6 Tips Mengusir Kebosanan untuk Ibu Rumah Tangga

tips mengusir bosan untuk ibu rumah tangga

"Mae, lo bosen nggak sih jadi ibu rumah tangga?"

"Mae, gue mau resign nih. Kasi tips dong biar nggak mati gaya di rumah ngapain aja?"

"Mae, sharing dong sehari-hari kegiatan lo ngapain nih dari pagi kalo di rumah?"

Bukan konsultan tapi saya sering banget jadi tempat mengadu dan bertanya teman-teman yang mau resign dan otewe jadi ibu rumah tangga.

Stigma ibu rumah tangga yang nggak produktif, nggak menghasilkan dan membosankan itu memang masih terpatri banget di lingkungan tempat kita tinggal.

Stigma ini membuat image ibu rumah tangga menjadi sebuah pekerjaan yang dianggap berada di kasta terendah dan tak jarang membuat para ibu rumah tangga rendah diri.

"Aku mah apa atuh cuma ibu rumah tangga..."

"Kerjaan saya sekarang hanya ibu rumah tangga..."

Cuma dan hanya ibu rumah tangga. Saya sedih banget kalau ada ibu rumah tangga yang ngomong seperti itu.

Saya sendiri nggak menganggap diri saya ini cuma dan hanya. Akan tetapi saya juga nggak bisa menyalahkan para ibu rumah tangga yang menganggap diri mereka seperti nggak berdaya gitu, cuma dan hanya. Apalagi ditambah embel-embel remahan rengginang. Hiks!

Mungkin memang mereka kurang mendapat apresiasi atas keputusan dan apa yang selama ini dilakukan dari rumah. Bisa juga karena kurangnya support system yang membuat para ibu rumah tangga bisa lebih percaya diri dengan pekerjaan mereka di ranah domestik.


Saya paham kalau stigma, gambaran dan kekhawatiran inilah yang menyebabkan banyak teman-teman saya maju mundur cantik untuk resign dan banting setir menjadi ibu rumah tangga.

Awal Memutuskan Menjadi Ibu Rumah Tangga

Menjelang akhir tahun 2017, status kontrak saya di perusahaan berakhir. Karena satu hal dan yang lainnya, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan saya di perusahaan tempat saya bekerja selama 3 tahun belakangan.

Saya pun kembali ke Jogja dan fokus mengurus pernikahan saya yang akan dilangsungkan di awal tahun 2018. Pada waktu itu saya terlibat langsung di setiap tahapan persiapan pernikahan saya, jadi nggak berasa nganggurnya.

Sebelum menikah, saya dan suami memang sudah membuat kesepakatan berdasarkan diskusi yang cukup panjang. Saya bercerita bahwa saya merasa sama sekali nggak punya passion sebagai ibu rumah tangga. Masak nggak bisa, bersih-bersih kagak becus, membayangkan diam di rumah aja seharian itu very boring kayaknya.

Suami saya justru punya pandangan berbeda. Dia akan lebih tenang pergi bekerja jika rumah dan anak dihandle langsung oleh istrinya. Punya ART boleh tapi dia lebih ridho kalau saya tetap stay at home. Dia sama sekali nggak setuju kalau saya bekerja dan anak diurus oleh orang tua, pengasuh atau dititipkan di daycare.

quotes ibu rumah tangga

Sampailah kami pada keputusan saya akan mencoba menjadi ibu rumah tangga selama 3 bulan dulu. Ada probationnya dong! lol. Kalau dalam jangka waktu 3 bulan itu kami belum diberikan rezeki anak, saya bakal balik kerja di ranah publik lagi. Sebaliknya, kalau kami sudah diberi amanah dalam kurun waktu 3 bulan maka saya akan mengalah dan menjadi ibu rumah tangga.

Mengalah bukan berarti kalah. Haha. Saya juga minta izin pada suami saya untuk memberikan saya ruang sehingga saya bisa tetap menjalani hobi saya, punya me time dan menjadi freelancer alias cari cuan dari rumah.

Dia berkata, "Boleh, terserah kamu mau ngapain aja yang penting happy di rumah..." Deal kalau begitu.

Menjadi Ibu Rumah Tangga, It's Not That Easy

Rezeki tidak terduga datang di bulan pertama pernikahan saya. Ternyata Allah menitipkan Dipta begitu cepat sehingga seperti kesepakatan di awal, saya akan fokus untuk bekerja di ranah domestik.

Sebelum hamil, saya cukup enjoy menjalani peran saya sebagai ibu rumah tangga di rumah. Saya pun mengatur waktu saya sedemikian rupa sehingga punya target pekerjaan apa yang harus diselesaikan dan dalam waktu berapa lama.

Setelah pekerjaan rumah selesai, saya bisa rebahan dan ngegame dulu sebelum di sore hari kembali ke rutinitas beberes dan memasak. Sebulan pertama, cincaaay men!

Rutinitas saya mulai kacau sejak mengalami morning sickness. Sama sekali nggak bisa mencium bau dapur, jijik banget sampai merinding kalau cuci piring bahkan muntah-muntah. Boro-boro mau beberes, makan aja susah jadi badan lemes banget. Sumpah itu bukan mau gue!

Mood saya juga berantakan terutama sejak dokter memvonis saya memiliki endometriosis dan miom. Kandungan saya terancam gugur sebelum memasuki bulan ke-4. Akhirnya, saya nggak dikasih untuk mengerjakan pekerjaan rumah blass sama suami.

Sahm

Aktivitas saya selama hamil itu jadinya cuma rebahan, makan, nonton, main game dan berjualan online untuk mencari kesibukan dan tambahan pemasukan. Pokoknya nggak boleh melakukan kegiatan berat dan bikin capek. Yaudahlah, nanti kalau anaknya lahir enak bisa ngapa-ngapain lagi.

Tadaaa setelah anak saya lahir, ternyata mengurus rumah dan mengurus anak sendirian itu sungguh challenging dan menguras energi. Apalagi awal-awal tinggal hanya bertiga di perantauan, sedih rasanya kalau ditinggal suami berangkat kerja tuh. Huhu~

Padahal suami saya sangat support dalam hal pengasuhan anak dan pekerjaan rumah. Tapi kok saya tetap merasa sendirian dan nggak didukung ya? I've been in a position that I felt like I'm worthless and I can't do this anymore. I'm done!

6 Tips Mengatasi Rasa Bosan jadi Ibu Rumah Tangga

Alhamdulillah masa-masa post power syndrome itu sudah berlalu dan sekarang saya sudah bisa menikmati kembali peran saya sebagai ibu rumah tangga dengan segala urusan domestik dan mengasuh anak.

Sesekali merasa bosan dengan pekerjaan rumah itu wajar ya. Mau kerja di mana pun, manusia PASTI ada masanya merasa jenuh dan yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara kita mengusir rasa bosan itu sehingga kita jangan sampai muak dengan pekerjaan yang kita tekuni.

Saya punya beberapa tips mengatasi rasa bosan menjadi ibu rumah tangga yang biasanya saya bagikan pada teman-teman saya yang berkonsultasi sebelum mereka resign :

Stay at home mom

1. Menerima dengan Ikhlas

Hal pertama yang saya lakukan ketika sadar bahwa saya berada di fase ingin berhenti dan dah lah pengen kabur aja dari rumah adalah menerima kondisi saya dengan legowo. I know it's not easy.

Saya ngobrol dengan suami tentang apa yang saya rasakan, kenapa saya merasa kehilangan diri saya sendiri dan lain sebagainya. Suami saya yang bukan psikolog ya hanya berasumsi sendiri mengapa saya begini dan begitu. lol!

Kami sampai pada pembicaraan, oke saya punya plan untuk melakukan ini-itu dan suami saya akan mendukung apa yang akan saya lakukan. Kalau sampai planning saya tidak mengembalikan diri saya yang bersemangat dan dipenuhi energi positif, saya akan berkonsultasi ke profesional.

2. Menjadikan Rumah sebagai Playground

Setelah menerima, "Oke, Ma. Sekarang ranah bekerja lo itu adalah rumah!" saya kemudian berusaha menganggap rumah adalah playground yang menyenangkan.

Saya juga melibatkan anak untuk menjadi partner bekerja saya di rumah dalam hal beberes rumah dan memasak meskipun anak saya baru berusia 3 tahun. Dibawa asyik dan tidak dijadikan beban.

Target pekerjaan dan waktu penyelesaian tetap saya buat tapi lebih fleksible dan nggak dibawa stress kalau ada beberapa pekerjaan yang nggak selesai. Fyi, saya itu termasuk orang yang perfectionist sehingga untuk sampai pada tahap santuy ketika ada pekerjaan yang nggak selesai (sempurna) itu adalah sebuah pencapaian. Hehe.

3. Luangkan Waktu untuk 'Me Time'

Dalam satu hari, punya me time barang 15 - 30 menit udah bisa bikin energi kembali lagi. Jadi, sehectic dan sesibuk apa pun di hari itu saya selalu menyempatkan diri supaya punya me time. Entah power nap, membaca buku, mandi air hangat atau menikmati makanan enak tanpa distraksi dari anak.

Me time juga bisa diisi dengan ngobrol atau ketemu teman-teman akrab. Sekadar chatting, telponan atau ketemuan langsung selama beberapa waktu udah jadi mood booster banget untuk ekstrovert seperti saya yang jadi jarang ketemu orang sejak jadi ibu rumah tangga apalagi pandemi.

Tentunya ini bisa dilakukan dengan dukungan dari suami yang membolehkan saya ngobrol atau ketemu teman-teman tanpa membawa anak. Kalau bawa anak kayaknya bukan me time tapi pindah tempat ngasuh ya? :p

4. Mencari dan Melakukan Hobi

Tips berikutnya adalah melakukan hobi atau kegiatan yang kita suka dan bisa dari rumah. Nggak perlu ngikutin tren, be yourself. Hobi yang bisa saya lakukan di rumah adalah menonton dan menulis, jadi ya itu aja yang saya lakukan. Biarpun seluruh dunia lagi senang berkebun dan miara tanaman hias, karena saya nggak suka jadi ya nggak perlu ikut-ikutan.

Setelah mengetahui apa yang kita suka dan bisa, tahap selanjutnya adalah mencoba untuk menekuni hobi tersebut. Berdasarkan pengalaman saya yang punya hobi menulis dan menonton drakor ini, ternyata banyak kesempatan dan peluang yang datang dari sana.


5. Belajar Hal Baru

Rutinitas mengurus rumah dan anak setiap hari pasti akan membosankan jika tidak diselingi dengan kegiatan yang baru. Salah satu yang bisa dilakukan adalah belajar hal baru dari rumah. Sejak pandemi, berbagai kursus online pun bertaburan dengan beragam topik dan waktu yang bisa disesuaikan.

Saya sendiri senang mengupgrade skill dengan belajar hal-hal baru seperti mengikuti kelas parenting, belajar DIY mainan anak, mencari dan mencoba resep masakan, membuat macrame hingga mengikuti kelas untuk memproduksi podcast dan mempraktikkannya.


Lebih bagus lagi kalau kita membuat peta belajar dengan goal tertentu yang membuat kita lebih fokus kira-kira apa saja yang perlu dipelajari.

6. Mencari Positive Circle

Caranya bisa dengan ikut komunitas, support group atau mengikuti akun-akun inspiratif di media sosial. Mencari teman-teman yang punya positive vibes ini ngaruh banget buat saya. Saya jadi nggak merasa sendirian dan selalu dapat inspirasi serta motivasi dari teman-teman yang sama-sama bekerja di ranah domestik namun tetap bisa berkarya dan berdaya.


Pertemanan dan lingkungan yang nggak supportif udah lah bye aja dari hidup gue. Meskipun yang begitu itu akan tetap ada, tapi yaudah cukup tau aja dan nggak usah dekat-dekat apalagi sampai dibawa pikiran dan dimasukkan ke dalam hati.

Jangan lupa juga untuk selalu meminta Tuhan memudahkan langkah dan setiap urusan kita.

Pentingnya Dukungan dari Orang Terdekat

Tanpa support orang terdekat, nggak heran banyak ibu rumah tangga yang mengalami stress bahkan depresi. Sedih banget-banget ketika melihat berita seorang ibu tega menggorok leher ketiga anaknya dengan alasan agar mereka mati aja dan nggak hidup menderita seperti sang ibu. 

Being full stay at home mom can be so frustrated, ketika semua beban pekerjaan rumah tidak dibagi, pengasuhan anak dituntut sempurna dan hanya diserahkan pada ibunya doang. Sepengalaman saya jadi ibu rumah tangga, pekerjaan rumah itu nggak ada habisnya, nggak ada liburnya tapi sering dilihat sebagai pengangguran :')

Peran suami, keluarga dan kerabat terdekat yang mendukungnya lah yang bisa diharapkan oleh seorang ibu rumah tangga. Hanya dengan menghargai ruang yang dimiliki oleh seorang ibu dan memberinya kesempatan untuk mengembangkan diri, akan sangat membantu menurunkan tingkat stress ibu rumah tangga karena dapat mengusir kebosanan yang dirasakannya di rumah.

Niatnya mau sharing tipis-tipis malah jadi sesi curhat dan ngecapruk ke mana-mana dong! Haha. Semoga bermanfaat :)

Sukabumi, 21 Maret 2022

Posting Komentar

26 Komentar

  1. Setuju banget nih, lakukan hal-hal di atas biar kita jadi gak frustasi sendiri, apalagi kalau sebelumnya kita orang yang aktif juga ekstrovert duuh kebayang deh :D
    tapi emang perlu dukungan dari orang sekitar, suami yang utama ya, biar gimana pun kan suami adalah partner segalanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, alhamdulillah suami support meski tetep ada batasan tertentunya. Cuma masih lebih banyak dikasih kebebasan memilih. Haha. Apa aja boleh as long as betah di rumah.

      Hapus
  2. Padahal menurutku, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan tersibuk. Melihat mamaku yang sebagai ibu rumah tangga saja rasanya nggak tega. Beberes rumah, masak, urusan pakaian duh. Meminta orang lain yang mengerjakan pasti keluar biaya pula.

    Tapi, ibu rumah tangga memang butuh hal-hal untuk menyalurkan rasa bosan sih. Tetap berusaha bahagia ya, bu-ibu. Semangat...

    BalasHapus
  3. Aduh, sama nih kayak saya. Urusan jadi ibu rumah tangga itu kayak gak ada passionnya. Masak gak enak, beres-beres rumah gak becus.

    Bahkan sampai sekarang, urusan masak saya suka order online. Hahaha.

    Jadi ibu rumah tangga memang berat, dan kita wajib banget punya circle yang positif biar gak membosankan, juga gak bikin stres.

    BalasHapus
  4. Wahh kalau dalam sebuah circlenya memiliki hobi yang sama emang enak banget sih, bosan pun bisa hilang seketika.. Aku sering banget kayak gitu hha

    BalasHapus
  5. Saya pernah merasakan bosan yang teramat sangat saat cuti melahirkan anak pertama. Sejak saat itu saya berkesimpulan bahwa saya memang tidak bisa hanya tinggal di rumah saja, saya harus berdaya dengan bekerja di luar rumah

    BalasHapus
  6. Positive circle dan support system yg baik adalah koentji!
    Memang, kalo dari career lady lalu pindah haluan jadi IRT tuh challenging bgt mba
    Tapii, Bismillah, dgn terapkan tips2 dari Mba, insyaALLAH semua IRT bisa survive!

    BalasHapus
  7. Menjadi blogger banyak sekali hal yg dikerjakan untuk mengisi waktu luang. Alhamdulillah ya, kak, ditemukan dengan dunia ini. Sayapun jadi punya kegiatan positif di rumah sejak kenal blog. Thank you for sharing, mba.

    BalasHapus
  8. Baca ceritanya aja bikin mikir, "nanti kalau udah jadi istri gimana? Mau jadi irt full atau tetep kerja?" Zzz.... Dipikir nanti lah ya.. Pengen bisa tetep kerja dan urusan rumah beres. Hehe

    BalasHapus
  9. Gak perlu malu menjadi ibu rumah tangga, inilah pekerjaan paling mulia di mata Allah ya, mbaa 🤗

    BalasHapus
  10. Wadidaw di rumah jadi istri dan ibu 24/7 tanpa hari libur itu perlu mental baja .ya gak sih.Tapi tetap kita jalani walau kadang sambil ngurut dada.thaks for the tips

    BalasHapus
  11. Pekerjaan paling mulia sekaaligus paling gak ada jam kerjanya. Kapan aja harus ON melayani anggota keluarga yang lain, suami dan anak-anak. Jadi merasakan juga bahwa sesekali pasti merasa jenuh.
    Bukan jenuh dengan pasangan atau anak-anak, tapi jenuh dengan rutinitas sehari-hari yang berulang.

    BalasHapus
  12. Pada dasarnya semua ibu itu bekerja baik di rumah atau pun di luar rumah. Hanya saja memang kalo ibu rumah tangga buth ruang untuk berekspresi agar bisa memaknai kebahagiaanya

    BalasHapus
  13. Suka kesel sama stigma kaya gitu
    Padahal jadi seorang wanita yang fokus urus rumah tangga itu juga mulia dan bukan sesuatu yang mudah

    BalasHapus
  14. bener banget ini tipsnya emang terbukti ampuh bikin ibu jadi lebih bahagia dan punya makna dalam hidup jadi semangat terus menyambut hari baru

    BalasHapus
  15. Tetap semangat full time mom. You are amazing. Semoga ga banyak-banyak jenuh dan tetap waras menghadapi rutinitas

    BalasHapus
  16. Ahh,, bener nih.. Berpengaruh jg buatku saat punya temen yg mempengaruhi positive vibes kita.. Bisa diajak curhat dan bisa menemukan hal" baru..

    BalasHapus
  17. Aku bukan ibu rumah tangga tetapi sudah merasakan gimana "jadi ibu rumah tangga". Mengerjakan pekerjaan rumah dengan rutin dari pagi sampai malam itu lelah banget ternyata. Apalagi kalau sudah punya anak ya Kak, duh nggak kebayang aku :')

    Buat kakak dan para ibu rumah tangga lainnya, kalian hebat! Semoga selalu sehat, bahagia, dan selalu bisa me time! Hihihii

    BalasHapus
  18. Semangat Mbak..jadi ibu ruamh tangga tetap bisa berkarya kok
    Saya sudah jadi IRT selama hampir 20 tahun sejak menikah dan ikut suami berpindah sesuai SK.
    Dan selama itu kadang masih ada ga ikhlasnya hahaha. Tapi syukurnya makin ke sini malah makin happy, anak-anak dah remaja, saya aktif menulis di blog dan sosial media, meski IRT saya tetap punya wadah aktualisasi diri dan cuan lagi:)

    BalasHapus
  19. sharing sama curhat adalah satu paket mbak ima. its ok kok, aku masih menikmati tulisanmu. mencoba hal baru kaya ngeblog kah? lambat laun makin berkembang kan akhirnya hobi jadi cuan. masyaallah. ibu rumah tangga ajuga sebuah pekerjaannya, bagaimana kita pemaknaan dan penerimaannya. tetap semangaat mbak

    BalasHapus
  20. pekerjaan ibu rumah tangga itu super duper sibuk, ga ada habisnya, kalau benar-benar tidak diatur waktunya
    sayangnya peran mulia ini dianggap remeh orang sekitar, inilah salah satu pemicu stres ibu rumah tangga
    mengurus rumah dan mengasuh anak tidak hanya peran ibu tetapi juga peran ayah,

    BalasHapus
  21. Iya, positif circle itu penting ya mbak
    Contohnya kayak di Drakor Class, hepi bahas drama sekaligus banyak belajar hal baru :)

    BalasHapus
  22. Aku sepakat bahwa menemukan positif circle selain mengusir bosan juga membuat kita jadi lebih produktif ya mbak. Dan lagi, me time hehehe

    BalasHapus
  23. Masyaallah, emang kalau udah jalanNya, pasti ada aja caranya ya. Kesepakatan dgn calon suami spt itu bagus, jadi pada saat dijalani akan balik ke komitmen begini begitu. Semangaattt...kita tetap sibuk kok, hahaha.

    BalasHapus
  24. berusaha banget buat ngeluangin waktu untuk diri sendiri

    BalasHapus
  25. Pas mutusin resign, Krn udh ga sejalan Ama visi misi perusahaan, suamiku sempet mastiin berkali2, serius mau resign? Atau cari kerja lain aja, jgn stay at home lah.

    Kenapa gitu, Krn dia tau banget aku bukan tipe IRT yg anteng duduk di rumah. Dia cuma kuatir aku bakal bosen, dan uring2an, apalagi selama ini urusan rumah tangga juga dihandle Ama asisten2 ku.

    Tapi wktu itu aku keukeuh ga tertarik kerja di luaran lagi 🤣. Dari rumah aja. Dan terbukti, income yg aku dpt terkadang melebihi gaji dia sebulan, dgn catatan akunya sedang rajin hahahaha.

    Memang harus pinter2nya kita sih Yaa, menerima fakta udh ga kerja kantoran lagi. Mungkin ada yg ngerasa rendah diri Krn merasa jadi ga menghasilkan duit. Padahal itu mah bisa dicari dengan berbagai macam cara walaopun dari rumah.

    Dan buatku me time juga bisa melakukan hobi, penting buat menjaga ttp waras. Aku suka bgt baca, jadi kesempatan ini aku manfaatin dengan baca buku sebanyak mungkin.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉

Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍