Selasa, 31 Juli 2018

Karena Mendaki Sekali Tidaklah Cukup!

Juli 31, 2018 0 Comments
Kehidupan sebagai seorang buruh dikantor membuat hari-hariku dipenuhi dengan kejenuhan. Jenuh karena setiap hari harus berangkat ke kantor sebelum sempat kulit ini merasakan hangatnya sinar matahari dan pulang saat matahari mengucap salam perpisahan pada langit. Tak jarang pekerjaan dikantor yang tiada hentinya membuat kepalaku panas hingga hilang bernafsu untuk menyelesaikannya.
Jika sudah mencapai titik ini, mau tak mau aku harus rehat sejenak. Aku harus mengembalikan kejernihan pikiranku agar tidak sumpek dan stress, aku harus travelling. Ya, travelling adalah obat yang paling mujarab untuk menghilangkan penat dan kekorsletan otakku. Aku menghubungi teman SMA-ku Evita, seorang buruh yang bernasib sama sepertiku, kurang piknik. Aku mengutarakan rencana untuk pergi jalan-jalan mengusir kebosanan. Kami akhirnya memutuskan untuk menjadikan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur sebagai tujuan plesiran kami kali ini.
Aku pun mengajak Rani, teman kuliahku untuk turut serta melakukan perjalanan kali ini. Sebelumnya aku memang berjanji akan mengajak dirinya jika nanti liburan lagi. Kami memilih sailing Komodo dan live on board menggunakan agen wisata yaitu Longlasting Trip, dengan biaya trip sebesar Rp. 2.500.000,- per orang untuk 4 hari 3 malam. Dihari terakhir, kami akan menginap disebuah resort di Labuan Bajo yang bernama Sylvia Resort. Aku mengambil open trip menggunakan agen wisata ini karena trip ini dibatasi hanya untuk 9 peserta, sehingga akan menjadi lebih private dibandingkan dengan open trip yang pesertanya belasan atau bahkan puluhan. Aku dan kedua temanku juga tidak memilih untuk menjadi backpacker, karena kami memang berniat untuk menikmati hidup dengan ‘liburan enak’ dan tidak mau ribet sehingga kami menyisihkan tabungan sejak jauh-jauh hari untuk perjalanan kali ini.
Berangkatlah kami pada tanggal 10 Mei 2017. Aku dan Rani berangkat dari Bandara Soetta, Cengkareng, sementara Evita berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya. Kami bertiga bertemu di Bandara Ngurah Rai, Bali, sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat baling-baling menuju Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo. Oiya, Rani juga mengajak pacarnya bernama Gerry dalam perjalanan ini. Gerry yang ditempatkan kerja di Gorontalo mengambil pesawat yang juga transit di Bali sehingga kami berempat pergi menuju Labuan Bajo bersama-sama.
Perjalanan sailing Komodo kami dimulai keesokan harinya yaitu tanggal 11 Mei 2017. Dihari itu, kami mengunjungi Taman Nasional Komodo yang berada di Loh Buaya, Pulau Rinca dan menikmati sunset di Pulau Padar sebelum bermalam disana. Sayangnya, kami terlambat tiba di Pulau Padar sehingga setelah lelah mendaki ke puncak Padar kami tidak sempat lagi memandangi indahnya sunset dari atas sana. Pendakian ke puncak bukit Padar memakan waktu sekitar 30-40 menit dengan jalan setapak yang cukup curam tapi masih mudah dilewati namun tetap harus berhati-hati karena bebatuannya lumayan licin dan banyak ranting-ranting semak dan pohon yang bisa membuat langkah kita terjerumus.

Aku, Evita dan Rani Sebelum Memulai Perjalanan Live on Board yang Tak Terlupakan

Ada kejadian miris sekaligus lucu saat kami melakukan pendakian ke puncak Padar pada sore itu, temanku si Evita sempat berganti baju (dress) sebelum kami naik ke atas bukit. Dengan bangga ia berfoto-foto OOTD sesaat sebelum kami mendaki. Namun karena track ke puncak yang cukup curam dan berbatu-batu, ia pun kesulitan tiba dipuncak bukit Padar sehingga sebelum ia tiba dipuncak, matahari sudah tenggelam dan langit sudah berubah gulita. Terpaksa ia turun lagi dan dengan kesulitan lagi karena gelapnya malam dan rempongnya pakaiannya saat itu. Setelah tiba didasar pulau, seorang teman trip kami berkata, “Aneh-aneh aja trip yang sekarang, masa ada naik bukit pake daster!” katanya sambil geleng-geleng melihat Evita dengan dressnya. Aku pun tertawa mendengarnya, mengingat dia yang begitu bangga mengenakan baju tersebut pada awalnya dan malah menjadi bahan bully. Selain itu, terdapat pula sobekan dibeberapa bagian bajunya. Mungkin karena tersangkut-sangkut ranting pohon atau terkena tajamnya batu-batuan selama perjalanan mendaki dan menuruni bukit Padar.

Menangkap Sisa-Sisa Sunset Dari Atas Bukit Padar

Kami yang tidak puas mendaki bukit Padar sore hari itu memutuskan untuk kembali melakukan pendakian ke puncak Padar untuk melihat pesona sunrise dari atas sana.  Yap! Sekali tidak cukup untuk menikmati panorama yang luar biasa dari atas sana. Pendakian keesokan harinya dilakukan pukul 04.00 waktu setempat. Sayangnya, tidak semua anggota open trip ikut naik lagi ke puncak Padar karena kelelahan termasuk Rani dan Gerry yang memilih untuk stay dikapal.
Pendakian diwaktu gelap gulita tentunya lebih menantang dibanding pendakian sore hari kemarin. Kami yang ditemani oleh tour guide yaitu Bang Iyus, dibekali senter yang dipasang diatas kepala sebagai alat penerangan. Walau pun sudah mendaki hingga puncak dihari sebelumnya, tetap saja aku kesulitan menemukan jalan yang tepat untuk menapak sehingga sempat terpeleset beberapa kali. Berkat bantuan teman-teman yang mendaki, akhirnya aku tiba juga di puncak Padar sebelum matahari terbit.
Angin dingin yang berhembus tidak berasa dingin karena peluh yang bercucuran hasil pendakian tadi. Dengan sabar dan santai, kami mencari spot duduk-duduk sambil menunggu sang surya menampakkan dirinya. Tak berapa lama, matahari yang dinanti pun muncul. Tanpa malu-malu, sedikit demi sedikit ia menampilkan diri dengan cara yang menakjubkan. Pemandangan yang tidak mungkin aku lupakan sepanjang hidupku. Kapan lagi melihat sunrise dari puncak bukit Padar? Walau pun saat itu semua anggota trip bersama pasangannya masing-masing. Mas Rahadi dengan istrinya, Mbak Fika. Mas Fariz dengan pacarnya Mbak Rizka, sementara aku? Dengan Evita dan Bang Iyus saja tidak mengurangi kebahagiaanku diatas sana.


Bang Iyus Mengabadikan Momen dari Puncak Padar

Setelah bermandikan cahaya matahari diatas sana, kami kembali menuruni bukit untuk mengejar tujuan selanjutnya. Sungguh pengalaman dua kali naik turun bukit Padar di Pulau Padar ini akan selalu terkenang dan tak terlupakan. Nggak akan move on deh pokoknya!

Kamis, 26 Juli 2018

Ke Pantai Lagi! As Husband and Wife ^^

Juli 26, 2018 0 Comments
Pada tahun 2014, aku sempat menghabiskan waktu liburan bersama keluargaku di menghabiskan waktu disana bersama keluargaku kota Makassar yang berada di bagian selatan pulau Sulawesi. Disana, aku langsung jatuh cinta pada beragam kuliner khas Makassar seperti Coto, Palu Basa, Sup Saudara, Mie Titi, Konro dan masih banyak lagi. Pemandangan alam yang disajikan disana pun tak kalah menarik dan memanjakan mata. Selama liburan disana, kami mengunjungi Pantai Losari, Benteng Rotterdam, Taman Nasional Bantimurung, Malino, Leang-Leang dan Bendungan Bili-bili.
Aku yang penasaran dengan Tana Toraja dan pantai-pantai didaerah Bulukumba berjanji akan kembali ke Makassar dan mengunjungi tempat tersebut. Hal ini dikarenakan masa liburanku dan keluarga yang singkat sehingga kami tidak sempat mengunjunginya.
Sebelum menikah, aku dan (saat itu masih calon) suamiku yang sama-sama memiliki hobi travelling merancang perjalanan honeymoon kami. Sebelum menjadi suami istri, aku dan suamiku adalah teman travelling yang hobi pergi ke pantai. Beberapa destinasi sempat masuk daftar seperti Wakatobi dan Takabonerate, tapi karena perjalanan ke daerah tersebut memakan waktu yang cukup panjang sedangkan liburan kami singkat, kami mencoret kedua daerah tersebut dari list. Akhirnya, kami mencari alternatif yang paling possible yaitu Lombok dan Bali, dimana kami sama-sama menyukai daerah tersebut dan ingin kembali kesana. Kemudian, (calon) suamiku mengatakan keinginannya untuk pergi ke Makassar, disamping karena ia belum pernah kesana, ia ingin mengunjungi keluarganya yang tinggal disana. Tanpa berpikir panjang, dengan senang hati aku mengiyakannya.
Waktu yang kami luangkan untuk berlibur di Makassar adalah 4 hari 3 malam, mulai tanggal 16-19 Januari 2018. Aku langsung memasukkan Tana Toraja sebagai salah satu tujuan wisata kami, aku mengalokasikan waktu 2 hari 1 malam untuk perjalanan PP. Namun, sayang seribu sayang mimpiku untuk mengunjungi Tana Toraja kembali menjadi keinginan semata karena kami ditipu oleh driver yang sudah menjanjikan dirinya untuk mengantar kami kesana.
Melihatku begitu kecewa dan bersedih, suamiku menghubungi sepupunya yang tinggal disana yaitu Adi dan menceritakan kejadian ini. Adi dan kakaknya yaitu Kak Upi kemudian mengajak kami untuk pergi jalan-jalan ke pantai Tanjung Bira dan pantai Bara, pantai-pantai didaerah Bulukumba. Aku yang melihat cuaca saat itu sedang tidak baik (sering mendung dan hujan), awalnya ragu untuk pergi kesana. Tapi, apa salahnya dicoba? Lagi pula aku yang seorang pecinta pantai penasaran juga dengan pantai didaerah sana.
Aku, suamiku, Adi dan Kak Upi berangkat ke Bulukumba pada tanggal 18 Januari 2018 mulai pukul 09.00 WITA. Perjalanan kesana memakan waktu kurang lebih 4,5 - 5 jam. Sepanjang perjalanan kami melewati beberapa daerah seperti kota Sangguminasa yang bertempat di Kabupaten Gowa, kota Takalar di Kabupaten Takalar, kota Jeneponto yang merupakan kota terpanjang sepanjang perjalanan ke Bulukumba dan terakhir kota Bantaeng di Kabupaten Bantaeng yang menurut Adi dan Kak Upi termasuk ke dalam kota yang cukup maju didaerah Sulawesi Selatan ini. Setelah itu, kami mulai memasuki Kabupaten Bulukumba dimana level excitement-ku langsung meningkat apalagi melihat cuaca yang masih terbilang aman untuk pergi ke pantai.
Memasuki kawasan wisata Pantai Tanjung Bira, kami harus membayar tiket masuk seharga Rp. 15.000,- per orang (dewasa) dan biaya parkir mobil sebesar Rp. 10.000,-. Sesampainya disana, pantai berasa milik pribadi. Mungkin karena kami berkunjung kesana dihari kerja yaitu hari Kamis. Pemandangan laut biru-toska yang disajikan benar-benar menyejukkan mata dan membuatku melupakan rasa sedih karena gagal mengunjungi Tana Toraja. Sayangnya, langitnya saat itu agak mendung dan ombaknya sedang tinggi tapi hal ini tidak lantas menyirnakan keinginanku untuk berswafoto dan berjalan menyusuri pinggir pantai sambil sesekali menyentuh air lautnya.

Meresapi Keindahan Pantai dan Laut di Tanjung Bira

Kami berempat yang saat itu kelaparan pun mencari warung makan disekitar situ, entah mengapa banyak warung makan pinggir pantai yang tutup. Akhirnya, kami makan disebuah rumah makan yang letaknya cukup jauh dari pantai dan tertutup beberapa bangunan sehingga kami tidak dapat melihat pemandangan pantai dari sana.
Setelah kenyang mengisi perut yang keroncongan, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Pantai Bara yang letaknya tidak jauh dari Pantai Tanjung Bira. Akses menuju kesana menggunakan mobil cukup sulit karena jalannya yang masih berupa tanah dan bebatuan serta melewati hutan dan semak-semak. Sesampainya disana, lagi-lagi pantai berasa pantai pribadi. Hanya ada kami dan sepasang muda-mudi yang sedang asyik berfoto dibawah batu karang yang ada dipantai itu.
Pemandangan di Pantai Bara tidak jauh berbeda dengan di Tanjung Bira, masih dengan laut biru-toska yang ‘ngademi’ dan karang-karang besar yang mengelilingi. Perbedaannya adalah ombak dipantai ini relatif lebih tenang dibandingkan di Tanjung Bira tadi, sehingga ingin rasanya menceburkan diri ke laut sana. Aku dan suamiku menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan menyisir pantai dan berfoto-foto.

Husband and Wife yang Masih Canggung Foto Gandengan. Hehe...

Tak lama kemudian, suamiku dan Adi yang tak tahan dengan godaan pun langsung nyemplung ke laut. Aku yang saat itu sedang kedatangan ‘tamu bulanan’ memutuskan untuk tidak ikut berenang karena nggak mau rempong. Kak Upi menemaniku ngobrol dipinggir pantai sambil duduk-duduk diatas pasir yang putih dan lembut.
Sudah jauh-jauh kesana, kami menunggu pemandangan sunset yang terlukis dipantai Bara. Namun, berhubung cuaca mendung, nggak tampak deh tuh matahari dan semburat-semburatnya. Hiks :’(

Matahari yang Enggan Menampilkan Pesonanya di Sore itu

Akhirnya kami pulang kembali ke Makassar dan tiba pukul 23.00 WITA. Kami yang sudah kelaparan lagi sempat mampir untuk makan Sup Saudara. Sebuah penutup yang menyenangkan untuk hari yang membahagiakan ini.
Terima kasih suamiku untuk tidak membiarkan aku terlarut dalam kesedihan dan mengembalikan mood liburanku. Terima kasih Adi dan Kak Upi yang sudah berbaik hati menggeser jadwal kerjanya untuk menemani kami liburan. Terima kasih Allah SWT, yang telah menuntunku ke Pantai Tanjung Bira dan Bara yang menakjubkan untuk jalan-jalan disana bersama dia yang sekarang menjadi suamiku :D


Rabu, 25 Juli 2018

My and My 1st Trimester Story

Juli 25, 2018 0 Comments

Menikah di tanggal 14 Januari 2018 tanpa proses pacaran, membuatku tidak ingin terburu-buru memiliki anak. Ingin rasanya merasakan yang disebut dengan ‘pacaran setelah menikah’ selama beberapa waktu. Namun, tak berani juga aku menunda-nunda jika Allah ingin segera mempercayakan kami untuk menjadi orang tua.
“Sedikasihnya aja, nggak usah nunda nggak usah kejar target kapan harus hamil juga,” kata suamiku.
Sebulan setelah menikah dan tinggal dirumah mertua, aku baru mulai beradaptasi dengan rutinitas baru sebagai ‘ibu rumah tangga’. Aku mulai terbiasa dengan ritme kerjaku mengurus rumah dan mulai enjoy tinggal ramai-ramai bersama ayah mertua dan kakak ipar sekeluarganya.
Pada pertengahan bulan Februari lalu, aku mendapati diriku telat datang bulan. Bulan sebelumnya, ‘tamuku’ datang pada tanggal 15 Januari tepat sehari setelah aku menikah. Namun, hingga tanggal 18 Februari tamu bulanan itu belum juga datang padahal biasanya jadwalku tidak pernah meleset.
Dengan percaya diri suamiku mengatakan, “Alhamdulillah kamu hamil tuh! Kita coba testpack aja,”. Aku tak menghiraukan saran suamiku saat itu karena setelah meminta saran dari beberapa sahabat, banyak yang menyarankan untuk menunggu hingga telat seminggu supaya hasilnya lebih akurat. 
Keesokan harinya, aku mengikuti acara gathering kantor kakak iparku yang saat itu diadakan disalah satu waterpark. Pikirku lumayan untuk refreshing dan bisa lebih dekat dengan kakak ipar serta keponakanku. Kami menghabiskan waktu seharian diwaterpark tersebut. Saat sibuk berlari-lari dan menggendong keponakanku dikolam renang dalam rangka ‘ngasuh’, sempat aku berdo'a dalam hati, “Ya Allah, jika memang hamba hamil jaga lah bayi ini supaya nggak kenapa-kenapa…”
Pulang dari bermain dan berenang, tentunya rasa lelah menyerang dan aku langsung menghempaskan tubuh dikasur untuk beristirahat. Setelah tidur selama beberapa jam, suamiku mengajakku untuk pergi mampir ke rumah temannya didaerah yang cukup jauh dari rumah kami. Akhirnya, setelah magrib kami pergi kesana menggunakan sepeda motor.
Tak berapa lama singgah dirumah teman suamiku, aku merasakan badanku meriang dan ngilu-ngilu dibeberapa persendian. Pulang dari sana, seluruh badanku mengigil dan kepalaku terasa begitu berat. Aku pikir ini karena kecapekan setelah seharian beraktivitas dan cukup dengan tidur agak lama aku akan baikan. Namun yang terjadi, keesokan harinya suhu tubuhku semakin meningkat hingga 39 derajat Celcius, aku masih mengigil dan merasakan sakit yang amat sangat dibagian perutku. Akhirnya aku menenggak obat penurun demam dan pereda nyeri untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut. Hingga besoknya, kondisiku tidak juga membaik dan ketika menyadari bahwa ‘tamu bulanan’ belum juga datang, suamiku berinisiatif membeli testpack sebelum kami pergi ke dokter.
“Supaya tau dokter mana yang mau kita datangi, dokter umum aja atau dokter kandungan,” katanya saat itu. Dan ternyata, persis dugaan suamiku sebelumnya hasil testpack menunjukkan garis dua yang berarti diriku positif hamil. Ditengah kedemaman serta kesakitanku, dengan lunglai aku mengucap “Alhamdulillah”. Sementara suamiku dengan bangga berkata, “Tuh kan bener aku udah bilang dari kemarin-kemarin!”
Akhirnya kami pergi ke dokter kandungan dan hasil USG menunjukkan dirahimku terdapat kantong kehamilan. “Ini baru mau jadi nih, baru ada kantongnya belum ada isinya. Dijaga ya supaya nggak gugur, jangan kecapekan dulu,” kata DSOG menjelaskan hasil USG yang saat itu menunjukkan usia kehamilan 5 minggu.
Seraya menuliskan resep, dokter bertanya, “Ada mual atau muntah?” aku pun menjawab, “Nggak ada, Dok,” dan dokter kembali menimpali, “Belum kali ya…”. Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya sambil berharap tidak ada drama dalam kehamilanku yang pertama ini.
Setelah bedrest selama tiga hari berikutnya, aku merasa diriku sudah sehat seperti sedia kala. “Yes, nggak mual nggak muntah nggak susah makan!” dalam hati aku merasa happy. Ternyata takdir berkata lain, mulai dari minggu ke-8 hingga ke-13 aku merasakan “nikmatnya” yang disebut Morning Sickness.

Minggu ke-8
Aku mulai merasakan mual-mual yang tidak diketahui datangnya dari mana. Awalnya aku kira karena aku kurang makan, jadi asam lambung meningkat tapi sebanyak apa pun aku makan rasa mual itu tidak juga sirna. Aku merasakan mual mulai dari pagi hari bangun tidur hingga malam hari saat hendak tidur. Makan dan minum apa pun, mual itu selalu menyertai.
Diminggu kedelapan itu, aku masih merasa sanggup menerima kondisi tersebut dan mensyukuri karena tidak ada drama muntah-muntah.

Minggu ke-9
Banyak hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi padaku sekarang menjadi pernah. Selain mual-mual yang tak kunjung hilang bahkan semakin parah diminggu ini, aku juga merasakan pusing sepanjang hari. Aku mencoba meredakannya dengan duduk, berbaring, berdiri, jalan-jalan namun semua usaha sia-sia. Pusing itu stay still dari bangun tidur hingga mau tidur lagi, berkombinasi dengan rasa mual.
Ayah mertua yang setiap pagi berjemur didepan rumah sering mengajakku ikut berjemur agar aku dan bayiku lebih sehat. Baru 5 menit menyerap sinar matahari, aku langsung merasa kunang-kunang hingga ingin pingsan. Walhasil, setengah harian bisa habis ditempat tidur untuk memulihkan energi.
Pernah juga untuk menyenangkan diriku, suamiku mengajakku pergi ke mall. Kami pergi mengendarai motor karena jaraknya cukup dekat. Ternyata jarak dekat tak berarti saat macet, jarak dari rumah ke mall yang seharusnya ditempuh dalam waktu 5-7 menit menjadi 20-30 menit. Diatas motor, aku mulai merasa berkunang-kunang dan dehidrasi. Begitu kami tiba di mall, aku hanya bisa terduduk tidak kuat jalan dan ingin cepat pulang. Setibanya dirumah, demam tinggi kembali menyerang hingga aku harus bedrest lagi selama beberapa hari. Hal ini mengherankan untukku yang sebelum hamil dan menikah sanggup tawaf berjam-jam mengelilingi mall. Haha..
Hal lain yang terjadi diminggu ini adalah kepekaan hidungku terhadap bau-bauan. Ini kemudian ikut berkombinasi juga dengan mual dan pusing sehingga mencium bau menyengat sedikit saja kepalaku langsung berputar-putar dan ingin muntah. Mencium bau bumbu dapur, bawang goreng, susu, ayam goreng bahkan bau ayam KFC yang biasanya begitu menggoda iman pun sungguh tidak menarik untukku. Awalnya ku pikir ini hanya sugesti, tapi selama beberapa hari nggak sanggup sama bau-bauan itu menyirnakan pikiranku kalau ini semua hanya sugesti dan memilih menerima kenyataan yang ada saja.
Aku pun tidak pernah lagi menyentuh dapur, boro-boro mau masak, liat perbumbuan didapur aja rasanya udah nggak karu-karuan. Ketika kakak ipar masak didapur, aku harus mengungsi sejauh mungkin hingga ke halaman depan untuk menghindari bau masakannya.
Saking nggak bisanya dengan bau masakan, sepanjang minggu yang aku makan hanya bubur ayam tanpa ayam. Setiap pagi suamiku membelikan bubur ayam tanpa toping ayam, bawang goreng, seledri dan kacang. Hanya bubur, kecap, cakwe dan kerupuk. Ia selalu membeli 2 porsi untuk makan pagi dan siangku, sementara malam hari yang bisa masuk hanya buah-buahan dan beragam biscuit.
Lagi-lagi dimasa ini aku masih bersyukur karena “yang penting nggak muntah”.

Minggu ke-10
Dimasa ini, combo semakin bertambah. Yang begitu aku khawatirkan benar terjadi, minggu ini selain mual, pusing dan nggak suka bau-bauan, muntah pun ikut melengkapi perjalanan kehamilan ditrimester pertama ini. Maaf ya, untuk kalian yang ikut ‘eneg’ ketika membaca ini. Fufu~
Setelah seharian menahan mual dan pusing dan bau masakan demi my baby bisa makan, semua itu akan dikeluarkan setiap sore hari menjelang atau setelah magrib. Yaa… Masih bisa bilang Alhamdulillah sih soalnya sehari sekali aja muntahnya nggak pernah lebih. Setiap setelah isi perutku terkuras habis, suamiku selalu memberikan air kelapa hijau untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang sekaligus mengurangi rasa tidak nyaman yang aku rasakan (mual dan pusing).
Kejadian muntah-muntah ini untungnya tidak berlangsung lama, hanya sekitar 4-5 hari. Sehingga pada saat weekend aku bisa pergi kencan dengan suamiku walau hanya sebentar karena aku masih dalam kondisi mual dan pusing yang unstoppable.

Minggu ke-11, 12 dan 13
Minggu-minggu ini adalah masa dimana “kejayaanku” berangsur-angsur kembali. Mulai minggu ke-11, secara ajaib pusing yang selama ini melekat dikepalaku membaik dengan sendirinya, membuat aku lebih produktif dirumah. Minggu ke-12, giliran mual yang sedikit demi sedikit pergi hingga akhirnya menghilang entah kemana dan diminggu ke-13, perlahan-lahan aku mulai menikmati kembali wanginya aroma masakan dan bisa sedikit-sedikit membantu pekerjaan didapur.

Akibat dari morning sickness yang ku alami selama beberapa minggu, aku terpaksa banyak menghabiskan waktu dengan tiduran dikasur, tidak bisa menjalankan banyak aktivitas baik dirumah apalagi diluar rumah. Aku pun mengundurkan diri sebagai bridesmaid saat sahabat-sahabatku menikah karena tidak mampu bepergian terlalu jauh dan terpaksa harus menarik diri sementara dari peradaban dengan tidak ikut main atau kumpul saat teman-teman mengajakku pergi.
Dalam kurun waktu yang membuat emosi naik turun tersebut, peran suami, keluarga serta sahabat-sahabat sangatlah penting. Dukungan dan perhatian yang mereka berikan membuatku merasa memiliki semangat hidup yang lebih untuk melewati masa-masa tersebut.
Begitulah cerita-cerita yang ku alami selama menjalani kehamilan dibulan pertama hingga ketiga. Aku yakin banyak wanita diluar sana yang memiliki pengalaman serupa tapi tak sama denganku, atau bahkan jauh berbeda. Ada yang mengalami hal-hal yang kusebut diatas hingga sembilan bulan namun ada pula yang sama sekali tidak mengalami drama selama kehamilannya. Bagaimana pun kisahnya, proses kehamilan adalah suatu yang patut disyukuri karena kita sebagai wanita dan istri telah dipercaya untuk menjaga dan membesarkan calon-calon penerus masa depan.
Aku pun terus bersyukur dan bahagia karena bayi dikandunganku yang saat ini berusia 27 minggu berkembang dengan sehat. Melihatnya tumbuh dan berkembang setiap bulan dari hasil USG sudah cukup membuatku tersenyum dan melupakan nikmatnya masa-masa trimester pertamaku.

Bandung, 26 Juli 2018

Me and My Fulltime Housewife Life

Juli 25, 2018 0 Comments
Hello there! As a fulltime housewife, I wanna share my experiences tentang dunia ke-ibu rumah tangga-an yang baru kurang lebih enam bulan ini ku tekuni.

Aku menikah diusia 27 tahun kurang 8 hari diawal tahun 2018 ini. Aku yang sebelumnya bekerja disalah satu industri obat yang dari luar cukup “WAW!” namanya dikalangan orang awam, harus resign dibulan September 2017 lalu setelah tiga tahun mengabdi buat perusahaan tersebut. Selain karena aku “hanya” ingin icip-icip dunia perindustrian, ternyata calon suamiku adalah tipe lelaki yang menginginkan istrinya nanti adalah fulltime housewife.
Sebagai cewek yang terbiasa hidup independent, aku yang sejak SMA selalu aktif berkegiatan sana-sini dan saat itu udah punya penghasilan sendiri sempat bimbang. Jadi aku harus ‘ngebabu’ nih dirumah? Masak, nyuci, setrika, nyapu, ngepel, gitu aja terus every single day. Gimana kalo aku bosan? Gimana kalo aku pengen jajan, jalan-jalan, beli baju, make up, sepatu? Apa iya aku harus minta-minta suami terus? Bergerbong-gerbong pertanyaan ada dipikiranku saat itu.
Sebenarnya calon suamiku nggak ngelarang untuk berhenti bekerja, tapi dia nggak suka aja kalo istrinya kerja kantoran jadi buruh kayak kerjaanku sebelumnya. Pergi pagi, pulang sore kadang kalo lembur pulang jam 10 malem. Dia bilang kalo mau ya aku boleh kerja, asal ngerjainnya dirumah, bisa sambil ngurus rumah dan anak-anak. Akhirnya, setelah menyusun rencana masa depan ‘after married life’, aku setuju untuk nggak akan cari-cari kerja diluar rumah lagi.
Sebelum masuk ke kehidupan setelah menikah, aku mau berbagi sedikit cerita tentang diri ini sebelum menikah. Aku memiliki kegemaran travelling, nonton, dengerin musik, menulis, dan suka banget ikut-ikut kegiatan yang bersifat keorganisasian. Pada saat bekerja, semua kegemaran itu masih ku tekuni kecuali menulis dan ikut kegiatan organisasi, secara jadwal hidup sebagai buruh udah penuh sama kerjaan.
Travelling, sibuk nggak sibuk harus tetep jalan. It’s like an oasis in the middle of desert. Nggak bisa banget dalam setahun aku nggak plesiran, pasti dari jauh-jauh hari aku dan temen-temen yang punya hobi sama udah nyusun rencana buat jalan-jalan. Aku yang waktu dulu jomblo sampe nggak pengen banget nantinya punya suami yang nggak suka jalan-jalan, anti banget deh! Alhamdulillah suamiku sekarang ternyata temen travelling sendiri. Hehehe…
Okay, segera setelah menikah aku dan suami menikmati honeymoon di Makassar, Lombok dan Bali. Happy banget lah yaa namanya istri baru terus jalan-jalan berdua sama suami gitu kaan. Hehe… Sejauh mata memandang, aku nggak melihat peran istri sebagai peran yang berat. Ya iya sih, pas holiday kerjaannya cuma packing ama unpacking baju-baju dikoper doang!
Sepulang dari jalan-jalan selama kurang lebih 10 harian, aku dan suami nggak langsung tinggal di Bandung tempat suami. Selama beberapa hari, kita masih ‘extend holiday’ dirumahku di Jogja sebelum balik Bandung dan menjalani peran suami-istri yang sebenarnya disana. Selama di Jogja, aku juga nggak merasakan ke-hectic-an jadi seorang istri.
Finally, aku dan suamiku harus balik ke Bandung dan mengakhiri semua keseruan pesta pernikahan, honeymoon dan holiday kami. FYI, aku tinggal dirumah mertua bersama satu keluarga kakak ipar. Ini juga sempet bikin worry, apa kabar hidup gue nanti?
Hari pertama suami masuk kerja, aku merasa ketakutan banget. Hahaha… Aku bingung harus melakukan apa mulai dari pagi hari? Biasanya kalo hidup dilingkungan yang baru, aku harus liat dulu ‘cara kerja’ orang-orang gimana supaya tau apa yang harus ku kerjakan. Tapi kan nggak mungkin juga aku nggak ngapa-ngapain dan cuma liat orang-orang beraktivitas. Akhirnya, subuh-subuh aku menyampaikan kegalauan ku tersebut ke suami dan dia jawab “ya kamu kerjain aja apa yang mau kamu kerjain? Kalo diem aja ya nggak dapet apa-apa,” Well, bener sih. Jadi, aku berinisiatif nyiapin baju kerja suami dan bikin sarapan langsung buat 7 orang (Aku, suamiku, kakak ipar, istri kakak ipar, anak-anaknya dan bokap mertua).
Setelah orang-orang berangkat kerja dan sekolah, tinggalah diri ini dan bokap mertua yang lagi sakit (beliau nggak bisa jalan jadi tiduran aja dikamar). It’s kinda another worrying thing, takut disuruh ini-itu atau bantuin beliau ngapa-ngapain yang aku nggak bisa. Tapi, Alhamdulillah nggak selebay perkiraanku.
Seminggu, dua minggu aku mulai terbiasa ngejalanin rutinitas baru. Bangun tidur, nyiapin pakaian kerja suami, bikin sarapan, beres-beres rumah, nyuci, jemur, masak, setrika. Semua beres ku kerjakan sekitar jam 2 siang, sisanya leyeh-leyeh dan mulai lagi aktivitas jam 4 sore sampe setelah makan malam. Awalnya dirumah pake jasa asisten rumah tangga yang dateng seminggu 3x tapi entah kenapa si asisten tersebut nggak dateng-dateng lagi jadi akhirnya kita yang dirumah yang ngerjain semua sendiri.

Capek?
Yes of course, pertama-tama ngerasa banget kalo kerjaan rumah itu nggak ada habisnya tapi setelah dijalanin dan nemu ritmenya baru deh terbiasa dan jadi lebih santai, lebih fleksibel ngerjainnya karena aku yang mengatur ‘jam kerja’ ku sendiri.

Iri sama temen-temen yang masih kerja?
Well, iri sih nggak ya karena aku udah mulai enjoy dengan peran baru ini. Mungkin lebih ke agak risih dan sebel karena mau kita kerja gimana banget dirumah tetep aja judulnya ‘ibu rumah tangga’ yang nggak mungkin naik jabatan kayak temen-temen dikantor, mau kerja keras kayak apa juga tetep aja banyak orang bilang ‘lo kan nggak ngapa-ngapain ya, dirumah aja’.  Ya, terserah lah orang lain ngomong apa, yang jelas aku punya rasa kepuasan tersendiri karena mengurus suami dan rumah sendiri. Nggak penting pendapat orang lain selama suamiku lebih bahagia liat istrinya pake daster nungguin dia pulang kerja. Yes, man! Suamiku seneng banget kalo liat gue dasteran dan polosan nggak pake make up. Hehe…

Bosan nggak gitu-gitu aja dirumah?
Sometimes, kejenuhan itu pasti muncul. Pinter-pinter diri sendiri aja memanage kebosanan gimana. Bereksperimen sama masakan jadi salah satu alternatif pengusir kebosanan, menulis kayak gini juga salah satu cara untuk survive menghabiskan waktu seharian dirumah. Sempat juga aku berjualan online yang ternyata cukup menyita waktu, tapi ada suatu hal yang membuat aku harus off berbisnis sementara waktu. Nggak jarang juga tiap weekend pergi kencan sama suami atau pergi main sama temen-temen. Intinya, semua kalo dilakuin dengan happy pasti nggak akan kerasa berat dan semembosankan itu.

Pengen nggak kerja kantoran kayak kemarin lagi?
So far sih nggak ya. Banyak kok hal positif yang ku dapet setelah resign, diantaranya dan yang paling utama adalah menghindari ghibah. Hahaha… Seriusan deh setelah resign dari tempat kerja kemarin, hidupku berasa lebih berfaedah dengan tidak berghibah. Selain itu, aku nggak pernah lagi stress gara-gara atasan yang suka nyuruh-nyuruh atau kerjaan yang nggak ada habisnya walau dikerjain dari pagi sampe pagi lagi. Paling banter stress karena mesin cuci nggak jalan atau air mati.
Aku lebih nyaman dengan hidupku yang sekarang. Aku punya beberapa business plans yang pengen ku kerjain, tapi berhubung aku lagi nggak bisa capek-capek karena sebentar lagi ada baby (Hoorraayy!!!), mau nggak mau rencana ku itu harus tertunda. Aku juga seneng karena punya banyak waktu buat nulis kayak gini. Buat aku, menulis itu salah satu cara menjaga diriku tetep waras disaat bosan dan sangat efektif buat menuangkan ide-ide yang ada dikepalaku. Nggak sedikit loh, temen yang menawarkan kisah hidupnya buat dijadikan story. Hehe…

Begitu lah kira-kira kehidupanku selama jadi ibu rumah tangga, guys! Mungkin banyak yang masih berpikiran kalo dirumah tuh enak, santai-santai dan gitu-gitu aja. Tapi buktinya, aku punya warna-warni kehidupanku sendiri sebagai ibu rumah tangga. Ditambah lagi sebentar lagi insha Allah dipercayakan untuk menjadi ibu beneran, yang mana banyak temen-temen bilang waktu bakalan lebih nggak kerasa lagi dengan kehadiran bocil. We’ll see :D
Jadi guys buat yang nasibnya sama seperti aku, nggak usah minder sama temen-temen kita yang masih jadi wanita karir dikantoran. Aku tau perjalanan hidup sebagai istri dan ibu rumah tangga yang aku bagikan ini based on the experience yang masih bau kencur, aku pun masih terus belajar gimana cara untuk memperbaiki diri dan menjadi istri yang lebih baik serta shalihah. Namun, yang harus diingat adalah “Everyone has their own story, it’s our job to create it as good as possible. Stay positive and be happy with what you do”.                       
Bandung, 25 Juli 2018

Selasa, 24 Juli 2018

Come Back and Be Here Again

Juli 24, 2018 0 Comments
Setelah platform menulis yang sering ku gunakan untuk menumpahkan curahan hatiku yaitu tumblr resmi diblokir, aku mulai mencari-cari tempat baru dimana aku bisa kembali menulis dan berbagi cerita. Tidak rela sebenarnya untuk harus “pindah rumah” mengingat banyaknya cerita hidup yang aku bagikan di tumblr, disamping itu aku tidak memiliki back-up untuk tulisan-tulisanku dikarenakan sudah beberapa kali aku mengganti laptop gara-gara rusak. Salahku juga tidak suka menyimpan data-data pribadi di hard disk mau pun flash disk. Semua isi HD-Ext dan FD ku adalah hiburan dan kerjaan.

Beberapa waktu yang lalu aku teringat bahwa aku pernah membuat blog di situs ini. Iseng ku buka kembali blog lama ku ini dan aku tidak kuasa menahan tawa ketika membaca postingan-ku sekitar 8 tahun yang lalu, tahun 2010. Bahkan beberapa kisah yang ku ceritakan itu terjadi kurang lebih 13 tahun yang lalu, masa dimana aku masih duduk di bangku SMP.

Banyak hal terjadi sejak 8 tahun berlalu. Tahun 2010 adalah saat aku masih menjalani kehidupan sebagai mahasiswi di Fakultas Farmasi, UGM. Saat ini, aku sudah menjabat sebagai Manager Rumah Tangga dan sebentar lagi menyandang status Mahmud alias Mamah Muda. Usia ku saat ini adalah 27 tahun, masih muda kan ya? Hehe…

Untuk mengabadikan kisah-kisah konyol dimasa lalu, akhirnya aku memutuskan untuk kembali bercerita disitus ini. Tentunya dengan gaya bahasa yang berbeda dari gaya bahasaku 8 tahun lalu, aku akan mencoba mengisahkan kembali perjalananku selama 8 tahun ini. Kisah travelling, kisah cinta, kisah sebagai seorang buruh kantoran hingga aku mencapai titik ini.

Semoga “proyek” ini bukan sekedar wacana ya ^^v

Bandung, 24 Juli 2018