Jumat, 23 Oktober 2020

Drakorclass, Bukan Blog Drakor Biasa

Oktober 23, 2020 0 Comments

Kemarin, aku baru saja mengunggah tulisan berjudul Oppa Ganteng Penderita Mental Illness di halaman blog drakorclass.com. Tulisan tersebut adalah tulisan ke-2 setelah Drama Battle, Flower of Evil vs Two Weeks. Sekarang ceritanya aku punya kesibukan baru yaitu mengisi blog drakorclass.com.

Buat teman-teman yang membaca tulisan-tulisanku di blog, pasti sering menemukan tulisan dengan topik seputar drama Korea. Sebenarnya sudah sejak lama aku suka menonton drakor, namun tidak pernah terpikir sama sekali untuk menjadikannya sebagai bahan tulisan di blog. Setelah bertemu dengan teman-teman di WAG KLIP Drakor dan Literasi, aku jadi paham alasan banyaknya reviewer drama Korea yang malang melintang di internet.

Menulis sesuatu dari hal yang bagi kita menyenangkan itu menyenangkan sekali. Haha. Menulis mengenai film atau drama yang kita sukai membuat ide datang begitu saja dan jari jemari bisa dengan luwes menuliskan apa yang ada di dalam benak kita. Daebak!

Sedikit bercerita mengenai teman-teman di grup Drakor dan Literasi, mulanya kami membuat grup Whatsapp baru hanya karena kami sering sekali ngobrol hingga larut malam di grup besar Whatsapp KLIP. Berdasarkan asas sopan santun dan tidak enakan, akhirnya kami membuka lapak sendiri untuk ngobrol ngalor ngidul seputar drama Korea, aktor dan aktris Korea serta perK-Pop-an.

Mulanya grup ini hanya terdiri dari beberapa orang, lama-lama anggota semakin bertambah dan hingga saat ini berjumlah 21 orang dimana semuanya perempuan. Ya, namanya juga kebanyakan dari kami anggota Ibu Profesional jelaslah pasti wedhok kabeh.

Dalam grup ini, kami dipertemukan akibat dua hobi yang sama yaitu menonton drakor dan menulis. Bagi kami menulis dan menonton drama Korea itu sama-sama hobi yang membuat kami tetap waras menjalankan aktivitas kami di luar dunia maya. Jangan pikir kerjaan ibu-ibu doyan drakor melulu mantengin oppa, lol. Di samping nge-drakor, semua teman-teman Drakor dan Literasi adalah wanita-wanita produktif.

Di bidang literasi, banyak teman-teman yang sudah meluncurkan buku solonya dan saat ini sedang sibuk dengan project buku-buku solo terbarunya. Ada yang sibuk menulis dan akan segera me-launching buku antologi, sibuk mengikuti seminar atau webinar serta aktif di komunitas lain dan masih banyak aktivitas lainnya. Itu tentunya di luar pekerjaan utama mereka sebagai ibu rumah tangga yang harus membersamai anak beserta kerempongan school from home, masak, beres-beres rumah dan mengurus suami masing-masing. Wih, ngeri!

For your information, sebenarnya aku merasa bagaikan butiran debu di antara teman-teman ini. Giley sih, udah sibuk ngerjain ini-itu masih punya waktu buat menulis sekaligus menonton drama Korea! Bahkan ada yang memang sengaja meluangkan waktu setiap hari untuk menulis, membuat cerpen ribuan kata, ada juga yang sekali menulis dua-tiga artikel terselesaikan dengan hasil yang outstanding. Kapan tidurnya mereka ini?

Gimana nggak sebutir debu nih gue diantara mereka?! Haha.

Di sela-sela kesibukan teman-teman Drakor dan Literasi, kami mengadakan challenge ala-ala untuk mengasah kemampuan menulis kami dengan tema seputar Korea. Pertama kami mengadakan tantangan menulis review film Korea dan setelahnya selama 4 bulan kami menantang diri sendiri untuk menulis 30 topik seputar Korea. Ini semua tercetus karena adanya dua kesamaan hobi kami tadi, menonton drakor dan menulis.

Ternyata, ide untuk mengkombinasikan antara drakor dan literasi tidak berhenti sampai disitu. Saat ini, kami sudah membuat wadah baru berupa blog bersama untuk menulis seputar drama, film Korea maupun review buku dan tulisan-tulisan lainnya. Berdasarkan hasil survey, kami memberi nama wadah baru ini dengan drakorclass.com. Usia blog drakorclass sebentar lagi memasuki 2 minggu. Hoho.

drakorclass.com official logo

Blog drakorclass mempunyai 21 orang kontributor yang semuanya adalah anggota grup WA KLIP Drakor dan Literasi. Tujuan dibentuknya blog ini adalah agar kami semua memiliki ruang yang sifatnya bebas untuk menuangkan kesenangan kami terhadap dunia drama Korea termasuk oppa-oppa kesayangannya masing-masing. Hahaha!

Kontributor blog drakorclass

Sebenarnya hal ini sehubungan dengan tidak semua blog kontributor mengangkat drakor sebagai niche-nya. Jadi, dengan adanya blog khusus drakor blog pribadi mereka bisa tetap fokus dengan topik-topik di luar niche yang sudah mereka tentukan.

Selain menulis tentang review drama dan film Korea, tulisan-tulisan di blog drakorclas juga menggali sisi lain dari drama atau film yang dibahas. Bisa mengenai teori psikologi, mengenai tips ini-itu ala drama ini-itu bahkan nilai-nilai serta kebaikan apa yang bisa kita ambil setelah menonton drama tersebut. Dijamin menang banyak kalau jalan-jalan di blog drakorclass. Hehe.

Tujuan lainnya adalah untuk menuliskan review buku-buku yang recommended atau bahkan mempromosikan blog serta buku-buku yang sudah dihasilkan oleh kontributor drakorclass.

Manarik sekali ya kan drakorclass ini?! Untuk yang penasaran silakan mampir ke blog kami ya ♥️

Setelah mengelola blog serta sosial media drakorclass, masih banyak cita-cita yang ingin diwujudkan oleh teman-teman Drakor dan Literasi. Tentunya berkaitan dengan dua hobi kami tadi. Semoga kami bisa tetap kompak dan merealisasikan apa yang menjadi impian bersama kami.

Sukabumi, 23 Oktober 2020

Rabu, 21 Oktober 2020

Pantulan Warna Zona 2 : Kemandirian

Oktober 21, 2020 0 Comments

Bulan Oktober ini, aku menyelesaikan tantangan kelas Bunda Sayang batch 6 bersama teman-teman di Pantai Bentang Petualang. Alhamdulillah, 10 hari tanpa jeda aku menuliskan jurnal mengenai pengalamanku mencoba melatih anakku agar lebih mandiri.

Berbeda dengan aliran rasa di zona pertama, kali ini tugas kami adalah menulis surat yang ditujukkan untuk diri sendiri atau untuk ananda tercinta.

Di tugas aliran rasa zona ke-2 ini, aku ingin memberikan apresiasi pada anakku. Aku tau ia sudah mencoba dengan sangat baik, sudah mau bekerja sama dan membuat progress yang cukup membuatku terharu karena bisa mendampinginya melewati semua ini.

***

Dear Dipta,

Assalammualaikum anak sholeh!

Saat Mama menulis ini, Dipta memang belum bisa membaca tapi suatu hari nanti semoga Dipta berkesempatan untuk membaca tulisan Mama untukmu ini ya.

Dipta, terima kasih ya sudah hadir dalam kehidupan Mama dan Papa. Usiamu saat ini sudah hampir 2 tahun loh, tanggal 30 Oktober nanti Dipta genap 24 bulan. Alhamdulillah, masha Allah tabarakallah.

Dipta, Mama dan Papa ingin selalu memberikan yang terbaik untuk dirimu. Mama sampai ikut berbagai kelas dan workshop parenting, membaca buku-buku parenting dan mengikuti komunitas untuk meningkatkan ilmu dan kualitas Mama sebagai ibu.

Mama merasa tidak memiliki bekal apa-apa saat Dipta lahir, Mama takut tidak bisa menjadi ibu yang baik buatmu kalau ibu tidak mempersiapkan diri dengan baik.

Kadang saat Mama tau dan paham tentang teori yang sudah Mama pelajari namun kenyataannya tidak semudah yang tertulis, Mama kecewa dan sedih. Tapi, Dipta menguatkan Mama dan meyakinkan Mama kalau Dipta memiliki kemampuan dan kelebihan sendiri.

Mama kemudian menurunkan ekspektasi dan sangat bersyukur dengan semua progress yang Dipta tunjukkan, termasuk dalam hal kemandirian.

Sejak awal Mama ingin kamu tumbuh menjadi anak laki-laki yang mandiri, kuat dan tangguh. Mama ingin kamu menjadi anak yang percaya diri dan tidak selalu bergantung pada orang lain di kemudian hari. Maka, sejak kecil Mama mempersiapkan Dipta agar mampu melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri.

Mama senang sekali saat Dipta menyambutnya dengan antusias. Mama masih ingat pertama kali Dipta menawarkan diri untuk mengisi gelas minum sendiri. Awalnya sempat khawatir Dipta akan menumpahkan air atau bermain-main dengan dispenser, tapi ternyata Dipta bisa melakukannya dengan baik!

Mama juga senang sekali loh bisa membersamai Dipta belajar untuk memakai dan melepas sandal sendiri, membuka dan memakai baju, jaket serta celana sendiri, makan dan minum sendiri sampai sudah bisa pergi ke kamar mandi saat mau pipis.

Sekarang ini, Dipta lagi senang-senangnya ingin mencoba sikat gigi sendiri. Kalau Mama mau membantu, pasti Dipta nggak mau. Anak pintar, sebentar lagi mungkin Dipta akan bisa mandi sendiri juga nih!

Terima kasih ya, Nak, sudah mau belajar bersama-sama Mama dan Papa. Terima kasih untuk selalu menjadi penyemangat kami mendampingi Dipta bertumbuh dan berkembang. Terima kasih sudah selalu menjawab happy saat Mama tanya bagaimana rasanya memakai ini itu sendiri.

Yuk kita terus belajar bersama-sama, jangan takut salah atau gagal karena Mama dan Papa akan selalu ada untuk Dipta sampai kapanpun.

Mama and Papa love you forevermore ♥️

***

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#aliranrasabundasayang
#petualangansobatualangzona2
#melatihkemandirianananda

Sabtu, 17 Oktober 2020

Tahap Perkembangan dan Stimulasi Kemampuan Bahasa Pada Anak Usia Dini

Oktober 17, 2020 0 Comments

Bahasa, adalah salah satu area yang dibahas di kelas Zoom How to Create Montessori Inspired at Home pada minggu ke-2. Bahasa ini salah satu dari 6 yang masuk ke dalam periode sensitif anak dan menjadi fondasi untuk anak nantinya belajar berbicara, membaca dan menulis.

Aku tertarik untuk menulis ulang materi mengenai bahasa ini karena aku sendiri sempat merasa khawatir pada anakku, yang mana beberapa bulan sebelum ini tidak banyak mengeluarkan kosakata dari mulutnya.

Sebelum aku mengikuti kelas ini, alhamdulillah Dipta sudah menunjukkan progress yang cukup baik dalam berbicara. Setelah mengikuti materi ini, aku jadi paham saat ini anakku sedang berada di fase apa dan hilanglah semua kekhawatiranku. Hehe.

Kebanyakan orang tua khawatir ketika melihat anaknya baru bisa mengeluarkan 1-2 kata, belum bisa menggabungkan kata, bicaranya belum jelas dan lain sebagainya. Apalagi kalau membandingkan dengan anak lain yang perkembangannya jauh lebih cepat. Huhu~ I feel you, Moms!

Proses Terbentuknya Bahasa



Ternyata, terbentuknya bahasa itu tidak serta merta tring! muncul bergitu saja. Ada banyak proses yang harus dilalui anak untuk mencapai goal yaitu berbicara dengan sempurna.

Proses terbentuknya bahasa diawali dari bunyi. Bunyi yang anak dengar, kemudian ia simpan di dalam otaknya. Ketika anak sudah familiar dengan bunyi yang ia dengar dan otaknya menyimpan bunyi tersebut, anak akan mencoba menghubungkan apa yang ada dalam otaknya dengan mulutnya sehingga terbentuk kata yang belum sempurna.

Setelah berlatih mengucapkan kata-kata yang belum sempurna tadi, anak akhirnya akan dapat membunyikan kata yang sempurna. Practice makes perfect, ya! Jadi jangan heran kalau anak mengulang-ngulang kata yang sama hingga ratusan kali atau selama beberapa hari. Ia sedang berusaha memasterkan dirinya untuk mengucapkan kata-kata tersebut secara benar.

Setelahnya anak akan dapat membuat kalimat sederhana. Misalnya, ibu ambil minum atau ayah pergi kerja. Lalu kemampuan berbahasa anak akan meningkat menjadi mampu membentuk kalimat kompleks tapi belum sempurna.

Bu Pritta mencontohkan anaknya saat belum bisa berbicara dengan sempurna mengatakan, "Aku mau tidur selama-lamanya,". Seram ya! Padahal maksudnya anaknya mau tidur yang lama, tapi belum bisa membuat kalimat kompleks dengan sempurna.

Lama-lama anak akan mahir membentuk kalimat kompleks yang sempurna sampai akhirnya dapat bercerita yang terdiri dari beberapa kalimat.

Panjang ya tahapannya, sebagai orang tua tugas kita adalah terus mengobservasi dan menstimulasi anak dengan memberikan banyak kosakata untuk diserap oleh otaknya. Jangan lupa untuk trust your child tanpa mengabaikan red flags tentunya.

Kemampuan Untuk Berbicara


Untuk berbicara, anak-anak ternyata butuh banyak skills alias kemampuan loh! Tuhan menganugerahi otak anak-anak dengan kemampuan yang luar biasa di masa golden age-nya. Adanya kemampuan-kemampuan ini yang membuatnya akhirnya bisa berbicara.

Yang pertama adalah kemampuan menyerap (reseptif), layaknya sponge anak-anak usia dini menyerap semua hal yang didengarnya. Semuamua diserap lalu disimpan di dalam otaknya. Itu lah mengapa orang tua atau care taker anak harus betul-betul menjaga ucapannya pada anak.

Setelah diserap dan disimpan di dalam otak, anak memiliki kemampuan mengingat apa yang sudah tersimpan di kepalanya. Aku sendiri sering takjub ketika sedang menjelaskan sesuatu pada anakku tapi ia tidak memerhatikan, melengos dan cuek bebek tapi suatu waktu ia ingat dengan apa yang dulu pernah aku sampaikan.

Misalnya, saat aku mencontohkan padanya untuk menyusun mainan kereta-keretaannya di rak. Mana lah dia peduli, ia malah sibuk mengacak-ngacak bagian rumah yang lain. Tapi, malam harinya ia memperlihatkan pada ayahnya kemampuannya menyusun mainan kereta-keretaannya relatif persis dengan apa yang aku contohkan di siang harinya. Haha.

Lanjut ya, sebelum berbicara anak akan menggunakan kemampuan memanggil ingatannya yang telah ada di dalam otaknya. Di tahap ini, anak belum mampu untuk mengucapkan kata-kata namun paham maksud dari kata tersebut karena kemampuan memanggil ingatan tadi.

Contohnya, kita minta tolong untuk diambilkan remote. Tanpa berbicara anak akan mengambilkan benda yang tepat untuk kita. Atau saat kita bertanya meja yang mana? Ia akan menunjuk meja.

Setelah ia mempunyai banyak kosakata yang diingat di dalam otaknya, ia akan mengeluarkan kemampuan mengungkapkan kata (ekspresif). Jadi, untuk menyebutkan satu buah kata perlu proses panjang yang terjadi pada otak anak. Setelah awalnya menyerap kata-kata, lalu diingat kemudian ingatan tersebut dipanggil barulah ia menyebutkan sebuah kata.

Kadang, kata tersebut pun belum secara sempurna ia katakan. Sudah dijelaskan di proses terbentuknya bahasa tadi ya, setelah latihan terus menerus akhirnya kemampuan mengungkapkan kata dengan jelas (bicara) pun muncul. Horee!

Setelahnya, anak akan mengembangkan kemampuannya untuk menyusun kata. Jadi, untuk mencapai tahapan ini orang tua harus bersabar dan trust your child sambil terus melakukan stimulasi. Jangan terlalu terburu-buru atau memaksakan anak untuk berbicara, asalkan masih sesuai dengan perkembangan usianya ya tidak masalah.

Kalau pun ada keterlambatan, orang tua masih punya waktu tunggu hingga 6 bulan sebelum memeriksakan anak ke dokster spesialis.

Ledakan Bahasa


Dr. Maria Montessori mengatakan,

"Kemajuan kasat mata tidak berlangsung secara bertahap, namun terjadi lompatan-lompatan,"

Maksudnya disini adalah saat orang tua mendengar anak berulang-ulang mengucapkan sebuah kata secara belum sempurna (misal num, dek, ndi, dll), mereka melihat hal tersebut nampaknya tidak menunjukkan progress yang berarti.

Padahal di dalam otak anak sedang terjadi proses penyerapan hingga akhirnya suatu hari orang tua akan mendengar anak berbicara satu kata utuh secara sempurna.

Periode ini nampaknya sedang terjadi pada anakku. Sampai usianya mendekati 20 bulan, ia hanya bisa mengucap satu per satu kata secara belum sempurna. Ia juga tidak antusias untuk mengikuti kata-kata yang diajarkan oleh orang tuanya.

Sebagai ibu, sempat khawatir juga dengan perkembangan bahasanya. Namun aku belum sampai tahap ingin berkonsultasi dengan dokter, masih percaya kata-kata orang jaman dulu, "Nanti tau-tau bisa sendiri kok,". Hehe.

Benar saja, suatu hari anakku sudah lancar ngomong banyak hal. Tiba-tiba bisa berhitung satu sampai sepuluh dalam bahasa Inggris pula, sudah bisa bilang saat mau makan, mau minum, mau pipis dan selalu mengulang kata-kata yang diucapkan aku dan Papanya tanpa disuruh.

Inilah yang kemudian aku sadari sebagai ledakan bahasa. Ledakan bahasa terdiri dari 2 tahap, yang pertama di usia 21-24 bulan dimana anak akan dengan lancar menyebutkan kata kerja, benda dan sifat. Lalu yang ke-2 di usia 2 tahun ke atas dimana anak akan mampu membentuk kelompok kata secara teratur.

Di usia 1-3 tahun, akan sangat wajar jika anak mengalami hal-hal berikut dari segi perkembangan bahasa :
1. Mungkin menggunakan satu kata yang sama untuk banyak hal. Contohnya Mama untuk mamanya, Mama untuk tantenya, Mama untuk neneknya.

2. Menggunakan jargon saat bingung mengucapkan kata yang tepat. Contohnya anakku sendiri yang akan mengucapkan kng untuk kata-kata yang belum bisa ia ucapkan. Kng untuk helikopter, kng untuk capung, kng untuk sayur-sayuran dan untuk semua yang belum bisa ia sebutkan.

3. Menghilangkan konsonan awal dan akhir.

4. Overextension, adalah saat anak menggunakan kata yang sama untuk banyak hal termasuk yang bukan kelompoknya. Misalnya ia akan menyebutkan semua hewan dengan kucing, semua bentuk disebut sebagai oval, dan sebagainya.

5. Underextension, adalah saat anak memiliki kecenderungan untuk menempatkan kata secara terbatas. Misal, ia hanya akan menyebut susu saat susu berada dalam botol miliknya dan jika susunya dituang ke dalam gelas ia tidak mau menyebutnya sebagai susu.

6. Menggunakan tata bahasa yang tidak sempurna.

Setelah mengetahui keenam hal tersebut rasanya kekhawatiranku akan kemampuan anakku berbahasa jauh lebih berkurang.

Stimulasi Bicara Pada Anak Usia Dini


Sebelum kita masuk ke apa saja yang dapat ayah dan ibu lakukan untuk menstimulasi area bahasa pada anak usia dini, kita lebih baik mengetahui apa saja yang menyebabkan anak terlambat berbicara. Hal-hal yang dapat menyebabkan keterlambatan anak dalam berbicara adalah :

1. Anak yang masih ragu dan belum percaya diri untuk berbicara
2. Stimulasi yang dilakukan kurang banyak
Terlalu banyak screen time, anak tidak diberi kesempatan untuk mencoba atau pengasuhan yang pasif (anak jarang diajak berbicara) dapat menjadi beberapa kemungkinan penyebab anak terlambat berbicara.
3. Stimulasi yang kurang tepat
Contohnya, anak yang masih berada dalam tahap menyerap kata-kata sudah diminta untuk berbicara, "Maaaa...kaaan...", "Mooooo...biiiil..." dan sebagainya. Atau terlalu sering menyalahkan anak saat ia mencoba berbicara, misalnya anak berkata mobil untuk bus atau mobil untuk truk. Ternyata hal ini dapat menurunkan kepercayaan diri anak sehingga anak yang tadinya mau mencoba untuk berbicara, kembali menjadi ragu.

Adapun tujuan utama dari stimulasi bicara pada anak usia dini adalah untuk meningkatkan penyerapan kata (reseptif) dan mempersiapkan anak mengungkapkan dan berbicara. Perlu diperhatikan, saat membersamai anak dalam aktivitas stimulasi ini prinsipnya adalah,

Teach by teaching, not by correcting

Ketika anak melakukan kesalahan, jangan terburu-buru untuk mengkoreksi kesalahannya dan menyalahkan anak. Orang tua dapat mengajarkan anak seperti contoh berikut :

Ibu meminta anak untuk mengambilkan bola berwarna biru, namun anak memberikan ibu bola berwarna merah. Ibu tidak perlu menyalahkan anak dengan berkata,

"Salah, Nak. Bukan yang ini bola biru, yang itu loh!".

Sebaiknya ibu berkata, "Terima kasih sudah mengambilkan Ibu bola merah, ini bola merah. Sekarang, kita cari yuk bola biru!".

Sekarang, kita langsung masuk ke aktivitas yang dapat dilakukan untuk menstimulasi area bahasa pada anak usia dini :

Keranjang Kosakata

Orang tua dapat menyiapkan beberapa objek real (replika atau miniatur) dari kosakata yang ingin diajarkan pada anak-anak. Konsepnya adalah pengenalan benda nyata terlebih dahulu baru setelah itu jika ingin melanjutkan dengan kartu bergambar juga tidak apa-apa.

Pengenalan Fonik Melalui Lagu

Caranya adalah cukup dengan menyanyikan lagu secara berulang, jika anak belum mau mengikuti tidak perlu dipaksakan. Dapat juga mengenalkan fonik menggunakan objek yang sebenarnya lalu dapat dilanjutkan dengan kartu bergambar.

Membacakan Buku

Tips untuk membacakan buku pada anak usia 1-3 tahun adalah dengan memilih buku yang gambarnya realistis dan jelas, kalimat-kalimatnya tidak terlalu panjang dan bukunya diletakkan di tempat yang terjangkau oleh anak.

Kemudian, orang tua atau pengasuhnya dapat membacakan buku dengan vokalisasi yang jelas, perlahan dan melakukan pengulangan kata agar anak dapat menyerap kata-kata tersebut dengan baik. Pendamping juga harus hadir jiwa dan raga saat membersamai anak membaca buku, tujuannya agar kegiatan membaca buku menjadi menyenangkan terutama jika pendamping menggunakan ekspresi wajah yang menarik saat membacakan buku.

Jangan lupa untuk ikut melibatkan anak, dalam pemilihan buku misalnya. Tidak masalah jika anak memilih buku yang sama terus menerus untuk dibacakan. Berikan jeda saat membaca agar anak dapat merespon dan berikan anak kesempatan untuk bercerita mengenai isi bukunya.

Bercerita

Kegiatan ini dapat dilakukan dengan bercerita mengenai apa yang sudah dilakukan di hari tersebut. Menceritakan satu per satu aktivitas yang telah dikerjakan bersama anak, apa yang sudah dilihat ataupun yang sudah dialami.

Niatkan kegiatan ini murni untuk bercerita dan jangan berharap agar anak dapat langsung menirukan apa yang sudah kita katakan sebelumnya. Berceritalah dengan kalimat yang singkat dan kata-kata yang jelas.

Bernyanyi

Bernyanyilah dengan lagu yang menggunakan bahasa yang ingin kita ajarkan terlebih dahulu (bahasa utama). Lagu yang dipilih adalah lagu yang menggunakan pengulangan kata dan dinyanyikan dengan intonasi yang jelas dan perlahan.

Stimulasi Organ Mulut

Kegiatan seperti meniup dan menyedot ternyata dapat menstimulasi otot rahang anak sebagai persiapannya berbicara.

Aku rasa sudah cukup panjang tulisan mengenai tahap perkembangan dan stimulasi kemampuan bahasa pada anak usia dini kali ini. Semua materi yang disampaikan dalam kelas Zoom How to Create Montessori Inspired at Home sudah aku rangkum disini.

Semoga tulisannya bermanfaat ya!

Sukabumi, 16 Oktober 2020

Jumat, 16 Oktober 2020

Antologi PULIH Melanjutkan Perjalanannya

Oktober 16, 2020 10 Comments

Di akhir bulan September lalu, antologi PULIH batch pertama yang telah di cetak mulai didistribusikan ke para pembelinya. Sebanyak hampir 300 eksemplar buku antologi yang berisi kisah-kisah pejuang mental illness ini bertemu dengan jodohnya.

Aku pun menginformasikannya pada para pembeli untuk memberikan konfirmasi setelah bukunya sampai. Deg-deg-an juga, apakah bukunya tiba dengan kondisi baik dan utuh tanpa kurang satu apapun? Apakah isinya sesuai dengan ekspektasi mereka? Tidak sabar kumenunggu respon dari pembaca.

Satu per satu teman, kerabat dan sahabat memberiku informasi bahwa buku mereka telah sampai. Tepat jumlah dan dengan kondisi baik. Alhamdulillah. Aku pun berpesan pada mereka bahwa aku menanti komentar mereka mengenai cerita-cerita dalam buku PULIH.


Aku kembali bersyukur saat banyak yang melontarkan respon positif pada antologiku yang ke-2 ini. Ada yang berkata ceritanya inspiratif, ada yang bilang membacanya membuat dirinya ikut pulih dan banyak yang mengambil pelajaran berharga dari kisah-kisah di dalamnya.

Perjalanan antologi PULIH pun sampai pada tahap diadakannya sesi Bincang Pulih. Sesi ini diadakan atas kerjasama komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis dengan Ruang Pulih yang diwakilkan oleh Mbak Intan Maria Halim sebagai founder-nya.

Rangkaian sesi Bincang Pulih diawali pada tanggal 9 Oktober 2020 di grup Facebook khusus pembeli antologi PULIH batch pertama. Di sesi ini, Ibu Widyanti Yuliandari selaku Ketua Umum komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis membuka acara yang akan dilanjutkan keesokan harinya.

Dalam sesi pertama, Ibu Widyanti Yuliandari atau lebih sering disapa Mbak Wid menceritakan dari awal proses perjalanan antologi PULIH. Beliau juga menjelaskan tahapan seleksi penulis yang akhirnya terpilih sebagai kontributor dari antologi PULIH.

Di tanggal 10 Oktober 2020 rangkaian sesi Bincang Pulih dilanjutkan dengan sharing session yang terbagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama diisi oleh para kontributor antologi PULIH dengan topik Memilih Pulih dan Bahagia.

Terharu sekali ketika melihat teman-teman kontributor yang berani tampil dan membagikan perjalanan pulihnya secara langsung pada semua yang hadir pada sesi sharing session malam itu. Mereka membuktikan bahwa pernah mengalami mental illness itu tidak apa-apa asalkan ada kemauan kuat untuk bangkit dan sembuh hingga akhirnya menemukan kebahagiaannya kembali.


Peran orang-orang terdekat dalam perjalanan pulih setiap orang sangatlah penting. Suami, istri, anak-anak, orang tua dan seluruh keluarga besar serta teman dan kerabat mampu membuat seseorang pulih apabila tercipta lingkungan dan kondisi yang kondusif untuk pasien. Tak lupa juga untuk jangan sungkan meminta bantuan ahlinya jika memang kondisi yang dialami cukup berat.

Bagian kedua diisi oleh Mbak Intan Maria Halim yang tidak lain merupakan founder dari Ruang Pulih. Beliau menyampaikan materi mengenai Proses Pulih dan Art Therapy. Mbak Intan menjelaskan bagaimana seseorang harus bisa merangkul segala kekecewaan dan kesedihan yang terjadi di dalam hidupnya dan mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang telah dialami seseorang. Mbak Intan juga meminta beberapa audience untuk membagikan hal-hal yang paling membuat para peserta bahagia.


Di akhir sesi Bincang Pulih, Mbak Intan membagikan selembar gambar mandala hati untuk diwarnai oleh teman-teman yang mengikuti sesi Bincang Pulih. Apa maksud dari gambar mandala hati tersebut?

Mandala Self-love

Dalam art therapy, mandala digunakan sebagai bentuk upaya melatih diri untuk mindfulness. Dengan mindfulness, kita akan belajar memisahkan keruwetan pikiran yang ada saat itu dan mencoba menikmati keragaman warna dalam kehidupan.

Mandala self-love ini membantu kita berhenti sejenak dari segala kesibukan yang ada. Kegiatan ini juga dilakukan untuk mengekspresikan emosi melalui warna. Kegiatan yang terlihat sederhana ini ternyata dapat mengurangi burn-out dan membuat yang mengerjakannya seperti mendapat energi baru layaknya ponsel yang baru saja di charge baterainya.

Begitulah penjelasan Mbak Intan untuk teman-teman yang penasaran sebenarnya apa tujuan dari mewarnai gambar mandala hati ini. Tak lama kemudian, sudah banyak teman-teman yang menunjukkan karyanya pada kami di grup whatsapp.


Beberapa karya Mandala Hati yang dipajang di flyer Bincang Pulih

Sehubungan dengan masih banyaknya peminat yang ingin memiliki antologi PULIH, divisi buku IIDN akhirnya kembali membuka PO untuk batch ke-2. Wah senang sekali rasanya, baru selesai cetak sudah buka PO lagi! Periode PO ke-2 ini dimulai dari tanggal 10 Oktober 2020 sampai 5 November 2020 nanti.

PO PULIH batch ke-2 sudah dibuka!

Di tanggal 17 Oktober, akan diadakan Grand Launching Antologi Pulih yang menghadirkan Mbak Intan Maria Halim selaku founder Ruang Pulih, dr. Maria Rini I, Sp.Kj yang merupakan seorang Psikiater dan tidak ketinggalan Ketua Umum komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis yaitu Ibu Widyanti Yuliandari.

Acara Grand Launching ini akan diadakan di grup Facebook dan dapat dihadiri oleh seluruh pembeli buku PULIH batch 1 maupun yang sudah ikut PO ke-2. Seru sekali ya!

Flyer Grand Launching PULIH tanggal 17 Oktober 2020


Bagi teman-teman yang tertarik untuk membaca buku antologi penuh inspirasi dan kaya makna ini, boleh banget melakukan pemesanan melalui whatsapp ke nomor 082136516493.

Ditunggu ya! ;)

Sukabumi, 16 Oktober 2020

Selasa, 13 Oktober 2020

Kelanjutan Kisah Seo Dan (FanFiction Crash Landing On You)

Oktober 13, 2020 0 Comments

Crash Landing On You adalah drama pertama yang aku tonton di tahun 2020. Sebelumnya, selama hampir 1.5 tahun setelah melahirkan, hobi menonton drakor terhenti karena masa adaptasi yang panjang sebagai ibu baru.

Setelah menyelesaikan drama tersebut di bulan Maret lalu, di bulan Oktober aku kembali menonton ulang Crash Landing On You. Haha. Gagal move on  banget deh!


Selain menanti-nanti scene Ri Jeong Hyeok dan Yoon Se Ri, aku juga tertarik pada kisah second lead couple dalam drama ini. Seo Dan, adalah wanita yang sudah bertunangan dengan Ri Jeong Hyeok sekitar tujuh tahun lamanya. Namun, pernikahan mereka tidak pernah terjadi karena Kapten Ri tidak pernah mencintainya dan lebih memilih wanita asal negeri tetangga. Ouch!

Seo Dan dikisahkan jatuh cinta pada seorang laki-laki mantan tunangan Yoon Se Ri. Laki-laki tersebut bernama Gu Seung Joon.

Sumber : TvNdrama

Pertemuan-pertemuan tak terduga Seo Dan dan Gu Seung Joon di setiap kejadian membuat mereka akhirnya saling menyukai. Seo Dan dengan pembawaannya yang kaku dan jaim sedangkan Gu Seung Joon dengan tingkahnya yang sering konyol menjadikan scene mereka berhasil mencuri perhatian penonton.

Naasnya kisah mereka tidak berakhir manis seperti Ri Jeong Hyeok dan Yoon Se Ri yang memilih mengungsi ke Switzerland agar dapat hidup bersama. Gu Seung Joon tewas setelah tertembak oleh sekelompok mafia demi menyelamatkan Seo Dan.

Seo Dan pun kembali menjalani hidupnya sebagai single. Dalam tulisan kali ini, aku akan mencoba membuat fanfiction yang menceritakan kehidupan tokoh Seo Dan setelah ditinggal oleh laki-laki yang benar-benar mencintainya dengan tulus.

This is my first fanfiction. Demi menyelesaikan tantangan menulis bersama Drakor dan Literasi yaitu tantangan ke-29, aku keluar dari zona nyaman sebagai penonton dan komentator drakor dan mencoba menuliskan kelanjutan kisah tokoh dalam drama tersebut.

***

"Dan, pamanmu merekomendasikan Ibu supaya dirimu menemui psikiater,"

"Apa? Memangnya apa yang salah denganku?" Aku menatap tajam mata ibuku disela-sela mengemas pakaianku ke dalam koper.

"Ya, Ibu khawatir denganmu. Apa kau benar-benar tidak akan menikah? Sampai kapan kau hidup dalam bayang-bayang kisah cintamu yang lalu?"

Mendengar ibuku berkata demikian, jantungku kembali berdegup dengan cepat. Gu Seung Joon. Aku masih selalu memikirkannya. Mataku mendadak panas karena air mata rasanya akan kembali jatuh dari pelupuk mataku.

"Sudahlah, aku sudah baik-baik saja sekarang. Ibu boleh keluar dari kamar jika tidak ada lagi yang mau disampaikan. Aku ingin cepat selesai berkemas,".

Ibu menyerah dan keluar dari kamarku. Aku mengemas pakaian sambil menangis dalam diam. Aku tidak ingin ibu tau. Aku masih tidak baik-baik saja.

Setelah kepergian Gu Seung Joon tiga tahun lalu dan melewati masa-masa sulit, tentu aku mencoba bangkit dengan kembali menjalani hari-hariku seperti biasa. Aku ingin ibu dan paman tidak terlalu ikut terlarut dalam kondisiku.

Namun tentu saja, melupakan seseorang yang sangat kucintai dan mencintaiku dengan begitu tulus bukanlah perkara mudah.

Gu Seung Joon adalah pria pertama yang mengatakan bahwa ia senang saat berada bersamaku. Pria pertama yang bingung memilih pakaian karena ingin tampil menarik didepanku. Pria yang memintaku untuk menunggunya kembali agar kami dapat menjalani kehidupan bersama dengan lebih baik.

Belum pernah ada laki-laki yang memperlakukanku seperti itu. Bahkan mantan tunanganku saja, Ri Jeong Hyeok, tidak pernah mengatakan atau menganggap aku berharga meski kami sudah bertahun-tahun terikat oleh kata pertunangan.

Aku memang belum sepenuhnya sembuh dari luka itu. Tiga tahun lalu aku menyaksikan bagaimana kekasihku tiada di depan mataku. Siapa yang bisa melupakannya begitu saja? Hari itu masih tergambar jelas dalam ingatanku dan bahkan sering muncul dalam mimpi burukku.

Tapi aku tau kalau aku wanita yang kuat, aku tidak butuh bantuan psikiater untuk memulihkan diriku. Besok aku akan berangkat ke Rusia untuk melakukan pertunjukkan musik, lalu aku ingin liburan sejenak. Aku harap perjalanan ini bisa mengalihkan pikiranku dari kenangan pahit tersebut.

Keesokan harinya, ibu dan paman mengantar keberangkatanku ke bandara. Lagi-lagi, ibu memintaku untuk mempertimbangkan sarannya menemui psikiater.

"Ibu dengar, psikiater rekomendasi pamanmu sangat mahir menangani kondisi patah hati. Ia juga memiliki metode yang menarik saat konsultasi, yaitu dengan mengajak pasiennya makan bersama,"

"Aku tidak tertarik. Aku berangkat, waktunya sudah hampir tiba," aku memalingkan wajah dari ibu dan pamanku untuk pergi meninggalkan Korea Utara.

Sesampainya di Moskow, aku beristirahat sejenak untuk melepas lelah setelah perjalanan panjang dari Korea Utara menuju Vladivostok, kemudian dilanjutkan ke Moskow.

Aku ingin makan coklat untuk mengembalikan moodku. Tanpa basa basi, aku bergegas pergi dari apartemen menuju minimarket terdekat.

Aku sudah mengambil cukup banyak coklat untuk kujadikan stok selama beberapa hari, saat kasir paruh baya meminta uangku, aku baru sadar bahwa tas dan dompetku tertinggal di dalam kamar.

"Maaf, dompetku tertinggal. Aku akan kembali lagi kesini," kataku sambil menahan malu.

"Biar aku saja yang membayar," seorang lelaki dari arah belakangku menyodorkan uang kepada kasir minimarket.

Aku membalikkan badan untuk melihat wajah laki-laki tersebut, "Gu Seung..." Joon. Aku tidak jadi meneruskan kalimatku.

Wajahnya mirip, tapi aku yakin orang ini tidak mungkin dia. Aku mematung selama beberapa saat, memerhatikan wajah familiarnya.

"Kau pucat seperti sedang melihat hantu. Apa kau sakit?" pertanyaannya membuatku tertarik kembali ke dunia nyata.

"Tidak, aku baik-baik saja. Aku akan mengambil dompet dan membayar hutangku segera. Kau bisa menunggu disini sebentar," kataku beranjak keluar dari minimarket.

"Tidak perlu, aku senang bertemu sesama orang Korea disini. Aku sempat mendengarmu berbicara bahasa Korea tadi," ia tersenyum ke arahku. Aku membuang muka karena tidak ingin melihat wajahnya lebih lama lagi. Wajah yang mengingatkanku pada laki-laki yang sudah pergi selamanya tiga tahun lalu.

"Kalau begitu, aku duluan," kali ini aku betul-betul keluar dari minimarket tersebut.

Laki-laki tadi kembali menghampiriku saat aku hendak menyebrang jalan, "Hei! Kau sendirian? Biar kutemani. Sepertinya aku juga akan pergi ke arah yang sama denganmu,"

Aku bukanlah seseorang yang senang berbasa-basi apalagi dengan orang asing yang baru pertama kutemui. Tapi, entah mengapa aku menyetujui saat ia berkata ingin menemaniku.

Singkat cerita, lelaki tersebut mengaku dirinya seorang mahasiswa di sekolah musik yang terletak di dekat gedung pertunjukkanku. Sebentar lagi ia akan segera mendapatkan gelas Masternya. Tentu saja aku lebih banyak diam dan berbicara seperlunya, sementara dirinya berceloteh tanpa menghiraukan kalau aku adalah orang asing yang baru ditemuinya.

Kemiripannya dengan Gu Seung Joon yang membuatku ingin menghabiskan beberapa jam bersamanya saat itu. Ada perasaan nyaman saat aku dekat dengannya, padahal ini adalah pertemuan kami yang pertama kalinya.

Dan, kendalikan dirimu! Aku memerintah diri sendiri agar berpikir logis dan tidak cepat terbawa perasaan.

Setibanya di depan gedung apartemen, aku pamit untuk segera masuk. Jujur saja, badanku masih sangat lelah dan esok aku harus berlatih untuk penampilanku.

"Senang bertemu denganmu. Aku harap kita bisa bertemu lagi," Aku hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam tanpa menoleh lagi.

Seperti takdir, aku dan laki-laki asing itu bertemu secara tidak sengaja di hari-hari berikutnya. Terkadang, kami ngobrol sambil berjalan-jalan sebentar sebelum melanjutkan aktivitas masing-masing. Lagi-lagi, aku kembali teringat dengan pertemuan-pertemuanku dengan Gu Seung Joon yang sering terjadi secara tidak sengaja.

Meskipun kami belum secara resmi berkenalan dan mengetahui nama satu sama lain, aku yakin bahwa ia tertarik padaku. Tatapan matanya dan caranya berbicara padaku menunjukkan hal tersebut. Aku sendiri tidak yakin apakah aku juga tertarik padanya atau tertarik karena mirip dengan mantan kekasihku?

Selain menghabiskan waktu untuk berlatih dan tampil di pertunjukkan musik, waktuku di Rusia kuhabiskan untuk berangan-angan bertemu kembali dengan laki-laki tersebut. Semakin sering kami bertemu, semakin aku teringat pada Gu Seung Joon. Aku bahkan berpikir bahwa ia adalah takdirku.

Untuk apa aku dipertemukan kembali dengan pria yang mirip dengan Gu Seung Joon jika kami tidak ditakdirkan bersama? Tiga tahun aku berharap dia akan kembali, dan kali ini aku seolah melihatnya lagi. Sebelum aku pulang, aku rasa aku harus memastikan perasannya padaku.

Dan, tapi ini seperti bukan dirimu! logikaku menolak melakukan hal tersebut.

Diamlah! Aku tau apa yang terbaik bagi diriku. Perasaanku berkata sebaliknya.

Sehari sebelum kepulanganku ke Korea Utara, aku menanti kedatangan laki-laki itu di depan minimarket tempat kami pertama kali bertemu. Aku tidak tau apakah ia akan datang, tapi hanya hari ini kesempatan terakhirku untuk berbicara dengannya.

Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu dan ia tak kunjung datang.

Memasuki jam keempat aku menunggu dirinya, akhirnya aku melihat ia berjalan ke arahku. Aku hampir menyunggingkan senyumku yang mahal sebelum aku juga melihat seseorang berjalan beriringan dengannya.

"Oh, hai! Kau lagi," tentu saja ia menyapa saat melihatku mematung seperti petugas keamanan di depan minimarket.

"Hai!" Kataku singkat, bola mataku melirik ke arah anak perempuan yang menggenggam tangan laki-laki tersebut dengan erat.

"Ah, kenalkan ini puteriku. Usianya hampir 4 tahun, ia dan istriku baru saja tiba dari Korea untuk menghadiri wisudaku," lelaki yang kupikir adalah takdirku memperkenalkanku dengan anaknya.

"Anak? Istri? Ha... Ha-ha-ha..." Aku menepuk dahi sembari menertawakan kebodohanku.

Aku menghela nafas panjang. Sepulangnya ke Korea Utara, aku akan langsung menjadwalkan pertemuanku dengan psikiater rekomendasi paman. Sudah saatnya aku benar-benar menjernihkan pikiranku.

TAMAT!


Kira-kira gambar di bawah ini menggambarkan saat Seo Dan bertemu dengan psikiater yang melakukan terapi dengan mengajak pasiennya makan bersama :

Sumber : idntimes

Haha. Sudah gagal move on dari CLOY, gagal move on juga dari Dinner Mate! Sekian fanfiction kali ini.

Sukabumi, 13 Oktober 2020

Sabtu, 10 Oktober 2020

Kemandirian, Tantangan Hari Ke-10

Oktober 10, 2020 0 Comments

Membangun trust and attachment antara anak dan orang tua sangat penting bagi perkembangan psikologisnya. Anak yang memiliki bonding yang kuat dengan orang tuanya akan selalu merasa aman dan nyaman. Ini berpengaruh pada tumbuh kembangnya dimana ia akan menjadi anak yang lebih percaya diri dalam menjalani kesehariannya.

Trust and attachment dibutuhkan terutama di masa awal kehidupannya, dimana anak butuh sosok yang selalu hadir dan melindunginya dari dunia yang masih begitu asing. Orang tua diharapkan bisa menjadi figur tersebut, tempat dimana anak selalu merasa nyaman dan percaya bahwa dunia tidak semenakutkan itu.

Trust and attachment tentunya bisa terjadi saat anak dan orang tua sering melakukan special time bersama. Dengan adanya kebersamaan ini, anak akan lebih mengenali orang-orang terdekatnya dan menjadi lebih percaya dan nyaman dengan mereka.

Aku mencoba meningkatkan lagi trust and attachment antara anakku dengan ayahnya. Belakangan, anakku yang sudah terlalu lengket denganku sulit sekali untuk mau berkegiatan tanpa kehadiran diriku. Tentu ini membuatku juga kesulitan melakukan hal-hal atau pekerjaan yang hanya bisa aku lakukan sendiri.

Weekend adalah hari yang tepat untuk membangun kembali trust and attachment antara anakku dengan suamiku. Dimana aku memilih untuk mengerjakan pekerjaan domestik yang tidak bisa melibatkan anakku di dalamnya seperti menyetrika pakaian. Sementara, anakku bisa memiliki special time dengan ayahnya.


Melatih Kemandirian Anak - Tantangan Hari Ke-10


Temuanku

Usia anakku saat ini 23 bulan dan target kemandirian yang ingin aku latih hari ini adalah dirinya mampu melepaskan pakaiannya sendiri serta meletakkannya ke keranjang pakaian kotor.

Hari ini aku menyerahkan tugas melatih kemandirian dalam aktivitas mandi pada ayahnya karena aku mengerjakan hal yang lain. Aku menemukan anakku mau kooperatif diajak mandi dan berpakaian dengan ayahnya. Ia pun mau mencoba melepas dan memakai pakaiannya sendiri didampingi oleh ayahnya.

Strong Why

Alasan utamaku ingin melatih kemandirian ini pada anakku adalah karena ia mulai menunjukkan fase otonomi dimana ia akan menolak jika diperintah (dalam hal ini untuk mandi).

Anakku juga sedang menunjukkan ketertarikan untuk selalu mencoba melepas dan memakai pakaiannya sendiri tanpa dibantu.

Strategi Untuk Melatih Kemandirian

Hari ini aku menyerahkan tugas memandikan anak pada suamiku karena aku harus menyelesaikan pekerjaan domestik yang lain. Aku juga ingin membangun kembali trust and attachment antara anakku dengan ayahnya saat melakukan hal seperti mandi dan makan. Sebelum-sebelumnya, anakku sempat selalu menolak saat ayahnya menawarkan diri untuk membersamainya dan memilih aku untuk menemaninya melakukan segala hal.

Strategiku agar anakku hari ini mau bekerjasama dengan ayahnya adalah dengan memberikannya pengertian bahwa aku harus menyelesaikan pekerjaan lain sehingga ia harus beraktivitas dengan ayahnya. Aku juga berkata bahwa ia boleh mencoba melepas dan memakai pakaian sendiri saat bersama ayahnya sama halnya dengan saat bersama denganku.

Sukses Apa Aku Hari Ini?

Sukses karena anakku mau mandi bersama ayahnya tanpa drama, dengan sukarela melepas pakaiannya sendiri (melepas baju masih dengan bantuan), kemudian meletakkan pakaian kotor ke dalam wadah pakaian kotor dan menutup kembali tutupnya.

Setelah mandi, ia mau mencoba memakai baju sendiri, sudah lebih mahir memakai celana sendiri dan mau berusaha menyisir rambutnya sendiri.

Tantanganku Hari Ini

Tantanganku adalah menghilangkan rasa khawatir saat anakku harus mandi dengan ayahnya. Aku harus sepenuhnya percaya bahwa suamiku pun bisa melakukan hal yang sama baiknya seperti diriku saat memandikan anak.

Rasa khawatir ini muncul karena biasanya anakku menolak jika dimandikan dan dipakaikan baju oleh ayahnya. Biasanya anakku selalu memintaku untuk melakukannya.

Ingin Sukses Apa Esok Hari?

Besok aku masih ingin melatih anakku untuk membersihkan dirinya seperti hari ini. Fokusnya adalah agar ia semakin lancar memakai bajunya sendiri.

Rasaku dan Respon Ananda

Rasaku tentu saja senang karena aku bisa melanjutkan pekerjaanku yang lain sementara anakku mandi dan berpakaian dengan ayahnya. Anakku terlihat senang dan bersemangat.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#harike-10
#tantangan15hari
#zona2kemandirian
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Jumat, 09 Oktober 2020

Kemandirian, Tantangan Hari Ke-9

Oktober 09, 2020 0 Comments

Mengendalikan emosi saat mengajarkan dan melatih anak untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri itu adalah suatu keharusan. Kemampuan anak untuk melakukan suatu hal tentu berbeda dengan orang biasa, terutama untuk hal yang baru pertama-tama dicoba oleh anak.

Kesalahan demi kesalahan tentu akan mereka buat, waktu tunggu yang agak lama juga pasti akan menguji kesabaran orang tua. Dari yang aku pelajari di beberapa kelas parenting, kuncinya adalah menurunkan ekspektasi dan standar orang tua.

Sebagai orang tua, kita harus bisa mengubah sudut pandang kita dan mencoba melihat dari sudut pandang anak-anak. Saat anak memakai celana ke satu lubang yang sama secara sengaja, bukan berarti ia tidak bisa memakai celana dengan benar. Mungkin ia ingin bereksperimen dan menjadi tau bahwa ia tidak akan bisa berjalan dengan memakai celana seperti itu.

Saat anak mencoba memakai jaket atau sepatu sendiri, jangan memburu-buru anak. Berikan waktu padanya untuk berkonsentrasi mencoba memakainya secara mandiri. Tawarkan bantuan apabila melihatnya masih sangat kesulitan. Ciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan tenang untuk anak.

Melatih anak untuk bisa mandiri memang butuh waktu yang tidak sebentar, sehingga kesabaran adalah salah satu kunci keberhasilan dari PR yang satu ini. 

*note to myself

Melatih Kemandirian Anak - Tantangan Hari Ke-9


Temuanku

Usia anakku saat ini 23 bulan dan target kemandirian yang ingin aku latih hari ini adalah membereskan mainan yang telah selesai ia gunakan lalu meletakkan kembali di rak mainan.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Hari ini anakku menolak bekerja sama untuk membereskan mainannya. Saat aku kinta tolong padanya untuk mengembalikan mainan yang telah selesai ia pakai ke rak, ia berkata no no sambil melengos.

Ia pun kembali mengeluarkan mainannya yang lain, kemudian aku berkata mainan sebelumnya sebaiknya disimpan kembali ke rak baru mainan yang lain dikeluarkan. Tapi, ia tidak peduli dan malah semakin menghamburkan mainannya yang lain. Err..

Aku memberikannya contoh dengan membereskan mainannya yang sangat berserakkan di lantai, aku menawarkannya untuk ikut serta bekerja sama membereskan semua. Lagi-lagi ia kabur dan bermain di area rumah yang lain.

Strong Why

Alasan utamaku ingin melatih kemandirian ini pada anakku adalah karena aku ingin ia belajar bertanggung jawab membereskan mainan yang sudah selesai ia gunakan agar rumah tidak berantakan sepanjang hari. Selain itu, agar saat ia ingin kembali bermain ia dapat dengan mudah menemukan mainannya karena sudah tersusun rapi di rak mainannya.

Strategi Untuk Melatih Kemandirian

Membersamai dan mendampinginya selama proses membereskan mainannya serta memberikan contoh beres-beres mainan lalu mengembalikannya ke rak mainan.

Sukses Apa Aku Hari Ini?

Sukses membuatnya mengacak-acak seisi rumah karena tidak mau bekerja sama membereskan mainannya. Hahaha.

Tantanganku Hari Ini

Menahan emosi saat anak menolak berkali-kali untuk diajak membereskan mainannya dan malah mengacak-acak barang di area rumah yang lain.

Ingin Sukses Apa Esok Hari?

Esok hari aku masih akan mencoba melatih anakku untuk bisa merapikan mainannya dan meletakkannya kembali ke rak setelah ia selesai bermain.

Rasaku dan Respon Ananda

Hari ini aku lumayan kzl tapi yasudahlah, besok atau nanti sore bisa dicoba kembali. Anakku sih happy-happy aja selama ia puas bermain. Hehe.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#harike-9
#tantangan15hari
#zona2kemandirian
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Kamis, 08 Oktober 2020

Kemandirian, Tantangan Hari Ke-8

Oktober 08, 2020 0 Comments

Sudah setengah jalan menyelesaikan tantangan di zona ke-2 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional batch 6 dengan tema Melatih Kemandirian Anak. Setelah mencoba melatih kemandirian dalam beberapa hal pada anakku, yang aku rasakan adalah anakku memang terlihat lebih percaya diri dan selalu senang jika diminta melakukan hal yang ia bisa tanpa bantuan.

Aku sadari bahwa melatih kemandirian anak berarti orang tua harus konsisten dengan tujuan apa yang ingin dicapai dan sebisa mungkin menahan diri untuk segera membantu anak ketika anak-anak mendapatkan kesulitan.

Orang tua bisa mengobservasi terlebih dahulu seberapa besar daya juang anak, karena sejatinya anak-anak sudah memiliki daya juang yang tinggi. Justru daya juang mereka akan semakin berkurang jika orang tua selalu membantu semua kebutuhan anak yang sebenarnya dapat mereka lakukan sendiri.

Saat anak-anak memang begitu kesulitan, orang tua dapat menawarkan bantuan dengan bertanya terlebih dahulu bagian mana yang menurut anak susah dan orang tua dapat memberi contoh bagaimana cara kerjanya.

Hari ini, masih dengan tema yang sama seperti hari kemarin aku mengajarkan anakku agar ia mau membereskan mainannya sendiri setelah digunakan.

Melatih Kemandirian Anak - Tantangan Hari Ke-8


Temuanku

Usia anakku saat ini 23 bulan dan target kemandirian yang ingin aku latih hari ini adalah membereskan mainan yang telah selesai ia gunakan lalu meletakkan kembali di rak mainan.

Pagi ini, anakku mengikuti kegiatan online bersama Bumi Nusantara Montessori. Beberapa mainan yang berkaitan dengan tema yang dibawakan oleh Bu Guru sudah aku persiapkan.Ternyata, anakku lebih tertarik untuk main permainan lain sehingga hampir semua yang ada di rak mainan ia keluarkan.

Setelahnya, aku memintanya baik-baik agar ia mau membereskan dan mengembalikan mainannya ke rak. Dengan menerapkan prinsip kerja sama, dengan senang hati ia mau melakukannya.

Strong Why

Alasan utamaku ingin melatih kemandirian ini pada anakku adalah karena aku ingin ia belajar bertanggung jawab membereskan mainan yang sudah selesai ia gunakan agar rumah tidak berantakan sepanjang hari. Selain itu, agar saat ia ingin kembali bermain ia dapat dengan mudah menemukan mainannya karena sudah tersusun rapi di rak mainannya.

Strategi Untuk Melatih Kemandirian

Membersamai dan mendampinginya selama proses membereskan mainannya serta memberikan contoh beres-beres mainan lalu mengembalikannya ke rak mainan.

Sukses Apa Aku Hari Ini?

Anakku dengan sukarela membereskan mainannya dan menata sendiri ke rak mainannya.

Tantanganku Hari Ini

Mempersiapkan diri untuk menerima penolakkan yang ternyata tidak terjadi. Hehe.

Ingin Sukses Apa Esok Hari?

Esok hari aku masih akan mencoba melatih anakku untuk bisa merapikan mainannya dan meletakkannya kembali ke rak setelah ia selesai bermain.

Rasaku dan Respon Ananda

Hari ini aku merasa cukup senang karena anakku dengan senang hati mau membereskan mainan yang sudah selesai ia gunakan.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#harike-8
#tantangan15hari
#zona2kemandirian
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Rabu, 07 Oktober 2020

Kemandirian, Tantangan Hari Ke-7

Oktober 07, 2020 0 Comments

Sudah sampai hari ke-7 di tantangan zona ke-2 yaitu Melatih Kemandirian Anak bersama kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional batch 6. Tepat di hari Rabu ini, ada materi baru mengenai melatih kemandirian anak dalam mengambil keputusan.

Dalam materi tersebut dijelaskan pentingnya mengajarkan anak untuk mengambil keputusan sejak dini. Keputusan sederhana seperti memilih pakaian dan memilih untuk makan dulu atau membereskan mainan terlebih dahulu bisa membentuk anak menjadi pribadi yang percaya diri serta mampu mengambil keputusan yang terbaik untuk hidupnya kelak.

Beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk melatih kemandirian anak dalam mengambil keputusan antara lain dengan :

1. Meningkatkan rasa percaya diri anak
Caranya adalah dengan memotivasi dan mengapresiasi ketika anak berhasil mengambil keputusannya sendiri. Misalnya ketika ia sudah memilih pakaian yang akan ia kenakan, orang tua dapat menghargai keputusan anak.

2. Meletakkan keputusan pada yang akan menjalani
Saat anak beranjak dewasa, orang tua dapat melibatkan anak dalam memilih sekolah yang ia inginkan dengan segala konsekuensi dan resiko yang sudah dijelaskan dan dipahami oleh anak. Orang tua boleh memberikan arahan dan pendampingan, namun tetap harus mendengarkan dan menghargai apa yang anak pilih.

3. Melatih prosedur pengambilan keputusan
Ada 5 prosedur sebelum mengambil keputusan. Pertama adalah mengidentifikasi masalah, kedua pengumpulan serta analisis data yang terkait, ketiga pengembangan dan evaluasi alternatif termasuk di dalamnya pertimbangan konsekuensi serta resiko, keempat adalah pemilihan alternatif pilihan, terakhir adalah implementasi dari keputusan yang sudah dipilih.

4. Melatih manajemen resiko
Mengenalkan beberapa resiko yang mungkin terjadi dari berbagai pilihan yang ada sehingga anak memiliki gambaran apa yang akan terjadi jika memilih pilihan-pilihan tersebut.

5. Menerima keputusan
Jika memang anak sudah mengambil keputusan dan orang tua pun menganggap keputusan tersebut baik untuk anak, orang tua harus menerima keputusan anak dengan perasaan legowo dan ridho. Karena keberhasilan seorang anak tentunya berdasarkan ridho orang tua.

6. Memberi dukungan
Selalu dukung pilihan yang sudah dibuat oleh anak dan tetap mendukung saat anak menerima resiko apapun dari pilihan yang sudah ia buat.

Setelah merangkum materi yang disampaikan hari ini, sekarang saatnya untuk menulis jurnal harian tantangan zona ke-2 di hari ke-7.

Melatih Kemandirian Anak - Tantangan Hari Ke-7


Temuanku

Usia anakku saat ini 23 bulan dan target kemandirian yang ingin aku latih hari ini adalah membereskan mainan yang telah selesai ia gunakan lalu meletakkan kembali di rak mainan.

Hari ini, seperti biasa di pagi hari anakku sudah sibuk mengeluarkan berbagai mainannya dari rak mainan. Saat ia akan kembali mengeluarkan mainan yang lain, aku memintanya untuk membereskan mainan yang sudah berserakkan di lantai terlebih dahulu.

Saat diminta seperti itu, ia hanya diam memperhatikan diriku. Aku kemudian berkata padanya, "Ayo pompomnya kita masukin sama-sama ke wadah, ya?" selanjutnya aku memberikan contoh sambil berkata, "Yeaay!" saat pompom mainannya satu per satu masuk ke dalam wadah.

Ternyata ia tertarik untuk mencoba dan melakukan hal yang sama hingga tidak ada lagi pompom yang berserakkan di lantai.

Strong Why

Alasan utamaku ingin melatih kemandirian ini pada anakku adalah karena aku ingin ia belajar bertanggung jawab membereskan mainan yang sudah selesai ia gunakan agar rumah tidak berantakan sepanjang hari. Selain itu, agar saat ia ingin kembali bermain ia dapat dengan mudah menemukan mainannya karena sudah tersusun rapi di rak mainannya.

Strategi Untuk Melatih Kemandirian

Membersamai dan mendampinginya selama proses membereskan mainannya serta memberikan contoh beres-beres mainan lalu mengembalikannya ke rak mainan.

Sukses Apa Aku Hari Ini?

Anakku dengan sukarela membereskan mainannya dan menata sendiri ke rak mainannya.

Tantanganku Hari Ini

Mempersiapkan diri untuk menerima penolakkan yang ternyata tidak terjadi. Hehe.

Ingin Sukses Apa Esok Hari?

Esok hari aku masih akan mencoba melatih anakku untuk bisa merapikan mainannya dan meletakkannya kembali ke rak setelah ia selesai bermain.

Rasaku dan Respon Ananda

Hari ini aku merasa cukup senang karena anakku dengan senang hati mau membereskan mainan yang sudah selesai ia gunakan.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#harike-7
#tantangan15hari
#zona2kemandirian
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Selasa, 06 Oktober 2020

Kemandirian, Tantangan Hari Ke-6

Oktober 06, 2020 0 Comments

Hari ini adalah hari ke-6 aku menuliskan jurnal mengenai melatih kemandirian anak. Selain untuk mendokumentasikan kegiatan parenting, tulisan ini juga untuk menyelesaikan tantangan di zona ke-2 tentang kemandirian di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.

Dari yang aku pelajari di kelas-kelas parenting yang sudah pernah aku ikuti, benang merahnya adalah anak terlahir bukan sebagai kertas kosong. Anak terlahir sudah sepaket dengan fitrah dan kemampuannya masing-masing. Tugas dan peran orang tua adalah melakukan pendampingan sembari mengobservasi dan percaya pada inner teacher anak.

Pada dasarnya anak-anak itu senang belajar dan memang pembelajar sejati, karenanya kita harus mendukung inner teacher anak, menghormati apa yang sedang ingin anak pelajari dan memfasilitasinya. Harapannya adalah anak akan terus menyukai proses belajar dan selalu ingin belajar mencoba hal baru tanpa terpaksa.

Kali ini, aku ingin menuliskan topik yang berbeda dari lima hari sebelumnya. Aku ingin menceritakan dan mendokumentasikan proses mengajarkan anakku untuk membereskan mainannya sendiri selama beberapa hari ke depan.

Melatih Kemandirian Anak - Tantangan Hari Ke-6


Temuanku

Usia anakku saat ini 23 bulan dan target kemandirian yang ingin aku latih hari ini adalah membereskan mainan yang telah selesai ia gunakan lalu meletakkan kembali di rak mainan.

Hari ini, sebelum mandi pagi kami melakukan aktivitas dengan beberapa mainan yang diambil dari rak mainannya. Semua dihamburkan ke lantai sehingga pemandangan di pagi hari sudah tidak mengenakkan (bagiku).

Sebelum ia mandi, aku memintanya untuk merapikan kembali mainannya dengan berkata, "Ayo kita bereskan mainannya, yuk? Kita sama-sama beresin terus taruh lagi di rak, ya?" aku mengatakannya sembari memungut mainan-mainan yang bertebaran di lantai.

Tak disangka, saat aku menoleh ke arahnya ternyata ia sedang menyusun mainannya satu per satu di rak mainan. Hehe.

Strong Why

Alasan utamaku ingin melatih kemandirian ini pada anakku adalah karena aku ingin ia belajar bertanggung jawab membereskan mainan yang sudah selesai ia gunakan agar rumah tidak berantakan sepanjang hari. Selain itu, agar saat ia ingin kembali bermain ia dapat dengan mudah menemukan mainannya karena sudah tersusun rapi di rak mainannya.

Strategi Untuk Melatih Kemandirian

Membersamai dan mendampinginya selama proses membereskan mainannya serta memberikan contoh beres-beres mainan lalu mengembalikannya ke rak mainan.

Sukses Apa Aku Hari Ini?

Tanpa diminta dua kali, anakku dengan sukarela membereskan mainannya dan menata sendiri ke rak mainannya.

Tantanganku Hari Ini

Mempersiapkan diri untuk menerima penolakkan yang ternyata tidak terjadi. Hehe.

Ingin Sukses Apa Esok Hari?

Esok hari aku masih akan mencoba melatih anakku untuk bisa merapikan mainannya dan meletakkannya kembali ke rak setelah ia selesai bermain.

Rasaku dan Respon Ananda

Hari ini aku merasa cukup senang karena anakku dengan senang hati mau membereskan mainan yang sudah selesai ia gunakan.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#harike-6
#tantangan15hari
#zona2kemandirian
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia

Senin, 05 Oktober 2020

Kemandirian, Tantangan Hari Ke-5

Oktober 05, 2020 0 Comments

Masuk ke tantangan hari ke-5 zona ke-2 mengenai Melatih Kemandirian Anak bersama teman-teman petualang di Pantai Bentang Petualang Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.

Sebelum masuk ke jurnal hari ini, aku ingin sedikit membagikan apa yang ku dapat dari materi di IIP tentang kemandirian dengan yang aku dapat dari kelas Zoom How to Create Montessori Inspired at Home yang sudah berakhir tanggal 3 Oktober lalu.

Menarik karena kedua materinya berkorelasi satu sama lain. Dalam kelas Zoom dan IIP, keduanya sama-sama menekankan pentingnya melatih anak usia dini agar mampu menyelesaikan persoalan hidupnya sendiri. Dalam hal ini tentunya yang sesuai dengan usianya, misalnya sudah mampu makan dan minum sendiri, menyikat gigi dan berpakaian sendiri.

Keduanya sama-sama menggaris bawahi bahwa kemandirian membuat anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, solutif dan memiliki inisatif. Melatih anak agar mandiri sejak kecil juga tidak berarti bahwa orang tua begitu saja melepaskan anaknya untuk menyelesaikan kegiatannya sendiri, orang tua hadir sebagai observer dan helper ketika anak benar-benar kesulitan dan butuh bantuan.

Hal ini membuatku semakin yakin dan mantap untuk mengajarkan anakku kegiatan-kegiatan yang seharusnya sudah bisa ia lakukan di usianya. Tentunya perlu konsistensi dan komitmen dengan suami untuk menjalankannya.


Melatih Kemandirian Anak - Tantangan Hari Ke-5


Temuanku

Usia anakku saat ini 23 bulan dan target kemandirian yang ingin aku latih hari ini adalah dirinya mampu melepaskan pakaiannya sendiri serta meletakkannya ke keranjang pakaian kotor.

Setelahnya, aku juga mulai melatih dirinya agar bisa membersihkan dirinya saat mandi meski masih dengan bantuan. Aku mengajarinya untuk mengambil air dari gayung dan menyiramkan pda tubuhnya. Aku juga mengajarinya untuk menekan pump pada botol sabunnya sehingga ia bisa sabunan sendiri, kemudian membilas diri sendiri.

Setelah selesai mandi dan handukkan, aku mengajarinya untuk memakai pakaiannya sendiri sampai terakhir ia berlatih untuk menyisir rambutnya.

Pada mulanya anakku menolak untuk mandi, tapi aku memberitahunya agar ia pergi ke kamar mandi dan mencuci tangannya yang kotor karena terkena cat air. Ia pun menurut namun tidak mau melepas pakaiannya sendiri karena tangannya kotor.

Saat di kamar mandi, air yang ada di bak mandinya adalah air yang telah diisi sejak semalam jadi sepertinya air tersebut terlalu dingin baginya sehingga ia ogah mandi lama-lama, selalu berusaha kabur dari kamar mandi dan tidak mau bermain air seperti biasanya.

Setelahnya, ia menolak untuk memakai pakaiannya sendiri.

Strong Why

Alasan utamaku ingin melatih kemandirian ini pada anakku adalah karena ia mulai menunjukkan fase otonomi dimana ia akan menolak jika diperintah (dalam hal ini untuk mandi).

Anakku juga sedang menunjukkan ketertarikan untuk selalu mencoba melepas dan memakai pakaiannya sendiri tanpa dibantu.

Strategi Untuk Melatih Kemandirian

Hari ini aku menerapkan konsistensi dan komitmen, membujuknya untuk mau mandi as always, tetap menawarkan pada dirinya agar mencoba melepas dan memakai pakaian sendiri, menyikat gigi sendiri, dan hal lain yang berkaitan dengan kegiatan membersihkan diri.

Sukses Apa Aku Hari Ini?

Suksesku hari ini adalah memandikannya dengan air yang sepertinya cukup dingin untuknya. Meskipun dia tidak se-excited biasanya dan berlama-lama main air, lumayan lah sudah mau diguyur dengan air dingin meskipun dia heboh sekali.

Oiya, hari ini ia juga sudah mau dan memperlihatkan kemajuan saat menyisir rambut di depan cermin.

Tantanganku Hari Ini

Hari ini seperti biasa tantanganku adalah membujuknya untuk mandi karena tawaran pertama dan kedua ditolak mentah-mentah.

Selain itu, air yang ternyata terlalu dingin hari ini membuat anakku tidak betah berlama-lama mandi seperti hari-hari biasanya sehingga yang ia pikirkan adalah segera keluar dari kamar mandi.

Ingin Sukses Apa Esok Hari?

Esok hari aku masih akan mencoba melatih anakku untuk bisa membersihkan dirinya sendiri, terutama saat memakai baju dan melepasnya.

Rasaku dan Respon Ananda

Hari ini aku merasa cukup kecewa karena anakku tidak mau mencoba untuk melepas dan memakai pakaiannya sendiri. Responnya saat ditawari untuk mencoba melepas dan memakai pakaiannya pun ogah-ogahan.

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#harike-5
#tantangan15hari
#zona2kemandirian
#pantaibentangpetualang
#institutibuprofesional
#petualangbahagia