Sabtu, 31 Oktober 2020

Cerdas Emosi dan Spiritual, Tantangan Hari Ke-3

Oktober 31, 2020 0 Comments
Bunda Sayang IIP Batch 6

Memasuki tantangan hari ke-3 di zona ke-3 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional batch 6, aku akan kembali membahas sedikit mengenai materi Kecerdasan Emosi dan Spiritual pada anak.

Sebagai pengantar jurnal tantangan hari ke-3 ini, aku akan berbicara tentang Adversity Quotient (AQ). Pada materi yang sudah diberikan sebelum tantangan ini dimulai, dijelaskan bahwa AQ adalah ilmu ketangguhan manusia mengubah tantangan sebagai peluang.

Konsep Adversity Quotient diumpamakan sebagai proses pendakian dalam kehidupan. Kesuksesan merupakan sejauh apa seorang individu bergerak maju dan terus melangkah, terus tumbuh dan berkembang meski selama hidupnya mengalami tantangan dan hambatan.

Saat melatih kecerdasan emosional dan spiritual pada anak, tentu kita akan menemukan hambatan dan tantangan. Sehingga, kita dapat menerapkan  konsep Adversity Quotient untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

Adversity Quotient menurut Stoltz (1997) memiliki 3 bentuk definisi yaitu :
1. Kerangka konseptual untuk memenuhi dan memperbaiki semua aspek kesuksesan,
2. Ukuran bagaimana seseorang menghadapi kesulitan,
3. Alat yang didasarkan pada pengetahuan ilmiah untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam merespon kesulitan.

Sekarang, setelah memahami konsep AQ diharapkan orang tua akan lebih bijak dalam memandang kesulitan yang dihadapi saat mengajarkan ananda mengenai kecerdasan emosional dan spiritual.

Cerdas Emosi dan Spiritual - Tantangan Hari Ke-3

Zona 3 Bunda Sayang IIP

Judul Project

Dipta Mengenal Emosi

Rencana

Mengajarkan pada anak untuk mengenalkan dan mengungkapkan emosi yang ia rasakan. Emosi ini dapat berupa tangisan, senyuman, amarah, kekecewaan atau ekspresi bahagia.

Mengenalkan berbagai luapan emosi dari gambar, buku maupun video yang sedang ia lihat.

Aktual/Kendala

Hari ini anakku bertengkar dengan sepupu-sepupunya karena tidak ada yang mau mengalah dan bergantian memakai mainan. Anakku yang pada akhirnya harus mengalah kemudian mengekspresikan emosinya dengan marah dan menangis.

Ia kemudian berguling-guling karena kesal. Aku membiarkannya mengekspresikan emosinya dan menjelaskan padanya bahwa tidak apa-apa merasa marah dan kecewa ketika mainan yang sedang digunakan harus diambil karena sudah waktunya untuk bergantian.

Melatih kecerdasan emosional dan spiritual
Dipta mengenal rasa marah dan kesal

Tangisannya tidak berlangsung lama. Setelah selesai dengan emosinya ia datang padaku dan memelukku agar merasa lebih baik.

Refleksi

Hari ini anakku belajar untuk menerima perasaan kecewa. Bukan dari buku, video atau mendengar penjelasanku namun dari pengalamannya sendiri. Aku harap ia dapat menerima perasaan itu dan mengungkapkannya dengan baik agar kelak ia dapat mengelola emosinya dengan baik juga.

% Antusiasme dan Pemenuhan Rencana

95% 🤩🤩🤩🤩

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

Jumat, 30 Oktober 2020

Cerdas Emosi dan Spiritual, Tantangan Hari Ke-2

Oktober 30, 2020 0 Comments
Bunda Sayang IIP

Pada anak usia dini, penting sekali bagi orang tua untuk mengenalkan dan mengajarkan anak mengenai kecerdasan emosi dan spiritual. Anak usia dini, terutama saat usia 0-6 tahun masih berada dalam fase Golden Age dan absorbent mind.

Bisa dikatakan kalau dalam fase ini, otak anak sedang berkembang secara pesat dan luar biasa. Sehingga, memberikan dasar-dasar kemampuan hidup serta ilmu pengetahuan akan menjadi fondasi yang kuat di masa mendatang.

Untuk anak usia 0-6 tahun, ada beberapa hal yang dapat ditanamkan dan diajarkan pada anak mengenai kecerdasan emosional dan spiritual. Hal tersebut antara lain :

Kecerdasan Emosional
Belajar mengenal emosi yang ada dalam diri sendiri. Misalnya senang, marah, kesal dan kecewa.

Kecerdasan Spiritual
Belajar menumbuhkan rasa cinta pada Tuhan, mengenal ciptaanNya, mengenal Tuhan dengan meneladani sifat-sifatNya.

Cerdas Emosi dan Spiritual - Tantangan Hari Ke-2

Zona 3 Bunda Sayang IIP

Judul Project

Dipta Mengenal Emosi

Rencana

Mengajarkan pada anak untuk mengenalkan dan mengungkapkan emosi yang ia rasakan. Emosi ini dapat berupa tangisan, senyuman, amarah, kekecewaan atau ekspresi bahagia.

Mengenalkan berbagai luapan emosi dari gambar, buku maupun video yang sedang ia lihat.

Aktual/Kendala

Hari ini, anak kami berulang tahun yang ke-2. Di pagi hari, aku bersama suami dan anakku pergi berjalan-jalan berkeliling komplek. Kemudian kami bermain bersama menikmati waktu liburan di rumah kakeknya.

Ia tampak begitu senang dan gembira, lalu aku bertanya padanya bagaimana perasaannya saat itu. Namun, ia bingung dengan jawabannya. Aku bertanya padanya, "Apakah Dipta senang?".

Bunda Sayang IIP
He's Happy

Ternyata pertanyaan tadi dijawabnya dengan antusias, "Senang, Mamah!". Akupun menjelaskan sedikit mengenai emosi senang yang saat itu ia rasakan.

Refleksi

Cara penjelasan yang aku berikan sepertinya cukup efektif karena anakku dapat menangkap pesan yang ingin aku sampaikan dan ia dapat menunjukkan bagaimana ekspresi ketika sedang senang.

% Antusiasme dan Pemenuhan Rencana

98% 🤩🤩🤩🤩

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

Kamis, 29 Oktober 2020

Cerdas Emosi dan Spiritual, Tantangan Hari Ke-1

Oktober 29, 2020 0 Comments
Bunda Sayang IIP Zona 3

Di akhir bulan Oktober ini, aku bersama teman-teman petualang di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional batch 6, kembali melanjutkan perjalanan sampai ke zona 3.

Di zona yang ke-3 ini, kami mendapat tantangan baru mengenai Membangun Kecerdasan Emosional dan Spiritual. Sedikit berbeda dengan tantangan pertama dan kedua, di tantangan kali ini kami diminta untuk membuat family project.

Family project ini tentu saja berkaitan dengan tema di zona ke-3 yaitu cerdas emosional dan spiritual. Tim dari project yang akan dijalankan selama 15 hari ke depan adalah anggota keluarga tentunya. Dalam hal ini aku mengajak suami dan anakku untuk berpartisipasi, dimana aku dan suamiku akan fokus untuk melatih kecerdasan emosional dan spiritual dari anak kami.

Sebelum masuk ke project yang pertama di hari pertama menulis jurnal tantangan, aku akan membagikan sedikit materi yang telah disampaikan sebelumnya.

Adapun tujuan pembelajaran yang akan kami peroleh setelah melewati zona ke-3 ini yaitu memahami pentingnya mengembangkan kecerdasan emosi dan spiritual anak-anak.

Selain itu juga agar orang tua dapat beraktifitas dengan anak-anak untuk meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual mereka. Aktifitas yang dilakukan tentunya disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak-anak.

Pada dasarnya semua anak adalah anak yang cerdas. Kesuksesan dan keberhasilan seseorang juga tidak hanya ditentukan oleh faktor kecerdasan intelektualnya saja, tapi ada faktor kecerdasan emosional dan spiritual yang juga memegang peranan penting.

Jika kecerdasan intelektual membuat seseorang menjadi pandai, maka kecerdasan emosional membuat seseorang dapat mengendalikan dirinya dan kecerdasan spiritual membuat seseorang dapat memberi arti dan memahami makna dari hidupnya.

Sekarang, aku akan langsung masuk ke jurnal family project untuk menyelesaikan tantangan di hari pertama.

Cerdas Emosi dan Spiritual - Tantangan Hari Ke-1

Zona 3 Bunda Sayang IIP

Judul Project

Dipta Mengenal Emosi

Rencana

Mengajarkan pada anak untuk mengenalkan dan mengungkapkan emosi yang ia rasakan. Emosi ini dapat berupa tangisan, senyuman, amarah, kekecewaan atau ekspresi bahagia.

Mengenalkan berbagai luapan emosi dari gambar, buku maupun video yang sedang ia lihat.

Aktual/Kendala

Hari ini, aku dan anakku membaca buku yang berjudul Sorry dimana dalam buku tersebut diceritakan seorang kakak kelinci yang kecewa dan sedih karena wortelnya dimakan oleh adik kelinci.

Mengenal emosi kecewa
Mencontoh emosi kecewa dan sedih dari buku

Aku pun menjelaskan padanya tentang kekecewaan dan kesedihan yang dirasakan seseorang jika orang lain mengambil barang kita tanpa bilang-bilang. Aku kemudian memintanya untuk menunjukkan ekspresi sedih dan kecewa, ternyata ia bisa menirukannya dengan baik.

Refleksi

Cara penjelasan yang aku berikan sepertinya cukup efektif karena anakku dapat menangkap pesan yang ingin aku sampaikan dan ia dapat menunjukkan bagaimana ekspresi ketika sedang sedih dan kecewa.

% Antusiasme dan Pemenuhan Rencana

98% 🤩🤩🤩🤩

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

Rabu, 28 Oktober 2020

Menikmati Nge-Blog di 2020

Oktober 28, 2020 2 Comments
Hari Blogger Nasional

Tanggal 27 Oktober 2020 diperingati sebagai Hari Blogger Nasional, yeay kasih selamat dulu untuk semua teman-teman blogger di seluruh nusantara.

Setelah membaca tulisan dari hasil pencarian di Google, Hari Blogger Nasional ini ditetapkan oleh Bapak Muhammad Nuh selaku Menteri Komunikasi dan Informatika pada tanggal 27 Oktober tahun 2007.

Berkaitan dengan perayaan ini, aku ingin membagikan cerita bagaimana aku akhirnya menikmati kegiatan blogging selama tahun 2020 ini. Jujur saja, di tahun sebelum-sebelumnya aku mana tau kalau ada yang namanya Hari Blogger Nasional. Hehe.

Perjalanan Nge-Blog


Blog maeshardha ini sudah ada sejak tahun 2010, aku memang sudah suka menulis sejak dulu. Alasan membuat blog ini awalnya adalah biar punya aja dulu. Haha. Emang anaknya suka nggak mau ketinggalan gitu, semua sosial media punya supaya tidak ketinggalan info dari dunia maya. Wew alasan macam apa itu?!

Sayangnya hanya beberapa tulisan yang aku hasilkan setelah membuat blog ini di tahun tersebut, aku memilih platform menulis lain yaitu tumblr. dan blog inipun terbengkalai hingga bertahun-tahun lamanya sampai aku lupa punya maeshardha.blogspot.com. Heu..

Di tahun 2017, sebelum menikah dan sudah memutuskan resign, aku kembali tergerak untuk menekuni kembali dunia menulis. Short story, aku berniat untuk membuat blog karena entah mengapa kurang puas rasanya menulis di tumblr. Saat itu pun tumblr. sedang bermasalah jadi susah sekali untuk login kesana.

Ndilalah, aku menemukan fakta kalau aku pernah membuat akun blog di tahun 2010 silam. Allahuakbar! Where have I been?! Akhirnya nggak jadi bikin blog baru dan mulai menata hidup bersama blog maeshardha.blogspot.com saat itu.

Di tahun 2017 sampai 2019, tidak banyak juga tulisan yang aku hasilkan. Hanya beberapa belas tulisan dalam 2 tahun, lol. Kemudian di akhir tahun 2019, setelah pindah ke kota Sukabumi dan hidup jauh dari keluarga serta mertua, aku bertekad untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang aku senangi dimana menulis adalah salah satunya.

Aku kemudian bergabung dengan Ibu Profesional regional Sukabumi, dari sana aku tau mengenai Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Saat itu sedang ada pembukaan kelas untuk member baru di awal tahun 2020 ini. Langsung daftar dong ya!

Di bulan Februari 2020, aku juga bergabung dengan komunitas menulis lain yaitu Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Kedua komunitas inilah yang kemudian berperan besar dalam perjalanan diriku menikmati kegiatan blogging.

Dibandingkan dengan teman-teman lain, pengalamanku di dunia blogging masih sangat cetek. Tapi, dari mereka aku mendapatkan banyak sekali pelajaran terutama mengenai konsistensi dan semangat menulis.

Di bulan April lalu, aku akhirnya men-dotcom-kan blog maeshardha.blogspot.com menjadi maeshardha.com. Punya domain sendiri rasanya senang aja gitu, lol, jadi lebih terpacu semangatnya untuk mengisi blog ini.

Dari kegiatan nge-blog ini juga akhirnya aku menjadi pribadi yang lebih percaya diri dalam menunjukkan tulisanku pada banyak orang. Dulu mah boro-boro, hanya sedikit sekali bahkan bisa dihitung jari orang-orang yang tau bahwa aku memiliki hobi menulis.

Sekarang aku juga sudah bisa menghasilkan pendapatan dari kegiatan menulis. Senang sekali rasanya memiliki hobi yang dibayar. Meskipun nilainya belum seberapa banyak, namun pengalaman ini tentu sangat berkesan bagiku.

Aku harap aku akan dapat terus menikmati kegiatan nge-blog ini di tahun-tahun berikutnya, bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang semakin berkembang dan nyaman dibaca. Tentunya, ingin juga bisa terus menulis mengenai hal-hal yang bermanfaat, baik itu untuk diriku sendiri maupun orang banyak.

Menikmati Kegiatan Nge-Blog di 2020


Selama 10 bulan rutin mengisi blog ini, aku mulai terbiasa menulis hampir setiap hari. Walaupun tidak setiap hari menghasilkan tulisan yang siap untuk dipublikasikan, minimal menulis judul atau satu dua paragraf draft sudah menjadi kebiasaan.

Ada beberapa hal yang membuatku begitu menikmati kegiatan menulis di blog pada tahun 2020 ini, hal-hal tersebut yaitu :

Menulis untuk me time

Selain jalan-jalan, menonton film/drama dan  membaca buku, menulis adalah salah satu kegiatan favorit untuk aku lakukan saat mengisi me time di rumah. Sebagai stay at home mom, kegiatan menulis adalah salah satu yang paling mudah untuk direalisasikan.

Sejak bergabung dengan KLIP, aku memiliki target untuk rutin menulis minimal 10 tulisan dalam sebulan. Sehingga, ketika ada waktu senggang aku akan menggunakannya untuk menulis. Tentu saja menulis sebagai me time harus dilakukan dengan sukarela dan tanpa tekanan. Jadi saat aku merasa bosan dan ingin melakukan hal lain selain menulis, yasudah tidak apa-apa tidak menulis di hari itu daripada aku tidak menikmati me time-ku.

Dengan menulis, rasanya aku memindahkan sebagian pikiranku ke wadah yang lain. Semua kenangan, rangkuman kuliah online, tugas-tugas Ibu Profesional dan ide-ide lainnya kutuangkan dalam tulisan di blog. Oleh sebab itu aku memberi judul blog ini Written Pensieve, wadah dimana aku bisa bebas menuangkan pikiranku dan melihatnya kapanpun aku ingin.

Meluangkan me time untuk menulis di blog menjadi sesuatu yang aku sadari begitu menyenangkan. Waktuku menunggu anak bangun dari tidur siangnya atau menanti kepulangan suami pulang kerja menjadi tidak terlalu membosankan walau kegiatanku di rumah saja. Mbok dari dulu sadarnya yo, piye toh?! 

Menekuni Hobi Menulis

Menulis adalah salah satu kegiatan yang kusukai sejak kecil. Seingatku waktu SD dulu aku senang membuat cerpen, lalu semasa SMP-SMA senang membuat draft novel ala-ala yang tidak pernah terselesaikan. Haha. Ketika kuliah, aku menggunakan tumblr. untuk mencurahkan isi hati dan kegalauanku di masa muda dulu (sekarang berumur, ye?! Haha). 

Saat bekerja, aku masih menulis. Membuat SOP dan laporan-laporan yang berkaitan dengan pekerjaanku di kantor. Aku tidak menghitung perjalanan menulis di fase ini sebagai hobi yang menyenangkan, karena yang ada justru membuat otak ngebul berasap karena terlalu berpikir keras.

Maka dari itu, setelah resign dan bisa kembali bebas menekuni hobi menulis aku merasa lega teramat sangat. Namun, kegiatan menulis sempat kembali terhenti sebab aku jetlag setelah hamil dengan drama trimester pertama dan melahirkan serta membesarkan anak pertama.

Menjadi ibu baru rupanya cukup membuat seorang Ima harus bersusah payah beradaptasi dan menemukan kembali ritme kehidupannya sebagai seorang individu. Butuh waktu sekitar hampir 2 tahun sampai akhirnya aku bisa benar-benar terbiasa dengan peran baru sebagai ibu dan seorang individu yang butuh waktu untuk kehidupan pribadinya.

Jadi, di tahun 2020 ini aku merasa benar-benar merdeka karena mulai bisa membagi waktu antara pekerjaan rumah tangga dan menekuni hobi menulis. Inilah yang membuatku menikmati kembali kegiatan menulis, terutama di blog.

Menulis Membuka Peluang Mendapat Penghasilan

Sejak dulu, aku memang bercita-cita menjadi pekerja lepas. Tidak terikat jam kerja dan tempat kerja. Tetap produktif dan menghasilkan meskipun bekerja dari rumah. Pengalamanku menulis di blog kemudian membukakan jalan mencapai cita-citaku tersebut.


Menulis sebagai hobi yang kemudian dihargai membuatku lebih dengan senang hati mengerjakan pekerjaanku. Jika ada deadline aku akan berusaha untuk tidak terlambat, jika mendapat topik atau bahasan yang aku tidak familiar maka dengan senang hati aku akan mencari tau tentangnya agar dapat menulis dengan baik.

Meskipun nilainya tidak seberapa dibandingkan saat aku masih berstatus pekerja full-time di kantor, namun aku merasa lebih menikmati pekerjaan yang sekarang. Pekerjaan dimana aku bisa mengatur waktu sendiri kapan harus memulai dan menyelesaikannya, tanpa harus meninggalkan kewajiban membersamai anak di rumah. I think I already find my way.

Berteman Dengan Banyak Orang

Hal lain yang membuat kegiatan nge-blog terasa menyenangkan adalah saat aku banyak mengenal teman-teman sesama penulis (blog) dari komunitas. Terima kasih untuk diriku yang tidak senang sendirian, sehingga bisa menemukan mereka. Haha.

Setelah pindah ke Sukabumi tanpa punya satu kenalan pun disini, kehidupan sebagai ibu rumah tangga rasanya sangat monoton. Kehidupan sosialku pun terbatas hanya dengan anak dan suami, tetangga sesekali. Nggak gue banget nih!

Berkomunitas membuatku merasa kembali menjadi manusia yang sebenarnya, berelasi dan berkomunikasi dengan banyak orang. Meskipun saat ini lebih banyak lewat media sosial dan tidak bertatap muka secara langsung.

Siapa yang menyangka aku akan memiliki teman yang tinggal di berbagai negara. Mulai dari Indonesia, Thailand, Jepang bahkan New Zealand. Siapa mengira aku akan kenal dengan penulis-penulis hebat, yang sudah melahirkan banyak karya. Aku bisa kenal dengan mereka yang sudah menjadi blogger profesional, sudah sering mendapat job dan menang lomba blog bahkan blognya sering nangkring di halaman pertama Google.

Apakah aku minder berada di tengah-tengah mereka? Yaiyalah udah jelas, Cuy! Haha. Lalu, apakah aku tenggelam dengan keminderanku? Moon maap nih tapi aye asyik-asyik aja temenan sama mereka, semoga mereka juga ye. Hehe. 

Berteman dengan teman-teman blogger dan penulis membuatku mempunyai circle pertemanan baru, bahkan bisa dibilang aku kembali menemukan comfort zone-ku. Mereka-mereka ini yang secara tidak langsung memberikan energi dan semangat untuk terus menulis dan menghasilkan tulisan-tulisan yang berkembang.

Learning by Doing

Sebagai lulusan farmasi dan Apoteker, tentu tidak pernah sedikitpun pernah terlintas olehku untuk belajar mengenai blogging dan segala printilannya.

"Apa sih IT-IT gitu kan ya, kayaknya ribet deh?! Udahlah nulis mah nulis aja," kataku di awal tahun ini.

Tapi ternyata, belajar nge-blog itu tidak setidakmenyenangkan yang ada di bayanganku. Lagi-lagi berkat teman-teman yang sudah banyak makan asam garam lautan blogging, baiknya mereka tidak pelit ilmu dan membagikannya pada newbie-newbie macam aku dengan cuma-cuma. Sing lancar nggih rejekine, Mbakyu~

Anehnya lagi, aku senang loh mempelajari itu semua. Haha. Walaupun awalnya hanya ber ah-oh ria, kemudian ikut-ikutan mencoba menerapkan ilmu yang didapat dari teman-teman.

Aku juga sempat ikut beberapa kegiatan seperti webinar untuk blogger yang diadakan secara gratis, ilmu dan pengetahuan yang aku dapat selanjutnya aku coba terapkan dalam kegiatan menulis di blog.

Saat ini, aku bahkan berkesempatan mengisi blog lain selain blog maeshardha.com yaitu drakorclass.com. Menulis disana tentu memiliki pressure (pleasure) tersendiri, karena tulisanku bersanding dengan tulisan kontributor lain yang notabene jam terbangnya sudah sampai luar angkasa jika dibandingkan denganku.

Namun, ya happy-happy aja sih. Aku bisa banyak belajar juga dengan membaca tulisan-tulisan teman-teman yang lain. Hal inilah yang menjadi alasan selanjutnya mengapa aku menikmati kegiatan nge-blog di tahun 2020.


Hari Blogger Nasional
Happy Blogger Day from drakorclass

Semoga nikmatnya nge-blog ini akan terus bertahan sampai jangka waktu yang lama. Harapannya tentu saja tulisanku akan semakin berkembang dan semakin baik, semakin berfaedah dan semakin bermanfaat.

Sekian dulu, sekali lagi selamat merayakan hari blogger nasional teman-teman nge-blog. Annyeong!

Bandung, 27 Oktober 2020

Jumat, 23 Oktober 2020

Drakorclass, Bukan Blog Drakor Biasa

Oktober 23, 2020 2 Comments

Kemarin, aku baru saja mengunggah tulisan berjudul Oppa Ganteng Penderita Mental Illness di halaman blog drakorclass.com. Tulisan tersebut adalah tulisan ke-2 setelah Drama Battle, Flower of Evil vs Two Weeks. Sekarang ceritanya aku punya kesibukan baru yaitu mengisi blog drakorclass.com.

Buat teman-teman yang membaca tulisan-tulisanku di blog, pasti sering menemukan tulisan dengan topik seputar drama Korea. Sebenarnya sudah sejak lama aku suka menonton drakor, namun tidak pernah terpikir sama sekali untuk menjadikannya sebagai bahan tulisan di blog. Setelah bertemu dengan teman-teman di WAG KLIP Drakor dan Literasi, aku jadi paham alasan banyaknya reviewer drama Korea yang malang melintang di internet.

Menulis sesuatu dari hal yang bagi kita menyenangkan itu menyenangkan sekali. Haha. Menulis mengenai film atau drama yang kita sukai membuat ide datang begitu saja dan jari jemari bisa dengan luwes menuliskan apa yang ada di dalam benak kita. Daebak!

Sedikit bercerita mengenai teman-teman di grup Drakor dan Literasi, mulanya kami membuat grup Whatsapp baru hanya karena kami sering sekali ngobrol hingga larut malam di grup besar Whatsapp KLIP. Berdasarkan asas sopan santun dan tidak enakan, akhirnya kami membuka lapak sendiri untuk ngobrol ngalor ngidul seputar drama Korea, aktor dan aktris Korea serta perK-Pop-an.

Mulanya grup ini hanya terdiri dari beberapa orang, lama-lama anggota semakin bertambah dan hingga saat ini berjumlah 21 orang dimana semuanya perempuan. Ya, namanya juga kebanyakan dari kami anggota Ibu Profesional jelaslah pasti wedhok kabeh.

Dalam grup ini, kami dipertemukan akibat dua hobi yang sama yaitu menonton drakor dan menulis. Bagi kami menulis dan menonton drama Korea itu sama-sama hobi yang membuat kami tetap waras menjalankan aktivitas kami di luar dunia maya. Jangan pikir kerjaan ibu-ibu doyan drakor melulu mantengin oppa, lol. Di samping nge-drakor, semua teman-teman Drakor dan Literasi adalah wanita-wanita produktif.

Di bidang literasi, banyak teman-teman yang sudah meluncurkan buku solonya dan saat ini sedang sibuk dengan project buku-buku solo terbarunya. Ada yang sibuk menulis dan akan segera me-launching buku antologi, sibuk mengikuti seminar atau webinar serta aktif di komunitas lain dan masih banyak aktivitas lainnya. Itu tentunya di luar pekerjaan utama mereka sebagai ibu rumah tangga yang harus membersamai anak beserta kerempongan school from home, masak, beres-beres rumah dan mengurus suami masing-masing. Wih, ngeri!

For your information, sebenarnya aku merasa bagaikan butiran debu di antara teman-teman ini. Giley sih, udah sibuk ngerjain ini-itu masih punya waktu buat menulis sekaligus menonton drama Korea! Bahkan ada yang memang sengaja meluangkan waktu setiap hari untuk menulis, membuat cerpen ribuan kata, ada juga yang sekali menulis dua-tiga artikel terselesaikan dengan hasil yang outstanding. Kapan tidurnya mereka ini?

Gimana nggak sebutir debu nih gue diantara mereka?! Haha.

Di sela-sela kesibukan teman-teman Drakor dan Literasi, kami mengadakan challenge ala-ala untuk mengasah kemampuan menulis kami dengan tema seputar Korea. Pertama kami mengadakan tantangan menulis review film Korea dan setelahnya selama 4 bulan kami menantang diri sendiri untuk menulis 30 topik seputar Korea. Ini semua tercetus karena adanya dua kesamaan hobi kami tadi, menonton drakor dan menulis.

Ternyata, ide untuk mengkombinasikan antara drakor dan literasi tidak berhenti sampai disitu. Saat ini, kami sudah membuat wadah baru berupa blog bersama untuk menulis seputar drama, film Korea maupun review buku dan tulisan-tulisan lainnya. Berdasarkan hasil survey, kami memberi nama wadah baru ini dengan drakorclass.com. Usia blog drakorclass sebentar lagi memasuki 2 minggu. Hoho.

drakorclass.com official logo

Blog drakorclass mempunyai 21 orang kontributor yang semuanya adalah anggota grup WA KLIP Drakor dan Literasi. Tujuan dibentuknya blog ini adalah agar kami semua memiliki ruang yang sifatnya bebas untuk menuangkan kesenangan kami terhadap dunia drama Korea termasuk oppa-oppa kesayangannya masing-masing. Hahaha!

Kontributor blog drakorclass

Sebenarnya hal ini sehubungan dengan tidak semua blog kontributor mengangkat drakor sebagai niche-nya. Jadi, dengan adanya blog khusus drakor blog pribadi mereka bisa tetap fokus dengan topik-topik di luar niche yang sudah mereka tentukan.

Selain menulis tentang review drama dan film Korea, tulisan-tulisan di blog drakorclas juga menggali sisi lain dari drama atau film yang dibahas. Bisa mengenai teori psikologi, mengenai tips ini-itu ala drama ini-itu bahkan nilai-nilai serta kebaikan apa yang bisa kita ambil setelah menonton drama tersebut. Dijamin menang banyak kalau jalan-jalan di blog drakorclass. Hehe.

Tujuan lainnya adalah untuk menuliskan review buku-buku yang recommended atau bahkan mempromosikan blog serta buku-buku yang sudah dihasilkan oleh kontributor drakorclass.

Manarik sekali ya kan drakorclass ini?! Untuk yang penasaran silakan mampir ke blog kami ya ♥️

Setelah mengelola blog serta sosial media drakorclass, masih banyak cita-cita yang ingin diwujudkan oleh teman-teman Drakor dan Literasi. Tentunya berkaitan dengan dua hobi kami tadi. Semoga kami bisa tetap kompak dan merealisasikan apa yang menjadi impian bersama kami.

Sukabumi, 23 Oktober 2020

Rabu, 21 Oktober 2020

Pantulan Warna Zona 2 : Kemandirian

Oktober 21, 2020 0 Comments

Bulan Oktober ini, aku menyelesaikan tantangan kelas Bunda Sayang batch 6 bersama teman-teman di Pantai Bentang Petualang. Alhamdulillah, 10 hari tanpa jeda aku menuliskan jurnal mengenai pengalamanku mencoba melatih anakku agar lebih mandiri.

Berbeda dengan aliran rasa di zona pertama, kali ini tugas kami adalah menulis surat yang ditujukkan untuk diri sendiri atau untuk ananda tercinta.

Di tugas aliran rasa zona ke-2 ini, aku ingin memberikan apresiasi pada anakku. Aku tau ia sudah mencoba dengan sangat baik, sudah mau bekerja sama dan membuat progress yang cukup membuatku terharu karena bisa mendampinginya melewati semua ini.

***

Dear Dipta,

Assalammualaikum anak sholeh!

Saat Mama menulis ini, Dipta memang belum bisa membaca tapi suatu hari nanti semoga Dipta berkesempatan untuk membaca tulisan Mama untukmu ini ya.

Dipta, terima kasih ya sudah hadir dalam kehidupan Mama dan Papa. Usiamu saat ini sudah hampir 2 tahun loh, tanggal 30 Oktober nanti Dipta genap 24 bulan. Alhamdulillah, masha Allah tabarakallah.

Dipta, Mama dan Papa ingin selalu memberikan yang terbaik untuk dirimu. Mama sampai ikut berbagai kelas dan workshop parenting, membaca buku-buku parenting dan mengikuti komunitas untuk meningkatkan ilmu dan kualitas Mama sebagai ibu.

Mama merasa tidak memiliki bekal apa-apa saat Dipta lahir, Mama takut tidak bisa menjadi ibu yang baik buatmu kalau ibu tidak mempersiapkan diri dengan baik.

Kadang saat Mama tau dan paham tentang teori yang sudah Mama pelajari namun kenyataannya tidak semudah yang tertulis, Mama kecewa dan sedih. Tapi, Dipta menguatkan Mama dan meyakinkan Mama kalau Dipta memiliki kemampuan dan kelebihan sendiri.

Mama kemudian menurunkan ekspektasi dan sangat bersyukur dengan semua progress yang Dipta tunjukkan, termasuk dalam hal kemandirian.

Sejak awal Mama ingin kamu tumbuh menjadi anak laki-laki yang mandiri, kuat dan tangguh. Mama ingin kamu menjadi anak yang percaya diri dan tidak selalu bergantung pada orang lain di kemudian hari. Maka, sejak kecil Mama mempersiapkan Dipta agar mampu melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri.

Mama senang sekali saat Dipta menyambutnya dengan antusias. Mama masih ingat pertama kali Dipta menawarkan diri untuk mengisi gelas minum sendiri. Awalnya sempat khawatir Dipta akan menumpahkan air atau bermain-main dengan dispenser, tapi ternyata Dipta bisa melakukannya dengan baik!

Mama juga senang sekali loh bisa membersamai Dipta belajar untuk memakai dan melepas sandal sendiri, membuka dan memakai baju, jaket serta celana sendiri, makan dan minum sendiri sampai sudah bisa pergi ke kamar mandi saat mau pipis.

Sekarang ini, Dipta lagi senang-senangnya ingin mencoba sikat gigi sendiri. Kalau Mama mau membantu, pasti Dipta nggak mau. Anak pintar, sebentar lagi mungkin Dipta akan bisa mandi sendiri juga nih!

Terima kasih ya, Nak, sudah mau belajar bersama-sama Mama dan Papa. Terima kasih untuk selalu menjadi penyemangat kami mendampingi Dipta bertumbuh dan berkembang. Terima kasih sudah selalu menjawab happy saat Mama tanya bagaimana rasanya memakai ini itu sendiri.

Yuk kita terus belajar bersama-sama, jangan takut salah atau gagal karena Mama dan Papa akan selalu ada untuk Dipta sampai kapanpun.

Mama and Papa love you forevermore ♥️

***

Imawati Annisa Wardhani
Regional Sukabumi

#aliranrasabundasayang
#petualangansobatualangzona2
#melatihkemandirianananda

Sabtu, 17 Oktober 2020

Tahap Perkembangan dan Stimulasi Kemampuan Bahasa Pada Anak Usia Dini

Oktober 17, 2020 11 Comments

Bahasa, adalah salah satu area yang dibahas di kelas Zoom How to Create Montessori Inspired at Home pada minggu ke-2. Bahasa ini salah satu dari 6 yang masuk ke dalam periode sensitif anak dan menjadi fondasi untuk anak nantinya belajar berbicara, membaca dan menulis.

Aku tertarik untuk menulis ulang materi mengenai bahasa ini karena aku sendiri sempat merasa khawatir pada anakku, yang mana beberapa bulan sebelum ini tidak banyak mengeluarkan kosakata dari mulutnya.

Sebelum aku mengikuti kelas ini, alhamdulillah Dipta sudah menunjukkan progress yang cukup baik dalam berbicara. Setelah mengikuti materi ini, aku jadi paham saat ini anakku sedang berada di fase apa dan hilanglah semua kekhawatiranku. Hehe.

Kebanyakan orang tua khawatir ketika melihat anaknya baru bisa mengeluarkan 1-2 kata, belum bisa menggabungkan kata, bicaranya belum jelas dan lain sebagainya. Apalagi kalau membandingkan dengan anak lain yang perkembangannya jauh lebih cepat. Huhu~ I feel you, Moms!

Proses Terbentuknya Bahasa



Ternyata, terbentuknya bahasa itu tidak serta merta tring! muncul bergitu saja. Ada banyak proses yang harus dilalui anak untuk mencapai goal yaitu berbicara dengan sempurna.

Proses terbentuknya bahasa diawali dari bunyi. Bunyi yang anak dengar, kemudian ia simpan di dalam otaknya. Ketika anak sudah familiar dengan bunyi yang ia dengar dan otaknya menyimpan bunyi tersebut, anak akan mencoba menghubungkan apa yang ada dalam otaknya dengan mulutnya sehingga terbentuk kata yang belum sempurna.

Setelah berlatih mengucapkan kata-kata yang belum sempurna tadi, anak akhirnya akan dapat membunyikan kata yang sempurna. Practice makes perfect, ya! Jadi jangan heran kalau anak mengulang-ngulang kata yang sama hingga ratusan kali atau selama beberapa hari. Ia sedang berusaha memasterkan dirinya untuk mengucapkan kata-kata tersebut secara benar.

Setelahnya anak akan dapat membuat kalimat sederhana. Misalnya, ibu ambil minum atau ayah pergi kerja. Lalu kemampuan berbahasa anak akan meningkat menjadi mampu membentuk kalimat kompleks tapi belum sempurna.

Bu Pritta mencontohkan anaknya saat belum bisa berbicara dengan sempurna mengatakan, "Aku mau tidur selama-lamanya,". Seram ya! Padahal maksudnya anaknya mau tidur yang lama, tapi belum bisa membuat kalimat kompleks dengan sempurna.

Lama-lama anak akan mahir membentuk kalimat kompleks yang sempurna sampai akhirnya dapat bercerita yang terdiri dari beberapa kalimat.

Panjang ya tahapannya, sebagai orang tua tugas kita adalah terus mengobservasi dan menstimulasi anak dengan memberikan banyak kosakata untuk diserap oleh otaknya. Jangan lupa untuk trust your child tanpa mengabaikan red flags tentunya.

Kemampuan Untuk Berbicara


Untuk berbicara, anak-anak ternyata butuh banyak skills alias kemampuan loh! Tuhan menganugerahi otak anak-anak dengan kemampuan yang luar biasa di masa golden age-nya. Adanya kemampuan-kemampuan ini yang membuatnya akhirnya bisa berbicara.

Yang pertama adalah kemampuan menyerap (reseptif), layaknya sponge anak-anak usia dini menyerap semua hal yang didengarnya. Semuamua diserap lalu disimpan di dalam otaknya. Itu lah mengapa orang tua atau care taker anak harus betul-betul menjaga ucapannya pada anak.

Setelah diserap dan disimpan di dalam otak, anak memiliki kemampuan mengingat apa yang sudah tersimpan di kepalanya. Aku sendiri sering takjub ketika sedang menjelaskan sesuatu pada anakku tapi ia tidak memerhatikan, melengos dan cuek bebek tapi suatu waktu ia ingat dengan apa yang dulu pernah aku sampaikan.

Misalnya, saat aku mencontohkan padanya untuk menyusun mainan kereta-keretaannya di rak. Mana lah dia peduli, ia malah sibuk mengacak-ngacak bagian rumah yang lain. Tapi, malam harinya ia memperlihatkan pada ayahnya kemampuannya menyusun mainan kereta-keretaannya relatif persis dengan apa yang aku contohkan di siang harinya. Haha.

Lanjut ya, sebelum berbicara anak akan menggunakan kemampuan memanggil ingatannya yang telah ada di dalam otaknya. Di tahap ini, anak belum mampu untuk mengucapkan kata-kata namun paham maksud dari kata tersebut karena kemampuan memanggil ingatan tadi.

Contohnya, kita minta tolong untuk diambilkan remote. Tanpa berbicara anak akan mengambilkan benda yang tepat untuk kita. Atau saat kita bertanya meja yang mana? Ia akan menunjuk meja.

Setelah ia mempunyai banyak kosakata yang diingat di dalam otaknya, ia akan mengeluarkan kemampuan mengungkapkan kata (ekspresif). Jadi, untuk menyebutkan satu buah kata perlu proses panjang yang terjadi pada otak anak. Setelah awalnya menyerap kata-kata, lalu diingat kemudian ingatan tersebut dipanggil barulah ia menyebutkan sebuah kata.

Kadang, kata tersebut pun belum secara sempurna ia katakan. Sudah dijelaskan di proses terbentuknya bahasa tadi ya, setelah latihan terus menerus akhirnya kemampuan mengungkapkan kata dengan jelas (bicara) pun muncul. Horee!

Setelahnya, anak akan mengembangkan kemampuannya untuk menyusun kata. Jadi, untuk mencapai tahapan ini orang tua harus bersabar dan trust your child sambil terus melakukan stimulasi. Jangan terlalu terburu-buru atau memaksakan anak untuk berbicara, asalkan masih sesuai dengan perkembangan usianya ya tidak masalah.

Kalau pun ada keterlambatan, orang tua masih punya waktu tunggu hingga 6 bulan sebelum memeriksakan anak ke dokster spesialis.

Ledakan Bahasa


Dr. Maria Montessori mengatakan,

"Kemajuan kasat mata tidak berlangsung secara bertahap, namun terjadi lompatan-lompatan,"

Maksudnya disini adalah saat orang tua mendengar anak berulang-ulang mengucapkan sebuah kata secara belum sempurna (misal num, dek, ndi, dll), mereka melihat hal tersebut nampaknya tidak menunjukkan progress yang berarti.

Padahal di dalam otak anak sedang terjadi proses penyerapan hingga akhirnya suatu hari orang tua akan mendengar anak berbicara satu kata utuh secara sempurna.

Periode ini nampaknya sedang terjadi pada anakku. Sampai usianya mendekati 20 bulan, ia hanya bisa mengucap satu per satu kata secara belum sempurna. Ia juga tidak antusias untuk mengikuti kata-kata yang diajarkan oleh orang tuanya.

Sebagai ibu, sempat khawatir juga dengan perkembangan bahasanya. Namun aku belum sampai tahap ingin berkonsultasi dengan dokter, masih percaya kata-kata orang jaman dulu, "Nanti tau-tau bisa sendiri kok,". Hehe.

Benar saja, suatu hari anakku sudah lancar ngomong banyak hal. Tiba-tiba bisa berhitung satu sampai sepuluh dalam bahasa Inggris pula, sudah bisa bilang saat mau makan, mau minum, mau pipis dan selalu mengulang kata-kata yang diucapkan aku dan Papanya tanpa disuruh.

Inilah yang kemudian aku sadari sebagai ledakan bahasa. Ledakan bahasa terdiri dari 2 tahap, yang pertama di usia 21-24 bulan dimana anak akan dengan lancar menyebutkan kata kerja, benda dan sifat. Lalu yang ke-2 di usia 2 tahun ke atas dimana anak akan mampu membentuk kelompok kata secara teratur.

Di usia 1-3 tahun, akan sangat wajar jika anak mengalami hal-hal berikut dari segi perkembangan bahasa :
1. Mungkin menggunakan satu kata yang sama untuk banyak hal. Contohnya Mama untuk mamanya, Mama untuk tantenya, Mama untuk neneknya.

2. Menggunakan jargon saat bingung mengucapkan kata yang tepat. Contohnya anakku sendiri yang akan mengucapkan kng untuk kata-kata yang belum bisa ia ucapkan. Kng untuk helikopter, kng untuk capung, kng untuk sayur-sayuran dan untuk semua yang belum bisa ia sebutkan.

3. Menghilangkan konsonan awal dan akhir.

4. Overextension, adalah saat anak menggunakan kata yang sama untuk banyak hal termasuk yang bukan kelompoknya. Misalnya ia akan menyebutkan semua hewan dengan kucing, semua bentuk disebut sebagai oval, dan sebagainya.

5. Underextension, adalah saat anak memiliki kecenderungan untuk menempatkan kata secara terbatas. Misal, ia hanya akan menyebut susu saat susu berada dalam botol miliknya dan jika susunya dituang ke dalam gelas ia tidak mau menyebutnya sebagai susu.

6. Menggunakan tata bahasa yang tidak sempurna.

Setelah mengetahui keenam hal tersebut rasanya kekhawatiranku akan kemampuan anakku berbahasa jauh lebih berkurang.

Stimulasi Bicara Pada Anak Usia Dini


Sebelum kita masuk ke apa saja yang dapat ayah dan ibu lakukan untuk menstimulasi area bahasa pada anak usia dini, kita lebih baik mengetahui apa saja yang menyebabkan anak terlambat berbicara. Hal-hal yang dapat menyebabkan keterlambatan anak dalam berbicara adalah :

1. Anak yang masih ragu dan belum percaya diri untuk berbicara
2. Stimulasi yang dilakukan kurang banyak
Terlalu banyak screen time, anak tidak diberi kesempatan untuk mencoba atau pengasuhan yang pasif (anak jarang diajak berbicara) dapat menjadi beberapa kemungkinan penyebab anak terlambat berbicara.
3. Stimulasi yang kurang tepat
Contohnya, anak yang masih berada dalam tahap menyerap kata-kata sudah diminta untuk berbicara, "Maaaa...kaaan...", "Mooooo...biiiil..." dan sebagainya. Atau terlalu sering menyalahkan anak saat ia mencoba berbicara, misalnya anak berkata mobil untuk bus atau mobil untuk truk. Ternyata hal ini dapat menurunkan kepercayaan diri anak sehingga anak yang tadinya mau mencoba untuk berbicara, kembali menjadi ragu.

Adapun tujuan utama dari stimulasi bicara pada anak usia dini adalah untuk meningkatkan penyerapan kata (reseptif) dan mempersiapkan anak mengungkapkan dan berbicara. Perlu diperhatikan, saat membersamai anak dalam aktivitas stimulasi ini prinsipnya adalah,

Teach by teaching, not by correcting

Ketika anak melakukan kesalahan, jangan terburu-buru untuk mengkoreksi kesalahannya dan menyalahkan anak. Orang tua dapat mengajarkan anak seperti contoh berikut :

Ibu meminta anak untuk mengambilkan bola berwarna biru, namun anak memberikan ibu bola berwarna merah. Ibu tidak perlu menyalahkan anak dengan berkata,

"Salah, Nak. Bukan yang ini bola biru, yang itu loh!".

Sebaiknya ibu berkata, "Terima kasih sudah mengambilkan Ibu bola merah, ini bola merah. Sekarang, kita cari yuk bola biru!".

Sekarang, kita langsung masuk ke aktivitas yang dapat dilakukan untuk menstimulasi area bahasa pada anak usia dini :

Keranjang Kosakata

Orang tua dapat menyiapkan beberapa objek real (replika atau miniatur) dari kosakata yang ingin diajarkan pada anak-anak. Konsepnya adalah pengenalan benda nyata terlebih dahulu baru setelah itu jika ingin melanjutkan dengan kartu bergambar juga tidak apa-apa.

Pengenalan Fonik Melalui Lagu

Caranya adalah cukup dengan menyanyikan lagu secara berulang, jika anak belum mau mengikuti tidak perlu dipaksakan. Dapat juga mengenalkan fonik menggunakan objek yang sebenarnya lalu dapat dilanjutkan dengan kartu bergambar.

Membacakan Buku

Tips untuk membacakan buku pada anak usia 1-3 tahun adalah dengan memilih buku yang gambarnya realistis dan jelas, kalimat-kalimatnya tidak terlalu panjang dan bukunya diletakkan di tempat yang terjangkau oleh anak.

Kemudian, orang tua atau pengasuhnya dapat membacakan buku dengan vokalisasi yang jelas, perlahan dan melakukan pengulangan kata agar anak dapat menyerap kata-kata tersebut dengan baik. Pendamping juga harus hadir jiwa dan raga saat membersamai anak membaca buku, tujuannya agar kegiatan membaca buku menjadi menyenangkan terutama jika pendamping menggunakan ekspresi wajah yang menarik saat membacakan buku.

Jangan lupa untuk ikut melibatkan anak, dalam pemilihan buku misalnya. Tidak masalah jika anak memilih buku yang sama terus menerus untuk dibacakan. Berikan jeda saat membaca agar anak dapat merespon dan berikan anak kesempatan untuk bercerita mengenai isi bukunya.

Bercerita

Kegiatan ini dapat dilakukan dengan bercerita mengenai apa yang sudah dilakukan di hari tersebut. Menceritakan satu per satu aktivitas yang telah dikerjakan bersama anak, apa yang sudah dilihat ataupun yang sudah dialami.

Niatkan kegiatan ini murni untuk bercerita dan jangan berharap agar anak dapat langsung menirukan apa yang sudah kita katakan sebelumnya. Berceritalah dengan kalimat yang singkat dan kata-kata yang jelas.

Bernyanyi

Bernyanyilah dengan lagu yang menggunakan bahasa yang ingin kita ajarkan terlebih dahulu (bahasa utama). Lagu yang dipilih adalah lagu yang menggunakan pengulangan kata dan dinyanyikan dengan intonasi yang jelas dan perlahan.

Stimulasi Organ Mulut

Kegiatan seperti meniup dan menyedot ternyata dapat menstimulasi otot rahang anak sebagai persiapannya berbicara.

Aku rasa sudah cukup panjang tulisan mengenai tahap perkembangan dan stimulasi kemampuan bahasa pada anak usia dini kali ini. Semua materi yang disampaikan dalam kelas Zoom How to Create Montessori Inspired at Home sudah aku rangkum disini.

Semoga tulisannya bermanfaat ya!

Sukabumi, 16 Oktober 2020

Jumat, 16 Oktober 2020

Antologi PULIH Melanjutkan Perjalanannya

Oktober 16, 2020 11 Comments

Di akhir bulan September lalu, antologi PULIH batch pertama yang telah di cetak mulai didistribusikan ke para pembelinya. Sebanyak hampir 300 eksemplar buku antologi yang berisi kisah-kisah pejuang mental illness ini bertemu dengan jodohnya.

Aku pun menginformasikannya pada para pembeli untuk memberikan konfirmasi setelah bukunya sampai. Deg-deg-an juga, apakah bukunya tiba dengan kondisi baik dan utuh tanpa kurang satu apapun? Apakah isinya sesuai dengan ekspektasi mereka? Tidak sabar kumenunggu respon dari pembaca.

Satu per satu teman, kerabat dan sahabat memberiku informasi bahwa buku mereka telah sampai. Tepat jumlah dan dengan kondisi baik. Alhamdulillah. Aku pun berpesan pada mereka bahwa aku menanti komentar mereka mengenai cerita-cerita dalam buku PULIH.


Aku kembali bersyukur saat banyak yang melontarkan respon positif pada antologiku yang ke-2 ini. Ada yang berkata ceritanya inspiratif, ada yang bilang membacanya membuat dirinya ikut pulih dan banyak yang mengambil pelajaran berharga dari kisah-kisah di dalamnya.

Perjalanan antologi PULIH pun sampai pada tahap diadakannya sesi Bincang Pulih. Sesi ini diadakan atas kerjasama komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis dengan Ruang Pulih yang diwakilkan oleh Mbak Intan Maria Halim sebagai founder-nya.

Rangkaian sesi Bincang Pulih diawali pada tanggal 9 Oktober 2020 di grup Facebook khusus pembeli antologi PULIH batch pertama. Di sesi ini, Ibu Widyanti Yuliandari selaku Ketua Umum komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis membuka acara yang akan dilanjutkan keesokan harinya.

Dalam sesi pertama, Ibu Widyanti Yuliandari atau lebih sering disapa Mbak Wid menceritakan dari awal proses perjalanan antologi PULIH. Beliau juga menjelaskan tahapan seleksi penulis yang akhirnya terpilih sebagai kontributor dari antologi PULIH.

Di tanggal 10 Oktober 2020 rangkaian sesi Bincang Pulih dilanjutkan dengan sharing session yang terbagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama diisi oleh para kontributor antologi PULIH dengan topik Memilih Pulih dan Bahagia.

Terharu sekali ketika melihat teman-teman kontributor yang berani tampil dan membagikan perjalanan pulihnya secara langsung pada semua yang hadir pada sesi sharing session malam itu. Mereka membuktikan bahwa pernah mengalami mental illness itu tidak apa-apa asalkan ada kemauan kuat untuk bangkit dan sembuh hingga akhirnya menemukan kebahagiaannya kembali.


Peran orang-orang terdekat dalam perjalanan pulih setiap orang sangatlah penting. Suami, istri, anak-anak, orang tua dan seluruh keluarga besar serta teman dan kerabat mampu membuat seseorang pulih apabila tercipta lingkungan dan kondisi yang kondusif untuk pasien. Tak lupa juga untuk jangan sungkan meminta bantuan ahlinya jika memang kondisi yang dialami cukup berat.

Bagian kedua diisi oleh Mbak Intan Maria Halim yang tidak lain merupakan founder dari Ruang Pulih. Beliau menyampaikan materi mengenai Proses Pulih dan Art Therapy. Mbak Intan menjelaskan bagaimana seseorang harus bisa merangkul segala kekecewaan dan kesedihan yang terjadi di dalam hidupnya dan mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang telah dialami seseorang. Mbak Intan juga meminta beberapa audience untuk membagikan hal-hal yang paling membuat para peserta bahagia.


Di akhir sesi Bincang Pulih, Mbak Intan membagikan selembar gambar mandala hati untuk diwarnai oleh teman-teman yang mengikuti sesi Bincang Pulih. Apa maksud dari gambar mandala hati tersebut?

Mandala Self-love

Dalam art therapy, mandala digunakan sebagai bentuk upaya melatih diri untuk mindfulness. Dengan mindfulness, kita akan belajar memisahkan keruwetan pikiran yang ada saat itu dan mencoba menikmati keragaman warna dalam kehidupan.

Mandala self-love ini membantu kita berhenti sejenak dari segala kesibukan yang ada. Kegiatan ini juga dilakukan untuk mengekspresikan emosi melalui warna. Kegiatan yang terlihat sederhana ini ternyata dapat mengurangi burn-out dan membuat yang mengerjakannya seperti mendapat energi baru layaknya ponsel yang baru saja di charge baterainya.

Begitulah penjelasan Mbak Intan untuk teman-teman yang penasaran sebenarnya apa tujuan dari mewarnai gambar mandala hati ini. Tak lama kemudian, sudah banyak teman-teman yang menunjukkan karyanya pada kami di grup whatsapp.


Beberapa karya Mandala Hati yang dipajang di flyer Bincang Pulih

Sehubungan dengan masih banyaknya peminat yang ingin memiliki antologi PULIH, divisi buku IIDN akhirnya kembali membuka PO untuk batch ke-2. Wah senang sekali rasanya, baru selesai cetak sudah buka PO lagi! Periode PO ke-2 ini dimulai dari tanggal 10 Oktober 2020 sampai 5 November 2020 nanti.

PO PULIH batch ke-2 sudah dibuka!

Di tanggal 17 Oktober, akan diadakan Grand Launching Antologi Pulih yang menghadirkan Mbak Intan Maria Halim selaku founder Ruang Pulih, dr. Maria Rini I, Sp.Kj yang merupakan seorang Psikiater dan tidak ketinggalan Ketua Umum komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis yaitu Ibu Widyanti Yuliandari.

Acara Grand Launching ini akan diadakan di grup Facebook dan dapat dihadiri oleh seluruh pembeli buku PULIH batch 1 maupun yang sudah ikut PO ke-2. Seru sekali ya!

Flyer Grand Launching PULIH tanggal 17 Oktober 2020


Bagi teman-teman yang tertarik untuk membaca buku antologi penuh inspirasi dan kaya makna ini, boleh banget melakukan pemesanan melalui whatsapp ke nomor 082136516493.

Ditunggu ya! ;)

Sukabumi, 16 Oktober 2020

Selasa, 13 Oktober 2020

Kelanjutan Kisah Seo Dan (FanFiction Crash Landing On You)

Oktober 13, 2020 0 Comments

Crash Landing On You adalah drama pertama yang aku tonton di tahun 2020. Sebelumnya, selama hampir 1.5 tahun setelah melahirkan, hobi menonton drakor terhenti karena masa adaptasi yang panjang sebagai ibu baru.

Setelah menyelesaikan drama tersebut di bulan Maret lalu, di bulan Oktober aku kembali menonton ulang Crash Landing On You. Haha. Gagal move on  banget deh!


Selain menanti-nanti scene Ri Jeong Hyeok dan Yoon Se Ri, aku juga tertarik pada kisah second lead couple dalam drama ini. Seo Dan, adalah wanita yang sudah bertunangan dengan Ri Jeong Hyeok sekitar tujuh tahun lamanya. Namun, pernikahan mereka tidak pernah terjadi karena Kapten Ri tidak pernah mencintainya dan lebih memilih wanita asal negeri tetangga. Ouch!

Seo Dan dikisahkan jatuh cinta pada seorang laki-laki mantan tunangan Yoon Se Ri. Laki-laki tersebut bernama Gu Seung Joon.

Sumber : TvNdrama

Pertemuan-pertemuan tak terduga Seo Dan dan Gu Seung Joon di setiap kejadian membuat mereka akhirnya saling menyukai. Seo Dan dengan pembawaannya yang kaku dan jaim sedangkan Gu Seung Joon dengan tingkahnya yang sering konyol menjadikan scene mereka berhasil mencuri perhatian penonton.

Naasnya kisah mereka tidak berakhir manis seperti Ri Jeong Hyeok dan Yoon Se Ri yang memilih mengungsi ke Switzerland agar dapat hidup bersama. Gu Seung Joon tewas setelah tertembak oleh sekelompok mafia demi menyelamatkan Seo Dan.

Seo Dan pun kembali menjalani hidupnya sebagai single. Dalam tulisan kali ini, aku akan mencoba membuat fanfiction yang menceritakan kehidupan tokoh Seo Dan setelah ditinggal oleh laki-laki yang benar-benar mencintainya dengan tulus.

This is my first fanfiction. Demi menyelesaikan tantangan menulis bersama Drakor dan Literasi yaitu tantangan ke-29, aku keluar dari zona nyaman sebagai penonton dan komentator drakor dan mencoba menuliskan kelanjutan kisah tokoh dalam drama tersebut.

***

"Dan, pamanmu merekomendasikan Ibu supaya dirimu menemui psikiater,"

"Apa? Memangnya apa yang salah denganku?" Aku menatap tajam mata ibuku disela-sela mengemas pakaianku ke dalam koper.

"Ya, Ibu khawatir denganmu. Apa kau benar-benar tidak akan menikah? Sampai kapan kau hidup dalam bayang-bayang kisah cintamu yang lalu?"

Mendengar ibuku berkata demikian, jantungku kembali berdegup dengan cepat. Gu Seung Joon. Aku masih selalu memikirkannya. Mataku mendadak panas karena air mata rasanya akan kembali jatuh dari pelupuk mataku.

"Sudahlah, aku sudah baik-baik saja sekarang. Ibu boleh keluar dari kamar jika tidak ada lagi yang mau disampaikan. Aku ingin cepat selesai berkemas,".

Ibu menyerah dan keluar dari kamarku. Aku mengemas pakaian sambil menangis dalam diam. Aku tidak ingin ibu tau. Aku masih tidak baik-baik saja.

Setelah kepergian Gu Seung Joon tiga tahun lalu dan melewati masa-masa sulit, tentu aku mencoba bangkit dengan kembali menjalani hari-hariku seperti biasa. Aku ingin ibu dan paman tidak terlalu ikut terlarut dalam kondisiku.

Namun tentu saja, melupakan seseorang yang sangat kucintai dan mencintaiku dengan begitu tulus bukanlah perkara mudah.

Gu Seung Joon adalah pria pertama yang mengatakan bahwa ia senang saat berada bersamaku. Pria pertama yang bingung memilih pakaian karena ingin tampil menarik didepanku. Pria yang memintaku untuk menunggunya kembali agar kami dapat menjalani kehidupan bersama dengan lebih baik.

Belum pernah ada laki-laki yang memperlakukanku seperti itu. Bahkan mantan tunanganku saja, Ri Jeong Hyeok, tidak pernah mengatakan atau menganggap aku berharga meski kami sudah bertahun-tahun terikat oleh kata pertunangan.

Aku memang belum sepenuhnya sembuh dari luka itu. Tiga tahun lalu aku menyaksikan bagaimana kekasihku tiada di depan mataku. Siapa yang bisa melupakannya begitu saja? Hari itu masih tergambar jelas dalam ingatanku dan bahkan sering muncul dalam mimpi burukku.

Tapi aku tau kalau aku wanita yang kuat, aku tidak butuh bantuan psikiater untuk memulihkan diriku. Besok aku akan berangkat ke Rusia untuk melakukan pertunjukkan musik, lalu aku ingin liburan sejenak. Aku harap perjalanan ini bisa mengalihkan pikiranku dari kenangan pahit tersebut.

Keesokan harinya, ibu dan paman mengantar keberangkatanku ke bandara. Lagi-lagi, ibu memintaku untuk mempertimbangkan sarannya menemui psikiater.

"Ibu dengar, psikiater rekomendasi pamanmu sangat mahir menangani kondisi patah hati. Ia juga memiliki metode yang menarik saat konsultasi, yaitu dengan mengajak pasiennya makan bersama,"

"Aku tidak tertarik. Aku berangkat, waktunya sudah hampir tiba," aku memalingkan wajah dari ibu dan pamanku untuk pergi meninggalkan Korea Utara.

Sesampainya di Moskow, aku beristirahat sejenak untuk melepas lelah setelah perjalanan panjang dari Korea Utara menuju Vladivostok, kemudian dilanjutkan ke Moskow.

Aku ingin makan coklat untuk mengembalikan moodku. Tanpa basa basi, aku bergegas pergi dari apartemen menuju minimarket terdekat.

Aku sudah mengambil cukup banyak coklat untuk kujadikan stok selama beberapa hari, saat kasir paruh baya meminta uangku, aku baru sadar bahwa tas dan dompetku tertinggal di dalam kamar.

"Maaf, dompetku tertinggal. Aku akan kembali lagi kesini," kataku sambil menahan malu.

"Biar aku saja yang membayar," seorang lelaki dari arah belakangku menyodorkan uang kepada kasir minimarket.

Aku membalikkan badan untuk melihat wajah laki-laki tersebut, "Gu Seung..." Joon. Aku tidak jadi meneruskan kalimatku.

Wajahnya mirip, tapi aku yakin orang ini tidak mungkin dia. Aku mematung selama beberapa saat, memerhatikan wajah familiarnya.

"Kau pucat seperti sedang melihat hantu. Apa kau sakit?" pertanyaannya membuatku tertarik kembali ke dunia nyata.

"Tidak, aku baik-baik saja. Aku akan mengambil dompet dan membayar hutangku segera. Kau bisa menunggu disini sebentar," kataku beranjak keluar dari minimarket.

"Tidak perlu, aku senang bertemu sesama orang Korea disini. Aku sempat mendengarmu berbicara bahasa Korea tadi," ia tersenyum ke arahku. Aku membuang muka karena tidak ingin melihat wajahnya lebih lama lagi. Wajah yang mengingatkanku pada laki-laki yang sudah pergi selamanya tiga tahun lalu.

"Kalau begitu, aku duluan," kali ini aku betul-betul keluar dari minimarket tersebut.

Laki-laki tadi kembali menghampiriku saat aku hendak menyebrang jalan, "Hei! Kau sendirian? Biar kutemani. Sepertinya aku juga akan pergi ke arah yang sama denganmu,"

Aku bukanlah seseorang yang senang berbasa-basi apalagi dengan orang asing yang baru pertama kutemui. Tapi, entah mengapa aku menyetujui saat ia berkata ingin menemaniku.

Singkat cerita, lelaki tersebut mengaku dirinya seorang mahasiswa di sekolah musik yang terletak di dekat gedung pertunjukkanku. Sebentar lagi ia akan segera mendapatkan gelas Masternya. Tentu saja aku lebih banyak diam dan berbicara seperlunya, sementara dirinya berceloteh tanpa menghiraukan kalau aku adalah orang asing yang baru ditemuinya.

Kemiripannya dengan Gu Seung Joon yang membuatku ingin menghabiskan beberapa jam bersamanya saat itu. Ada perasaan nyaman saat aku dekat dengannya, padahal ini adalah pertemuan kami yang pertama kalinya.

Dan, kendalikan dirimu! Aku memerintah diri sendiri agar berpikir logis dan tidak cepat terbawa perasaan.

Setibanya di depan gedung apartemen, aku pamit untuk segera masuk. Jujur saja, badanku masih sangat lelah dan esok aku harus berlatih untuk penampilanku.

"Senang bertemu denganmu. Aku harap kita bisa bertemu lagi," Aku hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam tanpa menoleh lagi.

Seperti takdir, aku dan laki-laki asing itu bertemu secara tidak sengaja di hari-hari berikutnya. Terkadang, kami ngobrol sambil berjalan-jalan sebentar sebelum melanjutkan aktivitas masing-masing. Lagi-lagi, aku kembali teringat dengan pertemuan-pertemuanku dengan Gu Seung Joon yang sering terjadi secara tidak sengaja.

Meskipun kami belum secara resmi berkenalan dan mengetahui nama satu sama lain, aku yakin bahwa ia tertarik padaku. Tatapan matanya dan caranya berbicara padaku menunjukkan hal tersebut. Aku sendiri tidak yakin apakah aku juga tertarik padanya atau tertarik karena mirip dengan mantan kekasihku?

Selain menghabiskan waktu untuk berlatih dan tampil di pertunjukkan musik, waktuku di Rusia kuhabiskan untuk berangan-angan bertemu kembali dengan laki-laki tersebut. Semakin sering kami bertemu, semakin aku teringat pada Gu Seung Joon. Aku bahkan berpikir bahwa ia adalah takdirku.

Untuk apa aku dipertemukan kembali dengan pria yang mirip dengan Gu Seung Joon jika kami tidak ditakdirkan bersama? Tiga tahun aku berharap dia akan kembali, dan kali ini aku seolah melihatnya lagi. Sebelum aku pulang, aku rasa aku harus memastikan perasannya padaku.

Dan, tapi ini seperti bukan dirimu! logikaku menolak melakukan hal tersebut.

Diamlah! Aku tau apa yang terbaik bagi diriku. Perasaanku berkata sebaliknya.

Sehari sebelum kepulanganku ke Korea Utara, aku menanti kedatangan laki-laki itu di depan minimarket tempat kami pertama kali bertemu. Aku tidak tau apakah ia akan datang, tapi hanya hari ini kesempatan terakhirku untuk berbicara dengannya.

Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu dan ia tak kunjung datang.

Memasuki jam keempat aku menunggu dirinya, akhirnya aku melihat ia berjalan ke arahku. Aku hampir menyunggingkan senyumku yang mahal sebelum aku juga melihat seseorang berjalan beriringan dengannya.

"Oh, hai! Kau lagi," tentu saja ia menyapa saat melihatku mematung seperti petugas keamanan di depan minimarket.

"Hai!" Kataku singkat, bola mataku melirik ke arah anak perempuan yang menggenggam tangan laki-laki tersebut dengan erat.

"Ah, kenalkan ini puteriku. Usianya hampir 4 tahun, ia dan istriku baru saja tiba dari Korea untuk menghadiri wisudaku," lelaki yang kupikir adalah takdirku memperkenalkanku dengan anaknya.

"Anak? Istri? Ha... Ha-ha-ha..." Aku menepuk dahi sembari menertawakan kebodohanku.

Aku menghela nafas panjang. Sepulangnya ke Korea Utara, aku akan langsung menjadwalkan pertemuanku dengan psikiater rekomendasi paman. Sudah saatnya aku benar-benar menjernihkan pikiranku.

TAMAT!


Kira-kira gambar di bawah ini menggambarkan saat Seo Dan bertemu dengan psikiater yang melakukan terapi dengan mengajak pasiennya makan bersama :

Sumber : idntimes

Haha. Sudah gagal move on dari CLOY, gagal move on juga dari Dinner Mate! Sekian fanfiction kali ini.

Sukabumi, 13 Oktober 2020