Tentang Anak yang (Katanya) Nakal

Tentang anak nakal cover

Anak-anak usia dini yang menunjukkan perilaku menantang seperti memukul, menendang, melempar barang dan berteriak kerap dilabeli sebagai 'anak nakal'. Kadang semakin diberitahu, semakin menjadi-jadi juga hal yang ia lakukan.

Sudah jadi orang tua, nggak boleh malas belajar. Belajar memahami fase apa yang sedang dilalui oleh anak, apa sebenarnya yang mendasari perilakunya tersebut.

Meskipun belief parenting kita (gue aja kali, lol) masih terbawa dari apa yang pernah kualami dan sedikit banyak terpengaruh lingkungan sekitar, tapi aku menyadari bahwa ilmu itu dinamis, termasuk juga dengan ilmu parenting. Jadi harus selalu update ilmu dan membuka diri untuk menerima pengetahuan baru.

Setidaknya yang sejak dulu aku pegang hingga sekarang (dan seterusnya) adalah orang dewasa di sekitar anak tidak boleh melabeli anak-anak dengan sebutan tertentu. Contohnya, "Dasar, kamu pelit!" atau, "Nakal banget siiih kamu, ya ampuun!".

Sangat tidak mudah memang memahami perilaku anak-anak yang sering membuat kita harus inhale dan exhale berulang kali hanya untuk mengendalikan nada bicara supaya tidak nge-gas. Huft~

Akan tetapi, dengan terus belajar tentang ilmu parenting, sedikit banyak orang tua akan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada anak sehingga ia melakukan perilaku menantang tersebut.


Pada tulisan kali ini, aku ingin merangkum dan membagikan apa yang aku dapatkan setelah menonton IG Live berjudul "Tidak Ada Anak Nakal" yang disampaikan oleh Bu Damar Wijayanti.

Menurutku materinya bergizi sekali dan sayang rasanya kalau tidak dituliskan dan disimpan sebagai pengingat diri sendiri. Semoga bermanfaat juga untuk yang membaca.

Apakah Ada 'Anak Nakal'?

Label 'anak nakal' ini tidak berlaku atau tidak diakui dalam berbagai sumber ilmu parenting. Dalam beberapa metode seperti Montessori, Conscious Parenting, Positive Discipline dan Stress and Trauma, tidak ada pembahasan mengenai how to deal with bad child.

Dalam keempat metode di atas, dijelaskan bahwa pasti ada alasan di balik perilaku menantang yang ditunjukkan anak pada orang tua atau orang dewasa di sekitarnya.

'Nakal' Menurut Pandangan dr. Maria Montessori

Pada metode Montessori, dikatakan bahwa apabila seorang anak menunjukkan perilaku agresif atau menantang secara terus menerus, anak tersebut disebut mengalami penyimpangan.

Penyimpangan yang terjadi pada anak tersebut bisa berupa menyakiti orang lain, menyiksa hewan, melempar-lempar barang dan lain sebagainya. Penyimpangan ini dapat terjadi ketika anak tersebut mendapatkan stress berkepanjangan dari lingkungannya, sehingga tidak dapat tumbuh dan berkembang seperti natural (fitrah)-nya anak-anak.

maria montessori quotes

Jika kita membaca mengenai metode Montessori, teman-teman akan menemukan bahwa ada yang dinamakan dengan periode sensitif pada anak usia dini. Periode ini adalah periode di mana keinginan anak untuk melakukan suatu hal itu sangat besar dan apabila terstimulasi dan terpenuhi dengan baik, maka anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal.


Misalnya saja, anak-anak yang sedang dalam periode sensitif terhadap gerak namun terpaksa harus diam karena banyaknya larangan dari pendampingnya atau tidak terfasilitasi dengan baik, bukan tidak mungkin kelak ia akan menunjukkan tanda-tanda perilaku yang menyimpang.

Bisa jadi anak tersebut sulit untuk fokus, tidak bisa konsentrasi dalam waktu yang lama dan tidak mau 'duduk rapi' saat sudah memasuki usia sekolah di jenjang yang lebih tinggi.

Terima tidak terima, bukan anaknya lah yang nakal. Orang dewasa yang mendampingi anak tersebut yang kurang memahami kebutuhan dasar dari anak-anak sehingga anak tersebut terpaksa menyimpang dari jalur tumbuh kembangnya.

'Nakal' Dalam Conscious Parenting

Ketika anak-anak dididik dalam lingkungan yang mana orang tua atau pengasuhnya belum selesai dengan dirinya sendiri di masa lalu, secara unconscious atau tidak sadar orang tua tersebut membentuk anak untuk menjadi seperti apa yang mereka inginkan.

Hal ini sering kali bertentangan dengan keinginan anak-anak. Anak menjadi tidak nyaman dengan perlakuan orang dewasa yang mendampinginya hingga akhirnya ia merespon dengan caranya sendiri. Cara yang anak-anak paham dan bagi orang tua sering kali diartikan sebagai kenakalan.

Misalnya, ketika orang tua tidak berhasil menjadi seseorang seperti yang ia cita-citakan semasa kecil, saat memiliki anak ia menurunkan cita-citanya tersebut.

Orang tua tersebut secara tidak sadar memaksa anak agar menjadi seseorang yang ia inginkan di masa kecil dulu. Namun, anak adalah anak yang memiliki karakternya sendiri, keinginannya serta kebebasan untuk memilih sendiri.

When you're parent, it's crucial you realize you aren't raising a "mini me" but a spirit throbbing with its own signature.
-dr. Shefali Tsabari

Untuk merespon ketidak nyamanan yang diterima anak ketika orang tua mencoba terus menerus untuk membentuk dirinya menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri, maka anak akan melakukan perlawanan.


Sehingga yang dapat orang tua lakukan adalah berdamai dengan masa lalunya terlebih dahulu. Selanjutnya adalah mendampingi anak-anak dengan penuh kesadaran.

Pentingnya Kehadiran Orang Tua Saat Membersamai Anak

Kehadiran kita secara utuh adalah yang dibutuhkan anak. Bukan hanya hadir secara fisik, tapi betul-betul hadir dan tidak memikirkan hal lain yang membuat kehadiran kita setengah-setengah (contoh : main sama anak tapi mikirin kerjaan, mikirin kata tetangga atau mertua tentang gaya parentingnya).

Yang terpenting adalah bukan apa kata orang lain tentang kita sebagai orang tua, paling penting adalah pendapat anak kita memandang kita sebagai ibu atau ayah.

tentang anak nakal
Sumber : freepik

Pikirkan bahwa perasaan anak merasa disayangi, diperhatikan dan dihargai perasaannya adalah yang terpenting dibandingkan dengan omongan-omongan orang lain.

Selain itu, kehadiran orang tua pada tumbuh kembang anak pada masanya juga sangat dibutuhkan oleh anak. Pahami seperti apa tumbuh kembang anak sendiri karena every child is uniqe.

Pemahaman ini akan membuat orang tua tidak membanding-bandingkan tahap tumbuh kembang anaknya dengan anak orang lain dan fokus pada tahapan tumbuh kembang anak yang sedang terjadi.

'Nakal' dari Sudut Pandang Positive Discipline

Dalam positive discipline, ada yang disebut dengan belief behind behavior. Maksudnya adalah perilaku yang dilakukan oleh anak pada saat merespon orang dewasa yang mendampinginya sering kali didasarkan oleh kepercayaan yang tertanam dalam pikirannya.

Perilaku menantang yang dilakukan oleh anak-anak biasanya disebabkan karena respon orang tua terhadap dirinya yang membuat anak merasa tidak dihargai, tidak dianggap, tidak berguna dan tidak disayang oleh orang tuanya.

Aku sendiri menyadari hal ini ketika anakku sering kali melakukan aksi macam-macam saat aku sedang tidak fokus dengan dirinya.

Misalnya saja, saat aku sedang lebih fokus menulis dibandingkan dengan membersamainya bermain atau saat aku sedang masak, mencuci piring dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.

Saat itulah anakku biasanya melakukan hal-hal yang membuat perhatianku akan teralihkan padanya lagi. Ia mulai menarik-narik baju, memanggil-manggil diriku hingga jutaan kali (lebaaay!), bahkan pernah ia menggigiti celanaku pada saat aku sedang mencuci piring, lol.

Sayangnya, kadang aku masih meresponnya dengan, "Jangan ganggu doong," atau "Sabar dulu kenapa sih?!" Hmm.. Namun, setelah kembali conscious biasanya aku akan bertanya dan mengajak anakku ngobrol.

Dari obrolan ibu dan bocil berusia 2.5 tahun ini aku sadar bahwa anakku merasa nggak punya teman dan merasa sendirian ketika aku sedang mengerjakan hal lain.


Sehingga yang aku lakukan adalah mencoba melibatkannya sebanyak mungkin dalam kegiatan sehari-hari dan bekerja (menulis) hanya pada saat ia tidur. Tapi kalau ada deadline ya mau nggak mau sih bocil tetap dianggurkan sebentar. Heu~

'Nakal' dan Kaitannya dengan Stress and Trauma

Anak-anak yang mendapatkan tekanan terus menerus dari lingkungannya akan memiliki respon yang berbeda dibandingkan dengan anak-anak yang stress-nya lebih terkendali.

Stress yang terjadi pada manusia sebenarnya adalah hal yang wajar dan baik untuk kesehatan. Tentunya stress yang baik tidak datang secara bertubi-tubi dan dalam jangka waktu yang lama.

Stress yang baik akan membuat otak manusia belajar bagaimana meregulasi stress tersebut. Stress dengan kadar yang masih normal dapat membantu otak untuk memikirkan cara apa yang harus dilakukan ketika mendapatkan masalah yang serupa.

stress pada anak
Sumber : freepik

Berbeda dengan stress yang toksik. Tekanan yang datang setiap saat, setiap waktu dan terus berulang dalam waktu yang panjang membuat otak manusia tidak bisa cooling down. Stress mulu setiap hari kan ya stress banget kan?!

Stress dan Otak Manusia

Tekanan yang masuk akan diterima oleh bagian otak yang dinamakan lymbic system. Saat ada tekanan datang, lymbic system akan memutus koneksi dengan bagian otak yang disebut pre-frontal.

Bagian pre-frontal ini berkaitan dengan kemampuan manusia dalam berpikir logis. Ketika bagian pre-frontal ini terdiskoneksi, maka bagian otak lainnya yaitu batang otaklah yang aktif.

Batang otak merupakan otak bagian bawah yang sering disebut sebagai 'otak reptil', di mana bagian otak ini menjadi sumber reaktivitas manusia.

Dalam buku berjudul No Drama Discipline karya Daniel J. Siegel, M.D dan Tina Pyne Bryson, Ph.D, otak bagian pre-frontal atau otak bagian atas yang berkaitan dengan pembuatan dan perencanaan keputusan, fleksibilitas, adaptasi dan wawasan pribadi ini belum berkembang sempurna pada anak usia dini. Otak bagian atas ini akan terus berkembang hingga usia dua puluh tahunan

Jadi, terbayang ya bahwa otak yang paling berperan ketika anak-anak menerima tekanan adalah batang otak. 'Otak reptil' inilah yang bertanggung jawab atas atas saraf dan operasi mental yang paling mendasar contohnya naluri untuk melindungi diri sendiri.

Sehingga, ketika seorang anak merasa mendapatkan stress maka signal yang dikeluarkan oleh batang otaknya adalah "Siaga, bidik, tembak!". Anak bisa saja tiba-tiba memukul, melempar mainannya atau menggigit seseorang yang dianggapnya sebagai stressor.

Jangan heran ketika anak-anak merasa tidak nyaman atau marah karena suatu hal, ia akan sulit diajak bicara, terus menangis dan tidak mau mendengarkan. Hal ini karena otak bagian pre-frontalnya sedang terdiskoneksi.


Sebagai orang tua atau orang dewasa yang mendampingi anak, yang dapat dilakukan adalah membantu anak-anak untuk mengembangkan otak bagian pre-frontal dengan baik. Usahakan lingkungan di sekitar anak minim stress, jangan sampai stress yang diterima oleh anak berkepanjangan.

Dari apa yang dipaparkan di atas, sekali lagi tidak ada yang disebut sebagai anak nakal. Dalam stress and trauma, anak yang menunjukkan perilaku agresif dan menantang itu dikarenakan belum bisa meregulasi stress-nya dengan baik berkaitan dengan perkembangan otaknya tadi.

Pahami Apa yang Terjadi Pada Anak

Sebenarnya, ada hal-hal yang mendasari perilaku anak yang sering dianggap nakal dari semua teori parenting yang disebutkan dalam tulisan ini. Semua anak memiliki fitrah sebagai manusia yang baik. 

Hanya saja, ketidaktahuan orang dewasa yang mendampingi anaklah yang membuatnya mudah melabeli anak sebagai 'anak nakal' dan pada akhirnya anak tersebut meyakini dirinya bahwa ia adalah anak yang nakal :(

Kesimpulannya tidak ada yang namanya 'anak nakal', yang ada adalah orang dewasa yang tidak mengerti apa yang terjadi dibalik perilaku anak serta bagaimana cara merespon sikap dan perilaku menantang anak dengan cara yang baik.

Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.

Sukabumi, 21 Agustus 2021

Posting Komentar

10 Komentar

  1. Terimakasih tulisan bikin tertampar kadang kita ga sabaran menghadapi anak yang katanya nakal

    BalasHapus
  2. Aku baca artikel ini jadi merenung. Karena paham sih ya nggak ada anak nakal yang ada karena mereka membutuhkan sesuatu. Di masa pandemi ini, jadi pukulan banget buat para orangtua menghadapi anak-anaknya. Sehingga banyak label nakal pada anak.

    BalasHapus
  3. betul juga sih mbak bener nih kalo gak ada yang namanya anak nakal yang salah persepsi orang dewasa aja sih, banyak ilmu dari baca post ini mbak makasih

    BalasHapus
  4. Setuju banget sama sharingnya. Ga ada anak nakal, cuma kita aja para orang tua yg ga faham. Aku juga punya anak toddler harus banget stok banyak sabar biar bisa kasih mereka contoh dan ga gampang marah

    BalasHapus
  5. Label nakal itu keluar dari orang gede yang tidak mau belajar tentang perkembangan anak.. selama ini, aku menghindari banget label ini, baik untuk anak sendiri maupun untuk anak lain

    BalasHapus
  6. Setuju banget sama tulisananya kak, kita harus jadi orangtua yg menyelesaikan masalah kita sebelum anak kita lahir agar tidak timbul rasa mendominasi kemauan anak yg belum sempat kita gapai saat dulu

    BalasHapus
  7. Aku setuju mba. Memang tidak ada anak nakal gak boleh bilang gitu juga kan ya. Aku juga masih belajar ilmu parenting buat bekal jadi ibu

    BalasHapus
  8. Setuju, tidak ada anak nakal yang ada hanyalah orang tua yang tidak memahami kelakuan anak. Kenapa dia bertindak seperti otu pasti ada penyebanbnya jadi sudah tugas kita ya Mbak untuk mencari tahu dan berusaha memahami karakter anak.

    Noted banget nih, jadi pengingat juga buat saya agat bisa lebih mengontrol diri menghadapi tingkah anak2 di rumah yang selalu bikin saya menghembuskan napas berkali-kali, hehe

    BalasHapus
  9. Sebagai orangtua, kita tidak boleh henti-hentinya belajar dalam memahami anak ya Ma. Jujur aku dulu adalah orangtua yang sangat gak sabaran (sekarang juga masih sih tapi mulai berkurang hehe) karena aku nggak ngerti anakku tuh kenapa begini, begitu. Tapi setelah paham ilmunya yang diajarkan dalam Positive Discipline, aku jadi mengerti, dan merasa jahat banget ke anakku karena tidak memahami dia huhuhu

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉

Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍