Selasa, 08 Desember 2020

Pergi ke Swiss, Koper Tertinggal di Jerman



Hari Minggu kemarin, aku bersama Erryn dan Evita baru merilis podcast Coffee and Pie Episode ke-2 mengenai travelling yang paling berkesan. Sebenarnya tidak harus cerita perjalanan keluar negeri, akan tetapi ternyata kami bertiga menceritakan pengalaman kami pergi keluar negeri.

Erryn menceritakan perjalanannya selama di Perancis bulan Maret lalu, Evita bercerita tentang pengalamannya mengunjungi Korea Selatan, Hongkong dan Macau, kemudian aku sendiri berbagi pengalaman saat berada di Swiss.

Dengarkan podcast Coffee and Pie Episode 2 :

Pengalamanku ke Swiss tujuh tahun silam memang sangat berkesan dan menjadi pengalaman yang pastinya tidak mudah (dan nggak mau juga) untuk dilupakan. Pertama kalinya aku menginjakan kaki di benua Eropa.

Dari banyaknya momen mengesankan selama di Swiss, dalam cerita kali ini aku ingin bercerita mengenai perjalananku dari Indonesia menuju ke Swiss.

Momen Keberangkatan

Di bulan September tahun 2013, aku dan seorang teman kampusku bernama Windi pergi untuk mewakili kampus Farmasi menghadiri symposium mahasiswa kesehatan internasional yang disebut "World Health Students Symposium" di Laussane, Swiss. Kami berdua berangkat dari bandara Soekarno-Hatta menggunakan maskapai Garuda Indonesia dan transit di dua tempat yaitu Singapura dan Frankfurt, Jerman.

Perjalanan dari Indonesia ke Singapura memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sementara perjalanan panjang kami dari Singapura menuju Frankfurt adalah sekitar 17 jam.

Ada cerita menarik saat barang-barangku diperiksa oleh petugas melalui mesin pemindai. Disana, semua isi tasku dibongkar dan petugas membuang satu botol Nuttela yang sengaja aku bawa untuk bekal. Haha kraaay~ baru beli, Bok! Masih disegel dan belum dibuka sama sekali.

Padahal sebelumnya, di bandara Soekarno-Hatta barang tersebut aman dan lolos pemeriksaan. Ada juga botol air softlensku yang dipertanyakan dan nyaris juga dibuang. Namun air softlensku masih bisa terselamatkan karena aku memang membutuhkannya.

Windi pun terpaksa harus membuang botol parfumnya yang padahal isinya sudah tinggal sedikit. Ketat banget pemeriksaan di Singapura, nggak pake ba-bi-bu begitu melihat ada yang tidak sesuai aturan langsung di-cemplung ke dalam tempat sampah.

Penerbangan kami ke Frankfurt menggunakan maskapai Lufthansa, memakan waktu yang sangat panjang yaitu hampir 17 jam di dalam pesawat. Itu adalah perjalanan terpanjangku selama hidup menggunakan pesawat terbang. Sebelumnya aku pernah pergi ke Korea Selatan namun jarak tempuhnya hanya kurang lebih 5-6 jam, tidak sampai belasan jam seperti saat ke Eropa.


Aku merasakan malam yang begitu lama, karena kami berangkat dari Singapura sekitar jam 11-12 malam dan selama dipesawat rasanya kok ya malam terus?! Hal ini tentunya dikarenakan adanya perbedaan waktu yany cukup jauh antara Indonesia (Asia) dengan Eropa.

Sesampainya di bandara Frakfurt, Jerman. Ada lagi nih problematika hidup, kacamataku hilang di pesawat. Aku dan Windi sampai menghabiskan waktu transit kami untuk mencari kacamataku di dalam pesawat yang akhirnya tidak ketemu. Daripada aku tertinggal pesawat lanjutan ke Swiss, lebih baik aku tinggalkan saja kacamataku itu. Huhu.

Memasuki bandara Frankfurt, aku dan Windi cukup terlena melihat betapa besar dan bagusnya bandara tersebut. Akamsi (anak kampung sini) pertama menyentuh Eropa rasanya senang bukan main! Kami melihat-lihat seisi bandara sampai lupa waktu kalau waktu kami tidak lagi banyak untuk lapor dan melanjutkan penerbangan.

Sumber : airport-airlines.com

Satu hal fatal yang tidak kami ketahui adalah bahwa bandara Frankfurt merupakan bandara terbesar keempat di Eropa. Tempat dimana kami melihat-lihat dan menikmati isi bandara ternyata masih sangat jauh dari tempat lapor dan check-in untuk transit. Hadooohh!

Panik luar biasa ketika kami berdua dengan terburu-buru menuju tempat transit karena waktu sudah mepet dengan penerbangan selanjutnya ke Swiss. Meski demikian, masih ada juga hal yang membuat kami sedikit terhibur yaitu saat melihat bahwa we're not alone. Banyak juga loh yang berlarian mengejar gate penerbangan mereka di bandara Frankfurt. Memang sebesar dan seluas itu, Guys!

Bahkan ada beberapa orang yang menyemangati kami untuk berlari lebih cepat. Haha. Semangat-semangat!

Sesampainya di pintu lapor untuk transit, kami melihat antrian yang astagfirullah! Puanjaaang bangeeeet, bikin mau nangis nggak rela kalau sampai harus ketinggalan pesawat piye iki?!

Kami berdua hanya bisa pasrah, berdo'a, cemas, khawatir, deg-degan dan pasrah lagi. Pemeriksaannya super ketat, setiap orang diperiksa satu per satu secara detail. Barang-barangnya pun demikian, semua isi tas dikeluarkan dan diletakkan untuk dipindai menggunakan X-Ray. Ya gimana nggak lama yekaan?

Drama berikutnya adalah petugas mempermasalahkan aku yang saat itu menggunakan softlens, beliau memerintahkanku untuk melepaskan softlensnya dan lagi-lagi hendak membuang air softlensku. Hishh~ Setelah aku beri keterangan bahwa kacamataku hilang dan aku butuh softlens beserta airnya untuk melihat dengan jelas akhirnya mereka meloloskanku juga.

Akhirnya, kami berdua bisa naik pesawat ke Swiss dengan tepat waktu. Perjalanan dilanjutkan masih menggunakan pesawat Lufthansa dan memakan waktu hanya sekitar 30-45 menit untuk sampai ke Geneva, Swiss.

Momen Kedatangan

Lega, bersyukur alhamdulillah karena bisa tiba dengan selamat di bandara Geneva, Swiss setelah perjalanan panjang nan melelahkan ini. Setelah melakukan lapor pada bagian imigrasi, kami ke ruang tempat mengambil bagasi.

Sumber : airport-airlines.com

Koper Windi tiba tidak lama setelah belt dinyalakan tapi, lagi-lagi drama nih, koperku tidak ada sampai koper terakhir di belt tersebut diambil bahkan sampai belt-nya berhenti berputar. Gusti, paringono sabaar~

Sebelumnya, aku sempat menandai bahwa hanya koper kami berdua ternyata yang dibungkus menggunakan plastik wrap dari Indonesia. Haha, orang lain mana ada yang pake begituan?!

Dengan wajah bingung namun tetap mencoba stay cool akhirnya aku melaporkan koperku yang tidak ada pada petugas bandara. Surprisingly, mereka sangat ramah dan melayaniku dengan sangat baik. Ya memang harusnya gitu sih. Hehe.

Seorang petugas bandara menanyaiku identitas, paspor dan beberapa hal terkait koperku seperti warna, bentuk serta isi di dalamnya apakah ada benda tajam atau serbuk-serbuk atau senjata api. Setelah semua pertanyaan yang diajukan aku jawab, petugas tersebut memberiku informasi kalau koperku masih ada di Frankfurt dan akan diikutkan dalam penerbangan selanjutnya sekitar satu jam lagi.

Beliau memintaku untuk menuliskan alamat dan berkata bahwa koperku akan dikirimkan langsung ke alamat tersebut, namun jika aku mau menunggu juga dipersilahkan. Petugas wanita tersebut juga meminta maaf dan berkata padaku untuk tidak khawatir karena ia memastikan koperku akan sampai ketanganku dengan selamat.

Aku yang clueless di negara orang akhirnya memutuskan untuk menunggu koperku sampai tiba dan akan kubawa langsung ke Laussane. Lagipula, aku dan Windi masih menunggu orang dari kampus CHUV untuk menjemput kami di bandara.


Satu jam kemudian, tidak lebih dan tidak kurang akhirnya pesawat dari Frankfurt kembali mendarat dan benar saja koperku ada bersama dengan barang bagasi milik orang-orang dalam penerbangan tersebut. Fyuh~

Unforgettable moment

Pengalaman ketinggalan bagasi ini menjadi momen yang tidak akan terlupakan meski sudah lewat bertahun-tahun lalu. Aku salut sekali dengan kerja petugas bandara yang responsif dan bertanggung jawab.

Sepulangnya ke Indonesia, justru temanku Windi yang mengalami kejadian kurang menyenangkan dimana saat tiba di negara sendiri yaitu Indonesia Raya, kopernya dibobol oknum-oknum bandara Soekarno-Hatta dan beberapa barang berharganya hilang. Setelah mengajukan komplain pun, tidak ada tanggapan yang berarti hingga hari ini. Wow! It's been 7 years already!

Kecewa, sedih dan marah. Melihat bagaimana perbedaan yang sangat jauh dari pelayanan petugas bandara di Swiss dan Indonesia. Sad but true, tinggal di negara maju itu memang sebuah privilege, ya berbeda dengan hidup di negara yang masih berkembang.

Aku kurang paham apakah sekarang oknum-oknum pembobol koper di bandara Indonesia sudah dibasmi atau belum. Namun, semoga saja Indonesia akan semakin meningkatkan kualitas pelayanannya di bandara-bandara seluruh penjuru tanah air.

Sukabumi, 8 Desember 2020

23 komentar:

  1. Kok aku ikutan keseeeeeel ya baca yg trakhir :(. Krn aku juga rutin traveling, dan syukurnya baru sekali ngerasain bagasi dibuka paksa, tapi syukurnyaaaa ga ada yg ilang sih mba. Aku jg ga ngerti kenapa mereka buka bungkusan oleh2 yg aku masukin ke bagasi. Kenapa aku tau itu dibongkar, ya Krn letaknya berubah dari yg awal aku foto. Kalo tdnya semua aku taro dlm posisi tidur, pas dibuka udh berdiri semua posisi nya. Sampe2 kotak bakpia aku itung ulang isinya, ada yg diambil ato ga. Kalo ada mau aku sumpahin tipus

    Kebiasaan memang oknum bandara ini. Mafia2 yg hrs diciduk sih.


    Aku kangeeeeeen baca perjalanan ke eropanya mba:D. Kangen kesana lagi. Trakhir aku ke Berlin, juga naik lufthansa dan transit di Frankfurt :p. Tapi mungkin Krn aku lgs ke Berlin jd ga heboh2 amat panjang antrian :p.

    Sempet juga transit di Munchen pas ke Bulgaria. Tp ini jg biasa aja, ga terlalu rame lah.

    Cm tetep sih perjalanan paling berkesan buatku, pas ke Korea Utara sept 2019 lalu dan cobain bungee jumping di macau tower :D. Pengen lagi :p. Nth kapanlah ini kita bisa traveling secara normal yaaa :(

    BalasHapus
  2. Iya mba betul kecewa bgt ya kalo bagasi sampe di oprek2 gitu. Yg bikin makin sedih sih karena malah kejadian'y d negara sendiri dan maskapai dalam negeri juga. Yaampuuunn~

    Waktu itu oleh2 dan barang berharga saya masukin ransel yang dibawa kabin. Kalau teman saya kebetulan belanja oleh2 agak banyak, jd sebagian dy masukin koper. Eh malah hilang, sampe softlens dan air softlens'y aja diambil. Heu..

    Wahh seru banget Mba udah pernah jalan2 ke banyak tempat 😀 asyik ya udh pernah ke Korut segala. Emang pasti tak terlupakan lah itu..

    Semoga pandemi segera berlalu, emang dah kangen berat ini para traveller bisa jalan2 dgn tenang dan bahagia..

    BalasHapus
  3. Wah,pasti dah pusing ya kalau koper ga ada..untung cuma sejam dah ketemu akhirnya
    Btw, imigrasi memang begitu,diobok-obok dah koper kita..aku pas di Amerika karena isinya cuma baju jadi aman, teman kuliah suami yang berangkat sebelum kami, rendang 5 kg dibuang...nyesek!
    Kalau oknum bandara memang (dulu) parah..denger-denger sekarang dah lumayan.
    Kalau aku, barang pindahan dari Amerika 14 box lewat kontainer laut dari 2011 melayang...di pabean sini tertahan..ga nyampe hingga kini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astagfirullah! Itu rendang kenapa lah dibuang? Hiks, mending kalau nggak memenuhi syarat dibagi-bagi ke yang lain kek. Makanan kan ya sayang banget tuh! Yaampun, udah lama banget ya Mba Dian itu, terus nggak ada barang berharganya? Kira2 gara2 apa bisa seperti itu, Mba?

      Hapus
  4. Hadeuhh, drama traveling memang adaaaa aja yaaa
    petugas bandara (sebagian) emang suka jutek dan yaa gitu deh, banyak aturan banget!
    semoga 2021 kita bisa traveling around the world lagi yaaakkkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. udah lama bener nggak main jauhan dikit. hehe..

      Hapus
  5. Masya Allah menakjubkan sekali petualangannya, ikutan deg2an waktu lari2 di bandara Frankfurt dan ketinggalan bagasi, gak kebayang ya seru, panik, deg2an jadi satu. Semoga suatu saat nanti bisa berkesempatan mengunjungi Eropa. Oh ya mbak, ikutan prihatin saat koper temannya di bobol, tidak menyangka ternyata kasus seperti itu masih ada dan belum terselesaikan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya mba, dulu sih nggak mikir serunya, yang dipikir gimana cara supaya nggak ketinggalan pesawat dan koper bisa tiba dengan selamat. Sempet suudzon juga karena baru pertama kali kejadian koper tertinggal pesawat, kalau di Indonesia mungkin udah nggak jelas tu nasip koper saya. Tapi, bagus banget penanganan dar petugas bandara Swiss, cepat dan terpercaya.

      Nah, itu dia! Pas pulang ke Indonesia kok malah dikecewakan sama negara sendiri kan sedih banget yaa..

      Hapus
  6. Seru ya ceritanya. Menyenangkan sekali bisa ke Swiss mewakili kampus, pasti senang banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba, menyenangkan sekali sampe gbsa move on. Dulu belum doyan ngeblog jadi baru sekarang ditulisnya. Haha

      Hapus
  7. Oh ya ampuuun. Jadi ikut kesel baca ceritanya, justru di negara sendiri kena bobol. Prihatin, Mbak.

    Salut sama petugas bandara di luar negeri yang ngurusin koper. Omong-omong saya masih gak habis pikir itu koper kok bisa ketinggalan di Jerman ya. Yang penting udah ketemu dan selama di luar negeri juga perjalanannya lancar dan selamat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, di beberapa bandara yg super sibuk kata'y suka gitu memang. Nggak keangkut koper penumpang'y, d susulin sama pesawat berikut'y. tp tanggung jawab bgt siihh, ada temen disana kejadian'y sama, dy woles aja dan sampe beneran d anter ke penginapan itu koper meskipun beda kota.

      Hapus
  8. Waduuhh, deg-degan bacanya.
    Saya dong, ke luar kota aja naik kendaraan umum, degdegan mikirin barang bawaan.
    Apalagi naik pesawat dan koper masuk bagasi, tak henti berdoa, biar saya nyampe, koper juga ikutan nyampe, males banget kalau drama-dramaan di koper :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya Mbak, kdg emg ekspektasi gak sesuai sama kenyataan ya. Apalagi klo traveling tu ada ajaaa cerita unik'y

      Hapus
  9. Seru banget baca pengalaman traveling Mbak. Kalau saya ketinggalan koper di negara orang, udah nangis kali Mbak, wkwkwk. Bagian ngejar-ngejar gate itu kebayang banget deh serunya, soalnya pernah ngalamin juga,hihi

    BalasHapus
  10. wah mbak ima, kok seru gitu pengalamannya
    hehe
    jadi pengalaman yg tak terlupakan ya mbak

    BalasHapus
  11. Ikut deg-degan bacanya. Haha... Walau setiap perjalanan ada aja peluang drama ya Mbak, tetep aja nyenengin bepergian itu. Semoga si kopit lekas pergi. Biar bisa keliling lagi

    BalasHapus
  12. Perjalanan ke luar negeri emang ya deg-degan tapi ngangenin. Excited dengan waktu yg mepet, packing, nyari-nyari gate, dst. Emang sih, musti bawa ransel ke cabin, bawa cadangan baju sehari. Siapa tahu koper nyasar dulu ke mana gitu...

    BalasHapus
  13. wah meski sudah 7 tahun berlalu tapi kenangannya tak lekang oleh waktu ya.. wah turut kesel juga tuh mbak kalau koper dibobol gitu duh malu deh sama endonesa kalau begini

    BalasHapus
  14. Seru banget pengalamannya mbak, kebayang deg-degannya kayak apa waktu lari-lari hehehe.. Jadi penasaran detail cerita temennya mbak tentang kopernya

    BalasHapus
  15. Seru banget cerita perjalanannya mbak. Aku sampai bisa ikut merasakan kagumnya liat bandara terbesar, mbak yang udah biasa ke LN aja sampai terperangah apalagi aku yang naik pesawat aja belum pernah, kalau ke sana bener2 jadi akamsi level tertinggi keknya wkwk.

    Ikut deg2an juga waktu baca kalau kopernya ketinggalan. Alhamdulillah ketemu ya mbak. Ikut lega juga jadinya. Suka deh baca cerita2 perjalanan kek begini :)

    BalasHapus
  16. Ini horor banget yaa...
    Tapi setiap perjalanan yang penuh drama, kenangannya akan lebih mantul, alias tak terlupakan.
    Uwwh~
    Jadi pen ke Hogwart, ahhaha....jauhnyaaa.

    BalasHapus
  17. Ya Allah saya bacanya berasa kayak di lokasi ya mbak berada. Kalau tertinggal kacamata mungkin masih bisa diikhlaskan ya mbak. Kalau koper tertinggal haduuh aku pasti kebingungan nih

    BalasHapus