Bagaimana Membuat Podcast yang Baik dan Menarik?


Sejak bulan November 2020 lalu, aku mulai merambah ke dunia podcast. Mulanya, aku membuat podcast pribadi, kemudian mengajak Erryn dan Evita untuk podcast-an bareng di channel Coffee and Pie Podcast. Selain itu, aku juga aktif mengisi podcast Drakor Class bersama classmates yang lain.

Makin ke sini, terlihat bahwa aku lebih senang menulis dibandingkan ngoceh sendiri di podcast. Hehe. Akan tetapi, podcast ku bersama Coffee and Pie dan Drakor Class masih berlanjut hingga sekarang. Emang enak itu kalau ngobrol ada temannya, sih!


Bersama Coffee and Pie, sudah sekitar 15 episode kami hasilkan. Bulan Mei yang lalu, kami mencoba untuk meng-upgrade level dengan mengikuti kompetisi podcast yang diadakan oleh Bank Indonesia.

Kompetisi yang mengusung tema "Bicara Makroprudensial" ini membuat kami cukup tertantang. Sebabnya adalah, kami bertiga tidak memiliki latar belakang ekonomi dan tentu saja tidak mengikuti berita-berita terkini tentang perkembangan ekonomi nasional.

Dengarkan Coffe and Pie Podcast dalam episode "Miliki Rumah dan Kendaraan Impian Tanpa DP!"

Sebelum kompetisi berlangsung, diadakan webinar "Produksi Podcast, Dari Perekaman Sampai Branding" yang materinya dibawakan oleh podcaster senior, Rane Hafied. Di sana, dijelaskan secara detail bagaimana memproduksi podcast yang baik hingga menggaet audiens.

Selain itu, di awal bulan Juni ini, Erryn yang mewakili Coffee and Pie juga mengikuti webinar yang diadakan oleh Radio Budi Luhur dengan topik "It's Time to Show Your Podcast". Podcaster yang menjadi narasumber dalam webiar tersebut adalah Oza Rangkuti pemilik Podcast Kesel Aje.

Dalam tulisan kali ini, aku ingin mencoba merangkum kedua webinar tersebut sehingga menjadi tips bagaimana membuat podcast yang baik dan menarik. Podcaster, silakan disimak sampai selesai ya!

What Makes Your Podcast Special?

Di antara ribuan podcast yang ada di berbagai platform seperti Anchor, Spotify, Apple dan Google Podcast, apa sih yang membuat podcast milik teman-teman ini berbeda? Mungkin kalau dalam dunia blog istilahnya niche ya.

Jadi, kita harus pintar-pintar nih memilih topik yang seru untuk dibahas dan sekiranya masuk ke dunia para pendengar kita. Tentunya, pemilihan topik ini disesuaikan dengan target audiens kita ya. Misalnya, beberapa waktu lalu Coffee and Pie Podcast membahas seputar nostalgia masa sekolah yaitu SMA dan kuliah.

Topik-topik ini kami pilih karena mostly audiens dari Coffee and Pie adalah teman-teman sekolah. Hehe.

Coffee and Pie Podcast dalam "Nostalgia Masa SMA"

Kemudian, di salah satu episode Coffee and Pie Podcast, kami juga pernah mengadakan games truth or dare. Lainnya, kami pernah mengadakan survey yang melibatkan audiens untuk ikut berpartisipasi. We're trying to make some improvement dalam setiap episodenya.

Kemudian podcast Drakor Class, tentu saja membahas seputar drama Korea dan hal-hal yang berkaitan dengan Korea misalnya tempat wisatanya. Pemilihan niche yang spesifik pada podcast ini membuat branding dari podcast kita menjadi lebih mudah.

Perhatikan Kualitas Audio

Ini juga penting. Berhubung karya kita ini bentuknya adalah suara, maka kualitas dari audio yang kita hasilkan harus banget diperhatikan. Coba bayangkan, kalau teman-teman mendengarkan podcast yang suaranya seperti orang sedang kumur-kumur atau mendem dan terdengar sangaat jauh? Pasti langsung nggak berminat untuk mendengarkan sampai selesai.

Kualitas audio ini bisa kita tingkatkan dengan memperhatikan perangkat yang kita gunakan. Kalau aku bersama teman-teman Coffee and Pie, kami akan mencoba beberapa tools yang kami miliki dan mencari perangkat mana yang membuat suara kami terdengar paling jernih.

Lalu, jangan lupa untuk memperhatikan jarak antara mulut kita ke microphone. Jangan sampai suaranya terlalu kecil atau malah terlalu besar hingga menyakitkan telinga. Posisikan microphone agar suara kita terdengar jelas dan tidak terdengar hembusan-hembusan nafas.


Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah tempat rekaman. Tentu kita nggak mau pendengar merasa terganggu dengan adanya suara-suara gaib, kan? Misalnya jika kita rekaman di dalam kamar, noise bisa diminimalisir dengan mematikan kipas angin atau televisi.

Kalau bisa, tempat yang digunakan untuk rekaman benar-benar tempat yang nyaman dan minim gangguan. Bayangin deh, gengges banget kan kalau kita lagi dengar podcast lalu terdengar suara kendaraan lalu lalang mengalahkan suara backsound sebab pemilik podcast rekaman sambil menunggu angkot di pinggir jalan raya? Hmmm..

Batasi Durasi

Dalam webinar "It's Time to Show Your Podcast" salah seorang peserta bertanya tentang seberapa lama durasi podcast agar audiens betah dan tidak meninggalkan obrolan kita di tengah jalan. Oza Rangkuti menjawab kalau sebetulnya tidak ada batasan pasti berapa lama durasi podcast yang baik.

Akan tetapi, beliau meminta para peserta untuk bertanya pada diri sendiri, "Apakah gue mau menghabiskan sekian belas menit atau sekian jam dari waktu gue yang berharga untuk mendengarkan podcast ini?". Apalagi kalau podcast kita istilahnya masih lu siapa?

Berbeda dengan podcaster lain seperti Dedi Corbuzier atau Raffi Ahmad dan Nagita Slavina yang memang sudah memiliki massanya sendiri. Mereka mau bikin podcast dengan durasi satu atau dua jam juga bakal ribuan orang yang menyimak sampai selesai.

Jadi, sebagai podcaster baru, kita harus bisa mendisiplinkan diri untuk membatasi durasi podcast sehingga pendengar akan menyimak podcast kita sampai habis meskipun mereka belum mengenal siapa kita. Harapannya, pendengar akan mendengarkan episode-episode podcast kita yang lain.

Belajar time management penting juga, nih!

Dari lomba-lomba podcast yang aku ikuti, rata-rata durasinya adalah 10 - 20 menit. Sehingga, dalam durasi yang sekian itu diharapkan kita bisa menyampaikan semua informasi yang akan dibawakan dengan baik.

Ini masih jadi pelajaran juga buat kami, baik Coffee and Pie maupun Drakor Class yang kalau ngobrol di podcast itu waktunya masih sering offside. Hehe.

Menulis Untuk Telinga


Tips selanjutnya adalah membuat konsep konten podcast yang akan dibawakan. Ini bisa dilakukan dengan membuat skrip atau hanya membuat poin-poin dari bahasan utama yang ingin disampaikan. Poin-poin ini nantinya dikembangkan secara spontan.

Seberapa penting membuat konsep untuk podcast? Menurut Rane Hafied membuat konsep yang matang membuat kita lebih fokus pada konten yang akan dibawakan. Dengan adanya skrip atau poin-poin pembahasan, maka pembicaraan kita nggak akan melebar ke mana-mana dan berujung pada durasi yang kepanjangan.

Jangan lupa bahwa podcast adalah sajian tulisan yang disuguhkan untuk telinga. Sehingga gunakanlah bahasa yang enak untuk didengar dan tidak kaku serta terlalu puitis seperti saat kita menulis fiksi.

Sesuaikan juga dengan konten yang kita bawakan. Apakah kita membuat konsep seperti sedang siaran berita atau ngobrol asyik dengan teman-teman? Ini akan membuat perbedaan pada gaya bahasa yang akan kita gunakan.

Konsisten Adalah Koentji


Tips terakhir yang paling susah untuk dilakukan tapi paling penting adalah konsistensi. Kita nggak akan tahu nih, topik mana yang membuat podcast kita akan dikenal secara luas. Jadi, sayang banget kalau kita menyerah setelah baru meluncurkan 5 episode podcast.

Sama halnya dengan menulis di blog. Awalnya pembaca yang mampir ke blog kita masih hitungan jari. Ngenes ya lihatnya? Tapi dengan konsistensi dan ketekunan, pembaca yang mampir ke blog semakin lama semakin bertambah. Ini nggak akan terjadi kalau kita sudah menyerah duluan di awal.

Begitu pula dengan podcast. Konten mana yang membuat pendengar betah mendengarkan podcast kita, ya kita nggak akan tahu kalau tidak mencoba untuk selalu membuat episode baru. Oza Rangkuti sendiri baru berhasil viral dengan Podcast Kesel Aje-nya setelah setahun rutin membuat episode-episode podcast dan menghasilkan 241 episode, gaes!

Itu tadi, 5 tips agar teman-teman bisa membuat konten podcast yang baik, menarik dan tentunya nyaman didengarkan oleh para audiens podcast kalian. Yuk, kita sama-sama belajar membuat konten podcast yang baik!

Semoga bermanfaat!

Sukabumi, 4 Juni 2021

Posting Komentar

20 Komentar

  1. Bermanfaat sekali Mb. Terimakasih atas sharingnya. Oa mb, kalau podcast tentang kisah inspiratif kira2 laku gak ya Mb ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau menurut saya, selama masuk dengan target audiens dan konsisten melakukan branding, pasti ada aja peminatnya, kak.. Selamat mencoba..

      Hapus
  2. Keren deh Ima punya podcast sendiri, kreatif dan produktif banget, hebaat.. Semoga sukses selalu yaa Ma.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you Mbak Diani.. Alasan podcast biar bisa ngobrol bareng temen2. Wkwk..

      Hapus
    2. Thank you Mbak Diani.. Alasan podcast biar bisa ngobrol bareng temen2. Wkwk..

      Hapus
    3. Thank you Mbak Diani.. Alasan podcast biar bisa ngobrol bareng temen2. Wkwk..

      Hapus
  3. Mau ngapain saja kuncinya konsisten ya. Akun podcast saya sudah lama gak ditengok. Dipake belajar, coba bikin, isi beberapa tapi kemudian merasa lebih enak menulis. Mungkin kalau ada temannya dan kualitas audio bagus, bisa lebih menyenangkan ya.

    BalasHapus
  4. Konsistensi adalah KOENTJI!
    Ini emang kudu underlined and bold mb :D
    Soale, aku juga sempat bikin podcast, tapiii brenti setelah dua tayangan
    Wkwkwkwk
    Baiklah, abis gini mau (mencoba) produksi podcast lagiiii

    BalasHapus
  5. Tipsnya mantap banget. yg utama konsisten ya... Bikin podcast dari hati. Gak cuma ikut-ikutan. Menentukan tema dulu deh kalau saya, batu kelak bikin akun nya. Hehehe ....

    BalasHapus
  6. Pingin belajar Podcast ngak pernah kesampaian hahaha cuma niat doang, tapi saya setuju sih semuanya itu butuh konsistensi, mau belajar apapun kalau ngak konsisten ya percuma aja. Jadi kalau mau melakukan aktivitas biasanya saya persiapkan dulu dan buat rencana dulu biar konsisten. Aku juga suka dengerin beberapa channel podcast yang temanya lucu-lucu jadi berpikir ngak mudah ya bikin podcast yang menarik.

    BalasHapus
  7. Nambah wawasan nih. Edikit banyak says sudah mengetahui tentang podcast. Selamat siang, Mbak. Terima kasih telah berbagi.

    BalasHapus
  8. Wah Alhamdulillah baca ini karena kebeneran mau mencoba juga podcast. Cuma nggak tahu kapan, masih agak bingung mulai darimana

    BalasHapus
  9. Lanjut doongg.. share tools dan perangkat yang baik buat podkes... aku suka tuh point menulis untuk telinga. Mesti belajar banyak juga buat podkesan nih, secara masih nubie dan banyak mmm..mmm nya gituu :))

    BalasHapus
  10. Bikin podcast itu sebetulnya 11 12 sama bikin blog mungkin ya Mbak? Cuma bedanya ini dalam bentuk suara. Awalnya saya pikir Podcast itu spontan lho, ternyata perlu dibikin narasi di awalnya juga. Keren!

    BalasHapus
  11. Wiwin | pratiwanggini.net25 Juni 2021 22.20

    Pengin dong kapan-kapan bikin podcast. Masalahnya aekarang adalah masih dalam suasana puasa.

    BalasHapus
  12. Ah kece mbak ima
    sudah makin jago bikin konten audio
    Aku pengen belajar bikin tapi kok masih sulit memulai
    klo chanel sendirian gitu persiapannya lebih banyak ya mbak?

    BalasHapus
  13. Wiwin | pratiwanggini.net26 Juni 2021 06.26

    Salut dengan teman-teman yang berbagi lewat suara atau menulis untuk telinga. Saya berani bicara di depan publik secara daring baru sebulanan ini :D Mungkin suatu hari nanti mau nyoba podcast-an juga...

    BalasHapus
  14. Owalah, temen nge-podcast nya mbak Evita toh... Aku pernah kepoin. Suaranya renyah2 eg... Jadi pengen aku tuh bikin juga..

    BalasHapus
  15. Podcast ini memang dunia baru yang mengasyikkan.
    Harus dijajal dan komit untuk konsisten agar menemukan warna kita sendiri sebagai podcaster.
    Aku suka happy dengerin suaraku sendiri yang berisik, huuhuu...tapi gimana orang lain?
    Ngerasa terganggu gak?

    Ini kudu evaluasi bolak-balik rasanya...

    BalasHapus
  16. Udah punya akun podcast, tapi terus nganggur. Masih bingung cara makainya. Setelah baca artikel ini, jadi semangat buat memulai lagi nih.

    BalasHapus