Ke Pantai Lagi! As Husband and Wife ^^

By Imawati A. Wardhani - Juli 26, 2018

Pada tahun 2014, aku sempat menghabiskan waktu liburan bersama keluargaku di menghabiskan waktu disana bersama keluargaku kota Makassar yang berada di bagian selatan pulau Sulawesi. Disana, aku langsung jatuh cinta pada beragam kuliner khas Makassar seperti Coto, Palu Basa, Sup Saudara, Mie Titi, Konro dan masih banyak lagi. Pemandangan alam yang disajikan disana pun tak kalah menarik dan memanjakan mata. Selama liburan disana, kami mengunjungi Pantai Losari, Benteng Rotterdam, Taman Nasional Bantimurung, Malino, Leang-Leang dan Bendungan Bili-bili.
Aku yang penasaran dengan Tana Toraja dan pantai-pantai didaerah Bulukumba berjanji akan kembali ke Makassar dan mengunjungi tempat tersebut. Hal ini dikarenakan masa liburanku dan keluarga yang singkat sehingga kami tidak sempat mengunjunginya.
Sebelum menikah, aku dan (saat itu masih calon) suamiku yang sama-sama memiliki hobi travelling merancang perjalanan honeymoon kami. Sebelum menjadi suami istri, aku dan suamiku adalah teman travelling yang hobi pergi ke pantai. Beberapa destinasi sempat masuk daftar seperti Wakatobi dan Takabonerate, tapi karena perjalanan ke daerah tersebut memakan waktu yang cukup panjang sedangkan liburan kami singkat, kami mencoret kedua daerah tersebut dari list. Akhirnya, kami mencari alternatif yang paling possible yaitu Lombok dan Bali, dimana kami sama-sama menyukai daerah tersebut dan ingin kembali kesana. Kemudian, (calon) suamiku mengatakan keinginannya untuk pergi ke Makassar, disamping karena ia belum pernah kesana, ia ingin mengunjungi keluarganya yang tinggal disana. Tanpa berpikir panjang, dengan senang hati aku mengiyakannya.
Waktu yang kami luangkan untuk berlibur di Makassar adalah 4 hari 3 malam, mulai tanggal 16-19 Januari 2018. Aku langsung memasukkan Tana Toraja sebagai salah satu tujuan wisata kami, aku mengalokasikan waktu 2 hari 1 malam untuk perjalanan PP. Namun, sayang seribu sayang mimpiku untuk mengunjungi Tana Toraja kembali menjadi keinginan semata karena kami ditipu oleh driver yang sudah menjanjikan dirinya untuk mengantar kami kesana.
Melihatku begitu kecewa dan bersedih, suamiku menghubungi sepupunya yang tinggal disana yaitu Adi dan menceritakan kejadian ini. Adi dan kakaknya yaitu Kak Upi kemudian mengajak kami untuk pergi jalan-jalan ke pantai Tanjung Bira dan pantai Bara, pantai-pantai didaerah Bulukumba. Aku yang melihat cuaca saat itu sedang tidak baik (sering mendung dan hujan), awalnya ragu untuk pergi kesana. Tapi, apa salahnya dicoba? Lagi pula aku yang seorang pecinta pantai penasaran juga dengan pantai didaerah sana.
Aku, suamiku, Adi dan Kak Upi berangkat ke Bulukumba pada tanggal 18 Januari 2018 mulai pukul 09.00 WITA. Perjalanan kesana memakan waktu kurang lebih 4,5 - 5 jam. Sepanjang perjalanan kami melewati beberapa daerah seperti kota Sangguminasa yang bertempat di Kabupaten Gowa, kota Takalar di Kabupaten Takalar, kota Jeneponto yang merupakan kota terpanjang sepanjang perjalanan ke Bulukumba dan terakhir kota Bantaeng di Kabupaten Bantaeng yang menurut Adi dan Kak Upi termasuk ke dalam kota yang cukup maju didaerah Sulawesi Selatan ini. Setelah itu, kami mulai memasuki Kabupaten Bulukumba dimana level excitement-ku langsung meningkat apalagi melihat cuaca yang masih terbilang aman untuk pergi ke pantai.
Memasuki kawasan wisata Pantai Tanjung Bira, kami harus membayar tiket masuk seharga Rp. 15.000,- per orang (dewasa) dan biaya parkir mobil sebesar Rp. 10.000,-. Sesampainya disana, pantai berasa milik pribadi. Mungkin karena kami berkunjung kesana dihari kerja yaitu hari Kamis. Pemandangan laut biru-toska yang disajikan benar-benar menyejukkan mata dan membuatku melupakan rasa sedih karena gagal mengunjungi Tana Toraja. Sayangnya, langitnya saat itu agak mendung dan ombaknya sedang tinggi tapi hal ini tidak lantas menyirnakan keinginanku untuk berswafoto dan berjalan menyusuri pinggir pantai sambil sesekali menyentuh air lautnya.

Meresapi Keindahan Pantai dan Laut di Tanjung Bira

Kami berempat yang saat itu kelaparan pun mencari warung makan disekitar situ, entah mengapa banyak warung makan pinggir pantai yang tutup. Akhirnya, kami makan disebuah rumah makan yang letaknya cukup jauh dari pantai dan tertutup beberapa bangunan sehingga kami tidak dapat melihat pemandangan pantai dari sana.
Setelah kenyang mengisi perut yang keroncongan, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Pantai Bara yang letaknya tidak jauh dari Pantai Tanjung Bira. Akses menuju kesana menggunakan mobil cukup sulit karena jalannya yang masih berupa tanah dan bebatuan serta melewati hutan dan semak-semak. Sesampainya disana, lagi-lagi pantai berasa pantai pribadi. Hanya ada kami dan sepasang muda-mudi yang sedang asyik berfoto dibawah batu karang yang ada dipantai itu.
Pemandangan di Pantai Bara tidak jauh berbeda dengan di Tanjung Bira, masih dengan laut biru-toska yang ‘ngademi’ dan karang-karang besar yang mengelilingi. Perbedaannya adalah ombak dipantai ini relatif lebih tenang dibandingkan di Tanjung Bira tadi, sehingga ingin rasanya menceburkan diri ke laut sana. Aku dan suamiku menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan menyisir pantai dan berfoto-foto.

Husband and Wife yang Masih Canggung Foto Gandengan. Hehe...

Tak lama kemudian, suamiku dan Adi yang tak tahan dengan godaan pun langsung nyemplung ke laut. Aku yang saat itu sedang kedatangan ‘tamu bulanan’ memutuskan untuk tidak ikut berenang karena nggak mau rempong. Kak Upi menemaniku ngobrol dipinggir pantai sambil duduk-duduk diatas pasir yang putih dan lembut.
Sudah jauh-jauh kesana, kami menunggu pemandangan sunset yang terlukis dipantai Bara. Namun, berhubung cuaca mendung, nggak tampak deh tuh matahari dan semburat-semburatnya. Hiks :’(

Matahari yang Enggan Menampilkan Pesonanya di Sore itu

Akhirnya kami pulang kembali ke Makassar dan tiba pukul 23.00 WITA. Kami yang sudah kelaparan lagi sempat mampir untuk makan Sup Saudara. Sebuah penutup yang menyenangkan untuk hari yang membahagiakan ini.
Terima kasih suamiku untuk tidak membiarkan aku terlarut dalam kesedihan dan mengembalikan mood liburanku. Terima kasih Adi dan Kak Upi yang sudah berbaik hati menggeser jadwal kerjanya untuk menemani kami liburan. Terima kasih Allah SWT, yang telah menuntunku ke Pantai Tanjung Bira dan Bara yang menakjubkan untuk jalan-jalan disana bersama dia yang sekarang menjadi suamiku :D


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar