Sabtu, 14 Maret 2020

The Imperfect Perfectionist


Dulu, jauh sebelum hari ini aku melihat diriku sebagai seorang yang santai, deadliner, tidak suka mengambil pusing suatu masalah, selow abis. Bahkan beberapa sahabat dekatku pun melabeli aku sebagai orang paling santai yang pernah mereka kenal.

Keadaan berbanding terbalik setelah aku menikah dengan suamiku, ternyataaa ada loh orang yang jauuh lebih santai dari aku. Saking santainya, aku yang tadinya santai berubah seratus delapan puluh derajat menjadi super perfectionist. Kok bisa?

Aku orangnya mudah melupakan hal-hal detail, printilan-printilan kecil yang penting gak penting sering tidak aku ingat. Misal ketinggalan bawa alat mandi saat bepergian, it's okay kan karena bisa beli di tempat tujuan. Jatuhnya boros tapi mau bagaimana lagi. Nah, suamiku pun tipe yang begitu juga. Suka melupakan hal-hal detail, parahnya ia sering melupakan hal yang jelas-jelas penting. 

Contohnya, saat ia akan pulang ke Bandung dengan kereta api, ia LUPA MEMBAWA DOMPET yang ditinggalkannya di atas lemari kamar rumahku di Jogja. Saat itu, ia berangkat ke stasiun mepet dengan waktu keberangkatan kereta jadi tidak mungkin terkejar jika harus balik ke rumah atau aku mengantar dompetnya ke stasiun. Lalu gimana? Yasudah, dengan wolesnya ia menunjukkan foto ktpnya melalui ponsel. Alhamdulillah dapat izin untuk masuk oleh petugas setempat. Ia pun hanya memintaku untuk mengisi gopaynya sebagai modal hidup di Bandung tanpa dompet, uang cash dan kartu atm.

Sebab beliau yang seperti itu dan kejadian seperti di atas tidak terjadi hanya sekali ya melainkan berkali-kali, aku merasa sebagai objek penderita. Haha. Padahal bukan aku yang mengalami kejadian itu, tapi aku merasa bertanggung jawab atas hal tersebut. Jadilah, jiwa-jiwa perfectionistku yang terpendam jauh di dalam alam bawah sadarku mulai bangkit.


Aku menjadi orang yang lebih detail dalam mengurusi segala keperluan mulai dari rumah, anak dan suami. Aku jadi harus mengecek berkali-kali ketika suamiku akan berangkat kerja, memastikan bahwa handphone, charger, dompet lengkap beserta isinya serta jas hujan sudah tidak tertinggal lagi. Aku merasa itu menjadi tanggung jawabku. Aku tidak ingin ia mendapat kesulitan karena ada sesuatu yang tertinggal.

Begitu pun dengan aktivitas di rumah. Aku yang awalnya santai mengerjakan pekerjaan rumah, lambat laun membuat target harus menyelesaikan segala urusan rumah. Ketika ada target yang tidak tercapai, aku merasa kurang bisa memanage waktu dengan baik, merasa terlalu banyak bersantai, merasa kurang berusaha untuk menyelesaikannya. 

Jika pekerjaan rumah tidak beres, tensiku akan meningkat dan suami yang biasanya menjadi target utama pelampiasan kekesalanku. Biasanya ia hanya akan menanggapiku dengan santai, "udah gak apa-apa, besok lagi aja..." atau "ya emang nggak akan beres jadi biarin aja..." hadeehh, yaiya sih benar juga omongannya namun tetap yang ku inginkan segala sesuatu harus beres dan teratur. Masalahnya, ujung-ujungnya pasti aku juga yang akan membereskan semuanya.

Belum lagi soal anak, ibu mana yang tidak mau memberikan yang terbaik bagi anaknya? Aku harus memastikan ia makan dengan kalori yang cukup, tidur cukup, bermain sambil belajar, tidak terpapar screen time terlalu banyak, melakukan aktivitas di luar rumah, mandi, dan semuamuanya mother can mention it.

Kenyataannya, membaca teori tidaklah semulus prakteknya. Ada kalanya anak menolak makanan, skip makan atau camilan karena tidur terlalu lama, cranky saat aku mengerjakan pekerjaan rumah lain atau justru aku yang merasa bersalah meninggalkan anakku bermain sendirian sedang aku harus mencuci piring atau memasak. Hal-hal seperti ini yang kemudian membuat aku tertekan. Stress karena munculnya sifat perfectionist ini.

Baca tentang cerita kehidupanku setelah menjadi ibu :
Masalah ini cukup menyita pikiranku hingga akhirnya aku memutuskan untuk berkonsultasi dengan psikolog pada bulan Februari lalu. Berhubung sulit mencari waktu untuk datang ke klinik, aku memilih untuk berkonsultasi secara online. Setelah aku menceritakan apa yang aku alami dan rasakan, beliau (psikolog) menyarankan aku untuk BERLIBUR! Haha.

Ia mengatakan bahwa tekanan yang aku alami salah satunya karena perubahan pola kehidupanku. Aku yang awalnya aktif berkegiatan di luar rumah sebelum menikah, memiliki hobi travelling plesiran sana sini, hangout bersama teman, menonton film, pergi karaoke, menghabiskan waktu dengan komunitas, tiba-tiba harus berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga tanpa helper.

Mulanya aku menyangkal dengan mengatakan bahwa aku ikhlas menerima kondisi saat ini, aku pun merasa enjoy menjalankan peranku ini. Aku bahkan sudah tidak ada niatan untuk bekerja kembali ke ranah publik, berpikir untuk mengambil freelance namun nanti di waktu yang tepat. Saat ini fokusku hanya untuk keluarga. Aku pun memiliki hobi menulis yang menurutku bisa menjadi stabilizer mood dan emosiku.

Lalu beliau mengatakan, "Kapan terakhir Ibu punya waktu untuk diri sendiri? Sekedar memanjakan diri ke salon, atau hangout dengan teman seperti yang Ibu lakukan dulu? Jangan terlalu keras pada diri sendiri, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Ibu manusia, kan? Coba untuk berlibur dan lebih rileks, Bu..."

Eerrr... Memang sih, ditelusuri ke belakang aku hampir tidak punya waktu untuk hanya bersama diriku sendiri. Sehubungan dengan tidak adanya helper atau pun kerabat disini, aku tidak bisa menitipkan anakku kemana pun jadi pasti kemana pun aku pergi, si kecil selalu mengekor. Belakangan ini suamiku juga sibuk dan pulang hampir selalu tengah malam. Seharian pekerjaanku ya nguplek rumah dan membersamai anakku. Baiklah, akhirnya aku menerima kalau aku mungkin hanya butuh sedikit liburan dan penyegaran otak.

Kebetulan, akhir Februari lalu aku menghadiri acara di Bali. Sempat khawatir dengan Covid-19, akhirnya kami tetap berangkat dengan berbagai persiapan sebelumnya. Selama di Bali, meski pun tetap sibuk mengurus anak rasanya memang berbeda dengan terus-terusan berada di rumah dan lingkungannya.

Tentang liburan di Bali :

Aku bertemu dengan sahabat lamaku, bisa mengobrol dan bertukar cerita dengannya. Bisa menikmati pemandangan alam terutama pantai, tempat favorite-ku. Bermain air di kolam renang bersama suami dan anakku, sesederhana tidak memikirkan piring kotor, harus masak apa, setrikaan menumpuk dan lantai rumah yang belum bersih ternyata bisa mereset pikiranku yang sebelumnya sudah butek menjadi kembali fitrah. Haha.

Serius deh, setelah liburan kemarin rasanya diri ini menjadi lebih lega dan bisa berpikir untuk menurunkan standar yang mungkin terlalu tinggi ku tetapkan untuk diri sendiri. Akhirnya aku bisa memahami betul kalimat psikolog saat aku berkonsultasi kemarin, memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bahkan seorang perfectionist pun tidak akan pernah bisa sempurna, mari mencoba kembali untuk menjadi orang yang lebih santai.

Adios!

Yogyakarta, 14 Maret 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar