Feeding Frenzy

By Imawati A. Wardhani - November 04, 2019


Pernah mendengar judul tulisanku diatas? Feeding Frenzy adalah sebuah games PC dimana peran kita sebagai ikan yang kegiatannya adalah makan dan makan, tantangannya menghindari ikan besar agar tidak memakan kita. Permainan yang gitu-gitu saja tapi membuatku selalu memainkannya berulang kali.

Namun kali ini aku tidak akan bercerita lebih jauh tentang permainan Feeding Frenzy, aku ingin bercerita tentang betapa serunya Feeding Time with My Baby. Bagi semua ibu, memasuki masa pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI) menjadi masa-masa yang bikin ndredeg, semua hal terkait MPASI dicari tau. Segala teori dibaca untuk bekal eksekusi jika saatnya tiba nanti, belum lagi perburuan bahan-bahan serta peralatan yang semua ingin serba lengkap demi memberikan yang terbaik untuk si kecil.

Tidak berbeda jauh dengan diriku, aku pun mencari tau berbagai informasi mengenai MPASI mulai dari jadwal, menu, tips dan trik agar anak mau makan, aturan makan dan hal mendetail lainnya. Satu bulan sebelum hari H aku sudah mensupply otakku dengan teori-teori MPASI. Untuk peralatan aku tidak banyak membeli karena alhamdulillah kado-kado lahiran banyak yang bisa terpakai untuk makan anakku.

Hari-hari awal memberi makan membuatku sangat excited karena anakku terlihat antusias dan selalu menghabiskan makanannya. Teori-teori yang telah kupelajari sebelumnya langsung ku terapkan, makan dengan menu lengkap, porsi sesuai dengan yang telah tertulis diteori, jadwal teratur dan tanpa distraksi. Tapi ternyata memberi makan manusia tidak serupa dengan memberi makan ikan dalam permainan Feeding Frenzy.

Naluri anak yang selalu ingin bermain membuatnya tidak betah berlama-lama makan tanpa distraksi, berhubung dirumah mertua kami sekeluarga makan sambil menonton tv akhirnya anakku pun ikut makan bersama sambil menonton tv. Terkadang ia makan sambil memperhatikan tingkah sepupu-sepupunya saat bermain, atau duduk diteras sambil melihat kucing, ayam atau pun kendaraan yang berlalu lalang. Bisa juga ia duduk manis dibooster seatnya tanpa distraksi dan menghabiskan makanannya dalam sekejap.

Semakin besar ia pun semakin ingin mengenal rasa, saat usianya menginjak 10 bulan ia yang biasa makan makanan hambar (no gula no garam) tiba-tiba mogok makan. Diberikan bubur fortifikasi pun geleng-geleng. Suatu waktu kami pergi ke sebuah rumah makan dan aku memesan mushroom cream soup, saat ku coba menyuapkan padanya ternyata ia minta lagi dan lagi. Akhirnya, sejak saat itu teori no gulgar under 1 year old pun tidak berlaku lagi untuk anakku.

Hal lain yang tidak sesuai teori MPASI pada anakku adalah tekstur makanan, sejak awal MPASI aku selalu membuatkannya makanan yang diblender, meski pun banyak yang mengatakan kalau makannya diblender nanti susah naik tekstur. Kenyataannya, anakku memang susah naik tekstur dimana ia sama sekali tidak suka makan nasi lembek dan nasi tim. Tapi, diusianya yang 10 bulan ternyata ia menginginkan menu keluarga. Haha.. Tak disangka ia ingin langsung makan nasi. Prosesnya tidak mudah, awal makan nasi hanya beberapa suapan kecil beserta lauk-lauknya dimana satu suap saja mengunyahnya lamaaa sekali. Baru makan sedikit dia sudah geleng-geleng. Sempat membuatku hampir putus asa karena berat badannya yang tidak naik dalam bulan itu. Namun aku juga menghargai proses ia belajar mengunyah dengan gigi yang belum lengkap dan ingin makan seperti orang dewasa. Semakin hari progress makannya pun semakin baik, dan saat usianya belum menginjak 1 tahun ia sudah lancar makan makanan keluarga. Good job, baby!

Drama lain saat feeding time adalah saat ia semakin lincah dan aktif, dari yang penurut selalu duduk dikursi makannya dengan anteng kemudian berubah menjadi selalu ingin kabur ketika dipasangkan sabuk pengaman diatas kursi makannya, berteriak-teriak agar segera dibebaskan. Saat pengamannya dilepas, ia pun akan memanjat kursinya dan ingin turun 'berlarian' merangkak dilantai. Lucu tapi membuatku menahan emosi. Belum lagi jika makanan yang disajikan tidak sesuai dengan seleranya, sudah masuk mulut lalu dikeluarkan kembali, disembur-sembur hingga sendok berisi makanan pun ditangkisnya sampai tumpah kemana-mana. Jika sudah tak kuasa menahan emosi, aku akan mundur dan menenangkan diri sejenak, inhale-exhale dan kembali lagi menghadapinya.

Syukurnya hal seperti itu tidak terjadi setiap waktu karena lebih banyak hari-hari dimana anakku menjadi seorang happy eater, jika anak makan dengan lahap niscahya aku akan menjalani hariku dengan sungguh bahagia. Yakin, begitu pula dengan ibu-ibu diluar sana, ya kan?

Makan dulu, Guys!

Aku memang masih jauh dari kata sempurna dalam hal membesarkan anak menjadi seorang happy eater, namun ada beberapa tips yang ingin ku bagikan saat Feeding Time With Baby :

1. Berdo'a Sebelum dan Setelah Makan
Ajarkan anak kita untuk selalu berdo'a sebelum dan setelah makan, untuk mensyukuri rezeki-Nya dan mendapat keberkahan-Nya. Mommies, berdo'a juga agar feeding time berjalan dengan minim drama.

2. SABAR
SABAR adalah KUNCI UTAMA saat memberi makan anak. Sabar seluas samudera untuk menghadapi tingkah polah anak-anak kita saat makan, selalu ajarkan anak untuk makan dengan benar dan jangan terlalu cepat marah atau kecewa ketika si kecil tidak berlaku sesuai dengan ekspektasi kita. Ingatlah bahwa ia pun sedang belajar untuk bisa makan dengan benar dan baik, hargai proses tersebut. Percayalah pada si kecil.

3. Jangan Memaksa
Never ever memaksa, memarahi atau membentak anak untuk makan atau menghabiskan makanannya. Akan repot urusannya menangani anak yang trauma makan, lebih baik kembali ke poin ke 2 : SABAR. Anak juga memiliki selera seperti orang dewasa, bisa merasa cepat kenyang atau tidak mood makan juga layaknya orang tua. Kita lah yang harus menangkap sinyal tersebut karena si kecil belum bisa mengkomunikasikannya dengan kita.

4. Berikan Variasi
Sama seperti kita yang terkadang tidak ingin makan A atau B, pun dengan anak kita. Bukan berarti karena masih bayi jadi selalu diberikan makanan yang sama selama berhari-hari berturut-turut. Mereka bisa bosan juga. Ini terjadi pada anakku yang lama kelamaan bosan dengan bubur hingga akhirnya langsung memilih nasi sebagai makanan utamanya, tidak ingin menggunakan sendok kecilnya lagi dan langsung ingin makan dengan sendok yang sama sengan kedua orang tuanya.

Berikan anak variasi makanan, mulai dari tekstur hingga rasa. Alangkah baiknya jika sesekali ganti peralatan makannya agar lebih menarik.

5. Ciptakan Suasana Menyenangkan
Jangan membuat kesan bahwa waktu makan adalah waktu yang menakutkan, buatlah si kecil nyaman selama ia makan. Jika ia mulai terlihat bosan dan kurang antusias, ajaklah ia ngobrol dan hibur agar ia kembali bersemangat. Apabila memang ia tetap tidak mau makan setelah dihibur dengan berbagai macam cara, sudahi sesi makan dan lanjutkan kembali beberapa waktu kemudian.

6. DON'T GIVE UP!
This is so important! Jangan menyerah, jangan langsung pasrah ketika anak tidak mau makan atau tidak menghabiskan makanannya. Jika satu sesi makan dirasa "gagal", cobalah disesi makan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya. Jika masih belum berhasil, masih bisa dicoba keesokan harinya. I know that must be really hard and exhausted sometimes, tapi kita harus membangun energi positif untuk disalurkan pada anak. Teruslah optimis dan ber-positive thinking bahwa anak kita pasti akan menjadi seorang happy eater!

7. Sharing is Caring
Bercerita dan meminta saran/pendapat dari orang-orang terdekat juga bisa menjadi salah satu cara untuk mendapat tips seputar feeding time dari sudut pandang orang lain. Bukannya membanding-bandingkan dengan anak orang, namun bisa jadi tips dari orang tua lain dapat diterapkan ke anak kita.

Setelah mereview ketujuh tips tadi, sepertinya hal diatas juga menjadi self-reminder untukku sendiri saat memberi makan si kecil. Semoga tulisanku ini bermanfaat ya!

Sukabumi, 4 November 2019

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar