Pentingnya Menjadi Support System Hobi Ibu

support-system-hobi-ibu

Menurut saya, memiliki hobi dan meluangkan waktu untuk menjalankannya adalah hak asasi yang tidak bisa diganggu gugat. Baik anak-anak, dewasa, tua, muda, bekerja kantoran, ibu rumah tangga, pelajar, semua boleh memiliki hobi dan memiliki waktu khusus untuk menjalankannya.

Di awal memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, saya menekankan pada suami bahwa saya nggak passion mengurus rumah. Jujur saya stress kalau harus berkutat hanya dengan pekerjaan rumah tangga saja.

Saya butuh waktu juga untuk menjadi diri sendiri. Bagi saya, saya nggak jadi diri sendiri tuh, saat mengerjakan pekerjaan rumah. Haha. Ketika itu, saya berperan sebagai pemilik rumah, yang nggak suka rumahnya berantakan. Berhubung hanya ada saya di rumah, jadi ya saya yang bereskan.

Suami saya pun sadar dengan batas kemampuan saya dan kapasitasnya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Akhirnya kami sampai pada kesepakatan bahwa pembagian tugas rumah tangga diserahkan kepada saya.

Saya diberikan kuasa untuk membagi tugas antara saya dan suami. Saya juga diizinkan untuk menjalankan hobi saya, apapun itu, selama positif untuk saya dan keluarga.


Selama kegiatannya bisa dilakukan di rumah atau tidak harus sampai meninggalkan anak, "Monggo saja", katanya.

Sejak itulah, saya langsung injak gas untuk kembali menjalankan hobi-hobi lama saya. Berkomunitas, menulis, menonton, dan yang terbaru, olahraga. Buat saya, dukungan dari orang-orang terdekat untuk seorang ibu menjalankan hobinya itu sangat penting guna membuatnya tetap bahagia, stay on track dan tidak oleng dalam menjalankan berbagai perannya.

Pentingnya Support System di Lingkungan Ibu

Seorang sahabat dekat saya, yang sudah menikah namun belum dikaruniai anak pernah bertanya,

Mae, gue sering banget liat di media sosial, temen-temen gue yang udah punya anak tuh jadi kayak yang stress banget gitu loh. Bilang sampe nggak tidur berhari-hari, mau gila lah, apa lah.. Emang iya segitunya? Soalnya gue liat kakak gue sama lo, nggak gitu. Walaupun yah, gue nggak liat full ya..

Membaca pesan dia, saya tertegun sejenak. Flash back ke masa-masa saya baru punya bayi, kemudian beranjak menjadi toddler, hingga sekarang anaknya sudah masuk TK.

Apakah saya capek? Iya lah, capek banget. Berkali-kali ingin menyerah, besoknya bangkit lagi, and the wheel keeps spinning round and round! lol.

Namun, jika ditanya apakah saya sedepresi itu menjalankan peran saya sebagai ibu? Apakah lantas saya menjadi 'si paling menderita' setelah menjadi ibu dan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga? Alhamdulillah, I never think so.

Jika ditanya apa alasannya? Jawaban saya adalah karena support system yang positif.

Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Ibu

Dari awal setelah melahirkan, saya didukung oleh lingkungan yang supportif. Bapak dan mama saya manjain saya banget setelah cucu pertamanya lahir. Bahkan, ketika saya makan dan bayi saya menangis, bapak menyuruh saya untuk tetap makan sampai selesai. Sementara itu, ibu saya yang mengecek ada apa gerangan si bayi menangis.

Bapak bahkan seringkali menyuruh saya pergi keluar rumah supaya saya nggak bosan. Saya diberi kesempatan pergi berdua suami untuk menonton bioskop, diajak bapak makan di luar atau sekadar jalan-jalan mengitari kota Jogja. Merdeka banget rasanya. Itulah yang membuat saya jauh dari baby blues dan post partum depression. Alhamdulillah.

It takes a village to raise a child

Meningkatkan Ketenangan dan Kebahagiaan Ibu

Saat tinggal di rumah mertua, alhamdulillah lingkungan keluarga suami juga sangat supportif. Sesimpel ketika saya harus mandi, makan atau melakukan pekerjaan lain, orang-orang rumah akan bergantian menjaga anak saya.

Baik itu papa mertua, kakak ipar, bahkan keponakan saya yang menganggap anak saya seperti adiknya sendiri. Semua bantuan dan bentuk kerjasama ini membuat saya merasa lebih attach dengan keluarga suami. Saya pun merasa lebih tenang, nyaman dan tidak se-tertekan itu tinggal bersama mertua.

Memberi Waktu untuk Diri Sendiri

Dukungan dari orang-orang dan lingkungan terdekat terhadap ibu, membuatnya jadi memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Mandi dengan tenang, makan tanpa buru-buru, bisa me time walau hanya sebentar, beuh, itu sudah bisa mencharge energi ibu untuk kembali fokus mengurus rumah dan anak-anak.

Seperti saya yang diberikan kebebasan untuk melakukan hobi dari rumah. Dengan menjadi ibu rumah tangga sambil tetap menjalankan hobi, saya jadi selalu punya semangat dan energi positif untuk menjalankan peran dengan (sebisa mungkin) seimbang. Walaupun di hari-hari tertentu burn out itu tetap ada. Wkwk.

Support System yang Mendukung Hobi Blogging Saya

Sejak memutuskan untuk merantau dan hanya tinggal bertiga, jelas suami dan anak saya adalah support system terbaik saya. Bahkan, saya tidak menganggap suami dan anak saya sebagai supporter, tapi menjadi bagian dari sistem itu sendiri.

Kalau melihat saya yang bisa bertahan ngeblog sampai bertahun-tahun gini, sudah jelas ada orang-orang dibalik layar yang mendukung hobi blogging saya.


1. Suami dan Anak

Meskipun saya sebutkan kalau mereka berdua adalah bagian dari sistem saya secara keseluruhan, okelah tetap saya masukkan sebagai support system juga. Haha. Masya Allah tabarakallah bisa memiliki mereka berdua.

Suami saya betul-betul memberikan dukungan penuh untuk aktivitas ngeblog saya. Saya diizinkan ikut berbagai komunitas blogger dan aktif terlibat di dalamnya. Saya juga tidak dibatasi ketika hendak mengikuti kelas-kelas yang diadakan secara online maupun offline.

Demikian pula dengan anak saya yang kicik tapi sudah pintar. Ia bisa dengan lugas menyebut "Mama aku blogger," atau "Mama kerjanya podcast," :D


Anak saya juga mengerti, ketika mamanya mengisi kelas online atau kegiatan yang mengharuskan saya untuk oncam, maka ia akan menunggu dan bermain bersama papanya.

Love you sebanyak-banyaknya!

2. Keluarga Besar

Dukungan nggak hanya datang dari keluarga inti saja, tapi juga keluarga besar. Literally besar. Baik keluarga dari suami, keluarga saya yang di Jogja, sampai keluarga mama saya yang di Banjarmasin sana. Kayaknya semua sudah tau deh, kalau saya sudah banting setir dari pekerjaan sebelumnya.

Walaupun di awal ada saja yang meremehkan saya, karena nggak saya ambil pusing jadi mereka diem juga akhirnya. Berhubung lebih banyak yang men-support saya, jadi suara-suara minoritas yang nggak membawa dampak apa-apa untuk hidup saya ya bye aja.

3. Teman-teman Komunitas

Ada ranting ada kayu, I'm nothing without you!

Jika saya nggak mengambil langkah untuk bergabung dengan komunitas, mungkin sekarang saya udah berhenti menulis sejak lama dan masih mencari-cari jati diri. Haha. Teman-teman komunitas selalu bisa memberikan suntikan semangat dan menambah rasa insecure at the same time.

Insecurity di sini berbeda dengan yang saya rasakan di awal. Maksudnya adalah saya jadi terpacu untuk bisa memperbaiki kualitas tulisan dan blog saya, setelah melihat teman-teman yang lain. Bukan untuk jadi bahan perbandingan, melainkan catatan untuk diri saya sendiri.


Teman-teman komunitas juga membuat saya tetap memiliki identitas sebagai diri sendiri. Di komunitas, saya benar-benar menjadi Ima. Saya bukan Mama Dipta, bukan juga Istrinya Pak Halim. Bersama teman-teman tersebut, saya bisa ngobrol mengenai berbagai hal, nggak melulu soal anak.

Mereka membuat saya selalu update, mempunyai insight baru dan tetap bisa beredar meskipun notabene saya selalu ada di rumah.

4. Pembaca Blog

Suatu ketika, saya mendapatkan DM dari seorang ibu yang membaca blog saya. Beliau ikut curhat dan bercerita mengenai pengalaman khitan anaknya. Ia mengatakan bahwa memilih untuk mengkhitan dengan metode yang sama dengan anak saya setelah membaca tulisan saya di blog.

Ada pula seorang pembaca blog saya yang mengirimkan pesan kalau ia merasa tercerahkan setelah membaca artikel saya. Ia yang ingin resign dari pekerjaanya dan ingin menjadi ibu rumah tangga, merasa ragu karena stigma yang melekat erat dengan tugas-tugas ibu rumah tangga.

Ia berterima kasih pada saya, karena membaca artikel saya membuat pikirannya terbuka bahwa ternyata nggak gitu-gitu amat lah jadi ibu rumah tangga. Wah! Pesan-pesan tersebut membuat saya terharu banget. Saya merasa ternyata saya ada gunanya juga untuk orang lain, meskipun nggak bekerja lagi di ranah publik.

5. Koneksi Internet

Apalah blogging tanpa koneksi internet, frens?! Koneksi internet ini termasuk support system terpenting juga nih dalam aktivitas ngeblog. Alhamdulillah, suami saya memilihkan provider internet yang menunjang pekerjaan saya yang mostly berhubungan dengan internet.

Adanya internet bikin saya lebih bebas mengeluarkan ide-ide dan kreativitas, serta lebih bisa memberdayakan diri. Thank's banget untuk kemajuan teknologi yang sedemikian pesat ini.


6. Brand / Klien

Support system berikutnya yang membuat blog saya selalu terselamatkan dari sarang laba-laba adalah hadirnya brand atau klien yang mengajak kerjasama. Kadang pas lagi blank nggak tau mau nulis apa atau nggak mood nulis, tiba-tiba ada klien yang menghubungi dan ngajakin kerjasama. Langsung gercep nggak tuh say yes dan buka laptop? Haha.


Apalagi, kalau brand dan klien-klien ini senang dengan hasil kerja kita dan kembali mengajak kerjasama di kemudian hari. Benar-benar merasa didukung penuh oleh semesta!

Yuk, Dukung Hobi Ibu!

Saya paham, tidak semua orang memiliki privilege dikelilingi oleh orang-orang terdekat yang mendukung hobinya. Di luar sana, masih banyak ibu-ibu yang suaranya tidak dianggap, dan seolah tidak penting untuk mereka bisa mengerjakan apa yang mereka sukai.

Padahal, suasana dalam rumah akan terasa lebih hidup dan segar, ketika ibu diberi ruang untuk bisa menjadi dirinya sendiri dan mengerjakan apa yang ia sukai. Hanya dengan melakukan hobi, ibu sudah bisa merasa lebih balance dan berdaya, lho!


Dengan menjadi support system yang positif, orang tua juga memberikan contoh positif pada anak-anaknya. Di mana, anak-anak akan melihat bahwa semua orang berhak untuk mengejar kebahagiaan dengan mengerjakan apa yang disukainya.

Mereka juga akan melihat kalau semua orang itu berhak punya me time dengan melakukan apa yang disenangi. Papa diizinkan pergi main futsal sama mama, sementara mama diizinkan untuk menjadi seorang blogger oleh papa, contohnya seperti itu.

Bahkan, dari penelitian berjudul Social Support and Maternal Mental Health: A Longitudinal Analysis, yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Family Psychology (2010), mengatakan bahwa support system di lingkungan ibu, mempengaruhi kesejahteraan mentalnya selama beberapa tahun setelah melahirkan.

Jadi, selama hobi yang dimiliki ibu itu positif dan berdampak baik untuk keluarga, yuk kita dukung hobinya!

tantangan-menulis-keb


Posting Komentar

0 Komentar