Minggu, 24 November 2019

Berkomunitas

November 24, 2019 0 Comments

Berorganisasi sudah menjadi hobiku sejak jaman SMA. Rasanya senang sekali bisa menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan ikut banyak kegiatan, daripada diam dirumah killing time entah ngapain hingga waktu tidur malam tiba. Saat SMA, aku aktif di ekskul Teater PDTORAKS, i-Earn, English Debating Club dan Klub Biologi. Banyak ya ternyata? Haha. Dari kegiatan-kegiatan tersebut, tak jarang aku mengikuti lomba dan mendapat banyak pengalaman seru. Meski pun tidak selalu menang, rasanya hidupku lebih berfaedah dengan padatnya aktivitas itu.

Begitu pula dengan masa-masa menjadi mahasiswi. Disemester awal, aku cukup shock dengan kegiatan perkuliahan dan jadwal praktikum yang begitu menyita waktu seharian. Rasanya pulang kuliah capek, badan sudah remuk dan ingin tidur saja di kos. Malamnya, harus berkutat dengan laporan praktikum dan belajar untuk pre-test praktikum esok harinya. Begitu terus hingga hampir 3 semester, akhirnya aku menemukan ritme belajar dan terbiasa dengan kesibukan kuliahku. Kemudian, aku memutuskan untuk berorganisasi lagi demi eksistensi. Haha, nggak ding! Buat tambah pengalaman dan relasi tentunya. Aku pun aktif di BEM KMFA, IPSF (International Pharmaceutical Student Federation), Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia (JMKI) dan Unit Kegiatan Mahasiswa GMCO (Gadjah Mada Chamber Orchestra).

Bersama Gadjah Mada Chamber Orchestra

Mengikuti organisasi dimasa kuliah jauh lebih menyenangkan. Aku berkesempatan untuk bertualang ke Korea Selatan dan Swiss, menjadi Team Leader dalam acara simposium mahasiswa farmasi seAsia, mengadakan konser orkestra dengan bintang tamu orang-orang ternama seperti Addie MS, Lea Simanjuntak hingga flutist asal Argentina, Eduardo Tami, dan masih banyak sekali pengalaman seru dan menyenangkan yang sangat panjang jika dijabarkan dalam kalimat dipostingan ini. Poin plusnya lagi, aku mendapat teman-teman yang hingga saat ini menjadi zona nyamanku layaknya keluarga. Baik teman-teman satu fakultas mau pun satu universitas. Sampai sekarang kami masih sering berkomunikasi, bertukar cerita dan membuat janji untuk meet up saat berada dikota yang sama.

Saat Menjadi Panitia dalam Asia Pacific Pharmaceutical Symposium

Setelah resign dan menikah, aku ikut tinggal dengan suami dan keluarganya dikota Bandung. Komunitasku hanyalah keluarga suamiku dan beberapa teman kantor yang sudah jarang sekali kutemui. Sebenarnya Bandung adalah gudangnya komunitas, banyak sekali komunitas atau organisasi yang bisa kuikuti saat itu. Namun sulit karena kondisi yang memang belum memungkinkan, apalagi saat harus mengurus newborn baby seorang diri tanpa bantuan pengasuh. Pergi ke Indomaret atau Alfamart saja sudah bahagia. Jadilah aku memilih bertahan untuk tidak berkomunitas hingga waktu yang dirasa tepat datang.

Akhirnya aku pindah ke Sukabumi ikut suamiku yang pindah kerja disini, tentunya bersama si kecil yang sudah beranjak besar. Aku yang tidak punya siapa-siapa dikota ini selain keluarga kecilku, memutuskan untuk mulai aktif mencari-cari kegiatan lain guna menambah ilmu dan mendapat teman baru. Setelah melakukan pencarian dan survey berbagai organisasi yang ada diSukabumi, pilihanku jatuh pada Ibu Profesional. Suatu organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas peran para wanita baik sebagai ibu, istri mau pun sebagai individu. Begitu waktu pendaftaran tiba, tidak membuang-buang waktu aku langsung ikut mendaftar dan saat ini telah bergabung dengan WA Group (WAG) Ibu Profesional Regional Sukabumi (IP Sukabumi).

Kegiatannya memang lebih banyak dilakukan secara online, via facebook dan WAG namun diluar itu komunitas IP Sukabumi juga sering melakukan berbagai kegiatan offline berupa kopi darat para anggota yang dikemas menjadi kegiatan amal mau pun sosial. Jujur saja aku baru mengikuti beberapa kali pertemuan kelas, tapi aku merasa pilihanku untuk mengikuti Ibu Profesional ini tepat karena memiliki visi dan misi yang kurang lebih sama denganku. Mungkin nanti aku akan membahas lebih lanjut mengenai apa itu Ibu Profesional dan kegiatannya dalam tulisan selanjutnya! Selamat berkomunitas lagi, dear myself ;))

Sukabumi, 24 November 2019




Rabu, 20 November 2019

Behind the SAHM

November 20, 2019 0 Comments

Tulisan ini merupakan suatu ungkapan rasa kecewa pada beberapa orang terdekat. Sering membaca sih, terkadang sumber toxic terbesar justru ada dilingkungan sendiri, ternyata memang benar seperti itu yang terjadi pada diriku.

Memilih untuk menjadi Stay At Home Mom (selanjutnya disebut SAHM) adalah murni pilihanku, sebelum menikah aku dan suami sudah sepakat bahwa aku akan tinggal dirumah mengurus rumah dan anak-anak (kelak). Alasannya, pertama karena suamiku pernah bilang bahwa ia lebih bangga punya istri sebagai SAHM dibanding yang kerja kantoran/diluar rumah. Ia berkata kerjanya akan lebih tenang jika rumah dan anak-anak ditinggal bersama istrinya, bukan orang lain. Kedua, karena aku yang cenderung perfectionist dan tidak mudah percaya pada orang memilih untuk membesarkan anak dengan mendampinginya sendiri. Aku ingin mendidik anakku sebaik yang aku mampu tentunya dengan membekali diri dengan ilmu parenting yang up to date dan sesuai dengan yang ingin ku terapkan.

Menjadi SAHM bukanlah hal yang mudah bagiku. Jujur saja aku yang terbiasa dengan kehidupan bangun siang, makanan selalu ada, baju selalu rapih dan wangi, rumah dan kamar selalu bersih, benar-benar harus beradaptasi dengan kehidupan baru sebagai SAHM. Memang aku pernah merasakan tinggal dikosan dimana aku beres-beres kamar kosan dan mengurus hidupku sendiri, but that's totally different guys! Kosan gue berapa sih ukurannya dibanding rumah yang sekarang gue tempatin, yekaan?

Sering banget kepikiran, "Gilak gue capek-capek kuliah lima tahun ujung-ujungnya ngebabu dirumah!" atau merasa minder melihat pencapaian teman-teman seangkatan bahkan dibawah diriku yang saat ini karirnya melesat, travelling keliling Indonesia bahkan Eropa, melanjutkan sekolah. Ada masa dimana aku melamun dan berpikir "Kalo gue nggak seperti ini, mungkin gue akan mencapai apa yang menjadi cita-cita gue selama ini!" Buru-buru ku tepis pikiran tidak bersyukur semacam itu. Memiliki suami yang luar biasa baik serta dikaruniai seorang buah hati yang lucu dan senantiasa mewarnai hari-hariku, harusnya membuatku semakin banyak mensyukuri apa yang Allah telah berikan. Belum tentu mereka yang karirnya melejit lebih bahagia dengan hidupnya, dan mungkin mereka yang suka travelling keliling Indonesia sedang mencoba mencari kebahagiaannya diluar sana.

Aku pun saat ini sudah merasa enjoy dengan apa yang menjadi kegiatanku sehari-hari. Tidak lagi berpikir untuk kembali bekerja kantoran dan meninggalkan anak bersama nanny atau menitipkannya di daycare. Nggak pengen kerja lagi? Tentu saja iya! Aku sudah memiliki rencana untuk menjadi freelancer, tinggal menunggu waktu yang tepat karena saat ini anakku sedang memasuki fase aktif-aktifnya sehingga sulit bagiku mengatur waktu antara bekerja dan membersamainya. Prioritasku yang utama adalah keluargaku, pekerjaan lain bisa menunggu.

Dibalik keputusanku menjadi SAHM, ternyata banyak pihak-pihak (sebut saja netizen) yang tidak suka dengan apa yang aku lakukan. Saat bertemu dengan salah satu kerabat yang cukup dekat, ia membeberkan bahwa beberapa saudara kami tidak suka dengan aku yang diam dirumah dan tidak ngantor. Komentar yang mereka lontarkan antara lain :

- "Ima tuh pinter, lulusan Farmasi UGM, banyak kegiatannya selama kuliah sampai ke luar negeri segala. Tapi sekarang kok oon, berhenti kerja dan diam dirumah doang?!"
- "Kok mau sih dia, tinggal sama mertua terus sekarang ngontrak rumah. Nggak beli rumah aja sekalian? Nggak kerja sih. Tapi kan Bapaknya kaya, tinggal minta uang aja padahal."
- "Harusnya Ima tuh kerja, sayang ijazahnya. Nanti kalo suaminya selingkuh atau cerai, sakit atau meninggal, pasti bingung sendiri nggak ada kerjaan. Padahal biaya anak itu nggak sedikit."

Yang terbesit dipikiranku saat mendengar kerabatku bercerita demikian adalah, "Wow! Hebat banget apa ya hidup mereka sampe ngomen hidup gue kayak gitu?!" Jujur saja, aku tidak peduli dan tidak akan memikirkan apa yang mereka katakan. Bawa woles aja, Bray! Namun aku kecewa karena dibalik wajah manis mereka saat bertemu diriku, ada kata-kata berbisa yang membuatku cukup sakit hati menerima komentar mereka. Nggak nyangka aja mereka bermuka dua.

Untuk menghindari diri dari pengaruh komentar Toxic People seperti itu, berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan :
1. CUEK
Ada dua kemungkinan mengapa netizen berkomentar, pertama karena mereka iri pada pencapaian kita dan kedua karena pengalaman pribadi mereka sendiri. Cuekin aja, shaay! Apa sih pengaruh komentar mereka sama hidup kita? Kalau pun aku kembali bekerja kantoran, memang mereka mau bertanggung jawab mengurus anak dan rumahku disini? Kalau aku beli rumah, terus apa hubungannya sama mereka? Mau numpang tinggal, gitu? Beban hidup sudah banyak, jangan ditambah dengan memikirkan hal-hal yang tidak berfaedah untuk hidup kita.

2. FOKUS PADA TUJUAN
Mereka boleh saja tidak menyukai keputusanku untuk menjadi freelancer, "Duinya nggak seberapa," kata mereka. Lha terus kalo gue dapet duit situ mau minta bagian? Capek deh! Kita pun tidak wajib bertanggung jawab pada ketidaksenangan netizen terhadap diri kita. Emang mereka siapa wajib kita bahagiakan? Tugas utama kita sebagai seorang individu tentunya membahagiakan diri sendiri. Rumah membutuhkan figur ibu yang bahagia untuk menghidupkan lingkungan menjadi bahagia juga. Saat ini, fokus dan tujuanku adalah mendidik dan membesarkan anak. Selain itu, aku juga sedang semangat-semangatnya belajar untuk menjadi seorang istri yang lebih baik lagi dalam menjalankan peranku dirumah.

Memang hidup akan selalu butuh uang, mau apa-apa butuh uang. Yes, I do love money! Tapi, membersamai anak melewati Golden Age-nya bukan merupakan kesempatan yang bisa diraih oleh semua orang. Kesempatan itu datang padaku dan aku ingin memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Jadi, daripada memikirkan komentar pedas netizen yang menganggap aku oon lebih baik aku fokus pada tujuan yang ingin aku capai.

Mungkin dua hal diatas bisa diterapkan agar kita tidak terpengaruh komentar dari toxic people. Ingatlah pepatah lama, Anjing menggonggong khafilah berlalu. Terserah mereka deh mau ngomong apa, yang mengetahui basic needs serta menjalankan roda kehidupan adalah kita sendiri. Jangan buat komentar mereka membuat kita jatuh dan terpuruk. Remember, happy mommy raise a happy kid!

Sukabumi, 20 November 2019

Rabu, 06 November 2019

Menuju Tahun Kedua

November 06, 2019 0 Comments

Dua tahun lalu, awal November 2017 tepatnya tanggal 4 November hari Sabtu, aku resmi dilamar oleh seseorang yang menjadi suamiku sekarang. Pernikahan kami berlangsung selang 2 bulan kemudian yaitu tanggal 14 Januari 2018. Tak terasa waktu bergulir hingga hampir 2 tahun berjalan.

Boleh dikatakan kehidupan pernikahan tidak semulus cerita-cerita dongeng dimana setelah menikah they live happily ever after. Tidak sedikit sifat mau pun karakter dari pasangan yang kadang bikin greget untuk ku komentari, mungkin demikian pula dengannya. Tidak jarang kami berdebat untuk hal-hal sepele sampai akhirnya kami lebih baik menyudahi sesi adu argumen dan mengganti topik pembicaraan lain karena menyadari "apaan sih ini gak penting banget yang didebatin,". Kadang aku merasa begitu kesal hingga malas rasanya mau ngobrol dengannya, tapi menyadari bahwa ia sekarang adalah suamiku buru-buru aku mengeyahkan perasaan itu dan selalu mencoba untuk membangun komunikasi yang efektif saat kami menghadapi masalah.

Setelah si kecil hadir diantara kami, kehidupan rumah tangga kami semakin berwarna. Pembahasan kami saat pillow talk lebih sering tentang bagaimana kegiatan si anak kecil hari itu disamping obrolan ringan lainnya. 

Photoshoot sesaat setelah prosesi lamaran

Waktu kami untuk berduaan setelah memiliki anak tentunya tidak sebanyak dulu sebelum anak kami lahir. Memutuskan untuk tidak membayar jasa nanny dan ART, kami berdua lah yang berbagi tugas mengurus anak dan rumah. Salah satu hal yang membuatku semakin bahagia bersamanya adalah ketika ia tidak ragu untuk membantu pekerjaan rumah, ia yang paham betul bahwa istrinya ini jijikan tanpa dikomando selalu rajin membereskan sampah setiap pagi dan rutin membersihkan kamar mandi. Tidak jarang pula ia membantu memasak, mencuci piring, baju dan menyapu serta ngepel rumah. Aku merasa sangat-sangat bersyukur, ketika diluar sana banyak berita tentang suami yang memperlakukan istrinya seperti pembantu, suamiku memperlakukanku seperti partnernya dalam bekerja.

Tugas pengasuhan anak pun tidak melulu aku yang melakukan, saat ayahnya ada dirumah, anakku justru lebih nempel dengannya ketimbang denganku. Mungkin karena sehari-hari si kecil selalu bersamaku, dia jadi ingin berada didekat ayahnya saat ada dirumah. Lagi-lagi aku bersyukur bisa melihat sweet moment diantara mereka, juga bersyukur karena aku bisa me time sebentar walau hanya sekedar mandi agak lama atau makan nambah tanpa khawatir ditangisi. Hehe..

Aku pun sebagai seorang istri yang menjalankan management rumah tangga selalu berusaha memberikan yang terbaik, memang masih jauh dari kata sempurna, banyak yang masih harus aku pelajari baik tentang suamiku, anakku mau pun pekerjaanku mengurus rumah. Aku ingin suami dan anakku kelak berterima kasih telah memiliki diriku, ini yang terus memotivasi agar aku terus rajin dan menyingkirkan rasa malas.

Hampir dua tahun, merupakan waktu yang masih singkat dalam perjalanan seumur hidup. Banyak harapan dan impian yang ingin kami capai kedepannya. Semoga kehidupan rumah tangga kami selalu diberkahi, dipenuhi rasa syukur dan dijauhkan dari segala bentuk masalah yang dapat merenggangkan kami hingga akhir waktu.

Sukabumi, 6 November 2019

Senin, 04 November 2019

Feeding Frenzy

November 04, 2019 0 Comments

Pernah mendengar judul tulisanku diatas? Feeding Frenzy adalah sebuah games PC dimana peran kita sebagai ikan yang kegiatannya adalah makan dan makan, tantangannya menghindari ikan besar agar tidak memakan kita. Permainan yang gitu-gitu saja tapi membuatku selalu memainkannya berulang kali.

Namun kali ini aku tidak akan bercerita lebih jauh tentang permainan Feeding Frenzy, aku ingin bercerita tentang betapa serunya Feeding Time with My Baby. Bagi semua ibu, memasuki masa pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI) menjadi masa-masa yang bikin ndredeg, semua hal terkait MPASI dicari tau. Segala teori dibaca untuk bekal eksekusi jika saatnya tiba nanti, belum lagi perburuan bahan-bahan serta peralatan yang semua ingin serba lengkap demi memberikan yang terbaik untuk si kecil.

Tidak berbeda jauh dengan diriku, aku pun mencari tau berbagai informasi mengenai MPASI mulai dari jadwal, menu, tips dan trik agar anak mau makan, aturan makan dan hal mendetail lainnya. Satu bulan sebelum hari H aku sudah mensupply otakku dengan teori-teori MPASI. Untuk peralatan aku tidak banyak membeli karena alhamdulillah kado-kado lahiran banyak yang bisa terpakai untuk makan anakku.

Hari-hari awal memberi makan membuatku sangat excited karena anakku terlihat antusias dan selalu menghabiskan makanannya. Teori-teori yang telah kupelajari sebelumnya langsung ku terapkan, makan dengan menu lengkap, porsi sesuai dengan yang telah tertulis diteori, jadwal teratur dan tanpa distraksi. Tapi ternyata memberi makan manusia tidak serupa dengan memberi makan ikan dalam permainan Feeding Frenzy.

Naluri anak yang selalu ingin bermain membuatnya tidak betah berlama-lama makan tanpa distraksi, berhubung dirumah mertua kami sekeluarga makan sambil menonton tv akhirnya anakku pun ikut makan bersama sambil menonton tv. Terkadang ia makan sambil memperhatikan tingkah sepupu-sepupunya saat bermain, atau duduk diteras sambil melihat kucing, ayam atau pun kendaraan yang berlalu lalang. Bisa juga ia duduk manis dibooster seatnya tanpa distraksi dan menghabiskan makanannya dalam sekejap.

Semakin besar ia pun semakin ingin mengenal rasa, saat usianya menginjak 10 bulan ia yang biasa makan makanan hambar (no gula no garam) tiba-tiba mogok makan. Diberikan bubur fortifikasi pun geleng-geleng. Suatu waktu kami pergi ke sebuah rumah makan dan aku memesan mushroom cream soup, saat ku coba menyuapkan padanya ternyata ia minta lagi dan lagi. Akhirnya, sejak saat itu teori no gulgar under 1 year old pun tidak berlaku lagi untuk anakku.

Hal lain yang tidak sesuai teori MPASI pada anakku adalah tekstur makanan, sejak awal MPASI aku selalu membuatkannya makanan yang diblender, meski pun banyak yang mengatakan kalau makannya diblender nanti susah naik tekstur. Kenyataannya, anakku memang susah naik tekstur dimana ia sama sekali tidak suka makan nasi lembek dan nasi tim. Tapi, diusianya yang 10 bulan ternyata ia menginginkan menu keluarga. Haha.. Tak disangka ia ingin langsung makan nasi. Prosesnya tidak mudah, awal makan nasi hanya beberapa suapan kecil beserta lauk-lauknya dimana satu suap saja mengunyahnya lamaaa sekali. Baru makan sedikit dia sudah geleng-geleng. Sempat membuatku hampir putus asa karena berat badannya yang tidak naik dalam bulan itu. Namun aku juga menghargai proses ia belajar mengunyah dengan gigi yang belum lengkap dan ingin makan seperti orang dewasa. Semakin hari progress makannya pun semakin baik, dan saat usianya belum menginjak 1 tahun ia sudah lancar makan makanan keluarga. Good job, baby!

Drama lain saat feeding time adalah saat ia semakin lincah dan aktif, dari yang penurut selalu duduk dikursi makannya dengan anteng kemudian berubah menjadi selalu ingin kabur ketika dipasangkan sabuk pengaman diatas kursi makannya, berteriak-teriak agar segera dibebaskan. Saat pengamannya dilepas, ia pun akan memanjat kursinya dan ingin turun 'berlarian' merangkak dilantai. Lucu tapi membuatku menahan emosi. Belum lagi jika makanan yang disajikan tidak sesuai dengan seleranya, sudah masuk mulut lalu dikeluarkan kembali, disembur-sembur hingga sendok berisi makanan pun ditangkisnya sampai tumpah kemana-mana. Jika sudah tak kuasa menahan emosi, aku akan mundur dan menenangkan diri sejenak, inhale-exhale dan kembali lagi menghadapinya.

Syukurnya hal seperti itu tidak terjadi setiap waktu karena lebih banyak hari-hari dimana anakku menjadi seorang happy eater, jika anak makan dengan lahap niscahya aku akan menjalani hariku dengan sungguh bahagia. Yakin, begitu pula dengan ibu-ibu diluar sana, ya kan?

Makan dulu, Guys!

Aku memang masih jauh dari kata sempurna dalam hal membesarkan anak menjadi seorang happy eater, namun ada beberapa tips yang ingin ku bagikan saat Feeding Time With Baby :

1. Berdo'a Sebelum dan Setelah Makan
Ajarkan anak kita untuk selalu berdo'a sebelum dan setelah makan, untuk mensyukuri rezeki-Nya dan mendapat keberkahan-Nya. Mommies, berdo'a juga agar feeding time berjalan dengan minim drama.

2. SABAR
SABAR adalah KUNCI UTAMA saat memberi makan anak. Sabar seluas samudera untuk menghadapi tingkah polah anak-anak kita saat makan, selalu ajarkan anak untuk makan dengan benar dan jangan terlalu cepat marah atau kecewa ketika si kecil tidak berlaku sesuai dengan ekspektasi kita. Ingatlah bahwa ia pun sedang belajar untuk bisa makan dengan benar dan baik, hargai proses tersebut. Percayalah pada si kecil.

3. Jangan Memaksa
Never ever memaksa, memarahi atau membentak anak untuk makan atau menghabiskan makanannya. Akan repot urusannya menangani anak yang trauma makan, lebih baik kembali ke poin ke 2 : SABAR. Anak juga memiliki selera seperti orang dewasa, bisa merasa cepat kenyang atau tidak mood makan juga layaknya orang tua. Kita lah yang harus menangkap sinyal tersebut karena si kecil belum bisa mengkomunikasikannya dengan kita.

4. Berikan Variasi
Sama seperti kita yang terkadang tidak ingin makan A atau B, pun dengan anak kita. Bukan berarti karena masih bayi jadi selalu diberikan makanan yang sama selama berhari-hari berturut-turut. Mereka bisa bosan juga. Ini terjadi pada anakku yang lama kelamaan bosan dengan bubur hingga akhirnya langsung memilih nasi sebagai makanan utamanya, tidak ingin menggunakan sendok kecilnya lagi dan langsung ingin makan dengan sendok yang sama sengan kedua orang tuanya.

Berikan anak variasi makanan, mulai dari tekstur hingga rasa. Alangkah baiknya jika sesekali ganti peralatan makannya agar lebih menarik.

5. Ciptakan Suasana Menyenangkan
Jangan membuat kesan bahwa waktu makan adalah waktu yang menakutkan, buatlah si kecil nyaman selama ia makan. Jika ia mulai terlihat bosan dan kurang antusias, ajaklah ia ngobrol dan hibur agar ia kembali bersemangat. Apabila memang ia tetap tidak mau makan setelah dihibur dengan berbagai macam cara, sudahi sesi makan dan lanjutkan kembali beberapa waktu kemudian.

6. DON'T GIVE UP!
This is so important! Jangan menyerah, jangan langsung pasrah ketika anak tidak mau makan atau tidak menghabiskan makanannya. Jika satu sesi makan dirasa "gagal", cobalah disesi makan berikutnya dan berikutnya dan berikutnya. Jika masih belum berhasil, masih bisa dicoba keesokan harinya. I know that must be really hard and exhausted sometimes, tapi kita harus membangun energi positif untuk disalurkan pada anak. Teruslah optimis dan ber-positive thinking bahwa anak kita pasti akan menjadi seorang happy eater!

7. Sharing is Caring
Bercerita dan meminta saran/pendapat dari orang-orang terdekat juga bisa menjadi salah satu cara untuk mendapat tips seputar feeding time dari sudut pandang orang lain. Bukannya membanding-bandingkan dengan anak orang, namun bisa jadi tips dari orang tua lain dapat diterapkan ke anak kita.

Setelah mereview ketujuh tips tadi, sepertinya hal diatas juga menjadi self-reminder untukku sendiri saat memberi makan si kecil. Semoga tulisanku ini bermanfaat ya!

Sukabumi, 4 November 2019