Rabu, 29 April 2020

Kisah Inspiratif Bu Indari Mastuti dan INDSCRIPT CREATIVE, Berjuang dengan Inovasi Tanpa Batas

April 29, 2020 23 Comments

Sebagai seorang yang doyan nulis, aku tidak pernah benar-benar mempelajari ilmu tentang menulis karena dulu hanya menganggapnya sebagai hobi.

Saat sudah memutuskan untuk serius memulai kembali aktivitas menulis di awal tahun ini, aku mulai penasaran dan ingin mempelajari lebih dalam tentang menulis. Bagaimana orang-orang bisa bikin blog yang cakep dan keren? Bagaimana mereka bisa konsisten menulis selama bertahun-tahun? Apa saja kegiatan yang mereka lakukan? Bagaimana bisa mendapat penghasilan dari kegiatan menulis?

Baca juga : Untuk Apa Nge-Blog?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul hingga akhirnya aku mencari-cari wadah yang bisa memberiku jawaban. Aku menemukan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis di Facebook dan langsung mengajukan diri untuk bergabung.

Pertama kali bergabung, aku melihat anggota di dalamnya adalah ibu-ibu yang tulisannya bagus dan bermanfaat semua. Jam terbang mereka pun terlihat sudah tinggi-tinggi, da aku mah apa atuh?! Pikirku yang sempat jiper saat memasukkan link blog-ku untuk mengikuti acara blog walking yang diadakan IIDN.

Seiring berjalannya waktu, aku merasakan manfaat bergabung dengan komunitas ini. Aku banyak belajar dan terus mendapat semangat untuk konsisten menulis blog karena didukung oleh teman-teman sesama blogger yang luar biasa. Sampailah pada suatu acara sharing session dengan Ibu Indari Mastuti, founder Ibu-Ibu Doyan Nulis. Suatu kesempatan emas bisa bertukar cerita dengan beliau yang sudah mengecap asam garam dunia kepenulisan, bersama dengan teman-teman blogger lain via Telegram pada tanggal 24 April 2020 kemarin.

Selain founder IIDN, Bu Indari juga founder dari INDSCRIPT CREATIVE. Dalam sesi sharing kali itu, Bu Indari banyak bercerita mengenai Indscript Creative yang sudah berjalan selama 13 tahun.

Bu Indari Mastuti
(source : Instagram @indarimastuti)

APA ITU INDSCRIPT CREATIVE


Apabila teman-teman berkunjung ke website indscriptcreative.com, kalian akan menemukan bahwa ada 3 hal yang ditawarkan dari Indscript Creative yaitu agensi naskah yang siap menampung naskah-naskah potensial dari para penulis untuk diteruskan ke penerbit mayor mau pun indie; ada juga divisi training online yang membuka berbagai program training, bertujuan untuk membagikan ilmu dan jaringan pertemanan kepada siapa saja yang ingin menjadi pebisnis atau penulis; ketiga yaitu produk bisnis yang mendukung dan mempermudah para pebisnis dalam menjalankan bisnisnya. Contoh produknya seperti The Must List (Dreamboard), Daily Activities, Habit Tracker Board dan berbagai jenis agenda.

Beraneka Dreamboard

PROSES LAHIRNYA INDSCRIPT CREATIVE
Indscript Creative tercipta ketika Bu Indari memutuskan untuk hengkang dari dunia karirnya di bidang telekomunikasi dan memilih untuk totalitas menjadi seorang penulis, tepat sebelum beliau memutuskan untuk menikah di tahun 2007.

Awal perjalanan Indscript Creative, hanya Bu Indari seorang lah yang menjalankan usaha agensi naskah ini sebagai penulisnya hingga akhirnya penerbit meminta beliau untuk menulis lebih banyak lagi, permintaan menulis buku tersebut juga mencakup tema-tema di luar jangkauan Bu Indari dimana beliau tidak memiliki background untuk menulis dengan tema tersebut.

Tidak ingin menyerah, Bu Indari pun menawarkan penulis lain sebagai orang luar pertama untuk bergabung dengan Indscript Creative. Penulis yang di maksud adalah seorang blogger asal Bandung bernama Bang Aswi. Setelah kehadiran Bang Aswi, 2 orang penulis lainnya yaitu Anton dan Tati ikut bergabung untuk mengembangkan Indscript Creative.

Untuk mengembangkan Indscript Creative menjadi agensi naskah profesional, Bu Indari terus mencari penulis di tengah segala keterbatasan yang ada. Pada kala itu, kebanyakan penulis kurang ngeh dengan kehadiran agensi naskah karena lebih memilih untuk mengirimkan naskahnya langsung ke penerbit.

SISI UNIK INDSCRIPT CREATIVE
Salah satu cara untuk mengembangkan usahanya, Bu Indari berani melakukan suatu hal yang out of the box, yaitu menabrak pola pengajuan naskah ke penerbit. Pada umumnya para penulis akan mengirimkan hasil tulisannya dalam bentuk naskah lengkap untuk dibukukan, berbeda dengan Indscript Creative yang hanya mengirimkan judul buku kepada penerbit. Tidak hanya satu melainkan ratusan judul beliau ajukan untuk dijadikan buku.

Hal inilah yang justru membuat penasaran, dari ratusan judul buku yang diajukan, penerbit kemudian memilih judul yang menarik dan ditanggapi oleh Indscript Creative dengan mengirimkan outline sesuai dengan judul yang dipilih beserta dengan contoh penulisannya. Setelah diterima, penulis akan menyelesaikan naskahnya sesuai deadline yang telah ditentukan.

Tidak hanya menyiapkan naskah jadi, Indscript Creative juga meramu naskah tersebut agar menjadi buku yang sudah siap naik cetak. Dengan konsep all-in-one yang menarik ini, para penerbit kemudian mulai berdatangan untuk menjadi klien Indscript Creative.

LIKA-LIKU PERJALANAN INDSCRIPT CREATIVE
Dalam perjalanannya, Indscript Creative pun mengalami pasang surut seperti kebanyakan bisnis lainnya. Ada masa dimana Indscript Creative kebanjiran order hingga rata-rata mencapai 60-100 naskah yang digarap dalam satu bulan, namun ternyata Indscript Creative juga pernah mengecewakan begitu banyak pelanggannya karena tidak seimbangnya antara marketing dan jumlah produksi.

Kehilangan banyak klien membuat Indscript Creative berada di ujung tanduk, tapi Bu Indari berusaha bangkit kembali dengan melakukan seleksi ketat terhadap karyawan yang bekerja disana. Selain itu, kepuasan klien juga menjadi target utama untuk membangkitkan kembali usaha yang dirintis dari nol ini. Beliau melayangkan permintaan maaf, memberikan potongan harga dan belajar untuk meningkatkan kualitas pelayanan hingga akhirnya perlahan-lahan kepercayaan klien pun kembali.

Bu Indari kemudian belajar banyak dari kejadian ini, kejadian yang justru membuatnya lebih bersemangat untuk melakukan terobosan dan inovasi-inovasi lain yang bermanfaat bagi banyak orang. Beliau tidak begitu saja menyerah dengan keadaan, justru dengan kejadian ini Bu Indari membaca lebih banyak buku sembari mengumpulkan ide-ide dan masih sempat mengikuti berbagai kursus baik berbayar mau pun gratis untuk tetap mengupgrade ilmunya.

IBU-IBU DOYAN NULIS




Saat mengalami keterpurukan, Bu Indari justru menemukan cara untuk segera bangkit dan mengumpulkan semangat. Beliau mendirikan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis, yang memiliki visi untuk menghasilkan penulis-penulis dari kalangan Ibu Rumah Tangga, ya sama seperti dirinya. Beliau ingin memberdayakan perempuan-perempuan yang punya minat dalam dunia menulis untuk mencetak karya-karya yang dibukukan.

Komunitas yang berdiri pada tanggal 24 Mei 2010 ini membuatnya kembali bahagia apalagi melihat antusiasme ibu-ibu yang begitu luar biasa sehingga komunitas ini berkembang dengan sangat baik dan cepat. Anggota komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis di seluruh Indonesia saat ini sudah mencapai 21.000 orang. Bu Indari berhasil memberdayakan para ibu rumah tangga untuk tetap berkarya di tengah kesibukannya dalam ranah domestik, sudah lebih dari 4000 karya yang berhasil diluncurkan dan diterbitkan oleh penerbit-penerbit ternama di Indonesia seperti Gramedia Pustaka Utama dan Elex Media.

BERKEMBANG DENGAN INOVASI
Inovation is worked! -Indari Mastuti
Bu Indari yang di kepalanya selalu penuh dengan ide-ide kreatif kemudian memberanikan diri mengambil peluang saat ditawari untuk menulis biografi pengusaha Brownies Amanda oleh Penerbit Mizan. Ternyata, ini menjadi suatu batu loncatan yang baik untuk kemajuan Indscript Creative yang sampai saat ini menjadi perusahaan terdepan dan terpercaya untuk menulis biografi orang-orang ternama seperti Utstadzah Hj. Ninih Mutmainah (Teh Ninih), Ibu Atalia Praratya (istri Ridwan Kamil, gubernur Jawa Barat) dan Ibu Siti Muntamah (istri H. Oded, walikota Bandung).

Tidak hanya itu, beliau juga berani untuk mengikuti kompetisi bisnis sejak tahun 2010 hingga 2012 dan menyabet berbagai penghargaan salah satunya adalah Perempuan Inspiratif Nova di tahun 2010.

Setelahnya, dengan kekuatan branding dari media massa nama Indscript Creative mulai kembali merangkak naik dan menerima klien-klien baru bahkan hingga ke perusahaan BUMN. Bu Indari tidak berhenti begitu saja, beliau kerap mengikuti training dan mencari mentor bisnis untuk terus menimba ilmu demi kemajuan perusahaannya.

Inovasi-inovasi terus dilakukan oleh Bu Indari hingga akhirnya Indscript bisa berdiri sampai 13 tahun ini. Pada tahun 2013, muncul Sekolah Perempuan diikuti oleh lahirnya Indscript Personal Branding, layanan untuk membranding diri bagi para pengusaha yang peminatnya begitu banyak.

Di tahun 2014, Bu Indari mengeluarkan suatu produk berupa board untuk membantu konsistensi seseorang dalam bidang apa pun. Produk ini dinamakan Metrik dan Dreamboard yang juga laku keras terjual di pasaran.

Inovasi terus berlanjut, di tahun 2015 Bu Indari menutup Indscript Personal Branding dan fokus dengan program Indscript Training Centre, yang bertujuan untuk berbagi pengalaman bagaimana membangun bisnis dari rumah. Training pertamanya yaitu Reparasi Bisnis mendapat sambutan hangat hingga total alumni mencapai 10.000 orang. Luar biasa ya pencapaiannya!

Selain Indscript Training Centre, Bu Indari juga membangun komunitas baru yaitu Emak Pintar. Setelah sebelumnya Ibu-Ibu Doyan Nulis di tahun 2010 dan Ibu-Ibu Doyan Bisnis di tahun 2011.

Tahun 2018, Bu Indari mencoba mengembangkan produk-produk seperti wordbook, agenda, hingga guidance book di tahun 2019 yang dapat terjual hingga 250 item per hari. "Masha Allah, inovation is worked!" begitu tutur beliau.



Contoh produk untuk penulis selain buku

Masih di tahun 2018, Bu Indari mendapat kesempatan untuk menjadi co-founder Kunikita, sebuah bisnis retail yang menjual berbagai perengkapan muslimah. Kunikita sudah memiliki sekitar 4000 jaringan pemasaran dengan salah satu produk terkenalnya yaitu CIOMY atau bakso aci khas Garut, dimana boci ini bisa terjual ribuan item dalam sehari. Tidak heran, karena prestasi beliau yang luar bisa ini, Bu Indari diberi 2 penghargaan di tahun yang sama sebagai Perempuan Penggerak Perempuan dan sebagai Perempuan Penulis oleh walikota Bandung.

Penghargaan tidak membuat Bu Indari jumawa dengan apa yang ia raih, ia terus bermimpi dan merealisasikan mimpinya dengan membuka program penerbitan indie yaitu BUKUIN aja! di tahun 2019. Program ini masih terus berjalan dengan antrian penulis yang begitu panjang hingga akhirnya Bu Indari membuka percetakkan sendiri untuk menerbitkan karya-karya indie. Saat ini BUKUIN aja! sudah mencetak 40 buku indie dan 4 angkatan buku antologi yang di tulis oleh berbagai kelompok.

Indscript Training Centre berubah nama menjadi Indscript Woman University di tahun 2019, sebagai penguat program ini 3000% untuk para perempuan.

Berlanjut ke tahun ini, 2020, Bu Indari membentuk ikon-ikon baru seperti Miss Writing, Miss Indscript, Miss Love dan Miss Cunik sebagai bentuk kekhasan pelayanan dalam bidang jasa yang beliau miliki. Pada tahun ini, Indscript Writing atau agensi naskah beliau menguat dengan dibukanya training khusus kepenulisan yang bertujuan untuk menjebol penerbit mayor. Kelas-kelas yang ditawarkan antara lain 7 HARI MENULIS BUKU, SEKALI NULIS JEBOL PENERBIT dan MENULIS TANPA BAKAT.

Sebelumnya, di 10 tahun usia bisnis Bu Indari berdiri beliau juga mendirikan CSR (Coorporate Social Responsibility) dengan pembebasan riba, pemberian hibah modal usaha, donasi lansia serta berbagai kegiatan donasi lainnya dimana dana yang digunakan berasal dari 10% omzet yang diperoleh.

Penerima Donasi Program CSR

Tidak hanya itu teman-teman, di masa pandemi Covid-19 ini Bu Indari juga terus aktif membagikan ilmunya melalui program live di grup Facebook Ibu-Ibu Doyan Bisnis setiap hari jam 7 pagi. Waahh! Tidak ada habisnya ya membicarakan inovasi yang dilakukan Bu Indari.

Facebook Live bersama Ibu-Ibu Doyan Bisnis

Bahkan, dengan pencapaian beliau yang sudah seperti penjabaran di atas, beliau tidak berhenti bermimpi untuk terus berkembang dan membagikan ilmunya agar bermanfaat bagi sesama. Beliau bercita-cita agar dengan adanya Indscript dan Kunikita ini dapat membuka peluang bagi para perempuan untuk mengembangkan dirinya baik dari bidang kepenulisan mau pun bisnis.

Pada tahun 2024, beliau sudah merancang dan mencita-citakan untuk meningkatkan produktifitas perempuan terutama ibu rumah tangga dengan membangun 15.000 jaringan pemasaran. Luar biasa!

Dari kisah inspiratif Indscript Creative dan berbagai inovasi yang dilakukan oleh Bu Indari Mastuti, tentu banyak sekali pembelajaran yang bisa kita ambil. Aku akan mencoba merangkum pelajaran berharga dari kisah inspiratif di atas :
1. Never Give Up!
Mungkin ini adalah poin utama yang bisa aku ambil, jangan pernah menyerah dengan kondisi seperti apa pun. Terus maju dan berusaha, yakin bahwa semua akan menemukan jalannya asal kita mau terus berusaha.

Seribu langkah pun di mulai dari langkah pertama, jika kita menyerah di langkah ke seratus tentu kita tidak akan pernah mencapai langkah ke seribu. Seperti itu kira-kira kisah perjalanan bisnis Bu Indari yang tidak kenal putus asa dan menyerah sehingga bisa mencapai prestasi sejauh ini.

Jika kita punya mimpi, ayo berusaha wujudkan mimpimu! Everything is possible, jadi jangan pernah menyerah!

2. Bekerja Keras
Mimpi tanpa adanya usaha hanya akan menjadi bunga tidur, tidak akan pernah menjadi kenyataan. Jika kita berani bermimpi, kita juga harus berani mencari cara dan jalan untuk meraihnya. Tentunya ini berkaitan erat dengan kerja keras yang tidak sebentar dan tidak instan.

Perlu ketekunan dan usaha yang tiada henti, terus menerus hingga kita bisa mendapatkan hasilnya. Aku selalu ingat perkataan salah satu guru SMA ku bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil, sama seperti rumus fisika dimana usaha berbanding lurus dengan resultan (hasil).

Ini lah yang aku lihat pada sosok Bu Indari, seorang wanita tangguh pekerja keras. Meski pernah jatuh, beliau berusaha untuk bangkit lebih keras lagi dan tidak pernah berhenti berusaha hingga bertahun-tahun lamanya.

3. Pembelajar Sejati
Bu Indari, seperti pemaparannya di Telegram mengatakan bahwa beliau sangat suka membaca buku terutama buku-buku tentang motivasi. Dengan ketekunan beliau untuk terus belajar, beliau menjadi banyak sekali menyimpan ilmu dan ide-ide dalam benaknya untuk dikembangkan dan direalisasikan di kehidupan nyatanya.

Kegagalan yang pernah terjadi justru membuat beliau semakin rajin belajar, mengikuti berbagai kursus baik online mau pun offline. Rela datang kursus dengan membawa serta anak-anaknya hingga ke luar kota, perjuangan yang tidak main-main untuk menuntut ilmu.

Apa yang dilakukannya membuat Bu Indari semakin kreatif, dengan memiliki banyak tabungan ide dari hasil belajarnya, beliau dengan mudah bisa menelurkan berbagai inovasi yang membuat perusahaannya maju.

4. Management Waktu yang Baik
Sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga dari 3 orang anak yang juga merangkap sebagai penulis serta pebisnis, management waktu merupakan hal yang sangat krusial bagi Bu Indari. Beliau harus bisa membagi waktu antara keluarga dan karirnya yang terus melesat.

Mulanya, beliau mengatakan memang cukup kerepotan. Saat bisnisnya belum berjalan selancar sekarang, namun beliau terus mencari-cari ritme kerjanya sehingga bisa mengatur waktu bahkan untuk bermain dan belajar bersama anak-anak, tidur siang dan mendapatkan tidur malam yang cukup.

5. Support System yang Bagus
Tanpa adanya suami dan anak-anak yang mendukung, tentu Bu Indari tidak mungkin menjadi seperti saat ini. Suami dan anak-anaknya menjadi orang-orang terdekat yang paling berperan dalam membangun karir beliau.

Suaminya ikut serta dalam management keuangan bisnis yang dijalankan dan anak-anaknya sudah mulai tertarik juga dengan apa yang dikerjakan oleh kedua orang tuanya, meski pun masih bersekolah salah satu putera beliau sudah berani untuk magang di salah satu perusahaan yang di pimpin oleh ibunya tersebut.

6. Mencari Delegasi yang Tepat
Sebagai seorang yang memegang begitu banyak bisnis, tentu Bu Indari tidak bisa menjalankan semuanya seorang diri. Beliau merekrut orang-orang terpercaya dan berkompeten untuk menjadi perpanjangan tangan beliau dalam menjalankan bisnisnya.

Proses pencarian Sumber Daya Manusia (SDM) serta perekrutan menjadi salah satu kunci keberhasilan bisnis Bu Indari. Beliau tidak segan untuk memberhentikan karyawannya ketika bekerja tidak sesuai dengan standard kompetensi yang sudah ditetapkan.

7. Terus Berbagi Manfaat
Dari cerita di atas, terlihat sekali bahwa Bu Indari tidak ingin dirinya maju sendirian. Beliau ingin perempuan-perempuan lain terutama ibu rumah tangga yang saat ini masih sering termarginalkan dapat memberdayakan diri mereka dan membuktikan bahwa mereka mampu berkarya dan menghasilkan.

Ketika sharing session berlangsung pun, Bu Indari tidak ragu menceritakan seluruh kisah Indscript Creative yang membesarkan namanya serta menjawab pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman blogger dengan jawaban yang sejelas-jelasnya. Tidak hanya jawaban singkat, bahkan penjelasannya juga disertai contoh-contohnya.

Demikian apa yang bisa aku sampaikan dalam tulisan kali ini. Tulisan mengenai perjalanan bisnis Bu Indari Mastuti membangun Indscript Creative dam melahirkan inovasi-inovasi yang sangat banyak.

Jujur aku begitu termotivasi dengan apa yang beliau sampaikan, aku ingin menjadi seorang yang pantang menyerah dalam menggapai mimpi. Di sisi lain, aku juga ingin menjadi manusia yang bisa memberikan manfaat untuk banyak orang.

Semoga kalian juga bisa mengambil hikmah dari kisah inspiratif kali ini. Sampai jumpa!

Sukabumi, 27 April 2020

Selasa, 28 April 2020

Aliran Rasa Kompas Peradaban

April 28, 2020 0 Comments

Alhamdulillah dalam perjalanan berlayar bersama teman-teman Matrikulasi batch 8, misi untuk menemukan kerang istimewa dan mendapatkan kerang tersebut sudah berhasil ku selesaikan. Dilanjutkan dengan misi ketiga yaitu membumikan Code of Conduct dari Institut Ibu Profesional.


Dari ketiga misi tersebut, kami para penjelajah samudera dibekali barang baru yaitu sebuah kompas peradaban. Kompas ini akan kami bawa dan gunakan dalam penjelajahan berikutnya yaitu menyelami samudera. Sebelum mulai menyelam, kami diberikan waktu untuk beristirahat sambil mengalirkan rasa tentang apa yang sudah kami lalui selama beberapa pekan ini.


Apa yang aku rasakan? Selama bergabung dengan Ibu Profesional terutama di Institut Ibu Profesional, aku semakin yakin bahwa untuk memegang peranan penting sekelas ibu harus memiliki fondasi yang kuat dan mental yang tangguh untuk menjalani peran tersebut.

Menjadi ibu bukan hanya mengandung dan melahirkan, tapi membentuk peradaban baru melalui buah hati yang mereka lahirkan. Sebagai seorang yang membawa masa depan, tentunya ibu harus dibekali dengan cukup ilmu untuk menjadi seorang pendidik utama anak-anaknya. Namun, tak dipungkiri bahwa ibu juga butuh waktu untuk dirinya sendiri. Ibu juga ingin mengembangkan dirinya dan menjadi sosok yang mampu memberi manfaat untuk orang lain.

Bagiku, bergabung dengan komunitas Ibu Profesional ini adalah salah satu bentuk untuk mengapresiasi diri sendiri, salah satu bentuk me time yang kulakukan di tengah hiruk pikuk pekerjaan rumah yang rasanya tidak habis-habis. Me time yang berfaedah, yang membawaku pada komunitas dimana aku tidak merasa seorang diri, yang menjadikanku tidak berhenti belajar dan terus mengembangkan potensi, yang membuatku ingin menjadi seorang ibu yang menjalankan tugasnya dengan profesional dan penuh rasa syukur serta bahagia.

Selama beberapa pekan berlayar bersama teman-teman matrikulasi dan didampingi oleh para Widyaiswara, aku mendapat banyak pelajaran. Seberharga mutiara dasar laut yang aku ambil dari dalam kerang. Kami belajar makna berkomunitas, apa tujuan kami bergabung dengan komunitas ini? Apa yang harus kami pegang selama berada disini? Bahkan norma dan peraturannya pun sudah tertulis dengan jelas, apa yang boleh dan tidak boleh kami lakukan.

Dengan gaya dan cara memberikan materi serta menjadikan pembelajaran ini layaknya sebuah petualangan yang seru, aku melihat Ibu Profesional benar-benar profesional mengemas ini semua untuk terus menarik para anggotanya agar tidak berhenti belajar dan menyerah di tengah jalan.

Sejauh ini, banyak manfaat yang aku dapatkan dari kelas matrikulasi ini. Aku menjadi seseorang yang merasa lebih percaya diri dengan jabatan sebagai ibu rumah tangga yang saat ini aku emban, juga merasa mampu meraih cita-cita dengan menggali apa yang menjadi passionku tanpa mengesampingkan tugas utamaku sebagai seorang istri dan ibu.

Ke depannya, semoga diriku semakin semangat dan rajin untuk mengikuti perjalanan belajar bersama teman-teman Matrikulasi serta dapat melanjutkannya ke jenjang pembelajaran yang lebih tinggi lagi.

Sekian aliran rasaku. Aku siap untuk melanjutkan perjalanan!

Imawati Annisa Wardhani
Matrikulasi Batch 8
Institut Ibu Profesional
Regional Sukabumi

Kamis, 23 April 2020

Ramadhan yang Tidak Seperti Biasa

April 23, 2020 2 Comments


Marhaban ya Ramadhan, selamat memasuki bulan penuh berkah, rahmat dan hikmah. Setelah satu tahun berlalu, alhamdulillah masih bisa berjumpa kembali dengan bulan yang paling di rindukan oleh umat muslim, bulan Ramadhan 1441 H.

Tahun ini roman-romannya terasa berbeda dengan tahun-tahun melewati puasa sebelumnya. Apalagi kalau bukan karena dunia pada umumnya dan Indonesia khususnya sedang berperang melawan pandemi Covid-19 yang entah sampai kapan akan berakhir (semoga segera).

Covid-19 benar-benar menggegerkan dunia, membuat seluruh warga negara tanpa terkecuali harus membatasi diri agar tidak bepergian, berkumpul dengan banyak orang dan senantiasa menjaga kebersihan dirinya berkali lipat dari biasanya. Tentunya, di bulan puasa kali ini akan ada perbedaan signifikan yang kita rasakan ketika beribadah di tengah merebaknya wabah virus yang belum ditemukan vaksinnya ini.

Perbedaan yang akan kita rasakan adalah :



1. Tidak Tarawih di Masjid
Sejak penyebaran virus Corona semakin menjadi-jadi, pemerintah mengisyaratkan masyarakatnya agar beribadah di rumah masing-masing. Tidak boleh ada lagi sholat berjamaah di masjid, sholat Jum'at ditiadakan. Sama halnya dengan kegiatan keagamaan untuk agama selain Islam, semua beribadah dari rumah saja.

Kita ketahui bersama, bulan Ramadhan identik dengan ibadah sholat tarawih berjamaah di masjid. Momen ini menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu dan dirindukan mengingat aura Ramadhan akan kental terasa ketika kaki melangkah menuju masjid.

Sayang, untuk Ramadhan tahun ini ibadah sholat tarawih hanya bisa dilakukan di rumah. Tentunya, ini merupakan salah satu perbedaan nyata dan terasa yang ditimbulkan setelah adanya Covid-19. Insha Allah, pahala akan tetap mengalir meski kita melaksanakan sholat tarawih di rumah. Allah Maha Mengetahui apa yang baik dan buruk bagi hambaNya.

2. Buka Bersama? Bye-bye!
Salah satu momen silaturahmi dengan teman dan kerabat saat Ramadhan adalah berbuka puasa bersama (bukber). Biasanya saking padatnya jadwal bukber, sampai kesusahan mencari slot hari kosong jika ada teman atau kolega yang sedikit terlambat merencanakan bukber.

Tahun ini rasanya tidak akan ada momen rebutan tanggal bukber antar lingkaran pertemanan. Cukuplah dengan berbuka bersama orang-orang tercinta di rumah, atau menikmati buka puasa seorang diri di kosan atau kota perantauan.

Semoga Covid-19 segera usai sehingga kita bisa kembali bersilaturahmi langsung dengan keluarga, saudara dan teman yang sudah lama tidak kita jumpai. Semoga diberi umur panjang juga untuk merealisasikannya. Aamiin.

3. Tidak Bisa Mudik ke Kampung Halaman
Akibat adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar atau lebih dikenal dengan PSBB, pemerintah melakukan pelarangan bagi warga negaranya untuk mudik pada Ramadhan kali ini. Itu artinya, kita tidak bisa merayakan Idul Fitri bersama sanak saudara tercinta di kampung halaman. Hiks!

Hal ini tentunya memicu perdebatan ketika secara nyata sudah banyak orang yang balik duluan ke daerah masing-masing. Bukannya itu mudik? Presiden mengatakan itu bukan mudik tapi pulang kampung. Memang apa bedanya?

Setelah ditelusuri jawabannya, mudik singkatnya didefinisikan sebagai pergi untuk kembali. Jadi, kita akan bepergian selama beberapa waktu dan akan kembali ke kota tempat kita merantau dalam waktu yang singkat. Mungkin, mudik ini mirip dengan kita liburan pada masa sebelum pandemi.

Sedangkan pulang kampung adalah pulang ke daerah asalnya masing-masing untuk menetap disana sampai waktu yang tidak ditentukan atau sampai wabah Covid-19 mereda sehingga mereka bisa kembali bepergian. Orang-orang yang pulang kampung memiliki waktu untuk mengkarantina diri selama 14 hari setibanya di rumah, oleh karenanya pemerintah tidak melakukan larangan terhadap hal ini. Warga yang pulang kampung kebanyakan adalah mahasiswa yang kegiatan perkuliahannya di ganti secara online, mereka yang WFH dan memilih untuk bekerja dari rumahnya daripada diam di perantauan terutama yang belum berkeluarga, juga para korban PHK yang saat ini belum menemukan pekerjaan.

Padahal liputan arus mudik biasanya mengisi hari-hari di televisi, mungkin tahun ini tidak. Sedih, karena aku pribadi tidak bisa pulang ke Jogja untuk merayakan Idul Fitri bersama ibu dan adik-adikku, tapi ini semua untuk kebaikan bersama. Semoga yang lain juga taat pada peraturan yang dibuat dengan tujuan menekan angka penyebaran virus Corona di Indonesia.

4. Tidak Ada Sholat Ied
Another sad momen in this Ramadhan, jika pandemi ini masih berlanjut hingga bulan depan maka kegiatan sholat Idul Fitri pun kemungkinan besar ditiadakan. Tidak ada yang namanya takbir keliling di malam sebelum hari raya, masjid dan lapangan yang biasa dijadikan venue sholat Ied pun akan tampak sepi.

Semoga hal ini tidak mengurangi esensi dari hari raya Idul Fitri itu sendiri. Semoga di bulan yang penuh berkah ini wabah Corona segera musnah mbuh piye carane. Haha. Dengan seizin Allah swt tentunya.

5. Halal bi Halal Online
Sama halnya dengan ditiadakannya buka bersama, acara kumpul keluarga besar/trah di hari raya pun pastinya tidak dianjurkan. Beberapa pejabat atau keluarga yang biasa menggelar acara open house pun tidak akan buka lapak pada tahun ini.

Sebagai gantinya, teknologi yang akan membantu kita untuk tetap bisa menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan keluarga yang berada jauh disana. Sabar, pasti ada hikmah di balik ini semua.

6. Melewati Ramadhan Tanpa Orang Tercinta
Seperti kita ketahui, banyak korban berjatuhan akibat wabah Corona yang sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia ini. Lansia, pemuda-pemudi, anak-anak bahkan bayi yang tidak kuasa bertahan pun menyerah pada kondisi sakit mereka, memilih untuk beristirahat dalam kedamaian untuk selamanya.

Ini tentu membawa duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, apalagi saat harus melewati momen puasa dan lebaran pertama tanpa orang tersayang yang biasa hadir di tengah mereka.

Aku pun mengalami hal serupa, meski bukan karena Covid-19 tahun ini aku akan melewati puasa dan lebaran jauh tanpa kehadiran ayahku yang sudah berpulang sebulan sebelum bulan Ramadhan tiba. Aneh sekali pasti, karena biasanya beliau yang sibuk menyiapkan ini-itu terkait halal bi halal keluarga, sibuk memikirkan menu untuk lebaran dan mau repot-repot memilih dan membelikan baju lebaran untuk kami sekeluarga.

Sebagai anggota keluarga yang masih diberi kesempatan bernafas, tugas kita adalah mendo'akan mereka yang sudah pergi lebih dulu. Semoga dilapangkan kuburnya dan dipermudah untuk menuju tempat istirahat terbaiknya. Manfaatkan momen di bulan Ramadhan ini untuk memperbanyak kirim do'a bagi mereka.

6 hal diatas adalah momen-momen berbeda yang akan kita rasakan di bulan puasa kali ini. Tapi, jangan sampai hal ini menurunkan kualitas ibadah kita di bulan suci penuh rahmat ini ya!

Akhir kata, selamat menunaikan ibadah puasa dan mohon maaf lahir bathin!

Sukabumi, 23 April 2020

Rabu, 22 April 2020

Misi Ketiga : Membumikan Code of Conduct

April 22, 2020 0 Comments

Hore! Alhamdulillah aku sudah berhasil mendapatkan kerang istimewa setelah sebelumnya menyelesaikan 2 misi dalam perjalanan berlayar bersama teman-teman Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch 8.



Kami pun melanjutkan perjalanan hingga sampai pada materi CoC atau Code of Conduct. Ada yang pernah dengar? Aku akan mencoba menjelaskan sedikit tentang CoC berdasarkan penjabaran yang ada di materi matrikulasi beberapa hari lalu.

Code of Conduct (CoC) adalah suatu pedoman perilaku bermartabat yaitu beberapa peraturan yang dibuat, dipahami dan disepakati hingga menjadi komitmen bersama. Tentunya, CoC yang berlaku dalam pembahasan kali ini berada di ruang lingkup Ibu Profesional.

Adanya CoC ini sendiri memiliki 3 tujuan utama. Tujuan normatif yaitu menjadi pedoman perilaku bermartabat, perilaku yang menaikkan harkat, martabat kemanusiaan dan kemuliaan hidup setiap individu yang tergabung dalam Institut Ibu Profesional.

Tujuan kedua yaitu tujuan preventif yang dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum, pelanggaran etika dan kemungkinan terjadinya perilaku nista pada anggota Institut Ibu Profesional.

Tujuan terakhir adalah kuratif untuk menyelesaikan tantangan yang muncul akibat adanya gesekan antar individu mau pun benturan berbagai kepentingan di dalam Institut Ibu Profesional.

Selanjutnya, ada 3 penjabaran utama dalam CoC Ibu Profesional. 3 hal tersebut adalah Perilaku Bermartabat, Berbagi dan Melayani serta Integritas Tinggi. Tugas kami sebagai mahasiswi perkuliahan di Institut Ibu Profesional adalah untuk membumikan CoC, tujuannya tentu untuk menularkan karakter yang dibentuk dari adanya CoC ini pada anggota-anggota yang lain.

Sebagai mahasiswi perilaku bermartabat yang wajib kami pegang yaitu sebagai berikut :
1. Memiliki Adab yang Baik
2. Aktif dan Bertanggung Jawab
3. Publikasi Bermartabat dan Bertanggungjawab

Setelah mendapat materi tentang Code of Conduct, misi yang harus kami selesaikan berikutnya adalah misi "Membumikan CoC" seperti yang tergambar di bawah ini :


Baiklah, sekarang saatnya untuk menyelesaikan misi tersebut!

Inilah aksi yang bisa aku lakukan untuk membumikan CoC :
1. Meluangkan waktu untuk mengikuti perkuliahan dan mengkondisikan rumah, anak dan suami agar bisa hadir tepat waktu.
2. Berusaha agar selalu menyampaikan pendapat atau memberi respon positif disetiap penyampaian materi, baik online mau pun offline.
3. Menulis ulang materi yang sudah diserap dan diterima sesuai dengan pemahaman sendiri, tentunya dengan mencantumkan Ibu Profesional sebagai sumber dari materi yang aku tulis.

Insha Allah aksi tersebut benar karena aku sudah mengacu pada CoC poin 1, 2 dan 3 untuk mahasiswi perkuliahan di Institut Ibu Profesional.

Aksi tersebut baik karena akan meningkatkan kapasitas diriku sendiri sebagai pembelajar yang bermartabat dan kepahaman mengenai ilmu-ilmu yang dipelajari disini juga meningkat.

Aksi tersebut bermanfaat karena ilmu yang dituntut dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan penuh ketekunan akan mendatangkan manfaat besar di kemudian hari, baik untuk diri sendiri mau pun orang lain.

Sekian penjelasan dariku untuk menyelesaikan misi "Membumikan CoC" dan aku siap untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Sampai jumpa!

#navigasidanberaksi
#matrikulasibatch8
#institutibuprofesional
#belajardarirumah

Selasa, 21 April 2020

Bersama Sahabat, Berikut 7 Momen Paling di Kenang Saat Kuliah di Yogyakarta

April 21, 2020 22 Comments

Ketika mendengar lagu yang dipopulerkan oleh Kla Project berjudul "Yogyakarta" di putar, secara otomatis aku ikut bernostalgia dengan masa-masa kuliah 11 tahun lalu. 2009 saat pertama kali aku menjejakkan kaki di kota penuh selaksa makna tersebut, sebagai mahasiswi.

5 taun menyelesaikan studi S1 di tambah dengan kuliah profesi membuat kota Jogja penuh kenangan. Setelah kepindahanku dari kota tempat tinggal sebelumnya yaitu Cilegon, aku tidak yakin akan mendapat sahabat-sahabat sebaik yang terdahulu. Namun, ternyata di kota inilah aku menemukan another comfort zone bersama sahabat-sahabat baruku.

Baca juga : BerPINDAH

Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Begitu banyak momen indah yang dilalui bersama sahabat saat kuliah dulu, tidak mungkin jika ku bagikan seluruhnya dalam satu judul tulisan, oleh karenanya aku telah merangkum 7 momen paling di-kenang bersama sahabat selama menghabiskan masa kuliah di Jogja :

1. Makan di Burjo

Mendekati 100% aku yakin semua mahasiswa/i yang berkuliah di Jogja pernah mencicipi bagaimana sensasi makan di Warmindo alias Warung Indomie atau lebih populer di sebut Burjo.

Bagi mahasiswa/i yang ingin berhemat, burjo adalah tempat yang paling cocok untuk mengenyangkan perut tanpa membuat kantong tipis. Mengenang masa lalu, di dekat kosku dulu warung Burjo menjual nasi sarden seharga Rp.5.500,- dan nasi telor Rp.4.500,-! Porsi nasinya banyak, dilengkapi dengan sambal dan sedikit sayuran. Puas banget nggak sih?! Sekarang nggak tau dah berapa persen kenaikan harga di Burjo?

Selain harganya yang murmer, beberapa Burjo buka 24 jam sehingga dimanfaatkan oleh para mahasiswa/i untuk begadang sembari menyelesaikan tugas atau sekedar ngopi-ngopi sambil ngobrol bersama teman-teman.

Aku sendiri dulu kerap begadang di Burjo sambil membawa handout atau materi kuliah untuk belajar bersama teman-teman kos menjelang ujian. Sering juga menghabiskan malam setelah kegiatan UKM usai dengan makan kelewat malam dan chit-chat hahahihi sampai lupa waktu.

By the way, kenapa disebut Burjo? Yang pernah ku dengar sih, karena warung ini identik dengan berjualan Bubur Kacang Hijau (Ijo) selain berdagang Indomie, makanya warung makan yang penjualnya kebanyakan berasal dari Kuningan ini disebut Burjo.

2. Kumpul Bareng Komunitas

Sebagai mahasiswi yang tidak betah di kos terus-terusan, dulu aku mengeksiskan diri di kampus dengan mengikuti berbagai komunitas baik di dalam jurusan mau pun dalam skala universitas.

Baca : Berkomunitas

Hal yang menyenangkan ketika kita terjun dalam suatu komunitas bukan hanya mengadakan event dan membuat project, tapi menghabiskan waktu bersama anggota lainnya. Jujur saya, aku merasa begitu akrab dan nyaman dengan beberapa teman satu komunitas hingga rasanya seperti saudara sendiri. Mereka lah yang akhirnya menjadi comfort zone saat suntuk menghadapi kuliah dan praktikum.

Kumpul bersama komunitas bukan hanya sekedar menyibukkan dan melarikan diri dari kehidupan perkuliahan, tapi juga belajar banyak hal tentang organisasi yang menurutku lebih berguna saat sudah bekerja.

3. Sleepover di Kosan Teman

Menghabiskan weekend, bergosip, menonton film, tahun baruan bersama, memberi surprise saat sahabat ulang tahun atau menghabiskan malam untuk belajar kejar tayang sehari sebelum ujian datang.

Kadang kosan teman dianggap seperti kosan sendiri, keluar masuk sesuka hati karena pemilik kosnya pun sudah hafal dengan wajah kita. Hanya numpang menghabiskan jam kosong di kosan teman untuk tidur siang sementara pemilik kosnya masih kuliah pun sering dilakukan.

Salah satu momen yang paling mengesankan ya nginep-nginep di kosan teman itu? Banyak cerita bahagianya bahkan kadang ada yang mengalami kejadian horror! Apakah kalian diantaranya?

4. Jalan-Jalan ke Kaliurang

Kaliurang memang salah satu destinasi wisata wajib untuk pelancong yang datang ke Jogja. Sebelum muncul objek-objek wisata kekinian, Kaliurang adalah tempat wisata yang sangat populer bahkan hingga saat ini.

Beberapa objek wisata yang bisa kalian kunjungi di daerah Kaliurang adalah Museum Gunung Merapi, Museum Ulen Sentalu, Area Rekseasi Kaliurang beserta Gardu Pandangnya, juga merasakan hawa sejuk menginap di villa-villa yang banyak disewakan di daerah sana.

Sebagai mahasiswi pendatang pada masanya, aku bersama sahabat-sahabatku juga tidak mau ketinggalan melewatkan momen mengunjungi Kaliurang. Menginap di villa sambil bakar-bakar jagung dan sosis, outbound dan makrab, makan sate kelinci atau sekedar mampir untuk makan nasi klenyer sepulang kuliah di salah satu warung yang berjualan disana. Sungguh a moment to remember.

5. Mencicipi Kuliner Khas Jogja

Kalau ini pasti lah yaa! Namanya kuliner khas suatu daerah tidak boleh sampai lolos. Apalagi Jogja yang terkenal dengan beragam makanan khas, harga miring dan rasa yang menggugah selera. Sejauh apa pun tempatnya, diusahakan datang kesana deh.

Semasa kuliah dulu, aku sering sekali mencoba-coba mendatangi tempat kulineran di Jogja yang terkenal pada masanya. Mulai dari tempat makan dengan harga mahasiswa  hingga kafe-kafe hits  pernah aku singgahi bersama sahabat-sahabatku, bahkan kami rela touring untuk mencicipi kuliner khas Jogja yang tempatnya cukup jauh dari pusat kota.

Selain untuk menghabiskan waktu bersama mereka sambil menikmati hidangan khas Jogja juga untuk memanfaatkan sebaik mungkin momen selama masih di Jogja.

6. Karaokean

Siapakah yang doyan karaokean seperti diriku dulu? Rasanya jika kepala mumet karena memikirkan ruwetnya perkuliahan, karaoke menjadi aktivitas pelepas penat yang tepat bersama sahabat. Dulu sih, sekarang mana ada waktu untuk hore-hore seperti itu? Haha.

Sebelum ujian, setelah selesai ujian, saat bosan datang, ada ulang tahun teman, kumpul bareng teman-teman organisasi atau memakai voucher karaoke sebelum hangus adalah momen-momen dimana karaoke menjadi kegiatan pilihan di samping yang lainnya.

7. Nonton Bareng Rame-Rame

Selain karokean, aktivitas "hura-hura" yang biasa dilakukan oleh banyak mahasiswa/i di Jogja adalah menonton film bersama teman-teman. Aku sendiri merupakan penggemar film dan tidak jarang mengurangi stress dengan cara menonton film. Entah di bioskop atau pun di kosan teman yang lain.

Biasanya kegiatan ini kami lakukan setelah selesai ujian tengah semester, ujian akhir maupun sehabis praktikum untuk mengademkan otak yang ngebul. Hehe.

Hanya dengan menuliskan hal-hal di atas, rasanya sudah senang sekali bisa flashback ke masa-masa kuliah. Biarpun rasanya nggak mau balik lagi, sih, jadi mahasiswi. Cukup lah merasakan kuliah-praktikum-skripsi dan ujian akhir sekali saja. LOL!

Sekian 7 momen paling ngangeni bersama sahabat selama kuliah di Jogja. Kalau kalian, momen apa yang paling kalian rindukan selama kuliah?

Sukabumi, 21 April 2020

Minggu, 19 April 2020

Antimainstream, Ini Alasan Orang Suka di-Spoiler-in!

April 19, 2020 0 Comments

Sebagian besar orang akan bertanya-tanya, "Ada ya orang yang suka di-spoiler-in kalau nonton film?" Tentu saja manusia-manusia anti mainstream itu ada, salah satunya yang sedang menulis tulisan ini.

Ketika sebagian besar orang sebal saat orang lain bercerita mengenai sebuah film hingga akhirnya keceplosan membongkar plot atau kejadian penting dalam film tersebut, aku justru menikmati setiap spoiler cerita. Malah boleh dikatakan kalau aku pasti mencari spoiler film tersebut terlebih dahulu sebelum menonton langsung.

Saat aku mencoba mencari lebih jauh artikel yang berkaitan dengan kebiasaanku ini, ternyata tidak banyak orang yang suka di-spoiler. Mostly, mereka menganggap adanya spoiler akan mengurangi esensi/greget dari film yang bersangkutan, selain itu akan mengurangi minat orang yang tadinya akan menonton film tersebut, juga bisa membuat seseorang tidak akan masuk ke dalam cerita.

Hujatan pasti datang ketika ada orang-orang yang memberikan spoiler, padahal tidak semua orang membenci mereka seperti aku contohnya. Buat yang tidak ingin dapat spoiler, ya jangan buka-buka artikel yang berkaitan atau kalau terlanjur ke-click ya di back saja jangan lanjut membaca atau menonton spoiler-nya.

Tidak hanya film sekali tayang begitu pula dengan drama series, Korean drama mau pun buku, aku lebih senang jika mengetahui gambaran dari keseluruhan ceritanya dari pada penasaran menebak-nebak seperti apa kisahnya. Kok bisa?

Kira-kira, begini alasan orang tertarik pada cerita yang sudah di-spoiler :
1. Bukan Penyuka Surprise
Surprise atau kejutan mungkin menyenangkan bagi sebgian orang termasuk bagi para penikmat film. Tanpa adanya spoiler, adrenalin mereka ketika menonton film akan lebih terpacu untuk menerka-nerka apa yang terjadi pada film tersebut.

Berbeda dengan penikmat spoiler, mereka justru akan kurang menikmati menonton film tanpa tau bagimana kelanjutan ceritanya? Bagaimana akhirnya? Meski pun pada akhirnya mereka akan tetap tau keseluruhan ceritanya setelah menonton hingga tamat. Seperti kalau mau ujian harus diberikan kisi-kisi terlebih dahulu, kira-kira seperti itu.

Aku termasuk orang yang tidak akan hidup tenang sebelum mengetahui akhir kisah sebuah cerita. Aku akan menonton suatu judul drama Korea ketika sudah selesai penayangan semua episode dan harus tau bagaimana ending ceritanya. Berhubung aku tidak suka film-film sad ending, maka mengetahui akhir kisah film itu cukup penting. Lega rasanya jika cerita tersebut memiliki ending bahagia, aku pun bisa menonton dengan tenang dengan tetap bisa masuk ke dalam cerita.

Pernah suatu ketika aku menonton film berjudul If Only yang diperankan oleh Jennifer Love-Hewitt, akhir ceritanya ternyata tidak disangka dan aku pun begitu terpukul saat mengetahui endingnya, terlalu baper juga mungkin nontonnya.

Sama halnya saat menyaksikan ending film The Time Traveler's Wife yang diperankan oleh mas tampan Eric Bana, serius big no deh sama film-film sad ending! Lebih baik aku tidak menonton ketimbang harus berlarut-larut dalam kesedihan.

Berbeda saat aku menonton Avenger's : End Game, aku sudah mengetahui bahwa di akhir kisah Tony Stark akan gugur dalam perang melawan Thanos. Ketika menonton langsung ya tetap sedih dan terharu, tapi sudah mempersiapkan diri sebelumnya sehingga reaksiku tidak berlebihan. Haha. Memang begitu diriku, kalau menonton film itu pasti menjiwai banget sampai bisa baper berkelanjutan.

2. Suka diberikan Kepastian
Kalau ini sepertinya bukan hanya penikmat film saja ya, semua butuh kepastian apalagi para wanita yang sedang harap-harap cemas menunggu kepastian dari pujaan hati. Haha.

Ya kira-kira kayak begitulah, saat para penikmat spoiler belum mengetahui sebagian atau keseluruhan film. Hati ini belum tenang rasanya, menonton pun jadi harap-harap cemas.

Lagi pula, di-spoiler-in tidak akan mengurangi rasa penasaran terhadap film yang akan di tonton karena pencerita pun tidak akan bisa menjelaskan secara totalitas apa yang terjadi dalam film. Sudut pandang antara pencerita dengan kita pun kemungkinan berbeda. Jadi aku sih, woles aja kalau diberikan spoiler. Hehe.

3. Tidak Kepikiran
Ini yang terjadi ketika aku menonton series atau drama Korea dimana seluruh episodenya harus sudah tayang terlebih dahulu, tidak perlu khawatir akan terbayang-bayang kelanjutan kisahnya hingga berhari-hari sembari menunggu episode berikutnya tayang.

Seringnya sih, aku menonton secara maraton untuk memenuhi rasa penasaranku. Padahal sudah di-spoiler tapi tetap saja penasaran. Memang hasilnya adalah mata panda dan kehidupan seperti zombie di hari berikutnya, tapi kan itu tidak berlangsung lama. Jika maraton nonton, paling 2-3 hari sudah bisa menamatkan drama Korea sebanyak kurang lebih 16 episode. Dari pada keburu penasaran hingga terbawa hingga ke alam bawah sadar?


Demikian 3 alasan utama orang-orang seperti aku ini suka di-spoiler-in tentang film, buku atau pun drama dan TV series. Jadi, untuk kalian yang suka spoiler tidak semua menjadi haters kalian kok! Bertemanlah dengan orang-orang seperti kami. Hehe ;p

So, who's with me?

Yogyakarta, 19 April 2020