Rabu, 06 November 2019

Menuju Tahun Kedua


Dua tahun lalu, awal November 2017 tepatnya tanggal 4 November hari Sabtu, aku resmi dilamar oleh seseorang yang menjadi suamiku sekarang. Pernikahan kami berlangsung selang 2 bulan kemudian yaitu tanggal 14 Januari 2018. Tak terasa waktu bergulir hingga hampir 2 tahun berjalan.

Boleh dikatakan kehidupan pernikahan tidak semulus cerita-cerita dongeng dimana setelah menikah they live happily ever after. Tidak sedikit sifat mau pun karakter dari pasangan yang kadang bikin greget untuk ku komentari, mungkin demikian pula dengannya. Tidak jarang kami berdebat untuk hal-hal sepele sampai akhirnya kami lebih baik menyudahi sesi adu argumen dan mengganti topik pembicaraan lain karena menyadari "apaan sih ini gak penting banget yang didebatin,". Kadang aku merasa begitu kesal hingga malas rasanya mau ngobrol dengannya, tapi menyadari bahwa ia sekarang adalah suamiku buru-buru aku mengeyahkan perasaan itu dan selalu mencoba untuk membangun komunikasi yang efektif saat kami menghadapi masalah.

Setelah si kecil hadir diantara kami, kehidupan rumah tangga kami semakin berwarna. Pembahasan kami saat pillow talk lebih sering tentang bagaimana kegiatan si anak kecil hari itu disamping obrolan ringan lainnya. 

Photoshoot sesaat setelah prosesi lamaran

Waktu kami untuk berduaan setelah memiliki anak tentunya tidak sebanyak dulu sebelum anak kami lahir. Memutuskan untuk tidak membayar jasa nanny dan ART, kami berdua lah yang berbagi tugas mengurus anak dan rumah. Salah satu hal yang membuatku semakin bahagia bersamanya adalah ketika ia tidak ragu untuk membantu pekerjaan rumah, ia yang paham betul bahwa istrinya ini jijikan tanpa dikomando selalu rajin membereskan sampah setiap pagi dan rutin membersihkan kamar mandi. Tidak jarang pula ia membantu memasak, mencuci piring, baju dan menyapu serta ngepel rumah. Aku merasa sangat-sangat bersyukur, ketika diluar sana banyak berita tentang suami yang memperlakukan istrinya seperti pembantu, suamiku memperlakukanku seperti partnernya dalam bekerja.

Tugas pengasuhan anak pun tidak melulu aku yang melakukan, saat ayahnya ada dirumah, anakku justru lebih nempel dengannya ketimbang denganku. Mungkin karena sehari-hari si kecil selalu bersamaku, dia jadi ingin berada didekat ayahnya saat ada dirumah. Lagi-lagi aku bersyukur bisa melihat sweet moment diantara mereka, juga bersyukur karena aku bisa me time sebentar walau hanya sekedar mandi agak lama atau makan nambah tanpa khawatir ditangisi. Hehe..

Aku pun sebagai seorang istri yang menjalankan management rumah tangga selalu berusaha memberikan yang terbaik, memang masih jauh dari kata sempurna, banyak yang masih harus aku pelajari baik tentang suamiku, anakku mau pun pekerjaanku mengurus rumah. Aku ingin suami dan anakku kelak berterima kasih telah memiliki diriku, ini yang terus memotivasi agar aku terus rajin dan menyingkirkan rasa malas.

Hampir dua tahun, merupakan waktu yang masih singkat dalam perjalanan seumur hidup. Banyak harapan dan impian yang ingin kami capai kedepannya. Semoga kehidupan rumah tangga kami selalu diberkahi, dipenuhi rasa syukur dan dijauhkan dari segala bentuk masalah yang dapat merenggangkan kami hingga akhir waktu.

Sukabumi, 6 November 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar