Sabtu, 15 September 2018

My Wedding Preparation Story (Part 1)


Tulisan ini masih menyambung tulisanku sebelumnya yang membahas flashback persiapan pernikahanku pada tanggal 14 Januari 2018 silam. Ditulisanku yang lalu, aku berbagi cerita tentang my pre-wedding event series atau rangkaian acara yang aku lalui sebelum sampai ke hari H pernikahan. Kali ini, aku ingin bercerita mengenai printilan yang disiapkan sebelum hari H.

Pertama-tama, sebagai calon pengantin tentunya kalian harus mempersiapkan mental terlebih dulu. Apakah kalian yakin dengan calon pasangan kalian? Apa kalian siap menjalani peran sebagai seorang istri, ibu dan juga manager rumah tangga? Apa kalian yakin dengan keputusan menjadi working mom/fulltime housewife? Mantapkan diri kalian, perbanyaklah berdo’a. Tentunya kita semua menginginkan pernikahan ini menjadi yang pertama dan terakhir kalinya sepanjang usia kita, bukan?

Setelah mantap memutuskan untuk menikah dengan deadline yang cukup singkat, yaitu kurang lebih 4 bulan saja, aku dan (calon) suamiku langsung “bergerak” dalam mempersiapkan acara kami nanti. Aku yang saat itu masih bekerja di Bandung sedangkan keluargaku di Jogja, sebisa mungkin ikut terlibat membantu persiapan meski pun dari jarak jauh. Disamping itu, (calon) suamiku juga begitu supportive memberikan pendapat bila aku bertanya mengenai rencana pernikahan kami, jadi bukan yang cuma manut-manut ae gitu loh. Menurutku, peran (calon) suami yang seperti ini sangat dibutuhkan agar kita para wanita tidak merasa sendirian tenggelam dalam kehectican mengurus pernikahan.

Mengurus persiapan pernikahan tidaklah semudah menjentikkan jari tangan, apalagi di Indonesia kebanyakan acara pernikahan adalah salah satu ‘acaranya orang tua’ pengantin sehingga campur tangan dari keduanya masih begitu terasa. Demikian dengan kedua orang tuaku yang menginginkan berbagai prosesi dilakukan dan mengadakan resepsi dengan mengundang para kerabat dan teman-temannya. Well, sebagai anak pertama dan satu-satunya dalam keluargaku, aku tidak bisa memaksakan kehendakku untuk menikah dengan konsep ‘sederhana yang penting SAH!’ hehe… Tidak tega juga dengan mereka yang sudah menunggu moment untuk menikahkan putri semata wayangnya ini.

Dibulan Agustus 2018 lalu, setelah (calon) suamiku mendapat sinyal bahwa lamarannya ke rumah diterima oleh orang tuaku, dari Bandung kami mulai untuk :

1.       Survey Venue
Berhubung aku berada di Bandung, aku hanya bisa mensurvey venue pernikahan via web saja. Setelah berdiskusi dengan kedua orang tuaku, mereka menginginkan pernikahan dihotel dengan undangan kurang lebih 400 (800 tamu). Aku membuat list tempat dan harga kemudian memberikannya pada mereka dan di Jogja sana, kedua orang tuaku yang sibuk mensurvey tempat secara langsung. Akhirnya, diputuskan untuk memilih gedung University Club UGM sebagai tempat pernikahan kami.

Alasan kami memilih UC UGM adalah karena tersedia paket pernikahan yang didalamnya sudah termasuk wedding organizer, catering, dekorasi, make-up, entertainment dan dokumentasi yang vendornya akan kita pilih sendiri sesuai selera, tentunya luas area venue cukup luas untuk kapasitas hingga 1000 tamu. Selain itu, paket sudah termasuk dengan kamar untuk kedua mempelai, orang tua dan besan yang sudah bisa ditempati mulai dari H-1, hari H dan H+1. Tempat parkir disana juga cukup untuk menampung kendaraan para tamu nantinya. Tidak kalah penting, budgetnya terjangkau. Kami memilih paket Gold seharga Rp. 140.000,- per person (undangan), jadi kalo ada 800 tamu ya tinggal dikalikan saja. Hehe…

2.       Membuat List Undangan
Aku dengan (calon) suamiku membuat list undangan teman-teman kantor bersama-sama berhubung aku dan dia saat itu mengabdi diperusahaan yang sama. Diluar itu, aku meminta bantuan teman-teman SD, SMP, SMA dan kuliah untuk membuat list undangan teman dan sahabat-sahabatku. Kegiatan ini bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, waktu itu aku membuat list menggunakan agenda/notes sebelum dipindahkan ke laptop, jadi kalau ada nama yang terlupa tinggal dicatat saja diagenda kecil yang selalu aku bawa pergi-pergi.

3.       Memilih Desain Undangan
Walau pun pada akhirnya aku mendesain sendiri undanganku dibantu oleh sahabatku, Fauzia Nurul Izzati a.k.a Ucha, sebelumnya aku sudah browsing kira-kira ingin konsep undangan yang seperti apa, hard/soft cover, berapa lembar dan informasi apa saja yang akan dituliskan didalamnya. Selain dibantu Ucha, cukup banyak masukkan yang diberikan oleh kedua orang tuaku terutama ayahku dan (calon) suamiku pada saat proses ini.

4.       Menentukan Tema Pernikahan
Kalau untuk urusan tema pernikahan, aku tidak bisa berbuat banyak karena konsep tema pernikahan dan rangkaian acaranya dipegang sepenuhnya oleh ayahku. Kemarin, kami mengusung tema pernikahan adat Jawa Modern.

5.       Membicarakan Tanggal Pernikahan
Sebelum datang ke Jogja untuk melamar dibulan Agustus 2018, aku dan (calon) suamiku sudah terlebih dahulu membicarakan rencana kapan kami akan menikah. Kalau tidak salah pembicaraan ini terjadi sekitar bulan Juli 2018. Saat itu (calon) suamiku bertanya, “Jadi kamu mau dinikahin kapan?” Haha… Kesannya gue gitu yang minta nikah -.- Aku menjawab sekitar pertengahan tahun 2018, namun (calon) suamiku berkata itu terlalu lama dan dia menginginkan pernikahan di awal tahun 2018 (ketauan kan yang pengen cepet siapa? Hehe…)

Setelah berdiskusi, kami sepakat ingin menikah di bulan Januari 2018 sebelum hari ulang tahunku jatuh yaitu 22 Januari 2018 (jika Allah dan orang tuaku mengijinkan). Tanggal yang kami pilih saat itu adalah tanggal 20 Januari 2018, namun nasib menentukan lain karena UC UGM full booked diminggu itu sehingga tanggal pernikahan dimajukan menjadi 14 Januari 2018. Alhamdulillah, as soon as better kan? Hihi…

6.       Membicarakan Mahar
Ini dibahas berdua antara aku dan (calon) suamiku tanpa ada intervensi dari pihak keluarga. Saat ditanya ingin mahar apa? Aku sempat bingung dan akhirnya memilih seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat 14 Gram sebagai mahar pernikahan kami.


7.       Membahas Budgeting Pernikahan
Pembahasan mengenai biaya pernikahan ini cukup sensitive, namun sebagai calon suami dan istri kami sudah harus mulai terbuka mengenai segala hal termasuk keuangan. Jadi, baiknya memang tetap harus dibahas dengan cara baik-baik dan transparan mengenai masalah ini.

Diakhir bulan September 2018, setelah aku resign dari perusahaan tempatku bekerja dan kembali ke Jogja, aku mulai fokus untuk mengurus segala keperluan pernikahan. Apa saja yang aku urus setelah aku kembali ke Jogja akan ku lanjut ditulisan selanjutnya ya, karena ternyata masih banyak hal yang ingin aku share dan akan menjadi sangat panjang jika dibuat dalam satu postingan. See ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar