Kamis, 19 Desember 2019

My First BF Experience

Desember 19, 2019 0 Comments

Kali ini, aku ingin flashback ke tanggal 31 Oktober 2018. Hari pertama dimana aku terbangun dan sadar bahwa statusku sudah berubah menjadi ibu. Pukul 04.00 WIB aku dibangunkan oleh rasa nyeri yang menjalar disekitar perut akibat efek obat bius pasca operasi caesar yang sudah habis, disamping itu aku juga merasa kegerahan karena badanku ditimbun dengan berlapis-lapis selimut. Semalam memang rasanya dingin banget sampai menggigil badanku, kata perawat itu karena efek obat bius dan suhu diruang operasi. Baiklah, masih subuh dan aku masih sangat mengantuk, ku tahan sakit jahitan operasi dan kembali terlelap.

Beberapa jam kemudian, masih dalam kondisi mengantuk aku merasa badanku demam dan tiba-tiba menggigil. Segera ku bangunkan suamiku yang sedang tertidur disofa sebelah ranjangku, ia yang kaget dan kebingungan langsung menekan tombol bantuan untuk memanggil perawat. Tidak berapa lama, perawat pun datang dan memeriksa keadaanku. "Bu, ini PDnya keras sekali. Coba dipompa mungkin ASInya mau keluar tapi tersumbat," katanya. Ia kemudian menyuruhku untuk membersihkan payudara dengan air hangat terlebih dulu dan mengajarkan cara memijat PD agar ASI ku lebih lancar untuk dikeluarkan.

Sumpah waktu itu rasanya PD ku keras seperti batu dan sakiiit sekali. Ngeri deh kalo inget rasanya >.< sampai-sampai suamiku pun beristighfar sambil berkata, "Ya ampun kok sampe kayak gini, yang?" Aku hanya bisa mewek cirambay bombay menahan sakit. Setelah melakukan instruksi perawat yaitu membasuh dengan air hangat dan melakukan pemijatan, suamiku mempersiapkan peralatan pumping dan botol ASIP yang telah disterilkan dari rumah. Proses pumping pun dilakukan dan ASI ku mengalir deras seperti keran air yang baru dibuka, banyak sekali hingga 5 botol kaca berisi masing-masing 100 ml ASI penuh. Habis dong itu botol tapi PD ku masih bengkak juga sakit cenat-cenut. Bayiku saat itu belum dibawa ke kamar karena jadwal ia datang sekitar pukul 07.00 WIB setelah dimandikan.

"Mana botol yang lain? Kan kemarin mas bawain 10," tanyanya. "Ia aku tinggal dirumah, abis kebanyakan botolnya. Kirain nggak kepake semua. Kata orang-orang abis lahiran ASInya belum banyak," jawabku penuh penyesalan. Sok smart banget memang, tidak terbayang ASI ku akan langsung banjir begini dan bakal sesakit ini kalau ASI tidak segera dikeluarkan. Akhirnya pasrah saja baju basah karena kebanjiran ASI dan saat itu aku juga belum punya breastpad. Kacau banget!

Ku pikir saat bayiku datang, ia akan langsung menyusu dengan lahap karena kelaparan dari semalam belum minum apa-apa. Dengan begitu, PD ku akan segera kosong dan tidak sakit lagi. Ternyataa, bayi juga harus belajar menyusu dulu. Ia tidak bisa langsung menyusu dengan benar, setelah beberapa kali percobaan baru berhasil. Itu pun hanya beberapa menit karena ASI ku segera memenuhi perutnya, setelah kenyang ia lanjut tertidur dengan pulas. Harus menunggu 2 jam kemudian baru ia dibangunkan untuk disusui kembali, membangunkan bayi untuk menyusu pun susaah sekali karena anaknya maunya tidur terus. Aku jadi harus terus-terusan memompa PD agar tidak bengkak dan sakit lagi. Nggak kebayang sebelumnya kalau mengASIhi bakalan sebegininya.

Aku kira, semua ibu diseluruh dunia akan mengalami hal yang sama. Habis melahirkan, PD sakit dan ASI nya keluar dengan lancar, meski pun yang aku dengar pada awalnya keluar hanya sedikit. Aku pikir sedikitnya tuh yaa satu atau dua botol kaca ukuran 100 ml lah. Saking clueless-nya dengan dunia perASIan. Namun, mendengar cerita teman-temanku yang melahirkan setelah aku, banyak yang ASInya belum keluar sampai berhari-hari, pumping 1 jam hanya dapat 20 ml. Ada yang sampai anaknya demam dan kuning. What?! Sedih sekali mendengarnya, aku benar-benar bersyukur tidak mengalami hal seperti itu.

Ketika sharing tentang pengalaman mengASIhi dengan teman-teman sesama new moms, banyak yang bertanya tips bagaimana agar ASI ku bisa selancar itu? Selama hamil, aku sama sekali tidak membaca atau pun mencari tau masalah mengASIhi. Makanya ku sebut diatas tadi aku clueless. Aku juga tidak sadar hal apa saja yang membuat ASI ku lancar hingga ASI booster yang diresepkan dari rumah sakit sepulang melahirkan tidak berani ku minum. Kemudian aku mencoba menelusuri kemungkinan apa yang membuat ASI ku bisa lancar sejak hari pertama setelah melahirkan,  lalu setelah membaca dari berbagai sumber sepertinya hal ini yang dapat memperlancar ASI segera setelah melahirkan :
1. Rileks
Selain hormon prolaktin, hormon yang mempengaruhi produksi ASI adalah hormon oksitosin (hormon cinta kata orang-orang). Hormon ini berfungsi untuk merangsang produksi ASI. Keberadaan hormon oksitosin ini sangat dipengaruhi oleh suasana hati seseorang (dalam hal ini ibu), jadi ibu harus merasa happy, rileks dan tidak stress sehingga hormon ini bisa hadir dan ASI pun diproduksi.

Sesaat setelah operasi caesar, yang ku pikirkan hanya TIDUR. Beneran deh, saat itu jiwa keibuanku sama sekali belum muncul. Capek banget setelah menahan kontraksi selama 24 jam lebih dan berujung caesar, tidak ada dipikiranku adegan-adegan seperti film atau video artis-artis yang begitu bahagia hingga menangis terharu biru melihat buah hatinya lahir. Yes, I was so happy at that moment. Setelah bayiku lahir, aku mengucap syukur dan senang melihatnya lahir dengan sehat selamat. Lega banget rasanya, semua lelah selama berjam-jam kebelakang itu memang terbayar lunas. Tapi setelahnya, "plis gue butuh tidur," itu yang aku pikirkan. Urusan bayi besok lagi aja deh! LOL. Untungnya, pihak rumah sakit memang langsung membawa bayiku untuk dibersihkan dan tidur dikamar bayi terlebih dahulu.

Setelah mendapat cukup tidur hingga pukul 04.00 subuh yang kuceritakan diatas, rasanya badanku lebih "fresh", rileks dan tidak ada lagi beban pikiran mengenai proses melahirkan kemarin-kemarin. Fresh-nya dalam tanda kutip karena jauh berbeda dengan fresh yang sebenarnya (hanya after-labor-women yang paham). Mungkin hal ini yang memicu bekerjanya hormon oksitosin dalam tubuhku sehingga beberapa jam setelahnya ASI ku langsung keluar.

2. Rajin Pijat dan Membersihkan PD
Sejak trimester pertama, kk iparku sudah mewanti-wanti agar aku mulai rutin membersihkan area puting dan memijat PD agar aliran darah lancar dan ASI tidak tersumbat kotoran saat waktunya ia akan keluar nanti. Setelah diberitau begitu, aku rajin memijat PD ku pagi dan sore hari setelah mandi menggunakan minyak zaitun. Dari sumber yang ku baca, katanya bisa mencegah timbulnya stretch marks juga, jadi ku rutinkan saja agar kulit tetap mulus. Hehe. Saat mandi, aku pun selalu membersihkan area puting dengan air hangat (iya anaknya manja, karena Bandung dingin mandinya air hangat terus. LOL!). Begitu terus ku lakukan hingga saat-saat terakhir mau melahirkan. Mungkin ini juga menjadi salah satu faktor kekuksesan banjirnya ASI ku segera setelah melahirkan.

Karena pengalaman ini, aku rajin sekali menginformasikan pada teman-temanku yang sedang hamil agar rutin melakukan tips No.2 ini. Kurang tau juga apakah efeknya akan sama setiap orang, namun tidak ada salahnya mencoba. Nggak lama kok, cukup 2-3 menit aja membersihkan dan memijatnya, oiya jangan keras-keras juga karena malah dapat memicu kontraksi sebelum waktunya.

Masih banyak tips-tips lainnya yang silahkan baca sendiri dari berbagai artikel dan jurnal karena yang aku share hanya berdasar pengalamanku. Tambahan untuk tips berikutnya adalah perbanyaklah mencari informasi, jangan jadi seperti diriku yang clueless begitu mengASIhi dimulai. Banyak ibu-ibu hamil yang fokus mencari informasi mengenai kesehatan janin dan bagaimana agar proses persalinan bisa lancar namun tidak mencari tau sama sekali tentang proses mengASIhi yang perjuangannya hingga 2 tahun.

Begitulah cerita pengalaman pertamaku mengASIhi setahun yang lalu. Semoga tulisanku ini bisa bermanfaat untuk yang membacanya. See you!

Sukabumi, 19 Desember 2019

Senin, 16 Desember 2019

Honest Review : Lumba Playmat

Desember 16, 2019 0 Comments

Dalam tulisan kali ini, aku ingin mencoba untuk membagikan pengalamanku menggunakan bumper bed dari Lumba Playmat (IG : @lumbaplaymat). Saat anakku berusia 5-6 bulan, ia sedang aktif-aktifnya berguling kesana kemari. Kita meleng sedikit dirinya sudah sampai ke pinggir kasur, ditinggal sebentar sudah menangis karena terjatuh dari kasur. Bikin was-was dan khawatir, apalagi anakku tipe anak yang speak less do more, tak bersuara tiba-tiba sudah menclok dimana-mana.

Saat tinggal dirumah mertua, posisi kamarku berada dibelakang, dekat dengan dapur dan jauh dari ruang tengah (ruang keluarga). Hal ini membuatku harus menggendong-gendong anakku ketika aku ingin duduk-duduk atau mengobrol dengan anggota keluarga lain diruang tengah. Untuk sekedar buang air kecil pun harus mencari orang yang bisa dititipkan anak bayi walau hanya sebentar, karena meninggalkannya dikamar sendirian sangat riskan meskipun kasurku tidak menggunakan dipan. Sulit sekali pergerakanku jika kemana-mana harus sambil membawa bayi.

Akhirnya aku melakukan penelusuran terkait "tempat bermain" anak, sampailah temuanku pada Lumba Playmat. Langsung tertarik dong, ketika melihat review-review di Instagramya. Dibandingkan dengan panel fence (parklon fence) yang didalamnya harus ditambahkan playmat lagi, rasanya kok ribet ya (no ribet-ribet club) karena pagar-pagarnya harus dipasang satu per satu, dalamnya diberi alas lagi. Melihat bumper bed Lumba, kelihatannya tinggal pakai aja tanpa sibuk nganu-nganu lainnya.

Kemudian aku mencari tau spesifikasi dari bumper bed ini, berikut hasilnya (bulan April 2019):
- Product Name : Bumper Bed
- Material Product : Aircell Pads & amp; Premium Soft Colour Waterproof PU Leather
- Product Size
Jika dijadikan playmat : 200 x 200 x tebal 5 (cm)
Jika dijadikan box : 100 x 150 x 50 (cm)

Buat yang mau mencari tau lebih detail, monggo kepo IGnya. Hehe.. Jujur yang paling aku fokuskan adalah pada ketebalan dari bumper bed ini. Bagi pasangan yang sudah memiliki anak dan sedang lincah-lincahnya bergerak, tau lah ya betapa seringnya si bocah kejedot dan nyungsrug karena tingkah polahnya. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan suami kami sepakat untuk mengadopsi satu bumper bed dari Lumba Playmat tanpa tau berapa harga produk tersebut. Ternyata harganya Rp.4.500.000,- sebagai sobat misqueen mikir-mikir juga kalo segitu! Nabung dulu aja deh, siapa tau ada diskon.

Memang dasar kalau rejeki nggak kemana, saat bulan ramadhan tiba, Lumba Playmat mengadakan promo dari harga 4.5 juta menjadi Rp.2.499.000,- langsung aku berdiskusi lagi dengan suamiku dan memutuskan untuk membeli produk tersebut. "Biar nggak kebanyakan mikir, nanti nggak jadi-jadi," begitu kata suamiku. Haha. Akhirnya aku menghubungi admin Lumba dan ternyata harus Pre-Order (PO) karena bumper bed baru akan diproduksi lagi setelah lebaran. Bagus deh, bisa nunggu THR dulu! Aku kemudian melakukan pemesanan untuk bumber bed Scandinavian Living yang merupakan perpaduan warna blue sky, soft grey, soft purple dan baby blue. Kemudian aku mentransfer uang muka sebesar Rp.500.000,- dan pelunasan dibayarkan setelah bumper bednya selesai dibuat. Oiya, harga tersebut belum termasuk ongkos kirim yang mana pengiriman dilakukan dari Bandung, biaya ongkos kirimku saat itu adalah Rp.90.000,-

Scandinavian Living, My Bumper Bed by @lumbaplaymat

Setelah produksi bumper bed pesananku selesai, admin menghubungiku untuk melakukan pelunasan. Kemudian, keesokan harinya bumper bed dikirim ke rumah. Saat itu aku menunggu suamiku pulang dulu untuk memasang bumper bednya (mager masang sendiri). Anakku menunjukkan raut wajah yang begitu excited ketika melihat "mainan baru"nya itu dipasang.

Kesanku setelah menggunakan bumper bed dari Lumba Playmat adalah worth to buy. Banyak sekali manfaat yang aku dapatkan dengan adanya bumper bed ini, yang paling utama adalah tidak khawatir meninggalkan anak sendirian ketika aku ada keperluan seperti ke kamar mandi, makan, dan kegiatan lain yang rempong kalau harus bawa-bawa anak kemana-mana. Jika anakku bosan ditinggal agak lama, paling dia ngoceh-ngoceh dan menangis. Setidaknya aku tidak khawatir dia terantuk, terjatuh dan terpentok lantai, kursi, meja atau barang-barang keras lainnya.

Untuk anakku sendiri, bumper bed ini membantu sekali dalam proses ia belajar duduk, merangkak, berdiri, merambat hingga berjalan. Bahkan sekarang ia sedang gencar-gencarnya bereksperimen memanjat pagar dari bumper bednya. LOL. Bahannya yang tebal membuat ia tidak takut jatuh saat mencoba keahlian barunya seperti berdiri dan berjalan. Saat aku tinggal mandi atau memasak, anakku pun memiliki tempat yang aman untuk ia me time bersama mainan atau pun bukunya.

Hingga saat ini dimana anakku memasuki usia setahun lebih dua bulan, bumper bed dari Lumba Playmat masih menjadi andalanku ketika aku sedang beberes rumah, terutama saat ngepel lantai, mandi, memasak dan kegiatan rumah tangga lain yang sulit jika dilakukan seraya membawa anak atau meninggalkannya bermain sendiri karena ia sudah bisa menjelajah ke semua sudut rumah dan khawatir terjadi sesuatu jika tidak terpantau.

Sepengelihatanku di IG, saat ini Lumba Playmat sudah mengeluarkan produk generasi terbaru dari bumper bed yang material dan ketebalannya berbeda dengan bumper bed milikku (generasi sebelumnya), selain itu motifnya juga lebih bervariasi. Silahkan cek IGnya sendiri ya. Dengan harga sekian juta tersebut, menurutku barang ini worth to buy! Semoga review dari aku ini bisa membantu para orang tua yang sedang memilih dan memilah "tempat bermain" yang cocok untuk anak-anaknya.

Sukabumi, 16 Desember 2019

Kamis, 12 Desember 2019

Ibu Profesional (Ep. Pendaftaran Kelas Foundation)

Desember 12, 2019 2 Comments

Pada tulisan beberapa waktu lalu yang judulnya Berkomunitas, aku sudah menyinggung mengenai komunitas yang saat ini aku ikuti yaitu Ibu Profesional. Dalam tulisan kali ini, aku ingin bercerita saat aku mendaftar untuk kelas Foundation pada bulan November 2019 lalu.

Sekilas tentang Ibu Profesional, setelah berselancar melalui internet yang aku tangkap tentang apa itu Ibu Profesional adalah suatu komunitas yang mewadahi ibu mau pun calon ibu untuk memberdayakan dan meningkatkan kualitas dirinya sebagai ibu, istri dan perempuan. Hmm.. Terdengar relatable sekali dengan diriku yang butuh upgrade ilmu dan skill parenting ini. Akhirnya, setelah kepo sana sini aku memantapkan diri untuk mendaftar dalam kelas Foundation yang akan dibuka pada bulan November 2019.

Apa itu kelas Foundation? Yaitu kelas persiapan sebelum kelas Matrikulasi (Pra-Matrikulasi). Metode belajarnya menggunakan aplikasi sejuta umat yaitu Facebook, dan akan berlangsung selama 4 minggu. Pada kelas Foundation ini, para calon anggota akan diperkenalkan lebih dalam mengenai Ibu Profesional dan komponen-komponen yang ada didalamnya serta nilai-nilai dari Ibu Profesional itu sendiri. Ibarat rumah, kelas Foundation ini adalah pintu gerbangnya sebelum kita memasuki pintu utama kelas Ibu Profesional lainnya.

Setelah mantengin feed Instagram (IG) @institut.ibu.profesional, aku mendapat informasi bahwa pendaftaran akan dibuka tanggal 13 November 2019 pukul 19.00 WIB. Yang harus dipersiapkan adalah link account Facebook dan uang sebesar Rp.200.000.- untuk keanggotaan seumur hidup. Tepat pada tanggal dan waktu yang ditetapkan, aku langsung cuss mengisi formulir yang disediakan di website Ibu Profesional dan menunggu email balasan. Pendaftaran sempat ditutup sementara akibat banyaknya pendaftar dan panitia harus memverifikasinya satu per satu.

Beberapa saat setelah aku mengisi formulir, aku diundang ke Whatsapp Group (WAG) Pra-Foundation Ibu Profesional (IP) regional Sukabumi. Disana aku berkenalan dengan para senior IP Sukabumi dan calon anggota yang akan menjadi teman seangkatanku. Setelah bertukar informasi, ternyata banyak yang belum mendapatkan email balasan untuk melakukan transfer termasuk aku. Kalau belum transfer, kami tidak akan dimasukkan ke dalam Facebook Group Ibu Profesional dimana materi kelas Foundation akan dibagikan disana. Beberapa senior meminta kami untuk bersabar karena banyaknya orang yang mendaftar sehingga balasan email membutuhkan waktu lebih.

Hingga tanggal 15 November menjelang magrib, aku belum juga mendapatkan balasan dari tim IP pusat sehingga aku berinisiatif untuk mengirimkan email pada salah satu panitia yang alamatnya tercantum di IG Ibu Profesional. Tidak berapa lama, aku di Whatsapp untuk segera melakukan pembayaran. Lahh, tau gitu gue email dari kemarin-kemarin nggak cuma pasrah nunggu doang! Pendaftaran ditutup tanggal 15 November 2019 pukul 21.00 WIB. Segera aku melakukan transfer karena waktu menunjukan hampir jam 19.00 WIB. Setelah itu aku melakukan konfirmasi via WA dan kembali mengisi formulir via Google.

Selanjutnya setelah mengisi formulir konfirmasi pembayaran, aku bertanya pada salah satu senior IP Sukabumi untuk langkah selanjutnya. Beliau berkata bahwa aku hanya tinggal menunggu untuk diundang masuk ke Grup FB Ibu Profesional. Pertemuan awal kelas Foundation akan dimulai pada tanggal 20 November 2019, oleh karena itu dipastikan sebelum tanggal tersebut seluruh calon anggota sudah bergabung dalam Grup FB Ibu Profesional. Namun, hingga tanggal 19 November 2019 aku belum juga dikirimkan email yang berisi link untuk gabung ke FB Grup IP. Ternyata beberapa calon anggota juga senasib seperti diriku dan lagi-lagi kami diminta untuk bersabar karena calon peserta yang sangat banyak sehingga butuh waktu lebih banyak untuk mengirimkan email.

Memang dasar aku orangnya tidak sabaran, kembali ku WA panitia pusat Ibu Profesional agar mengirimkan link FB Grup IP tersebut. Beberapa menit kemudian, panitia mengirimkan link yang dimaksud. Lagi-lagi, tau gitu dari kemarin-kemarin aku berinisiatif menghubungi panitia pusat. Setelah membuka link yang dikirimkan, aku segera mengklik pilihan Join untuk bergabung bersama calon anggota lainnya di grup besar FB Ibu Profesional. Eh, ternyata masih harus menunggu konfirmasi lagi dari admin untuk masuk ke dalam grupnya. Ku kira semua sudah beres dan aku tinggal menunggu saat pertemuan pertama kelas Foundation tiba.

Hingga esok harinya yaitu tanggal 20 November 2019 dimana malam harinya kelas Foundation sudah dimulai, admin FB Ibu Profesional belum juga mengkonfirmasi permintaanku untuk bergabung dalam grup. Tanpa bertanya pada senior, langsung aku hubungi lagi panitia pusatnya untuk memasukkanku dalam grup FB. Setelah meminta nama lengkap, email serta account FB ku, tidak sampai 10 menit aku sudah dimasukkan ke dalam grup FB yang konfirmasinya ku tunggu-tunggu dari kemarin. Malam harinya, mulai deh aku ikut belajar dalam kelas Foundation Ibu Profesional Batch 8.

Saranku untuk kalian yang tertarik ikut dalam komunitas ini dan berniat mendaftar di periode selanjutnya, berinisiatif lah untuk menghubungi panitia pusat baik melalui email mau pun chat via WA saat kalian belum menerima konfirmasi dari pihak IP pusat. Seperti pengalamanku kemarin, mungkin peserta yang mendaftar sangat banyak hingga panitia sendiri kewalahan dalam memverifikasi data yang butuh ketelitian tersebut, jadi tidak ada salahnya jika kita membantu mereka sehingga mereka tau, "Ini loh ternyata ada yang belum dikonfirm.." kira-kira seperti itu menurut pendapatku.

Sukabumi, 12 Desember 2019

Rabu, 04 Desember 2019

Mom's Roller Coaster

Desember 04, 2019 0 Comments


Pagi ini, my baby boy yang biasanya bangun tidur happy berubah menjadi susah sekali dikendalikan. Rutinitas pagi kami bangun tidur, jalan-jalan pagi, sarapan, mandi, bermain hingga ia mengantuk dan tidur lagi. Anak seumur dia senang dengan keteraturan, bukan? Entah mengapa pagi ini ia lalui dengan cranky, setelah papanya berangkat kerja dan aku mengajaknya jalan pagi setibanya dirumah ia sibuk minta gendong dan menangis. Kegiatan makan pun diselingi dengan tangisan karena ia ingin segera digendong. Aku pun tidak sempat menyantap sarapan pagi karena begitu akan menyendok makanan, tangisannya pecah membuat telingaku sakit. Dengan emosi, ku akhiri sesi makan pagiku yang bahkan belum sempat dimulai untuk kembali menggendongnya.

Ternyata banyak sekali emosi yang terkuras setelah melewati masa setahun menjadi ibu. Happy? Yes ofcourse, Sad? Sometimes, Frustation? Almost everyday, Angry? Hell to the yeah, dan emosi lain yang sulit dijabarkan dengan kalimat. Jika mengingat masa morning sickness saat hamil dan pedihnya jahitan caesar pasca melahirkan, rasanya itu semua belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan merawat dan membesarkan anak. Pernah sih membayangkan betapa rempong dan sulitnya mengasuh anak, tapi tidak terbayang akan serumit ini. This is my biggest challenge I've ever had! Tanggung jawabnya besar sekali sebagai orang tua karena akan dimintai pertanggung jawabannya langsung oleh Tuhan yang memilih kita sebagai ibu dan ayah.

Tak terhitung memang kebahagiaan yang didapat saat bisa melihatnya tumbuh dan berkembang hingga besar, namun tak terhitung juga banyaknya rasa sesak yang harus ditahan saat mengatur emosi menghadapi tingkah polahnya. Jadi bahagia sama emosinya tuh sebelas duabelas gitu, LOL! Salut sih, sama orang-orang yang memutuskan untuk memiliki banyak anak contohnya mertuaku yang punya 7 anak atau kakek nenekku yang anaknya 6, walau pun nggak tau juga bagaimana management emosi mereka melalui masa-masa membesarkan anak dulu. Jujur saja, hingga saat ini aku belum terpikir untuk memberi anakku adik karena aku sendiri masih merasa memiliki banyak sekali kekurangan dalam pengasuhan anak dan masih meraba-raba mencari bagaimana pola pengasuhan anak yang terbaik versiku.

Banyak hari-hari yang kulalui dengan gembira setiap saat bersama anakku jika ia menurut, tidak banyak menangis, makan dengan lahap dan bermain dengan ceria. Senang sekali bisa menemaninya seharian itu. Ada juga hari-hari dimana ia menjadi sulit dikendalikan seperti pagi ini misalnya saat sakit, tumbuh gigi, ogah-ogahan makan, tidak mau mendengarkan dan maunya digendong terus. Senangnya tetap ada, tapi dengan tambahan capek, lelah, mumet dan kesal yang jadi terasa. Kadang aku merasa bersalah saat marah padanya, saat merasa sebal dan kesal ketika menghadapinya, namun ada sisi pembelaan bahwa aku juga manusia yang bisa merasakan berbagai emosi. Dikira mentang-mentang statusnya ibu terus jadi robot yang tidak bisa merasakan roller coaster emosi?

Ada kalanya ketika suamiku pulang kerja, aku akan bercerita bagaimana bahagianya seharian karena anakku baru bisa melakukan sesuatu, tidak menangis saat aku mandi atau memasak, makan tanpa perlawanan dan bermain dengan gembira bersama mamanya. Namun, sering juga aku berkeluh kesah tentang anakku yang hari itu makannya dilepeh, susah disuruh tidur siang, maunya main sesuatu yang berbahaya dan menangis saat dilarang. Entah mana yang lebih banyak ku ungkapkan pada suamiku, yang jelas tidak jarang aku berkata bisa stress jika begini terus. Keesokan harinya, mood bisa berubah lagi mengikuti kelakuan bocah. What a life~

Aku sangat berharap bisa melewati roller coaster kehidupan sebagai ibu ini dengan tetap waras, membesarkan anakku sehingga ia menjadi sosok yang jauh lebih baik dari kami kedua orang tuanya. Stay strong menjadi anak mama ya, Kid! And I'll try to be your best mommy, too...

Sukabumi, 4 Desember 2019

Selasa, 03 Desember 2019

Mencintai Membaca

Desember 03, 2019 2 Comments

Sedari kecil, kedua orangtuaku rajin membelikan kami (aku dan adik-adik) buku bacaan. Entah dimulai sejak kapan, yang ku ingat aku punya banyak sekali ensiklopedia dan ratusan buku bacaan hingga kami bisa membuka perpustakaan mini dirumah dan menyewakan buku bacaan yang mana pelanggannya saat itu adalah tetangga sekitar rumahku.

Ayahku memang seorang pecinta membaca. Koleksi bukunya pun berlemari-lemari, aku sadar bahwa beliau lah yang paling berjasa dalam menanamkan minat membaca pada aku dan adik-adikku. Ketika kami kecil, sering sekali kami mengunjungi toko buku dan diberi jatah untuk membeli 2-3 buku. Masih terngiang bagaimana bahagianya aku saat mencium aroma buku-buku baru ditoko buku dan sibuk memilih buku bacaan yang akan dibawa pulang.

Setelah dewasa, aku memang tidak sesering dulu pergi mengunjungi toko buku. Karena banyak alasan, aku lebih sering membeli buku via online shop yang mana lebih mudah dan fleksibel untuk seorang mama yang sehari-harinya mengurus rumah seperti aku. Hingga saat ini, aku masih suka sekali membaca. Genre buku bacaanku saat ini sudah jauh berubah, jika dulu aku penggemar komik dan novel maka sekarang aku lebih sering berburu buku-buku berbau parenting. Ingin sih sesekali kembali tenggelam dalam imajinasi saat membaca novel, namun tetap buku parenting dan tentang tumbuh kembang anak lebih menarik hatiku saat ini. Haha *emakemaklyfe

Aku pun ingin menanamkan kecintaanku terhadap buku pada anakku yang saat ini genap berusia 1 tahun. Sejak dia baru lahir, aku sudah membelikannya berbagai buku bacaan. Ada saja yang berkomentar aku terlalu berlebihan membelikannya buku sejak bayi, tapi aku yakin kalau minat membaca itu tidak datang secara instan dan harus dimulai sedini mungkin. Lagi pula, lumayan kan kita bisa killing time berfaedah dengan membacakan cerita pada anak kita dibanding memberinya tontonan melalui youtube.

Mulanya, anakku tidak menunjukan ketertarikan pada buku-buku bacaannya. Saat memberinya buku, maka ia akan menyingkirkannya. Tapi, namanya ibu pantang menyerah aku terus saja membacakannya cerita dan menunjukkan gambar-gambar yang ada pada bukunya. Sekarang, aku mulai melihat hasil yang nyata dimana anakku suka sekali membawa buku bacaannya yang dulu ia singkirkan. Saat ia bosan dengan mainannya, ia akan mengambil salah satu bukunya dan memintaku untuk membaca bersamanya. Bahkan, saat ku tinggal untuk masak atau mandi kadang aku melihatnya sibuk membuka-buka halaman bukunya dan babbling sendiri sambil menunjuk gambar yang ada dibuku. Padahal, aku menyalakan televisi juga supaya dia tidak bosan dan bisa menonton tv tapi dia lebih memilih buku. Proud of you, Kiddo!

Misiku untuk menjadikan anakku seorang yang cinta membaca seperti kakek-kakeknya (ayah dan ayah mertuaku) didukung oleh suamiku. Dia bukan seorang penggemar buku sepertiku, koleksi bukunya bahkan hampir tidak ada. Haha. Tapi dia melihat sisi positif ketika aku mengenalkan buku pada anak kami, terutama saat hingga sekarang anak kami nyaris tidak kenal gadget kecuali untuk video call dengan kakek-neneknya atau sekedar berswafoto. Ia juga tidak (belum) begitu tertarik dengan televisi kecuali nonton pada waktu makan (pelanggaran detected!).

Kedepannya, aku ingin terus menumbuhkan dan memupuk kecintaan membaca pada anakku sama seperti orang tuaku melakukannya terlebih dahulu padaku. Ingin sekali membesarkan anak yang gemar membaca sehingga ia menjadi anak yang berwawasan luas dan mampu berpikir kritis. Bukan ambisius namun salah satu harapan yang semoga selalu istiqomah sehingga menjadi nyata :)

Sukabumi, 3 Desember 2019


Minggu, 24 November 2019

Berkomunitas

November 24, 2019 0 Comments

Berorganisasi sudah menjadi hobiku sejak jaman SMA. Rasanya senang sekali bisa menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan ikut banyak kegiatan, daripada diam dirumah killing time entah ngapain hingga waktu tidur malam tiba. Saat SMA, aku aktif di ekskul Teater PDTORAKS, i-Earn, English Debating Club dan Klub Biologi. Banyak ya ternyata? Haha. Dari kegiatan-kegiatan tersebut, tak jarang aku mengikuti lomba dan mendapat banyak pengalaman seru. Meski pun tidak selalu menang, rasanya hidupku lebih berfaedah dengan padatnya aktivitas itu.

Begitu pula dengan masa-masa menjadi mahasiswi. Disemester awal, aku cukup shock dengan kegiatan perkuliahan dan jadwal praktikum yang begitu menyita waktu seharian. Rasanya pulang kuliah capek, badan sudah remuk dan ingin tidur saja di kos. Malamnya, harus berkutat dengan laporan praktikum dan belajar untuk pre-test praktikum esok harinya. Begitu terus hingga hampir 3 semester, akhirnya aku menemukan ritme belajar dan terbiasa dengan kesibukan kuliahku. Kemudian, aku memutuskan untuk berorganisasi lagi demi eksistensi. Haha, nggak ding! Buat tambah pengalaman dan relasi tentunya. Aku pun aktif di BEM KMFA, IPSF (International Pharmaceutical Student Federation), Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia (JMKI) dan Unit Kegiatan Mahasiswa GMCO (Gadjah Mada Chamber Orchestra).

Bersama Gadjah Mada Chamber Orchestra

Mengikuti organisasi dimasa kuliah jauh lebih menyenangkan. Aku berkesempatan untuk bertualang ke Korea Selatan dan Swiss, menjadi Team Leader dalam acara simposium mahasiswa farmasi seAsia, mengadakan konser orkestra dengan bintang tamu orang-orang ternama seperti Addie MS, Lea Simanjuntak hingga flutist asal Argentina, Eduardo Tami, dan masih banyak sekali pengalaman seru dan menyenangkan yang sangat panjang jika dijabarkan dalam kalimat dipostingan ini. Poin plusnya lagi, aku mendapat teman-teman yang hingga saat ini menjadi zona nyamanku layaknya keluarga. Baik teman-teman satu fakultas mau pun satu universitas. Sampai sekarang kami masih sering berkomunikasi, bertukar cerita dan membuat janji untuk meet up saat berada dikota yang sama.

Saat Menjadi Panitia dalam Asia Pacific Pharmaceutical Symposium

Setelah resign dan menikah, aku ikut tinggal dengan suami dan keluarganya dikota Bandung. Komunitasku hanyalah keluarga suamiku dan beberapa teman kantor yang sudah jarang sekali kutemui. Sebenarnya Bandung adalah gudangnya komunitas, banyak sekali komunitas atau organisasi yang bisa kuikuti saat itu. Namun sulit karena kondisi yang memang belum memungkinkan, apalagi saat harus mengurus newborn baby seorang diri tanpa bantuan pengasuh. Pergi ke Indomaret atau Alfamart saja sudah bahagia. Jadilah aku memilih bertahan untuk tidak berkomunitas hingga waktu yang dirasa tepat datang.

Akhirnya aku pindah ke Sukabumi ikut suamiku yang pindah kerja disini, tentunya bersama si kecil yang sudah beranjak besar. Aku yang tidak punya siapa-siapa dikota ini selain keluarga kecilku, memutuskan untuk mulai aktif mencari-cari kegiatan lain guna menambah ilmu dan mendapat teman baru. Setelah melakukan pencarian dan survey berbagai organisasi yang ada diSukabumi, pilihanku jatuh pada Ibu Profesional. Suatu organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas peran para wanita baik sebagai ibu, istri mau pun sebagai individu. Begitu waktu pendaftaran tiba, tidak membuang-buang waktu aku langsung ikut mendaftar dan saat ini telah bergabung dengan WA Group (WAG) Ibu Profesional Regional Sukabumi (IP Sukabumi).

Kegiatannya memang lebih banyak dilakukan secara online, via facebook dan WAG namun diluar itu komunitas IP Sukabumi juga sering melakukan berbagai kegiatan offline berupa kopi darat para anggota yang dikemas menjadi kegiatan amal mau pun sosial. Jujur saja aku baru mengikuti beberapa kali pertemuan kelas, tapi aku merasa pilihanku untuk mengikuti Ibu Profesional ini tepat karena memiliki visi dan misi yang kurang lebih sama denganku. Mungkin nanti aku akan membahas lebih lanjut mengenai apa itu Ibu Profesional dan kegiatannya dalam tulisan selanjutnya! Selamat berkomunitas lagi, dear myself ;))

Sukabumi, 24 November 2019




Rabu, 20 November 2019

Behind the SAHM

November 20, 2019 0 Comments

Tulisan ini merupakan suatu ungkapan rasa kecewa pada beberapa orang terdekat. Sering membaca sih, terkadang sumber toxic terbesar justru ada dilingkungan sendiri, ternyata memang benar seperti itu yang terjadi pada diriku.

Memilih untuk menjadi Stay At Home Mom (selanjutnya disebut SAHM) adalah murni pilihanku, sebelum menikah aku dan suami sudah sepakat bahwa aku akan tinggal dirumah mengurus rumah dan anak-anak (kelak). Alasannya, pertama karena suamiku pernah bilang bahwa ia lebih bangga punya istri sebagai SAHM dibanding yang kerja kantoran/diluar rumah. Ia berkata kerjanya akan lebih tenang jika rumah dan anak-anak ditinggal bersama istrinya, bukan orang lain. Kedua, karena aku yang cenderung perfectionist dan tidak mudah percaya pada orang memilih untuk membesarkan anak dengan mendampinginya sendiri. Aku ingin mendidik anakku sebaik yang aku mampu tentunya dengan membekali diri dengan ilmu parenting yang up to date dan sesuai dengan yang ingin ku terapkan.

Menjadi SAHM bukanlah hal yang mudah bagiku. Jujur saja aku yang terbiasa dengan kehidupan bangun siang, makanan selalu ada, baju selalu rapih dan wangi, rumah dan kamar selalu bersih, benar-benar harus beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai SAHM. Memang aku pernah merasakan tinggal dikosan dimana aku beres-beres kamar kosan dan mengurus hidupku sendiri, but that's totally different guys! Kosan gue berapa sih ukurannya dibanding rumah yang sekarang gue tempatin, yekaan?

Sering banget kepikiran, "Gilak gue capek-capek kuliah lima tahun ujung-ujungnya ngebabu dirumah!" atau merasa minder melihat pencapaian teman-teman seangkatan bahkan dibawah diriku yang saat ini karirnya melesat, travelling keliling Indonesia bahkan Eropa, melanjutkan sekolah. Ada masa dimana aku melamun dan berpikir "Kalo gue nggak seperti ini, mungkin gue akan mencapai apa yang menjadi cita-cita gue selama ini!" Buru-buru ku tepis pikiran tidak bersyukur semacam itu. Memiliki suami yang luar biasa baik serta dikaruniai seorang buah hati yang lucu dan senantiasa mewarnai hari-hariku, harusnya membuatku semakin banyak mensyukuri apa yang Allah telah berikan. Belum tentu mereka yang karirnya melejit lebih bahagia dengan hidupnya, dan mungkin mereka yang suka travelling keliling Indonesia sedang mencoba mencari kebahagiaannya diluar sana.

Aku pun saat ini sudah merasa enjoy dengan apa yang menjadi kegiatanku sehari-hari. Tidak lagi berpikir untuk kembali bekerja kantoran dan meninggalkan anak bersama nanny atau menitipkannya di daycare. Nggak pengen kerja lagi? Tentu saja iya! Aku sudah memiliki rencana untuk menjadi freelancer, tinggal menunggu waktu yang tepat karena saat ini anakku sedang memasuki fase aktif-aktifnya sehingga sulit bagiku mengatur waktu antara bekerja dan membersamainya. Prioritasku yang utama adalah keluargaku, pekerjaan lain bisa menunggu.

Dibalik keputusanku menjadi SAHM, ternyata banyak pihak-pihak (sebut saja netizen) yang tidak suka dengan apa yang aku lakukan. Saat bertemu dengan salah satu kerabat yang cukup dekat, ia membeberkan bahwa beberapa saudara kami tidak suka dengan aku yang diam dirumah dan tidak ngantor. Komentar yang mereka lontarkan antara lain :

- "Ima tuh pinter, lulusan Farmasi UGM, banyak kegiatannya selama kuliah sampai ke luar negeri segala. Tapi sekarang kok oon, berhenti kerja dan diam dirumah doang?!"
- "Kok mau sih dia, tinggal sama mertua terus sekarang ngontrak rumah. Nggak beli rumah aja sekalian? Nggak kerja sih. Tapi kan Bapaknya kaya, tinggal minta uang aja padahal."
- "Harusnya Ima tuh kerja, sayang ijazahnya. Nanti kalo suaminya selingkuh atau cerai, sakit atau meninggal, pasti bingung sendiri nggak ada kerjaan. Padahal biaya anak itu nggak sedikit."

Yang terbesit dipikiranku saat mendengar kerabatku bercerita demikian adalah, "Wow! Hebat banget apa ya hidup mereka sampe ngomen hidup gue kayak gitu?!" Jujur saja, aku tidak peduli dan tidak akan memikirkan apa yang mereka katakan. Bawa woles aja, Bray! Namun aku kecewa karena dibalik wajah manis mereka saat bertemu diriku, ada kata-kata berbisa yang membuatku cukup sakit hati menerima komentar mereka. Nggak nyangka aja mereka bermuka dua.

Untuk menghindari diri dari pengaruh komentar Toxic People seperti itu, berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan :
1. CUEK
Ada dua kemungkinan mengapa netizen berkomentar, pertama karena mereka iri pada pencapaian kita dan kedua karena pengalaman pribadi mereka sendiri. Cuekin aja, shaay! Apa sih pengaruh komentar mereka sama hidup kita? Kalau pun aku kembali bekerja kantoran, memang mereka mau bertanggung jawab mengurus anak dan rumahku disini? Kalau aku beli rumah, terus apa hubungannya sama mereka? Mau numpang tinggal, gitu? Beban hidup sudah banyak, jangan ditambah dengan memikirkan hal-hal yang tidak berfaedah untuk hidup kita.

2. FOKUS PADA TUJUAN
Mereka boleh saja tidak menyukai keputusanku untuk menjadi freelancer, "Duinya nggak seberapa," kata mereka. Lha terus kalo gue dapet duit situ mau minta bagian? Capek deh! Kita pun tidak wajib bertanggung jawab pada ketidaksenangan netizen terhadap diri kita. Emang mereka siapa wajib kita bahagiakan? Tugas utama kita sebagai seorang individu tentunya membahagiakan diri sendiri. Rumah membutuhkan figur ibu yang bahagia untuk menghidupkan lingkungan menjadi bahagia juga. Saat ini, fokus dan tujuanku adalah mendidik dan membesarkan anak. Selain itu, aku juga sedang semangat-semangatnya belajar untuk menjadi seorang istri yang lebih baik lagi dalam menjalankan peranku dirumah.

Memang hidup akan selalu butuh uang, mau apa-apa butuh uang. Yes, I do love money! Tapi, membersamai anak melewati Golden Age-nya bukan merupakan kesempatan yang bisa diraih oleh semua orang. Kesempatan itu datang padaku dan aku ingin memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Jadi, daripada memikirkan komentar pedas netizen yang menganggap aku oon lebih baik aku fokus pada tujuan yang ingin aku capai.

Mungkin dua hal diatas bisa diterapkan agar kita tidak terpengaruh komentar dari toxic people. Ingatlah pepatah lama, Anjing menggonggong khafilah berlalu. Terserah mereka deh mau ngomong apa, yang mengetahui basic needs serta menjalankan roda kehidupan adalah kita sendiri. Jangan buat komentar mereka membuat kita jatuh dan terpuruk. Remember, happy mommy raise a happy kid!

Sukabumi, 20 November 2019

Rabu, 06 November 2019

Menuju Tahun Kedua

November 06, 2019 0 Comments

Dua tahun lalu, awal November 2017 tepatnya tanggal 4 November hari Sabtu, aku resmi dilamar oleh seseorang yang menjadi suamiku sekarang. Pernikahan kami berlangsung selang 2 bulan kemudian yaitu tanggal 14 Januari 2018. Tak terasa waktu bergulir hingga hampir 2 tahun berjalan.

Boleh dikatakan kehidupan pernikahan tidak semulus cerita-cerita dongeng dimana setelah menikah they live happily ever after. Tidak sedikit sifat mau pun karakter dari pasangan yang kadang bikin greget untuk ku komentari, mungkin demikian pula dengannya. Tidak jarang kami berdebat untuk hal-hal sepele sampai akhirnya kami lebih baik menyudahi sesi adu argumen dan mengganti topik pembicaraan lain karena menyadari "apaan sih ini gak penting banget yang didebatin,". Kadang aku merasa begitu kesal hingga malas rasanya mau ngobrol dengannya, tapi menyadari bahwa ia sekarang adalah suamiku buru-buru aku mengeyahkan perasaan itu dan selalu mencoba untuk membangun komunikasi yang efektif saat kami menghadapi masalah.

Setelah si kecil hadir diantara kami, kehidupan rumah tangga kami semakin berwarna. Pembahasan kami saat pillow talk lebih sering tentang bagaimana kegiatan si anak kecil hari itu disamping obrolan ringan lainnya. 

Photoshoot sesaat setelah prosesi lamaran

Waktu kami untuk berduaan setelah memiliki anak tentunya tidak sebanyak dulu sebelum anak kami lahir. Memutuskan untuk tidak membayar jasa nanny dan ART, kami berdua lah yang berbagi tugas mengurus anak dan rumah. Salah satu hal yang membuatku semakin bahagia bersamanya adalah ketika ia tidak ragu untuk membantu pekerjaan rumah, ia yang paham betul bahwa istrinya ini jijikan tanpa dikomando selalu rajin membereskan sampah setiap pagi dan rutin membersihkan kamar mandi. Tidak jarang pula ia membantu memasak, mencuci piring, baju dan menyapu serta ngepel rumah. Aku merasa sangat-sangat bersyukur, ketika diluar sana banyak berita tentang suami yang memperlakukan istrinya seperti pembantu, suamiku memperlakukanku seperti partnernya dalam bekerja.

Tugas pengasuhan anak pun tidak melulu aku yang melakukan, saat ayahnya ada dirumah, anakku justru lebih nempel dengannya ketimbang denganku. Mungkin karena sehari-hari si kecil selalu bersamaku, dia jadi ingin berada didekat ayahnya saat ada dirumah. Lagi-lagi aku bersyukur bisa melihat sweet moment diantara mereka, juga bersyukur karena aku bisa me time sebentar walau hanya sekedar mandi agak lama atau makan nambah tanpa khawatir ditangisi. Hehe..

Aku pun sebagai seorang istri yang menjalankan management rumah tangga selalu berusaha memberikan yang terbaik, memang masih jauh dari kata sempurna, banyak yang masih harus aku pelajari baik tentang suamiku, anakku mau pun pekerjaanku mengurus rumah. Aku ingin suami dan anakku kelak berterima kasih telah memiliki diriku, ini yang terus memotivasi agar aku terus rajin dan menyingkirkan rasa malas.

Hampir dua tahun, merupakan waktu yang masih singkat dalam perjalanan seumur hidup. Banyak harapan dan impian yang ingin kami capai kedepannya. Semoga kehidupan rumah tangga kami selalu diberkahi, dipenuhi rasa syukur dan dijauhkan dari segala bentuk masalah yang dapat merenggangkan kami hingga akhir waktu.

Sukabumi, 6 November 2019

Senin, 04 November 2019

Feeding Frenzy

November 04, 2019 0 Comments

Pernah mendengar judul tulisanku diatas? Feeding Frenzy adalah sebuah games PC dimana peran kita sebagai ikan yang kegiatannya adalah makan dan makan, tantangannya menghindari ikan besar agar tidak memakan kita. Permainan yang gitu-gitu saja tapi membuatku selalu memainkannya berulang kali.

Namun kali ini aku tidak akan bercerita lebih jauh tentang permainan Feeding Frenzy, aku ingin bercerita tentang betapa serunya Feeding Time with My Baby. Bagi semua ibu, memasuki masa pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI) menjadi masa-masa yang bikin ndredeg, semua hal terkait MPASI dicari tau. Segala teori dibaca untuk bekal eksekusi jika saatnya tiba nanti, belum lagi perburuan bahan-bahan serta peralatan yang semua ingin serba lengkap demi memberikan yang terbaik untuk si kecil.

Tidak berbeda jauh dengan diriku, aku pun mencari tau berbagai informasi mengenai MPASI mulai dari jadwal, menu, tips dan trik agar anak mau makan, aturan makan dan hal mendetail lainnya. Satu bulan sebelum hari H aku sudah mensupply otakku dengan teori-teori MPASI. Untuk peralatan aku tidak banyak membeli karena alhamdulillah kado-kado lahiran banyak yang bisa terpakai untuk makan anakku.

Hari-hari awal memberi makan membuatku sangat excited karena anakku terlihat antusias dan selalu menghabiskan makanannya. Teori-teori yang telah kupelajari sebelumnya langsung ku terapkan, makan dengan menu lengkap, porsi sesuai dengan yang telah tertulis diteori, jadwal teratur dan tanpa distraksi. Tapi ternyata memberi makan manusia tidak serupa dengan memberi makan ikan dalam permainan Feeding Frenzy.

Naluri anak yang selalu ingin bermain membuatnya tidak betah berlama-lama makan tanpa distraksi, berhubung dirumah mertua kami sekeluarga makan sambil menonton tv akhirnya anakku pun ikut makan bersama sambil menonton tv. Terkadang ia makan sambil memperhatikan tingkah sepupu-sepupunya saat bermain, atau duduk diteras sambil melihat kucing, ayam atau pun kendaraan yang berlalu lalang. Bisa juga ia duduk manis dibooster seatnya tanpa distraksi dan menghabiskan makanannya dalam sekejap.

Semakin besar ia pun semakin ingin mengenal rasa, saat usianya menginjak 10 bulan ia yang biasa makan makanan hambar (no gula no garam) tiba-tiba mogok makan. Diberikan bubur fortifikasi pun geleng-geleng. Suatu waktu kami pergi ke sebuah rumah makan dan aku memesan mushroom cream soup, saat ku coba menyuapkan padanya ternyata ia minta lagi dan lagi. Akhirnya, sejak saat itu teori no gulgar under 1 year old pun tidak berlaku lagi untuk anakku.

Hal lain yang tidak sesuai teori MPASI pada anakku adalah tekstur makanan, sejak awal MPASI aku selalu membuatkannya makanan yang diblender, meski pun banyak yang mengatakan kalau makannya diblender nanti susah naik tekstur. Kenyataannya, anakku memang susah naik tekstur dimana ia sama sekali tidak suka makan nasi lembek dan nasi tim. Tapi, diusianya yang 10 bulan ternyata ia menginginkan menu keluarga. Haha.. Tak disangka ia ingin langsung makan nasi. Prosesnya tidak mudah, awal makan nasi hanya beberapa suapan kecil beserta lauk-lauknya dimana satu suap saja mengunyahnya lamaaa sekali. Baru makan sedikit dia sudah geleng-geleng. Sempat membuatku hampir putus asa karena berat badannya yang tidak naik dalam bulan itu. Namun aku juga menghargai proses ia belajar mengunyah dengan gigi yang belum lengkap dan ingin makan seperti orang dewasa. Semakin hari progress makannya pun semakin baik, dan saat usianya belum menginjak 1 tahun ia sudah lancar makan makanan keluarga. Good job, baby!

Drama lain saat feeding time adalah saat ia semakin lincah dan aktif, dari yang penurut selalu duduk dikursi makannya dengan anteng kemudian berubah menjadi selalu ingin kabur ketika dipasangkan sabuk pengaman diatas kursi makannya, berteriak-teriak agar segera dibebaskan. Saat pengamannya dilepas, ia pun akan memanjat kursinya dan ingin turun 'berlarian' merangkak dilantai. Lucu tapi membuatku menahan emosi. Belum lagi jika makanan yang disajikan tidak sesuai dengan seleranya, sudah masuk mulut lalu dikeluarkan kembali, disembur-sembur hingga sendok berisi makanan pun ditangkisnya sampai tumpah kemana-mana. Jika sudah tak kuasa menahan emosi, aku akan mundur dan menenangkan diri sejenak, inhale-exhale dan kembali lagi menghadapinya.

Syukurnya hal seperti itu tidak terjadi setiap waktu karena lebih banyak hari-hari dimana anakku menjadi seorang happy eater, jika anak makan dengan lahap niscahya aku akan menjalani hariku dengan sungguh bahagia. Yakin, begitu pula dengan ibu-ibu diluar sana, ya kan?

Makan dulu, Guys!

Aku memang masih jauh dari kata sempurna dalam hal membesarkan anak menjadi seorang happy eater, namun ada beberapa tips yang ingin ku bagikan saat Feeding Time With Baby :

1. Berdo'a Sebelum dan Setelah Makan
Ajarkan anak kita untuk selalu berdo'a sebelum dan setelah makan, untuk mensyukuri rezeki-Nya dan mendapat keberkahan-Nya. Mommies, berdo'a juga agar feeding time berjalan dengan minim drama.

2. SABAR
SABAR adalah KUNCI UTAMA saat memberi makan anak. Sabar seluas samudera untuk menghadapi tingkah polah anak-anak kita saat makan, selalu ajarkan anak untuk makan dengan benar dan jangan terlalu cepat marah atau kecewa ketika si kecil tidak berlaku sesuai dengan ekspektasi kita. Ingatlah bahwa ia pun sedang belajar untuk bisa makan dengan benar dan baik, hargai proses tersebut. Percayalah pada si kecil.

3. Jangan Memaksa
Never ever memaksa, memarahi atau membentak anak untuk makan atau menghabiskan makanannya. Akan repot urusannya menangani anak yang trauma makan, lebih baik kembali ke poin ke 2 : SABAR. Anak juga memiliki selera seperti orang dewasa, bisa merasa cepat kenyang atau tidak mood makan juga layaknya orang tua. Kita lah yang harus menangkap sinyal tersebut karena si kecil belum bisa mengkomunikasikannya dengan kita.

4. Berikan Variasi
Sama seperti kita yang terkadang tidak ingin makan A atau B, pun dengan anak kita. Bukan berarti karena masih bayi jadi selalu diberikan makanan yang sama selama berhari-hari berturut-turut. Mereka bisa bosan juga. Ini terjadi pada anakku yang lama kelamaan bosan dengan bubur hingga akhirnya langsung memilih nasi sebagai makanan utamanya, tidak ingin menggunakan sendok kecilnya lagi dan langsung ingin makan dengan sendok yang sama sengan kedua orang tuanya.

Berikan anak variasi makanan, mulai dari tekstur hingga rasa. Alangkah baiknya jika sesekali ganti peralatan makannya agar lebih menarik.

5. Ciptakan Suasana Menyenangkan
Jangan membuat kesan bahwa waktu makan adalah waktu yang menakutkan, buatlah si kecil nyaman selama ia makan. Jika ia mulai terlihat bosan dan kurang antusias, ajaklah ia ngobrol dan hibur agar ia kembali bersemangat. Apabila memang ia tetap tidak mau makan setelah dihibur dengan berbagai macam cara, sudahi sesi makan dan lanjutkan kembali beberapa waktu kemudian.

6. DON'T GIVE UP!
This is so important! Jangan menyerah, jangan langsung pasrah ketika anak tidak mau makan atau tidak menghabiskan makanannya. Jika satu sesi makan dirasa "gagal", cobalah disesi makan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya. Jika masih belum berhasil, masih bisa dicoba keesokan harinya. I know that must be really hard and exhausted sometimes, tapi kita harus membangun energi positif untuk disalurkan pada anak. Teruslah optimis dan ber-positive thinking bahwa anak kita pasti akan menjadi seorang happy eater!

7. Sharing is Caring
Bercerita dan meminta saran/pendapat dari orang-orang terdekat juga bisa menjadi salah satu cara untuk mendapat tips seputar feeding time dari sudut pandang orang lain. Bukannya membanding-bandingkan dengan anak orang, namun bisa jadi tips dari orang tua lain dapat diterapkan ke anak kita.

Setelah mereview ketujuh tips tadi, sepertinya hal diatas juga menjadi self-reminder untukku sendiri saat memberi makan si kecil. Semoga tulisanku ini bermanfaat ya!

Sukabumi, 4 November 2019

Rabu, 23 Oktober 2019

Membawa Si Kecil Travelling, Hayuk!

Oktober 23, 2019 1 Comments
Sejak sebelum menikah, aku membayangkan diriku yang gemar bepergian alias travelling ini akan membawa serta suami dan anakku dalam perjalananku ke berbagai destinasi. Suatu hari saat aku pergi ke Derawan (Kalimantan Utara) ada sepasang suami istri yang mengajak balitanya ikut serta dalam Open Trip kami. Aku lupa usia pastinya, yang jelas masih dibawah 5 tahun. Ibunya bercerita sejak usia 2 bulan, Vito, sudah diajak bepergian ke berbagai pulau oleh kedua orangtuanya. Melihat keluarga muda tersebut, terbesit dipikiranku betapa serunya jika nanti aku bisa travelling bersama keluarga.

Setelah menikah dan hamil, hobi travellingku berhenti total dikarenakan aku harus lebih banyak bedrest demi menjaga kandunganku saat itu. Sedih sekali rasanya hanya menghabiskan waktu dirumah sepanjang hari, sepanjang minggu dan sepanjang bulan. Pergi ke mall tak seberapa lama saja rasanya aku mau pingsan dan harus bedrest selama kurang lebih 3 hari.

Setelah punya anak, aku bertekad untuk merealisasikan mimpiku untuk tidak menjadikan buah hatiku hambatan dalam travelling. Mulai usia 3 bulan, anakku sudah ku boyong ke Bandung dari Yogyakarta menggunakan kereta api. Pengalaman pertama membawa bayi dalam perjalanan jauh sungguh membuat jantung dag-dig-dug, tidak semulus yang dibayangkan, ternyata bayiku hampir tidak mau dibawa duduk selama 8 jam perjalanan kala itu. Aku dan suamiku bergantian menggendongnya berjalan menyusuri koridor gerbong kereta api demi menenangkannya yang rewel saat dibawa duduk. Ketidaknyamanan juga kurasakan saat harus menyusui didalam kereta, meski pun sudah persiapan menggunakan baju busui bukaan samping tetap saja itu pengalaman pertamaku memberi ASI secara langsung ditempat umum dan membuatku merasa kurang nyaman saat melakukannya.

Beberapa bulan kemudian, aku dan keluarga kecilku kembali ke Yogyakarta untuk merayakan Idul Fitri disana. Kami pergi menggunakan kereta api dan pulang ke Bandung dengan pesawat. Pengalaman kedua naik kereta api lebih mulus dari sebelumnya, anakku surprisingly tidak rewel sama sekali, menikmati perjalanan malam dan tidur hampir sepanjang perjalanan kami dikereta. Mungkin karena aku dan suamiku juga lebih percaya diri saat akan membawanya pergi berkereta untuk yang kedua kalinya.

Saat pulang ke Bandung dengan pesawat, dimana itu adalah pengalaman terbang pertama anakku, rasa khawatir kembali muncul. Jauh-jauh hari aku melakukan sounding padanya bahwa kami akan naik pesawat dan agar dirinya nyaman selama perjalanan. Hasilnya, alhamdulillah terlewati dengan lancar. Ketakutan akan anakku akan rewel saat take off dan landing tidak menjadi kenyataan, nyatanya ia stay cool saat take off dan terlelap saat landing.

Setelah itu, aku benar-benar nyaman membawa anakku bepergian. Kami bolak balik pergi ke Yogyakarta, menghadiri acara pernikahan ke Jakarta, Lampung hingga Martapura (Sumatera Selatan). Tentunya tidak semua perjalanan terlewati dengan mulus 100%, selalu ada cerita disetiap perjalanan. Namun, karena tekadku yang bulat untuk mengajaknya ikut kemana pun aku pergi selama masih bisa dilakukan (Kalau sudah besar anaknya nggak mau lagi kan. Hiks..) maka kendala apa pun kuhadapi dan tidak menjadikannya ganjalan untuk membawanya pergi ke perjalanan berikutnya.

My Baby's First Time Travelling by Train

Beberapa tips yang inginku bagikan saat membawa si kecil travelling antara lain :

1. Sounding
Jangan remehkan "the power of sounding", berikan afirmasi positif pada si kecil jauh-jauh hari sebelum perjalanan. Katakan padanya bahwa ia akan pergi menggunakan transportasi "...", agar ia menikmati perjalanannya dan ceritakan hal-hal menyenangkan lainnya tentang perjalanan serta tujuannya nanti.

2. Percaya Diri
Kesalahanku saat pertama kali membawa bayiku naik kereta adalah aku kurang percaya diri dan tidak sepenuhnya yakin anakku dapat menikmati perjalanannya. Terlalu banyak kekhawatiran justru membuat kenyataannya berbanding lurus dengan apa yang kita pikirkan. Banyak yang bilang bahwa apa yang dirasakan oleh orang tua terutama ibu sering kali dirasakan pula oleh si anak. Maka, percayalah pada diri sendiri bahwa kita akan menikmati perjalanan yang menyenangkan bersama keluarga.

3. Persiapan yang Matang
Dimulai dari pakaian anak yang nyaman selama diperjalanan, perlengkapan jika suhu udara dingin (jaket, selimut, topi, kaos kaki, minyak telon, dll.), baju menyusui yang nyaman untuk si ibu (jika masih menyusui), camilan/makanan dan minuman anak (jika sudah melewati masa ASIX) serta beberapa mainan kesukaan si kecil.

4. Penuhi Basic Needs Si Kecil
Dalam fase awal kehidupannya, anak kecil sangat sensitif terhadap keteraturan. Adanya hal yang berubah dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya akan membuatnya tidak nyaman dan ini akan membuatnya rewel. Penuhilah kebutuhan dasarnya seperti menyusu/makan-minum dan tidur sesuai jadwal seperti biasa meski pun sedang berada dalam perjalanan mau pun saat berada ditujuan.

5. Practice Makes Perfect
Last but not least, jangan kapok bila perjalanan pertama dengan si kecil tidak sesuai harapan, teruslah ajak ia bepergian menggunakan berbagai moda transportasi agar ia terbiasa. Sama seperti orang dewasa, anak pun butuh waktu untuk terbiasa dan beradaptasi dengan keadaan "baru"nya.

Kurasa sekian tips yang dapat kubagikan agar si kecil terlatih menjadi traveller sejak dini. Tetaplah bersemangat walau pun bepergian dengan bayi (dan atau anak) pastinya jauh lebih ribet daripada pergi sendirian. Jangan menjadikannya alasan untuk tidak membawa serta dirinya dalam perjalanan kita (jika memungkinkan) karena waktu kebersamaan kita dengan anak-anak tidak dapat tergantikan dengan apa pun, buatlah berjuta kenangan indah untuk dikenang dimasa yang akan datang 😊

Bandung, 23 Oktober 2019