Rabu, 23 Oktober 2019

Membawa Si Kecil Travelling, Hayuk!

Oktober 23, 2019 1 Comments
Sejak sebelum menikah, aku membayangkan diriku yang gemar bepergian alias travelling ini akan membawa serta suami dan anakku dalam perjalananku ke berbagai destinasi. Suatu hari saat aku pergi ke Derawan (Kalimantan Utara) ada sepasang suami istri yang mengajak balitanya ikut serta dalam Open Trip kami. Aku lupa usia pastinya, yang jelas masih dibawah 5 tahun. Ibunya bercerita sejak usia 2 bulan, Vito, sudah diajak bepergian ke berbagai pulau oleh kedua orangtuanya. Melihat keluarga muda tersebut, terbesit dipikiranku betapa serunya jika nanti aku bisa travelling bersama keluarga.

Setelah menikah dan hamil, hobi travellingku berhenti total dikarenakan aku harus lebih banyak bedrest demi menjaga kandunganku saat itu. Sedih sekali rasanya hanya menghabiskan waktu dirumah sepanjang hari, sepanjang minggu dan sepanjang bulan. Pergi ke mall tak seberapa lama saja rasanya aku mau pingsan dan harus bedrest selama kurang lebih 3 hari.

Setelah punya anak, aku bertekad untuk merealisasikan mimpiku untuk tidak menjadikan buah hatiku hambatan dalam travelling. Mulai usia 3 bulan, anakku sudah ku boyong ke Bandung dari Yogyakarta menggunakan kereta api. Pengalaman pertama membawa bayi dalam perjalanan jauh sungguh membuat jantung dag-dig-dug, tidak semulus yang dibayangkan, ternyata bayiku hampir tidak mau dibawa duduk selama 8 jam perjalanan kala itu. Aku dan suamiku bergantian menggendongnya berjalan menyusuri koridor gerbong kereta api demi menenangkannya yang rewel saat dibawa duduk. Ketidaknyamanan juga kurasakan saat harus menyusui didalam kereta, meski pun sudah persiapan menggunakan baju busui bukaan samping tetap saja itu pengalaman pertamaku memberi ASI secara langsung ditempat umum dan membuatku merasa kurang nyaman saat melakukannya.

Beberapa bulan kemudian, aku dan keluarga kecilku kembali ke Yogyakarta untuk merayakan Idul Fitri disana. Kami pergi menggunakan kereta api dan pulang ke Bandung dengan pesawat. Pengalaman kedua naik kereta api lebih mulus dari sebelumnya, anakku surprisingly tidak rewel sama sekali, menikmati perjalanan malam dan tidur hampir sepanjang perjalanan kami dikereta. Mungkin karena aku dan suamiku juga lebih percaya diri saat akan membawanya pergi berkereta untuk yang kedua kalinya.

Saat pulang ke Bandung dengan pesawat, dimana itu adalah pengalaman terbang pertama anakku, rasa khawatir kembali muncul. Jauh-jauh hari aku melakukan sounding padanya bahwa kami akan naik pesawat dan agar dirinya nyaman selama perjalanan. Hasilnya, alhamdulillah terlewati dengan lancar. Ketakutan akan anakku akan rewel saat take off dan landing tidak menjadi kenyataan, nyatanya ia stay cool saat take off dan terlelap saat landing.

Setelah itu, aku benar-benar nyaman membawa anakku bepergian. Kami bolak balik pergi ke Yogyakarta, menghadiri acara pernikahan ke Jakarta, Lampung hingga Martapura (Sumatera Selatan). Tentunya tidak semua perjalanan terlewati dengan mulus 100%, selalu ada cerita disetiap perjalanan. Namun, karena tekadku yang bulat untuk mengajaknya ikut kemana pun aku pergi selama masih bisa dilakukan (Kalau sudah besar anaknya nggak mau lagi kan. Hiks..) maka kendala apa pun kuhadapi dan tidak menjadikannya ganjalan untuk membawanya pergi ke perjalanan berikutnya.

My Baby's First Time Travelling by Train

Beberapa tips yang inginku bagikan saat membawa si kecil travelling antara lain :

1. Sounding
Jangan remehkan "the power of sounding", berikan afirmasi positif pada si kecil jauh-jauh hari sebelum perjalanan. Katakan padanya bahwa ia akan pergi menggunakan transportasi "...", agar ia menikmati perjalanannya dan ceritakan hal-hal menyenangkan lainnya tentang perjalanan serta tujuannya nanti.

2. Percaya Diri
Kesalahanku saat pertama kali membawa bayiku naik kereta adalah aku kurang percaya diri dan tidak sepenuhnya yakin anakku dapat menikmati perjalanannya. Terlalu banyak kekhawatiran justru membuat kenyataannya berbanding lurus dengan apa yang kita pikirkan. Banyak yang bilang bahwa apa yang dirasakan oleh orang tua terutama ibu sering kali dirasakan pula oleh si anak. Maka, percayalah pada diri sendiri bahwa kita akan menikmati perjalanan yang menyenangkan bersama keluarga.

3. Persiapan yang Matang
Dimulai dari pakaian anak yang nyaman selama diperjalanan, perlengkapan jika suhu udara dingin (jaket, selimut, topi, kaos kaki, minyak telon, dll.), baju menyusui yang nyaman untuk si ibu (jika masih menyusui), camilan/makanan dan minuman anak (jika sudah melewati masa ASIX) serta beberapa mainan kesukaan si kecil.

4. Penuhi Basic Needs Si Kecil
Dalam fase awal kehidupannya, anak kecil sangat sensitif terhadap keteraturan. Adanya hal yang berubah dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaannya akan membuatnya tidak nyaman dan ini akan membuatnya rewel. Penuhilah kebutuhan dasarnya seperti menyusu/makan-minum dan tidur sesuai jadwal seperti biasa meski pun sedang berada dalam perjalanan mau pun saat berada ditujuan.

5. Practice Makes Perfect
Last but not least, jangan kapok bila perjalanan pertama dengan si kecil tidak sesuai harapan, teruslah ajak ia bepergian menggunakan berbagai moda transportasi agar ia terbiasa. Sama seperti orang dewasa, anak pun butuh waktu untuk terbiasa dan beradaptasi dengan keadaan "baru"nya.

Kurasa sekian tips yang dapat kubagikan agar si kecil terlatih menjadi traveller sejak dini. Tetaplah bersemangat walau pun bepergian dengan bayi (dan atau anak) pastinya jauh lebih ribet daripada pergi sendirian. Jangan menjadikannya alasan untuk tidak membawa serta dirinya dalam perjalanan kita (jika memungkinkan) karena waktu kebersamaan kita dengan anak-anak tidak dapat tergantikan dengan apa pun, buatlah berjuta kenangan indah untuk dikenang dimasa yang akan datang 😊

Bandung, 23 Oktober 2019

Senin, 21 Oktober 2019

BerPINDAH

Oktober 21, 2019 0 Comments

Sejak kecil, ayahku kerap mengajakku berpindah. Aku lahir di Medan dan diboyong ke kota Cilegon saat berusia 4 bulan, 3 tahun kemudian ayahku membawaku ke Wollongong, Australia saat beliau menempuh studinya disana. Setelah ayah selesai dengan sekolahnya, aku kembali ke tanah air dan tinggal di Cilegon hingga lulus Sekolah Menengah Atas. Aku melanjutkan pendidikanku ke Yogyakarta selama 5 tahun.

Hidup berpindah mungkin sudah menjadi takdirku, setelah lulus sebagai Apoteker aku memilih bekerja di Cimahi dan meninggalkan keluargaku yang sudah menetap di Yogyakarta. 3 tahun bekerja, aku menikah dengan teman sekantorku dan memutuskan untuk resign untuk menjadi manager dalam rumah tangga setelah kontrakku dengan perusahaan berakhir. Aku pun kembali pindah untuk tinggal bersama suamiku dikota Bandung.

Hampir 2 tahun berlalu, suamiku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan mencari nafkah ditempat baru, Sukabumi. Baiklah, Sukabumi will be my next place to live in. Semua barang sudah dikemas, minggu depan aku akan memulai kehidupan ditempat yang begitu asing bagiku as I've never been there before.

Beberapa dari teman dan kerabat bertanya-tanya, "How could you live with that pattern?", "Emang nggak ribet pindahan terus?", "Nggak berat ninggalin kota yang lama? Teman-teman yang lama?", "Gimana lo bisa cepet adaptasi sama lingkungan yang baru?"

Kalau menjawab pertanyaan bagaimana aku bisa hidup dengan pola berpindah-pindah seperti ini, mungkin takdir menjadi jawaban terbaiknya. Ada seseorang yang ditakdirkan untuk menetap disuatu tempat sepanjang hidupnya, ada pula yang diberi 'ujian' dengan harus hidup berpindah. Waktu kecil tentunya aku nggak merasa ribet dan susah ketika harus pindah sana sini. Adanya rasa berat untuk pindah adalah ketika aku harus pindah ke Jogja dan meninggalkan kota Cilegon tempat aku bersekolah sejak TK hingga SMA. Terlalu banyak kenangan selama disana yang harus dilepaskan, dimulai dari rumah, teman, sahabat, tempat main dan tempat makan kesukaan, serta memori lainnya yang membekas selama 18 tahun aku tinggal dikota itu. Khawatir bagaimana menjalani hidup di Jogja nanti? Tentu. Khawatir apakah aku bisa memiliki sahabat-sahabat terbaik seperti di Cilegon? Jelas. Dan masih banyak kekhawatiran yang lain.

Jogja menjawab kekhawatiranku itu dengan kehangatannya. Kuakui, Jogja memang yang teristimewa dihati walau pun aku tidak menemukan belahan jiwa disana. I think Jogja is my forever comfort zone, bukan hanya karena keluargaku tinggal disana. Aku berkesempatan untuk bertemu dan mengenal orang-orang dari segala penjuru Indonesia, mengikuti berbagai kegiatan kampus yang mengantarku hingga ke negeri Ginseng dan mengunjungi negeri 3 bahasa yaitu Swiss. Aku juga menemukan sahabat-sahabat rasa keluarga disini. Jangan tanya betapa beratnya hati ini ketika harus pindah lagi untuk mengadu nasib di Cimahi. Walau pun aku pasti akan kembali ke Jogja (untuk mudik), pindah darinya merupakan salah satu momen yang sulit.

Seiring berjalannya hari, aku bisa beradaptasi dan menjalani kehidupanku di Cimahi dengan baik. Berteman dengan banyak orang dikantor, punya teman curhat, nonton, makan dan hangout bareng. Selama hidup di Cimahi aku juga bisa menikmati hasil kerjaku dengan plesiran kemana-mana. Mengunjungi teman-temanku di Cilegon, Jakarta, Depok, Karawang. Touring ke Lembang, Ciwidey mengendarai motor. Kepuasan terbesarku selama bekerja adalah aku dapat menikmati hidup untuk liburan ke berbagai pantai di Indonesia seperti Tanjung Lesung, Pulau Harapan, Derawan, Belitung dan Labuan Bajo. Aku juga sempat mengunjungi adikku yang kuliah di Malaysia dan main ke rumah saudaraku di Singapura. Tidak pernah ada rasa penyesalan dan pemborosan sedikit pun saat aku memutuskan untuk merogoh tabungan demi destinasi-destinasi tersebut.

Saat akan menikah dan memutuskan untuk berhenti bekerja, tentunya perasaan sedih dan berat itu muncul lagi, untuk yang kesekian kalinya. Lagi-lagi, aku harus meninggalkan zona nyamanku dan pergi 'berpetualang' ditempat yang baru. Bandung, bukan kota yang asing lagi untukku. Selama bekerja di Cimahi, kebanyakan akhir pekanku dihabiskan dikota Bandung. Nggak mesti akhir pekan karena kalau main seringnya ke Bandung, sih. Pastinya tidak akan sulit lagi beradaptasi dengan lingkungan dan suasana kotanya. Bagaimana dengan Rumah Mertua? Itu lah tantanganku saat memutuskan untuk pindah mengabdi pada suamiku dirumah orang tuanya. Ya, setelah menikah kami harus tinggal bersama ayah dari suamiku yang saat itu sedang sakit.

Banyak sekali perbedaan antara kebiasaan keluargaku dengan keluarga suamiku. Culture shock, ini yang kualami saat pertama-tama tinggal disana. Rasa sungkan, serba kurang nyaman serta tidak leluasa setiap hari kurasakan, meski pun ayah mertua dan saudara-saudara iparku very very welcome. Bisa dikatakan ini adalah fase adaptasi tersulit, bukan sekali dua kali aku memohon pada suamiku agar bisa hidup mandiri ketika mertuaku sudah sehat dan suamiku tidak berkewajiban stand by mengurus ayahnya. Bukan sekali dua kali pula suami memintaku untuk bersabar, sabar hingga saat yang tepat datang.

Allah Yang Maha Mendengar menjawab keinginanku. Suamiku mendapat tawaran untuk bekerja diluar kota sehingga ia memutuskan keluar dari perusahaan sebelumnya. Ia pun membulatkan rekad untuk membawaku pindah ke kota Sukabumi beserta anak kami untuk membangun kehidupan yang baru. Kehidupan yang lebih mandiri.

Begitulah, aku akan kembali berpindah. Senang akan tidak tinggal dengan mertua lagi? Yaiyalah! Siapa yang nggak senang tinggal mandiri dengan keluarga kecilnya? Namun tetap saja perasaan sungkan itu tetap ada, pun perasaan akan rindu dengan rumah beserta keramaiannya itu ada. 

Bandung, 21 Oktober 2019

Jumat, 11 Oktober 2019

Baby and Friends

Oktober 11, 2019 0 Comments
Akhir bulan Februari tahun 2018 silam adalah pertama kali aku dinyatakan positif hamil oleh dokter. Saat melihat ada kantung janin dalam rahimku, rasa senang dan takjub bercampur jadi satu. Namun saat dokter mengatakan bahwa ia melihat ada kista coklat (endometriosis) berukuran sekitar 5-6 cm yang berdampingan dengan kantung janin, aku kaget bukan main!

Saking memorable-nya saat itu, aku ingat betul kata-kata yang diucapkan dokter obsgyn pada waktu itu. "Ibu udah berapa lama menikah?" lalu kujawab baru menikah bulan Januari lalu, "Hebat ya ini bisa langsung jadi. Padahal kalo ibu ada kista apalagi kista coklat bisa dibilang ibu nggak subur loh, harusnya susah punya anak." Perempuan manaa yang nggak shock mendengar kalimat tersebut?! Lalu aku bertanya pada dokter apa penyebab adanya kista tersebut? Dan apa jawaban dokternya? "Ibu cari aja sendiri ya di Google, nanti banyak penjelasannya," WAW! AMAZING! Sulit dipercaya aku mendengar jawaban dari seorang profesional seperti itu. Pada akhirnya, dokter tersebut meresepkan obat penguat kandungan untukku.

Selama diperjalanan pulang hingga tiba dirumah, aku terus memikirkan tentang kista yang dikatakan dokter tadi. Sedih sekali rasanya mendengar kata-kata dokter itu. Suamiku menghibur dan memintaku untuk lebih fokus ke kehamilanku daripada kistanya. Tapi tetep aja ya pasti kepikiran, gimana sih?!

Seminggu kemudian, aku dan suami kembali melakukan kontrol ke dokter kandungan yang direkomendasikan oleh teman suamiku, dokter yang berbeda dari sebelumnya. Nggak mau dong balik ke dokter yang kalo ditanya malah nyuruh cari di Google! Datanglah kami ke dr. Yanne Trihapsari, Sp.OG yang berpraktek di RS. Santosa Kopo, Bandung. Setelah dilakukan USG, dokter mengatakan hal yang sama yaitu aku positif hamil dan ada endometriosis disitu, namun letaknya cukup jauh dari si janin jadi tidak terlalu mengkhawatirkan. Selanjutnya, aku kembali mendengar hal yang tidak mengenakan karena selain memiliki kista coklat, ada miom juga didalam rahimku berukuran 3 cm. Ya Tuhan! Kenapa berita bahagia tentang kehamilan ini harus dibersamai dengan berita tidak mengenakan juga?

dr. Yanne memberikan penjelasan yang lebih menenangkan. Saat aku bertanya kenapa bisa ada endometriosis? Ia menjelaskan bahwa Kista Coklat atau Endometriosis terjadi karena adanya jaringan endometrium yang menebal dan tidak meluruh seluruhnya pada saat menstruasi, sederhananya darah haid tidak keluar semua namun ada yang tertinggal didalam sana sehingga terjadi penumpukan yang menyebabkan endometriosis. Gejalanya apa saja? Antara lain adanya rasa sakit yang berlebihan saat menstruasi, volume darah yang lebih banyak saat mentruasi, rasa perih/sakit saat BAK/BAB dan rasa sakit pada saat berhubungan dengan suami. Dari semua gejala yang disebutkan, tidak ada satu pun yang aku alami. "Bisa juga asimptomatis atau tidak menunjukkan gejala apa-apa, makanya ketahuannya baru sekarang," jelas dokter. Apa faktor makanan berpengaruh juga? Menurut dokter nggak, dan aku juga tidak diberikan pantangan makanan apa pun.

Lalu, bagaimana dengan miom? Miom atau Uterine Fibroid adalah tumor jinak yang tumbuh didalam rahim. Gejalanya antara lain volume darah menstruasi yang banyak dan interval menstruasi yang cukup lama, selain itu rasa sakit dibagian bawah perut dan sakit saat BAK/BAB. Setelah dipikir-pikir, memang volume darahku saat haid bisa dibilang banyak namun aku nggak tau banyaknya itu normal atau nggak karena nggak pernah membandingkan dengan punya orang lain. Selain itu, haid bisa berlangsung hingga 9 hari. Menurut dokter bisa jadi itu salah satu gejala yang ditunjukkan.

"Biasanya ini faktor keturunan, jadi mungkin dari Ibu atau tante atau nenek ada yang punya kista dan miom juga," terang dokternya. Jadi ini semua murni karena faktor hormonal. "Tenang aja, Bu. Pasien saya banyak yang ada kista dan miom tapi bisa hamil dan melahirkan anaknya sehat-sehat," kata bu dokter yang sungguh memberikan suntikan semangat.

"Ini akan kita pantau terus, biasanya kalo kista itu mengecil sendiri seiring dengan pertumbuhan bayinya, malah ada yang bisa hilang loh! Tapi kalo miom, dia berebut makanan sama janin jadi kemungkinan ukurannya tetap atau malah jadi lebih besar. Semoga bayinya kuat ya," aku segera mengaminkan kalimat dokter tersebut.

"Dengan kehamilan yang seperti ini, ibu nggak boleh banyak aktifitas dan harus banyak istirahat. Nggak boleh kecapekan atau banyak gerak, apalagi di trimester pertama. Kalo kistanya sampai terpuntir itu bisa bikin sakit perut banget, kita jaga jangan sampai kistanya pecah karena bisa bikin keguguran," kata dokter menambahkan penjelasan.

Setelah mendapatkan pencerahan, aku dan suami pulang dengan perasaan lebih lega. Berharap semoga si bocil kuat hidup berdampingan dengan kedua temannya. Di rumah, suami dan keluarga bener-bener protektif. Aku disuruh tiduran almost all the time, selain karena saat itu aku sedang demam, aku juga mulai merasakan morning sickness dimana aku merasa pusing banget kalo lama-lama duduk atau berdiri atau berjalan, mual setiap saat tapi nggak sampai muntah-muntah. Jadilah selama hamil kemarin aku senantiasa jadi juru kunci dirumah, absen diberbagai kegiatan outdoor termasuk tugas sebagai bridesmaid sahabat-sahabatku yang banyak menikah ditahun 2018 silam.

Selama beberapa minggu kegiatanku hanya tiduran, nonton tv, main hp/laptop, nggak ada sama sekali bantu-bantu kerjaan rumah. Sampai suatu hari saat usia kehamilan 11-12 minggu, asisten rumah tangga tiba-tiba resign dan belum menemukan gantinya. Jadilah cucian baju, cucian piring dan setrikaan numpuk. Suatu hari aku berinisiatif buat beres-beres rumah setelah semua kakak ipar berangkat kerja dan anak-anaknya pergi kesekolah. Dirumah hanya ada aku dan ayah mertua yang sedang sakit. Setelah mendorong kursi roda mertua ke halaman untuk berjemur, aku mulai menyapu rumah, mencuci dan menjemur baju. Sesekali beristirahat karena memang sangat mudah lelah banget waktu itu. Siangnya aku nyicil menyetrika baju, kakak ipar sudah mengingatkan agar aku beristirahat saja namun aku masih pengen aja nyetrika jadi kulanjutkan sampai benar-benar teler alias pusing kepala.

Setelah makan siang, aku merasakan sedikit nyeri pada bagian perut dan aku segera membaringkan diri dikasur. Mungkin kecapekan jadi butuh istirahat yang banyak. Lama-kelamaan, bukannya menghilang rasa sakitnya malah semakin menjadi. Aku meminta kakak ipar untuk membeli obat pereda nyeri yang aman untuk ibu hamil (paracetamol), saat itu rasa sakitnya mulai tidak tertahankan. Ternyata setelah minum obat, sakitnya tidak hilang juga dan semakin semakin parah. Aku kesakitan hingga tidak bisa meluruskan badan, saking sakitnya aku kemudian muntah-muntah. Segera ku hubungi suami dan menyuruhnya untuk pulang saat itu juga. Selama menunggu suami sampai dirumah, aku hanya bisa menahan sakit sambil meringkuk, badan benar-benar nggak bisa digerakkan sama sekali. Rasa sakitnya hilang timbul dalam frekuensi yang sangat cepat.

Saat suamiku masuk ke kamar, seketika aku menangis. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke IGD, perjuangan banget buat masukin aku ke dalam mobil waktu itu karena sedikit saja badanku digerakan sakitnya luar biasa. Kami memilih pergi ke rumah sakit yang terdekat dari rumah dengan jarak kurang dari 10 menit (jika lancar), perjalanan singkat yang terasa sangat lama. Sakit perutnya nggak hilang-hilang, apalagi ketika mobil melewati polisi tidur, aku langsung menjerit kesakitan.

Setibanya di IGD, aku dipindahkan dari dalam mobil ke kasur rumah sakit dimana waktu itu mataku dalam keadaan terpejam menahan sakit dan aku merasa bahwa badanku diletakkan dipapan/lantai sehingga aku marah-marah pada suamiku untuk dibaringkan dikasur. Suamiku bingung juga kali ya waktu aku bolak balik bilang, "Mau tiduran dikasur, nggak mau disini!" Sampai akhirnya aku membuka mata dan sadar bahwa aku memang dikasur. Hehe.. Tidak lama kemudian aku diberi obat pereda nyeri via intra vena alias melalui infus. Alhamdulillah efeknya lebih cepat terasa, meski masih sakit namun tidak sehebat sebelumnya. Perawat mengambil sampel darah dan menyuruhku menampung urine untuk diperiksa, perjuangan lagi tuh turun dari kasur dan jalan ke wc untuk buang air.

Setelah menunggu hampir 2 jam di IGD, hasil darah menunjukkan angka leukositku jauh diatas normal. Namun tidak ada tanda-tanda infeksi, kata dokter bisa jadi karena aku menahan sakit hingga jumlah leukositku melejit sangat tinggi. Kandunganku dinyatakan aman karena tidak ada flek atau tanda keguguran. Meski harus dirawat, lega banget mendengar hal itu.

Keesokan harinya, dilakukan USG untuk melihat kondisi janinku dan surprisingly he's totally fine. Ukuran kista mengecil namun miomnya membesar menjadi 4 cm. Dokter menganalisa sakit yang aku alami kemungkinan karena terpuntirnya kista atau ukuran janinku yang semakin membesar dan mendorong kista tersebut, atau bisa juga karena miomnya. Intinya aku nggak boleh kecapekan. Setelah 3 hari mondok, aku diperbolehkan pulang. Sakit perut yang kurasakan juga berangsur-angsur membaik, masih ada sisa-sisa but it was accepted. "Bu, nanti ada kemungkinan kalo ukuran janinnya membesar lagi Ibu akan merasakan sakit seperti ini lagi, beberapa yang kehamilannya ada kistanya seperti ini. Kalo memang sakitnya mengganggu banget, mau nggak mau kita operasi buat angkat kista dan miomnya setelah kandungan lewat dari 16 minggu," sedih mendengar kata-kata dokter tapi aku harus stay strong supaya bayiku juga mendapat energi positif.

Benar saja apa yang dikatakan dokter, pada usia 5 atau 6 bulan kehamilanku tepat sebelum mudik lebaran aku merasakan sakit yang mengerikan itu lagi. Sakitnya ku tahan hingga hampir seminggu, hanya mengkonsumsi obat penahan sakit yang pernah diberikan waktu dirumah sakit. Keluarga suami menyuruh suamiku untuk kembali membawaku ke rumah sakit, namun aku menolak karena jika aku ke rumah sakit pasti aku disuruh mondok lagi dan berakibat gagalnya rencana pulang ke Jogja. Hehe. Selama sakit itu aku hanya bisa berbaring dan berdoa agar semua ini segera berlalu. Setelah mudik terlaksana, aku dan suami langsung mengunjungi dokter kandungan di Jogja. Kesimpulan dokter disana hampir sama dengan dokter yang di Bandung, "beberapa pasien dengan kista dan miom ada yang seperti ini. Ada juga yang kista dan miomnya nggak rewel sehingga ibunya nggak sakit-sakit," begitu penjelasan dokter. Dokter tersebut kemudian meresepkanku suplemen antioksidan dan antibiotik karena ia juga melihat ada peradangan dirahimku.

Setelah kontrol terakhir itu, kondisiku semakin lama semakin membaik hingga akhir kehamilan tidak pernah lagi merasakan sakit perut yang hebat seperti sebelum-sebelumnya. Sampai akhirnya dokter kandungan yang akan membantuku saat persalinan yaitu dokter Enny S. Pamudji, Sp.OG. mengatakan bahwa aku nggak perlu dicaesar karena miomnya tidak menggangu jalan lahir dan kistanya pun sudah tidak terlihat lagi di USG. "Terus nggak apa-apa dibiarin gitu, dokter?" aku khawatir dong dengan masa depanku nanti. "Nggak apa-apa buktinya ini bisa hamil, beda cerita kalo letaknya bikin kamu susah hamil." jawab Bu Dokter.

Ternyata, persalinanku berakhir dimeja operasi setelah lebih dari 24 jam menahan kontraksi. Saat proses operasi berlangsung, dokter mengatakan akan mengangkat miomnya. Aku pun meminta dokter agar mengangkat kistanya sekalian, namun dokter mengatakan bahwa tidak ada kista disana. Aku kaget dan heran dan nggak percaya, "Ada dokter. Katanya saya ada kista coklat," jawabku pada saat itu. "Nggak ada, Bu. Udah bersih kok ini,". Aku teringat kembali perkataan dokter Yanne jika kista bisa hilang seiring dengan perkembangan bayi.

Selesai operasi, dokter menunjukkan miom yang telah diangkat dari dalam rahimku. Ukurannya saat itu membesar dari terakhir kontrol 4 cm menjadi 6.5 cm. "Alhamdulillah, Bu. Bayinya besar, biasanya kalo ibunya punya miom bayinya kecil," ujar dokter. Berat lahir anakku saat itu adalah 3.2 kg.

4 bulan pasca operasi, aku kembali kontrol untuk memeriksakan kondisi rahimku. Dokter menyatakan rahimku bersih dari kista mau pun miom, dokter memberiku informasi bahwa menyusui dapat menghambat pertumbuhan miom mau pun kista namun alangkah baiknya jika tetap rutin memeriksakan kondisi rahim 6 bulan sekali terutama untuk yang memiliki riwayat seperti diriku.

Mulanya aku ragu untuk membagikan cerita ini, namun akhirnya aku menuangkannya dalam tulisan untuk mengenang perjalanan kehamilanku yang disertai kista dan miom. Walau pun dokter sempat memvonis aku tidak subur dan harusnya susah punya anak, namun Allah SWT berkehendak lain dengan menjadikanku salah satu orang kepercayaannya untuk menjaga titipanNya. Alhamdulillah..

Yogyakarta, 10 Oktober 2019