Sebenarnya sudah lama sekali ingin menulis tentang read aloud atau membaca nyaring ini, sejak mengikuti kuliah Whatsapp yang materinya disampaikan oleh salah satu penggiat literasi dan read aloud Sukabumi yaitu Teh Raisa Dea. Teteh ini juga merupakan seniorku di HIMA (Himpunan Mahasiswa) Ibu Profesional Sukabumi.

Aku kembali tergerak untuk menulis dan membagikan tulisan mengenai read aloud ini setelah mengikuti kelas Montessori Dalam Kebaikan dengan topik Pentingnya Kegiatan Pra-Membaca. Materi tersebut disampaikan oleh seorang montessorian yang juga penulis buku Jatuh Hati Pada Montessori, Vidya Dwina Paramita.


Buku karya Vidya Dwina Paramita
Sumber : Instagram @vidyadparamita
Ms. Vidya juga merupakan co-founder dari Sekolah Montessori Rumah Krucil. Tanggal 1 Agustus 2020 jam 09.00 WIB, aku menyimak dengan seksama materi yang disampaikan Ms. Vidya dari awal hingga akhir.

Ms. Vidya
Sumber : Instagram @vidyadparamita

Pentingnya Kegiatan Pra-Membaca

Topiknya begitu menarik dan materinya pun sungguh bergizi dan seru sekali. Berbagai pengalaman Ms. Vidya menangani para murid serta orang tuanya membuatku memiliki pandangan yang lebih terbuka tentang kegiatan membersamai anak sejak dini, terutama dalam hal literasi.

Berbagai kegiatan pra-membaca yang dapat diperkenalkan kepada anak sejak usia dini antara lain mengajak anak ngobrol bareng, mendongeng, membacakan cerita, bernyanyi, bermain peran (role play) dan berlatih mengobservasi dari benda-benda dan lingkungan yang ada disekitar kita.

Anak-anak tidak ujug-ujug bisa membaca ketika mereka sekolah, guys! Sebelum masuk ke kegiatan membaca, orang tua harus melakukan stimulasi terhadap anak-anak agar mereka familiar dengan kegiatan membaca.

Tanpa adanya stimulasi sama sekali, anak-anak akan mengalami kesulitan saat belajar membaca bahkan menganggap membaca itu bukan suatu hal yang menyenangkan melainkan hanya sebuah kewajiban untuk mengerjakan soal di sekolah.

Menarik saat mendengar cerita Ms. Vidya tentang pengalamannya saat bertemu dengan banyak siswa/i sekolah dasar yang sudah bisa membaca namun hanya sedikit yang benar-benar memahami isi bacaannya.

Ms. Vidya menyampaikan bahwa bisa membaca tidak sama dengan memahami bacaan. Ternyata banyak ditemukan kasus-kasus seperti yang aku tuliskan di atas. Usut punya usut, kemampuan memahami bacaan ini berdampak besar pada anak hingga ia tumbuh dewasa.

Apa dampaknya? Pertama, anak akan merasa terpaksa dan tidak senang dengan kegiatan membaca buku karena tidak paham maksud bacaannya. Selanjutnya, ini akan berdampak pada nilai akademis yang kurang baik karena ia tidak mampu menyelesaikan soal-soal yang jawabannya terkandung dalam bacaan.

Stigmatisasi bodoh masih melekat kuat pada orang-orang yang memiliki nilai akademis kurang baik di Indonesia, sehingga ia pun akan mendapat label sebagai anak bodoh.

Tidak berhenti sampai disana, anak akan menjadi semakin tidak suka dengan kegiatan belajar yang menurutnya susah dan membingungkan serta membuatnya tampak bodoh di mata orang lain. Hingga dewasa ia akan tumbuh sebagai pribadi yang percaya dan meyakini bahwa dirinya adalah orang bodoh.
Mengerikan sekali kan yaaa?! >.< and that's really happen, everyone! Kenyataan di lapangan berbicara demikian.

Tentang Read Aloud

Apa yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mencegah hal-hal mengerikan tersebut terjadi pada anak kita? 

Ya dengan rajin meluangkan waktu untuk melakukan stimulasi melalui kegiatan pra-membaca sejak usia anak masih dini. Salah satunya adalah read aloud atau membaca nyaring.

Dalam website kemendikbud.go.id dijelaskan bahwa read aloud merupakan suatu aktivitas membacakan buku untuk anak yang diperkenalkan oleh Jim Trelese dalam bukunya The Read Aloud Handbook. Di dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa read aloud merupakan metode belajar membaca paling efektif untuk anak-anak.

Read aloud bisa mengondisikan otak anak untuk mengasosiasikan kegiatan membaca adalah suatu hal yang menyenangkan. Sejak dalam kandungan, ibu sudah dapat melakukan kegiatan read aloud ini loh!

Anak-anak sejak usia 0 tahun pun sudah dapat diperkenalkan dengan kegiatan read aloud. Otak anak di masa awal kehidupannya dapat menyerap segala informasi dengan cepat. Periode ini disebut-sebut sebagai periode emas dan sayang sekali jika orang tua tidak mengoptimalkan masa-masa tersebut.

Dalam kelas Ms. Vidya kemarin, beliau juga menyampaikan bahwa anak-anak yang sebelumnya sudah sering diperkenalkan dengan buku bacaan dan anak-anak yang rajin dibacakan buku oleh orang tuanya, memiliki kemampuan membaca dan memahami yang jauh berbeda dengan anak-anak yang jarang diperkenalkan dengan buku apalagi yang sama sekali tidak pernah membaca buku bersama orang tuanya.
Dengan potensi anak-anak usia dini yang sangat luar biasa tersebut, tidak ada salahnya jika para orang tua sudah mengenalkan buku bacaan serta kegiatan membaca. Jadikanlah kegiatan membaca buku sesuatu yang menyenangkan, tanpa tekanan dan paksaan. Seiring berjalannya waktu, anak-anak akan terbiasa dan menyukai aktivitas membaca.

Read aloud sendiri dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Untuk mencapai tujuan agar anak-anak menjadi anak yang gemar melakukan aktivitas membaca, orang tua dapat meluangkan paling tidak selama 15 menit minimal untuk membacakan buku pada anak-anaknya.

Manfaat Read Aloud

Meskipun kegiatan read aloud terdengar sederhana, ternyata banyaaak sekali manfaat dari kegiatan membaca nyaring ini. Sayangnya, sebagian orang tua masih meremehkan kekuatan manfaat read aloud dengan tidak rutin membacakan buku pada anak-anaknya.

"Anaknya dibacain buku malah melengos kesana-kesini," komentar salah satu orang tua.

Konsistensi adalah kunci keberhasilan dari kegiatan membersamai anak, termasuk dalam kegiatan read aloud. Tentu saja kebiasaan tidak akan muncul hanya dengan sekali atau dua kali melakukan, bukan?

Sekedar berbagi pengalaman pribadi, aku sudah mengenalkan buku bacaan pada anakku sejak ia bayi. Sebelum ia lahir aku sudah memiliki beberapa koleksi buku untuknya. Mulanya memang bukunya hanya dijadikan mainan, namun seiring berjalannya waktu ia mulai tertarik dan bisa memperlakukan buku dengan sebagaimana mestinya.

Saat ini usianya memasuki 21 bulan, kegiatan membaca buku adalah salah satu kegiatan favoritnya setiap hari. Ia sudah bisa duduk atau bersandar pada aku atau ayahnya dan ikut menyimak saat kami membacakan buku.

Bagi sebagian orang mungkin ini terlihat biasa, namun bagi kami selaku orang tua ini sebuah pencapaian yang diraih dari konsistensi selama berbulan-bulan. Hehe.

Kegiatan membaca buku ini bisa juga dilakukan saat anak lelah lari-larian dan mengambil waktu down time. Jadi leyeh-leyeh tapi tetap berfaedah.

Balik lagi ke manfaat read aloud, beberapa manfaat yang akan orang tua rasakan pada anak-anak ketika rutin melakukan kegiatan ini adalah :

1. Mendekatkan Anak Pada Buku

Tak kenal maka tak sayang. Betul banget istilah ini dan cocok dikorelasikan dengan kegiatan membaca buku. Anak yang sedari kecil sudah diperkenalkan pada buku akan menjadikan buku bacaan sebagai part of his/her life.

Baca juga : Mencintai Membaca

Saat beranjak dewasa, ia akan selalu tertarik dengan isi bacaan dari judul buku yang ia lihat. Ia juga akan senang sekali jika dibawa ke toko buku. Pengalaman pribadi sih ini. Haha. Karena kebiasaan yang dibangun orang tuaku sedari kecil, sampai sekarang aku happy sekali loh jika mencium aroma buku-buku baru di toko buku.

2. Melatih Konsentrasi

Salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi anak adalah dengan rutin melakukan read aloud.

Orang tua bisa membacakan buku dengan cara yang menarik sehingga anak akan fokus pada apa yang sedang kita lakukan. Jika hari pertama read aloud konsentrasi anak hanya 1-2 menit, lama kelamaan anak bisa fokus dan konsentrasi sampai seluruh isi buku bacaan selesai.

Jangan mudah menyerah ya, buibu-pakbapak!

3. Mengembangkan Imajinasi

Membacakan buku pada anak-anak secara rutin terbukti mampu mengembangkan daya imajinasi anak sehingga anak cenderung memiliki kreatifitas yang tinggi.

Ms. Vidya berpesan dalam kelasnya kemarin, untuk anak-anak usia dini sebaiknya dibacakan cerita-cerita yang sifatnya realistis sehingga orang tua bisa memperlihatkan seperti apa jalan cerita dalam buku di kehidupan nyata. Apa yang anak bayangkan saat dibacakan buku sesuai dengan apa yang ada disekitar mereka.
Misalnya, saat membaca buku tentang kehidupan kelinci, orang tua sebaiknya mencari buku yang isinya sesuai dengan kehidupan kelinci yang sebenarnya. Hindari cerita fantasi yang berisi kelinci punya sayap dan bisa terbang. Ini akan membuat para anak kicik merasa kebingungan.

4. Bonding Dengan Anak

Kegiatan read aloud bisa menjadi kegiatan special time antara orang tua dengan anak-anaknya. Ini membuat hubungan orang tua dan anak semakin erat.

Tidak hanya meningkatkan rasa nyaman dan aman anak ketika melakukan skin to skin dengan orang tua (misal orang tua membaca sementara anak bersandar pada orang tuanya), adanya ikatan yang baik antara orang tua dan anak dipercaya meningkatkan kecerdasan otak anak.

Selain itu, anak yang lebih akrab dengan kedua orangtuanya juga memiliki rasa percaya diri yang baik. Sayang banget kan kalau melewatkan hal ini, masa kecil anak hanya satu kali loh!

5. Perkembangan Bahasa Anak

Otak anak-anak usia 0-6 tahun itu diibaratkan sebagai sponge yang menyerap semua yang ada disekitarnya. Begitu pula dengan anak yang dibiasakan dengan kegiatan membaca.

Secara tidak sadar anak akan menyerap informasi yang diterimanya saat orang tua membacakan buku untuknya. Jangan heran, ketika waktunya anak berbicara sudah tiba, orang tua akan mendengar kata-kata yang mungkin jarang diucapkan sehari-hari tapi anak tau sebab ia terbiasa mendengar kata-kata yang berasal dari buku bacaannya.

Luar biasa sekali ya manfaat dari kegiatan read aloud yang terlihat biasa saja ini. Yuk, mari sama-sama rajin mengisi waktu dengan membaca nyaring untuk si kecil tercinta!

Sukabumi, 17 Agustus 2020