Selasa, 13 Oktober 2020

Kelanjutan Kisah Seo Dan (FanFiction Crash Landing On You)


Crash Landing On You adalah drama pertama yang aku tonton di tahun 2020. Sebelumnya, selama hampir 1.5 tahun setelah melahirkan, hobi menonton drakor terhenti karena masa adaptasi yang panjang sebagai ibu baru.

Setelah menyelesaikan drama tersebut di bulan Maret lalu, di bulan Oktober aku kembali menonton ulang Crash Landing On You. Haha. Gagal move on  banget deh!


Selain menanti-nanti scene Ri Jeong Hyeok dan Yoon Se Ri, aku juga tertarik pada kisah second lead couple dalam drama ini. Seo Dan, adalah wanita yang sudah bertunangan dengan Ri Jeong Hyeok sekitar tujuh tahun lamanya. Namun, pernikahan mereka tidak pernah terjadi karena Kapten Ri tidak pernah mencintainya dan lebih memilih wanita asal negeri tetangga. Ouch!

Seo Dan dikisahkan jatuh cinta pada seorang laki-laki mantan tunangan Yoon Se Ri. Laki-laki tersebut bernama Gu Seung Joon.

Sumber : TvNdrama

Pertemuan-pertemuan tak terduga Seo Dan dan Gu Seung Joon di setiap kejadian membuat mereka akhirnya saling menyukai. Seo Dan dengan pembawaannya yang kaku dan jaim sedangkan Gu Seung Joon dengan tingkahnya yang sering konyol menjadikan scene mereka berhasil mencuri perhatian penonton.

Naasnya kisah mereka tidak berakhir manis seperti Ri Jeong Hyeok dan Yoon Se Ri yang memilih mengungsi ke Switzerland agar dapat hidup bersama. Gu Seung Joon tewas setelah tertembak oleh sekelompok mafia demi menyelamatkan Seo Dan.

Seo Dan pun kembali menjalani hidupnya sebagai single. Dalam tulisan kali ini, aku akan mencoba membuat fanfiction yang menceritakan kehidupan tokoh Seo Dan setelah ditinggal oleh laki-laki yang benar-benar mencintainya dengan tulus.

This is my first fanfiction. Demi menyelesaikan tantangan menulis bersama Drakor dan Literasi yaitu tantangan ke-29, aku keluar dari zona nyaman sebagai penonton dan komentator drakor dan mencoba menuliskan kelanjutan kisah tokoh dalam drama tersebut.

***

"Dan, pamanmu merekomendasikan Ibu supaya dirimu menemui psikiater,"

"Apa? Memangnya apa yang salah denganku?" Aku menatap tajam mata ibuku disela-sela mengemas pakaianku ke dalam koper.

"Ya, Ibu khawatir denganmu. Apa kau benar-benar tidak akan menikah? Sampai kapan kau hidup dalam bayang-bayang kisah cintamu yang lalu?"

Mendengar ibuku berkata demikian, jantungku kembali berdegup dengan cepat. Gu Seung Joon. Aku masih selalu memikirkannya. Mataku mendadak panas karena air mata rasanya akan kembali jatuh dari pelupuk mataku.

"Sudahlah, aku sudah baik-baik saja sekarang. Ibu boleh keluar dari kamar jika tidak ada lagi yang mau disampaikan. Aku ingin cepat selesai berkemas,".

Ibu menyerah dan keluar dari kamarku. Aku mengemas pakaian sambil menangis dalam diam. Aku tidak ingin ibu tau. Aku masih tidak baik-baik saja.

Setelah kepergian Gu Seung Joon tiga tahun lalu dan melewati masa-masa sulit, tentu aku mencoba bangkit dengan kembali menjalani hari-hariku seperti biasa. Aku ingin ibu dan paman tidak terlalu ikut terlarut dalam kondisiku.

Namun tentu saja, melupakan seseorang yang sangat kucintai dan mencintaiku dengan begitu tulus bukanlah perkara mudah.

Gu Seung Joon adalah pria pertama yang mengatakan bahwa ia senang saat berada bersamaku. Pria pertama yang bingung memilih pakaian karena ingin tampil menarik didepanku. Pria yang memintaku untuk menunggunya kembali agar kami dapat menjalani kehidupan bersama dengan lebih baik.

Belum pernah ada laki-laki yang memperlakukanku seperti itu. Bahkan mantan tunanganku saja, Ri Jeong Hyeok, tidak pernah mengatakan atau menganggap aku berharga meski kami sudah bertahun-tahun terikat oleh kata pertunangan.

Aku memang belum sepenuhnya sembuh dari luka itu. Tiga tahun lalu aku menyaksikan bagaimana kekasihku tiada di depan mataku. Siapa yang bisa melupakannya begitu saja? Hari itu masih tergambar jelas dalam ingatanku dan bahkan sering muncul dalam mimpi burukku.

Tapi aku tau kalau aku wanita yang kuat, aku tidak butuh bantuan psikiater untuk memulihkan diriku. Besok aku akan berangkat ke Rusia untuk melakukan pertunjukkan musik, lalu aku ingin liburan sejenak. Aku harap perjalanan ini bisa mengalihkan pikiranku dari kenangan pahit tersebut.

Keesokan harinya, ibu dan paman mengantar keberangkatanku ke bandara. Lagi-lagi, ibu memintaku untuk mempertimbangkan sarannya menemui psikiater.

"Ibu dengar, psikiater rekomendasi pamanmu sangat mahir menangani kondisi patah hati. Ia juga memiliki metode yang menarik saat konsultasi, yaitu dengan mengajak pasiennya makan bersama,"

"Aku tidak tertarik. Aku berangkat, waktunya sudah hampir tiba," aku memalingkan wajah dari ibu dan pamanku untuk pergi meninggalkan Korea Utara.

Sesampainya di Moskow, aku beristirahat sejenak untuk melepas lelah setelah perjalanan panjang dari Korea Utara menuju Vladivostok, kemudian dilanjutkan ke Moskow.

Aku ingin makan coklat untuk mengembalikan moodku. Tanpa basa basi, aku bergegas pergi dari apartemen menuju minimarket terdekat.

Aku sudah mengambil cukup banyak coklat untuk kujadikan stok selama beberapa hari, saat kasir paruh baya meminta uangku, aku baru sadar bahwa tas dan dompetku tertinggal di dalam kamar.

"Maaf, dompetku tertinggal. Aku akan kembali lagi kesini," kataku sambil menahan malu.

"Biar aku saja yang membayar," seorang lelaki dari arah belakangku menyodorkan uang kepada kasir minimarket.

Aku membalikkan badan untuk melihat wajah laki-laki tersebut, "Gu Seung..." Joon. Aku tidak jadi meneruskan kalimatku.

Wajahnya mirip, tapi aku yakin orang ini tidak mungkin dia. Aku mematung selama beberapa saat, memerhatikan wajah familiarnya.

"Kau pucat seperti sedang melihat hantu. Apa kau sakit?" pertanyaannya membuatku tertarik kembali ke dunia nyata.

"Tidak, aku baik-baik saja. Aku akan mengambil dompet dan membayar hutangku segera. Kau bisa menunggu disini sebentar," kataku beranjak keluar dari minimarket.

"Tidak perlu, aku senang bertemu sesama orang Korea disini. Aku sempat mendengarmu berbicara bahasa Korea tadi," ia tersenyum ke arahku. Aku membuang muka karena tidak ingin melihat wajahnya lebih lama lagi. Wajah yang mengingatkanku pada laki-laki yang sudah pergi selamanya tiga tahun lalu.

"Kalau begitu, aku duluan," kali ini aku betul-betul keluar dari minimarket tersebut.

Laki-laki tadi kembali menghampiriku saat aku hendak menyebrang jalan, "Hei! Kau sendirian? Biar kutemani. Sepertinya aku juga akan pergi ke arah yang sama denganmu,"

Aku bukanlah seseorang yang senang berbasa-basi apalagi dengan orang asing yang baru pertama kutemui. Tapi, entah mengapa aku menyetujui saat ia berkata ingin menemaniku.

Singkat cerita, lelaki tersebut mengaku dirinya seorang mahasiswa di sekolah musik yang terletak di dekat gedung pertunjukkanku. Sebentar lagi ia akan segera mendapatkan gelas Masternya. Tentu saja aku lebih banyak diam dan berbicara seperlunya, sementara dirinya berceloteh tanpa menghiraukan kalau aku adalah orang asing yang baru ditemuinya.

Kemiripannya dengan Gu Seung Joon yang membuatku ingin menghabiskan beberapa jam bersamanya saat itu. Ada perasaan nyaman saat aku dekat dengannya, padahal ini adalah pertemuan kami yang pertama kalinya.

Dan, kendalikan dirimu! Aku memerintah diri sendiri agar berpikir logis dan tidak cepat terbawa perasaan.

Setibanya di depan gedung apartemen, aku pamit untuk segera masuk. Jujur saja, badanku masih sangat lelah dan esok aku harus berlatih untuk penampilanku.

"Senang bertemu denganmu. Aku harap kita bisa bertemu lagi," Aku hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam tanpa menoleh lagi.

Seperti takdir, aku dan laki-laki asing itu bertemu secara tidak sengaja di hari-hari berikutnya. Terkadang, kami ngobrol sambil berjalan-jalan sebentar sebelum melanjutkan aktivitas masing-masing. Lagi-lagi, aku kembali teringat dengan pertemuan-pertemuanku dengan Gu Seung Joon yang sering terjadi secara tidak sengaja.

Meskipun kami belum secara resmi berkenalan dan mengetahui nama satu sama lain, aku yakin bahwa ia tertarik padaku. Tatapan matanya dan caranya berbicara padaku menunjukkan hal tersebut. Aku sendiri tidak yakin apakah aku juga tertarik padanya atau tertarik karena mirip dengan mantan kekasihku?

Selain menghabiskan waktu untuk berlatih dan tampil di pertunjukkan musik, waktuku di Rusia kuhabiskan untuk berangan-angan bertemu kembali dengan laki-laki tersebut. Semakin sering kami bertemu, semakin aku teringat pada Gu Seung Joon. Aku bahkan berpikir bahwa ia adalah takdirku.

Untuk apa aku dipertemukan kembali dengan pria yang mirip dengan Gu Seung Joon jika kami tidak ditakdirkan bersama? Tiga tahun aku berharap dia akan kembali, dan kali ini aku seolah melihatnya lagi. Sebelum aku pulang, aku rasa aku harus memastikan perasannya padaku.

Dan, tapi ini seperti bukan dirimu! logikaku menolak melakukan hal tersebut.

Diamlah! Aku tau apa yang terbaik bagi diriku. Perasaanku berkata sebaliknya.

Sehari sebelum kepulanganku ke Korea Utara, aku menanti kedatangan laki-laki itu di depan minimarket tempat kami pertama kali bertemu. Aku tidak tau apakah ia akan datang, tapi hanya hari ini kesempatan terakhirku untuk berbicara dengannya.

Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu dan ia tak kunjung datang.

Memasuki jam keempat aku menunggu dirinya, akhirnya aku melihat ia berjalan ke arahku. Aku hampir menyunggingkan senyumku yang mahal sebelum aku juga melihat seseorang berjalan beriringan dengannya.

"Oh, hai! Kau lagi," tentu saja ia menyapa saat melihatku mematung seperti petugas keamanan di depan minimarket.

"Hai!" Kataku singkat, bola mataku melirik ke arah anak perempuan yang menggenggam tangan laki-laki tersebut dengan erat.

"Ah, kenalkan ini puteriku. Usianya hampir 4 tahun, ia dan istriku baru saja tiba dari Korea untuk menghadiri wisudaku," lelaki yang kupikir adalah takdirku memperkenalkanku dengan anaknya.

"Anak? Istri? Ha... Ha-ha-ha..." Aku menepuk dahi sembari menertawakan kebodohanku.

Aku menghela nafas panjang. Sepulangnya ke Korea Utara, aku akan langsung menjadwalkan pertemuanku dengan psikiater rekomendasi paman. Sudah saatnya aku benar-benar menjernihkan pikiranku.

TAMAT!


Kira-kira gambar di bawah ini menggambarkan saat Seo Dan bertemu dengan psikiater yang melakukan terapi dengan mengajak pasiennya makan bersama :

Sumber : idntimes

Haha. Sudah gagal move on dari CLOY, gagal move on juga dari Dinner Mate! Sekian fanfiction kali ini.

Sukabumi, 13 Oktober 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar