Senin, 20 Juli 2020

Pertama dan Tak Terlupakan


Memilih salah satu pengalaman tak terlupakan bersama buah hati bukanlah hal yang mudah. Meski usia anakku baru akan menginjak 2 tahun di akhir Oktober nanti, rasanya sudah banyak sekali kenangan yang tersimpan baik di memori handphone maupun memori otak.
Beberapa hari yang lalu, aku dan suamiku sempat ngobrol santai tentang pengalaman tak terlupakan yang sudah kami lalui bersama si kecil. Ternyata, kami berdua punya versi yang berbeda mengenai hal satu ini. Walaupun aku dan suamiku sama-sama mengalami pengalaman tersebut bersama anak, tapi kesan yang ditinggalkan bisa sangat berbeda.

Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Dipta
(Versi Papah)

Kalau menurut suamiku, hal yang paling berkesan yang pernah ia alami selain pada hari dimana dirinya resmi menyandang predikat sebagai ayah adalah ketika harus menggendong anak kami dan melihatnya dibotak/dicukur untuk pertama kalinya.
Hari itu, tanggal 20 November 2018. Saat setelah kami menggelar acara akikah putera pertama kami yang berusia 21 hari, kami memanggil tukang cukur khusus bayi ke rumah untuk menggunduli rambut anak kami.

Alasannya karena dari pihak keluargaku tidak ada yang berani mencukur rambut bayi pada saat itu. Sudah lama sekali memang dari terakhir kali kedua orangtuaku menggendong bayi, yaitu saat adik bungsuku lahir 15 tahun sebelum tahun 2018. Puteraku sendiri merupakan cucu pertama dalam keluarga besarku.

Bapak tukang cukur bayi datang tepat setelah magrib, bertepatan pula dengan suamiku yang sudah harus berangkat ke stasiun untuk pergi ke Bandung. Saat itu, akikah dilangsungkan di kediamanku di Yogyakarta. Setelah akikah selesai, suamiku harus kembali ke Bandung untuk masuk kerja di hari Senin.

Berhubung ia harus segera meninggalkan rumah, orang tuaku meminta suamiku untuk memangku si kecil sambil Bapak tukang cukur memangkas rambut anakku yang memang sudah tebal dan banyak sejak lahir. Ternyata momen ini menjadi pengalaman tak terlupakan versi suamiku.

"Ngeliat Dipta dicukur pakai pisau cukur rasanya takut, kasihan, nggak tega. Macem-macem lah!" jelasnya saat kami ngobrol kemarin-kemarin.

Aku sendiri tertawa-tawa saat mendengar ia bercerita karena jujur menurutku pengalaman tersebut memang berkesan tapi ya biasa saja. Haha. "Anaknya juga anteng tidur, nggak terganggu sama sekali," kataku.

Memang saat pertama digunduli, anakku tertidur dari awal hingga akhir proses mencukur. Namanya new born memang kerjaannya tidur mulu kan ya?

"Kasihan, bayi sekecil itu kepalanya harus berhadapan sama pisau cukur!" kata suamiku lagi. Hehe, ya baiklah terkadang dia memang lebih tidak tegaan dibandingkan dengan diriku.

Dan, inilah potret kebersamaan keluarga kami pasca Dipta dibotak untuk pertama kalinya :


Pengalaman Tak Terlupakan Bersama Dipta
(Versi Mamah)

Kalau menurutku, pengalaman tak terlupakan bersama anakku selain dari pertama kalinya melihat wajahnya di ruang operasi setelah melahirkan adalah saat pertama kali kami sekeluarga pergi ke Bandung naik kereta.
Ketika itu, usia anakku adalah 3 bulan mendekati 4 bulan. Aku dan suamiku pulang ke rumah mertua di Bandung beserta dengan ibu dan ayahku yang mengantarkan kami naik kereta.

Memilih untuk menggunakan moda transportasi kereta api adalah karena ayah dan ibuku yang cukup khawatir dengan tekanan yang akan diterima si kecil jika naik pesawat. Naik mobil pribadi pun dirasa riskan karena terlalu lama di perjalanan.

Dipta bersama Nini dan Yangkung
Jauh sebelum hari keberangkatan, aku sudah mencari-cari dan membaca bagaimana tips travelling bersama bayi. Mengapa menjadi tak terlupakan? Karena itu pertama kalinya aku merasakan yang namanya repot bepergian sambil membawa bayi.

Tulisan mengenai perjalanan ini ada disini juga : Membawa Si Kecil Travelling? Hayuk!

Aku berusaha untuk well prepared dengan menyiapkan kebutuhannya jauh-jauh hari. Apa yang bisa di packing duluan ya masukin aja ke tas, daripada ketinggalan. Aku pun khawatir dengan proses menyusui di kereta nanti, karena belum pernah menyusui di kendaraan umum maupun tempat umum.

Jangan tanya bagaimana dag-dig-dug-nya di hari keberangkatan. Ternyata, perasaan cemasku ini seperti terkoneksi dengan anakku dan selama perjalanan di kereta api ia nyaris tidak mau dibawa duduk. Selama 8 jam perjalanan, aku bergantian dengan suami, ibu dan ayah untuk membawanya berjalan-jalan di gerbong kereta.

Pengalaman pertama ini memberi banyak sekali pelajaran yang bisa diambil untuk persiapan travelling selanjutnya. What a moment pokokmen!

Itulah, 2 momen tak terlupakan bersama anak versi diriku dan suamiku. Namun, pastinya semua momen yang dilewati bersama keluarga adalah momen yang berharga yang tidak akan terulang kembali. Jadi, mari terus bersyukur untuk segala momen kebersamaan dengan keluarga.

Sukabumi, 20 Juli 2020

2 komentar:

  1. Lumayan ya jalan2 di gerbong kereta selama 8 jam 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan kak rijoo. Jaman masih single tiap PP bandung-jogja kerjaan'y auto tidur, sekalinya bawa bocil pala pusing pen tidur gabisa. Wkwk..

      Hapus