Pengalaman Pertama Berfoto Untuk Endorsement

By Imawati A. Wardhani - Agustus 27, 2020


Pengalaman Mendaftarkan Diri Untuk Endorse

Mungkin ada teman-teman yang membaca tulisan ini, melihat story Whatsapp-ku beberapa waktu lalu saat aku dan anakku sedang berusaha berfoto dengan sebuah produk susu. Lalu ada yang menanyakan, "Foto-foto untuk apa?"

Untuk keperluan endorse, Sis! Haha. Jadi ceritanya, berbulan-bulan lalu di salah satu grup Whatsapp komunitas yang aku ikuti memberikan informasi tentang pendaftaran job untuk endorsement. Produknya adalah susu formula untuk anak-anak.

Mulanya aku kurang tertarik untuk mendaftarkan diri. Namun, setelah melihat persyaratan dan aku merasa memenuhi semua persyaratan, akhirnya aku pun ikut mendaftar di job tersebut tanpa harapan apapun. Kalau diterima ya rezeki, kalau tidak ya tidak apa-apa.
Lama sudah tak menerima kabar, aku mulai melupakan tentang job endorse tersebut. Sampai suatu hari, seseorang memasukkanku ke dalam grup Whatsapp yang baru saja dibentuk. Maygaad, grup apalagi ini?! Haha, entah sudah berapa banyak aku menjadi bagian dari grup Whatsapp.

Tak lama berselang, admin grup mengucapkan selamat dan terima kasih pada semua anggota grup yang sudah terpilih sebagai bagian dari endorse produk yang dimaksud. Baru ngeh deh kalau ternyata ini adalah lanjutan dari job yang aku daftar berbulan-bulan lalu. Alhamdulillah, ternyata rezeki.

Setelahnya, admin memberi informasi kalau pengiriman barang akan dilakukan secara bertahap dan harus segera mengonfirmasi setelah barang tiba. Informasi lebih lanjut mengenai brief pekerjaan yang harus dilakukan diberitahukan setelah barang sampai di tangan para anggota tim.

Beberapa hari kemudian, sudah banyak teman-teman yang menerima barang lalu mengonfirmasi pada admin grup. Brief pekerjaan pun disampaikan, kira-kira yang harus kami lakukan adalah berfoto bersama anak dan produk tersebut, membuat caption dan me-mention sponsor yang di maksud.

Setelah selesai pun tidak boleh langsung diposting di sosial media, tapi beberapa foto harus dikirimkan terlebih dahulu kepada admin untuk diseleksi. Caption pun demikian, setelah menerima persetujuan baru boleh mengunggah foto beserta caption ke sosial media milik kita.
Wah, diatur-atur seperti itu ya? Ya namanya juga bukan foto untuk diri sendiri melainkan ada udang dibalik batu dari foto tersebut alias ada yang meng-order kita untuk melakukan pekerjaan tersebut. Wajar jika harus sesuai dengan harapan si pemberi job. Selama tidak melanggar norma-norma dan hukum, aku tidak masalah.

Barang yang dikirimkan untukku pun akhirnya tiba, aku segera mengonfirmasi agar pihak pemberi job tidak menunggu lama. Terkaget aku, ketika admin memberi deadline malam itu foto beserta caption harus sudah dikirimkan. Padahal, niatku adalah menunggu suamiku pulang kerja agar bisa mendapat bantuan untuk berfoto.

Yaudahlah, tinggal foto doang mah gampang! Sesumbarnya aku di pagi hari ketika itu. Niatnya, sore aja sekitar habis ashar sembari killing time bersama si bocil. Ternyata, belum jam 3 sore aku sudah ngantuk beradh cuy! Anakku yang hari itu tidur siang hanya sebentar sungguh menguras energiku.

Pengalaman Berfoto Bersama Anak Untuk Endorse

Dari pada menunda-nunda, akhirnya aku putuskan untuk mengalahkan rasa kantuk dengan bersiap untuk melakukan sesi foto bersama anakku demi tidak mepet deadline.

Aku sedikit bersolek agar pihak pemberi job tidak merasa zonk saat melihat wajahku di foto. Haha. Anakku, seperti biasa mengekor kemanapun ibunya berjalan termasuk saat menyiapkan properti.

Belum ada satu menit properti disiapkan, semua sudah dihamburkan oleh si bocil. Hadeeuuhh. Ulang lagi dari awal! Setelah semua siap, aku mulai meletakkan kamera dan men-setting timer yang ada supaya lebih mudah. Hasilnya? Berkali-kali take tidak membuahkan hasil memuaskan.
Susah banget yaa mengondisikan bocah untuk berlagak di depan kamera. Saat hasil fotoku sudah bagus, ia blur dan begitu sebaliknya. Belum lagi tingkah polahnya yang tidak mau berdiam sejenak hingga lelah hayati mengulang-ngulang pose untuk foto.

Belum lagi dapat foto yang bagus, si kecil mulai melancarkan aksi protes. Mulai dari adegan pelemparan gelas, mengacak-acak taplak meja hingga menggerogoti produk yang harusnya di foto hingga bolong-bolong. Gusti! Keringatku hingga jatuh bercucuran mengondisikan si kecil yang sedang cranky. Elaaah~ ampe isya juga kagak kelar kalau begini ceritanye! Hopeless.

Saking merasa tidak ada harapan untuk mendapat foto yang bagus, aku sampai mengirimkan pesan pada admin, "Kak, boleh nggak fotonya pas anak lagi tidur aja? Hahaha!". Admin pun menjawab dengan tawa, "Hahaha.. Yah jangan dong, Kak!".

Akhirnya aku mengalah dan beristirahat sambil memutar otak untuk bisa kembali mengambil gambar. Malas kalau harus touch-up lagi, jadi sebelum make-up luntur dan amburadul aku bertekad sudah harus ada foto yang jadi dan bagus.

Dari jam 3 hingga magrib menjelang, kami berdua melakukan sesi foto yang penuh dengan drama. Haha. Duh, Dek! Belum ngerti kamu ya foto begini bisa buat beliin kamu baju sama mainan baru?! Akhirnya, ada beberapa foto yang aku pilih untuk dikirimkan pada pihak pemberi job.

Hasil foto yang di-approve untuk di-posting

Pengertian dan Tujuan Endorse

Dari tadi sibuk berceloteh tentang endorse, sebenarnya naon sih endorse tea? Endorse diambil dari kata bahasa Inggris yaitu endorsement, yang artinya dukungan, pengesahan dan persetujuan atas sesuatu.

Dalam dunia marketing, endorse dapat diartikan sebagai salah satu bentuk iklan digital yang menggunakan pihak-pihak lain untuk mendukung dan mempromosikan suatu barang atau jasa dari produsen tertentu.

Di era digital seperti sekarang ini, endorse banyak diminati sebagai salah satu upaya dari suatu brand untuk mengiklankan produknya. Selain karena biaya yang relatif lebih murah, peraturan yang mengikat juga tidak terlalu ketat antara kedua belah pihak. Tapi, hasil dari kegiatan endorse ini cukup berpengaruh terhadap penjualan produk yang diiklankan tersebut.

Biasanya, brand atau suatu perusahaan akan mengendorse seseorang yang dirasa punya pengaruh akan meningkatnya penjualan dari produk yang ditawarkan. Sebut saja artis-artis papan atas yang memiliki jumlah followers sosial media berjuta-juta. Bisa juga selebgram yang saat ini menjamur di dunia Instagram.

Lah kok lo bisa tuh jadi model endorse, lo sape, Ims? Aku hanya seorang hamba Allah yang bukan siapa-siapa, bagaikan sisa obat di sendok takar. Haha. Jadi, disamping artis dan selebgram, beberapa brand memanfaatkan influencer sebagai endorser produk mereka. Influencer sendiri terbagi-bagi berdasarkan jumlah followers mereka di media sosial.

Ada yang disebut mega influencer seperti artis-artis papan atas yang memiliki followers berjuta-juta, macro influencer yang jumlah followers sosial medianya 10.000 - 100.000, ada juga micro influencer dengan jumlah followers 1000 - 10.000. Terakhir nih, ada juga yang namanya nano influencer yang jumlah followers-nya hanya 500 - 1000 orang.

Nah, aku masih bagaikan setitik atom dalam dunia Instagram sehingga masuk ke dalam kategori nano influencer. Nano-nano bisa juga loh di endorse! Haha.

Endorse sendiri merupakan salah satu bentuk dari strategi marketing suatu perusahaan. Tujuannya adalah memberi informasi sebanyak-banyak tentang produk yang dimaksud dengan harapan banyak orang yang kemudian ikut menggunakan produk tersebut. Pada akhirnya, tujuan endorsement adalah menaikan penjualan produk sehingga profit perusahaan pun meningkat.

Begitulah sedikit pengalaman setelah menerima job endorse yang bisa aku bagikan. Sebuah pengalaman yang cukup seru bagiku, karena ini adalah pengalaman yang pertama.

Selain itu, aku juga jadi tau sedikit banyak tentang endorse dan ternyata seorang rakyat jelata sepertiku pun bisa menerima job untuk mengendorse sebuah produk. Hehe.

Sukabumi, 27 Agustus 2020

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar