Sabtu, 17 Oktober 2020

Tahap Perkembangan dan Stimulasi Kemampuan Bahasa Pada Anak Usia Dini


Bahasa, adalah salah satu area yang dibahas di kelas Zoom How to Create Montessori Inspired at Home pada minggu ke-2. Bahasa ini salah satu dari 6 yang masuk ke dalam periode sensitif anak dan menjadi fondasi untuk anak nantinya belajar berbicara, membaca dan menulis.

Aku tertarik untuk menulis ulang materi mengenai bahasa ini karena aku sendiri sempat merasa khawatir pada anakku, yang mana beberapa bulan sebelum ini tidak banyak mengeluarkan kosakata dari mulutnya.

Sebelum aku mengikuti kelas ini, alhamdulillah Dipta sudah menunjukkan progress yang cukup baik dalam berbicara. Setelah mengikuti materi ini, aku jadi paham saat ini anakku sedang berada di fase apa dan hilanglah semua kekhawatiranku. Hehe.

Kebanyakan orang tua khawatir ketika melihat anaknya baru bisa mengeluarkan 1-2 kata, belum bisa menggabungkan kata, bicaranya belum jelas dan lain sebagainya. Apalagi kalau membandingkan dengan anak lain yang perkembangannya jauh lebih cepat. Huhu~ I feel you, Moms!

Proses Terbentuknya Bahasa



Ternyata, terbentuknya bahasa itu tidak serta merta tring! muncul bergitu saja. Ada banyak proses yang harus dilalui anak untuk mencapai goal yaitu berbicara dengan sempurna.

Proses terbentuknya bahasa diawali dari bunyi. Bunyi yang anak dengar, kemudian ia simpan di dalam otaknya. Ketika anak sudah familiar dengan bunyi yang ia dengar dan otaknya menyimpan bunyi tersebut, anak akan mencoba menghubungkan apa yang ada dalam otaknya dengan mulutnya sehingga terbentuk kata yang belum sempurna.

Setelah berlatih mengucapkan kata-kata yang belum sempurna tadi, anak akhirnya akan dapat membunyikan kata yang sempurna. Practice makes perfect, ya! Jadi jangan heran kalau anak mengulang-ngulang kata yang sama hingga ratusan kali atau selama beberapa hari. Ia sedang berusaha memasterkan dirinya untuk mengucapkan kata-kata tersebut secara benar.

Setelahnya anak akan dapat membuat kalimat sederhana. Misalnya, ibu ambil minum atau ayah pergi kerja. Lalu kemampuan berbahasa anak akan meningkat menjadi mampu membentuk kalimat kompleks tapi belum sempurna.

Bu Pritta mencontohkan anaknya saat belum bisa berbicara dengan sempurna mengatakan, "Aku mau tidur selama-lamanya,". Seram ya! Padahal maksudnya anaknya mau tidur yang lama, tapi belum bisa membuat kalimat kompleks dengan sempurna.

Lama-lama anak akan mahir membentuk kalimat kompleks yang sempurna sampai akhirnya dapat bercerita yang terdiri dari beberapa kalimat.

Panjang ya tahapannya, sebagai orang tua tugas kita adalah terus mengobservasi dan menstimulasi anak dengan memberikan banyak kosakata untuk diserap oleh otaknya. Jangan lupa untuk trust your child tanpa mengabaikan red flags tentunya.

Kemampuan Untuk Berbicara


Untuk berbicara, anak-anak ternyata butuh banyak skills alias kemampuan loh! Tuhan menganugerahi otak anak-anak dengan kemampuan yang luar biasa di masa golden age-nya. Adanya kemampuan-kemampuan ini yang membuatnya akhirnya bisa berbicara.

Yang pertama adalah kemampuan menyerap (reseptif), layaknya sponge anak-anak usia dini menyerap semua hal yang didengarnya. Semuamua diserap lalu disimpan di dalam otaknya. Itu lah mengapa orang tua atau care taker anak harus betul-betul menjaga ucapannya pada anak.

Setelah diserap dan disimpan di dalam otak, anak memiliki kemampuan mengingat apa yang sudah tersimpan di kepalanya. Aku sendiri sering takjub ketika sedang menjelaskan sesuatu pada anakku tapi ia tidak memerhatikan, melengos dan cuek bebek tapi suatu waktu ia ingat dengan apa yang dulu pernah aku sampaikan.

Misalnya, saat aku mencontohkan padanya untuk menyusun mainan kereta-keretaannya di rak. Mana lah dia peduli, ia malah sibuk mengacak-ngacak bagian rumah yang lain. Tapi, malam harinya ia memperlihatkan pada ayahnya kemampuannya menyusun mainan kereta-keretaannya relatif persis dengan apa yang aku contohkan di siang harinya. Haha.

Lanjut ya, sebelum berbicara anak akan menggunakan kemampuan memanggil ingatannya yang telah ada di dalam otaknya. Di tahap ini, anak belum mampu untuk mengucapkan kata-kata namun paham maksud dari kata tersebut karena kemampuan memanggil ingatan tadi.

Contohnya, kita minta tolong untuk diambilkan remote. Tanpa berbicara anak akan mengambilkan benda yang tepat untuk kita. Atau saat kita bertanya meja yang mana? Ia akan menunjuk meja.

Setelah ia mempunyai banyak kosakata yang diingat di dalam otaknya, ia akan mengeluarkan kemampuan mengungkapkan kata (ekspresif). Jadi, untuk menyebutkan satu buah kata perlu proses panjang yang terjadi pada otak anak. Setelah awalnya menyerap kata-kata, lalu diingat kemudian ingatan tersebut dipanggil barulah ia menyebutkan sebuah kata.

Kadang, kata tersebut pun belum secara sempurna ia katakan. Sudah dijelaskan di proses terbentuknya bahasa tadi ya, setelah latihan terus menerus akhirnya kemampuan mengungkapkan kata dengan jelas (bicara) pun muncul. Horee!

Setelahnya, anak akan mengembangkan kemampuannya untuk menyusun kata. Jadi, untuk mencapai tahapan ini orang tua harus bersabar dan trust your child sambil terus melakukan stimulasi. Jangan terlalu terburu-buru atau memaksakan anak untuk berbicara, asalkan masih sesuai dengan perkembangan usianya ya tidak masalah.

Kalau pun ada keterlambatan, orang tua masih punya waktu tunggu hingga 6 bulan sebelum memeriksakan anak ke dokster spesialis.

Ledakan Bahasa


Dr. Maria Montessori mengatakan,

"Kemajuan kasat mata tidak berlangsung secara bertahap, namun terjadi lompatan-lompatan,"

Maksudnya disini adalah saat orang tua mendengar anak berulang-ulang mengucapkan sebuah kata secara belum sempurna (misal num, dek, ndi, dll), mereka melihat hal tersebut nampaknya tidak menunjukkan progress yang berarti.

Padahal di dalam otak anak sedang terjadi proses penyerapan hingga akhirnya suatu hari orang tua akan mendengar anak berbicara satu kata utuh secara sempurna.

Periode ini nampaknya sedang terjadi pada anakku. Sampai usianya mendekati 20 bulan, ia hanya bisa mengucap satu per satu kata secara belum sempurna. Ia juga tidak antusias untuk mengikuti kata-kata yang diajarkan oleh orang tuanya.

Sebagai ibu, sempat khawatir juga dengan perkembangan bahasanya. Namun aku belum sampai tahap ingin berkonsultasi dengan dokter, masih percaya kata-kata orang jaman dulu, "Nanti tau-tau bisa sendiri kok,". Hehe.

Benar saja, suatu hari anakku sudah lancar ngomong banyak hal. Tiba-tiba bisa berhitung satu sampai sepuluh dalam bahasa Inggris pula, sudah bisa bilang saat mau makan, mau minum, mau pipis dan selalu mengulang kata-kata yang diucapkan aku dan Papanya tanpa disuruh.

Inilah yang kemudian aku sadari sebagai ledakan bahasa. Ledakan bahasa terdiri dari 2 tahap, yang pertama di usia 21-24 bulan dimana anak akan dengan lancar menyebutkan kata kerja, benda dan sifat. Lalu yang ke-2 di usia 2 tahun ke atas dimana anak akan mampu membentuk kelompok kata secara teratur.

Di usia 1-3 tahun, akan sangat wajar jika anak mengalami hal-hal berikut dari segi perkembangan bahasa :
1. Mungkin menggunakan satu kata yang sama untuk banyak hal. Contohnya Mama untuk mamanya, Mama untuk tantenya, Mama untuk neneknya.

2. Menggunakan jargon saat bingung mengucapkan kata yang tepat. Contohnya anakku sendiri yang akan mengucapkan kng untuk kata-kata yang belum bisa ia ucapkan. Kng untuk helikopter, kng untuk capung, kng untuk sayur-sayuran dan untuk semua yang belum bisa ia sebutkan.

3. Menghilangkan konsonan awal dan akhir.

4. Overextension, adalah saat anak menggunakan kata yang sama untuk banyak hal termasuk yang bukan kelompoknya. Misalnya ia akan menyebutkan semua hewan dengan kucing, semua bentuk disebut sebagai oval, dan sebagainya.

5. Underextension, adalah saat anak memiliki kecenderungan untuk menempatkan kata secara terbatas. Misal, ia hanya akan menyebut susu saat susu berada dalam botol miliknya dan jika susunya dituang ke dalam gelas ia tidak mau menyebutnya sebagai susu.

6. Menggunakan tata bahasa yang tidak sempurna.

Setelah mengetahui keenam hal tersebut rasanya kekhawatiranku akan kemampuan anakku berbahasa jauh lebih berkurang.

Stimulasi Bicara Pada Anak Usia Dini


Sebelum kita masuk ke apa saja yang dapat ayah dan ibu lakukan untuk menstimulasi area bahasa pada anak usia dini, kita lebih baik mengetahui apa saja yang menyebabkan anak terlambat berbicara. Hal-hal yang dapat menyebabkan keterlambatan anak dalam berbicara adalah :

1. Anak yang masih ragu dan belum percaya diri untuk berbicara
2. Stimulasi yang dilakukan kurang banyak
Terlalu banyak screen time, anak tidak diberi kesempatan untuk mencoba atau pengasuhan yang pasif (anak jarang diajak berbicara) dapat menjadi beberapa kemungkinan penyebab anak terlambat berbicara.
3. Stimulasi yang kurang tepat
Contohnya, anak yang masih berada dalam tahap menyerap kata-kata sudah diminta untuk berbicara, "Maaaa...kaaan...", "Mooooo...biiiil..." dan sebagainya. Atau terlalu sering menyalahkan anak saat ia mencoba berbicara, misalnya anak berkata mobil untuk bus atau mobil untuk truk. Ternyata hal ini dapat menurunkan kepercayaan diri anak sehingga anak yang tadinya mau mencoba untuk berbicara, kembali menjadi ragu.

Adapun tujuan utama dari stimulasi bicara pada anak usia dini adalah untuk meningkatkan penyerapan kata (reseptif) dan mempersiapkan anak mengungkapkan dan berbicara. Perlu diperhatikan, saat membersamai anak dalam aktivitas stimulasi ini prinsipnya adalah,

Teach by teaching, not by correcting

Ketika anak melakukan kesalahan, jangan terburu-buru untuk mengkoreksi kesalahannya dan menyalahkan anak. Orang tua dapat mengajarkan anak seperti contoh berikut :

Ibu meminta anak untuk mengambilkan bola berwarna biru, namun anak memberikan ibu bola berwarna merah. Ibu tidak perlu menyalahkan anak dengan berkata,

"Salah, Nak. Bukan yang ini bola biru, yang itu loh!".

Sebaiknya ibu berkata, "Terima kasih sudah mengambilkan Ibu bola merah, ini bola merah. Sekarang, kita cari yuk bola biru!".

Sekarang, kita langsung masuk ke aktivitas yang dapat dilakukan untuk menstimulasi area bahasa pada anak usia dini :

Keranjang Kosakata

Orang tua dapat menyiapkan beberapa objek real (replika atau miniatur) dari kosakata yang ingin diajarkan pada anak-anak. Konsepnya adalah pengenalan benda nyata terlebih dahulu baru setelah itu jika ingin melanjutkan dengan kartu bergambar juga tidak apa-apa.

Pengenalan Fonik Melalui Lagu

Caranya adalah cukup dengan menyanyikan lagu secara berulang, jika anak belum mau mengikuti tidak perlu dipaksakan. Dapat juga mengenalkan fonik menggunakan objek yang sebenarnya lalu dapat dilanjutkan dengan kartu bergambar.

Membacakan Buku

Tips untuk membacakan buku pada anak usia 1-3 tahun adalah dengan memilih buku yang gambarnya realistis dan jelas, kalimat-kalimatnya tidak terlalu panjang dan bukunya diletakkan di tempat yang terjangkau oleh anak.

Kemudian, orang tua atau pengasuhnya dapat membacakan buku dengan vokalisasi yang jelas, perlahan dan melakukan pengulangan kata agar anak dapat menyerap kata-kata tersebut dengan baik. Pendamping juga harus hadir jiwa dan raga saat membersamai anak membaca buku, tujuannya agar kegiatan membaca buku menjadi menyenangkan terutama jika pendamping menggunakan ekspresi wajah yang menarik saat membacakan buku.

Jangan lupa untuk ikut melibatkan anak, dalam pemilihan buku misalnya. Tidak masalah jika anak memilih buku yang sama terus menerus untuk dibacakan. Berikan jeda saat membaca agar anak dapat merespon dan berikan anak kesempatan untuk bercerita mengenai isi bukunya.

Bercerita

Kegiatan ini dapat dilakukan dengan bercerita mengenai apa yang sudah dilakukan di hari tersebut. Menceritakan satu per satu aktivitas yang telah dikerjakan bersama anak, apa yang sudah dilihat ataupun yang sudah dialami.

Niatkan kegiatan ini murni untuk bercerita dan jangan berharap agar anak dapat langsung menirukan apa yang sudah kita katakan sebelumnya. Berceritalah dengan kalimat yang singkat dan kata-kata yang jelas.

Bernyanyi

Bernyanyilah dengan lagu yang menggunakan bahasa yang ingin kita ajarkan terlebih dahulu (bahasa utama). Lagu yang dipilih adalah lagu yang menggunakan pengulangan kata dan dinyanyikan dengan intonasi yang jelas dan perlahan.

Stimulasi Organ Mulut

Kegiatan seperti meniup dan menyedot ternyata dapat menstimulasi otot rahang anak sebagai persiapannya berbicara.

Aku rasa sudah cukup panjang tulisan mengenai tahap perkembangan dan stimulasi kemampuan bahasa pada anak usia dini kali ini. Semua materi yang disampaikan dalam kelas Zoom How to Create Montessori Inspired at Home sudah aku rangkum disini.

Semoga tulisannya bermanfaat ya!

Sukabumi, 16 Oktober 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar