Sabtu, 06 Oktober 2018

Say Bye to Sakit Punggung Saat Hamil!

Oktober 06, 2018 0 Comments

Memasuki trimester ketiga masa kehamilan setelah melewati trimester kedua dengan mulus tanpa keluhan, aku mulai merasakan badanku bertambah lelah dan pegal terutama saat bangun tidur dipagi hari. Nggak ngapa-ngapain aja tuh rasanya capek banget. Pada minggu ke-28, aku mulai merasakan sakit pada bagian punggung terutama saat duduk atau berdiri terlalu lama. Rasanya bagian punggung nyeri nggak karuan, pegel seperti masuk angin, bawaannya pengen dipijet terus.

Rasa sakit punggung itu ternyata makin parah saat aku membaringkan badan. Semua posisi tidur mulai dari miring kanan, kiri, terlentang, bahkan setengah duduk pun nggak nyaman. Sempat beberapa hari aku frustasi karena kesulitan tidur. Beruntung aku memiliki suami yang stand by saat aku merasa tidak nyaman, dia dengan sabar selalu memberikan afirmasi positif sambil memijat bagian punggungku yang sakit.

Karena tidak tahan dengan sakit punggung yang cukup menganggu ini, aku pun bertanya sana-sini bagaimana cara mengatasinya. Kebanyakan tanggapan mereka yang pernah hamil adalah “Wajar itu, emang gitu kalo hamil besar,” atau “Iya emang gitu, kok. Nggak bisa diapa-apain nanti kalo udah lahir juga normal lagi,”. God! aku nggak sanggup kalo harus berurusan dengan sakit punggung ini sampai bayiku lahir. Pasti ada solusi untuk mengatasi keluhan ini, pikirku.

Aku yang pulang ke Jogja menjelang lahiran akhirnya memutuskan untuk membeli bantal hamil setelah membaca-baca artikel dan bertanya pada beberapa teman yang mengatakan penggunaan bantal hamil cukup efektif untuk mengatasi kesulitan tidur terutama saat hamil trimester ketiga. Hasilnya memang tidak mengecewakan, guys! Hingga saat ini (kehamilan memasuki 37 minggu), aku tidak pernah lepas dari bantal hamil karena desainnya memang pas untuk menopang tubuh terutama bagian perut, leher, paha, bahu dan panggung sehingga membuat kualitas tidur yang selama ini acak-acakan kembali membaik.

Keluhan sakit punggung saat tidur sudah berhasil teratasi, horraayy! Alhamdulillah. Namun, aku masih merasakan keluhan tersebut saat terlalu lama duduk dan berdiri. Apalagi kalau perjalanan menggunakan kendaraan cukup memakan waktu, Duh! Rasa remek ini punggung beserta tulang-tulangnya. Setelah curhat dengan seorang teman yang sudah berpengalaman hamil, ia menyarankan agar aku mengikuti kelas Prenatal Gentle Yoga. Wah! Aku merasa tertarik karena memang belum pernah yoga sebelumnya, dan lagi iming-iming yang dijanjikan setelah mengikuti yoga badan menjadi lebih rileks dan nyaman.

Aku pun mengikuti yoga khusus ibu hamil saat usia kandungan memasuki 30 minggu. Tempatnya di Hotel Puri Artha, Yogyakarta. Setiap hari Selasa pukul 07.30 WIB dan 10.30 WIB diadakan kelas Prenatal Gentle Yoga, selain hari itu kelas yoga dibuka untuk umum dengan berbagai macam kategori seperti untuk lansia bahkan untuk anak-anak pun ada. Aku mengambil kelas siang jam 10.30 WIB agar lebih santai dan tidak terburu-buru waktu. Kelas yoga berdurasi 1,5 jam dan dipandu oleh Bidan dari tim Bidan Kita (cek IG @bidankita), saat pertama kali yoga saya dimentori oleh Bidan Ita yang banyak sekali memberi informasi seputar kehamilan.

Gerakan demi gerakan yoga khusus ibu hamil ini memiliki fungsi masing-masing, ada gerakan untuk melenturkan otot panggul, gerakan untuk mengoptimalkan posisi janin, gerakan untuk mempercepat bayi agar segera turun panggul dan gerakan-gerakan untuk mengatasi keluhan saat hamil seperti sakit pinggang dan punggung serta kaki bengkak. Namun yang paling ditekankan dalam prenatal gentle yoga adalah latihan pernafasan, “Karena nafas merupakan kunci utama dalam proses persalinan. Kalau kita bisa menguasai nafas, insha Allah proses persalinan akan berjalan lancar…” begitu yang disampaikan oleh Bidan Ita disetiap pertemuan.

Setelah selesai latihan yoga untuk pertama kalinya, yang aku rasakan adalah seluruh otot-otot tubuhku ‘ketarik’ tapi menjadi lebih rileks. Malamnya, tidurku jadi lebih nyaman dan perlahan-lahan sakit punggungku tidak lagi kurasakan! Tentunya aku tetap berlatih yoga saat dirumah, mengulang gerakan-gerakan yang mudah dilakukan. Walau pun hanya 15-30 menit, aku selalu menyempatkan diri untuk melakukan yoga dan relaksasi dirumah. Sejak saat itu, aku tidak lagi sering merasa kelelahan dan pegal-pegal saat bangun tidur dipagi hari.

Berhubung yoga hanya seminggu sekali, aku berinisiatif untuk melakukan senam hamil juga. Secara kan katanya ibu hamil trimester ketiga tidak boleh malas gerak, makanya selain jalan kaki dipagi hari dan ikut kelas yoga, aku mengikuti senam hamil di RS Jogja International Hospital (JIH) tempat dimana aku berencana melahirkan. Dokter kandunganku menyarankan untuk mengikuti senam hamil minimal 3x sebelum proses persalinan, namun karena aku mengikuti Pregnancy Club dan mendapatkan fasilitas senam hamil unlimited, aku mengikuti senam hamil setiap 2x seminggu yaitu hari Rabu dan Jum’at pukul 16.00 – 17.00 WIB.

Berbeda dengan gerakan yoga, gerakan pada kelas senam hamil cenderung lebih ringan dan menekankan pada gerakan stretching atau peregangan otot agar tidak kaku. Gerakan-gerakannya relatif lebih mudah dilakukan sehingga dirumah pun bisa diulang-ulang. Ada juga beberapa gerakan yoga yang juga diajarkan saat senam hamil yaitu gerakan untuk optimalisasi posisi janin seperti balancing pose, cat-cow pose dan child pose. Untuk peserta senam yang usia kandungannya lebih dari 37 minggu, diajarkan juga teknik mengejan yang benar pada saat proses persalinan. Selesai senam, peserta diberikan snack untuk dibawa pulang.

Memang katanya yoga dan senam bisa memperlancar proses persalinan, namun karena aku belum melahirkan yang aku rasakan adalah manfaat untuk tubuhku saat ini. Setelah mengikuti yoga dan senam hamil, aku merasa tubuhku lebih segar dan tidak lagi memiliki keluhan saat perut ini sudah semakin besar.

Sekian cerita tentang sakit punggungku saat hamil dan beberapa tips untuk mengatasinya, guys! Semoga informasi yang aku berikan dapat bermanfaat dan kalian yang hamil terbebas dari keluhan serta sehat, lancar hingga melahirkan nanti.
Yogyakarta, 06 Oktober 2018

Selasa, 18 September 2018

My Wedding Preparation Story (Part 3, End)

September 18, 2018 0 Comments

Bersambung dari postingan “My Wedding Preparation Story (Part 2)” ini adalah part akhir dari pengalamanku mengurus printilan pernikahanku tanggal 14 Januari 2018 lalu. Langsung saja lanjut dari poin 4 hingga selesai, selamat membaca dan meresapi betapa “menyenangkannya” mempersiapkan pernikahan, guys ;)

4.       Meeting Koordinasi dengan Wedding Organizer
Seperti yang telah diulas sebelumnya, aku menggunakan jasa Janur Hijau WO untuk mengurus keperluan dan detail acara akad serta resepsi pernikahanku kemarin. Bersama dengan pihak UC UGM, aku dan keluargaku mengadakan rapat koordinasi dengan Bu Dewi dari Janur Hijau sebanyak 3 kali.

Pada pertemuan pertama, Bu Dewi memberikan buku panduan pernikahan yang diberi judul “Panduan Pernikahan Ima dan Halim, 14 Januari 2018” yang didalamnya berisi susunan kepanitiaan, susunan acara (rundown) dan juga list tamu VIP serta list keluarga/undangan untuk foto bersama. Pertemuan pertama yang dilakukan bersama dengan food testing itu membahas mengenai konsep acara secara umum yang diinginkan oleh pihak keluargaku dan pembahasan mengenai susunan acara yang biasa dijalankan oleh tim Janur Hijau, ada pun hasil akhir jalannya acara tetap diserahkan pada pihak keluargaku.

Pertemuan kedua, pihak Janur Hijau melaporkan progress dari pekerjaan mereka pada pihak keluarga dan membahas apakah ada yang kurang atau sudah sesuai dengan keinginan keluarga mempelai. Dipertemuan ketiga, dilakukan rapat koordinasi akhir bersama dengan pihak-pihak vendor serta membahas mengenai dekorasi dan rangkaian acara langsung di-venue yang akan digunakan pada hari H.

5.       Membuat Panitia Pernikahan
Terlepas dari penggunakan WO untuk acara akad dan resepsi pernikahan, pembentukan panitia dari pihak sanak keluarga mempelai sangat dibutuhkan untuk proses persiapan menuju dan saat hari H nanti. Beberapa panitia yang dibentuk pada saat acara pernikahanku kemarin antara lain :
-          Bendahara
-          Sie Konsumsi
-          Sie Transportasi
-          Sie Parkir dan Keamanan (untuk acara sebelum hari H yang dilaksanakan dirumah)
-          Saksi nikah dari pihak pria
-          Saksi nikah dari pihak wanita
-          Pembaca Qori’-Sari Tilawah
-          Pendamping Pengantin Wanita (untuk upacara Panggih)
-          Pendamping Pengantin Pria (untuk upacara Panggih)
-          Pembawa Kembar Mayang (untuk upacara Panggih)
-          Pembawa Pisang Sanggan (untuk upacara Panggih)
-          Among Tamu (Terbagi menjadi among tamu biasa dan among tamu VIP)
-          Informan Tamu VIP
-          Petugas buku tamu dan souvenir
-          Penanggung jawab kado dan kotak tali asih (sumbangan)

6.       Belanja Kain untuk Seragam Keluarga
Ini juga sebenarnya pilihan saja, whether you want to buy uniform for your friends/family or not, it’s not a big deal. Biasanya sih mamah-mamah ya yang sibuk mau beliin seragam untuk keluarga, among tamu dan orang-orang lainnya terutama yang jadi panitia di acara pernikahan kalian. Kalau pun tidak memilih untuk beli seragam keluarga, among tamu, dan panitia lainnya banyak salon yang menyewakan kebaya buat acara-acara pernikahan. Sebaiknya bandingkan dahulu antara harga membeli seragam/kain dengan harga menyewa kebaya.

7.       Memilih Souvenir Pernikahan
Mengurus souvenir pernikahan merupakan ‘hal receh’ tapi tetap harus diurusin. Kegiatan yang dilakukan ‘hanya’ berkeliling melihat-lihat toko souvenir, membandingkan harga, memilih souvenir yang diinginkan, memesan dan memberi tenggat waktu pada penjual untuk kemudian mengambil pesanan. Eits, tapi jangan terlalu meremehkan hal ini, ada kejadian kurang menyenangkan pada saat aku mengurus souvenir kemarin. Aku memesan souvenir memang tergolong mepet, awal Desember 2017 kalau tidak salah dan si penjual menjanjikan semua akan siap dipertengahan bulan. Namun kenyataannya, proses finishing molor hingga akhir bulan dan jumlah yang tersedia kurang dari yang dipesan. Akhirnya, penjual yang meminta maaf dan merasa bersalah tersebut menyelesaikan pesanan dalam jumlah yang sesuai di awal Januari beberapa waktu sebelum acara pernikahanku berlangsung.

Untuk pemilihan barang, aku memilih pouch motif songket dan kalender 2018 sebagai souvenir pernikahanku.

8.       Memilih dan Fitting Pakaian Pernikahan
Pakaian adat yang ku gunakan pada saat pernikahan adalah pakaian adat Jawa (Solo) yang ku sewa dari Dior Salon untuk resepsi pernikahan sedangkan untuk acara akad nikah, tanteku yang jauh-jauh dari Banjarmasin berinisiatif untuk menjahitkanku kebaya serta bawahannya. Untuk suamiku, baik busana akad dan resepsi menggunakan busana sewa dari Dior Salon.

9.       Membuat List of Wedding Songs
Ini adalah pekerjaan yang paling ringan dan menyenangkan untuk dikerjakan. Aku melakukan kegiatan ini jauh-jauh hari sebelum hari pernikahanku tiba, tentunya setiap wanita mempunyai wedding songs impiannya masing-masing. Berikut daftar lagu yang dibawakan dalam acara pernikahanku kemarin :
-          Shania Twain, You’re Still the One
-          Sherina, Cinta Pertama dan Terakhir
-          Shania Twain, From This Moment
-          Maliq and the Essential, Pilihanku
-          James Arthur, Say You Won’t Let Go
-          Auburn, The Perfect Two
-          Westlife, When You Tell Me That You Love Me
-          Isyana Sarasvati, Kau Adalah
-          Bruno Mars, Just The Way You Are
-          Christina Perri ft. Ed Sheeran, Be My Forever
-          Train, Marry Me
-          Michael Buble, L.O.V.E
-          Christian Bautista, The Way You Look At Me
-          George Benson, Nothing’s Gonna Change My Love for You
-          Witney Huston, I Will Always Love You

Akhirnya rampung juga tulisan mengenai My Wedding Preparation Story ini, guys! Aku harap tulisan ini bisa bermanfaat buat kalian calon-calon pengantin supaya ada gambaran dalam mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan pernikahan kalian nanti. Jangan lupa perbanyak do’a dan ikhtiar supaya rencana kalian untuk berumah tangga bersama pujaan hati dimudahkan oleh Tuhan Yang Maha Cinta.

My Wedding Preparation Story (Part 2)

September 18, 2018 1 Comments

Menyambung postingan sebelum ini, setelah kembali ke Jogja aku yang baru menyandang status sebagai pengangguran tidak serta merta menganggur leyeh-leyeh tidur-tiduran santai dirumah. Hari pernikahan yang semakin dekat dan persiapan yang masih belum mencapai 50% membuat hati ini deg-deg serr memikirkannya. Aku pun fokus mempersiapkan segala sesuatunya dan setiap hari mulai mencicil apa yang bisa dikerjakan dengan harapan aku tidak akan stress dan menjadi bridezilla seperti yang sering dibicarakan oleh orang-orang.

Hal selanjutnya yang perlu dipersiapkan dan di follow-up adalah :

1.       Memilih Vendor Acara Pernikahan

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, UC UGM menawarkan beberapa pilihan vendor yang bekerja sama dengan mereka sehingga aku tinggal memilih vendor mana yang cocok dengan tema pernikahanku yang mengusung Adat Jawa Modern. Vendor-vendor yang ku pilih untuk acara pernikahan kemarin adalah :

Janur Hijau (Wedding Organizer)
UC UGM menyediakan WO tunggal yaitu Janur Hijau untuk menghandle acara akad nikah dan resepsi pada pernikahanku yang lalu. Menggunakan jasa Janur Hijau untuk mengurus setiap detail acara pernikahan kemarin sangatlah membuat aku dan keluargaku merasa terbantu. Mereka yang sudah berpengalaman menangani acara pernikahan banyak memberi saran dan masukkan disamping hanya bertanya mengenai apa yang kami inginkan, selain itu tak jarang pula mereka mengingatkan kembali apa-apa yang masih belum lengkap dan melaporkan apa saja yang telah mereka follow up.

Menurutku, untuk pasangan yang sibuk dengan hal-hal lain sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk mengurus pernikahannya (misal pasangan yang keduanya bekerja, keluarganya pun sibuk bekerja) ada baiknya untuk meminta bantuan wedding organizer dalam mempersiapkan acara pernikahan mereka.

UC UGM Catering (Catering)
Jasa penyedia makanan atau catering yang ku gunakan dalam acara pernikahan kemarin dari UC UGM sendiri, ada banyak menu yang menjadi pilihan baik untuk prasmanan mau pun menu gubug. Pada hari yang telah ditentukan, dilakukan satu kali food testing untuk menu-menu yang aku dan keluargaku pilih. Dari pertemuan tersebut kita bisa mengkoreksi rasa dan memberi masukkan terhadap makanan dan minuman yang telah kita cicipi tadi, kita juga bisa mengganti menu untuk acara nanti apabila kurang sreg dengan masakan yang disajikan.

Kebun Asri Dekorasi (Wedding Decoration)
Di Jogja, keindahan dekorasi venue pernikahan yang di garap oleh Kebun Asri Dekorasi ini sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Berbagai request tidak biasa yang diajukan oleh ayahku selaku pengusung tema pernikahanku saat itu bisa dikerjakan dengan baik oleh Pak Heru (owner Kebun Asri Dekorasi) dan timnya. Beberapa permintaan ayahku yang jarang ditemui dipesta pernikahan yang lain adalah adanya galeri keris disalah satu patahan jalan menuju pelaminan, adanya galeri batik dipatahan jalan lain menuju pelaminan dan terakhir adalah satu set wayang beserta gamelannya yang diletakkan disebelah pintu keluar saat tamu hendak keluar.

Bunga-bunga serta tanaman yang digunakan oleh Kebun Asri Dekorasi merupakan tanaman asli yang masih fresh sehingga begitu tampak cantik dan asri dilihat. Untuk dekorasi pelaminan, acara pernikahanku memilih tema Jawa Modern sehingga tidak menggunakan dekorasi pelaminan Jawa yang pakem.

Beragam Dekorasi Acara Pernikahanku oleh Kebun Asri Dekorasi

Bukan promosi bukan endorse, silahkan kunjungi instagram @kebunasridekorasi untuk melihat dan mencari tau lebih jauh mengenai vendor dekorasi ini.

DIOR SALON (Rias Pengantin)
Awalnya, aku yang berhijab ingin menggunakan riasan dan pakaian nasional namun kedua orang tua beserta keluarga kekeuh ingin agar aku menikah dengan adat Jawa menggunakan paes dengan baju tradisionalnya. Sempat setuju tidak setuju dengan usulan ini, aku yang mulanya ragu kemudian berubah pikiran setelah melihat hasil riasan dari instagram @diormuajogja dan @dior_rias_pengantin_jogja. Hasil riasan dari Bu Dior begitu halus dan rapih, begitu pula untuk pengantin berhijab yang menggunakan paes, leher serta telinga tertutup rapat sehingga tidak terkesan maksa. Untuk pengantin yang ingin mengusung riasan adat Jawa terutama Jogja dan Solo, Bu Dior masih menjadi salah satu pilihan utama di Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

Beruntungnya, DIOR SALON yang bekerja sama dengan UC UGM available ditanggal pernikahanku sehingga aku memutuskan untuk memilih Bu Dior sebagai perias pengantinku.

Riasan Pengantin Pria dan Wanita Adat Jawa-Solo (Berhijab) oleh Bu Dior


Agatha Photo and Video (Documentation)
Untuk dokumentasi, aku memilih Agatha Photo and Video (sebenarnya karena ini adalah vendor tunggal yang ditawarkan oleh UC UGM). Hasil foto dan videonya tidak mengecewakan, Mba Indri dan tim juga sangat friendly dan kooperatif dalam memberikan pelayanan. Kalau mau lihat-lihat hasil fotonya lebih banyak, cek di instagram @agathaphotostudio.

UC UGM Band (Entertainment)
Ini juga merupakan vendor tunggal yang ditawarkan oleh UC UGM, disini aku hanya diberikan pilihan untuk memilih format yang akan ditampilkan apakah full-band, semi acoustic atau full acoustic. Aku memilih format semi acoustic dengan lagu-lagu yang ku pilih sendiri.

Penari Jawa, Sunda dan Banjarmasin (Entertainment)
Sejujurnya aku kurang paham dari mana asal muasal penari-penari yang dihire untuk acara pernikahanku kemarin. Berhubung ayahku ingin ada hiburan berupa tari Jawa (asal keluarga ayahku), tari Sunda (asal keluarga suamiku) dan tari Banjar (asal keluarga ibuku), aku menghubungi pihak WO (Wedding Organizer) untuk mencarikan penari-penari ini jadi aku tidak lagi repot mencari-cari penari yang akan tampil dalam acara resepsi pernikahanku kemarin.

Penari-penari yang Mengisi Acara Resepsi Pernikahanku

Danu Kusuma Wardhana as a Solo Violinist (Entertainment)
Jauh sebelum acara pernikahan ini direncanakan, aku pernah berkata pada sahabatku yang terkenal dengan permainan biolanya yaitu Danu Kusuma Wardhana untuk tampil di resepsi pernikahanku kelak. Pemain biola yang aku kenal sejak bergabung di GMCO (Gadjah Mada Chamber Orchestra) ini juga bergabung bersama band bernama VORD dan TASHOORA. Saat ini Danu sudah sering manggung dimana-mana. Permainan biolanya yang aduhai sering membuat para wanita terpukau saat melihat aksi panggungnya. Wanna know more about Danu? Go check his instagram @mrdanukw.

Pemain Gamelan dan Dalang (Entertainment)
Dibagian dekorasi tadi, aku menjelaskan bahwa satu set wayang beserta gamelannya menjadi salah satu bagian dari dekorasi pernikahanku kemarin. Set wayang dan gamelan ini tidak serta merta dibiarkan kosong begitu saja. Ayahku ingin menampilkan pertunjukan wayang minimalis sebagai bagian dari acara hiburan diresepsi pernikahanku. Terbayang betapa ramainya penampilan yang ada dalam acara pernikahanku kemarin.

Ayahku yang sejak dulu memang tertarik dengan seni budaya Jawa memiliki banyak kenalan dalang dan pemain gamelan kembali menghubungi mereka untuk tampil dalam acara pernikahanku kemarin. Sayangnya, aku kurang paham dari mana mereka ini berasal. Hehe…


 Pagelaran Wayang Kulit Kecil-kecilan dalam Acara Resepsi Pernikahanku

Aura Undangan (Percetakan Undangan)
Tak jauh-jauh dari rumah, aku menggunakan jasa Aura Undangan untuk mencetak undangan yang telah aku desain sendiri (bersama dengan Ucha, seorang sahabatku yang jago desain). Dalam waktu yang cukup singkat (kurang lebih 3 minggu), proses pengerjaan dan percetakan undanganku dapat selesai, meski pun sempat ada suatu kendala namun Mas Riki dan tim bisa mengatasinya dan menyerahkan hasil cetak undangan tepat pada deadline yang disepakati.

Undangan Pernikahan Versi Online

2.       Mengurus Pendaftaran Pernikahan ke KUA

Setelah tanggal pernikahan, mahar dan tempat pernikahan sudah ditetapkan, ada baiknya para calon pengantin segera mendaftarkan rencana pernikahan mereka ke KUA. Apalah arti pesta pernikahan tanpa penghulu yang menikahkan kalian, guys?

Alasan mengapa calon pengantin harus segera mendaftarkan pernikahannya adalah karena mengurus surat-suratnya cukup panjang dan memakan waktu, berkas-berkas yang harus disiapkan antara lain :

Untuk Calon Mempelai Wanita
-          Fotocopy KTP
-          Akte Kelahiran dan KK
-          Fotocopy kartu imunisasi TT (Tetanus Toxoid)
Biasanya dari KUA akan mendapat surat pengantar untuk imunisasi TT di Puskesmas terdekat rumah, jadi kita tinggal datang ke puskesmas dan menyerahkan surat pengantar tersebut. Petugas puskesmas akan langsung paham dan melayani kita untuk diimunisasi.

-          Pas foto 2x3 latar belakang biru sebanyak 5 lembar (foto calon mempelai pria juga)
-          Surat keterangan sehat dari dokter

Untuk Calon Mempelai Pria
-          Fotocopy KTP
-          Akte Kelahiran dan KK
-          Pas foto 3x4 sebanyak 4 lembar dan 4x6 sebanyak 1 (karena calon mempelai wanita yaitu aku berada diluar daerah, calon suamiku mengurus ini di Bandung)
-          Surat keterangan sehat dari dokter

Setelah lengkap apa yang selanjutnya dilakukan? Well, tahap ini guys yang agak panjang dan memakan waktu. Jadi, kalian harus mengurus :

Untuk Calon Mempelai Pria
-          Surat pengantar dari RT/RW dan dibawa ke Kelurahan untuk mendapat Form N1, N2 dan N4
-          Datang ke KUA untuk mendapat surat pengantar atau surat rekomendasi (numpang) nikah (karena calon suamiku akan menikah di Jogja)
-          Mengirimkan berkas-berkas yang sudah lengkap tadi ke pihak calon mempelai wanita (dalam hal ini, berkas calon suamiku dari Bandung dikirimkan ke Jogja)

Untuk Calon Mempelai Wanita
-          Surat pengantar dari RT/RW dan dibawa ke Kelurahan untuk mendapat Form N7, N1, N2, N3, N4
-          Datang ke KUA membawa semua form (beserta milik calon pengantin pria) lengkap dengan lampiran yang telah disebutkan diatas.

Ada tambahan nih, guys… Apabila kalian akan melangsungkan akad nikah langsung di KUA maka tidak akan dipungut biaya sepeser pun alias GRATIS! Tapi, jika kalian akan menikah di luar dari KUA maka kalian harus membayar sebesar Rp. 600.000,- dengan cara menyetorkannya ke bank dan menyerahkan bukti setorannya ke KUA.

Berdasarkan pengalaman sharing dengan teman-teman yang sudah menikah, terdapat beberapa syarat yang berbeda antara satu KUA dengan KUA yang lain (tergantung daerah). Jadi, lebih baik jika kalian bertanya lebih dahulu di KUA masing-masing mengenai persyaratan yang berlaku sebelum memulai untuk menyiapkan berkas-berkas.

Jangan lupa untuk menanyakan siapa pihak KUA yang akan bertugas saat akad nikah kalian nanti dan minta nomornya yang bisa dihubungi ya!

3.     Pre-Marital Check-Up
Ini optional aja sih sebenarnya, namun karena aku dan suami sama-sama ‘orang kesehatan’ jadi kami memutuskan untuk melakukan pre-marital check-up di laboratorium yang ada dikota kami masing-masing. Sebelum menikah, aku melakukan tes ini di laboratorium Prodia dengan mengambil paket khusus pre-marital. Calon suamiku kemudian mengirimkan fotocopy hasil pemeriksaan lab-nya ke Jogja dan selanjutnya dijadikan lampiran bersama dengan surat keterangan sehat dari dokter sebagai salah satu persyaratan untuk mendaftarkan pernikahan.

Berhubung masih ada poin 4 - 9 yang ingin aku jelaskan secara detail dan bila dijadikan satu postingan lagi-lagi akan menjadi sangat panjang, maka  tulisan ini akan berlanjut ke postingan selanjutnya yang berjudul "My Wedding Preparation Story (Part 3, End)".

Sabtu, 15 September 2018

My Wedding Preparation Story (Part 1)

September 15, 2018 0 Comments

Tulisan ini masih menyambung tulisanku sebelumnya yang membahas flashback persiapan pernikahanku pada tanggal 14 Januari 2018 silam. Ditulisanku yang lalu, aku berbagi cerita tentang my pre-wedding event series atau rangkaian acara yang aku lalui sebelum sampai ke hari H pernikahan. Kali ini, aku ingin bercerita mengenai printilan yang disiapkan sebelum hari H.

Pertama-tama, sebagai calon pengantin tentunya kalian harus mempersiapkan mental terlebih dulu. Apakah kalian yakin dengan calon pasangan kalian? Apa kalian siap menjalani peran sebagai seorang istri, ibu dan juga manager rumah tangga? Apa kalian yakin dengan keputusan menjadi working mom/fulltime housewife? Mantapkan diri kalian, perbanyaklah berdo’a. Tentunya kita semua menginginkan pernikahan ini menjadi yang pertama dan terakhir kalinya sepanjang usia kita, bukan?

Setelah mantap memutuskan untuk menikah dengan deadline yang cukup singkat, yaitu kurang lebih 4 bulan saja, aku dan (calon) suamiku langsung “bergerak” dalam mempersiapkan acara kami nanti. Aku yang saat itu masih bekerja di Bandung sedangkan keluargaku di Jogja, sebisa mungkin ikut terlibat membantu persiapan meski pun dari jarak jauh. Disamping itu, (calon) suamiku juga begitu supportive memberikan pendapat bila aku bertanya mengenai rencana pernikahan kami, jadi bukan yang cuma manut-manut ae gitu loh. Menurutku, peran (calon) suami yang seperti ini sangat dibutuhkan agar kita para wanita tidak merasa sendirian tenggelam dalam kehectican mengurus pernikahan.

Mengurus persiapan pernikahan tidaklah semudah menjentikkan jari tangan, apalagi di Indonesia kebanyakan acara pernikahan adalah salah satu ‘acaranya orang tua’ pengantin sehingga campur tangan dari keduanya masih begitu terasa. Demikian dengan kedua orang tuaku yang menginginkan berbagai prosesi dilakukan dan mengadakan resepsi dengan mengundang para kerabat dan teman-temannya. Well, sebagai anak pertama dan satu-satunya dalam keluargaku, aku tidak bisa memaksakan kehendakku untuk menikah dengan konsep ‘sederhana yang penting SAH!’ hehe… Tidak tega juga dengan mereka yang sudah menunggu moment untuk menikahkan putri semata wayangnya ini.

Dibulan Agustus 2018 lalu, setelah (calon) suamiku mendapat sinyal bahwa lamarannya ke rumah diterima oleh orang tuaku, dari Bandung kami mulai untuk :

1.       Survey Venue
Berhubung aku berada di Bandung, aku hanya bisa mensurvey venue pernikahan via web saja. Setelah berdiskusi dengan kedua orang tuaku, mereka menginginkan pernikahan dihotel dengan undangan kurang lebih 400 (800 tamu). Aku membuat list tempat dan harga kemudian memberikannya pada mereka dan di Jogja sana, kedua orang tuaku yang sibuk mensurvey tempat secara langsung. Akhirnya, diputuskan untuk memilih gedung University Club UGM sebagai tempat pernikahan kami.

Alasan kami memilih UC UGM adalah karena tersedia paket pernikahan yang didalamnya sudah termasuk wedding organizer, catering, dekorasi, make-up, entertainment dan dokumentasi yang vendornya akan kita pilih sendiri sesuai selera, tentunya luas area venue cukup luas untuk kapasitas hingga 1000 tamu. Selain itu, paket sudah termasuk dengan kamar untuk kedua mempelai, orang tua dan besan yang sudah bisa ditempati mulai dari H-1, hari H dan H+1. Tempat parkir disana juga cukup untuk menampung kendaraan para tamu nantinya. Tidak kalah penting, budgetnya terjangkau. Kami memilih paket Gold seharga Rp. 140.000,- per person (undangan), jadi kalo ada 800 tamu ya tinggal dikalikan saja. Hehe…

2.       Membuat List Undangan
Aku dengan (calon) suamiku membuat list undangan teman-teman kantor bersama-sama berhubung aku dan dia saat itu mengabdi diperusahaan yang sama. Diluar itu, aku meminta bantuan teman-teman SD, SMP, SMA dan kuliah untuk membuat list undangan teman dan sahabat-sahabatku. Kegiatan ini bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, waktu itu aku membuat list menggunakan agenda/notes sebelum dipindahkan ke laptop, jadi kalau ada nama yang terlupa tinggal dicatat saja diagenda kecil yang selalu aku bawa pergi-pergi.

3.       Memilih Desain Undangan
Walau pun pada akhirnya aku mendesain sendiri undanganku dibantu oleh sahabatku, Fauzia Nurul Izzati a.k.a Ucha, sebelumnya aku sudah browsing kira-kira ingin konsep undangan yang seperti apa, hard/soft cover, berapa lembar dan informasi apa saja yang akan dituliskan didalamnya. Selain dibantu Ucha, cukup banyak masukkan yang diberikan oleh kedua orang tuaku terutama ayahku dan (calon) suamiku pada saat proses ini.

4.       Menentukan Tema Pernikahan
Kalau untuk urusan tema pernikahan, aku tidak bisa berbuat banyak karena konsep tema pernikahan dan rangkaian acaranya dipegang sepenuhnya oleh ayahku. Kemarin, kami mengusung tema pernikahan adat Jawa Modern.

5.       Membicarakan Tanggal Pernikahan
Sebelum datang ke Jogja untuk melamar dibulan Agustus 2018, aku dan (calon) suamiku sudah terlebih dahulu membicarakan rencana kapan kami akan menikah. Kalau tidak salah pembicaraan ini terjadi sekitar bulan Juli 2018. Saat itu (calon) suamiku bertanya, “Jadi kamu mau dinikahin kapan?” Haha… Kesannya gue gitu yang minta nikah -.- Aku menjawab sekitar pertengahan tahun 2018, namun (calon) suamiku berkata itu terlalu lama dan dia menginginkan pernikahan di awal tahun 2018 (ketauan kan yang pengen cepet siapa? Hehe…)

Setelah berdiskusi, kami sepakat ingin menikah di bulan Januari 2018 sebelum hari ulang tahunku jatuh yaitu 22 Januari 2018 (jika Allah dan orang tuaku mengijinkan). Tanggal yang kami pilih saat itu adalah tanggal 20 Januari 2018, namun nasib menentukan lain karena UC UGM full booked diminggu itu sehingga tanggal pernikahan dimajukan menjadi 14 Januari 2018. Alhamdulillah, as soon as better kan? Hihi…

6.       Membicarakan Mahar
Ini dibahas berdua antara aku dan (calon) suamiku tanpa ada intervensi dari pihak keluarga. Saat ditanya ingin mahar apa? Aku sempat bingung dan akhirnya memilih seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat 14 Gram sebagai mahar pernikahan kami.


7.       Membahas Budgeting Pernikahan
Pembahasan mengenai biaya pernikahan ini cukup sensitive, namun sebagai calon suami dan istri kami sudah harus mulai terbuka mengenai segala hal termasuk keuangan. Jadi, baiknya memang tetap harus dibahas dengan cara baik-baik dan transparan mengenai masalah ini.

Diakhir bulan September 2018, setelah aku resign dari perusahaan tempatku bekerja dan kembali ke Jogja, aku mulai fokus untuk mengurus segala keperluan pernikahan. Apa saja yang aku urus setelah aku kembali ke Jogja akan ku lanjut ditulisan selanjutnya ya, karena ternyata masih banyak hal yang ingin aku share dan akan menjadi sangat panjang jika dibuat dalam satu postingan. See ya!

Jumat, 14 September 2018

Flashback to My Pre-Wedding Event Series

September 14, 2018 0 Comments

Beberapa waktu yang lalu, seorang sahabat mengabarkan bahwa ia diajak ta’aruf oleh pria yang selama ini ia dambakan dan sebut dalam do’anya setiap hari. Mendengar berita ini, tentunya aku ikut berbahagia karena aku mengetahui kisah mereka dari awal hingga waktu ini tiba. Namun, aku cukup terkejut mendengar cerita sahabatku yang ingin melangsungkan pernikahan dalam waktu singkat. Aku pun bertukar cerita padanya bahwa persiapan sebelum menikah tidaklah semudah itu, apalagi sahabatku ini anak perempuan pertama dari keluarga yang cukup terpandang. Nggak yakin deh kalo acara pernikahannya nanti ‘cuma gitu doang’.

Tanggapan sahabatku saat aku berceloteh panjang lebar tentang persiapan pernikahan adalah, “Hah? Kok jadi banyak gitu sih yang diurusin? Aku nggak mikir sampe sana loh kalo kamu nggak ngomong! Kirain tinggal dateng, ijab-kabul, sah, udah beres!” Hahaha… Aku pun dulu sempat berpikir demikian.

Dari kisah sahabatku itu, aku jadi terinspirasi untuk menceritakan ulang mengenai persiapan pernikahanku yang bisa dibilang cukup kilat. Aku dilamar pada tanggal 27 Mei 2017, (calon) suamiku baru menemui orang tuaku untuk pertama kalinya dibulan Agustus 2017, tepatnya tangal 13 Agustus 2017 dan pernikahan dilangsungkan pada 14 Januari 2018. Artinya, aku hanya memiliki waktu kurang lebih 4 bulan untuk mempersiapkan pernikahan.

Dalam kurun waktu 4 bulan tersebut, bukan hanya pernikahan yang dipersiapkan tapi juga rangkaian acara sebelum hari H yang cukup banyak untuk anak yang nggak mau ribet seperti aku. Rangkaian acara tersebut antara lain :

1.       Setelah husband wanna be sendiri yang datang menemui kedua orang tuaku dan orang tuaku menyetujui permintaannya untuk menikah denganku, kedua orang tua (calon) suamiku yang dalam hal ini diwakilkan oleh pihak keluarganya datang ke rumahku untuk meminta ijin pada kedua orang tuaku untuk menikahkan putranya (calon suamiku) dengan aku. Ribet ya kata-katanya, intinya ini masih proses awal banget lah belom acara lamaran ya! Oh ya, acara ini berlangsung secara semi-formal di tanggal 1 Oktober 2017.

Menemani (calon) uami yang sedang tidak fit saat menghadiri acara waktu itu


2.       Berhubung ayahku orang yang terbilang patuh dengan adat istiadat, pertanyaan dari pihak keluarga (calon) suami untuk meminangku tidak langsung dijawab. Ditahap 2 ini, diadakan acara kunjungan balik dari pihak keluargaku (yang berdomisili di Jogja) dengan pihak keluarga (calon) suamiku yang tinggal di Bandung. Intinya silaturahmi gitu lah, sekalian memberikan jawaban ‘IYA’ dari permintaan pihak keluarga (calon) suami untuk menikahiku (acara tahap 1). Ditahap 2 ini, dibahas juga mengenai kepastian dari pihak keluarga (calon) suami untuk datang kembali ke Jogja dalam rangka melamar diriku secara resmi. Selain itu, dibahas pula mengenai rencana tanggal pernikahan. Kunjungan balik ini dilakukan kurleb 2 minggu setelah acara tahap 1 tadi, yang berarti dipertengahan bulan Oktober.

3.       Lamaran, akhirnya one step closer to be the wife! Hahaha… Pada tanggal 4 November 2017, dilangsungkan acara lamaran/tunangan resmi. Pada tahap ini, dilakukan acara tukar cincin dan pemastian tanggal pernikahan yang diputuskan akan jatuh pada hari Minggu tanggal 14 Januari 2018.

Bersama kedua orang tuaku saat acara Lamaran

4.       Masih ada tahap 4? Yes, guys! Rangkaian acara sebelum hari H masih ada, acara ini disebut ‘BETIMUNG’. Sehubungan dengan keluargaku yang blasteran Jawa-Kalimantan, sebagian rangkaian acaraku berbasis adat Jawa dan sebagian lainnya berbasis adat Banjar. Betimung ini sendiri merupakan adat Banjar dimana masing-masing calon mempelai wanita dan pria diberi lulur dari bahan-bahan tradisional dan selanjutnya didudukan dikursi yang tempat duduknya berlubang, tepat dibagian bawah dudukannya itu terdapat rebusan rempah-rempah dan ekstrak bunga-bungaan. Calon mempelai kemudian di’bungkus’ dengan kain dan selimut sehingga calon mempelai seperti berada di sauna. Konon katanya, betimung ini akan membuat tubuh calon mempelai wangi, lebih segar dan memancarkan aura pengantinnya. Aku pun merasa tubuhku menjadi lebih fresh dan wangi banget setelah melakukan betimung ini.  Prosesi ini dilangsungkan pada H-2 sebelum hari H yaitu tanggal 12 Januari 2018.

5.       Betamat/Khataman Al-Qur’an, ini dilakukan pada tanggal 13 Januari 2018. Prosesi ini juga masih berbasis adat Banjar, dimana calon mempelai wanita membaca beberapa surat pilihan disertai dengan do’a khatam Al-Qur’an. Dalam proses ini, aku membaca Al-Qur’an didampingi oleh kedua sepupuku Syifa dan Shafira serta seorang sahabatku, Fissy. Acara ini hanya dihadiri oleh pihak keluarga dan undangan dari calon mempelai wanita.

Betamat Team (Fissy, Ima, Syifa dan Shafira)

6.       Siraman, ini adalah acara/prosesi terakhir dari rangkaian acara sebelum pernikahanku. Acara ini dilangsungkan pada tanggal 13 Januari 2018 siang hari setelah acara betamat selesai. Proses siramanku waktu itu berbasis adat Jawa-Kalimantan, campur gitu deh jadi ada pemasangan bleketepe (adat Jawa) namun ada juga proses pemberian tepung tawar (adat Banjar). Kedua calon mempelai mengikuti proses ini secara terpisah namun dalam satu tempat (dirumahku), jadi aku duluan yang siraman baru setelahnya (calon) suamiku.
Siraman calon mempelai wanita

Siraman calon mempelai pria


Sekian! Rangkaian acara sebelum hari pernikahanku. Jadi teringat kembali dimasa-masa persiapan yang begitu menguras energi dan emosi, karena hampir 100% aku terlibat langsung dalam persiapan keberlangsungan acara-acara tersebut. Biar pun persiapannya cukup melelahkan, tapi bahagia loh ketika semua sudah terlewati dengan lancar. So, don’t be bridezilla ya buat para wife to be. Enjoy your moment sambil jangan lupa berdo’anya dikencengin J

Selasa, 31 Juli 2018

Karena Mendaki Sekali Tidaklah Cukup!

Juli 31, 2018 0 Comments
Kehidupan sebagai seorang buruh dikantor membuat hari-hariku dipenuhi dengan kejenuhan. Jenuh karena setiap hari harus berangkat ke kantor sebelum sempat kulit ini merasakan hangatnya sinar matahari dan pulang saat matahari mengucap salam perpisahan pada langit. Tak jarang pekerjaan dikantor yang tiada hentinya membuat kepalaku panas hingga hilang bernafsu untuk menyelesaikannya.
Jika sudah mencapai titik ini, mau tak mau aku harus rehat sejenak. Aku harus mengembalikan kejernihan pikiranku agar tidak sumpek dan stress, aku harus travelling. Ya, travelling adalah obat yang paling mujarab untuk menghilangkan penat dan kekorsletan otakku. Aku menghubungi teman SMA-ku Evita, seorang buruh yang bernasib sama sepertiku, kurang piknik. Aku mengutarakan rencana untuk pergi jalan-jalan mengusir kebosanan. Kami akhirnya memutuskan untuk menjadikan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur sebagai tujuan plesiran kami kali ini.
Aku pun mengajak Rani, teman kuliahku untuk turut serta melakukan perjalanan kali ini. Sebelumnya aku memang berjanji akan mengajak dirinya jika nanti liburan lagi. Kami memilih sailing Komodo dan live on board menggunakan agen wisata yaitu Longlasting Trip, dengan biaya trip sebesar Rp. 2.500.000,- per orang untuk 4 hari 3 malam. Dihari terakhir, kami akan menginap disebuah resort di Labuan Bajo yang bernama Sylvia Resort. Aku mengambil open trip menggunakan agen wisata ini karena trip ini dibatasi hanya untuk 9 peserta, sehingga akan menjadi lebih private dibandingkan dengan open trip yang pesertanya belasan atau bahkan puluhan. Aku dan kedua temanku juga tidak memilih untuk menjadi backpacker, karena kami memang berniat untuk menikmati hidup dengan ‘liburan enak’ dan tidak mau ribet sehingga kami menyisihkan tabungan sejak jauh-jauh hari untuk perjalanan kali ini.
Berangkatlah kami pada tanggal 10 Mei 2017. Aku dan Rani berangkat dari Bandara Soetta, Cengkareng, sementara Evita berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya. Kami bertiga bertemu di Bandara Ngurah Rai, Bali, sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat baling-baling menuju Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo. Oiya, Rani juga mengajak pacarnya bernama Gerry dalam perjalanan ini. Gerry yang ditempatkan kerja di Gorontalo mengambil pesawat yang juga transit di Bali sehingga kami berempat pergi menuju Labuan Bajo bersama-sama.
Perjalanan sailing Komodo kami dimulai keesokan harinya yaitu tanggal 11 Mei 2017. Dihari itu, kami mengunjungi Taman Nasional Komodo yang berada di Loh Buaya, Pulau Rinca dan menikmati sunset di Pulau Padar sebelum bermalam disana. Sayangnya, kami terlambat tiba di Pulau Padar sehingga setelah lelah mendaki ke puncak Padar kami tidak sempat lagi memandangi indahnya sunset dari atas sana. Pendakian ke puncak bukit Padar memakan waktu sekitar 30-40 menit dengan jalan setapak yang cukup curam tapi masih mudah dilewati namun tetap harus berhati-hati karena bebatuannya lumayan licin dan banyak ranting-ranting semak dan pohon yang bisa membuat langkah kita terjerumus.

Aku, Evita dan Rani Sebelum Memulai Perjalanan Live on Board yang Tak Terlupakan

Ada kejadian miris sekaligus lucu saat kami melakukan pendakian ke puncak Padar pada sore itu, temanku si Evita sempat berganti baju (dress) sebelum kami naik ke atas bukit. Dengan bangga ia berfoto-foto OOTD sesaat sebelum kami mendaki. Namun karena track ke puncak yang cukup curam dan berbatu-batu, ia pun kesulitan tiba dipuncak bukit Padar sehingga sebelum ia tiba dipuncak, matahari sudah tenggelam dan langit sudah berubah gulita. Terpaksa ia turun lagi dan dengan kesulitan lagi karena gelapnya malam dan rempongnya pakaiannya saat itu. Setelah tiba didasar pulau, seorang teman trip kami berkata, “Aneh-aneh aja trip yang sekarang, masa ada naik bukit pake daster!” katanya sambil geleng-geleng melihat Evita dengan dressnya. Aku pun tertawa mendengarnya, mengingat dia yang begitu bangga mengenakan baju tersebut pada awalnya dan malah menjadi bahan bully. Selain itu, terdapat pula sobekan dibeberapa bagian bajunya. Mungkin karena tersangkut-sangkut ranting pohon atau terkena tajamnya batu-batuan selama perjalanan mendaki dan menuruni bukit Padar.

Menangkap Sisa-Sisa Sunset Dari Atas Bukit Padar

Kami yang tidak puas mendaki bukit Padar sore hari itu memutuskan untuk kembali melakukan pendakian ke puncak Padar untuk melihat pesona sunrise dari atas sana.  Yap! Sekali tidak cukup untuk menikmati panorama yang luar biasa dari atas sana. Pendakian keesokan harinya dilakukan pukul 04.00 waktu setempat. Sayangnya, tidak semua anggota open trip ikut naik lagi ke puncak Padar karena kelelahan termasuk Rani dan Gerry yang memilih untuk stay dikapal.
Pendakian diwaktu gelap gulita tentunya lebih menantang dibanding pendakian sore hari kemarin. Kami yang ditemani oleh tour guide yaitu Bang Iyus, dibekali senter yang dipasang diatas kepala sebagai alat penerangan. Walau pun sudah mendaki hingga puncak dihari sebelumnya, tetap saja aku kesulitan menemukan jalan yang tepat untuk menapak sehingga sempat terpeleset beberapa kali. Berkat bantuan teman-teman yang mendaki, akhirnya aku tiba juga di puncak Padar sebelum matahari terbit.
Angin dingin yang berhembus tidak berasa dingin karena peluh yang bercucuran hasil pendakian tadi. Dengan sabar dan santai, kami mencari spot duduk-duduk sambil menunggu sang surya menampakkan dirinya. Tak berapa lama, matahari yang dinanti pun muncul. Tanpa malu-malu, sedikit demi sedikit ia menampilkan diri dengan cara yang menakjubkan. Pemandangan yang tidak mungkin aku lupakan sepanjang hidupku. Kapan lagi melihat sunrise dari puncak bukit Padar? Walau pun saat itu semua anggota trip bersama pasangannya masing-masing. Mas Rahadi dengan istrinya, Mbak Fika. Mas Fariz dengan pacarnya Mbak Rizka, sementara aku? Dengan Evita dan Bang Iyus saja tidak mengurangi kebahagiaanku diatas sana.


Bang Iyus Mengabadikan Momen dari Puncak Padar

Setelah bermandikan cahaya matahari diatas sana, kami kembali menuruni bukit untuk mengejar tujuan selanjutnya. Sungguh pengalaman dua kali naik turun bukit Padar di Pulau Padar ini akan selalu terkenang dan tak terlupakan. Nggak akan move on deh pokoknya!