Kamis, 19 Desember 2019

My First BF Experience

Desember 19, 2019 0 Comments

Kali ini, aku ingin flashback ke tanggal 31 Oktober 2018. Hari pertama dimana aku terbangun dan sadar bahwa statusku sudah berubah menjadi ibu. Pukul 04.00 WIB aku dibangunkan oleh rasa nyeri yang menjalar disekitar perut akibat efek obat bius pasca operasi caesar yang sudah habis, disamping itu aku juga merasa kegerahan karena badanku ditimbun dengan berlapis-lapis selimut. Semalam memang rasanya dingin banget sampai menggigil badanku, kata perawat itu karena efek obat bius dan suhu diruang operasi. Baiklah, masih subuh dan aku masih sangat mengantuk, ku tahan sakit jahitan operasi dan kembali terlelap.

Beberapa jam kemudian, masih dalam kondisi mengantuk aku merasa badanku demam dan tiba-tiba menggigil. Segera ku bangunkan suamiku yang sedang tertidur disofa sebelah ranjangku, ia yang kaget dan kebingungan langsung menekan tombol bantuan untuk memanggil perawat. Tidak berapa lama, perawat pun datang dan memeriksa keadaanku. "Bu, ini PDnya keras sekali. Coba dipompa mungkin ASInya mau keluar tapi tersumbat," katanya. Ia kemudian menyuruhku untuk membersihkan payudara dengan air hangat terlebih dulu dan mengajarkan cara memijat PD agar ASI ku lebih lancar untuk dikeluarkan.

Sumpah waktu itu rasanya PD ku keras seperti batu dan sakiiit sekali. Ngeri deh kalo inget rasanya >.< sampai-sampai suamiku pun beristighfar sambil berkata, "Ya ampun kok sampe kayak gini, yang?" Aku hanya bisa mewek cirambay bombay menahan sakit. Setelah melakukan instruksi perawat yaitu membasuh dengan air hangat dan melakukan pemijatan, suamiku mempersiapkan peralatan pumping dan botol ASIP yang telah disterilkan dari rumah. Proses pumping pun dilakukan dan ASI ku mengalir deras seperti keran air yang baru dibuka, banyak sekali hingga 5 botol kaca berisi masing-masing 100 ml ASI penuh. Habis dong itu botol tapi PD ku masih bengkak juga sakit cenat-cenut. Bayiku saat itu belum dibawa ke kamar karena jadwal ia datang sekitar pukul 07.00 WIB setelah dimandikan.

"Mana botol yang lain? Kan kemarin mas bawain 10," tanyanya. "Ia aku tinggal dirumah, abis kebanyakan botolnya. Kirain nggak kepake semua. Kata orang-orang abis lahiran ASInya belum banyak," jawabku penuh penyesalan. Sok smart banget memang, tidak terbayang ASI ku akan langsung banjir begini dan bakal sesakit ini kalau ASI tidak segera dikeluarkan. Akhirnya pasrah saja baju basah karena kebanjiran ASI dan saat itu aku juga belum punya breastpad. Kacau banget!

Ku pikir saat bayiku datang, ia akan langsung menyusu dengan lahap karena kelaparan dari semalam belum minum apa-apa. Dengan begitu, PD ku akan segera kosong dan tidak sakit lagi. Ternyataa, bayi juga harus belajar menyusu dulu. Ia tidak bisa langsung menyusu dengan benar, setelah beberapa kali percobaan baru berhasil. Itu pun hanya beberapa menit karena ASI ku segera memenuhi perutnya, setelah kenyang ia lanjut tertidur dengan pulas. Harus menunggu 2 jam kemudian baru ia dibangunkan untuk disusui kembali, membangunkan bayi untuk menyusu pun susaah sekali karena anaknya maunya tidur terus. Aku jadi harus terus-terusan memompa PD agar tidak bengkak dan sakit lagi. Nggak kebayang sebelumnya kalau mengASIhi bakalan sebegininya.

Aku kira, semua ibu diseluruh dunia akan mengalami hal yang sama. Habis melahirkan, PD sakit dan ASI nya keluar dengan lancar, meski pun yang aku dengar pada awalnya keluar hanya sedikit. Aku pikir sedikitnya tuh yaa satu atau dua botol kaca ukuran 100 ml lah. Saking clueless-nya dengan dunia perASIan. Namun, mendengar cerita teman-temanku yang melahirkan setelah aku, banyak yang ASInya belum keluar sampai berhari-hari, pumping 1 jam hanya dapat 20 ml. Ada yang sampai anaknya demam dan kuning. What?! Sedih sekali mendengarnya, aku benar-benar bersyukur tidak mengalami hal seperti itu.

Ketika sharing tentang pengalaman mengASIhi dengan teman-teman sesama new moms, banyak yang bertanya tips bagaimana agar ASI ku bisa selancar itu? Selama hamil, aku sama sekali tidak membaca atau pun mencari tau masalah mengASIhi. Makanya ku sebut diatas tadi aku clueless. Aku juga tidak sadar hal apa saja yang membuat ASI ku lancar hingga ASI booster yang diresepkan dari rumah sakit sepulang melahirkan tidak berani ku minum. Kemudian aku mencoba menelusuri kemungkinan apa yang membuat ASI ku bisa lancar sejak hari pertama setelah melahirkan,  lalu setelah membaca dari berbagai sumber sepertinya hal ini yang dapat memperlancar ASI segera setelah melahirkan :
1. Rileks
Selain hormon prolaktin, hormon yang mempengaruhi produksi ASI adalah hormon oksitosin (hormon cinta kata orang-orang). Hormon ini berfungsi untuk merangsang produksi ASI. Keberadaan hormon oksitosin ini sangat dipengaruhi oleh suasana hati seseorang (dalam hal ini ibu), jadi ibu harus merasa happy, rileks dan tidak stress sehingga hormon ini bisa hadir dan ASI pun diproduksi.

Sesaat setelah operasi caesar, yang ku pikirkan hanya TIDUR. Beneran deh, saat itu jiwa keibuanku sama sekali belum muncul. Capek banget setelah menahan kontraksi selama 24 jam lebih dan berujung caesar, tidak ada dipikiranku adegan-adegan seperti film atau video artis-artis yang begitu bahagia hingga menangis terharu biru melihat buah hatinya lahir. Yes, I was so happy at that moment. Setelah bayiku lahir, aku mengucap syukur dan senang melihatnya lahir dengan sehat selamat. Lega banget rasanya, semua lelah selama berjam-jam kebelakang itu memang terbayar lunas. Tapi setelahnya, "plis gue butuh tidur," itu yang aku pikirkan. Urusan bayi besok lagi aja deh! LOL. Untungnya, pihak rumah sakit memang langsung membawa bayiku untuk dibersihkan dan tidur dikamar bayi terlebih dahulu.

Setelah mendapat cukup tidur hingga pukul 04.00 subuh yang kuceritakan diatas, rasanya badanku lebih "fresh", rileks dan tidak ada lagi beban pikiran mengenai proses melahirkan kemarin-kemarin. Fresh-nya dalam tanda kutip karena jauh berbeda dengan fresh yang sebenarnya (hanya after-labor-women yang paham). Mungkin hal ini yang memicu bekerjanya hormon oksitosin dalam tubuhku sehingga beberapa jam setelahnya ASI ku langsung keluar.

2. Rajin Pijat dan Membersihkan PD
Sejak trimester pertama, kk iparku sudah mewanti-wanti agar aku mulai rutin membersihkan area puting dan memijat PD agar aliran darah lancar dan ASI tidak tersumbat kotoran saat waktunya ia akan keluar nanti. Setelah diberitau begitu, aku rajin memijat PD ku pagi dan sore hari setelah mandi menggunakan minyak zaitun. Dari sumber yang ku baca, katanya bisa mencegah timbulnya stretch marks juga, jadi ku rutinkan saja agar kulit tetap mulus. Hehe. Saat mandi, aku pun selalu membersihkan area puting dengan air hangat (iya anaknya manja, karena Bandung dingin mandinya air hangat terus. LOL!). Begitu terus ku lakukan hingga saat-saat terakhir mau melahirkan. Mungkin ini juga menjadi salah satu faktor kekuksesan banjirnya ASI ku segera setelah melahirkan.

Karena pengalaman ini, aku rajin sekali menginformasikan pada teman-temanku yang sedang hamil agar rutin melakukan tips No.2 ini. Kurang tau juga apakah efeknya akan sama setiap orang, namun tidak ada salahnya mencoba. Nggak lama kok, cukup 2-3 menit aja membersihkan dan memijatnya, oiya jangan keras-keras juga karena malah dapat memicu kontraksi sebelum waktunya.

Masih banyak tips-tips lainnya yang silahkan baca sendiri dari berbagai artikel dan jurnal karena yang aku share hanya berdasar pengalamanku. Tambahan untuk tips berikutnya adalah perbanyaklah mencari informasi, jangan jadi seperti diriku yang clueless begitu mengASIhi dimulai. Banyak ibu-ibu hamil yang fokus mencari informasi mengenai kesehatan janin dan bagaimana agar proses persalinan bisa lancar namun tidak mencari tau sama sekali tentang proses mengASIhi yang perjuangannya hingga 2 tahun.

Begitulah cerita pengalaman pertamaku mengASIhi setahun yang lalu. Semoga tulisanku ini bisa bermanfaat untuk yang membacanya. See you!

Sukabumi, 19 Desember 2019

Senin, 16 Desember 2019

Honest Review : Lumba Playmat

Desember 16, 2019 0 Comments

Dalam tulisan kali ini, aku ingin mencoba untuk membagikan pengalamanku menggunakan bumper bed dari Lumba Playmat (IG : @lumbaplaymat). Saat anakku berusia 5-6 bulan, ia sedang aktif-aktifnya berguling kesana kemari. Kita meleng sedikit dirinya sudah sampai ke pinggir kasur, ditinggal sebentar sudah menangis karena terjatuh dari kasur. Bikin was-was dan khawatir, apalagi anakku tipe anak yang speak less do more, tak bersuara tiba-tiba sudah menclok dimana-mana.

Saat tinggal dirumah mertua, posisi kamarku berada dibelakang, dekat dengan dapur dan jauh dari ruang tengah (ruang keluarga). Hal ini membuatku harus menggendong-gendong anakku ketika aku ingin duduk-duduk atau mengobrol dengan anggota keluarga lain diruang tengah. Untuk sekedar buang air kecil pun harus mencari orang yang bisa dititipkan anak bayi walau hanya sebentar, karena meninggalkannya dikamar sendirian sangat riskan meskipun kasurku tidak menggunakan dipan. Sulit sekali pergerakanku jika kemana-mana harus sambil membawa bayi.

Akhirnya aku melakukan penelusuran terkait "tempat bermain" anak, sampailah temuanku pada Lumba Playmat. Langsung tertarik dong, ketika melihat review-review di Instagramya. Dibandingkan dengan panel fence (parklon fence) yang didalamnya harus ditambahkan playmat lagi, rasanya kok ribet ya (no ribet-ribet club) karena pagar-pagarnya harus dipasang satu per satu, dalamnya diberi alas lagi. Melihat bumper bed Lumba, kelihatannya tinggal pakai aja tanpa sibuk nganu-nganu lainnya.

Kemudian aku mencari tau spesifikasi dari bumper bed ini, berikut hasilnya (bulan April 2019):
- Product Name : Bumper Bed
- Material Product : Aircell Pads & amp; Premium Soft Colour Waterproof PU Leather
- Product Size
Jika dijadikan playmat : 200 x 200 x tebal 5 (cm)
Jika dijadikan box : 100 x 150 x 50 (cm)

Buat yang mau mencari tau lebih detail, monggo kepo IGnya. Hehe.. Jujur yang paling aku fokuskan adalah pada ketebalan dari bumper bed ini. Bagi pasangan yang sudah memiliki anak dan sedang lincah-lincahnya bergerak, tau lah ya betapa seringnya si bocah kejedot dan nyungsrug karena tingkah polahnya. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan suami kami sepakat untuk mengadopsi satu bumper bed dari Lumba Playmat tanpa tau berapa harga produk tersebut. Ternyata harganya Rp.4.500.000,- sebagai sobat misqueen mikir-mikir juga kalo segitu! Nabung dulu aja deh, siapa tau ada diskon.

Memang dasar kalau rejeki nggak kemana, saat bulan ramadhan tiba, Lumba Playmat mengadakan promo dari harga 4.5 juta menjadi Rp.2.499.000,- langsung aku berdiskusi lagi dengan suamiku dan memutuskan untuk membeli produk tersebut. "Biar nggak kebanyakan mikir, nanti nggak jadi-jadi," begitu kata suamiku. Haha. Akhirnya aku menghubungi admin Lumba dan ternyata harus Pre-Order (PO) karena bumper bed baru akan diproduksi lagi setelah lebaran. Bagus deh, bisa nunggu THR dulu! Aku kemudian melakukan pemesanan untuk bumber bed Scandinavian Living yang merupakan perpaduan warna blue sky, soft grey, soft purple dan baby blue. Kemudian aku mentransfer uang muka sebesar Rp.500.000,- dan pelunasan dibayarkan setelah bumper bednya selesai dibuat. Oiya, harga tersebut belum termasuk ongkos kirim yang mana pengiriman dilakukan dari Bandung, biaya ongkos kirimku saat itu adalah Rp.90.000,-

Scandinavian Living, My Bumper Bed by @lumbaplaymat

Setelah produksi bumper bed pesananku selesai, admin menghubungiku untuk melakukan pelunasan. Kemudian, keesokan harinya bumper bed dikirim ke rumah. Saat itu aku menunggu suamiku pulang dulu untuk memasang bumper bednya (mager masang sendiri). Anakku menunjukkan raut wajah yang begitu excited ketika melihat "mainan baru"nya itu dipasang.

Kesanku setelah menggunakan bumper bed dari Lumba Playmat adalah worth to buy. Banyak sekali manfaat yang aku dapatkan dengan adanya bumper bed ini, yang paling utama adalah tidak khawatir meninggalkan anak sendirian ketika aku ada keperluan seperti ke kamar mandi, makan, dan kegiatan lain yang rempong kalau harus bawa-bawa anak kemana-mana. Jika anakku bosan ditinggal agak lama, paling dia ngoceh-ngoceh dan menangis. Setidaknya aku tidak khawatir dia terantuk, terjatuh dan terpentok lantai, kursi, meja atau barang-barang keras lainnya.

Untuk anakku sendiri, bumper bed ini membantu sekali dalam proses ia belajar duduk, merangkak, berdiri, merambat hingga berjalan. Bahkan sekarang ia sedang gencar-gencarnya bereksperimen memanjat pagar dari bumper bednya. LOL. Bahannya yang tebal membuat ia tidak takut jatuh saat mencoba keahlian barunya seperti berdiri dan berjalan. Saat aku tinggal mandi atau memasak, anakku pun memiliki tempat yang aman untuk ia me time bersama mainan atau pun bukunya.

Hingga saat ini dimana anakku memasuki usia setahun lebih dua bulan, bumper bed dari Lumba Playmat masih menjadi andalanku ketika aku sedang beberes rumah, terutama saat ngepel lantai, mandi, memasak dan kegiatan rumah tangga lain yang sulit jika dilakukan seraya membawa anak atau meninggalkannya bermain sendiri karena ia sudah bisa menjelajah ke semua sudut rumah dan khawatir terjadi sesuatu jika tidak terpantau.

Sepengelihatanku di IG, saat ini Lumba Playmat sudah mengeluarkan produk generasi terbaru dari bumper bed yang material dan ketebalannya berbeda dengan bumper bed milikku (generasi sebelumnya), selain itu motifnya juga lebih bervariasi. Silahkan cek IGnya sendiri ya. Dengan harga sekian juta tersebut, menurutku barang ini worth to buy! Semoga review dari aku ini bisa membantu para orang tua yang sedang memilih dan memilah "tempat bermain" yang cocok untuk anak-anaknya.

Sukabumi, 16 Desember 2019

Kamis, 12 Desember 2019

Ibu Profesional (Ep. Pendaftaran Kelas Foundation)

Desember 12, 2019 2 Comments

Pada tulisan beberapa waktu lalu yang judulnya Berkomunitas, aku sudah menyinggung mengenai komunitas yang saat ini aku ikuti yaitu Ibu Profesional. Dalam tulisan kali ini, aku ingin bercerita saat aku mendaftar untuk kelas Foundation pada bulan November 2019 lalu.

Sekilas tentang Ibu Profesional, setelah berselancar melalui internet yang aku tangkap tentang apa itu Ibu Profesional adalah suatu komunitas yang mewadahi ibu mau pun calon ibu untuk memberdayakan dan meningkatkan kualitas dirinya sebagai ibu, istri dan perempuan. Hmm.. Terdengar relatable sekali dengan diriku yang butuh upgrade ilmu dan skill parenting ini. Akhirnya, setelah kepo sana sini aku memantapkan diri untuk mendaftar dalam kelas Foundation yang akan dibuka pada bulan November 2019.

Apa itu kelas Foundation? Yaitu kelas persiapan sebelum kelas Matrikulasi (Pra-Matrikulasi). Metode belajarnya menggunakan aplikasi sejuta umat yaitu Facebook, dan akan berlangsung selama 4 minggu. Pada kelas Foundation ini, para calon anggota akan diperkenalkan lebih dalam mengenai Ibu Profesional dan komponen-komponen yang ada didalamnya serta nilai-nilai dari Ibu Profesional itu sendiri. Ibarat rumah, kelas Foundation ini adalah pintu gerbangnya sebelum kita memasuki pintu utama kelas Ibu Profesional lainnya.

Setelah mantengin feed Instagram (IG) @institut.ibu.profesional, aku mendapat informasi bahwa pendaftaran akan dibuka tanggal 13 November 2019 pukul 19.00 WIB. Yang harus dipersiapkan adalah link account Facebook dan uang sebesar Rp.200.000.- untuk keanggotaan seumur hidup. Tepat pada tanggal dan waktu yang ditetapkan, aku langsung cuss mengisi formulir yang disediakan di website Ibu Profesional dan menunggu email balasan. Pendaftaran sempat ditutup sementara akibat banyaknya pendaftar dan panitia harus memverifikasinya satu per satu.

Beberapa saat setelah aku mengisi formulir, aku diundang ke Whatsapp Group (WAG) Pra-Foundation Ibu Profesional (IP) regional Sukabumi. Disana aku berkenalan dengan para senior IP Sukabumi dan calon anggota yang akan menjadi teman seangkatanku. Setelah bertukar informasi, ternyata banyak yang belum mendapatkan email balasan untuk melakukan transfer termasuk aku. Kalau belum transfer, kami tidak akan dimasukkan ke dalam Facebook Group Ibu Profesional dimana materi kelas Foundation akan dibagikan disana. Beberapa senior meminta kami untuk bersabar karena banyaknya orang yang mendaftar sehingga balasan email membutuhkan waktu lebih.

Hingga tanggal 15 November menjelang magrib, aku belum juga mendapatkan balasan dari tim IP pusat sehingga aku berinisiatif untuk mengirimkan email pada salah satu panitia yang alamatnya tercantum di IG Ibu Profesional. Tidak berapa lama, aku di Whatsapp untuk segera melakukan pembayaran. Lahh, tau gitu gue email dari kemarin-kemarin nggak cuma pasrah nunggu doang! Pendaftaran ditutup tanggal 15 November 2019 pukul 21.00 WIB. Segera aku melakukan transfer karena waktu menunjukan hampir jam 19.00 WIB. Setelah itu aku melakukan konfirmasi via WA dan kembali mengisi formulir via Google.

Selanjutnya setelah mengisi formulir konfirmasi pembayaran, aku bertanya pada salah satu senior IP Sukabumi untuk langkah selanjutnya. Beliau berkata bahwa aku hanya tinggal menunggu untuk diundang masuk ke Grup FB Ibu Profesional. Pertemuan awal kelas Foundation akan dimulai pada tanggal 20 November 2019, oleh karena itu dipastikan sebelum tanggal tersebut seluruh calon anggota sudah bergabung dalam Grup FB Ibu Profesional. Namun, hingga tanggal 19 November 2019 aku belum juga dikirimkan email yang berisi link untuk gabung ke FB Grup IP. Ternyata beberapa calon anggota juga senasib seperti diriku dan lagi-lagi kami diminta untuk bersabar karena calon peserta yang sangat banyak sehingga butuh waktu lebih banyak untuk mengirimkan email.

Memang dasar aku orangnya tidak sabaran, kembali ku WA panitia pusat Ibu Profesional agar mengirimkan link FB Grup IP tersebut. Beberapa menit kemudian, panitia mengirimkan link yang dimaksud. Lagi-lagi, tau gitu dari kemarin-kemarin aku berinisiatif menghubungi panitia pusat. Setelah membuka link yang dikirimkan, aku segera mengklik pilihan Join untuk bergabung bersama calon anggota lainnya di grup besar FB Ibu Profesional. Eh, ternyata masih harus menunggu konfirmasi lagi dari admin untuk masuk ke dalam grupnya. Ku kira semua sudah beres dan aku tinggal menunggu saat pertemuan pertama kelas Foundation tiba.

Hingga esok harinya yaitu tanggal 20 November 2019 dimana malam harinya kelas Foundation sudah dimulai, admin FB Ibu Profesional belum juga mengkonfirmasi permintaanku untuk bergabung dalam grup. Tanpa bertanya pada senior, langsung aku hubungi lagi panitia pusatnya untuk memasukkanku dalam grup FB. Setelah meminta nama lengkap, email serta account FB ku, tidak sampai 10 menit aku sudah dimasukkan ke dalam grup FB yang konfirmasinya ku tunggu-tunggu dari kemarin. Malam harinya, mulai deh aku ikut belajar dalam kelas Foundation Ibu Profesional Batch 8.

Saranku untuk kalian yang tertarik ikut dalam komunitas ini dan berniat mendaftar di periode selanjutnya, berinisiatif lah untuk menghubungi panitia pusat baik melalui email mau pun chat via WA saat kalian belum menerima konfirmasi dari pihak IP pusat. Seperti pengalamanku kemarin, mungkin peserta yang mendaftar sangat banyak hingga panitia sendiri kewalahan dalam memverifikasi data yang butuh ketelitian tersebut, jadi tidak ada salahnya jika kita membantu mereka sehingga mereka tau, "Ini loh ternyata ada yang belum dikonfirm.." kira-kira seperti itu menurut pendapatku.

Sukabumi, 12 Desember 2019

Rabu, 04 Desember 2019

Mom's Roller Coaster

Desember 04, 2019 0 Comments


Pagi ini, my baby boy yang biasanya bangun tidur happy berubah menjadi susah sekali dikendalikan. Rutinitas pagi kami bangun tidur, jalan-jalan pagi, sarapan, mandi, bermain hingga ia mengantuk dan tidur lagi. Anak seumur dia senang dengan keteraturan, bukan? Entah mengapa pagi ini ia lalui dengan cranky, setelah papanya berangkat kerja dan aku mengajaknya jalan pagi setibanya dirumah ia sibuk minta gendong dan menangis. Kegiatan makan pun diselingi dengan tangisan karena ia ingin segera digendong. Aku pun tidak sempat menyantap sarapan pagi karena begitu akan menyendok makanan, tangisannya pecah membuat telingaku sakit. Dengan emosi, ku akhiri sesi makan pagiku yang bahkan belum sempat dimulai untuk kembali menggendongnya.

Ternyata banyak sekali emosi yang terkuras setelah melewati masa setahun menjadi ibu. Happy? Yes ofcourse, Sad? Sometimes, Frustation? Almost everyday, Angry? Hell to the yeah, dan emosi lain yang sulit dijabarkan dengan kalimat. Jika mengingat masa morning sickness saat hamil dan pedihnya jahitan caesar pasca melahirkan, rasanya itu semua belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan merawat dan membesarkan anak. Pernah sih membayangkan betapa rempong dan sulitnya mengasuh anak, tapi tidak terbayang akan serumit ini. This is my biggest challenge I've ever had! Tanggung jawabnya besar sekali sebagai orang tua karena akan dimintai pertanggung jawabannya langsung oleh Tuhan yang memilih kita sebagai ibu dan ayah.

Tak terhitung memang kebahagiaan yang didapat saat bisa melihatnya tumbuh dan berkembang hingga besar, namun tak terhitung juga banyaknya rasa sesak yang harus ditahan saat mengatur emosi menghadapi tingkah polahnya. Jadi bahagia sama emosinya tuh sebelas duabelas gitu, LOL! Salut sih, sama orang-orang yang memutuskan untuk memiliki banyak anak contohnya mertuaku yang punya 7 anak atau kakek nenekku yang anaknya 6, walau pun nggak tau juga bagaimana management emosi mereka melalui masa-masa membesarkan anak dulu. Jujur saja, hingga saat ini aku belum terpikir untuk memberi anakku adik karena aku sendiri masih merasa memiliki banyak sekali kekurangan dalam pengasuhan anak dan masih meraba-raba mencari bagaimana pola pengasuhan anak yang terbaik versiku.

Banyak hari-hari yang kulalui dengan gembira setiap saat bersama anakku jika ia menurut, tidak banyak menangis, makan dengan lahap dan bermain dengan ceria. Senang sekali bisa menemaninya seharian itu. Ada juga hari-hari dimana ia menjadi sulit dikendalikan seperti pagi ini misalnya saat sakit, tumbuh gigi, ogah-ogahan makan, tidak mau mendengarkan dan maunya digendong terus. Senangnya tetap ada, tapi dengan tambahan capek, lelah, mumet dan kesal yang jadi terasa. Kadang aku merasa bersalah saat marah padanya, saat merasa sebal dan kesal ketika menghadapinya, namun ada sisi pembelaan bahwa aku juga manusia yang bisa merasakan berbagai emosi. Dikira mentang-mentang statusnya ibu terus jadi robot yang tidak bisa merasakan roller coaster emosi?

Ada kalanya ketika suamiku pulang kerja, aku akan bercerita bagaimana bahagianya seharian karena anakku baru bisa melakukan sesuatu, tidak menangis saat aku mandi atau memasak, makan tanpa perlawanan dan bermain dengan gembira bersama mamanya. Namun, sering juga aku berkeluh kesah tentang anakku yang hari itu makannya dilepeh, susah disuruh tidur siang, maunya main sesuatu yang berbahaya dan menangis saat dilarang. Entah mana yang lebih banyak ku ungkapkan pada suamiku, yang jelas tidak jarang aku berkata bisa stress jika begini terus. Keesokan harinya, mood bisa berubah lagi mengikuti kelakuan bocah. What a life~

Aku sangat berharap bisa melewati roller coaster kehidupan sebagai ibu ini dengan tetap waras, membesarkan anakku sehingga ia menjadi sosok yang jauh lebih baik dari kami kedua orang tuanya. Stay strong menjadi anak mama ya, Kid! And I'll try to be your best mommy, too...

Sukabumi, 4 Desember 2019

Selasa, 03 Desember 2019

Mencintai Membaca

Desember 03, 2019 2 Comments

Sedari kecil, kedua orangtuaku rajin membelikan kami (aku dan adik-adik) buku bacaan. Entah dimulai sejak kapan, yang ku ingat aku punya banyak sekali ensiklopedia dan ratusan buku bacaan hingga kami bisa membuka perpustakaan mini dirumah dan menyewakan buku bacaan yang mana pelanggannya saat itu adalah tetangga sekitar rumahku.

Ayahku memang seorang pecinta membaca. Koleksi bukunya pun berlemari-lemari, aku sadar bahwa beliau lah yang paling berjasa dalam menanamkan minat membaca pada aku dan adik-adikku. Ketika kami kecil, sering sekali kami mengunjungi toko buku dan diberi jatah untuk membeli 2-3 buku. Masih terngiang bagaimana bahagianya aku saat mencium aroma buku-buku baru ditoko buku dan sibuk memilih buku bacaan yang akan dibawa pulang.

Setelah dewasa, aku memang tidak sesering dulu pergi mengunjungi toko buku. Karena banyak alasan, aku lebih sering membeli buku via online shop yang mana lebih mudah dan fleksibel untuk seorang mama yang sehari-harinya mengurus rumah seperti aku. Hingga saat ini, aku masih suka sekali membaca. Genre buku bacaanku saat ini sudah jauh berubah, jika dulu aku penggemar komik dan novel maka sekarang aku lebih sering berburu buku-buku berbau parenting. Ingin sih sesekali kembali tenggelam dalam imajinasi saat membaca novel, namun tetap buku parenting dan tentang tumbuh kembang anak lebih menarik hatiku saat ini. Haha *emakemaklyfe

Aku pun ingin menanamkan kecintaanku terhadap buku pada anakku yang saat ini genap berusia 1 tahun. Sejak dia baru lahir, aku sudah membelikannya berbagai buku bacaan. Ada saja yang berkomentar aku terlalu berlebihan membelikannya buku sejak bayi, tapi aku yakin kalau minat membaca itu tidak datang secara instan dan harus dimulai sedini mungkin. Lagi pula, lumayan kan kita bisa killing time berfaedah dengan membacakan cerita pada anak kita dibanding memberinya tontonan melalui youtube.

Mulanya, anakku tidak menunjukan ketertarikan pada buku-buku bacaannya. Saat memberinya buku, maka ia akan menyingkirkannya. Tapi, namanya ibu pantang menyerah aku terus saja membacakannya cerita dan menunjukkan gambar-gambar yang ada pada bukunya. Sekarang, aku mulai melihat hasil yang nyata dimana anakku suka sekali membawa buku bacaannya yang dulu ia singkirkan. Saat ia bosan dengan mainannya, ia akan mengambil salah satu bukunya dan memintaku untuk membaca bersamanya. Bahkan, saat ku tinggal untuk masak atau mandi kadang aku melihatnya sibuk membuka-buka halaman bukunya dan babbling sendiri sambil menunjuk gambar yang ada dibuku. Padahal, aku menyalakan televisi juga supaya dia tidak bosan dan bisa menonton tv tapi dia lebih memilih buku. Proud of you, Kiddo!

Misiku untuk menjadikan anakku seorang yang cinta membaca seperti kakek-kakeknya (ayah dan ayah mertuaku) didukung oleh suamiku. Dia bukan seorang penggemar buku sepertiku, koleksi bukunya bahkan hampir tidak ada. Haha. Tapi dia melihat sisi positif ketika aku mengenalkan buku pada anak kami, terutama saat hingga sekarang anak kami nyaris tidak kenal gadget kecuali untuk video call dengan kakek-neneknya atau sekedar berswafoto. Ia juga tidak (belum) begitu tertarik dengan televisi kecuali nonton pada waktu makan (pelanggaran detected!).

Kedepannya, aku ingin terus menumbuhkan dan memupuk kecintaan membaca pada anakku sama seperti orang tuaku melakukannya terlebih dahulu padaku. Ingin sekali membesarkan anak yang gemar membaca sehingga ia menjadi anak yang berwawasan luas dan mampu berpikir kritis. Bukan ambisius namun salah satu harapan yang semoga selalu istiqomah sehingga menjadi nyata :)

Sukabumi, 3 Desember 2019