Mom's Roller Coaster

By Imawati A. Wardhani - Desember 03, 2019



Pagi ini, my baby boy yang biasanya bangun tidur happy berubah menjadi susah sekali dikendalikan. Rutinitas pagi kami bangun tidur, jalan-jalan pagi, sarapan, mandi, bermain hingga ia mengantuk dan tidur lagi. Anak seumur dia senang dengan keteraturan, bukan? Entah mengapa pagi ini ia lalui dengan cranky, setelah papanya berangkat kerja dan aku mengajaknya jalan pagi setibanya dirumah ia sibuk minta gendong dan menangis. Kegiatan makan pun diselingi dengan tangisan karena ia ingin segera digendong. Aku pun tidak sempat menyantap sarapan pagi karena begitu akan menyendok makanan, tangisannya pecah membuat telingaku sakit. Dengan emosi, ku akhiri sesi makan pagiku yang bahkan belum sempat dimulai untuk kembali menggendongnya.

Ternyata banyak sekali emosi yang terkuras setelah melewati masa setahun menjadi ibu. Happy? Yes ofcourse, Sad? Sometimes, Frustation? Almost everyday, Angry? Hell to the yeah, dan emosi lain yang sulit dijabarkan dengan kalimat. Jika mengingat masa morning sickness saat hamil dan pedihnya jahitan caesar pasca melahirkan, rasanya itu semua belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan merawat dan membesarkan anak. Pernah sih membayangkan betapa rempong dan sulitnya mengasuh anak, tapi tidak terbayang akan serumit ini. This is my biggest challenge I've ever had! Tanggung jawabnya besar sekali sebagai orang tua karena akan dimintai pertanggung jawabannya langsung oleh Tuhan yang memilih kita sebagai ibu dan ayah.

Tak terhitung memang kebahagiaan yang didapat saat bisa melihatnya tumbuh dan berkembang hingga besar, namun tak terhitung juga banyaknya rasa sesak yang harus ditahan saat mengatur emosi menghadapi tingkah polahnya. Jadi bahagia sama emosinya tuh sebelas duabelas gitu, LOL! Salut sih, sama orang-orang yang memutuskan untuk memiliki banyak anak contohnya mertuaku yang punya 7 anak atau kakek nenekku yang anaknya 6, walau pun nggak tau juga bagaimana management emosi mereka melalui masa-masa membesarkan anak dulu. Jujur saja, hingga saat ini aku belum terpikir untuk memberi anakku adik karena aku sendiri masih merasa memiliki banyak sekali kekurangan dalam pengasuhan anak dan masih meraba-raba mencari bagaimana pola pengasuhan anak yang terbaik versiku.

Banyak hari-hari yang kulalui dengan gembira setiap saat bersama anakku jika ia menurut, tidak banyak menangis, makan dengan lahap dan bermain dengan ceria. Senang sekali bisa menemaninya seharian itu. Ada juga hari-hari dimana ia menjadi sulit dikendalikan seperti pagi ini misalnya saat sakit, tumbuh gigi, ogah-ogahan makan, tidak mau mendengarkan dan maunya digendong terus. Senangnya tetap ada, tapi dengan tambahan capek, lelah, mumet dan kesal yang jadi terasa. Kadang aku merasa bersalah saat marah padanya, saat merasa sebal dan kesal ketika menghadapinya, namun ada sisi pembelaan bahwa aku juga manusia yang bisa merasakan berbagai emosi. Dikira mentang-mentang statusnya ibu terus jadi robot yang tidak bisa merasakan roller coaster emosi?

Ada kalanya ketika suamiku pulang kerja, aku akan bercerita bagaimana bahagianya seharian karena anakku baru bisa melakukan sesuatu, tidak menangis saat aku mandi atau memasak, makan tanpa perlawanan dan bermain dengan gembira bersama mamanya. Namun, sering juga aku berkeluh kesah tentang anakku yang hari itu makannya dilepeh, susah disuruh tidur siang, maunya main sesuatu yang berbahaya dan menangis saat dilarang. Entah mana yang lebih banyak ku ungkapkan pada suamiku, yang jelas tidak jarang aku berkata bisa stress jika begini terus. Keesokan harinya, mood bisa berubah lagi mengikuti kelakuan bocah. What a life~

Aku sangat berharap bisa melewati roller coaster kehidupan sebagai ibu ini dengan tetap waras, membesarkan anakku sehingga ia menjadi sosok yang jauh lebih baik dari kami kedua orang tuanya. Stay strong menjadi anak mama ya, Kid! And I'll try to be your best mommy, too...

Sukabumi, 4 Desember 2019

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar