangkan Seung Joon, laki-laki urakan yang tidak kaku bahkan cenderung suka berbicara atau bertingkah konyol.

Tapi nasib Seo Dan tidak sebagus mantan tunangannya yang bisa bersama Yoon Se Ri meskipun harus mengungsi hingga ke Swiss. Seung Joon diceritakan tewas di tangan mafia Korea Utara karena ingin menyelamatkan nyawa Seo Dan yang saat itu diculik.

Seo Dan bersedih dalam waktu yang cukup lama. Perjalanan cintanya begitu singkat namun meninggalkan kesan yang begitu dalam. Ia sempat membuat ibunya khawatir karena tidak keluar kamar selama beberapa waktu. Namun, Seo Dan kembali bangkit dan menjadi wanita yang lebih kuat dalam menjalani hidupnya.

Seo Ji Hye dan Kim Jung Hyun dipertemukan kembali sebagai pasangan dalam drama Dinner Mate, tapi lagi-lagi mereka tidak ditakdirkan sebagai pasangan kekasih yang long lasting. Dalam Dinner Mate diceritakan Lee Young Dong (Kim Jung Hyun) berselingkuh dari Woo Do Hee (Seo Ji Hye) dan mencampakkan dirinya untuk bersama wanita lain.

Ketiga drama tersebut adalah drama yang masuk dalam Top 3 drama Korea yang membuat aku mengalami second lead couple syndrome. Haha. 

Adapun ciri-ciri yang ditunjukkan ketika kalian mengalami second lead syndrome adalah senang saat melihat kedua pasangan pemeran pendukung dalam suatu drama, menanti-nanti scene mereka, penasaran dengan kelanjutan kisah mereka dan ingin sekali melihat kisah mereka berakhir bahagia. Bahkan para pengidap second lead syndrome ini merasa kisah para second lead ini terasa lebih menarik dibandingkan tokoh utamanya.

Jadi, drakor apa yang bikin teman-teman mengalami second lead syndrome?

Sukabumi, 27 Juli 2020

Jumat, 24 Juli 2020

Scene Klise Dalam Kdrama yang Bikin Penonton Berandai-Andai

Juli 24, 2020 10 Comments

Wow! Tak terasa sudah memasuki topik ke-19 dalam Kdrama Writing Challenge. Kurang 1 topik lagi untuk menyelesaikan tantangan di bulan ke-2 ini. Bulan depan sudah masuk 10 topik terakhir dalam tantangan menulis bersama ibu-ibu KLIP Drakor dan Literasi.

Topik tulisan kali ini agak-agak membuatku harus berpikir lumayan lama, untuk memutuskan scene klise apa yang paling disuka atau yang menjadi favorite. Hmm..

Setelah memikirkan berbagai adegan klise dan cenderung mudah ditebak dalam berbagai judul drama Korea, ada 2 hal ter-klise versi diriku yang sering ditemukan dalam drama Korea bergenre romantis. Romance banget ni? Iya, yang paling sering aku tonton kan genre ini. Hehe.
Sebenarnya 2 adegan ini bukan merupakan adegan favoritku, tapi lebih ke sesuatu yang membuat penontonnya berimajinasi dan berhalusinasi. Seolah adegan-adegan dalam drama Korea ini mudah dan bisa terjadi pada siapapun, kapaunpun. Membuat penonton berharap kejadian serupa bisa terjadi pada dirinya.

Another Cinderella Story

Princess Hours, Secret Garden, Strong Woman Doo Bong Soon, Boys Over Flowers, Master's Sun, What's Wrong With Secretary Kim, Revolutionary Love, dan masih banyak lagi. You name it, lah!

Strong Woman Do Boong Soon
Source : soompi.com
Semua drama yang aku sebutkan di atas berkisah tentang perempuan dari kalangan menengah ke bawah yang jatuh cinta pada laki-laki dari kelas sosial yang jauh berada di atas mereka.
Para pangeran dan CEO tampan juga kaya raya tiba-tiba melabuhkan hatinya pada wanita miskin yang memiliki kepribadian unik serta berbeda dari kalangannya. Sang wanita yang tadinya hidup serba pas-pasan dan hampir melarat kemudian berubah setelah mengenal pria tersebut. Seluruh hutangnya lunas, hidupnya pun lebih terjamin. Persis kan yaa dengan cerita Cinderella.

Revolutionary Love
Source : soompi.com
Dalam drama tersebut, semua pemeran utamanya very good looking dan masih muda. Membuat penonton yang pastinya kebayakan kaum hawa iri hati dengan pemeran utama wanitanya, kemudian halu seandainya hal tersebut terjadi pada dirinya.

Ya nggak sih? Iya aja dong, karena aku sendiri pernah juga sesekali membayangkan punya pasangan tampan luar biasa dan tajir melintir serta berkelakuan lakik banget juga super perhatian. Haha. Dulu ya jaman masih single dan belum tampak hilal jodohnya. Hehe.

Tapi guys, sadar diri aja lah! Memangnya probabilitas kejadian tersebut di dunia nyata berapa persen? Berapa banyak pria kaya dan tampan jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama pada gadis yang memiliki banyak hutang dan harus kerja pontang panting demi menghidupi keluarga?

Memang aku pernah melihat siaran berita yang menampilkan seorang pria kaya yang menikah dengan gadis pelayan restaurant yang pernah ia kunjungi. Tapi lagi-lagi, peluang kejadian tersebut di dunia nyata tidak sebesar dan sesering dalam drama Korea.

Jadi untuk kalian yang masih single-available-free, don't push your luck untuk terus menanti pria-pria kaya dan tampan datang ke kehidupan kalian dan memboyong kalian ke istananya. Kalau kejadian ya berarti rezekinya. Hehe.

Dia Lagi, Dia Lagi

Satu lagi scene klise yang sering membuatku terheran-heran dan tidak habis pikir adalah ketika pemeran utama wanita dan pria sering sekali berpapasan di banyak tempat, dalam berbagai kesempatan.

Sebelumnya, mereka bahkan tidak pernah bertemu sama sekali. Namun setelah bertemu dan kenal, mereka akan bertemu secara tidak sengaja dimana-mana. Seperti takdir yang sudah berbicara, mereka bertemu di rumah makan, jembatan, mall, pinggir jalan, banyak deh. Dia lagi, dia lagi.

Dinner Mate
Source : idntimes.com
Drama-drama yang mengandung adegan ini antara lain Dinner Mate, Another Miss Oh, Encounter, dan ayo sebutkan apa lagi?!
Ini juga sering kali membuat para wanita berandai-andai atau memikirkan scene serupa akan terjadi pada dirinya. Kenapa selama aku di Bandung dulu, nggak pernah tuh bertemu dengan gebetan secara tidak sengaja? Dimanapun dan kapanpun. Padahal kan ingin juga sekali-kali mengalami scene seperti dalam drama. Haluu~ detected.

Encounter
Source : idntimes.com
Apa lantas kami tidak ditakdirkan untuk bersama? Ya, jodoh urusan Tuhan lah bukan begitu saja ketahuan setelah beberapa kali bertemu secara tidak sengaja. Walau aku dan suamiku dulu tidak pernah bertemu secara coincidence, kalau jodoh ya pasti bertemu dipelaminan. Hehe.

Tenang saja, guys! Jika kalian berharap akan bertemu secara tidak sengaja dengan gebetan setiap kalian keluar rumah seperti dalam drama Korea namun tidak terjadi, berharap saja pada Tuhan kalau gebetan kalian adalah takdir yang terbaik untuk kalian.

Bisa jadi, tidak pernah bertemu memang karena kalian tidak berjodoh. Tapi, tidak menutup kemungkinan akan terjadi sebaliknya.

Walaupun klise dan sering ditemukan dalam banyak judul drama Korea, kedua hal tersebut memiliki daya pikat dan kharisma tersendiri bagi penontonnya. Jika cerita-cerita seperti itu tidak diminati, tentu scene klise tersebut tidak akan diangkut ke sekian banyak drama Korea. Ya kan?

Sukabumi, 25 Juli 2020

Kamis, 23 Juli 2020

Sebuah Pencapaian Bersama KLIP

Juli 23, 2020 0 Comments

Bulan Juli ini merupakan bulan ke-7 dimana aku tergabung sebagai anggota KLIP (Kelas Literasi Ibu Profesional). Berawal dari keinginan untuk kembali memulai dan mengasah kemampuan menulis yang sejak lama vakum, aku seperti menemukan kembali dunia yang selama ini kucari.


Bersama KLIP, banyak sekali manfaat yang aku rasakan sampai saat ini. Pertama adalah semangat dan konsistensi untuk terus menulis. Setiap bulan, anggota dengan jumlah tulisan tertentu akan mendapatkan badge sebagai bentuk apresiasi dari tulisan-tulisan yang telah mereka setorkan.

Baca juga : Rumah Baru

Minimal tulisan untuk bisa mendapat badge adalah 10. Di awal bulan, para anggota akan menerima raport yang dibagikan secara virtual melalui FB Grup KLIP. Disana kami bisa melihat berapa jumlah tulisan kami di bulan sebelumnya dan apakah kami mendapat badge atau tidak.

Di awal tahun, KLIP mempersyaratkan anggota untuk mendapatkan badge dasar selama 2 bulan agar lolos ke sesi kelas selanjutnya. Dari sana, aku memasang target minimal mengumpulkan 10 tulisan setiap bulan agar bisa lolos ke sesi selanjutnya. Rasanya untuk mendapat badge Excellent (20 tulisan) apalagi Outstanding (30 tulisan) masih jauh dari target.


Di bulan Januari, aku berhasil mendapatkan badge dasar yaitu Good dengan mengumpulkan 10 tulisan. Pikirku kalau bulan ini bisa 10 tulisan, harusnya bulan-bulan depan bisa juga membuat 10 tulisan.

Di luar ekspektasi, bulan Februari aku mendapat badge Excellent dengan mengumpulkan 20 tulisan. Ommo! Rasanya akan menjadi sebuah kemunduran apabila aku hanya mengumpulkan 10 tulisan di bulan-bulan berikutnya. Sehingga targetku berubah menjadi menulis sebanyak 20 tulisan dalam sebulan.


Bagaimana bisa? Sejak bergabung dengan grup WA KLIP, aku menemukan banyak sekali anggota-anggota yang inspiratif. Membaca tulisan-tulisan yang mereka bagikan secara tidak langsung memicu semangatku untuk bisa menulis sebaik mereka. Mereka bisa memanage waktu dengan baik, antara pekerjaan di luar menulis dan tetap meluangkan waktu setiap hari untuk menulis. Aku jadi ketularan untuk mencoba konsisten menulis setiap hari.

Alhamdulillah, selama Februari-Juni kemarin aku selalu menulis minimal 20 tulisan setiap bulan dan menyisakan 10 hari untuk liburan ataupun membuat draft tulisan.


Hal kedua yang aku dapat dari KLIP adalah teman-teman satu hobi. Jelas ya, tujuan berkomunitas adalah berkumpul dengan orang-orang dengan hobi dan memiliki visi misi yang sama.

Rasanya hobi menulisku yang selama ini jarang diketahui orang bisa lebih terkespos dan diapresiasi oleh teman-teman KLIP. Terkadang kami saling mengungi tulisan dan meninggalkan komentar. Kami juga saling memotivasi saat mood menulis sedang drop atau sedang kesulitan mencari bahan tulisan. Chingudeul saranghae!

Mulai bulan April atau Mei lalu kalau tidak salah, ada ketentuan baru dalam kelas menulis ini. Anggota yang menyetorkan tulisan diharuskan menulis minimal 300 kata. Di awal bulan depannya, raport akan dibagikan dengan sistem ranking. Wow! Menantang sekali.

Aku sendiri tidak memasang target harus menjadi yang terbaik ataupun masuk top 10 dalam penilaian di raport. Bisa tetap menulis minimal 20 tulisan saja sudah pencapaian tersendiri untukku. Jadi aku tidak fokus pada sistem ranking tersebut dan fokus untuk menulis minimal 300 kata sebanyak minimal 20 tulisan sebulan.

Ternyata, bulan Juni yang lalu aku menduduki peringkat ke-6 dalam kelas dengan total setoran 23 tulisan, jumlah kata 24.528. Dengan angka-angka tersebut maka rata-rata kata yang aku hasilkan dalam setiap tulisan adalah 1.066,4. Masha Allah! Teu nyangka euy! Dari sekian banyak anggota KLIP, namaku ada di deretan teratas. Haha, pasti karena tulisan-tulisan panjang yang kuikutkan dalam Kdrama Writing Challenge.


Di bulan Juli ini, aku mendapat kesempatan untuk menjadi bintang tamu dalam sesi Kenal Lebih Dekat (KLD) yang diadakan setiap hari Jum'at. Waa.. Thank you Mba Dea Adichita yang sudah meminta diriku untuk tampil dalam sesi KLD.

Biasanya, bintang tamu yang ditampilkan dalam sesi KLD ini keren-keren. Entah sudah memiliki jam terbang sangat tinggi dalam bidang kepenulisan, sudah pernah menerbitkan buku, founder ini-itu, aku merasa butiran debu lah jika disandingkan dengan penulis-penulis lainnya di sesi KLD.

Terus kenapa aku bisa terpilih? Karena bulan Juni lalu aku masuk peringkat 10 besar. Haha, ternyata keberuntungan yang membawaku sampai kesana. Sebagai pemula, aku merasa belum pantas untuk tampil sebagai bintang tamu dalam KLIP tapi juga tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Hehe.


Harapannya, semoga setelah menjadi guest star dalam KLIP aku bisa menjadi sekeren teman-teman lainnya, bisa lebih konsisten lagi dalam menulis, bisa membuat tulisan-tulisan yang jauh lebih baik dari sekarang dan menghasilkan karya yang belum pernah aku buat sebelumnya.

Semoga dengan menulis, aku juga bisa membagikan manfaat untuk teman-teman yang membacanya. Hehe. Terima kasih KLIP untuk kebersamaannya selama ini ;)

Sukabumi, 23 Juli 2020

Rabu, 22 Juli 2020

Anakku, Rezeki Terbaik Dalam Hidup

Juli 22, 2020 0 Comments

Baru sebulan setelah menikah di tanggal 14 Januari 2018 silam, aku dinyatakan positif hamil. Campur aduk semua perasaan menjadi satu. Ya senang, bersyukur, tapi juga kaget dan tidak menyangka akan datang keajaiban secepat ini.

Jujur saat awal menikah, aku tidak ingin buru-buru memiliki momongan. Karena baru sebulan menjalankan peran sebagai istri, senang rasanya bisa beberes rumah, mencoba-coba berbagai jenis menu untuk dimasak dan jalan-jalan berdua dengan suami. Aku baru mulai bisa beradaptasi dengan predikat baru sebagai istri dan baru mulai menikmatinya.

Namun, tidak ingin menundanya juga. Hehe, plin plan. Ya maksudnya mau punya anak tapi tidak menyangka akan secepat itu diberikan kepercayaan oleh Allah swt. Aku pikir aku akan punya cukup waktu untuk merasakan yang namanya pacaran halal dengan suami, berhubung proses kedekatan kami hingga akhirnya menikah cukup singkat.
Kunjungan pertama ke dokter kandungan, membawa kabar gembira sekaligus kabar yang membuatku stress. Dokter mengatakan ada kista coklat atau endometriosis di dalam rahimku. Ia bahkan terheran-heran bagaimana aku bisa secepat itu hamil.

"Biasanya yang punya kista coklat ini nggak subur dan susah hamilnya,"

"Ini saya kasih obat penguat dulu, semoga janinnya kuat ya. Karena kadang kalau kistanya lebih kuat, bisa keguguran," mendengar perkataan dokter seperti itu calon ibu manaa yang tidak sedih?!

Sepulangnya dari dokter, aku membaca-baca artikel mengenai endometriosis dan yang aku temukan adalah bahasan-bahasan yang mengerikan dan membuatku semakin tidak tenang. Aku dan suamiku memutuskan untuk mencari dokter obsgyn lain yang bisa lebih membuat kami merasa nyaman dan tidak tertekan.
Dokter kedua yang kami temui adalah dr. Yanne Trihapsari, Sp.OG di rumah sakit Santosa, Kopo. Pembawaan beliau begitu tenang dan menjelaskan bahwa banyak pasiennya yang hamil dengan kondisi seperti diriku bisa melahirkan bayi dengan selamat dan sehat.

"Semoga rezekinya ya, Bu.." dokter Yanne pun menyemangati sambil mewanti-wanti agar aku tidak kelelahan. Dalam beberapa kasus, apabila janin semakin membesar dan menekan kista maka akan menimbulkan rasa nyeri yang hebat pada perut.

Ternyata aku mengalaminya, setiap bulan seiring bertambahnya usia kandunganku maka perutku akan terasa sangat nyeri. Sakit sekali hingga aku tidak bisa bergerak. Memasuki usia 3 bulan aku harus menjalani rawat inap di rumah sakit karena nyeri yang tidak tertahankan tersebut.

Ketika melakukan pemeriksaan di rumah sakit, dokter memberikan diagnosa yang membuatku sedikit lega namun level stress tetap bertambah.

"Bayinya sehat, ukuran kistanya juga mengecil. Tapi, saya lihat ini ada miom yang ikut tumbuh bareng janinnya,"

"Semoga bayinya kuat ya, Bu. Biasanya bayi dengan kondisi ibu yang ada miom seperti ini berat badannya kecil karena rebutan makanan dengan miomnya di dalam rahim,"

Setelah beberapa hari down dan stress karena hal tersebut, aku berusaha menjadi lebih santai dan tidak terlalu menjadikannya beban pikiran. Wes, fokus sama anaknya aja deh! Aku nggak mau dong anakku ikut-ikutan stress di dalam sana karena ibunya galau terus.
Dari situ aku berkata pada suamiku kalau bayi kami lahir dengan sehat dan selamat, aku akan memberinya nama Rizky yang artinya rezeki. Rezeki yang Allah turunkan untukku, untuk suamiku dan menjadi bagian dari keluarga kecil kami.

Walau bolak balik merasakan sakit perut hebat yang kadang membuatku hanya bisa berbaring selama beberapa hari, ternyata bayi itu memang menjadi rezeki untuk aku dan suamiku. Meskipun aku memiliki endometriosis dan miom, ia bisa tumbuh dengan sehat dan sempurna di dalam rahimku.

Ia juga lahir dengan bobot yang jauh melebihi ekspektasi yaitu 3.2 kg, dimana dokter-dokter memprediksi beratnya kurang dari 3 kg karena kondisiku tersebut.

Ia lahir melalui proses c-section. Setelah dokter optimis aku bisa melahirkan secara normal, ternyata bayiku terlilit tali pusar sebanyak 2 kali sehingga pembukaan berjalan lambat dan stuck di pembukaan 5. Akhirnya c-section dilakukan sekaligus membuang miom yang ada. Ajaibnya, dokter yang melakukan operasi caesar mengatakan tidak ada endometriosis di dalam rahimku. Wow! Alhamdulillah.

Bagiku, anakku merupakan suatu keajaiban. Suatu anugerah dan rezeki yang khusus diberikan untuk keluarga kami, bukan untuk yang lain. Rezeki yang tidak dapat ditukar dan diganti dengan apapun. Anak ini adalah titipan yang diberikan Allah untuk aku dan suamiku jaga dengan sebaik mungkin.

Terima kasih, Nak, sudah menjadi anak yang kuat sejak di dalam kandungan. Terima kasih sudah menjadi bagian dari rezeki mamah dan papah. Love you ❤

Sukabumi, 22 Juli 2020

Selasa, 21 Juli 2020

Mengenang Momen Dalam Umbrella Scene

Juli 21, 2020 14 Comments

Dalam drama Korea, begitu banyak adegan ikonik yang hampir selalu ada dalam setiap judul namun memiliki style masing-masing dan tetap sukses membuat para penonton mesem-mesem dewe saat melihatnya.

Misalnya, adegan tokoh utama pria yang mengikat tali sepatu tokoh utama wanitanya. Ada juga adegan suap-suapan antar tokoh utama, tokoh utama pria mengompres kepala tokoh utama wanita ketika sakit, adegan tokoh utama wanita tidak sengaja terjatuh ke dalam pelukan tokoh utama pria. Masih banyak yang lainnya, deh!

Pernahkah teman-teman menemukan suatu adegan ikonik dalam drama Korea yang relatable dengan kehidupan kalian atau mengingatkan kalian pada suatu momen tertentu? Istilahnya membuat kalian de javu?

Ada satu scene yang kalau menontonnya pasti akan mengingatkanku pada momen beberapa tahun lalu, adegan tersebut adalah umbrella scene atau sepayung berdua yang juga sangat sering kita saksikan dalam beberapa judul drama Korea.

Dalam drama, biasanya adegan ini sarat akan romantisme. Membuat penontonnya ikut baper, ikutan deg-degan karena melihat kedekatan tokoh utamanya dalam satu payung. Kadang membuat kita ikut merasa kedinginan melihat pemain dalam drama yang basah kuyup terguyur hujan.

Beberapa drama yang umbrella scene-nya tak terlupakan seperti Legend of the Blue Sea, Moon Lovers : Scarlet Heart Ryeo dan drama lama tapi baru saja aku tonton beberapa minggu lalu, Jealousy Incarnate.

Sumber : soompi.com
Masih teringat dalam drama Legend of the Blue Sea ketika Heo Joon Jae (Lee Min Ho) meninggalkan Shim Chung (Jun Ji Hyun) sebatang kara karena menganggapnya sebagai pengganggu dan cewek aneh. Tidak lama berselang setelah Joon Jae pergi, hujan turun dengan begitu lebatnya.


Shim Chung yang kebingungan hanya bisa terdiam dan menunggu di depan sebuah toko dengan berjongkok. Joon Jae yang terus memikirkan nasib Shim Chung akhirnya berbalik arah dan kembali ke tempat Shim Chung berada sambil membawa payung. So sweet banget deh Abang Min Ho!

Sumber : soompi.com
Berbeda lagi dengan umbrella scene dalam Moon Lovers : Scarlet Heart Ryeo. Adegan yang disebut-sebut sebagai adegan legendaris antara Wang Soo dan Hae Soo ini sering direka ulang oleh pemerannya yaitu Lee Joon Ki dan IU dalam berbagai kesempatan.

Dalam cerita, Hae Soo tidak sengaja menghidangkan minuman beracun yang telah disiapkan oleh ratu untuk sang putera mahkota, Wang Moo. Wang Soo yang mengetahui niat jahat ratu kemudian mengorbankan dirinya dengan meminum racun tersebut hingga dirinya muntah darah dan tak sadarkan diri.


Hae Soo pun harus menerima hukuman yang berat dari istana. Di tengah penderitaannya menjalani hukuman, Wang Soo terus memerhatikan Hae Soo. Hae Soo terlihat semakin pucat karena terus berlutut dan tidak makan maupun minum. Saat hujan turun dengan sangat lebat, Hae Soo tidak bergeming dan tetap berlutut hingga terlihat sangat menderita.

Wang Soo kemudian datang seraya membentangkan jubahnya untuk melindungi Hae Soo dari guyuran air hujan. Sementara pangeran lain yang katanya juga menaruh hati pada Hae Soo hanya bisa diam menyaksikan, Wang Soo maju untuk membela Hae Soo dengan gentle-nya.

Sumber : soompi.com
Lain lagi dengan adegan hujan dalam Jealousy Incarnate atau dikenal juga dengan judul Don't Dare To Dream. Dalam drama ini, tokoh utamanya nggak sepayung berdua melainkan bertiga! Ceritanya adalah ketika Pyo Na Ri (Gong Hyo Jin) membawakan payung untuk Lee Hwa Shin (Jo Jung Suk) yang sedang melakukan liputan di Thailand.

Lee Hwa Shin saat itu sedang bersama Go Jung Woon (Go Kyung Pyo), sahabat baiknya yang ternyata diam-diam naksir dengan Pyo Na Ri. Jung Woon pun mempersilahkan Pyo Na Ri untuk ikut berteduh di bawah payung yang ia berikan agar tidak kebasahan.


Hehe. Dalam adegan ini yang baper justru Go Jung Woon, sementara lead male actor-nya yaitu Lee Hwa Shin justru tidak mengindahkan keberadaan Pyo Na Ri di sebelahnya. Hiks! Nyesel loh ntar ;)

In My Real Life

Lain drama lain pula dengan di kehidupan sebenarnya. Beberapa umbrella scene di atas hanya sebagian dari banyaknya drama yang mengambil scene di bawah hujan dan mengingatkanku pada momen beberapa tahun silam.

Kejadian pertama adalah saat aku dan teman-teman kantor akan merayakan malam pergantian tahun di rumah salah seorang teman satu departemenku di daerah Cibiru, Bandung. Saat itu aku masih anak bau kencur, baru sekitar 2 atau 3 bulan bergabung dengan perusahaan tempatku bekerja.

Sebagai anak rantau yang tidak punya kendaraan dan tidak tau jalanan di Bandung, teman satu departemenku meminta tolong pada teman departemen lain yang rumahnya tidak jauh dari Cimahi untuk menjemputku dan pergi bersama ke Cibiru. Gue manut-manut aja dong yaa jadi junior..

Di hari keberangkatan, senior tersebut menjemputku di mess dan kami boncengan menggunakan sepeda motor. Di tengah perjalanan, hujan turun dengan sangaaat deras hingga akhirnya kami harus melipir dan berteduh.

Canggung? Yes, karena aku tidak begitu akrab dengan senior cowok satu ini. Aku pun bertanya apa dia membawa jas hujan? Ia menjawab bawa, tapi jas hujannya yang atasan dan bawahan sehingga aku tidak bisa nebeng. Yaa menyesal juga kenapa sebagai tebengers aku tidak berinisiatif meminjam jas hujan teman lainnya.

Setelah beberapa waktu berteduh di pinggir jalan dan hujan tidak kunjung reda, tiba-tiba seniorku mengeluarkan jas hujan dari dalam jok motornya dan menyuruhku untuk memakainya. Langsung aku menolak dong! "Mas aja yang pakai, aku kan di belakang nggak terlalu basah," begitu aku berkilah.

Ya nggak enak lah gue udah nebeng, minjem jas hujan pulak. Yang punya motor kebasahan tu piye ceritane?! Begitu pikirku. Namun, dengan nada tinggi seniorku memaksa sambil berkata, "Udah nurut aja lo. Daripada anak orang sakit gara-gara kehujanan naik motor sama gue, mending lo pake deh buruan!"

Edan, galak bener ni orang! Aku sempat menolak kembali dengan meminta agar menunggu beberapa menit lagi hingga hujan agak sedikit reda. Setelah hujan menjadi hanya rintik-rintik, akhirnya aku memakai jas hujan senior tersebut dan melanjutkan perjalanan menuju rumah temanku di Cibiru.

Satu lagi kejadian hujan yang melibatkanku dan senior ngeselin satu ini, adalah ketika aku dan teman-teman satu kantor termasuk dirinya sedang berlibur di Tanjung Lesung.

Saat itu kami menyewa beberapa tenda untuk bermalam. Aku satu tenda bersama sahabat sekaligus teman sepantaran di kantor, lainnya yang merupakan senior-senior di kantor menempati tenda masing-masing.

Saat malam menjelang, sudah waktunya untuk kami menikmati sajian makan malam yang disediakan oleh pihak penginapan. Sayangnya hujan turun dengan cukup deras dan membuat kami tidak bisa keluar dari tenda. Ketika hujan sudah agak reda, dua orang senior datang dan membawakan payung. Salah satunya adalah senior galak yang sebelumnya ku ceritakan.

"Fissy sama aku, Ima sama Halim..." begitu kata senior yang menjemput kami di tenda.

Berhubung aku merasa kurang nyaman ya satu payung berdua dengan stranger meskipun predikatnya sudah temenan, aku pun menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan seniorku tersebut. Tapi yang terjadi, sebagian badanku basah terkena air hujan.

"Heh, ngapain lo jauh-jauh? sini deket-deket gue kalo nggak mau kehujanan!" kata senior tersebut dengan nada yang meninggi dan terdengar sangat judes. Dalam hati ingin ku berkata, lo kalo ngomong kagak ada baik-baiknya amat sih. Santai dikit napa, Bang?!

Kedua kejadian tersebut jauh dari kata romantis, meskipun  berada dalam adegan hujan bersama seorang pria namun sayangnya orang tersebut bukanlah someone special. Jadi, kagak ada manis-manisnya.

Sekian tahun berlalu setelah kejadian tersebut, ternyata si senior menyebalkan itu menjadi suamiku. Ayah dari anakku. Hahaha. Kadang, aku masih suka menyindir atau membahas betapa menyebalkannya ia dulu. Tapi ia selalu mengelak dan ngeles kalau disebut menyebalkan. Serah deh...

Sampai sekarang, jika aku menonton film atau drama atau serial yang menayangkan adegan hujan-hujanan atau umbrella scene, maka secara otomatis aku akan flashback ke dua momen yang ku ceritakan di atas.

Gitu deh, guys! Kalau kalian, ada nggak nih scene tertentu dalam drama Korea yang bikin de javu?

Sukabumi, 21 Juli 2020

Senin, 20 Juli 2020

Pertama dan Tak Terlupakan

Juli 20, 2020 2 Comments

Memilih salah satu pengalaman tak terlupakan bersama buah hati bukanlah hal yang mudah. Meski usia anakku baru akan menginjak 2 tahun di akhir Oktober nanti, rasanya sudah banyak sekali kenangan yang tersimpan baik di memori handphone maupun memori otak.
Beberapa hari yang lalu, aku dan suamiku sempat ngobrol santai tentang pengalaman tak terlupakan yang sudah kami lalui bersama si kecil. Ternyata, kami berdua punya versi yang berbeda mengenai hal satu ini. Walaupun aku dan suamiku sama-sama mengalami pengalaman tersebut bersama anak, tapi kesan yang ditinggalkan bisa sangat berbeda.

Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Dipta
(Versi Papah)

Kalau menurut suamiku, hal yang paling berkesan yang pernah ia alami selain pada hari dimana dirinya resmi menyandang predikat sebagai ayah adalah ketika harus menggendong anak kami dan melihatnya dibotak/dicukur untuk pertama kalinya.
Hari itu, tanggal 20 November 2018. Saat setelah kami menggelar acara akikah putera pertama kami yang berusia 21 hari, kami memanggil tukang cukur khusus bayi ke rumah untuk menggunduli rambut anak kami.

Alasannya karena dari pihak keluargaku tidak ada yang berani mencukur rambut bayi pada saat itu. Sudah lama sekali memang dari terakhir kali kedua orangtuaku menggendong bayi, yaitu saat adik bungsuku lahir 15 tahun sebelum tahun 2018. Puteraku sendiri merupakan cucu pertama dalam keluarga besarku.

Bapak tukang cukur bayi datang tepat setelah magrib, bertepatan pula dengan suamiku yang sudah harus berangkat ke stasiun untuk pergi ke Bandung. Saat itu, akikah dilangsungkan di kediamanku di Yogyakarta. Setelah akikah selesai, suamiku harus kembali ke Bandung untuk masuk kerja di hari Senin.

Berhubung ia harus segera meninggalkan rumah, orang tuaku meminta suamiku untuk memangku si kecil sambil Bapak tukang cukur memangkas rambut anakku yang memang sudah tebal dan banyak sejak lahir. Ternyata momen ini menjadi pengalaman tak terlupakan versi suamiku.

"Ngeliat Dipta dicukur pakai pisau cukur rasanya takut, kasihan, nggak tega. Macem-macem lah!" jelasnya saat kami ngobrol kemarin-kemarin.

Aku sendiri tertawa-tawa saat mendengar ia bercerita karena jujur menurutku pengalaman tersebut memang berkesan tapi ya biasa saja. Haha. "Anaknya juga anteng tidur, nggak terganggu sama sekali," kataku.

Memang saat pertama digunduli, anakku tertidur dari awal hingga akhir proses mencukur. Namanya new born memang kerjaannya tidur mulu kan ya?

"Kasihan, bayi sekecil itu kepalanya harus berhadapan sama pisau cukur!" kata suamiku lagi. Hehe, ya baiklah terkadang dia memang lebih tidak tegaan dibandingkan dengan diriku.

Dan, inilah potret kebersamaan keluarga kami pasca Dipta dibotak untuk pertama kalinya :


Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Dipta
(Versi Mamah)

Kalau menurutku, pengalaman tak terlupakan bersama anakku selain dari pertama kalinya melihat wajahnya di ruang operasi setelah melahirkan adalah saat pertama kali kami sekeluarga pergi ke Bandung naik kereta.
Ketika itu, usia anakku adalah 3 bulan mendekati 4 bulan. Aku dan suamiku pulang ke rumah mertua di Bandung beserta dengan ibu dan ayahku yang mengantarkan kami naik kereta.

Memilih untuk menggunakan moda transportasi kereta api adalah karena ayah dan ibuku yang cukup khawatir dengan tekanan yang akan diterima si kecil jika naik pesawat. Naik mobil pribadi pun dirasa riskan karena terlalu lama di perjalanan.

Dipta bersama Nini dan Yangkung
Jauh sebelum hari keberangkatan, aku sudah mencari-cari dan membaca bagaimana tips travelling bersama bayi. Mengapa menjadi tak terlupakan? Karena itu pertama kalinya aku merasakan yang namanya repot bepergian sambil membawa bayi.

Tulisan mengenai perjalanan ini ada disini juga : Membawa Si Kecil Travelling? Hayuk!

Aku berusaha untuk well prepared dengan menyiapkan kebutuhannya jauh-jauh hari. Apa yang bisa di packing duluan ya masukin aja ke tas, daripada ketinggalan. Aku pun khawatir dengan proses menyusui di kereta nanti, karena belum pernah menyusui di kendaraan umum maupun tempat umum.

Jangan tanya bagaimana dag-dig-dug-nya di hari keberangkatan. Ternyata, perasaan cemasku ini seperti terkoneksi dengan anakku dan selama perjalanan di kereta api ia nyaris tidak mau dibawa duduk. Selama 8 jam perjalanan, aku bergantian dengan suami, ibu dan ayah untuk membawanya berjalan-jalan di gerbong kereta.

Pengalaman pertama ini memberi banyak sekali pelajaran yang bisa diambil untuk persiapan travelling selanjutnya. What a moment pokokmen!

Itulah, 2 momen tak terlupakan bersama anak versi diriku dan suamiku. Namun, pastinya semua momen yang dilewati bersama keluarga adalah momen yang berharga yang tidak akan terulang kembali. Jadi, mari terus bersyukur untuk segala momen kebersamaan dengan keluarga.

Sukabumi, 20 Juli 2020

Sabtu, 18 Juli 2020

OST Kdrama Berikut Masih Stuck in My Head

Juli 18, 2020 2 Comments

Selain penikmat film dan buku, aku juga seorang penikmat musik. Sejak kecil aku sudah senang mendengarkan musik. Pengaruh ayahku sangat besar karena sedari aku dan adik-adik masih bayi, kami sudah diperdengarkan berbagai jenis musik.

Ayahku juga mengenalkan kami berbagai genre musik. Mulai dari campursari, klasik, pop, rap, jazz, blues hingga musik rock. Jangan salah, aku tau Linkin Park, Eminem bahkan penyanyi lokal seperti Widi Widiana (penyanyi Bali) dari ayahku. Pengetahuan musik beliau memang luar biasa, mulai dari penyanyi lawas hingga ter-update beliau tau.

Pernah suatu ketika, ayahku memberikan pelajaran tentang musik. Memberitahu aku dan adik-adikku apa perbedaan antara musik dangdut dan campursari sampai jazz dan blues. That was an unforgettable moment.

Seperti buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, aku pun tumbuh dengan hobi mendengarkan musik. Bahkan ketika ujian sekolah atau kuliah menjelang, belajar pun harus ada backsound musik yang menemani. Dengan mendengarkan musik, rasanya pikiran menjadi lebih rileks dan fresh. Apa yang aku pelajari pun rasanya lebih cepat nyangkut di kepala.

Lagu-lagu yang didengarkan pun bisa menjadi gambaran dari suasana hati. Senang, sedih, galau, tinggal pilih musik yang sesuai dengan suasana hati untuk menjadikannya lebih baik. Dulu, kalau lagi sedih dan mellow aku akan mendengarkan musik rap sambil berusaha mengikuti liriknya. Setelahnya, entah bagaimana perasaan menjadi lebih lega. Hehe.

Ya Allah, kebanyakan bawang merah, bawang putih serta daun bawangnya. Mana dagingnya?!

Sebenarnya, pembahasan dalam tulisan kali ini adalah mengenai original soundtrack (OST) drama Korea yang paling disuka. Yeah, ini merupakan bagian dari Kdrama Writing Challenge yang sudah memasuki topik 17.
Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, aku suka mendengarkan berbagai jenis musik. Tidak hanya lagu-lagu berbahasa Indonesia dan Inggris, telingaku sudah cukup terbiasa dan dapat menerima lagu-lagu berbahasa asing lain seperti Perancis, China dan tentu saja Korea. Hal ini karena ayahku dulu sering memutarnya di rumah.

Drama Korea, selain memikat penonton dengan jalan cerita serta aktor-aktrisnya yang menarik, juga menonjolkan lagu pendukungnya alias original soundtrack. Banyak drama yang memiliki OST bagus-bagus dan populer menyaingi popularitas drama itu sendiri.

Aku sendiri, termasuk orang yang suka mendengarkan backsound atau lagu-lagu yang diputar saat menonton drakor. Backsound tersebut seolah membuat cerita menjadi semakin hidup dan dapat menggambarkan bagaimana situasi dan perasaan hati tokoh dalam ceritanya.

Kalau sudah terpikat oleh suatu lagu, biasanya aku akan mendengarkan lagu tersebut berulang-ulang, mencari lirik lagunya dan menghafal liriknya. Ulang terooss sampai hafal dan eneg sendiri lama-lama. Penyakit deh! Hehe.

Dari sekian banyak drama Korea, ada nih lagu-lagu dari original soundtrack drama yang masih suka aku dengarkan. Memang frekuensiku dalam mendengarkan musik sudah tidak sesering dulu, tapi beberapa lagu ini masih suka terngiang-ngiang di kepalaku :

Same, Song Ji Eun feat. Sung Hoon  - OST. My Secret Romance


Lagu ini adalah lagu pamungkas dari drama Korea berjudul My Secret Romance yang tayang pada tahun 2017. Bercerita tentang kisah cinta Cha Jin Wook (Sung Hoon) dengan Lee Yoo Mi (Song Ji Eun) yang berawal dari cinta satu malam.

Padahal, menurutku pribadi drama ini tidak meninggalkan kesan yang mendalam. Ceritanya ringan dan mudah ditebak endingnya. Untuk pengisi waktu luang dan ingin menonton tanpa harus berpikir boleh lah. Justru yang membuatku susah move on adalah lagu utamanya yang berjudul Same.

Sampai sekarang ni, lagu ini masih sering terputar secara acak di Spotify-ku dan akupun masih menikmatinya. Hehe.

That (Wo)Man, Baek Ji Young/Hyun Bin - OST. Secret Garden


Selain masih suka menonton ulang drama Secret Garden, aku juga gagal move on dari original soundtrack-nya yang dinyanyikan oleh Baek Ji Young dan Hyun Bin. Judulnya That Woman dan That Man.

Lagunya menceritakan tentang perasaan cinta seseorang pada pujaan hatinya, dimana orang tersebut mencoba untuk mengungkapkan pada cintanya kalau, "Gue loh yang selalu ada buat lo, paham nggak sih sama perasaan gue?!" kira-kira begitu lah.
Lagu ini betul-betul pas dengan berbagai adegan dalam drama Secret Garden. Bikin yang menonton ikut berempati dan merasakan apa yang sedang dirasakan oleh tokoh utamanya. Hiyaaa~ jadi makin menghayati deh.

Everytime, Chen (EXO) fet. Punch - OST. Descendants of the Sun


Oh every time i see you

Geudae nuneul bol ttaemyeon jakku
gaseumi tto seolleyeowa
Nae unmyeongijyo sesang kkeutirado
jikyeojugo sipeun dan han saram


Baby ohohohoh
Ohohohoh


Tuh malah nyanyi kan! Soundtrack drama yang super hits pada masanya ini memang easy listening dan gampang banget nempel di kepala. Selain itu, lagu ini juga diputar dimana-mana. Sempat saat sedang berbelanja di suatu pusat perbelanjaan, lagu ini terdengar dan auto bikin pengen nyanyi. Haha.

Mendengar lagu ini bikin terkenang sama adegan-adegan yang diperankan oleh SongSong couple dalam drama Descendants of the Sun. Bikin kangen sama DOTS deh!

Say Yes, Loco and Punch - OST. Moon Lovers : Scarlet Heart Ryeo


Hanya dengan mengetik judul soundtrack ini saja aku langsung membayangkan adegan Hae Soo yang nyaris terjatuh dan ditangkap oleh Pangeran Wang Soo dari atas kudanya. Hihi.

Walau aku banyak bersedih saat menonton drama ini karena tragedi yang bertubi-tubi, tapi hampir semua soundtracknya tidak mengecewakan. Sampai sekarang, lagu ini masih sering terngiang-ngiang di kepala sampai terkadang aku refleks menyanyikan beberapa bait liriknya.


Selain Say Yes, ada lagi OST Moon Lovers : Scarlet Heart Ryeo yang masih sering terputar di Spotify-ku, judulnya I Love You, I Remember You oleh I.O.I dan For You yang dinyanyikan oleh Chen, Baekhyun dan Xiumin.

Masih banyak lagi yaa sebetulnya lagu-lagu dari drama Korea yang bagus-bagus dan pernah menemani hari-hariku. Tapi, yang paling stuck in my head dari dulu hingga sekarang lagu yang aku tuliskan di atas.

Sekian dulu, teman-teman cerita tentang OST drama Korea yang tak terlupakan atau terfavorit.

Sukabumi, 18 Juli 2020

Rabu, 15 Juli 2020

Kisah Cinta Pertama, Gagal Move On atau Susah Move On?

Juli 15, 2020 17 Comments

Omong-omong soal cinta, pasti langsung pada merapat nih. Haha. Cerita yang tidak pernah basi untuk dibagi, selalu ada kenangan yang tersimpan dari kisah cinta masing-masing individu. Apalagi berbicara tentang first love alias cinta pertama.

Kenapa ya, first love itu sangat membekas dan mungkin tidak akan pernah dilupakan? Kebanyakan menjawab karena pertama kalinya merasa tertarik pada lawan jenis, pertama kali merasa dugeun-dugeun saat berada di dekatnya, pertama kalinya dunia seperti berpusat pada dirinya.

First love juga menjadi berkesan karena biasanya seseorang melakukan hal konyol yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Misalnya mengirim pesan melalui surat cinta, sengaja menunggu gebetan di tempat yang biasa dilaluinya sekedar untuk mencuri pandang atau memberanikan diri menyapa.

Saat merasakan first love, biasanya yang ada di dalam angan hanyalah happily ever after. Tidak berpikir panjang dan hanya ingin menjalani hari-hari bahagia bersama sang pujaan hati di waktu itu. Tapi ketika merasakan patah hati untuk pertama kalinya, dunia seolah-olah runtuh dan merasa kalau sakit hati lebih perih daripada sakit gigi.

Ya bagaimanapun kisah mengenai cinta pertama selalu menarik untuk dibahas. Meskipun banyak cerita berujung tragis, tak sedikit juga loh cinta pertama yang langgeng sampai menikah. Betul-betul happily ever after!
Drama Korea, selalu memiliki ide untuk menceritakan tentang perjalanan cinta tokoh utamanya. Salah satu hal yang sering diangkat adalah tentang kisah cinta pertama. Entah karena peminatnya banyak, atau memang cerita cinta pertama begitu menarik untuk diangkat ke dalam serial drama.

Dari beberapa drama Korea yang aku tonton dengan berlatar belakang kisah cinta pertama, ada dua tipe cerita yaitu tokoh yang gagal move on dari cinta pertamanya dan tokoh yang susah move on dari cinta pertamanya.

Bedanya apa nih, Sis? Gagal move on itu, setelah berusaha mundur perlahan dari bayang-bayang cinta pertama dan mencari cinta yang lain, ujung-ujungnya kembali pada cintanya yang lama.

Sementara susah move on, ya nggak move on dari masih piyik sampai dewasa. Hanya sang pujaan hatilah the only one dalam hidupnya. Uwow!
Biasanya nih, kedua hal tersebut terjadi karena mereka berada dalam satu lingkungan dan masih saling berhubungan. Tapi, namanya berusaha mendapatkan jodoh ya bebas aja lah mau sama siapa asal jangan jadi perusak hubungan apalagi sampai rumah tangga orang. Naudzubillah..

Fight For My Way 

Source : idntimes.com
Drama yang dimainkan oleh Park Seo Joon dan Kim Ji Won ditayangkan pada tahun 2017 silam. Berkisah tentang persahabatan antara Ko Dong Man (Park Seo Joon) dan Choi Ae Ra (Kim Ji Won) yang telah dibina sejak mereka masih duduk di bangku sekolah.

Sebenarnya Choi Ae Ra sudah menyukai Ko Dong Man saat masih sekolah dulu, namun ia tidak melihat adanya peluang dari Ko Dong Man untuk membalas perasaannya. Ia pun memilih untuk melanjutkan persahabatannya dengan Ko Dong Man hingga dewasa.
Keduanya sempat berpacaran dengan orang lain sebelum menyadari kalau mereka berdua saling mencintai lebih dari sekedar sahabat. Pada akhirnya, Choi Ae Ra gagal move on dan kembali lagi ke stock lama yaitu sahabatnya sendiri.

Ko Dong Man pun baru sadar ternyata perempuan yang paling tepat untuk mengisi hatinya dan terus berada di sisinya adalah Choi Ae Ra. Ia mengerti kalau keinginan untuk melindungi dan menjaga Ae Ra selama ini adalah salah satu bentuk cintanya pada sahabat kecilnya tersebut. Kemane aje lu, Bang?!

What's Wrong With Secretary Kim?

Source : idntimes.com
Drama bergenre romantic-comedy ini tayang pada tahun 2018 lalu. Bercerita tentang Lee Young Joon (Park Seo Joon), seorang CEO dari perusahaan ternama yaitu Yoomyung Group.

Dibalik penampilannya yang sempurna, berwajah tampan, mapan, tajir melintir dan selalu terlihat cerdas, ternyata Young Joon memiliki trauma masa kecil yang mendalam.

Sementara itu sekertarisnya yang bernama Kim Mi So, yang sudah tersohor dengan kepiawaiannya mendampingi Young Joon selama 9 tahun tiba-tiba mengajukan resign. Alasannya adalah karena ia ingin memiliki waktu untuk dirinya sendiri serta membangun keluarga (menikah).

Usut punya usut, ternyata Young Joon sudah sejak lama mengenal Mi So dan sama-sama pernah terjebak dalam masa lalu yang kelam. Sekertaris Kim mengalami trauma hingga tidak bisa mengingat kejadian masa lalunya dengan baik, sementara CEO Lee sudah lama memendam rasa pada sekertarisnya sejak mereka kanak-kanak.

Hiyaa~ susah move on nih ceritanya Lee Young Joon, dari kecil hingga dewasa hanya Kim Mi So yang bisa melengkapi kepingan puzzle di hatinya.

Tokoh utama dalam kedua drama Korea tersebut adalah Park Seo Joon. Kedua plotnya sama-sama bercerita tentang kisah cinta pertama dan teman masa kecil. Bedanya, dalam drama Fight For My Way kedua pemeran utamanya yaitu Ko Dong Man dan Choi Ae Ra saling mengenal dan tumbuh dalam satu lingkungan yang sama.

Sedangkan dalam What's Wrong With Secretary Kim? diceritakan kalau Kim Mi So mengalami trauma hingga tidak ingat lagi kejadian masa kecilnya dan kembali bertemu dengan Lee Young Joon yang merupakan bagian dari masa lalunya. Ternyata Lee Young Joon tidak pernah melupakan Kim Mi So dan selalu menyukainya sejak dulu.

Sebagai penggemar drama Korea bergenre romantis, aku tidak mempermasalahkan bagaimana latar belakang kisah asmara kedua pemain utamanya. Tak apa jika mereka berdua teman sepermainan sejak kecil, atau teman masa kecil yang terpisah lalu bertemu kembali, bahkan jika pemeran utama dikisahkan jatuh cinta dengan makhluk dari planet lain. Haha.

Selama jalan ceritanya menarik, seru, tidak membosankan dan menghibur biasanya aku betah-betah saja menontonnya. Oiya, yang terpenting lainnya adalah pemeran utamanya good looking dan ceritanya berakhir bahagia.

Sukabumi, 15 Juli 2020

Selasa, 14 Juli 2020

Food Review : Pempekscooter Dari Warungscoot Serta Perjalanan Bisnis Pemiliknya

Juli 14, 2020 14 Comments

Dalam tulisan kali ini, aku akan membagikan review makanan beku alias frozen food yang aku beli dari sahabat masa kecilku yang saat ini tinggal di Bogor. Aku membeli pempek frozen produksi Warungscoot. Sebelumnya, aku sudah pernah membeli pempek dari Warungscoot dan ini merupakan pembelian ke-3 kalau tidak salah. Hehe.

Sebagai ibu yang masih menyusui, makan tiga kali sehari itu rasanya kurang. Aku kerap merasa lapar meskipun sudah makan besar terutama di sore hari. Rasanya kalau tidak ada bahan makanan yang available di kulkas  maka hidup tidak tenang. Beli terus pun boros. Sebagai solusinya, aku biasa nyetok makanan siap saji alias frozen food di freezer kulkas untuk camilan. Saat lapar, tinggal panaskan dan langsung makan.


Pempek adalah salah satu makanan kesukaanku sejak lama. Rasanya makan pempek itu nikmat sekali apalagi kalau masih hangat dan cukonya pedas. Pempek sendiri adalah makanan khas kota Palembang, Sumatera Selatan. Bahan utama dari pempek adalah ikan yang digiling hingga halus dan ditambah dengan tepung kanji serta beberapa bahan pendukung lain seperti telur, bawang putih halus, garam dan penyedap rasa.

Selama pandemi Covid-19, pergerakanku keluar rumah meskipun hanya untuk sekedar berbelanja terbatas sekali. Khawatir dan was-was menjadi alasan utama, apalagi suamiku tidak pernah wfh jadi harus pandai-pandai menjaga diri. Untuk itu, aku sering sekali mengandakan online shop untuk membeli keperluan yang bisa dibeli tanpa harus keluar rumah.

Warungscoot adalah kedai makanan yang dikelola oleh ownernya sendiri yaitu Ryan Pranatha Ardila Putra dan Anisa Rahmi. Awalnya, Ryan lah yang merintis usaha Warungscoot ini dengan menjual pempek. Setelah menikah, Anis membantu usaha suaminya yang saat ini sudah menjual berbagai macam jenis panganan disamping pempek.



Cerita Awal Memulai Bisnis

Berangkat dari kesukaan makan pempek dan ingin makan pempek dengan cita rasa enak serta sesuai dengan seleranya, Ryan memunculkan ide untuk menjual pempek bikinan tantenya yang dirasa sangat enak. Menurutnya, saat itu ia belum menemukan pempek dengan rasa yang khas dan enak di Bogor. Pada tahun 2016, ia pun memulai usaha berjualan pempek dengan menjajakannya pada teman-teman satu kantor.

Bak gayung bersambut, respon teman-teman Ryan sangat bagus. Pembelinya semakin bertambah dan merambah bukan hanya teman sekantornya tapi juga teman kos dan teman-teman kuliahnya. Ryan kemudian memberanikan diri dengan berjualan pempek secara online dan menerima pesan antar. Sepulang kerja, Ryan mengantarkan pesanan pempeknya menggunakan Vespa yang menjadi kendaraan utamanya.


Suatu hari saat sedang mengantar pesanan pempek dengan vespa miliknya, Ryan mendengar pelanggan bertaka, "Lucu ya, delivernya pakai Scooter,". Dari situ tercetuslah nama Pempekscooter sebagai nama awal bisnis yang dijalankan Ryan. Pempek adalah dagangannya dan ia seorang pecinta Vespa. 

Dari hasil ketekunan Ryan berdagang, usahanya semakin berkembang hingga ia kewalahan menjalankan bisnisnya seorang diri. Di tahun 2017, Ryan sudah mampu menyewa sebuah tempat di pinggir jalan dan membayar karyawan untuk menjalankan usahanya tersebut. Ia merasa butuh tenaga tambahan karena waktunya yang tidak cukup untuk bekerja sembari mengantar pesanan pempek yang sudah semakin banyak.

Untuk memfokuskan diri mengembangkan bisnisnya ini, Ryan mengambil langkah penting dalam hidupnya dengan berhenti bekerja dan memilih menjadi pebisnis.

Perkembangan Bisnis Warungscoot

Satu tahun kemudian, usaha Pempekscooter pun semakin berkembang. Ryan membuka kedai makan yang bisa dijadikan tempat nongkrong untuk mahasiswa di sekitar kampus IPB. Ia pun memberi nama kedainya dengan Warungscoot, dan selain tetap berjualan pempek ia menambahkan berbagai jenis makanan sebagai menunya roti bakar, mie, serta minuman seperti kopi dan lainnya.

Selain menjual makanan, saat ini Warungscoot juga menjual berbagai pernak-pernik atau merchandise yang berhubungan dengan Vespa. Tak heran jika banyak pelanggan Ryan merupakan anggota dari komunitas Vespa yang ada di Bogor. Mahasiswa dan orang-orang yang tinggal di sekitar Warungcoot juga menjadi pelanggan utamanya.

Saat ini, Warungscoot yang berada di ruko pinggir jalan sudah berpindah tempat karena pandemi Covid-19. Teman-teman yang tinggal di daerah Bogor bisa mengunjungi Warungscoot yang beralamat di Perumahan Griya Dramaga Asri Blok B2 No 18, Cibanteng, Ciampea, Bogor. Namun, untuk sekarang kalian masih belum bisa nongkrong disana mengingat wabah Covid-19 yang masih merebak.


Untuk frozen food, Riyan menambah produk untuk dipasarkan selain pempekscooter frozen. Saat ini, tersedia ayam geprek serta ayam panggang yang dibekukan serta frozen doughnut sebagai camilannya. Pelanggan frozen food ini tentunya karyawan perkantoran serta ibu rumah tangga seperti diriku ini. Haha.


Perkembangan usaha dari produk frozen Warungscoot dapat dilihat dari sudah adanya beberapa reseller pempek di daerah Jakarta dan Bogor.

Review Pempekscooter dari Warungscoot


Ada perbedaan yang cukup signifikan sejak terakhir kali aku memesan pempek di Warungscoot. Kali ini, packaging yang digunakan sudah sangat lebih baik yaitu dengan box styrofoam. Selain itu, Ryan menambahkan ice pack di dalam box untuk menjaga agar pempek yang diantar kurir tetap beku dan dingin.

Saat melihat Anis, istri Ryan yang merupakan sahabatku sejak SMP mem-posting dagangannya di sosial media, aku langsung tertarik untuk kembali membeli pempeknya. Rasa pempeknya yang cocok di lidahku serta kuah cukonya yang enak masih terbayang-bayang sejak terakhir aku membelinya.

Kemarin aku membeli paket berisi 15 buah pempek seharga Rp. 50.000,-. Pempek yang aku beli terdiri dari pempek adaan (3 buah), pempek kulit 4 buah), pempek lenjer (3 buah) dan pempek kapal selam kecil (5 buah).

Anis mengirimkan pempek frozennya menggunakan  jasa kurir JNE dengan total ongkir ke Sukabumi Rp. 16.000,- sudah termasuk biaya packing. Dalam waktu kurang dari 1 malam, pempek dari Warungscoot sudah tiba di rumahku dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.

Ada lagi nih, perbedaan saat aku membeli pempek sebelum pembelian kemarin. Dulu, pempek dari Warungscoot dibalut dengan tepung sagu namun sekarang tidak lagi. Sehingga kita tinggal menggoreng saja pempeknya tanpa harus mencuci tepungnya lebih dulu.

Anis mengungkapkan kalau secara estetika lebih baik penampilannya tanpa tepung sagu. Benar juga sih, dan lebih mudah aja proses memasaknya.

Kemasan vakum pempekscooter dari Warungscoot
Seperti yang teman-teman lihat pada gambar, di plastik kemasan pempek sudah tercantum bagaimana cara penyajian pempeknya. Mudah sekali untuk mengikuti instruksinya, pembeli juga tidak akan kebingungan dengan produk yang ia terima.

Menjelang suamiku pulang kerja, aku langsung mengeksekusi pempekscooter untuk disantap sebagai camilan suami (dan aku, juga anakku) di sore hari.

Tinggal goreng setelah dikeluarkan dari freezer
Setelah suamiku pulang, ia pun senang dengan hidangan yang telah aku sajikan dan kami bersama-sama menyantap pempekscooter menjelang magrib. "Ini pempek dari temen kamu? Enak, yang!" Wih! Langsung dapat komentar positif nih.

Rasa pempeknya menurutku lebih enak dari terakhir kali aku membeli pempek di Warungscoot. Cukonya kental dan memiliki tingkat kepedasan sedang, jadi jangan takut mules. Aman kok! Hehe.

Enak disantap selagi hangat
Pempek kapal selam, adaan serta lenjernya lembut di dalam sehingga anakku pun bisa ikut memakannya. Pempek kulitnya aku goreng hingga renyah. Enak deh, guys!

Untuk racikan pempeknya sendiri teman-teman tidak usah ragu lagi. Ryan dan Anis adalah lulusan Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor, jadi pasti menomorsatukan faktor kesehatan dan keamanan dalam pembuatan pempeknya.

Oiya, pempek ini tahan hingga 1 bulan jika penyimpanan diletakkan di freezer. Tapi, dijamin tidak sampai selama itu pempeknya pasti sudah ludes duluan.

Bagi kalian yang ingin kepo lebih lanjut tentang pempekscooter-nya Warungscoot ataupun menu lainnya, teman-teman bisa kunjungi Instagramnya di @pempekscooter maupun @warungscoot atau bisa pesan langsung ke nomor Whatsapp 08978535273.

Kiat Berbisnis dari Owner Warungscoot

Tidak dipungkiri, masa pandemi seperti saat ini banyak menimbulkan kerugian pada berbagai sektor termasuk usaha kuliner seperti yang dijalankan Ryan dan Anis.

Sejak mewabahnya Covid-19, kedai Warungscoot tutup total. Namun, Ryan dan Anis tetap berikhtiar dengan mengembangkan produk frozennya sehingga tetap bisa membuka usaha meski hanya menerima pesanan online.

Mereka pun berencana untuk menggaet lebih banyak reseller dari berbagai kota untuk terus mengembangkan usaha Warungscoot. Juga masih terus berusaha berinovasi dengan menjual jenis makanan lainnya yang terlihat bisa menjadi favorit pelanggan.

Konsisten adalah kunci utama dalam berbisnis, kata Anis dan Ryan. Meskipun situasi dan kondisi sedang tidak kondusif, pasangan suami istri dari seorang anak ini terus berusaha agar usahanya tidak ikut gulung tikar. Mereka tidak berputus asa dan terus berkreatifitas dengan membuat berbagai frozen food agar bisa tetap berjualan.

Disamping itu, menjaga hubungan baik dengan para pelanggan juga menjadi rahasia sukses bisnis Warungscoot. Mereka menerima segala masukan serta tidak tersinggung ketika ada pelanggan yang memberi kritik.

Jangan lupa untuk meniatkan usaha berdagang hanya karena Allah SWT. semata. Niatkan semua yang dikerjakan sebagai ibadah, insha Allah akan selalu diberikan kemudahan oleh Yang Maha Pemberi Rezeki.

Waahh.. Sukses selalu ya untuk Warungscoot! Semoga usahanya terus berkembang.

Sekian dulu review pempekscooter beserta perjalanan bisnis dari Warungscoot.

Sukabumi, 14 Juli 2020