Tips Menyulap Curhat Jadi Artikel Bermanfaat

curhat-bermanfaat

Dalam berbagai penelitian, disebutkan bahwa setiap harinya wanita butuh untuk mengeluarkan 20.000 kata. Louanne Brizendine, seorang penulis buku yang membahas penelitian-penelitian terkait ini juga membandingkannya dengan pria yang hanya mengeluarkan 7.000 kata per hari.

Mungkin ini yang menjadi salah satu penyebab banyaknya wanita menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menghabiskan kuota kata hariannya. Sebagian dari para wanita ini bahkan menjadikan media sosial sebagai tempat sampah, untuk membuang masalahnya.

Curhat di media sosial boleh-boleh saja. Asalkan, apa yang kita bagikan ke khalayak luas bukan sekadar emosi negatif belaka. Kita tetap harus menjaga digital ethics ketika hendak menyebarluaskan berita atau informasi melalui akun media sosial pribadi.

Lantas, bagaimana caranya agar curhatan atau unek-unek kita bisa menjadi sesuatu yang lebih edukatif dan bermanfaat untuk para pembacanya? Yuk, simak tipsnya!

Tips Membuat Artikel Bermanfaat dari Curhatan di Media Sosial

Berdasarkan pengalaman pribadi sebagai seorang blogger yang suka curhat di blog sendiri, ada beberapa tips yang bisa saya bagikan. Di bawah ini adalah 5 tips yang bisa dijadikan referensi ketika kamu ingin mengemas curhatan in another level:

1. Think First, Jangan Impulsif

Saat seseorang merasakan badai emosi yang besar, terkadang apa yang dilakukannya merupakan tindakan impulsif. Salah satunya adalah langsung mengambil ponsel dan membuat status yang berapi-api.

Memposting curhatan di media sosial mungkin akan membuat dirimu merasa sedikit lebih lega, namun tidak semerta-merta menyelesaikan masalah. Belum lagi dampak yang ditimbulkan, misalnya ada komentar hate speech, debat kusir pro-kontra, dan sebagainya.

Tenangkan diri terlebih dahulu sebelum bertindak. Pikirkan, apa yang ingin disampaikan. Apa sih poin utama dari curhatan ini? Value apa yang akan pembaca dapatkan ketika kamu memposting tulisan tersebut?

2. Memberikan Wawasan Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Selanjutnya, kamu bisa membagikan pengalaman pribadi dengan jujur dan tulus. Ceritakan pengalaman yang kamu alami, bagaimana perasaan pada saat itu, apa saja tantangannya, dan sebagainya.

Sisipkan juga informasi-informasi terkait pengalamanmu, yang bisa menjadi wawasan atau pengetahuan baru bagi para pembacanya. Sertakan rujukan atau referensi dari informasi tersebut. Sehingga, saat orang lain membaca, mereka akan mendapatkan sesuatu yang positif, tidak hanya luapan emosi negatif.


3. Tetap Menjaga Privasi

Menjaga privasi termasuk dalam salah satu pilar literasi digital yang harus dipegang. Seanonim-anonimnya kita di media sosial, akan ada orang yang bisa melakukan penelusuran sampai menemukan siapa kita sebenarnya. Udah paham banget yekan sama netizen Indonesia?

Meskipun menceritakan curhatan pribadi, bukan berarti kita bisa mengumbar seluruh informasi di media sosial. Tidak semua hal orang lain harus tahu. Belum tentu mereka membutuhkan informasi tersebut.


Lebih parahnya lagi, tidak semua orang baik dan ada saja yang memanfaatkannya untuk hal-hal buruk. Jangan sampai terjadi!

4. Berhati-hati dalam Memilih Kata

Media sosial memang merupakan wadah untuk para penggunanya bersuara. Pengguna media sosial bisa menyampaikan aspirasi, pendapat, kesukaan, hingga ketidaksukaannya. Namun, bebas berpendapat bukan berarti mengabaikan etika dalam bertutur.

Berhati-hatilah pada saat memilih kata untuk dipublikasikan. Gunakan bahasa yang sopan, santun dan tidak menggunakan kata-kata yang mengarah pada hate speech.

Jejak digital itu akan terus ada dan tidak bisa berbohong. Sebelum menulis, pikirkan kembali apakah kamu nyaman membaca tulisanmu sendiri di masa yang akan datang?

5. Berikan Juga Solusi yang Kita Lakukan

Curhatan kita bisa jadi relate dengan pengalaman orang lain. Hal inilah yang membuat kebanyakan tulisan curhat ramai dikomentari di media sosial. Selain hanya mengeluarkan emosi negatif atau unek-unek, kamu bisa juga menambahkan solusi dari apa yang kamu alami dalam tulisan.

Dengan demikian, pembaca mendapatkan manfaat dari tulisan curhat tersebut. Hadirnya solusi bisa menjadi jawaban atas masalah serupa yang dialami oleh pembaca. Ini juga dapat membuat pembaca merasa bahwa perasaannya lebih dipahami dengan situasi dan masalah yang mirip.

Curhat di Media Sosial, Jangan Sampai Hanya Jadi Sampah Digital!

Seperti yang saya sampaikan, jejak digital akan terekam dalam waktu yang sangat panjang. Tinggalkanlah jejak yang baik dan mendatangkan manfaat bagi pembaca.


Tidak ada yang salah dengan sesekali curhat di media sosial. Akan tetapi, sebagai generasi yang seharusnya lebih melek literasi digital, jangan sampai curhatanmu hanya jadi digital waste yang viral sementara waktu.

Yuk, saatnya memanfaatkan media sosial untuk menebar lebih banyak kebaikan, salah satunya melalui tulisan!

Posting Komentar

15 Komentar

  1. Yees kak perlu memilah ya. Dan kalo emosi mending jangan semua ditumpahkan ke blogpost karena kalo tanpa sensor atau tidak diendapkan dulu malah isinya baper atau cacimaki.

    Keingat dulu awal.ngeblog apaa aja ditulis. Jadi malu sendiri eh. kudunya lebih bijak lagi.

    BalasHapus
  2. Kalo menurutku, bikin tulisan yang bersifat curhat di blog itu malah lebih gampang ketimbang jenis tulisan lainnya. Ga perlu banyak riset, soalnya semua gagasan dan ide utamanya biasanya sudah ada di kepala. Tinggal diluapkan aja ke dalam tulisan.

    Tapi emang mesti pinter pilih diksi, dan cermat memilah subjek. Takutnya nanti malah jadi bumerang, entah ketersinggungan atau malah jadi kena pidana cuma perkara curhat aja.

    BalasHapus
  3. Sekarang aku hati2 banget kalau mau curcol bahkan di blog, rasanya tak sebebas dulu gitu dan harus dikasih disclaimer supaya nggak blunder, soalnya jadi jejak digital kan hihi. Tapi sejauh ini baik2 saja sih, di blog rasanya masih aman apalagi ditambah dengan cerita pengalaman, jadi malah jadi berguna buat yang sedang cari pengalaman serupa. Kalau media sosial malah jarang, atau nunggu beberapa tahun biar bisa dilengkapi ceritanya atau digabungkan dengan cerita sebab-akibat di tahun-tahun mendatang.

    BalasHapus
  4. Bener banget kalo lagi emosi sebaiknya gak langsung publish ya, nunggu tenang ddulu biar bisa mefilter apa yg kita tulis dan pemilihan katanya. Jangan sampe menyesal

    BalasHapus
  5. Kayanya aku bukan Pria deh mba 🤣 Soalnya aku sering curcolll.. Serius. aku sering banget curcol.. haha

    Kalau di Medsos, aku curcolnya di Close Friend, yang aku sendiri memang tahu kalau mereka pasti nggak julid... Tapi sbnernya aku lebih banyak curcol di Blog, cuma seringnya nggak aku post. Paling beberapa curcolan aku post, dan biasanya kalau lagi mau afirmasi diri. Secara aku tinggal sendirian di rumah, jadi semisal lagi butuh masukan. Biasanya aku tulis di Blog atau medsos 😁..

    Tapi sejauh ini Blog sih yg masih Zen banget. Beda kalau di Ig, itu masih ada aja yg nimpalin, tapi kalimatnya kbnyakan masih Zen sih 😉...

    BalasHapus
  6. ini yang mau aku lakukan, terimakasih banyak atas tipsnya ya kak :D

    BalasHapus
  7. Aku pernah ampir curcol mengenai catering yg payah bgt di blog. Tp dinasehatin temen mengenai UU ITE. Jadilah aku bikin tips bagaimana mencari catering yg ok.

    BalasHapus
  8. Setuju banget, curhatan bisa jadi ide buat konten blog atau caption di social media, dengan catatan pemilihan kata nya tepat, kemudian tidak hanya curhatan satu arah, melainkan membuka paradigma dan wawasan buat pembaca, jadi biasanya curhatan plus solusi atau saran yakan, semangat menulis dan semoga semakin cakap digital 😇

    BalasHapus
  9. Aku termasuk jarang sih curhat di medsos. Soalnya ga pengen aja privacy keluarga ketahuan orang banyak 😅. Makanya di saat emosi memang sebaiknya jgn pegang hp, supaya ga nyesel kemudian.

    Kalopun butuh pelampiasan, aku toh punya blog utk curhat, tapi aku private mba, JD memang aku doang yg baca. Abis itu toh JD plong juga. Menulis dr dulu memang selalu JD healing terapi ku kalo stress, emosi atau sedih.

    BalasHapus
  10. Wahaha bener ya, karena wanita butuh lebih banyak berkata² makanya mereka jadi cerewet di medsos, termasuk curhat. Thanks remindernya ttg jejak digital kak, jadi memang gak boleh sembarangan curhat di dunia maya ya

    BalasHapus
  11. point no 3 langsung ingat penulis buku sebuah seni bersikap bodoh amat, soalnya dia sampai di pecat karena nulis tentang perusaannya yang red flag. hihi takut banget, bersyukur gak di tuntut

    BalasHapus
  12. Beneer. Curhat bisa bermanfaat bagi orang lain asal dilakukan dengan benar. Jangan nyampah di online. Nanti malah jadi boomerang di masa depan

    BalasHapus
  13. Thanks tipsnya aku kalau curhat biasanya nulis diblog ajasii tapi berhubunh uda ada tiktok pale musik ama suguhan alam juga ngena, simple intinya tergantung kebutuhan hati yah hahahha

    BalasHapus
  14. Iyaa setuju banget nih boleh curhat di medsos tapi tetap menjaga privasi yaa jangan sampai kita marah dan menulis informasi pribadi tentang orang yang kita sebelin, bahaya deh melanggar UU ITE..

    BalasHapus
  15. Pernah banget IMPULSIF.
    Dan punya akun alter ego juga.
    Aseekk~

    Tapi memang sosial media punya karakternya masing-masing.
    Kalo menurutku, curhatlah sesuai dengan sosial media yang digunakan. Asal tau cara mainnya sih, aku rasa kita semua uda dewasa dan bisa menyikapi dengan bijak.

    Kalau remaja yaah.. kudu banyak maklumnya lah..
    Hihihi~
    Sok wise banget.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉

Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍