Ibu Rumah Tangga, Ibu Produktif yang Bekerja di Ranah Domestik

cover blog penutupan konferensi ibu pembaharu

Bertepatan dengan hari ibu tanggal 22 Desember 2021 lalu, Konferensi Ibu Profesional resmi ditutup dengan workshop "Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Bangga" yang dibawakan oleh Septi Peni Wulandani, founder Ibu Profesional.

Selama 6 hari mengikuti rangkaian acara Konferensi Ibu Pembaharu secara virtual, saya mendapat banyak sekali insight dan value dari masing-masing narasumber yang cukup memberikan saya inspirasi untuk lebih berani bermimpi.


Penutupan acara perayaan satu dekade Ibu Profesional berlangsung dengan khidmat dan penuh haru. Selain workshop yang diisi oleh Bu Septi, masing-masing komponen yang ada di Ibu Profesional juga ikut menyumbangkan persembahannya.

Saya Ibu Rumah Tangga, Saya Bangga

Berapa banyak ibu rumah tangga yang bisa menjawab dengan lantang dan rasa bangga jika diberi pertanyaan, "Sekarang kerjanya apa?".

Sayangnya, masih banyak ibu rumah tangga yang akan memberikan jawaban dengan rasa berkecil hati, rendah diri dan dengan tidak percaya diri mengatakan, "Sekarang cuma ibu rumah tangga,".


Jawaban ini bukan tanpa dasar, adanya stigma yang tersemat pada peran ibu rumah tangga menjadikannya seolah memegang tanggung jawab yang tidak penting.

ibu rumah tangga konferensi ibu pembaharu 2021
Stigma ibu rumah tangga

Inilah yang pernah dirasakan oleh Bu Septi Peni Wulandani setelah memutuskan untuk resign dari pekerjaan yang dianggap menjanjikan. Fase-fase ini juga pernah saya lewati ya, termasuk mungkin teman-teman yang membaca tulisan saya ini.

It's okay, asalkan kita menjadikannya sebuah proses untuk bertumbuh. Ya dong, nggak mungkin berlama-lama kita terpuruk dalam rasa tidak percaya diri dan minder dengan pencapaian orang lain.

Dari rutinitas yang berkutat antara sumur-dapur-kasur, Bu Septi mendapati dirinya jenuh dan merasa apa yang dilakukannya itu membuatnya terkurung dalam aktivitas yang berulang setiap harinya. Beliau mulai kehilangan kebahagiaan dalam menjalani hari-hari sebagai seorang ibu rumah tangga.

Permasalahan yang banyak sekali dianggap sepele oleh banyak orang ini menjadi perhatian lebih untuk Bu Septi. Ibarat kata, seorang ibu adalah cahaya bagi keluarganya. Jikalau seorang ibu sudah mulai kehilangan cahayanya, bagaimana dengan suaminya? Anak-anaknya?

Jika kita ingin mengubah keadaan, kitalah yang harus berubah lebih dulu...

-Septi Peni Wulandani, Konferensi Ibu Pembaharu 2021

Masalah ini kemudian dijadikan suatu hal yang membuat Bu Septi berbinar. Berbinar karena ingin mencari solusinya. Mengubah stigma yang melekat pada ibu rumah tangga, menjadikan peran ibu rumah tangga adalah sebuah kebanggaan keluarga.

Ibu Rumah Tangga, Produktif di Ranah Domestik

Bu Septi kemudian mulai belajar, mengatur waktunya untuk urusan domestik dan meluangkan waktu untuk belajar. Setiap hari Rabu, beliau akan menyisihkan beberapa jamnya untuk membaca dan melakukan presentasi.

Untuk siapa? Untuk dirinya sendiri. Beliau berusaha disiplin untuk menjalankan aktivitas belajarnya tersebut dan menerapkan hasil pembelajarannya dalam keseharian. Beliau menjadikan area pekerjaan ibu rumah tangga yakni sumur, dapur dan kasur layaknya sebuah playground yang dibuat semenyenangkan mungkin.

Apa yang beliau pelajari dan terapkan, terasa membawa perubahan bagi dirinya serta keluarganya. Merasa kapasitas dirinya sebagai seorang ibu rumah tangga meningkat, Bu Septi membagikan ilmunya pada para ibu lain yang juga ingin belajar.

ibu profesional
Perjalanan Bu Septi dan Pak Dodik membangun Ibu Profesional

Hingga akhirnya lahirlah komunitas Ibu Profesional. Dalam Ibu Profesional ini, kami belajar untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai seorang ibu, istri dan juga perempuan. Sehingga pola pikir ibu rumah tangga itu tidak produktif sudah tidak pernah ada lagi.

Sebutan ibu bekerja dan ibu tidak bekerja itu tidak ada dalam kamus Ibu Profesional. Semua ibu bekerja, semua ibu produktif di bidangnya masing-masing. Bedanya, ada ibu yang bekerja di ranah publik dan ada ibu yang bekerja di ranah domestik.

Keduanya sama-sama mulia, sama-sama patut menjadi kebanggaan keluarga. Sayangnya di Indonesia sendiri, sampai sekarang ibu rumah tangga masih dianggap sebagai pengangguran. Sebab ibu rumah tangga tidak turut menyumbangkan pendapatan untuk negara.


Zuzur, kesel sih gue dengernya! Hello everyone, ibu rumah tangga bukan pengangguran. Mereka memberikan kontribusi bagi negara ini, salah satunya sebagai pendidik dari generasi yang akan datang. Nggak adil rasanya kalau negara kita hanya mengukur produktivitas perempuan dari pekerjaannya yang dibayar.

Padahal, ranah domestik juga merupakan lahan di mana para ibu rumah tangga menunjukkan produktivitasnya.

Komponen dalam Ibu Profesional

Untuk teman-teman yang sudah membaca artikel-artikel saya mengenai Konferensi Ibu Pembaharu tapi masih bertanya-tanya, "Seperti apa sih di Ibu Profesional itu?". Saya akan mencoba membedah masing-masing komponen yang ada di dalamnya secara singkat ya.

Institut Ibu Profesional (IIP)

logo IIP
Dalam Institut Ibu Profesional, para anggota yang sudah bergabung akan mengikuti tahapan-tahapan pembelajaran dengan berstatus sebagai mahasiswa. Di sini, para mahasiswa akan belajar menemukan value dari dirinya sendiri dan juga bagaimana menjalankan perannya sebagai diri sendiri, istri dan juga seorang ibu dengan profesional.

Adapun jenjang kelas yang akan ditempuh oleh para anggota IIP adalah Matrikulasi, Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Salihah. Masing-masing tahapan kelas dikemas dalam bentuk permainan dan petualangan (gamifikasi).


Saat ini, saya sendiri tercatat sebagai mahasiswi di kelas Bunda Cekatan. Saya merasa, pembelajaran yang saya dapatkan semasa di kelas Matrikulasi dan Bunda Sayang sangat bermanfaat dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu saya memutuskan untuk terus belajar di tahapan-tahapan IIP berikutnya.

Komunitas Ibu Profesional

logo kampung komunitas IP

Dalam Komunitas Ibu Profesional, kita akan menemukan banyak sekali wadah untuk menggali, memperdalam dan mengembangkan apa yang menjadi passion kita. Di setiap regional, teman-teman akan mendapati ada banyak sekali rumah belajar, rumah bermain dan rumah berbagi di sana.

Untuk masuk ke dalam komponen komunitas, tahapan yang harus dilalui hanya satu yaitu kelas Orientasi. Di sana teman-teman akan dikenalkan dengan CoC (Code of Conduct) Ibu Profesional, makna berkomunitas hingga bagaimana kita bisa berkomunitas dengan bahagia.

Setelah bergabung dengan regional masing-masing, teman-teman ya tinggal bebas memilih ingin masuk ke rumah belajar apa, atau ingin aktif di rumah bermain maupun rumah berbagi. Saya sendiri memilih untuk masuk ke dalam Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Sukabumi.

Selain itu, saya juga ikut di Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Bisa dibilang, KLIP ini bagaikan UKM kalau di sebuah universitas ya. Bedanya, isinya bukan teman-teman dari berbagai jurusan melainkan teman-teman dari berbagai regional. Bahkan, kalian yang bukan anggota Ibu Profesional pun bisa bergabung bersama KLIP.

Sejuta Cinta Ibu Profesional

Apabila teman-teman suka dengan kegiatan yang bersifat sosial, maka Sejuta Cinta-lah wadahnya. Komponen ini merupakan CSR (Community Social Responsibility) yang kegiatannya bergerak dan bersifat sosial dengan tujuan untuk meningkatkan kemuliaan hidup.

Kegiatan yang dilakukan komponen ini antara lain mengumpulkan dana sosial, menjalankan program-program kegiatan sosial lain terutama yang membantu ibu dan anak.

Saya beri contoh misalnya ketika pandemi sedang dahsyat-dahsyatnya hingga berdampak ke seluruh lapisan masyarakat, Ibu Profesional membuat program Ibu Bantu Ibu untuk membantu keluarga para member Ibu Profesional yang terdampak pandemi Covid-19.

Resource Center Ibu Profesional (RCIP)

logo RCIP

Ketika kita masuk ke dalam keanggotaan Ibu Profesional, hanya tiga komponen yang sudah saya sebutkan di atas (IIP, Komunitas dan Sejuta Cinta)-lah yang dapat kita pilih. Sementara RCIP bukan merupakan komponen pilihan.

RCIP hadir untuk memfasilitasi teman-teman yang ingin mengadakan atau mengikuti pelatihan seputar keorganisasian. Pada suatu waktu, saya mengikuti kegiatan MoT (Master of Training) yang diadakan oleh RCIP pusat.

Di sana, saya dilatih menjadi seorang trainer yang mampu merancang pelatihan baik untuk anggota Ibu Profesional maupun umum. Nggak hanya mendengarkan materi, tapi kami juga diminta untuk mempresentasikan proposal training yang kami rancang.

Koperasi Ibu Profesional Mandiri (KIPMA)

Berlandaskan asas koperasi, KIPMA berdiri sebagai jaringan kemandirian perempuan. Ibu Profesional membuka market-nya sendiri untuk para anggotanya agar bisa menjual hasil karya atau produksinya baik pribadi maupun bersama regional komunitasnya dan menjadi konsumen juga.

Para perempuan yang memiliki passion di bidang bisnis diberi wadah untuk berdaya agar dapat meningkatkan perekonomian keluarganya.

Sekretariat Nasional (Seknas)

Seknas ini diibaratkan sebagai dapurnya (pawon) Ibu Profesional pusat. Terdiri dari Bu Septi Peni Wulandani sebagai Founder Ibu Profesional, Pak Dodik Mariyanto sebagai inisiator dan tim ahli lainnya.

Adapun bidang yang terdapat dalam tim seknas ini adalah Konsultan Partnership Program, Sekertaris Jendral Ibu Profesional, Rektor IIP, Ketua Komunitas IP, Direktur KIPMA, Ketua RCIP Nasional, Ketua Komponen Sejuta Cinta.

Di samping itu masih ada lagi Manager Operasional Sekjen, Manager Media Komunikasi Sekjen, Manager Program Sekjen, Manager Keuangan dan Manager Humas Sekjen.

Penutup

Akhirnya, sampai juga di tulisan terakhir saya sebagai wartawan KLIP. Bisa menulis tentang 6 hari Konferensi Ibu Pembaharu memberikan banyak pembelajaran tentang sibuknya menjadi seorang jurnalis. Wkwk...

Semoga tulisan-tulisan saya mengenai sedikit dari apa yang disampaikan oleh para narasumber selama acara konferensi berlangsung bisa menjadi pengikat ilmu yang bermanfaat bagi saya dan teman-teman yang ikut membaca.


Satu hal yang konsisten disampaikan oleh para narasumber adalah bagaimana kita bisa memaknai peran yang diberikan oleh Tuhan di dalam kehidupan ini? Hampir semua narasumber melakukan refleksi dan bertanya pada diri sendiri tentang makna Tuhan menciptakan dirinya di dunia.

Pertanyaan ini jadi membuat saya ikut merenung tentang peran dan kontribusi apa yang sudah saya lakukan selama 30 tahun hidup saya? Semoga kita bisa menggali lebih dalam mengenai hal itu dan tentunya bergerak untuk lebih berdampak bagi keluarga dan masyarakat pada umumnya.

Yogyakarta, 31 Desember 2021

Posting Komentar

0 Komentar