tips mengusir bosan untuk ibu rumah tangga

"Mae, lo bosen nggak sih jadi ibu rumah tangga?"

"Mae, gue mau resign nih. Kasi tips dong biar nggak mati gaya di rumah ngapain aja?"

"Mae, sharing dong sehari-hari kegiatan lo ngapain nih dari pagi kalo di rumah?"

Bukan konsultan tapi saya sering banget jadi tempat mengadu dan bertanya teman-teman yang mau resign dan otewe jadi ibu rumah tangga.

Stigma ibu rumah tangga yang nggak produktif, nggak menghasilkan dan membosankan itu memang masih terpatri banget di lingkungan tempat kita tinggal.

Stigma ini membuat image ibu rumah tangga menjadi sebuah pekerjaan yang dianggap berada di kasta terendah dan tak jarang membuat para ibu rumah tangga rendah diri.

"Aku mah apa atuh cuma ibu rumah tangga..."

"Kerjaan saya sekarang hanya ibu rumah tangga..."

Cuma dan hanya ibu rumah tangga. Saya sedih banget kalau ada ibu rumah tangga yang ngomong seperti itu.

Saya sendiri nggak menganggap diri saya ini cuma dan hanya. Akan tetapi saya juga nggak bisa menyalahkan para ibu rumah tangga yang menganggap diri mereka seperti nggak berdaya gitu, cuma dan hanya. Apalagi ditambah embel-embel remahan rengginang. Hiks!

Mungkin memang mereka kurang mendapat apresiasi atas keputusan dan apa yang selama ini dilakukan dari rumah. Bisa juga karena kurangnya support system yang membuat para ibu rumah tangga bisa lebih percaya diri dengan pekerjaan mereka di ranah domestik.


Saya paham kalau stigma, gambaran dan kekhawatiran inilah yang menyebabkan banyak teman-teman saya maju mundur cantik untuk resign dan banting setir menjadi ibu rumah tangga.

Awal Memutuskan Menjadi Ibu Rumah Tangga

Menjelang akhir tahun 2017, status kontrak saya di perusahaan berakhir. Karena satu hal dan yang lainnya, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan saya di perusahaan tempat saya bekerja selama 3 tahun belakangan.

Saya pun kembali ke Jogja dan fokus mengurus pernikahan saya yang akan dilangsungkan di awal tahun 2018. Pada waktu itu saya terlibat langsung di setiap tahapan persiapan pernikahan saya, jadi nggak berasa nganggurnya.

Sebelum menikah, saya dan suami memang sudah membuat kesepakatan berdasarkan diskusi yang cukup panjang. Saya bercerita bahwa saya merasa sama sekali nggak punya passion sebagai ibu rumah tangga. Masak nggak bisa, bersih-bersih kagak becus, membayangkan diam di rumah aja seharian itu very boring kayaknya.

Suami saya justru punya pandangan berbeda. Dia akan lebih tenang pergi bekerja jika rumah dan anak dihandle langsung oleh istrinya. Punya ART boleh tapi dia lebih ridho kalau saya tetap stay at home. Dia sama sekali nggak setuju kalau saya bekerja dan anak diurus oleh orang tua, pengasuh atau dititipkan di daycare.

quotes ibu rumah tangga

Sampailah kami pada keputusan saya akan mencoba menjadi ibu rumah tangga selama 3 bulan dulu. Ada probationnya dong! lol. Kalau dalam jangka waktu 3 bulan itu kami belum diberikan rezeki anak, saya bakal balik kerja di ranah publik lagi. Sebaliknya, kalau kami sudah diberi amanah dalam kurun waktu 3 bulan maka saya akan mengalah dan menjadi ibu rumah tangga.

Mengalah bukan berarti kalah. Haha. Saya juga minta izin pada suami saya untuk memberikan saya ruang sehingga saya bisa tetap menjalani hobi saya, punya me time dan menjadi freelancer alias cari cuan dari rumah.

Dia berkata, "Boleh, terserah kamu mau ngapain aja yang penting happy di rumah..." Deal kalau begitu.

Menjadi Ibu Rumah Tangga, It's Not That Easy

Rezeki tidak terduga datang di bulan pertama pernikahan saya. Ternyata Allah menitipkan Dipta begitu cepat sehingga seperti kesepakatan di awal, saya akan fokus untuk bekerja di ranah domestik.

Sebelum hamil, saya cukup enjoy menjalani peran saya sebagai ibu rumah tangga di rumah. Saya pun mengatur waktu saya sedemikian rupa sehingga punya target pekerjaan apa yang harus diselesaikan dan dalam waktu berapa lama.

Setelah pekerjaan rumah selesai, saya bisa rebahan dan ngegame dulu sebelum di sore hari kembali ke rutinitas beberes dan memasak. Sebulan pertama, cincaaay men!

Rutinitas saya mulai kacau sejak mengalami morning sickness. Sama sekali nggak bisa mencium bau dapur, jijik banget sampai merinding kalau cuci piring bahkan muntah-muntah. Boro-boro mau beberes, makan aja susah jadi badan lemes banget. Sumpah itu bukan mau gue!

Mood saya juga berantakan terutama sejak dokter memvonis saya memiliki endometriosis dan miom. Kandungan saya terancam gugur sebelum memasuki bulan ke-4. Akhirnya, saya nggak dikasih untuk mengerjakan pekerjaan rumah blass sama suami.

Sahm

Aktivitas saya selama hamil itu jadinya cuma rebahan, makan, nonton, main game dan berjualan online untuk mencari kesibukan dan tambahan pemasukan. Pokoknya nggak boleh melakukan kegiatan berat dan bikin capek. Yaudahlah, nanti kalau anaknya lahir enak bisa ngapa-ngapain lagi.

Tadaaa setelah anak saya lahir, ternyata mengurus rumah dan mengurus anak sendirian itu sungguh challenging dan menguras energi. Apalagi awal-awal tinggal hanya bertiga di perantauan, sedih rasanya kalau ditinggal suami berangkat kerja tuh. Huhu~

Padahal suami saya sangat support dalam hal pengasuhan anak dan pekerjaan rumah. Tapi kok saya tetap merasa sendirian dan nggak didukung ya? I've been in a position that I felt like I'm worthless and I can't do this anymore. I'm done!

6 Tips Mengatasi Rasa Bosan jadi Ibu Rumah Tangga

Alhamdulillah masa-masa post power syndrome itu sudah berlalu dan sekarang saya sudah bisa menikmati kembali peran saya sebagai ibu rumah tangga dengan segala urusan domestik dan mengasuh anak.

Sesekali merasa bosan dengan pekerjaan rumah itu wajar ya. Mau kerja di mana pun, manusia PASTI ada masanya merasa jenuh dan yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara kita mengusir rasa bosan itu sehingga kita jangan sampai muak dengan pekerjaan yang kita tekuni.

Saya punya beberapa tips mengatasi rasa bosan menjadi ibu rumah tangga yang biasanya saya bagikan pada teman-teman saya yang berkonsultasi sebelum mereka resign :

Stay at home mom

1. Menerima dengan Ikhlas

Hal pertama yang saya lakukan ketika sadar bahwa saya berada di fase ingin berhenti dan dah lah pengen kabur aja dari rumah adalah menerima kondisi saya dengan legowo. I know it's not easy.

Saya ngobrol dengan suami tentang apa yang saya rasakan, kenapa saya merasa kehilangan diri saya sendiri dan lain sebagainya. Suami saya yang bukan psikolog ya hanya berasumsi sendiri mengapa saya begini dan begitu. lol!

Kami sampai pada pembicaraan, oke saya punya plan untuk melakukan ini-itu dan suami saya akan mendukung apa yang akan saya lakukan. Kalau sampai planning saya tidak mengembalikan diri saya yang bersemangat dan dipenuhi energi positif, saya akan berkonsultasi ke profesional.

2. Menjadikan Rumah sebagai Playground

Setelah menerima, "Oke, Ma. Sekarang ranah bekerja lo itu adalah rumah!" saya kemudian berusaha menganggap rumah adalah playground yang menyenangkan.

Saya juga melibatkan anak untuk menjadi partner bekerja saya di rumah dalam hal beberes rumah dan memasak meskipun anak saya baru berusia 3 tahun. Dibawa asyik dan tidak dijadikan beban.

Target pekerjaan dan waktu penyelesaian tetap saya buat tapi lebih fleksible dan nggak dibawa stress kalau ada beberapa pekerjaan yang nggak selesai. Fyi, saya itu termasuk orang yang perfectionist sehingga untuk sampai pada tahap santuy ketika ada pekerjaan yang nggak selesai (sempurna) itu adalah sebuah pencapaian. Hehe.

3. Luangkan Waktu untuk 'Me Time'

Dalam satu hari, punya me time barang 15 - 30 menit udah bisa bikin energi kembali lagi. Jadi, sehectic dan sesibuk apa pun di hari itu saya selalu menyempatkan diri supaya punya me time. Entah power nap, membaca buku, mandi air hangat atau menikmati makanan enak tanpa distraksi dari anak.

Me time juga bisa diisi dengan ngobrol atau ketemu teman-teman akrab. Sekadar chatting, telponan atau ketemuan langsung selama beberapa waktu udah jadi mood booster banget untuk ekstrovert seperti saya yang jadi jarang ketemu orang sejak jadi ibu rumah tangga apalagi pandemi.

Tentunya ini bisa dilakukan dengan dukungan dari suami yang membolehkan saya ngobrol atau ketemu teman-teman tanpa membawa anak. Kalau bawa anak kayaknya bukan me time tapi pindah tempat ngasuh ya? :p

4. Mencari dan Melakukan Hobi

Tips berikutnya adalah melakukan hobi atau kegiatan yang kita suka dan bisa dari rumah. Nggak perlu ngikutin tren, be yourself. Hobi yang bisa saya lakukan di rumah adalah menonton dan menulis, jadi ya itu aja yang saya lakukan. Biarpun seluruh dunia lagi senang berkebun dan miara tanaman hias, karena saya nggak suka jadi ya nggak perlu ikut-ikutan.

Setelah mengetahui apa yang kita suka dan bisa, tahap selanjutnya adalah mencoba untuk menekuni hobi tersebut. Berdasarkan pengalaman saya yang punya hobi menulis dan menonton drakor ini, ternyata banyak kesempatan dan peluang yang datang dari sana.


5. Belajar Hal Baru

Rutinitas mengurus rumah dan anak setiap hari pasti akan membosankan jika tidak diselingi dengan kegiatan yang baru. Salah satu yang bisa dilakukan adalah belajar hal baru dari rumah. Sejak pandemi, berbagai kursus online pun bertaburan dengan beragam topik dan waktu yang bisa disesuaikan.

Saya sendiri senang mengupgrade skill dengan belajar hal-hal baru seperti mengikuti kelas parenting, belajar DIY mainan anak, mencari dan mencoba resep masakan, membuat macrame hingga mengikuti kelas untuk memproduksi podcast dan mempraktikkannya.


Lebih bagus lagi kalau kita membuat peta belajar dengan goal tertentu yang membuat kita lebih fokus kira-kira apa saja yang perlu dipelajari.

6. Mencari Positive Circle

Caranya bisa dengan ikut komunitas, support group atau mengikuti akun-akun inspiratif di media sosial. Mencari teman-teman yang punya positive vibes ini ngaruh banget buat saya. Saya jadi nggak merasa sendirian dan selalu dapat inspirasi serta motivasi dari teman-teman yang sama-sama bekerja di ranah domestik namun tetap bisa berkarya dan berdaya.


Pertemanan dan lingkungan yang nggak supportif udah lah bye aja dari hidup gue. Meskipun yang begitu itu akan tetap ada, tapi yaudah cukup tau aja dan nggak usah dekat-dekat apalagi sampai dibawa pikiran dan dimasukkan ke dalam hati.

Jangan lupa juga untuk selalu meminta Tuhan memudahkan langkah dan setiap urusan kita.

Pentingnya Dukungan dari Orang Terdekat

Tanpa support orang terdekat, nggak heran banyak ibu rumah tangga yang mengalami stress bahkan depresi. Sedih banget-banget ketika melihat berita seorang ibu tega menggorok leher ketiga anaknya dengan alasan agar mereka mati aja dan nggak hidup menderita seperti sang ibu. 

Being full stay at home mom can be so frustrated, ketika semua beban pekerjaan rumah tidak dibagi, pengasuhan anak dituntut sempurna dan hanya diserahkan pada ibunya doang. Sepengalaman saya jadi ibu rumah tangga, pekerjaan rumah itu nggak ada habisnya, nggak ada liburnya tapi sering dilihat sebagai pengangguran :')

Peran suami, keluarga dan kerabat terdekat yang mendukungnya lah yang bisa diharapkan oleh seorang ibu rumah tangga. Hanya dengan menghargai ruang yang dimiliki oleh seorang ibu dan memberinya kesempatan untuk mengembangkan diri, akan sangat membantu menurunkan tingkat stress ibu rumah tangga karena dapat mengusir kebosanan yang dirasakannya di rumah.

Niatnya mau sharing tipis-tipis malah jadi sesi curhat dan ngecapruk ke mana-mana dong! Haha. Semoga bermanfaat :)

Sukabumi, 21 Maret 2022