Karena Mendaki Sekali Tidaklah Cukup!

By Imawati A. Wardhani - Juli 30, 2018

Kehidupan sebagai seorang buruh dikantor membuat hari-hariku dipenuhi dengan kejenuhan. Jenuh karena setiap hari harus berangkat ke kantor sebelum sempat kulit ini merasakan hangatnya sinar matahari dan pulang saat matahari mengucap salam perpisahan pada langit. Tak jarang pekerjaan dikantor yang tiada hentinya membuat kepalaku panas hingga hilang bernafsu untuk menyelesaikannya.
Jika sudah mencapai titik ini, mau tak mau aku harus rehat sejenak. Aku harus mengembalikan kejernihan pikiranku agar tidak sumpek dan stress, aku harus travelling. Ya, travelling adalah obat yang paling mujarab untuk menghilangkan penat dan kekorsletan otakku. Aku menghubungi teman SMA-ku Evita, seorang buruh yang bernasib sama sepertiku, kurang piknik. Aku mengutarakan rencana untuk pergi jalan-jalan mengusir kebosanan. Kami akhirnya memutuskan untuk menjadikan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur sebagai tujuan plesiran kami kali ini.
Aku pun mengajak Rani, teman kuliahku untuk turut serta melakukan perjalanan kali ini. Sebelumnya aku memang berjanji akan mengajak dirinya jika nanti liburan lagi. Kami memilih sailing Komodo dan live on board menggunakan agen wisata yaitu Longlasting Trip, dengan biaya trip sebesar Rp. 2.500.000,- per orang untuk 4 hari 3 malam. Dihari terakhir, kami akan menginap disebuah resort di Labuan Bajo yang bernama Sylvia Resort. Aku mengambil open trip menggunakan agen wisata ini karena trip ini dibatasi hanya untuk 9 peserta, sehingga akan menjadi lebih private dibandingkan dengan open trip yang pesertanya belasan atau bahkan puluhan. Aku dan kedua temanku juga tidak memilih untuk menjadi backpacker, karena kami memang berniat untuk menikmati hidup dengan ‘liburan enak’ dan tidak mau ribet sehingga kami menyisihkan tabungan sejak jauh-jauh hari untuk perjalanan kali ini.
Berangkatlah kami pada tanggal 10 Mei 2017. Aku dan Rani berangkat dari Bandara Soetta, Cengkareng, sementara Evita berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya. Kami bertiga bertemu di Bandara Ngurah Rai, Bali, sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat baling-baling menuju Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo. Oiya, Rani juga mengajak pacarnya bernama Gerry dalam perjalanan ini. Gerry yang ditempatkan kerja di Gorontalo mengambil pesawat yang juga transit di Bali sehingga kami berempat pergi menuju Labuan Bajo bersama-sama.
Perjalanan sailing Komodo kami dimulai keesokan harinya yaitu tanggal 11 Mei 2017. Dihari itu, kami mengunjungi Taman Nasional Komodo yang berada di Loh Buaya, Pulau Rinca dan menikmati sunset di Pulau Padar sebelum bermalam disana. Sayangnya, kami terlambat tiba di Pulau Padar sehingga setelah lelah mendaki ke puncak Padar kami tidak sempat lagi memandangi indahnya sunset dari atas sana. Pendakian ke puncak bukit Padar memakan waktu sekitar 30-40 menit dengan jalan setapak yang cukup curam tapi masih mudah dilewati namun tetap harus berhati-hati karena bebatuannya lumayan licin dan banyak ranting-ranting semak dan pohon yang bisa membuat langkah kita terjerumus.

Aku, Evita dan Rani Sebelum Memulai Perjalanan Live on Board yang Tak Terlupakan

Ada kejadian miris sekaligus lucu saat kami melakukan pendakian ke puncak Padar pada sore itu, temanku si Evita sempat berganti baju (dress) sebelum kami naik ke atas bukit. Dengan bangga ia berfoto-foto OOTD sesaat sebelum kami mendaki. Namun karena track ke puncak yang cukup curam dan berbatu-batu, ia pun kesulitan tiba dipuncak bukit Padar sehingga sebelum ia tiba dipuncak, matahari sudah tenggelam dan langit sudah berubah gulita. Terpaksa ia turun lagi dan dengan kesulitan lagi karena gelapnya malam dan rempongnya pakaiannya saat itu. Setelah tiba didasar pulau, seorang teman trip kami berkata, “Aneh-aneh aja trip yang sekarang, masa ada naik bukit pake daster!” katanya sambil geleng-geleng melihat Evita dengan dressnya. Aku pun tertawa mendengarnya, mengingat dia yang begitu bangga mengenakan baju tersebut pada awalnya dan malah menjadi bahan bully. Selain itu, terdapat pula sobekan dibeberapa bagian bajunya. Mungkin karena tersangkut-sangkut ranting pohon atau terkena tajamnya batu-batuan selama perjalanan mendaki dan menuruni bukit Padar.

Menangkap Sisa-Sisa Sunset Dari Atas Bukit Padar

Kami yang tidak puas mendaki bukit Padar sore hari itu memutuskan untuk kembali melakukan pendakian ke puncak Padar untuk melihat pesona sunrise dari atas sana.  Yap! Sekali tidak cukup untuk menikmati panorama yang luar biasa dari atas sana. Pendakian keesokan harinya dilakukan pukul 04.00 waktu setempat. Sayangnya, tidak semua anggota open trip ikut naik lagi ke puncak Padar karena kelelahan termasuk Rani dan Gerry yang memilih untuk stay dikapal.
Pendakian diwaktu gelap gulita tentunya lebih menantang dibanding pendakian sore hari kemarin. Kami yang ditemani oleh tour guide yaitu Bang Iyus, dibekali senter yang dipasang diatas kepala sebagai alat penerangan. Walau pun sudah mendaki hingga puncak dihari sebelumnya, tetap saja aku kesulitan menemukan jalan yang tepat untuk menapak sehingga sempat terpeleset beberapa kali. Berkat bantuan teman-teman yang mendaki, akhirnya aku tiba juga di puncak Padar sebelum matahari terbit.
Angin dingin yang berhembus tidak berasa dingin karena peluh yang bercucuran hasil pendakian tadi. Dengan sabar dan santai, kami mencari spot duduk-duduk sambil menunggu sang surya menampakkan dirinya. Tak berapa lama, matahari yang dinanti pun muncul. Tanpa malu-malu, sedikit demi sedikit ia menampilkan diri dengan cara yang menakjubkan. Pemandangan yang tidak mungkin aku lupakan sepanjang hidupku. Kapan lagi melihat sunrise dari puncak bukit Padar? Walau pun saat itu semua anggota trip bersama pasangannya masing-masing. Mas Rahadi dengan istrinya, Mbak Fika. Mas Fariz dengan pacarnya Mbak Rizka, sementara aku? Dengan Evita dan Bang Iyus saja tidak mengurangi kebahagiaanku diatas sana.


Bang Iyus Mengabadikan Momen dari Puncak Padar

Setelah bermandikan cahaya matahari diatas sana, kami kembali menuruni bukit untuk mengejar tujuan selanjutnya. Sungguh pengalaman dua kali naik turun bukit Padar di Pulau Padar ini akan selalu terkenang dan tak terlupakan. Nggak akan move on deh pokoknya!

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar