Kamis, 26 Maret 2020

Kapsul Waktu

Maret 26, 2020 0 Comments

Pekan ketujuh merupakan pekan yang cukup menarik di kelas orientasi Komunitas Ibu Profesional. Kali ini, kami mendapat tugas untuk membuat kapsul waktu.

Diambil dari materi orientasi Kampung Komunitas Ibu Profesional yang bersumber dari wikipedia.id, kapsul waktu memiliki definisi sebuah penyimpanan barang atau informasi sejarah, biasanya ditujukan sebagai metode komunikasi dengan orang masa depan dan untuk membantu para arkeolog, antropolog atau sejarawan masa depan. Kapsul waktu terkadang dibuat dan dikubur saat perayaan seperti pameran dunia atau sebuah batu penjuru diletakkan di sebuah gedung atau acara-acara lainnya.

Kalau dalam materi orientasi ini, definisi kapsul waktu menjadi suatu tempat/wadah/media untuk meletakkan barang/informasi/harapan yang ingin kita simpan atau sampaikan pada objek tertentu dan dibuka dalam durasi waktu tertentu.

Biasanya kapsul waktu ini ditujukkan untuk diri sendiri, keturunan atau generasi di masa mendatang atau untuk masyarakat umum. Kali ini, tugas yang diberikan oleh mentor orientasi Kampung Komunitas Ibu Profesional adalah membuat kapsul waktu yang ditujukkan untuk diri sendiri.

MY TIME CAPSULE (Ver. Imawati A. Wardhani)

Sebenarnya, tugas ini seharusnya dikumpulkan paling lambat hari Selasa tanggal 24 Maret 2020 kemarin. Namun, karena masih dalam suasana berkabung setelah kepergian Bapak dan aku pun masih berjuang mengatasi kesedihan sehingga belum bisa berpikir yang lain, aku meminta dispensasi untuk menyusul mengumpulkan tugas ini.

Rasanya tidak baik juga berlarut-larut dalam kesedihan, aku yakin Bapak juga tidak ingin melihatku terus-terusan berduka. Aku pun mengumpulkan semangat untuk kembali menjadi sosok yang produktif, termotivasi untuk tidak mengecewakan beliau.

Kapsul waktu yang aku buat berjangka waktu 10 tahun, dasarnya karena ingin mengikuti 10 years challenge aja sih. Hehe. Tidak ada alasan spesifik. Aku membuat kapsul waktu ini di bulan Maret 2020 dan akan di buka pada Maret 2030.


Wadah yang aku gunakan adalah botol kaca bening yang tertutup dan diisolasi sedemikian rupa sehingga anti air dan tahan lama, karena bahannya dari kaca maka tidak mungkin juga digerogoti oleh rayap sehingga insha Allah aman dan kuat.


Di dalamnya aku menuliskan pesan dan harapan untuk diriku sendiri 10 tahun yang akan mendatang. Dalam proses menulis kapsul waktu ini, aku tidak serta merta menulis asal-asalan hanya untuk memenuhi kewajiban mengumpulkan tugas, banyak hal yang dipikirkan sebelum menulis harapan dan cita-cita untuk 10 tahun lagi.

Aku mencoba untuk mengenal diriku sendiri di masa sekarang. Seperti apa diriku sebagai seorang individu, istri, ibu dan juga anak. Baru kemudian aku memikirkan ingin menjadi pribadi seperti apa diriku 10 tahun kemudian, menuliskan mimpi dan harapan yang terasa realistis untuk diwujudkan dalam kurun waktu tersebut.

Aku berharap dapat membuka kapsul waktuku 10 tahun yang akan datang dan aku harap aku dapat tersenyum membacanya karena sudah berhasil mencapai mimpi-mimpiku tersebut di Maret 2030 nanti. Kalau pun tak sampai umurku 10 tahun lagi (usia manusia siapa yang tau kan ya?) Aku memberikan delegasi untuk suamiku tercinta agar membuka kapsul waktu yang tersimpan rapih selama 10 tahun.

Dengan membuat kapsul waktu ini, aku merasa tertantang dan memiliki tujuan yang jelas ingin dan akan menjadi manusia seperti apa aku dalam kurun waktu tersebut. Jadi punya target apa saja yang ingin dilakukan. Seru dan bermanfaat sekali ini tugasnya!

Apakah kalian juga tertarik membuat kapsul waktu versi diri kalian sendiri?

#kapsulwaktu
#kampungkomunitasibuprofesional
#maret2020

Yogyakarta, 26 Maret 2020

Rabu, 25 Maret 2020

Dear Bapak,

Maret 25, 2020 2 Comments

Assalammualaikum, Bapak...

Ima tau Bapak nggak akan pernah melihat dan membaca tulisan ini, tapi Ima nggak tau lagi harus cerita ke siapa supaya hati ini lebih lega. Ima nggak mungkin cerita ke Mamah atau adik-adik, ke Mas Halim apalagi ke Dipta. Ima nggak mau mereka semakin sedih, Pak.

Bapak, Ima mau minta maaf karena sampai sekarang Ima masih sering menangis karena sedih dan berat sekali menerima kenyataan kalau Bapak sudah pergi sangat jauh. Ketika bangun tidur, mau mandi, setelah sholat atau kapan pun Ima teringat Bapak pasti mata ini langsung panas dan mengalirkan air mata begitu saja. Contohnya saat Ima menulis tulisan ini, Pak. Maaf ya...

Bapak, disaat-saat terakhir Bapak waktu Dek Tito dan Mas Halim yang waktu itu di rumah sakit kasitau kalau kondisi Bapak sudah nggak sadar, Ima sempat berdo'a, "Ya Allah kalau memang Bapak harus pergi, permudahlah jalannya. Janganlah Engkau persulit dan membuatnya sakit terlalu lama..." nggak berapa lama kemudian Ima dapat kabar kalau Bapak sudah pergi.

Rasanya hancur melebihi berkeping-keping saat mendengar berita itu. Tapi lebih hancur lagi ketika Ima melihat Bapak berusaha sekuat tenaga menahan sakit di rumah sakit, Bapak yang nggak pernah sekali pun Ima dengar mengeluh, hari itu merintih kesakitan. Jadi Ima yakin, Allah lebih tau mana yang terbaik untuk Bapak. Meski pun beraaat sekali, insha Allah kami sekeluarga ikhlas.

Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa diambil dari Bapak. Bapak tau kan, Bapak itu motivator dan inspirasi Ima dalam menjalani hidup. I'm nothing without you. Sekarang Ima kehilangan sosok itu, dan harus berusaha menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih hebat seperti Bapak. Semoga Ima bisa membuat Bapak bangga.

We're gonna do this together again :)

Ima akan selalu ingat waktu di rumah sakit, Bapak manggil nama Ima dan senyum. Itu terakhir kalinya kita bertemu di dunia. Ima ingat Bapak selalu melarang Ima buat cuci piring, "Kamu nggak usah cuci piring, airnya dingin. Biar ibunya aja nanti...". Dalam kondisi sakit dan kita video call, sempet-sempetnya Bapak ngomong, "Kamu kalau susah atau capek masak, Gofood aja terus. Kalo nggak cari pembantu buat beres-beres, nanti Bapak yang bayar..." Masha Allah, Pak. Tenang aja, Ima insha Allah masih bisa bertahan hidup meski pun sekarang harus hidup mandiri. Hehe. Bapak nggak usah khawatir ya.

Bapak baik-baik disana ya, Ima sama adik-adik pasti selalu jagain Mamah. Ima dan adik-adik juga insha Allah selalu rukun dan akan selalu berusaha supaya nggak mengecewakan kalian berdua. Satu hal yang bikin Ima tenang dengan perpisahan ini, Ima yakin semua ini hanya sementara. Suatu hari kita semua pasti berkumpul lagi, di tempat yang lebih baik dan abadi. Insha Allah, ya Allah...

Setiap selesai sholat berjamaah, Bapak pasti meminta kami untuk membaca Al-fatihah untuk saudara-saudara kita yang sudah meninggal. Bapak bilang, kubur mereka akan terang dan mereka akan merasa senang gembira. Ima janji akan selalu membacakan Al-fatihah supaya Bapak juga senang disana. Ima dan adik-adik akan berusaha menjadi anak sholeh dan sholehah sebagai amal jariyah Bapak dan Mamah.

Bapak orang baik, insha Allah diberikan tempat yang paling baik sama Allah. Bapak pun pergi dengan damai dan tersenyum kemarin, semoga Allah mempermudah langkah Bapak menuju tempat terbaik itu ya, Pak. Aamiin.

Sudah dulu ya, Pak. Nanti kita cerita-cerita lagi :)

Wassalammualaikum, Wr. Wb...

Yogyakarta, 25 Maret 2020
From your only daughter,
-Imawati Annisa Wardhani

Kamis, 19 Maret 2020

Mereka, Tidak Bisa Work From Home

Maret 19, 2020 34 Comments

Saat pemerintah menyarankan untuk melakukan social distancing dan work from home selama 14 hari untuk mencegah menyebarnya virus Corona secara lebih luas, satu yang aku pikirkan adalah apakah perusahaan suamiku juga akan memberlakukan hal yang sama? Rasanya tidak mungkin. Ternyata tebakanku tidak salah, tidak ada kata kerja dari rumah untuk perusahaan tempat suamiku bekerja.

Sebagai seorang apoteker yang bekerja di industri farmasi, rasanya nyaris tidak mungkin jika produksi obat dihentikan kecuali karena kehabisan bahan baku dan bencana alam. Obat-obatan harus terus diproduksi untuk memenuhi supply dan permintaan yang tidak pernah tidak ada. Kenyataannya, orang sakit ada terus dan mereka membutuhkan obat supaya sembuh. Pekerja di industri farmasi tentunya tidak mungkin memproduksi obat dari rumah masing-masing, berbagai fasilitas penunjang dan proses produksi yang hanya bisa berlangsung pada ruangan dengan kondisi tertentu tidak mungkin tersedia di rumah oleh sebabnya work from home tidak berlaku bagi pekerja yang bekerja di industri farmasi.

Selain profesi seperti suamiku, masih banyak lagi pekerjaan yang tidak memungkinkan pekerjanya untuk bekerja dari rumah. Beberapa diantaranya adalah :
1. Petugas Medis dan Kesehatan
Sudah jelas mereka adalah garda terdepan dalam menghadapi berbagai situasi yang menyangkut kesehatan pasien. Mereka juga lah yang bertugas untuk merawat pasien-pasien yang terindikasi atau bahkan sudah terjangkit Covid-19. Dokter, perawat, apoteker dan para pekerja lain yang menjalankan kewajibannya di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, klinik, puskesmas serta apotek tidak mungkin bisa bekerja dari rumah.

Sungguh mulia sekali apa yang mereka kerjakan, dengan segenap keberanian dan rasa kemanusiaan yang tinggi mereka mengesampingkan kekhawatiran pribadi akan ikut terserang virus Corona.

2. Frontliner
Sebut saja teller bank, kasir super/minimarket, pelayan dan kasir rumah makan, resepsionis hotel atau kantor, satpam, adalah contoh frontliner yang rawan sekali tertular virus Corona. Pekerjaan yang menuntut mereka untuk hadir melayani pelanggan membuat mereka tidak mungkin juga untuk bekerja dari rumah.

Berbeda dengan dokter atau petugas medis yang tau bagaimana kondisi pasiennya, frontliner ini tidak tau siapa yang sedang mereka hadapi. Apakah orang yang mereka temui bebas dari Covid-19 atau mereka menghadapi pasien Covid-19 yang belum terdeteksi. Beresiko sekali, ya?

3. Penyedia Jasa
Driver ojol, penyedia layanan ekspedisi terutama kurirnya, tukang service AC, tukang sampah yang setiap hari keliling kompleks untuk mengangkut sampah, dan sebagainya tentunya tidak mungkin bekerja dari rumah. Resiko terjangkit virus Corona dengan mereka yang berkeliaran di luar sana juga tinggi, namun karena pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk mobile dan bertemu dengan klien tidak memungkinkan mereka untuk #dirumahaja.

Meski pemerintah sudah melakukan himbauan untuk bekerja dari rumah, masih ada juga perusahaan yang meminta karyawannya untuk masuk. Masih banyak juga jenis pekerjaan yang mengharuskan kehadiran karyawannya seperti petugas bandara, pilot dan supir-supir angkutan umum lainnya.

Tentunya, masing-masing perusahaan sudah menetapkan kebijakan dan melakukan upaya pencegahan penularan virus Corona. Ada yang dengan melakukan pengecekan suhu, menyediakan desinfektan, membersihkan area kerja dengan desinfektan bahkan memberi suplemen dan vitamin yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh karyawannya.


Sejujurnya, aku sedih sekali ketika masih banyak yang mengeluhkan kebijakan pemerintah untuk diam dan bekerja dari rumah selama 14 hari. Apa susahnya deh menurut pada aturan itu demi kebaikan bersama? Mereka harusnya happy bisa melakukan pencegahan mandiri dari terjangkit virus Corona dengan hanya bekerja dari rumah, berkumpul bersama suami/istri/anak tercinta. Cobalah untuk berempati dengan saudara-saudara kita yang tidak mungkin untuk work from home, bagaimana khawatirnya suami/istri/anak mereka di rumah menunggu orang kesayangannya pulang dan memastikan mereka dalam kondisi baik-baik saja.



Semoga suamiku beserta saudara-saudara kita yang tetap bekerja di luar rumah selalu mendapat perlindungan dari Tuhan yang Maha Kuasa. Semoga juga, mereka yang diberikan kesempatan untuk mengisolasi diri di rumah benar-benar memanfaatkan momen social distancing ini untuk berdiam diri di rumah dan mampu menekan laju penyebaran virus Corona.

Yogyakarta, 19 Maret 2020

Rabu, 18 Maret 2020

Anti Mati Gaya 14 Hari

Maret 18, 2020 0 Comments

Sehubungan dengan makin hebohnya penyebaran Covid-19 alias virus Corona di Indonesia, belakangan pemerintah menyarankan untuk #dirumahaja dan #kerjadarirumah atau work from home selama 14 hari. Hal ini bertujuan untuk menjauhkan diri sementara dari keramaian serta kerumunan orang yang dapat menyebabkan semakin tingginya angka penyebaran virus Corona pada masyarakat Indonesia.

Seperti kita ketahui bahwa virus ini memiliki tingkat virulensi yang tinggi, ia dapat dengan mudah melekatkan kunci yang ada pada tubuhnya ke reseptor yang ada pada manusia. Ya, tergantung individu dan sistem kekebalan tubuhnya juga sih. Namun, yang jelas virus ini mudah sekali menyebar pada manusia. Terlihat hingga saat ini virus Corona sudah mewabah hingga ke 152 negara dengan jumlah kasus lebih dari 180.000 di seluruh dunia (sumber : kompas.com tanggal 17/03/2020)

Mengapa harus 14 hari #dirumahaja dan #kerjadarirumah nya? Kenapa tidak hanya seminggu atau mungkin satu bulan? Ternyata, dengan 14 hari melakukan social distancing diharapkan dapat memutus rantai penyebaran virus Corona sehingga wabah ini tidak semakin menjadi-jadi. Kalau pun harus bepergian cobalah untuk jaga jarak sejauh mungkin dengan orang lain, jangan lupa cuci tangan dengan sabun, gunakan antiseptik ketika cuci tangan tidak mungkin dilakukan dan gunakan masker untuk pencegahan. Perkuat sistem imun juga wajib nih!


Nyatanya, 14 hari #dirumahaja dan #kerjadarirumah ini tidak digunakan dengan sebagaimana mestinya oleh sebagian (besar) orang yang entah kurang edukasi atau bagaimana. Banyak yang masih menganggap remeh perihal virus Corona yang sudah mewabah ke seluruh penjuru dunia ini. Banyak yang menggunakan waktu 14 hari ini sebagai ajang liburan dan mudik. Hhhzzz. Tolong lah, harusnya kita bisa bekerja sama untuk mengantisipasi lonjakan pasien yang terjangkit virus Corona.

Bagiku, #dirumahaja selama 14 hari itu semacam piece of cake. Haha. Sehari-hari aku memang di rumah aja bersama anakku, pergi benar-benar hanya untuk sekedar membeli bahan makanan di supermarket. Belakangan ini karena padatnya pekerjaan suami, weekend pun lebih banyak dihabiskan di rumah daripada di luar rumah. Terus di rumah ngapain aja? Mati gaya nggak sih diem di rumah doang?

Sebagai ibu yang menjalankan tugasnya di rumah alias stay at home mom tentunya aku sudah terbiasa menjalankan aktivitas sehari-hari ini. Sejak menikah aku memang sudah memutuskan untuk berhenti bekerja di ranah publik dan ini sudah berjalan selama 2 tahun. Dengan rutinitas sehari-hari bersama anak, aku tidak atau lebih tepatnya jarang merasa mati gaya di rumah. Apalagi saat ini anakku sedang berada di fase sensitif terhadap gerak, modal ngikut apa yang dia kerjakan saja tu sudah habis waktu loh! Lagi nggak bisa diam banget anaknya. Haha.

Kalau pun merasa bosan dan bingung mau melakukan apa lagi di rumah ya wajar, sekali-sekali butuh angin segar juga di luar rumah. Tapi, 2 minggu sepertinya bisa kita manfaatkan dengan sebaik mungkin tanpa harus mati gaya. Please guys, it's only 2 weeks not 2 years! Ada yang bilang baru 2 hari diam di rumah saja sudah tidak tahan, well daripada berkeliaran di luar rumah dan menjadi carrier virus atau sakit karena Covid-19, jauh lebih baik menikmati 'penderitaan' kalian selama 2 minggu di rumah.

Jadi gimana ni supaya tidak mati gaya selama 14 hari di rumah? Oke, ini tips versi aku ya silahkan modifikasi sesuai kondisi dan situasi masing-masing :
1. Buat Urutan Kegiatan Harian
Misalnya, bangun pagi - bermain sambil berjemur di halaman rumah - sarapan - mandi pagi - beres-beres rumah - dan seterusnya hingga tidur malam. Mengapa urutan dan bukan jadwal? Kalau menurutku, jadwal membuat kita terlalu saklek dan tertarget. Ini kurang cocok sih dengan aku yang terbiasa dengan ritme aktivitas bersama anak. Mungkin bagi kalian yang work from home bisa menerapkan sistem jadwal, jadi punya timeline kapan memulai pekerjaan dan kapan harus menyelesaikannya.

2. Memanfaatkan Waktu Luang
Waktu luang yang aku miliki adalah saat anakku tidur siang dan malam. Biasanya, waktu luang ini kugunakan semaksimal mungkin untuk melakukan kegiatan hanya bisa dikerjakan oleh diriku sendiri tanpa dibuntuti si kecil. Sebut saja mandi, ngepel rumah, memasak atau bisa untuk kesempatan melakukan me time seperti maskeran, main game, membaca buku atau komik, menulis (seperti yang aku lakukan saat ini), atau menonton serial kesukaan. Jika merasa tidak ingin melakukan apa pun, manfaatkanlah waktu luang kalian untuk melihat-lihat social media atau tidur untuk melepas lelah dan membunuh waktu.

3. Bermain Bersama Anak
Bagi yang sudah di percaya untuk menjadi orang tua, membersamai anak dengan mengajak atau menemaninya bermain bisa mempererat bonding antara anak dan orang tua. Mumpung lagi di rumah, manfaatkanlah waktu sebaik mungkin untuk bersenang-senang bersama anak. Kalian bisa mencoba membuat mainan anak sendiri dengan mencontoh tutorial yang bertaburan di Youtube atau Instagram. Bisa juga dengan membacakan buku, mengikutsertakan anak-anak dalam kegiatan bersih-bersih atau meminta bantuan mereka untuk memasak bersama. Dijamin kegiatan ini bisa membunuh mati gaya di rumah.

4. Quality Time Bersama Pasangan
Jika biasanya pasangan suami istri yang keduanya bekerja di ranag publik hanya bertemu pagi dan sore hari setelah pulang kerja, kali ini kalian punya waktu selama 14 hari untuk terus bersama. Ya di manfaatkan dong momen ini kan jadi punya waktu lebih banyak untuk ngobrol, main bersama anak, nonton film bareng, ngopi-ngopi bareng, masak dan makan bareng, rasanya tidak akan mati gaya kalau ada partner di rumah deh. Hehe.

Sepertinya itu tips yang bisa aku berikan untuk mematikan mati gaya selama 14 hari #dirumahaja. Lah, tips lo buat yang udah punya suami dan anak terus gimana buat yang masih single atau belum jadi orang tua? Weits! Kalem guys.

Buat adek-adek yang masih sekolah, manfaatkan waktu 14 hari ini untuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah, jangan malah gatel mau pergi nonton atau ngumpul sama teman-teman. Kalau tugas sudah selesai bisa streaming film, membaca buku, mendengarkan lagu-lagu favorite, chit-chat dengan teman atau gebetan atau pacar, masak mie instan atau belajar bikin boba sendiri. Hehe.

Bagi yang sudah menikah tapi belum memiliki anak, ya work from home sesuai jadwal yang telah di buat setelah itu manfaatkan waktu luang bersama pasangan dengan sebaik-baiknya seperti poin 2 dan 4.

Aku yakin banyak kok aktivitas yang bisa membuat kita bertahan hidup tanpa mati gaya selama 14 hari stay at home. Jangan lupa berdo'a yang banyak supaya selalu terhindar dari virus-virus yang bertebaran dan dapat menginfeksi kita mau pun keluarga kita. Semoga wabah ini cepat berlalu dan tidak ada lagi korban berjatuhan karenanya. Aamiin!

Yogyakarta, 18 Maret 2020

Selasa, 17 Maret 2020

Long Distance Marriage, Yay or Nay?

Maret 17, 2020 0 Comments

Saat ini aku sedang mudik ke rumah orangtuaku di Jogja, yang berarti harus berpisah jarak sementara waktu dengan suami tercinta. Ini bukan kali pertama aku menjalani Long Distance Marriage alias LDM, saat aku mengandung anakku tahun 2018 lalu tepatnya setelah 7 bulan, aku pulang ke Jogja untuk menanti kelahiran si bocah disini. Mau tidak mau aku berjauhan dengan suamiku yang kala itu dinas di Bandung. Kami baru kembali tinggal bersama setelah usia anakku hampir 4 bulan, jadi LDM selama 6 bulan tuh! Setelah orangtuaku pulang haji bulan Agustus 2019 lalu, aku pun stay lama di Jogja, kurang lebih hampir 3 bulan.

Berbeda rasanya ternyata menjalani hubungan jarak jauh sebelum dan setelah menikah. Sebelum menikah, aku yang sudah resign mempersiapkan hal-hal terkait pernikahan kami dari Jogja sementara suamiku yang saat itu masih calon, tinggal di Bandung. Kayaknya dulu selow dan santai aja menjalani hubungan jarak jauh. Kangen sih, cuma kan udah mau nikah jadi tenang aja gitu karena pasti bertemu kembali.

Setelah menikah dan harus menjalani hubungan jarak jauh ternyata rasanya setidak nyaman itu. Huhu. Terlebih dulu saat hamil, bawaannya melow apalagi jika sudah menjelang malam dan melakukan komunikasi melalui video call. Pengennya ia ada di sampingku, ngobrol ngalor ngidul sampai tertidur. Eits! Tapi, aku masih bisa menikmati hidup ketika LDM, bisa main bareng teman-teman yang masih ada di Jogja, bisa begadang untuk menulis atau menonton drama korea atau sekedar membaca komik. Hehe.

Jadi, kira-kira begini suka duka menjalani LDM ala diriku :

SUKA
1. Bebas
Berada di Jogja, berarti berada dalam zona nyaman. Karena aku tinggal bersama kedua orangtua dan adik-adikku. Aku tidak punya kewajiban seperti saat aku tinggal hanya dengan suami dan anakku. Aku tidak perlu bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan pakaian kerja suami, pergi ke dapur untuk memasak dan membersihkan rumah. Tinggal bersama orangtua membuatku kembali menjadi anak manja, semua sudah tersedia. Hehe.

Baca tentang : Menyentuh Dapur

Ada saat dimana aku ingin pergi dengan teman-temanku tanpa harus membawa anakku, jadi kalau di Jogja aku akan menitipkannya pada orangtuaku dan aku pun terbebas sebentar dari tugas membersamai anak. Punya waktu untuk me time walau hanya sekedar ke salon untuk potong rambut. Intinya, lebih bebas di jam kerja karena ada orangtua. Berbeda saat aku di Sukabumi, suami kerja ya aku pasti di rumah bersama anak. Berhubung tidak ada helper, mau kemana pun aku pergi harus membawa-bawa anakku.

2. Banyak waktu untuk melakukan hobi
Kalau biasanya bersama suami, selepas makan malam dan menidurkan anak maka aku dan suami akan lebih banyak ngobrol membahas hal-hal yang terjadi seharian atau membicarakan rencana-rencana yang belum terealisasi atau hanya sekedar bercanda nggak jelas.

Saat sedang LDM, setelah anakku tidur biasanya melanjutkan menulis blog dan membaca-baca artikel untuk belanja ide menulis. Jika sudah selesai atau bosan, aku akan pindah membuka webtoon untuk membaca komik. Scrolling medsos, hingga menonton drama korea. Waktu yang biasa ku habiskan bersama suamiku jadi dialihkan sepenuhnya untuk mengerjakan hobi. FYI, suamiku bukan tipe manusia yang suka membalas chat dengan kalimat panjang jadi kalau sedang tidak video call maka better mengerjakan hal lain lah sambil diselingi chat sesekali.

Sepertinya cukup segitu sukanya, sekarang DUKA...

1. Rindu
"Jangan rindu, berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja.." kira-kira begitulah ya kata si Dilan dan yes! Setuju banget masbro, rindu itu terasa begitu berat apalagi rindu pada orang yang paling kita cintai. Biar Dilan aja deh, gue mah nggak mau. Hiks.

Salah satu perjuangan terberat saat LDM adalah menahan rindu. Rindu suaranya yang tidak hilang hanya dengan teleponan, rindu melihat dan menyentuh wajahnya yang tidak terbalas via video call, rindu mengantar kepergiannya di pagi hari untuk bekerja, rindu menyambutnya pulang kerja di sore hari, rindu canda tawanya saat bersama anak, rindu semua yang ada di dirinya! I miss you, Mas. Kemudian jadi melow, haha.

2. Harus mandiri
Sebagai anak sulung, jujur aku sangat jarang berkeluh kesah tentang masalahku pada orang rumah. Entah itu orangtua atau pun adik, semua masalah akan ku tanggung dan pendam sendiri. Setelah menikah, aku tidak bisa tidak curhat pada suamiku. Pada dirinya lah, aku menunjukkan sisi terlemah dari diriku sebagai manusia.

Saat sedang LDM, tentunya tidak semua masalah bisa dijelaskan lewat telepon atau video call. Seperti ketika aku merasakan sesak nafas saat tidur, waktu itu sedang hamil 8 bulan. Aku terbangun dan berkali-kali ganti posisi saking tidak nyamannya. Kalau tidak LDM tentunya suamiku akan siaga dan berusaha membuatku nyaman lalu tertidur kembali, tapi karena jauh aku harus menanggungnya sendirian.

Juga ketika anakku sedang bertingkah, tidak mau ramah pada orang lain dan hanya ingin membuntutiku. Kemana pun, hingga aku susah untuk melakukan aktivitas yang seharusnya tidak membawa anak seperti ke kamar mandi dan makan. Sehari dua hari masih bisa tahan, lama-lama stress juga cuy! Kalau ada papanya, aku bisa bergantian atau bekerjasama dengannya untuk mengatasi tingkah laku anakku yang sedang seperti itu.

Entah karena sudah keenakan atau terbiasa, yang jelas aku tidak suka dengan kondisi harus mandiri seperti ini. Inginnya apa-apa dikerjakan bersama dengan partner hidup, tentunya dalam hal-hal tertentu ya. Aku pun merasa sosok suami adalah seorang pelindung istri dan anaknya, saat kami berjauhan aku seperti kehilangan sosok tersebut.

3. Tidak bisa melayani suami
Ketika berjauhan, aku tidak bisa mencuci pakaian suamiku, menyetrika bajunya, memasak untuknya, menyediakan minuman setelah ia pulang kerja, bahkan membangunkannya di pagi hari untuk bersiap kerja. Padahal semua itu ladang pahala seorang istri, ketika bisa melayani suaminya. Kalau sudah begitu suka sedih deh, huhu.

Aku tidak merasa tertindas dan terendahkan ketika mengerjakan itu semua. Why? Karena mungkin hal-hal seperti itu bisa menunjukkan bahwa aku menyayanginya, aku bukan seorang yang pandai berkata-kata dalam dunia nyata dan bukan seorang yang romantis. Setidaknya, dengan memberi service yang baik untuknya bisa menjadi cara lain untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

4. Tidak berada di dekatnya
Salah satu kedukaan saat LDM adalah ketika ingin makan bersamanya, tapi jarak memisahkan. Saat ingin bercerita langsung di hadapannya, we're ten thousand miles apart. Pun ketika ingin bermanja-manja dengan suami tercinta, bisanya peluk guling aja deh! Aku salah satu tipe orang yang menikmati kesendirian, tapi tidak suka kalau berlama-lama sendirian. Haha. Kalau sudah merasa sepi seperti itu, si bocah lah anugerah yang bisa menceriakan hariku kembali. Thank's baby.

Berdasarkan ulasanku di atas, jelas ya untuk Long Distance Marriage aku berada di tim Nay alias BIG NO! Kalau pun suami harus pindah keluar pulau atau negeri, bawa daku pergi bersamamu Mas! Sebisa mungkin berusaha bagaimana caranya agar aku bisa ikut menemani suami kemana pun. Jika tidak memungkinkan, secara fisik mungkin aku bisa bertahan tapi masalah hati siapa yang tau? Hehe.

Intinya kalau masih bisa diusahakan maka aku tidak akan memilih LDM. Salut sih dengan banyaknya pasangan yang bisa bertahan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun dalam LDM, hanya bertemu seminggu sekali atau bahkan setengah tahun sekali. Entah karena memilih atau karena memang tidak ada pilihan, LDM sungguh sebuah perjuangan yang tidak main-main.

Untuk para pejuang LDM, semangat selalu! Ingat bahwa badai pasti berlalu, bertahanlah karena ini hanya sementara. Kelak kalian akan dipersatukan kembali dengan pasangan kalian. Jangan lupa untuk membangun komunikasi efektif dan selalu menjaga hati, untuk keluarga yang berada jauh dan menanti kedatangan kalian.

Jadi, kalian yay atau nay nih?

Yogyakarta, 17 Maret 2020

Minggu, 15 Maret 2020

Bermain di Private Beach, Mercure Hotel Nusa Dua - Bali

Maret 15, 2020 0 Comments

Memilih penginapan di Mercure Hotel saat berkunjung ke Bali pekan lalu merupakan keputusan yang tepat dan tidak disesali karena fasilitas hotelnya yang lengkap dan pelayanannya yang baik. Poin utama mengapa memilih Mercure adalah karena hotel ini memiliki private beach yang diperuntukkan hanya bagi tamu hotel. Pantainya tidak langsung berada tepat disekitar Mercure melainkan terletak di kawasan ITDC, Nusa Dua. Perlu waktu sekitar 10 menit dari hotel menggunakan kendaraan bermotor.
ITDC (Indonesia Tourism Development Corporation) merupakan suatu BUMN yang bergerak dibidang pariwisata. Saat ini, ITDC mendapatkan hak untuk mengelola kawasan pariwisata Nusa Dua, Bali dan Kuta Mandalika, Lombok. Informasi ini bisa dibaca di wikipedia.com ya. Hehe.

Bagi tamu hotel Mercure yang ingin berkunjung ke pantai, pihak hotel menyediakan transportasi berupa mobil (seperti gambar di bawah) yang berangkat setiap jam mulai pukul 08.00 WITA hingga pukul 17.00 WITA. Sementara untuk kembali ke hotel, petugas hotel akan melakukan penjemputan mulai pukul 08.15 WITA hingga pukul 18.15 WITA.

Transportasi menuju private beach
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Saat menginap disana, aku beserta keluarga berangkat ke pantai pukul 09.00 WITA setelah kami menyelesaikan sarapan pagi. Maklum, niat berangkat jam 8 jadi molor karena sibuk menyuapi anak kecil. Haha. Cuaca saat itu bersahabat dengan kondisi langit cerah berawan, setibanya dipantai matahari sudah cukup terasa menghangatkan kulit. Cocok bagi para bule untuk mencoklatkan kulit mereka. Sementara wisatawan asing sibuk memilih kursi untuk meletakkan barang bawaan mereka ditempat yang terpapar cahaya matahari, aku beserta suami dan anakku memilih tempat teduh dibawah pohon untuk menghindari panas. LOL!

Budayakan membaca ya!
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Memilih tempat teduh untuk bersantai
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Kali itu adalah kali pertama anakku yang berusia 1 tahun 3 bulan mengunjungi pantai. Pantai adalah tempat favorite aku dan suamiku, senang sekali bisa membawa serta buah hati kami ke pantai. Aku berharap kelak anakku akan menyukai pantai sama seperti kedua orangtuanya.

Sesuai namanya yaitu private beach, pantai Mercure sepi sekali benar-benar hanya kami yang menginap dihotel yang berkunjung kesana. Asyik sekali karena jauh dari kata ramai dan cendol. Kita bisa bebas bermain dan berfoto dimana pun tanpa takut mengganggu atau terganggu oleh orang lewat. Pantainya yang masih bersih terlihat cantik dengan pasir berwarna putih. Kebanyakan bule langsung nyemplung ke dalam air untuk berenang atau berselancar, ada pula yang memilih untuk berjemur sambil membaca buku atau duduk-duduk santai di pinggir pantai.

Bertemu pantai (lagi)
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

So private, guys!
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Aku sendiri bersama suami sibuk membujuk anakku agar mau mencoba bermain air laut. Ia masih terlihat ragu dan bingung saat pertama menjejakkan kaki mungilnya diatas pasir. Tak lama kemudian, ia mengikuti ayahnya dan aku untuk mencoba menyentuh air laut. Saat ombak sampai dipinggir pantai, ia langsung kaget dan ingin segera kabur. Haha. Lucu sekali melihatnya.

Don't be afraid, I'll always by your side
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Bersama ayah pasti berani!
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Eh, dia mau kabur. Haha.
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Berhubung cuaca yang saat itu cukup panas, anakku tidak betah berlama-lama terjemur dibawah matahari. Akhirnya kami duduk-duduk kembali dibawah pohon sambil minum air dingin. Oiya, dipantai ini tidak diperbolehkan membawa minuman atau pun makanan dari luar. Sehingga mau tidak mau harus membeli dikedai yang ada disana. Harga sebotol air mineral dingin adalah Rp.25.000,- disana juga menjual berbagai minuman dingin lainnya beserta makanan ringan.

Mencoba lupa urusan rumah dan kantor sejenak
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Duduk santai dulu ya...
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Setelah bermain dipantai, aku bersama suami dan anakku bermain dirumput tepat didepan akses masuk menuju pantai. Rumputnya bersih bebas dari sampah dan kotoran, sehingga anakku ku bebaskan untuk barefoot lari-larian dan duduk-duduk diatas rumput.

Both of you are my world
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Priceless
(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Kemudian, kami juga sempat berjalan-jalan disekitar kawasan ITDC. Ternyata, banyak hotel yang memiliki private beach juga disana. Juga terdapat wisata waterblow yang letaknya tidak begitu jauh dari pantai pribadi Mercure Hotel, bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10.15 WITA, saatnya untuk kembali ke hotel. Sebenarnya bebas saja tamu hotel mau berapa jam bermain di private beach tersebut, namun karena ada acara lain aku tidak bisa berlama-lama main dipantai. Hiks. Maybe next time kami akan kembali lagi ya. Terima kasih sudah mengambil bagian dalam pengalaman hidupku!

See you.

Yogyakarta, 15 Maret 2020.

Sabtu, 14 Maret 2020

The Imperfect Perfectionist

Maret 14, 2020 0 Comments

Dulu, jauh sebelum hari ini aku melihat diriku sebagai seorang yang santai, deadliner, tidak suka mengambil pusing suatu masalah, selow abis. Bahkan beberapa sahabat dekatku pun melabeli aku sebagai orang paling santai yang pernah mereka kenal.

Keadaan berbanding terbalik setelah aku menikah dengan suamiku, ternyataaa ada loh orang yang jauuh lebih santai dari aku. Saking santainya, aku yang tadinya santai berubah seratus delapan puluh derajat menjadi super perfectionist. Kok bisa?

Aku orangnya mudah melupakan hal-hal detail, printilan-printilan kecil yang penting gak penting sering tidak aku ingat. Misal ketinggalan bawa alat mandi saat bepergian, it's okay kan karena bisa beli di tempat tujuan. Jatuhnya boros tapi mau bagaimana lagi. Nah, suamiku pun tipe yang begitu juga. Suka melupakan hal-hal detail, parahnya ia sering melupakan hal yang jelas-jelas penting. 

Contohnya, saat ia akan pulang ke Bandung dengan kereta api, ia LUPA MEMBAWA DOMPET yang ditinggalkannya di atas lemari kamar rumahku di Jogja. Saat itu, ia berangkat ke stasiun mepet dengan waktu keberangkatan kereta jadi tidak mungkin terkejar jika harus balik ke rumah atau aku mengantar dompetnya ke stasiun. Lalu gimana? Yasudah, dengan wolesnya ia menunjukkan foto ktpnya melalui ponsel. Alhamdulillah dapat izin untuk masuk oleh petugas setempat. Ia pun hanya memintaku untuk mengisi gopaynya sebagai modal hidup di Bandung tanpa dompet, uang cash dan kartu atm.

Sebab beliau yang seperti itu dan kejadian seperti di atas tidak terjadi hanya sekali ya melainkan berkali-kali, aku merasa sebagai objek penderita. Haha. Padahal bukan aku yang mengalami kejadian itu, tapi aku merasa bertanggung jawab atas hal tersebut. Jadilah, jiwa-jiwa perfectionistku yang terpendam jauh di dalam alam bawah sadarku mulai bangkit.


Aku menjadi orang yang lebih detail dalam mengurusi segala keperluan mulai dari rumah, anak dan suami. Aku jadi harus mengecek berkali-kali ketika suamiku akan berangkat kerja, memastikan bahwa handphone, charger, dompet lengkap beserta isinya serta jas hujan sudah tidak tertinggal lagi. Aku merasa itu menjadi tanggung jawabku. Aku tidak ingin ia mendapat kesulitan karena ada sesuatu yang tertinggal.

Begitu pun dengan aktivitas di rumah. Aku yang awalnya santai mengerjakan pekerjaan rumah, lambat laun membuat target harus menyelesaikan segala urusan rumah. Ketika ada target yang tidak tercapai, aku merasa kurang bisa memanage waktu dengan baik, merasa terlalu banyak bersantai, merasa kurang berusaha untuk menyelesaikannya. 

Jika pekerjaan rumah tidak beres, tensiku akan meningkat dan suami yang biasanya menjadi target utama pelampiasan kekesalanku. Biasanya ia hanya akan menanggapiku dengan santai, "udah gak apa-apa, besok lagi aja..." atau "ya emang nggak akan beres jadi biarin aja..." hadeehh, yaiya sih benar juga omongannya namun tetap yang ku inginkan segala sesuatu harus beres dan teratur. Masalahnya, ujung-ujungnya pasti aku juga yang akan membereskan semuanya.

Belum lagi soal anak, ibu mana yang tidak mau memberikan yang terbaik bagi anaknya? Aku harus memastikan ia makan dengan kalori yang cukup, tidur cukup, bermain sambil belajar, tidak terpapar screen time terlalu banyak, melakukan aktivitas di luar rumah, mandi, dan semuamuanya mother can mention it.

Kenyataannya, membaca teori tidaklah semulus prakteknya. Ada kalanya anak menolak makanan, skip makan atau camilan karena tidur terlalu lama, cranky saat aku mengerjakan pekerjaan rumah lain atau justru aku yang merasa bersalah meninggalkan anakku bermain sendirian sedang aku harus mencuci piring atau memasak. Hal-hal seperti ini yang kemudian membuat aku tertekan. Stress karena munculnya sifat perfectionist ini.

Baca tentang cerita kehidupanku setelah menjadi ibu :
Masalah ini cukup menyita pikiranku hingga akhirnya aku memutuskan untuk berkonsultasi dengan psikolog pada bulan Februari lalu. Berhubung sulit mencari waktu untuk datang ke klinik, aku memilih untuk berkonsultasi secara online. Setelah aku menceritakan apa yang aku alami dan rasakan, beliau (psikolog) menyarankan aku untuk BERLIBUR! Haha.

Ia mengatakan bahwa tekanan yang aku alami salah satunya karena perubahan pola kehidupanku. Aku yang awalnya aktif berkegiatan di luar rumah sebelum menikah, memiliki hobi travelling plesiran sana sini, hangout bersama teman, menonton film, pergi karaoke, menghabiskan waktu dengan komunitas, tiba-tiba harus berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga tanpa helper.

Mulanya aku menyangkal dengan mengatakan bahwa aku ikhlas menerima kondisi saat ini, aku pun merasa enjoy menjalankan peranku ini. Aku bahkan sudah tidak ada niatan untuk bekerja kembali ke ranah publik, berpikir untuk mengambil freelance namun nanti di waktu yang tepat. Saat ini fokusku hanya untuk keluarga. Aku pun memiliki hobi menulis yang menurutku bisa menjadi stabilizer mood dan emosiku.

Lalu beliau mengatakan, "Kapan terakhir Ibu punya waktu untuk diri sendiri? Sekedar memanjakan diri ke salon, atau hangout dengan teman seperti yang Ibu lakukan dulu? Jangan terlalu keras pada diri sendiri, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Ibu manusia, kan? Coba untuk berlibur dan lebih rileks, Bu..."

Eerrr... Memang sih, ditelusuri ke belakang aku hampir tidak punya waktu untuk hanya bersama diriku sendiri. Sehubungan dengan tidak adanya helper atau pun kerabat disini, aku tidak bisa menitipkan anakku kemana pun jadi pasti kemana pun aku pergi, si kecil selalu mengekor. Belakangan ini suamiku juga sibuk dan pulang hampir selalu tengah malam. Seharian pekerjaanku ya nguplek rumah dan membersamai anakku. Baiklah, akhirnya aku menerima kalau aku mungkin hanya butuh sedikit liburan dan penyegaran otak.

Kebetulan, akhir Februari lalu aku menghadiri acara di Bali. Sempat khawatir dengan Covid-19, akhirnya kami tetap berangkat dengan berbagai persiapan sebelumnya. Selama di Bali, meski pun tetap sibuk mengurus anak rasanya memang berbeda dengan terus-terusan berada di rumah dan lingkungannya.

Tentang liburan di Bali :

Aku bertemu dengan sahabat lamaku, bisa mengobrol dan bertukar cerita dengannya. Bisa menikmati pemandangan alam terutama pantai, tempat favorite-ku. Bermain air di kolam renang bersama suami dan anakku, sesederhana tidak memikirkan piring kotor, harus masak apa, setrikaan menumpuk dan lantai rumah yang belum bersih ternyata bisa mereset pikiranku yang sebelumnya sudah butek menjadi kembali fitrah. Haha.

Serius deh, setelah liburan kemarin rasanya diri ini menjadi lebih lega dan bisa berpikir untuk menurunkan standar yang mungkin terlalu tinggi ku tetapkan untuk diri sendiri. Akhirnya aku bisa memahami betul kalimat psikolog saat aku berkonsultasi kemarin, memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bahkan seorang perfectionist pun tidak akan pernah bisa sempurna, mari mencoba kembali untuk menjadi orang yang lebih santai.

Adios!

Yogyakarta, 14 Maret 2020

Jumat, 13 Maret 2020

Mengenang Zaman Marathon Drakor

Maret 13, 2020 36 Comments

Setelah menonton drama Korea berjudul Endless Love yang dibintangi oleh Song Hye Kyo, aku menjadi salah satu penggemar drakor yang menanti-nanti drama baru dengan rating tinggi untuk ditonton. Aku bukan penggemar drama yang sedang ongoing, aku lebih memilih untuk bersabar menunggu hingga semua episode-nya selesai baru kemudian menonton hingga tamat, ketimbang harus gregetan dan gemas menanti-nanti munculnya episode terbaru.


Akibatnya, aku hampir selalu marathon dalam menyelesaikan sebuah drama. Tak kenal pagi-siang-malam, jika sudah keranjingan dan terhanyut dalam kisahnya bisa 2-3 hari tuntas menyelesaikan semua episodenya (rata-rata 16-20an episode). Jarang sih aku menonton drama yang jumlah episode-nya hingga ratusan seperti sinetron Indonesia.

Masa kejayaan bebas-sebebasnya menonton drama adalah saat setelah menyelesaikan skripsi dan dalam masa menunggu hasil revisian dari dosen. Kuliah sudah kelar, benar-benar tinggal skripsian. Waktu luang pasti ku gunakan untuk menonton drama Korea yang pemain utamanya oppa ganteng dan eonni cantik kesukaanku.

Waktu masih sibuk kuliah dan ada drakor baru, tidak jarang pula aku marathon menonton hingga subuh dan masuk kuliah pukul 7 pagi. Rasanya kepala berat dan mata mengantuk banget! Paling parah adalah saat akan ujian kompre profesi Apoteker, aku marathon menonton Reply 1997 hingga menjelang subuh dan dapat giliran awal-awal untuk diuji kompre Apotek. Kacau banget, bukannya belajar malah sibuk mantengin ketampanan So In Guk. Untungnya aku bisa menjawab pertanyaan ujian dengan benar tanpa membawa-bawa So In Guk atau Eun Ji dalam kalimat jawabanku. Haha.


Pernah suatu ketika aku sedang asyik menonton drakor di dalam kamar kemudian adikku masuk untuk mengabsen kehadiranku. Beberapa jam kemudian ia kembali masuk kamar nyeletuk, "Busyeet! Mba posisinya dari berjam-jam yang lalu nggak berubah? Ckckck..." dan aku hanya mengangkat alis untuk menjawab kalimatnya. Yaampun, sebegitunya ya.

Entah apa yang merasuki ku hingga aku benar-benar fokus mengabdikan waktu untuk menyelesaikan drakor yang sedang ku tonton secepatnya. Aku hanya beristirahat untuk sholat, makan dan tidur ketika mata dan kepala sudah benar-benar lelah melihat layar. Kacau banget sih, jangan ditiru ya!

Menurut hasil analisa yang kulakukan pada diri sendiri, ada beberapa hal yang membuat aku dan mungkin ribuan orang di luar sana kecanduan menonton drakor :
1. Jalan Cerita yang Menarik
Bukannya menjelekkan, tapi berbeda dengan sinetron Indonesia yang banyak bertele-tele, drakor menyajikan cerita dengan latar belakang yang menarik dan alur cerita yang tidak neko-neko. Perpotongan episode satu ke episode selanjutnya pun bisa pas membuat penonton tidak ingin berhenti menonton.

2. Pemeran Utama yang Good Looking
Jujur saja, ini menjadi salah satu daya tarik utamaku saat menonton drakor. Ketampanan aktor dan kecantikan aktrisnya membuatku betah berlama-lama menonton drakor, ditambah akting mereka yang sukses meyakinkan dan mengambil hati penonton. Bawaannya bikin mesem-mesem sendiri, gak kuat kalo nggak lanjut ke episode selanjutnya!

3. Konflik yang Mendebarkan
Drama Korea menyajikan cerita yang beragam dengan berbagai tema dan mempunyai konflik yang menarik untuk diulik, membuat penonton penasaran kemana arah cerita akan dibawa. Sebut saja drama Innocent Defendant (2017) yang begitu seru dan bikin dag-dig-dug di setiap episodenya. Memang bukan drama unyu-unyu yang bikin gemas dan baper, tapi konflik dan intriknya seru sekali untuk dilewatkan walau satu malam. Haha. Lebaaay~


4. Membawa Emosi Penonton Naik-Turun
Menonton drama Korea berarti harus bersiap seperti naik roller coaster, emosi yang disajikan sangat beragam. Bisa membuat kita tertawa karena lucu, gemas karena adegan yang so sweet, deg-degan karena penasaran dan menangis karena baper abis. Kebayang nggak ketika kita lagi senang-senangnya atau sedih-sedihnya lalu bersambung? Hhhrrr... Gimana nggak pengen marathon tuh?!

Keempat alasan tersebut cukup membuatku betah nongkrong di depan layar laptop berjam-jam demi segera menamatkan satu judul drama. Ciyan sih mata, serius kebiasaan ini sebenarnya tidak baik. Thank God, setelah menikah dan punya anak aku malah tidak punya waktu sama sekali untuk menonton drakor. Antara berterimakasih sekaligus sedih, karena sudah melewatkan banyak judul bagus sepanjang tahun 2019-2020. Cry~

Berhubung dimana-mana sedang membahas drakor berjudul Crash Landing On You alias CLOY, aku pun tergerak untuk mencari dan menonton drama ini. Dramanya pun sudah tamat, wah! Semangat marathon nonton pun kembali membuncah. Akankah kerinduan marathon nonton drakor akan terobati? Sekali-kali tidak mengapa kali ya. Hehe.

Yogyakarta, 13 Maret 2020

Kamis, 12 Maret 2020

Kekuatan Super Setelah Menjadi Ibu

Maret 12, 2020 0 Comments

Banyaak sekali tulisan-tulisan yang membahas tentang Super Mom. Tidak heran sebab menjadi seorang ibu memang merupakan suatu hal yang luar biasa. Banyak hal yang berubah ketika seorang wanita lajang meneruskan hidupnya dengan menikah dan memiliki anak. Tidak sedikit pula yang rela mengorbankan karir serta cita-citanya semasa muda untuk banting setir mengurus rumah tangga dan anak-anaknya. Menjadi ibu kemudian diidentikkan dengan menjadi seorang yang wajib bisa multitasking, maka dari situ ibu kerap dijuluki "Super Mom,".

Bagiku, julukan Super Mom itu benar adanya. Aku seperti mendapat kekuatan super setelah mengemban amanah untuk mengurus dan membesarkan anak. Jika Spider Man yang mampu mengeluarkan jaring laba-laba dari tangannya maka kekuatan super yang aku miliki adalah mampu mengalahkan rasa takut.

Jujur saja semenjak masih gadis, aku adalah seorang yang penakut dalam banyak hal. Takut petir, takut gelap ketika mati lampu, takut hantu, takut kotor (it's real. Haha!), banyak deh apa-apa ketakutan. Payah banget! Tapi semua berubah setelah aku melahirkan anakku.

Aku ingin anakku menjadi seorang yang pemberani, seperti arti dari nama belakang yang ku sematkan padanya. Untuk merealisasikan cita-citaku membesarkan anak laki-laki yang pemberani, aku sadar bahwa aku pun sebagai pendidiknya tidak boleh banyak takutnya. Gimana mau berani kalau ibunya saja penakut, yekan?


Sedikit demi sedikit aku pun mulai mencoba mengalahkan rasa takut pada hal yang sebelumnya aku takutkan. Berusaha tetap stay cool saat petir menyambar-nyambar dengan suaranya yang menggelegar, agar anakku pun tetap stay cool dan menganggap normal suara keras tersebut. Berusaha tidak panik saat PLN mematikan listrik perumahan di malam hari ketika suami belum pulang kerja dan anak masih terjaga, agar anakku pun tetap tenang dengan kondisi gelap gulita seperti itu. "Tenang, Nak. Jangan takut, ada mama disini. Nggak apa-apa, ini cuma mati lampu kok!" padahal lutut sudah lemas gemetar ketakutan mencari senter dan lilin untuk penerangan.

Entah darimana datangnya super power itu, yang jelas saat bersama anakkku, tidak ingin rasanya menunjukkan sisi lemahku sebagai orang yang penakut. Aku lebih takut ketika ia dewasa nanti ia takut dengan kecoa dibandingkan ketika aku menghadapi kecoa saat berdua dengannya di rumah. Aku tidak ingin nantinya ia takut ketika dimintai tolong untuk mengambil barang di kamar yang lampunya tidak menyala. Sebagai orang yang selalu berada di dekatnya, aku harus menjadi panutan yang baik. Itu saja prinsip yang selalu aku pegang.

Sebenarnya, kekuatan ini sudah muncul sejak aku hamil. Sebagai manusia normal, wajar jika kita takut saat akan merasakan sakitnya kontraksi dan melahirkan. Apalagi mendengar cerita pengalaman banyak ibu-ibu lain, yang membuat kepala cenat cenut. Tapi, rasa takut itu terkalahkan dengan semangat untuk segera bertemu si kecil yang sudah dinanti-nanti selama 9 bulan. Belum lagi ketika akhirnya aku harus berujung berbaring di ruang operasi untuk menjalani bedah caesar, lagi-lagi aku harus berjuang mengalahkan rasa takutku saat menjalankan operasi.

Menjadi ibu adalah suatu pengalaman luar biasa. Banyak pelajaran yang bisa diambil, banyak pengalaman seru yang harus "dinikmati", banyak tantangan yang membuat kita harus survive untuk bisa lanjut ke level selanjutnya. Sebuah perjalanan yang membuat kita harus lebih banyak bersyukur.

Begitulah kira-kira ceritaku mendapat kekuatan super setelah memiliki anak, aku yakin banyak kekuatan lain yang dimiliki seorang ibu. Kalau kalian bagaimana, Moms? Apa kekuatan super kalian setelah menjadi ibu?

Sukabumi, 12 Maret 2020