Minggu, 20 Desember 2020

Kaleidoskop Blog "maeshardha" di 2020

Desember 20, 2020 4 Comments
maeshardha dotcom

Tahun 2020 sudah memasuki minggunya yang ke-4, ommo! Setengah bulan lagi menyambut pergantian tahun 2021. Tahun ini adalah tahun terakhir aku menghabiskan usia 20-an. Hiks!

Di tahun ini, banyak hal yang terjadi. Banyak yang harus disyukuri meskipun tahun ini masih menjadi tahun tersedih sepanjang sejarah hidupku karena harus ikhlas merelakan kepergian Bapak di bulan Maret lalu.

By the way, dalam tulisan kali ini aku ingin bercerita tentang perjalanan menulis sepanjang tahun 2020 ini. Suatu pencapaian yang cukup membuatku senang adalah karena aku bisa KONSISTEN menulis minimal 10 tulisan setiap bulan, mostly 20 karena ingin mempertahankan badge You're Excellent di KLIP. Haha.

Aku akan membagi cerita dalam 3 bagian, mulai dari Januari - April, Mei - Agustus dan September - Desember tahun 2020.

Januari - April 2020

Di awal tahun, saat baru kembali memulai untuk menulis dengan rutin, aku masih kebingungan setiap kali menentukan topik apa yang akan aku tulis. Apakah aku akan curcol, apakah aku akan menulis tips-tips mengenai sesuatu? Apa nih ide nulisnya?!

Kira-kira, setiap hari pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku sampai suatu hari aku menulis tentang bagaimana mencari ide untuk menulis, saking nggak tau lagi mau menulis apa hari itu. Dari sana aku belajar, bahwa semua hal ternyata mungkin untuk dituliskan. Semua bisa menjadi tulisan, tinggal bagaimana kita mengolah ide atau topik yang ada di dalam pikiran menjadi rangkaian kata-kata.


Di bulan-bulan awal aku banyak menuliskan tentang motherhood journey, parenting dan travelling. Awal tahun ini aku merasa masih mencoba untuk menemukan kembali siapa diriku. Selain itu, aku juga masih mencari zona nyaman menulisku. Aku merasa-rasa kira-kira topik atau tema tulisan seperti apa yang membuat tulisanku mengalir dan tidak terasa kaku.

Bulan Januari sampai April, aku masih dalam tahap belajar mengoperasikan blog. Bagaimana mengganti tema, memasukan link ke dalam tulisan, membuat tampilan blog ini menjadi lebih menarik.  Pada bulan April, setelah menetapkan niat untuk serius nge-blog, aku men-dotcom-kan blog ini.

Aku banyak membaca tulisan-tulisan blogger lain sebagai referensi. Kalau membaca tulisanku di awal tahun, rasanya pengen ketawa sendiri. Satu paragraf isinya bisa panjang banget! Penulisan kata di- pun masih ngawur nggak jelas, dirumah, di temukan. Kacau! Haha. Maklum lah ya, jutaan purnama nggak belajar bahasa Indonesia dan EYD beserta PUEBI (alasaaaan).

Contoh tulisan yang strukturnya nggak jelas ada di tulisan ini : Terjebak Dalam Toxic Relationship

Sayangnya, di awal-awal tahun ini aku masih belum terlalu percaya diri untuk membagikan hasil tulisanku ke banyak orang. Belum berani mengunggahnya ke sosial media atau menunjukkan pada orang-orang terdekat. Nggak PD banget!

Mei - Agustus

Pada bulan Mei sampai Agustus, aku sudah mulai menemukan feel menulis. Aku juga sudah mulai percaya diri untuk membagikan tulisanku ke media sosial. Aku mengikuti list blogwalking untuk meningkatkan traffic sekaligus membaca tulisan-tulisan blogger lain yang sudah lebih profesional untuk belajar.


Di pertengahan tahun ini, aku semakin yakin kalau tema-tema yang membuatku semangat menulis adalah seputar travelling, parenting, family dan seputar blogging-literasi. Pada bulan Mei, aku juga mulai mengikuti tantangan menulis dari teman-teman Drakor dan Literasi yang belakangan berubah nama menjadi Drakor Class. 30 topik tulisan seputar Korea aku tuliskan di blog ini mulai bulan Mei hingga September.

Satu hal lain yang harus dituliskan adalah pada awal Mei, tulisan tentang "Kisah Inspiratif Bu Indari Mastuti dan INDSCRIPT CREATIVE, Berjuang dengan Inovasi Tanpa Batas" menjadi tulisan pertama yang membuatku mendapatkan penghasilan dari kegiatan menulis. Senang sekali rasanya!

Berikutnya, aku juga mulai menerima tawaran content placement maupun kerja sama dengan beberapa brand di blog ini. Nggak nyangka, cita-cita menjadi freelancer tercapai di tahun 2020. Di bulan-bulan ini juga, sejak aku mulai mengunggah tulisan-tulisanku ke sosial media ternyata banyak yang memberi komentar positif dan mendukung hobi menulisku ini.


September - Desember

Di empat bulan terakhir, aku baru mulai tertarik untuk mempelajari tentang menulis di blog yang baik dan benar. Sebelumnya kan ya nggak peduli sama SEO, alt image, permalink dan lain sebagainya. Free writing banget pokoknya. Namun, ya ternyata tidak sulit melengkapi tulisan blog dengan mengisi permalink, description serta melengkapi gambar dengan alt image. Rada lama aja sih karena yang biasanya cas-cis-cus langsung post sekarang jadi harus melakukan pengecekan terlebih dulu.

Mulai bulan September juga aku mulai rutin menuliskan jurnal tantangan yang diberikan oleh tim Ibu Profesional, aku mengikuti kelas Bunda Sayang batch 6 dimana setiap zona mewajibkan pesertanya untuk membuat jurnal tantangan 15 hari. Aku memilih untuk mendokumentasikan tantangan tersebut di blog ini, sehingga minimal 10 tulisan mengenai tantangan di setiap zona kelas Bunda Sayang akan terus bermunculan di blog ini selama 13 bulan, terhitung sejak September 2020.

Pada bulan Oktober, aku juga mengisi blog lain yaitu www.drakorclass.com, dari sana aku banyak sekali belajar untuk menulis blog secara terstruktur agar terindeks oleh mesin pencari. Meskipun, penerapan di blog sendiri masih perlu banyak belajar dan latihan lagi, lumayan lah udah melek sedikit. Hehe.

PR Menulis Tahun 2021

Tahun ini akan segera berlalu, berganti dengan tahun 2021. Tentu saja aku ingin lebih baik lagi dalam menulis bersama blog maeshardha.com ini. Tugasku adalah tetap merawat blog ini, mengisinya dengan tulisan-tulisan yang semoga semakin baik dan bermanfaat.

PR berikutnya adalah mengoptimasi blog ini lebih baik lagi. Tujuannya ya supaya performa dari blog ini lebih baik lagi, dapat terindeks oleh mesin pencari secara optimal sehingga apa yang aku tulis di blog ini bisa dibaca juga oleh lebih banyak orang.


Terus belajar dan tidak cepat puas dengan tulisan-tulisan yang aku hasilkan juga merupakan PR yang masih harus terus dikerjakan pada tahun-tahun ke depan. Harus lebih banyak membaca lagi, banyak menggunakan kosakata baru dan menghasilkan tulisan yang lebih renyah serta enak dibaca.

Terakhir dan paling penting adalah konsistensi menulis di tahun 2020 ini harus dipertahankan dan kalau bisa ditingkatkan. Jangan sampai malas dan hiatus menulis lagi. Huhu~

Sekian, sampai jumpa di tahun 2021!

Sukabumi, 20 Desember 2020

Rabu, 16 Desember 2020

Pantulan Warna Zona 4 : Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas

Desember 16, 2020 0 Comments

Alhamdulillah, aku kembali melewati satu zona di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional batch 6. Zona yang baru saja aku selesaikan adalah zona ke-4 mengenai "Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas". Seperti biasanya, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil setelah membersamai anak melewati zona ke-4 ini.

Setelah aku melewati 5 hari mengerjakan tantangan secara berturut-turut, aku mendapatkan apresiasi berupa hidden treasure yang pertama. Dalam harta karun yang sudah aku buka tersebut, ada sebuah kalimat yang cocok sekali untuk menggambarkan situasi dan kondisiku dan para ibu-ibu lain di luar sana.

Mothering is intensely creative work. even if it doesn't register on the big creative scale. Each day mothers complete hundreds creative acts.

Hehe, begitulah menurut Erika Hayasaki yang merupakan seorang penulis. Setuju banget, guys! Tiap hari mikir gimana caranya supaya anak melakukan kegiatan yang berfaedah demi memenuhi stimulasi semua indera dan otaknya yang sedang dalam periode emas.

Jujur, aku sendiri perlu banyak belajar bagaimana cara untuk mengobservasi dan menstimulasi anak-anak. Namanya juga emak baru, dua tahun membersamai anak tentu masih waktu yang sangat singkat dan masih perlu perbaikan di sana-sini untuk bisa optimal menemani tumbuh kembang si kecil.

Aku pribadi merasa sangat terbantu dengan beberapa kelas parenting yang sebelumnya aku ikuti. Aku jadi bisa sedikit banyak mengenali periode sensitif apa yang sedang dilewati oleh anakku. Selain itu, 10 hari mengerjakan tantangan di zona empat ini juga membuatku lebih menyadari bahwasanya dengan stimulasi kreativitas dan cara belajar yang tepat, ternyata anak usia 2 tahun juga bisa fokus dalam waktu yang cukup panjang.

Satu lagi kalimat motivasi yang aku dapatkan setelah menyelesaikan tantangan 10 hari tanpa rapel, kalimat yang terlontar dari seorang Walt Disney,
Around here, however, we don't look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things. Because we are curious, and curiousity keep leading us down new paths

Sehingga meskipun capek dan lelah karena sehari-hari harus menemani anak melakukan kegiatan yang menstimulasi kreativitas dan menanamkan rasa penasaran padanya, semoga lelah ini terbayar kelak ketika kita melihatnya tumbuh optimal menjadi pribadi yang cerdas dan membawa dampak luar biasa bagi sekitarnya. Aamiin.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi 

Talk Show "Crash Landing On Kdrama" Bersama Drakor Class dan KCCI

Desember 16, 2020 4 Comments


Hari Senin, tanggal 14 Desember 2020 lalu, bertepatan dengan setahun berlalunya drama fenomenal "Crash Landing on You" (CLOY), Drakor Class bersama dengan Korean Culture Center Indonesia (KCCI) mengadakan event Korean Culture Day yang mengusung tema drama Korea. Judul yang dipilih untuk acara tersebut adalah "Crash Landing on Kdrama".

Sebelumnya, hari Sabtu tanggal 28 November 2020, beberapa perwakilan teman Drakor Class mengikuti acara kumpul daring komunitas Hallyu yang diselenggarakan KCCI. Di sana, kami memperkenalkan komunitas kami yang masih bayi yaitu Drakor Class.

Dalam acara tersebut, banyak komunitas Hallyu lain dari seluruh Indonesia. Dibandingkan dengan mereka, komunitas kami masih sangat-sangat baru dan perlu banyak belajar lagi dari teman-teman di komunitas lain, terutama tentang bagaimana mereka membangun konsistensi untuk tetap menjaga keutuhan komunitas hingga bertahun-tahun lamanya.


Tidak menyangka, Kak Dwi, salah satu perwakilan dari Drakor Class dihubungi oleh pihak KCCI beberapa waktu setelah acara kumpul daring tersebut berlalu. Singkat cerita, pihak KCCI mengajak Drakor Class untuk berkolaborasi dalam event rutin mereka yaitu Korean Culture Day di bulan Desember ini.

Ajakan kolaborasi ini disambut oleh antusias, senang dan semangat oleh semua kontributor Drakor Class. Acara ini memungkinkan kami untuk memperluas dan menebarkan virus drakor dan literasi. Hehe.

Kami pun mendapat kepastian dari KCCI pada tanggal 10 Desember 2020, tentang brief kegiatan yang akan dilaksanakan pada tanggal 14 Desember 2020. Ini seperti menjadi hadiah ulang bulan kami yang ke-2. Suatu pencapaian yang patut kami syukuri.

Persiapan "Crash Landing on Kdrama"

Mulanya, judul yang diusulkan oleh pihak KCCI adalah "Terjebak Pesona Kdrama", namun kami mengusulkan judul lain yang lebih ear cathing dan kami anggap lebih menarik yaitu "Crash Landing on Drakor". Ternyata, KCCI akhirnya menggunakan judul yang kami usulkan dengan mengganti kata Drakor menjadi Kdrama sehingga judul acara Korean Culture Day pada bulan Desember adalah "Crash Landing on Kdrama".

Flyer "Crash Landing on Kdrama" by KCCI

KCCI mengatakan bahwa format acara tersebut adalah semacam talkshow di mana Drakor Class bertindak selaku pengisi acaranya. Jadi, kami akan mengisi sepanjang acara tersebut berlangsung. Tentunya perlu persiapan yang matang karena ini menjadi event besar kami yang pertama, kami akan tampil dan ditonton oleh lebih banyak orang.

Biasanya, kami tampil di Instagram Live dan jumlah penontonnya belum seberapa banyak. Namun, karena sudah pernah tampil dalam IG Live sebelumnya, kami merasa cukup yakin akan dapat berbicara dengan baik di depan orang banyak.


Pembagian tugas pun dilakukan, mulai dari persiapan materi untuk slide presentasi, siapa-siapa saja yang akan mengambil spot untuk presentasi, hingga mengumpulkan link tulisan dari drakorclass.com untuk dibagilan ke publik saat acara berlangsung.

Aku sendiri mendapat amanah untuk mempresentasikan alasan mengapa orang menonton drama Korea bersama dengan kontributor Drakor Class yaitu Teh Nadya. Thank's God, kakak-kakak yang lain sangat profesional dan tidak ragu untuk membantu saat aku meminta saran atau usulan. Bahkan Kak Rijo mengusulkan agar presentasi bagianku menggunakan diagram Ishikawa (Fish Bone Diagram) agar mudah pada saat menjelaskannya.

Terakhir kali aku menggunakan diagram Ishikawa adalah saat bekerja dan menangani masalah penyimpangan yang terjadi terhadap kualitas produk obat. Ternyata, bisa kepakai lagi itu diagram! Hehe.

Fishbone Diagram Alasan Menonton Drakor
(Sumber : Facebook KCCI)

Kami juga mengadakan rehearsal sehari sebelum hari-H untuk mematangkan persiapan kami supaya lebih lancar. Sehari sebelumnya, ketegangan dan campuran feeling antara excited dan cemas mulai melanda. Bawaannya mules, deg-degan nggak karuan.

The Day!

Akhirnya, tanggal 14 Desember 2020 yang dinanti pun tiba. Sekitar pukul 15.40 WIB kami sudah masuk ke ruang zoom yang disediakan oleh pihak KCCI. Mendekati pukul 16.00 WIB para peserta pun semakin banyak yang masuk dan jumlahnya melebihi 70 orang. Acara ini juga disiarkan langsung di Facebook KCCI. Makin deg-degan dong ya!

Acara dimulai dengan pembukaan oleh pihak KCCI dan diserahkan kepada Kak Dwi selaku moderator talkshow. Kak Risna, adalah kontributor pertama dari Drakor Class yang menjelaskan tentang bagaimana Drakor Class lahir dan berkembang hingga sekarang.


Kak Risna juga mengutarakan misi Drakor Class dalam acara ini adalah untuk mengajak para penonton drama Korea agar dapat menuliskan apa yang didapatkan setelah menonton drama Korea. Sehingga, kegiatan menonton drama Korea pun jadi semakin berfaedah karena menghasilkan karya.

Kemudian, aku dan Teh Nadya mempresentasikan mengenai alasan mengapa banyak orang suka menonton drama Korea disusul oleh presentasi penelitian yang dilakukan oleh Kak Riela dan beberapa rekannya.

Sesaat setelah part diriku dan Teh Nadia
(Sumber : Facebook KCCI)

Presentasi kami dilanjutkan oleh Mbak DK, Kak Rijo dan Mbak Lendy mengenai efek yang dirasakan secara nyata setelah menonton drama Korea. Efek tersebut mencakup efek positif yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, efek untuk para penulis terutama penulis fiksi dan efek dari sisi sosial serta budaya.

Senang sekali saat Kak Rijo menampilkan slide yang berisi buku-buku yang dihasilkan oleh kontributor Drakor Class di tahun ini dan banyak peserta zoom yang memberikan komentar positif. Hihi.

Beberapa buku karya kontributor Drakor Class (sumber : dokumentasi pribadi)

Sesi selanjutnya adalah ngobrol-ngobrol seputar drama Korea yang hits di tahun 2020. Mbak Rella, mengajak beberapa penonton untuk berinteraksi secara langsung. Selain itu, Mbak Rella juga mengajak dua influencer yang diundang oleh pihak KCCI yaitu Erry Andriyani dan Jo Yuri untuk turut serta membagikan ceritanya seputar drama Korea.

Ngobrol bareng Jo Yuri (sumber : dokumentasi pribadi)

Terakhir adalah giliran Kak Dwi yang berbincang-bincang dengan kedua influencer. Obrolannya tentu saja tidak jauh-jauh dari perdrakoran. Jo Yuri sendiri yang merupakan influencer asal Korea Selatan yang tinggal di Indonesia merasa senang dan bangga ketika melihat antusiasme masyarakat Indonesia pada drama Korea. Ia juga senang bahwa budaya Korea Selatan dapat diterima dan memberi manfaat bagi orang Indonesia. Tidak ketinggalan, ia senang sekali kalau hubungan Indonesia dan Korea Selatan bisa menjadi lebih erat karena Hallyu wave yang ada di negara kita.

Sementara Mbak Erry banyak memberi inspirasi bahwa dari menonton drama Korea beliau bisa mendapatkan pekerjaan tetap sebagai penulis konten dan menunjukkan kalau drama Korea dapat memberikan efek yang sangat positif jika kita melihat dan melakukannya dengan bijaksana.

Bersama Mbak Erry yang inspiratif (sumber : dokumentasi pribadi)

Tak terasa 2.5 jam berlalu dan acara "Crash Landing On Drakor" pun usai. Acara ditutup dengan sesi foto-foto tentunya. Alokasi waktu sebenarnya hanya 2 jam, akan tetapi rasanya kurang puas ngobrolin macem-macem drama hanya dalam waktu 2 jam tu! Haha.

Kamsahamnida, chingudeul! (sumber : dokumentasi pribadi)

Pengalaman yang Berkesan

Pengalaman mengadakan acara besar seperti ini tentunya menjadi pengalaman yang berharga dan berkesan untuk aku dan teman-teman Drakor Class. Kami tidak menyangka bahwa progress yang kami buat akan secepat ini hingga diajak KCCI untuk berkolaborasi.

Hal yang menyenangkan selama acara adalah melihat antusiasme peserta yang aktif menuliskan komentarnya sepanjang acara. Komentar yang dilontarkan pun semuanya positif dan membuat kami semakin bersemangat untuk meningkatkan kualitas Drakor Class. Makasih banyak yaa semua!

Peserta dan penonton juga semangat sekali mengikuti kuis-kuis interaktif yang kami adakan. Peserta yang menang dalam kuis akan mendapatkan hadiah dari KCCI. Selamat yaa buat yang menang kemarin!

Pengalaman ini berkesan dan seru sekali, deh! Salut dengan kekompakan teman-teman Drakor Class semua, baik yang presentasi maupun yang tidak, semua bahu-membahu menyukseskan acara ini. Semoga kita tetap kompak dan terus mengampanyekan drakor dan literasi ini ya! Haha.

Sekian dulu ceritanya, tak terasa udah panjang aja nih. Kalau teman-teman berminat untuk menonton acara KCCI x Drakor Class yang berjudul "Crash Landing on Drakor" kemarin silakan klik disini ya.

Terima kasih.

Sukabumi, 16 Desember 2020

Minggu, 13 Desember 2020

Bersama KLIP di Sepanjang 2020

Desember 13, 2020 0 Comments

Desember 2020 sudah akan memasuki pekan ke-3, hari ini aku ingin menulis perjalanan menulisku selama setahun bersama Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP).

Mengapa harus sampai ditulis segala? Seberapa faedah kah KLIP dalam kegiatan menulisku di tahun ini?

Awal Mula Mendaftar KLIP

Sepertinya alasanku mengapa aku mulai menulis di tahun 2020 ini sudah berkali-kali kutuliskan dalam blog ini di berbagai judul tulisan. Aku ingin menghidupkan kembali hobi menulisku yang sudah terlalu lama tidur panjang.

Dengan menulis ternyata aku seperti menemukan kembali bagian dari diriku. Menulis bisa membuat perasaanku menjadi lebih lega dan mood-ku di hari tersebut membaik. Di akhir tahun 2019, aku mendaftarkan diri untuk ikut komunitas Ibu Profesional. Tujuan awalnya supaya di Sukabumi aku bisa menjalin relasi dengan ibu-ibu lain. Haha. Karena aku memang tidak punya sanak famili di kota ini.

Di bulan Januari 2020, setelah menjadi anggota Ibu Profesional aku mengetahui bahwa ada pembukaan pendaftaran member baru untuk menjadi bagian dari Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Nggak ngerti sih itu apaan, tapi karena aku memang memiliki niat untuk meningkatkan produktivitas menulis di tahun 2020 maka tanpa pikir panjang aku mendaftarkan diri.

Ternyata ada persyaratannya! Selama sebulan, minimal kami menyetorkan tulisan sebanyak 10 agar bisa lolos ke bulan berikutnya. Jika lolos ke bulan berikutnya, kami para anggota mendapatkan kesempatan untuk bergabung dalam Whatsapp Group KLIP.

Aku semangat untuk membuat 10 tulisan agar bisa bergabung dengan WAG KLIP dan mendapat teman baru serta ilmu-ilmu baru. Jujur, bulan Januari cukup berat untukku untuk mencari ide 10 tulisan, dimana sebelumnya dalam kurun waktu 10 tahun aku hanya menghasilkan kurang dari 15 tulisan. Haha!

Alhamdulillah, di bulan Januari kemarin aku sukses menghasilkan 15 tulisan. Aku kemudian mendapatkan badge Good dan berhak bergabung dalam WAG KLIP.

Koleksi Badge KLIP 2020

Di paragraf sebelum ini, aku menyebut kata badge. Ini adalah bentuk apresiasi yang diberikan oleh KLIP bagi para anggotanya yang berhasil menyetorkan minimal 10 tulisannya.

Dalam sebulan, peserta akan diberikan badge Good jika berhasil menyetorkan 10-19 tulisan, badge Excellent bagi yang berhasil menyetorkan 20-29 tulisan serta badge Outstanding untuk yang rutin menyetorkan tulisan tanpa bolong selama satu bulan full.

Berhubung aku mendapatkan badge Good atau badge dasar di awal tahun, bulan berikutnya aku ingin mempertahankan badge tersebut agar tetap bisa lolos ke bulan berikutnya dan tidak terdepak dari WAG. Ternyata, di bulan Februari lalu mendapatkan badge Excellent karena menyetorkan 21 tulisan.

Sejak bulan Februari hingga November, badge Excellent tidak pernah absen kukumpulkan. Sehingga total badge yang aku koleksi dari KLIP tahun ini adalah 1 badge Good dan 10 badge Excellent.

Koleksi Badge KLIP di tahun 2020
(Bulan Desember belum masuk)

Sayangnya, di bulan Desember ini ternyata jadwal setoran tulisan hanya sampai tanggal 20 dan sampai hari ini aku sudah mengambil libur sebanyak 4 hari. Jadi, kemungkinan tahun ini akan ditutup dengan badge dasar yaitu Good.

Sepenting itukah mengumpulkan badge sepanjang tahun? Sebetulnya, bukan badge yang penting melainkan konsistensi menulis. Adanya badge menjadi pengingat kalau aku berhasil mempertahankan konsistensiku dalam menulis selama sebulan.

Adanya badge ini hanya bonus untuk mengapresiasi kegiatanku menulis selama sebulan. Disamping badge, ada pula sistem ranking untuk mengapresiasi mereka yang menyetorkan tulisan dengan jumlah kata terbanyak dalam sebulan. Ranking ini sebuah bonus juga ketika aku bisa masuk ke 10 atau bahkan 5 besar.


Namun, yang terpenting adalah minat, kesenangan dan konsistensi menulis selalu terjaga dan semakin berkembang.

Yang Didapat Dari KLIP

Sepanjang tahun bersama KLIP, banyak sekali tentunya hal bermanfaat yang aku dapat terutama dalam hal kepenulisan. Pertama dan utama adalah bersama KLIP aku bisa membuktikan bahwa konsisten dalam menghasilkan minimal 10 tulisan sepanjang tahun itu ternyata sangat mungkin!

Awalnya aku menganggap menulis sebanyak 10 tulisan selama sebulan adalah hal yang agak berat. Setiap hari mencari topik untuk ditulis, semakin kesini tantangan semakin berat karena di pertengahan tahun kami dituntut agar menghasilkan tulisan minimal 300 kata. Tapi, alhamdulillah dengan niat, keinginan untuk mempertahankan kebiasaan menulis dan semangat dari teman-teman KLIP, 11 bulan berhasil memenuhi syarat yang ditentukan.

Selanjutnya, yang aku rasakan setelah sepanjang tahun menulis bersama KLIP adalah rasa kesenangan terhadap menulis yang berubah menjadi sebuah kebiasaan. Memang, ada hari-hari dimana aku ingin libur menulis namun tak jarang pula aku mendapat ide tulisan di waktu aku mengambil hari libur menulis. Haha. Ujungnya, minimal ada sebuah judul atau satu paragraf yang dituliskan.


Berikutnya adalah dari KLIP aku mendapatkan teman-teman sehobi dan sehati. Memiliki teman-teman baru dengan hobi yang sama begitu menyenangkan, lebih senang lagi adalah ketika mereka tidak ragu membagikan ilmu pada kami-kami yang masih cupu dan memiliki jam terbang menulis sedikit.

Terakhir tentunya adalah pengalaman tak terlupakan. Bersama KLIP sepanjang tahun 2020 akan menjadi cerita tersendiri yang berkesan dalam perjalanan menulisku selama ini. KLIP seperti mewujudkan mimpiku yang sudah lama sekali terpendam, yaitu bisa konsisten menulis.

Bisa menulis sepanjang tahun ini adalah sebuah pencapaian pribadi yang mana membuatku cukup senang atas produktivitas diriku sendiri. Ya menurut ngana? blog ini ada dari tahun 2010 tapi nggak pernah diisi, sekali diisi sepanjang tahun menghasilkan 223 tulisan (dengan tulisan ini). Pasti amaze dengan diri sendiri, ternyata gue bisa kayak gini!

Bagiku KLIP ini adalah suatu wadah yang sangat berfaedah, menampung orang-orang yang betul-betul gemar menulis dan (berniat) konsisten dalam menulis. Semoga tahun 2021 nanti semangat menulis ini tidak surut dan padam begitu saja. Semangat terus!

Sukabumi, 13 Desember 2020


Jumat, 11 Desember 2020

True Beauty, Ketika Cantik Adalah Segalanya

Desember 11, 2020 39 Comments
Annyeonghaseyo!

Setelah pindah menulis seputar Korea ke blog drakorclass.com, rasanya aku sudah tidak pernah mengisi tema Kdrama di blog sendiri. Haha.

Untuk membersihkan sarang laba-laba di label Kdrama dalam blog ini, aku akan membahas mengenai drama terbaru yang baru tayang yaitu True Beauty.

Aku tertarik untuk menonton drama ini sebab telah membaca webtoonnya lebih dulu. Ya, drama "True Beauty" ini adalah drama yang diadaptasi dari webtoon berjudul The Secret of Angel (True Beauty). Webtoonnya sendiri saat ini masih ongoing dan ketika aku menulis ini, cerita di webtoon-nya sudah mencapai episode ke-135.


Sinopsis True Beauty

True Beauty (TvN)

Lim Joo Kyung (Moon Ga Young) adalah seorang gadis sekolah menengah yang lelah dengan hidupnya karena menjadi korban bully teman-teman sekolahnya.

Di sekolah, ia tidak memiliki seorang teman pun karena semua menjauhi Joo Kyung sebab penampilan fisiknya yang dianggap kurang menarik. Bahkan, teman-teman sekolahnya sepakat melabeli Joo Kyung sebagai gadis terjelek seantero sekolah. Tega nian ya!

Lim Joo Kyung versi bareface (TvN)

Setelah berbagai risakan yang tak kunjung usai, Joo Kyung memanfaatkan waktu liburannya untuk mempelajari cara merias diri (make up) untuk melakukan make over besar-besaran pada wajahnya. Alasannya adalah keluarga Joo Kyung yang sedang tertimpa masalah keuangan harus pindah ke kota lain. Momen ini ia manfaatkan untuk merombak dirinya dan memulai kehidupan yang baru.


Totalitas Joo Kyung belajar make up membuahkan hasil. Tak seorang pun menyadari wajah asli dirinya, bahkan semua teman sekolahnya yang baru sepakat bahwa Joo Kyung adalah gadis tercantik di sekolah. Joo Kyung pun dengan mudah mendapatkan teman-teman baru dan kehidupan yang tentunya lebih tenang tanpa khawatir diteriaki jelek dan lain sebagainya.

Lim Joo Kyung setelah belajar dandan (soompi.com)

Masalahnya, sampai kapan Joo Kyung bertahan menutupi wajah aslinya dari teman-teman sekolahnya? Apa yang terjadi saat salah seorang teman sekolahnya melihat Joo Kyung tanpa riasan? Akankah Joo Kyung kembali merasakan masa-masa sekolah yang penuh penderitaan karena di bully?

Buat yang penasaran langsung tonton aja, ya! Kalau sudah baca webtoon-nya ya pasti tahu bagaimana kelanjutan ceritanya, tapi bisa jadi cerita dalam drakor dibuat berbeda dengan di webtoon.

Tentang Bullying

Cerita awal dari drama "True Beauty" adalah tentang pem-bully-an yang terjadi pada anak sekolah menengah dan dilakukan oleh teman-teman satu sekolahnya.

Bullying atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan penindasan atau risak, merupakan segala wujud penindasan atau kekerasan yang dilakukan secara sengaja oleh seseorang maupun sekelompok orang. Orang yang melakukan risak ini biasanya memiliki kekuatan atau kekuasaan yang lebih besar daripada yang di-bully.

Adapun tujuan dari bullying ini adalah untuk bersenang-senang dengan menyakiti orang lain secara kontinyu atau terus-menerus.

Jika teman-teman sudah menonton "True Beauty" episode pertama, kita bisa melihat bagaimana Joo Kyung diperlakukan dengan semena-mena di sekolahnya. Teman-teman sekelasnya dengan sengaja menyuruh dirinya setiap hari untuk membeli jajanan untuk diri mereka.

Semua yang melihat Joo Kyung akan langsung menghindar dan tidak mau bersentuhan langsung karena takut akan tertular jeleknya. Bahkan dengan lantangnya teman-teman Joo Kyung memanggilnya dengan sebutan jelek dan tidak ragu untuk melakukan perisakan sembari mengambil video Joo Kyung untuk dibagikan ke seluruh murid di sekolah.

Berlebihan kah cerita tersebut? Masa ada sih yang sampai begitu dengan temannya sendiri? Sad but true, hal ini betul-betul terjadi. Bahkan di Indonesia sendiri sampai ada istilah school bullying yang diartikan sebagai tindakan agresif yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa lain yang lebih lemah dengan tujuan untuk menyakitinya.

Bahkan, hasil kajian tahun 2014 yang dilakukan oleh Konsorsium Nasional Pengembangan Sekolah Karakter menunjukkan bahwa kasus bullying ini terjadi di hampir semua sekolah di Indonesia. Itu tahun 2014 loh, berarti memang kasus-kasus penggencetan ini sudah menjadi cerita lama.

Dampak Bullying

Bullying ini merupakan tindakan tidak terpuji dan tidak berakhlak yang dapat memberi dampak untuk pelaku maupun korban. Dampak yang sangat nyata terlihat di kemudian hari tentunya adalah dampak psikologis.

Korban bullying dapat merasa bahwa diri mereka tidak berharga dan tidak berguna. Pada akhirnya mereka tumbuh menjadi pribadi yang selalu insecure dan minder. Dampak terburuknya adalah depresi berkepanjangan hingga (keinginan) untuk bunuh diri.

Sementara pelaku pem-bully-an yang tidak ditindak lanjut tentunya akan merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu benar dan cenderung bertindak agresif serta menghalalkan kekerasan untuk setiap tindakannya.

Siswa-siswa yang melakukan tindakan merisak teman sekolahnya akan tumbuh menjadi pribadi yang impulsif dan memiliki toleransi yang rendah terhadap perasaan orang lain (lack of empathy). Ini kemudian dapat dikatakan sebagai bibit-bibit calon kriminal di masa depan (naudzubillah...).

Lim Joo Kyung diceritakan sangat menderita akibat perbuatan teman-teman sekolahnya. Ia menjadi tidak percaya diri untuk datang ke sekolah dan merasa seolah setiap hari bagaikan di neraka.

Lee Soo Ho (TvN)

Ia bahkan nyaris melakukan tindakan bunuh diri namun untungnya berubah pikiran dan diselamatkan oleh pangeran tampan seorang lelaki asing yang nantinya menjadi teman di sekolah barunya bernama Lee Soo Ho (Cha Eun Woo).

Mendewakan Kecantikan

Sebagai seorang perempuan, tentu aku senang jika dipuji memiliki paras yang cantik (minimal sama orang tua dan suami lah. Haha!). Aku juga senang melihat perempuan-perempuan cantik lainnya, dengan kulit wajah yang mulus dan bersih.

Tidak munafik ya, terkadang kita menilai seseorang memang dari penampakan luarnya. Di kehidupan nyata juga terbukti bahwa orang-orang dengan penampilan fisik yang menarik lebih mudah mendapatkan pekerjaan (katanya).

Di dalam drama "True Beauty", bisa kita lihat begitu Joo Kyung datang ke sekolah dengan penampilan dan wajah barunya, seluruh murid sekolah memerhatikan dirinya. Semua menyapa dirinya karena ia cantik, semua ingin berteman dengannya karena ia cantik. Tidak masalah ia tidak memiliki nilai bagus secara akademis, selama ia cantik maka termaafkanlah semua kekurangannya.

Hal ini sebelas dua belas dengan drama Korea lain berjudul "My ID is Gangnam Beauty". Dalam drama tersebut pemeran utama perempuannya diceritakan sebagai gadis sekolah yang memiliki paras yang tidak menarik dan tidak memenuhi syarat perempuan cantik di sekolahnya. Ia kemudian memutuskan untuk melakukan operasi wajahnya secara total untuk berubah menjadi cantik dan dapat diterima oleh lingkungannya.

Sebenarnya cantik itu yang bagaimana sih? Masing-masing orang pasti punya pendapat sendiri tentang mendefinisikan kata cantik. Meskipun ada orang-orang yang berpendapat kecantikan fisik is numero uno, menurutku seseorang bisa terlihat sangat cantik ketika ia memiliki kharisma.

Seseorang bisa terlihat cantik luar biasa manakala ia perempuan yang cerdas, baik hatinya atau begitu passionate dalam menjalankan pekerjaannya. Mungkin ini yang disebut dengan inner beauty ya.

Again, sad but true, dalam kehidupan nyata masih banyak orang lain memandang kecantikan hanyalah dari fisik semata. Kita tidak bisa menyalahkan Joo Kyung yang melakukan make over habis-habisan dengan make up untuk wajahnya. Itu adalah salah satu wujud pertahanan dirinya agar diterima dan tidak lagi mendapat risakan dari teman-teman sekolahnya.

Mungkin yang bisa disalahkan adalah lingkungan dan teman-teman sekolah Joo Kyung yang begitu mendewakan kecantikan fisik, hingga lupa bahwa orang lain yang tidak seberuntung mereka juga memiliki perasaan dan hati yang tidak bisa disakiti seenak jidat. Bagaimanapun tindak pem-bully-an semacam ini jelas salah dan harus diproses lebih lanjut, sih! Tuh, jadi nge-gas deh kan?!

Padahal, bisa jadi ada seseorang yang mau menerima Joo Kyung apa adanya, Lee Soo Ho mungkin? Hehe. Selamat menonton "True Beauty" bagi yang tertarik!

Sukabumi, 11 Desember 2020

Selasa, 08 Desember 2020

Pergi ke Swiss, Koper Tertinggal di Jerman

Desember 08, 2020 23 Comments


Hari Minggu kemarin, aku bersama Erryn dan Evita baru merilis podcast Coffee and Pie Episode ke-2 mengenai travelling yang paling berkesan. Sebenarnya tidak harus cerita perjalanan keluar negeri, akan tetapi ternyata kami bertiga menceritakan pengalaman kami pergi keluar negeri.

Erryn menceritakan perjalanannya selama di Perancis bulan Maret lalu, Evita bercerita tentang pengalamannya mengunjungi Korea Selatan, Hongkong dan Macau, kemudian aku sendiri berbagi pengalaman saat berada di Swiss.

Dengarkan podcast Coffee and Pie Episode 2 :

Pengalamanku ke Swiss tujuh tahun silam memang sangat berkesan dan menjadi pengalaman yang pastinya tidak mudah (dan nggak mau juga) untuk dilupakan. Pertama kalinya aku menginjakan kaki di benua Eropa.

Dari banyaknya momen mengesankan selama di Swiss, dalam cerita kali ini aku ingin bercerita mengenai perjalananku dari Indonesia menuju ke Swiss.

Momen Keberangkatan

Di bulan September tahun 2013, aku dan seorang teman kampusku bernama Windi pergi untuk mewakili kampus Farmasi menghadiri symposium mahasiswa kesehatan internasional yang disebut "World Health Students Symposium" di Laussane, Swiss. Kami berdua berangkat dari bandara Soekarno-Hatta menggunakan maskapai Garuda Indonesia dan transit di dua tempat yaitu Singapura dan Frankfurt, Jerman.

Perjalanan dari Indonesia ke Singapura memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sementara perjalanan panjang kami dari Singapura menuju Frankfurt adalah sekitar 17 jam.

Ada cerita menarik saat barang-barangku diperiksa oleh petugas melalui mesin pemindai. Disana, semua isi tasku dibongkar dan petugas membuang satu botol Nuttela yang sengaja aku bawa untuk bekal. Haha kraaay~ baru beli, Bok! Masih disegel dan belum dibuka sama sekali.

Padahal sebelumnya, di bandara Soekarno-Hatta barang tersebut aman dan lolos pemeriksaan. Ada juga botol air softlensku yang dipertanyakan dan nyaris juga dibuang. Namun air softlensku masih bisa terselamatkan karena aku memang membutuhkannya.

Windi pun terpaksa harus membuang botol parfumnya yang padahal isinya sudah tinggal sedikit. Ketat banget pemeriksaan di Singapura, nggak pake ba-bi-bu begitu melihat ada yang tidak sesuai aturan langsung di-cemplung ke dalam tempat sampah.

Penerbangan kami ke Frankfurt menggunakan maskapai Lufthansa, memakan waktu yang sangat panjang yaitu hampir 17 jam di dalam pesawat. Itu adalah perjalanan terpanjangku selama hidup menggunakan pesawat terbang. Sebelumnya aku pernah pergi ke Korea Selatan namun jarak tempuhnya hanya kurang lebih 5-6 jam, tidak sampai belasan jam seperti saat ke Eropa.


Aku merasakan malam yang begitu lama, karena kami berangkat dari Singapura sekitar jam 11-12 malam dan selama dipesawat rasanya kok ya malam terus?! Hal ini tentunya dikarenakan adanya perbedaan waktu yany cukup jauh antara Indonesia (Asia) dengan Eropa.

Sesampainya di bandara Frakfurt, Jerman. Ada lagi nih problematika hidup, kacamataku hilang di pesawat. Aku dan Windi sampai menghabiskan waktu transit kami untuk mencari kacamataku di dalam pesawat yang akhirnya tidak ketemu. Daripada aku tertinggal pesawat lanjutan ke Swiss, lebih baik aku tinggalkan saja kacamataku itu. Huhu.

Memasuki bandara Frankfurt, aku dan Windi cukup terlena melihat betapa besar dan bagusnya bandara tersebut. Akamsi (anak kampung sini) pertama menyentuh Eropa rasanya senang bukan main! Kami melihat-lihat seisi bandara sampai lupa waktu kalau waktu kami tidak lagi banyak untuk lapor dan melanjutkan penerbangan.

Sumber : airport-airlines.com

Satu hal fatal yang tidak kami ketahui adalah bahwa bandara Frankfurt merupakan bandara terbesar keempat di Eropa. Tempat dimana kami melihat-lihat dan menikmati isi bandara ternyata masih sangat jauh dari tempat lapor dan check-in untuk transit. Hadooohh!

Panik luar biasa ketika kami berdua dengan terburu-buru menuju tempat transit karena waktu sudah mepet dengan penerbangan selanjutnya ke Swiss. Meski demikian, masih ada juga hal yang membuat kami sedikit terhibur yaitu saat melihat bahwa we're not alone. Banyak juga loh yang berlarian mengejar gate penerbangan mereka di bandara Frankfurt. Memang sebesar dan seluas itu, Guys!

Bahkan ada beberapa orang yang menyemangati kami untuk berlari lebih cepat. Haha. Semangat-semangat!

Sesampainya di pintu lapor untuk transit, kami melihat antrian yang astagfirullah! Puanjaaang bangeeeet, bikin mau nangis nggak rela kalau sampai harus ketinggalan pesawat piye iki?!

Kami berdua hanya bisa pasrah, berdo'a, cemas, khawatir, deg-degan dan pasrah lagi. Pemeriksaannya super ketat, setiap orang diperiksa satu per satu secara detail. Barang-barangnya pun demikian, semua isi tas dikeluarkan dan diletakkan untuk dipindai menggunakan X-Ray. Ya gimana nggak lama yekaan?

Drama berikutnya adalah petugas mempermasalahkan aku yang saat itu menggunakan softlens, beliau memerintahkanku untuk melepaskan softlensnya dan lagi-lagi hendak membuang air softlensku. Hishh~ Setelah aku beri keterangan bahwa kacamataku hilang dan aku butuh softlens beserta airnya untuk melihat dengan jelas akhirnya mereka meloloskanku juga.

Akhirnya, kami berdua bisa naik pesawat ke Swiss dengan tepat waktu. Perjalanan dilanjutkan masih menggunakan pesawat Lufthansa dan memakan waktu hanya sekitar 30-45 menit untuk sampai ke Geneva, Swiss.

Momen Kedatangan

Lega, bersyukur alhamdulillah karena bisa tiba dengan selamat di bandara Geneva, Swiss setelah perjalanan panjang nan melelahkan ini. Setelah melakukan lapor pada bagian imigrasi, kami ke ruang tempat mengambil bagasi.

Sumber : airport-airlines.com

Koper Windi tiba tidak lama setelah belt dinyalakan tapi, lagi-lagi drama nih, koperku tidak ada sampai koper terakhir di belt tersebut diambil bahkan sampai belt-nya berhenti berputar. Gusti, paringono sabaar~

Sebelumnya, aku sempat menandai bahwa hanya koper kami berdua ternyata yang dibungkus menggunakan plastik wrap dari Indonesia. Haha, orang lain mana ada yang pake begituan?!

Dengan wajah bingung namun tetap mencoba stay cool akhirnya aku melaporkan koperku yang tidak ada pada petugas bandara. Surprisingly, mereka sangat ramah dan melayaniku dengan sangat baik. Ya memang harusnya gitu sih. Hehe.

Seorang petugas bandara menanyaiku identitas, paspor dan beberapa hal terkait koperku seperti warna, bentuk serta isi di dalamnya apakah ada benda tajam atau serbuk-serbuk atau senjata api. Setelah semua pertanyaan yang diajukan aku jawab, petugas tersebut memberiku informasi kalau koperku masih ada di Frankfurt dan akan diikutkan dalam penerbangan selanjutnya sekitar satu jam lagi.

Beliau memintaku untuk menuliskan alamat dan berkata bahwa koperku akan dikirimkan langsung ke alamat tersebut, namun jika aku mau menunggu juga dipersilahkan. Petugas wanita tersebut juga meminta maaf dan berkata padaku untuk tidak khawatir karena ia memastikan koperku akan sampai ketanganku dengan selamat.

Aku yang clueless di negara orang akhirnya memutuskan untuk menunggu koperku sampai tiba dan akan kubawa langsung ke Laussane. Lagipula, aku dan Windi masih menunggu orang dari kampus CHUV untuk menjemput kami di bandara.


Satu jam kemudian, tidak lebih dan tidak kurang akhirnya pesawat dari Frankfurt kembali mendarat dan benar saja koperku ada bersama dengan barang bagasi milik orang-orang dalam penerbangan tersebut. Fyuh~

Unforgettable moment

Pengalaman ketinggalan bagasi ini menjadi momen yang tidak akan terlupakan meski sudah lewat bertahun-tahun lalu. Aku salut sekali dengan kerja petugas bandara yang responsif dan bertanggung jawab.

Sepulangnya ke Indonesia, justru temanku Windi yang mengalami kejadian kurang menyenangkan dimana saat tiba di negara sendiri yaitu Indonesia Raya, kopernya dibobol oknum-oknum bandara Soekarno-Hatta dan beberapa barang berharganya hilang. Setelah mengajukan komplain pun, tidak ada tanggapan yang berarti hingga hari ini. Wow! It's been 7 years already!

Kecewa, sedih dan marah. Melihat bagaimana perbedaan yang sangat jauh dari pelayanan petugas bandara di Swiss dan Indonesia. Sad but true, tinggal di negara maju itu memang sebuah privilege, ya berbeda dengan hidup di negara yang masih berkembang.

Aku kurang paham apakah sekarang oknum-oknum pembobol koper di bandara Indonesia sudah dibasmi atau belum. Namun, semoga saja Indonesia akan semakin meningkatkan kualitas pelayanannya di bandara-bandara seluruh penjuru tanah air.

Sukabumi, 8 Desember 2020

Sabtu, 05 Desember 2020

Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas, Tantangan Hari Ke-10

Desember 05, 2020 0 Comments

    


Hari ini adalah hari ke-10 menuliskan jurnal tantangan 15 hari dari zona keempat di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil dengan menuliskan jurnal seperti ini. Banyak juga hal yang bisa menjadi refleksi pembelajaran maupun menyimpan kenang-kenangan dalam membersamai anak selama ini.

Aku memang masih baru sebagai orang tua, perjalananku baru dua tahun lebih satu bulan dalam membersamai anak. Namun, semoga dengan menuliskan jurnal-jurnal harian ini, meskipun untuk menyelesaikan tantangan kelas Bunda Sayang Ibu Profesional, aku harap banyak pelajaran yang bisa aku simpan di dalam tulisanku sehingga ke depannya aku bisa mengambil manfaat dan belajar dari pengalamanku hari ini.

Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas - Tantangan Hari Ke-10



Nama : Dipta

Aktivitas Hari Ini : Move the Truck

Proses Kreativitas :


Hari ini, Dipta bermain koleksi truk mini miliknya. Sebenarnya truk tersebut sudah tersimpan dengan rapi di rak mainannya namun ia bolak balik memindahkan truk tersebut sambil menghitungnya. Kegiatan ini termasuk dalam open-ended play karena tidak ada aturan main dan anak bebas bermain sesuai dengan imajinasinya.

Tujuan Belajar :

IC (Intelectual Curiosity)
- Penasaran untuk menjalankan truknya di sisi rak mainannya, kemudian menjalankannya di bagian tengah rak untuk mengambil perbandingan.
- Penasaran untuk menghitung berapa jumlah truk yang ia miliki dengan cara menghitungnya bolak-balik.

CI (Creative Imagination)
- Memikirkan dan membayangkan truk tersebut berjalan di jalan yang sebenarnya atau membayangkan sesuatu mengenai cara kerja dan cara truk berjalan sesuai dengan imajinasinya.

AD (Art of Discovery)
- Menemukan bahwa mainan truknya berjumlah 5 buah setelah menghitung berulang kali.
- Menemukan bahwa truk mainannya bukan hanya dapat dijalankan di lantai tapi juga di permukaan bidang lain.

NA (Noble of Attitude)
- Tidak melempar-lempar mainan truknya.
- Kembali menyimpan mainannya ke tempatnya seperti sedia kala.

Refleksi :
Dipta sangat senang melakukan kegiatan ini. Dari yang aku amati, ia memang sedang senang bermain menggunakan mainan transportasi yang termasuk alat berat juga sedang senang-senangnya berhitung. Kegiatan ini cocok sekali untuk mengembangkan kreativitas dan imajinasinya.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#harike10
#tantangan15hari
#zona4gayabelajarstimulasikreativitas
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Jumat, 04 Desember 2020

Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas, Tantangan Hari Ke-9

Desember 04, 2020 0 Comments

   


Hari ini adalah hari ke-9 menuliskan jurnal tantangan 15 hari dari zona keempat di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Pada tulisan kali ini, aku ingin kembali merangkum materi yang baru diberikan oleh Kakawi dua hari lalu mengenai Manfaat Berpikir Kritis.

Dengan membiasakan dan melatih anak untuk berpikir kritis sejak dini, manfaat yang akan didapatkan di kemudian hari adalah sebagai berikut :

1. Membiasakan keterbukaan pada berbagai informasi pada anak.
2. Berpikir kritis adalah salah satu keterampilan di abad ke-21.
3. Anak terbiasa melakukan kegiatan yang ia tahu apa tujuan dan manfaat dari aktivitas tersebut.
4. Membiasakan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri terlebih dahulu sebelum meminta bantuan pada orang lain.
5. Memantik rasa ingin tahu anak.

Yuk, kita semangat untuk menanamkan dan membiasakan anak dalam berpikir kritis!

Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas - Tantangan Hari Ke-9



Nama : Dipta

Aktivitas Hari Ini : Shape School (Open-ended Play)

Proses Kreativitas :

Betah sekali bermain bentuk

Hari ini, Dipta bermain menggunakan mainan bentuk (nggak tau namanya apa itu mainan). Mainan ini sebenarnya dimainkan seperti puzzle dimana kita harus memasukkan lubang yang ada pada bentuk ke dalam kayu yang sudah disusun sesuai dengan bentuknya masing-masing.

Berbeda dengan kegiatan sebelumnya, aku membiarkan Dipta bermain open-ended play dimana tidak ada aturan main yang harus dilakukan dan anak dapat bermain bebas sesuai dengan kreativitas serta imajinasinya.

Tujuan Belajar :

IC (Intelectual Curiosity)
- Penasaran ingin mengulik mainan bentuk-bentuknya dengan menjadikannya kereta-keretaan atau disusun menjadi menara dengan menumpuknya hingga tinggi.
- Penasaran apakah mainan tersebut dapat berfungsi menjadi benda lain sesuai dengan apa yang ia pikirkan.

CI (Creative Imagination)
- Memikirkan dan membayangkan bagaimana caranya mainan bentuk-bentuknya tersebut dapat dijadikan berbagai macam benda yang ia bayangkan.

AD (Art of Discovery)
- Menemukan bahwa mainan bentuknya dapat dibuat menjadi kereta, menara ataupun bentuk lain sesuai dengan imajinasinya.

NA (Noble of Attitude)
- Tidak melempar-lempar mainan bentuknya.
- Memintaku untuk ikut bermain bersamanya dengan cara yang baik-baik.

Refleksi :
Dipta sangat menikmati kegiatan ini. Konsentrasinya panjang sekali ketika mengutak-atik mainan bentuk-bentuknya tersebut. Ia menggunakan imajinasinya untuk membentuk kereta, mobil atau menara dari mainan bentuk tersebut.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#harike9
#tantangan15hari
#zona4gayabelajarstimulasikreativitas
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Kamis, 03 Desember 2020

Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas, Tantangan Hari Ke-8

Desember 03, 2020 0 Comments

  

Hari ini adalah hari ke-8 menuliskan jurnal tantangan 15 hari dari zona keempat di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Pada tulisan kali ini, aku ingin kembali merangkum materi yang baru diberikan oleh Kakawi dua hari lalu mengenai Berpikir Kritis.

Albert Einstein pernah mengatakan kalimat yang menurutku sangat bagus dan ngena,
Curiosity is the forerunner of discovery
Adanya rasa penasaran ini akan membuat anak berpikir, berpikir dengan jalannya masing-masing dan apabila anak dapat berpikir kritis dan melihat sesuatu melalui sudut pandang yang tidak biasa, bisa jadi mereka melakukan penemuan dari buah pemikiran mereka.
 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu atau menimbang-nimbang dalam ingatan.

Sedangkan berpikir kritis adalah suatu bentuk cara berpikir tentang sebuah subjek, isi atau permasalahan dimana pemikir berupaya untuk meningkatkan kualitas dan kemampuannya dalam memutuskan sebuah struktur baru yang memunculkan ide baru tentang apa yang dipikirkan (Paul & Elder, 2002).

Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas - Tantangan Hari Ke-8



Nama : Dipta

Aktivitas Hari Ini : Pompom Transfering

Proses Kreativitas :


Tadi malam, Dipta memasukkan semua mainannya ke dalam ember. Pagi ini, aku mengajaknya untuk membereskan kembali mainannya ke tempatnya semula, termasuk pompom miliknya. Aku mencoba memintanya untuk memindahkan pompom dari dalam ember ke wadah lain menggunakan sendok. Ternyata ia menikmati aktivitas tersebut.

Tujuan Belajar :

IC (Intelectual Curiosity)
- Penasaran ingin menyelesaikan misi memindahkan pompom dari dalam ember ke dalam wadah tempat pompom yang sebenarnya.
- Memilih menggunakan sendok untuk memindahkan pompom dibandingkan dengan mengambil langsung dengan tangan.

CI (Creative Imagination)
- Memikirkan dan membayangkan bagaimana caamya pompom dari dalam ember bisa dipindahkan ke wadah lain.
- Secara tidak langsung membayangkan perbedaan ukuran yaitu besar (ember) dan kecil (wadah pompom).

AD (Art of Discovery)
- Menemukan bahwa sendok bisa digunakan untuk memindahkan benda-benda selain makanan.
- Mengamati dan mencoba bahwa benda yang lebih besar-besar tidak dapat dipindahkan menggunakan sendok (misal truk mainannya).

NA (Noble of Attitude)
- Menggunakan sendok dengan baik dan benar.
- Tidak melempar-lempar barang.
- Meletakkan kembali wadah pompom ke rak mainan setelah semua pompom dipindahkan dari dalam ember.

Refleksi :
Dipta sangat menikmati kegiatan ini. Tanpa dipaksa ia mau melakukan kegiatan pompom transfering yang sebenarnya bertujuan untuk membereskan pompomnya ke tempat semula. Hehe.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#harike8
#tantangan15hari
#zona4gayabelajarstimulasikreativitas
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Rabu, 02 Desember 2020

Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas, Tantangan Hari Ke-7

Desember 02, 2020 0 Comments

 


Hari ini adalah hari ke-7 menuliskan jurnal tantangan 15 hari dari zona keempat di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Tidak terasa sudah setengah perjalanan untuk menuntaskan misi di zona keempat ini.

Sebagai orang tua yang sedang menghadapi anak usia 2 tahun, dimana terkenal dengan sebutan terrible two, saat ini aku merasa tertantang untuk bisa terus membersamai anakku dalam fase otonominya yang sedang luar biasa ini.

Butuh pikiran yang jernih serta merendahkan ekspektasi serendah mungkin saat mengajaknya bermain dan bereksplorasi. Aku juga masih sangat harus belajar untuk melihat apa yang sedang ia lakukan dari kacamatanya, bukan sebagai diriku orang tuanya.

Meskipun terkadang harapanku tidak sesuai dengan apa yang terjadi, namun sering juga aku menemukan anakku bisa melakukan hal-hal yang justru diluar dugaanku. Semoga aku bisa terus membersamainya di periode emasnya ini.

Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas - Tantangan Hari Ke-7



Nama : Dipta

Aktivitas Hari Ini : Menata Sayuran

Proses Kreativitas :


Pagi ini, Dipta berinisiatif mengerjakan food preparation atau kegiatan menyusun dan menata sayuran ke dalam wadah sebelum dimasukkan dan disimpan ke dalam kulkas. Adapaun kegiatan ini ia lakukan berdasarkan inisiatifnya sendiri setelah menemani aku membeli sayur di depan rumah.

Tujuan Belajar :

IC (Intelectual Curiosity)
- Penasaran ingin menata sayuran di dalam wadah sama seperti yang biasa aku lakukan.
- Meningkatkan rasa keingintahuannya terhadap nama-nama sayuran yang ia susun.

CI (Creative Imagination)
- Memikirkan dan membayangkan bagaimana tata letak sayuran-sayuran tersebut sehingga bisa masuk semua ke dalam wadah.
- Secara tidak langsung membayangkan bentuk dan bangun ruang.

AD (Art of Discovery)
- Mengamati bentuk-bentuk sayuran tersebut, menyebutkan masing-masing nama sayurannya.
- Menemukan bagaimana posisi sayuran yang tepat agar bisa muat diletakkan di dalam wadah.

NA (Noble of Attitude)
- Meletakkan sayuran pada wadahnya dengan baik dan benar serta tidak melempar-lemparnya.
- Membuka kulkas dengan hati-hati dan memasukkan sayuran yang telah ditata ke dalam kulkas dengan baik. 

Refleksi :
Dipta sangat menikmati kegiatan ini. Ia dengan gembira mengulangi kegiatan memasukkan, menata sayuran ke dalam wadah kemudian mengeluarkannya kembali. Kegiatan ini bagus untuk latihan kemandirian atau EPL.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#harike7
#tantangan15hari
#zona4gayabelajarstimulasikreativitas
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Selasa, 01 Desember 2020

Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas, Tantangan Hari Ke-6

Desember 01, 2020 0 Comments

Hari ini adalah hari ke-6 menuliskan jurnal tantangan 15 hari dari zona keempat di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Kali ini, materi yang akan aku rangkum dari apa yang telah disampaikan oleh Kakawi kami di awal sebelum tantangan di mulai adalah tentang cara berpikir kreatif.

Ada tiga cara yang dapat orang tua lakukan pada saat mendampingi anak-anak agar mereka dapat berpikir kreatif,

Pertama adalah dengan mengubah fokus dan menggeser sudut pandang kita. Ketika mendampingi anak-anak, kita butuh melihat mereka dari perspektif yang berbeda. Kita harus mencoba melihat sisi kreatif yang sedang anak-anak tunjukkan saat sedang berkegiatan.

Kedua, jangan membuat asumsi yang macam-macam. Kadang, ketika anak-anak melakukan suatu hal yang menurut kita tidak wajar atau tidak biasa, pikiran sudah melanglang buana kemana-mana. Sebaiknya, yang kita sebabagi orang tua lakukan adalah banyak bertanya untuk mengumpulkan jawaban dari pertanyaan mengapa yang ada di dalam benak kita.

Terakhir, membuka kotak pemikiran kita. Jangan membatasi kreativitas dan kegiatan anak hanya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang sudah pernah kita lakukan sebelumnya. Ada baiknya kita mengikuti ide yang berasal dari pemikiran anak-anak.

Gaya Belajar dan Stimulasi Kreativitas - Tantangan Hari Ke-6



Nama : Dipta

Aktivitas Hari Ini : Mengenal Bentuk

Proses Kreativitas :

Semangat lompat ke dalam bentuk

Aku membuat beberapa bentuk seperti segitiga, kotak, oval, lingkaran dan persegi panjang di lantai menggunakan lakban. Kemudian, kami belajar mengenal bentuk-bentuk yang ada di lantai rumah.

Tujuan Belajar :

IC (Intelectual Curiosity)
- Membuat anak penasaran akan ragam bentuk yang bervariasi.

CI (Creative Imagination)
- Memikirkan dan membayangkan benda-benda di rumah yang memiliki bentuk menyerupai bentuk yang ada di lantai.

AD (Art of Discovery)
- Mengamati bentuk-bentuk tersebut, menyebutkan masing-masing nama bentuknya.

NA (Noble of Attitude)
- Bermain dengan mengucapkan bismillah sebelum memulai kegiatan dan mengakhirinya dengan alhamdulillah.
-  Bermain dengan tertib dan tidak melompat-lompat atau berlarian secara berlebihan sehingga membahayakan.

Refleksi :
Dipta sangat menikmati kegiatan ini. Selain mengenal bentuk, ia juga senang karena dapat belajar sambil bergerak aktif.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#harike6
#tantangan15hari
#zona4gayabelajarstimulasikreativitas
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia