Jumat, 14 September 2018

Flashback to My Pre-Wedding Event Series


Beberapa waktu yang lalu, seorang sahabat mengabarkan bahwa ia diajak ta’aruf oleh pria yang selama ini ia dambakan dan sebut dalam do’anya setiap hari. Mendengar berita ini, tentunya aku ikut berbahagia karena aku mengetahui kisah mereka dari awal hingga waktu ini tiba. Namun, aku cukup terkejut mendengar cerita sahabatku yang ingin melangsungkan pernikahan dalam waktu singkat. Aku pun bertukar cerita padanya bahwa persiapan sebelum menikah tidaklah semudah itu, apalagi sahabatku ini anak perempuan pertama dari keluarga yang cukup terpandang. Nggak yakin deh kalo acara pernikahannya nanti ‘cuma gitu doang’.

Tanggapan sahabatku saat aku berceloteh panjang lebar tentang persiapan pernikahan adalah, “Hah? Kok jadi banyak gitu sih yang diurusin? Aku nggak mikir sampe sana loh kalo kamu nggak ngomong! Kirain tinggal dateng, ijab-kabul, sah, udah beres!” Hahaha… Aku pun dulu sempat berpikir demikian.

Dari kisah sahabatku itu, aku jadi terinspirasi untuk menceritakan ulang mengenai persiapan pernikahanku yang bisa dibilang cukup kilat. Aku dilamar pada tanggal 27 Mei 2017, (calon) suamiku baru menemui orang tuaku untuk pertama kalinya dibulan Agustus 2017, tepatnya tangal 13 Agustus 2017 dan pernikahan dilangsungkan pada 14 Januari 2018. Artinya, aku hanya memiliki waktu kurang lebih 4 bulan untuk mempersiapkan pernikahan.

Dalam kurun waktu 4 bulan tersebut, bukan hanya pernikahan yang dipersiapkan tapi juga rangkaian acara sebelum hari H yang cukup banyak untuk anak yang nggak mau ribet seperti aku. Rangkaian acara tersebut antara lain :

1.       Setelah husband wanna be sendiri yang datang menemui kedua orang tuaku dan orang tuaku menyetujui permintaannya untuk menikah denganku, kedua orang tua (calon) suamiku yang dalam hal ini diwakilkan oleh pihak keluarganya datang ke rumahku untuk meminta ijin pada kedua orang tuaku untuk menikahkan putranya (calon suamiku) dengan aku. Ribet ya kata-katanya, intinya ini masih proses awal banget lah belom acara lamaran ya! Oh ya, acara ini berlangsung secara semi-formal di tanggal 1 Oktober 2017.

Menemani (calon) uami yang sedang tidak fit saat menghadiri acara waktu itu


2.       Berhubung ayahku orang yang terbilang patuh dengan adat istiadat, pertanyaan dari pihak keluarga (calon) suami untuk meminangku tidak langsung dijawab. Ditahap 2 ini, diadakan acara kunjungan balik dari pihak keluargaku (yang berdomisili di Jogja) dengan pihak keluarga (calon) suamiku yang tinggal di Bandung. Intinya silaturahmi gitu lah, sekalian memberikan jawaban ‘IYA’ dari permintaan pihak keluarga (calon) suami untuk menikahiku (acara tahap 1). Ditahap 2 ini, dibahas juga mengenai kepastian dari pihak keluarga (calon) suami untuk datang kembali ke Jogja dalam rangka melamar diriku secara resmi. Selain itu, dibahas pula mengenai rencana tanggal pernikahan. Kunjungan balik ini dilakukan kurleb 2 minggu setelah acara tahap 1 tadi, yang berarti dipertengahan bulan Oktober.

3.       Lamaran, akhirnya one step closer to be the wife! Hahaha… Pada tanggal 4 November 2017, dilangsungkan acara lamaran/tunangan resmi. Pada tahap ini, dilakukan acara tukar cincin dan pemastian tanggal pernikahan yang diputuskan akan jatuh pada hari Minggu tanggal 14 Januari 2018.

Bersama kedua orang tuaku saat acara Lamaran

4.       Masih ada tahap 4? Yes, guys! Rangkaian acara sebelum hari H masih ada, acara ini disebut ‘BETIMUNG’. Sehubungan dengan keluargaku yang blasteran Jawa-Kalimantan, sebagian rangkaian acaraku berbasis adat Jawa dan sebagian lainnya berbasis adat Banjar. Betimung ini sendiri merupakan adat Banjar dimana masing-masing calon mempelai wanita dan pria diberi lulur dari bahan-bahan tradisional dan selanjutnya didudukan dikursi yang tempat duduknya berlubang, tepat dibagian bawah dudukannya itu terdapat rebusan rempah-rempah dan ekstrak bunga-bungaan. Calon mempelai kemudian di’bungkus’ dengan kain dan selimut sehingga calon mempelai seperti berada di sauna. Konon katanya, betimung ini akan membuat tubuh calon mempelai wangi, lebih segar dan memancarkan aura pengantinnya. Aku pun merasa tubuhku menjadi lebih fresh dan wangi banget setelah melakukan betimung ini.  Prosesi ini dilangsungkan pada H-2 sebelum hari H yaitu tanggal 12 Januari 2018.

5.       Betamat/Khataman Al-Qur’an, ini dilakukan pada tanggal 13 Januari 2018. Prosesi ini juga masih berbasis adat Banjar, dimana calon mempelai wanita membaca beberapa surat pilihan disertai dengan do’a khatam Al-Qur’an. Dalam proses ini, aku membaca Al-Qur’an didampingi oleh kedua sepupuku Syifa dan Shafira serta seorang sahabatku, Fissy. Acara ini hanya dihadiri oleh pihak keluarga dan undangan dari calon mempelai wanita.

Betamat Team (Fissy, Ima, Syifa dan Shafira)

6.       Siraman, ini adalah acara/prosesi terakhir dari rangkaian acara sebelum pernikahanku. Acara ini dilangsungkan pada tanggal 13 Januari 2018 siang hari setelah acara betamat selesai. Proses siramanku waktu itu berbasis adat Jawa-Kalimantan, campur gitu deh jadi ada pemasangan bleketepe (adat Jawa) namun ada juga proses pemberian tepung tawar (adat Banjar). Kedua calon mempelai mengikuti proses ini secara terpisah namun dalam satu tempat (dirumahku), jadi aku duluan yang siraman baru setelahnya (calon) suamiku.
Siraman calon mempelai wanita

Siraman calon mempelai pria


Sekian! Rangkaian acara sebelum hari pernikahanku. Jadi teringat kembali dimasa-masa persiapan yang begitu menguras energi dan emosi, karena hampir 100% aku terlibat langsung dalam persiapan keberlangsungan acara-acara tersebut. Biar pun persiapannya cukup melelahkan, tapi bahagia loh ketika semua sudah terlewati dengan lancar. So, don’t be bridezilla ya buat para wife to be. Enjoy your moment sambil jangan lupa berdo’anya dikencengin J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar