Baby and Friends

By Imawati A. Wardhani - Oktober 11, 2019

Akhir bulan Februari tahun 2018 silam adalah pertama kali aku dinyatakan positif hamil oleh dokter. Saat melihat ada kantung janin dalam rahimku, rasa senang dan takjub bercampur jadi satu. Namun saat dokter mengatakan bahwa ia melihat ada kista coklat (endometriosis) berukuran sekitar 5-6 cm yang berdampingan dengan kantung janin, aku kaget bukan main!

Saking memorable-nya saat itu, aku ingat betul kata-kata yang diucapkan dokter obsgyn pada waktu itu. "Ibu udah berapa lama menikah?" lalu kujawab baru menikah bulan Januari lalu, "Hebat ya ini bisa langsung jadi. Padahal kalo ibu ada kista apalagi kista coklat bisa dibilang ibu nggak subur loh, harusnya susah punya anak." Perempuan manaa yang nggak shock mendengar kalimat tersebut?! Lalu aku bertanya pada dokter apa penyebab adanya kista tersebut? Dan apa jawaban dokternya? "Ibu cari aja sendiri ya di Google, nanti banyak penjelasannya," WAW! AMAZING! Sulit dipercaya aku mendengar jawaban dari seorang profesional seperti itu. Pada akhirnya, dokter tersebut meresepkan obat penguat kandungan untukku.

Selama diperjalanan pulang hingga tiba dirumah, aku terus memikirkan tentang kista yang dikatakan dokter tadi. Sedih sekali rasanya mendengar kata-kata dokter itu. Suamiku menghibur dan memintaku untuk lebih fokus ke kehamilanku daripada kistanya. Tapi tetep aja ya pasti kepikiran, gimana sih?!

Seminggu kemudian, aku dan suami kembali melakukan kontrol ke dokter kandungan yang direkomendasikan oleh teman suamiku, dokter yang berbeda dari sebelumnya. Nggak mau dong balik ke dokter yang kalo ditanya malah nyuruh cari di Google! Datanglah kami ke dr. Yanne Trihapsari, Sp.OG yang berpraktek di RS. Santosa Kopo, Bandung. Setelah dilakukan USG, dokter mengatakan hal yang sama yaitu aku positif hamil dan ada endometriosis disitu, namun letaknya cukup jauh dari si janin jadi tidak terlalu mengkhawatirkan. Selanjutnya, aku kembali mendengar hal yang tidak mengenakan karena selain memiliki kista coklat, ada miom juga didalam rahimku berukuran 3 cm. Ya Tuhan! Kenapa berita bahagia tentang kehamilan ini harus dibersamai dengan berita tidak mengenakan juga?

dr. Yanne memberikan penjelasan yang lebih menenangkan. Saat aku bertanya kenapa bisa ada endometriosis? Ia menjelaskan bahwa Kista Coklat atau Endometriosis terjadi karena adanya jaringan endometrium yang menebal dan tidak meluruh seluruhnya pada saat menstruasi, sederhananya darah haid tidak keluar semua namun ada yang tertinggal didalam sana sehingga terjadi penumpukan yang menyebabkan endometriosis. Gejalanya apa saja? Antara lain adanya rasa sakit yang berlebihan saat menstruasi, volume darah yang lebih banyak saat mentruasi, rasa perih/sakit saat BAK/BAB dan rasa sakit pada saat berhubungan dengan suami. Dari semua gejala yang disebutkan, tidak ada satu pun yang aku alami. "Bisa juga asimptomatis atau tidak menunjukkan gejala apa-apa, makanya ketahuannya baru sekarang," jelas dokter. Apa faktor makanan berpengaruh juga? Menurut dokter nggak, dan aku juga tidak diberikan pantangan makanan apa pun.

Lalu, bagaimana dengan miom? Miom atau Uterine Fibroid adalah tumor jinak yang tumbuh didalam rahim. Gejalanya antara lain volume darah menstruasi yang banyak dan interval menstruasi yang cukup lama, selain itu rasa sakit dibagian bawah perut dan sakit saat BAK/BAB. Setelah dipikir-pikir, memang volume darahku saat haid bisa dibilang banyak namun aku nggak tau banyaknya itu normal atau nggak karena nggak pernah membandingkan dengan punya orang lain. Selain itu, haid bisa berlangsung hingga 9 hari. Menurut dokter bisa jadi itu salah satu gejala yang ditunjukkan.

"Biasanya ini faktor keturunan, jadi mungkin dari Ibu atau tante atau nenek ada yang punya kista dan miom juga," terang dokternya. Jadi ini semua murni karena faktor hormonal. "Tenang aja, Bu. Pasien saya banyak yang ada kista dan miom tapi bisa hamil dan melahirkan anaknya sehat-sehat," kata bu dokter yang sungguh memberikan suntikan semangat.

"Ini akan kita pantau terus, biasanya kalo kista itu mengecil sendiri seiring dengan pertumbuhan bayinya, malah ada yang bisa hilang loh! Tapi kalo miom, dia berebut makanan sama janin jadi kemungkinan ukurannya tetap atau malah jadi lebih besar. Semoga bayinya kuat ya," aku segera mengaminkan kalimat dokter tersebut.

"Dengan kehamilan yang seperti ini, ibu nggak boleh banyak aktifitas dan harus banyak istirahat. Nggak boleh kecapekan atau banyak gerak, apalagi di trimester pertama. Kalo kistanya sampai terpuntir itu bisa bikin sakit perut banget, kita jaga jangan sampai kistanya pecah karena bisa bikin keguguran," kata dokter menambahkan penjelasan.

Setelah mendapatkan pencerahan, aku dan suami pulang dengan perasaan lebih lega. Berharap semoga si bocil kuat hidup berdampingan dengan kedua temannya. Di rumah, suami dan keluarga bener-bener protektif. Aku disuruh tiduran almost all the time, selain karena saat itu aku sedang demam, aku juga mulai merasakan morning sickness dimana aku merasa pusing banget kalo lama-lama duduk atau berdiri atau berjalan, mual setiap saat tapi nggak sampai muntah-muntah. Jadilah selama hamil kemarin aku senantiasa jadi juru kunci dirumah, absen diberbagai kegiatan outdoor termasuk tugas sebagai bridesmaid sahabat-sahabatku yang banyak menikah ditahun 2018 silam.

Selama beberapa minggu kegiatanku hanya tiduran, nonton tv, main hp/laptop, nggak ada sama sekali bantu-bantu kerjaan rumah. Sampai suatu hari saat usia kehamilan 11-12 minggu, asisten rumah tangga tiba-tiba resign dan belum menemukan gantinya. Jadilah cucian baju, cucian piring dan setrikaan numpuk. Suatu hari aku berinisiatif buat beres-beres rumah setelah semua kakak ipar berangkat kerja dan anak-anaknya pergi kesekolah. Dirumah hanya ada aku dan ayah mertua yang sedang sakit. Setelah mendorong kursi roda mertua ke halaman untuk berjemur, aku mulai menyapu rumah, mencuci dan menjemur baju. Sesekali beristirahat karena memang sangat mudah lelah banget waktu itu. Siangnya aku nyicil menyetrika baju, kakak ipar sudah mengingatkan agar aku beristirahat saja namun aku masih pengen aja nyetrika jadi kulanjutkan sampai benar-benar teler alias pusing kepala.

Setelah makan siang, aku merasakan sedikit nyeri pada bagian perut dan aku segera membaringkan diri dikasur. Mungkin kecapekan jadi butuh istirahat yang banyak. Lama-kelamaan, bukannya menghilang rasa sakitnya malah semakin menjadi. Aku meminta kakak ipar untuk membeli obat pereda nyeri yang aman untuk ibu hamil (paracetamol), saat itu rasa sakitnya mulai tidak tertahankan. Ternyata setelah minum obat, sakitnya tidak hilang juga dan semakin semakin parah. Aku kesakitan hingga tidak bisa meluruskan badan, saking sakitnya aku kemudian muntah-muntah. Segera ku hubungi suami dan menyuruhnya untuk pulang saat itu juga. Selama menunggu suami sampai dirumah, aku hanya bisa menahan sakit sambil meringkuk, badan benar-benar nggak bisa digerakkan sama sekali. Rasa sakitnya hilang timbul dalam frekuensi yang sangat cepat.

Saat suamiku masuk ke kamar, seketika aku menangis. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke IGD, perjuangan banget buat masukin aku ke dalam mobil waktu itu karena sedikit saja badanku digerakan sakitnya luar biasa. Kami memilih pergi ke rumah sakit yang terdekat dari rumah dengan jarak kurang dari 10 menit (jika lancar), perjalanan singkat yang terasa sangat lama. Sakit perutnya nggak hilang-hilang, apalagi ketika mobil melewati polisi tidur, aku langsung menjerit kesakitan.

Setibanya di IGD, aku dipindahkan dari dalam mobil ke kasur rumah sakit dimana waktu itu mataku dalam keadaan terpejam menahan sakit dan aku merasa bahwa badanku diletakkan dipapan/lantai sehingga aku marah-marah pada suamiku untuk dibaringkan dikasur. Suamiku bingung juga kali ya waktu aku bolak balik bilang, "Mau tiduran dikasur, nggak mau disini!" Sampai akhirnya aku membuka mata dan sadar bahwa aku memang dikasur. Hehe.. Tidak lama kemudian aku diberi obat pereda nyeri via intra vena alias melalui infus. Alhamdulillah efeknya lebih cepat terasa, meski masih sakit namun tidak sehebat sebelumnya. Perawat mengambil sampel darah dan menyuruhku menampung urine untuk diperiksa, perjuangan lagi tuh turun dari kasur dan jalan ke wc untuk buang air.

Setelah menunggu hampir 2 jam di IGD, hasil darah menunjukkan angka leukositku jauh diatas normal. Namun tidak ada tanda-tanda infeksi, kata dokter bisa jadi karena aku menahan sakit hingga jumlah leukositku melejit sangat tinggi. Kandunganku dinyatakan aman karena tidak ada flek atau tanda keguguran. Meski harus dirawat, lega banget mendengar hal itu.

Keesokan harinya, dilakukan USG untuk melihat kondisi janinku dan surprisingly he's totally fine. Ukuran kista mengecil namun miomnya membesar menjadi 4 cm. Dokter menganalisa sakit yang aku alami kemungkinan karena terpuntirnya kista atau ukuran janinku yang semakin membesar dan mendorong kista tersebut, atau bisa juga karena miomnya. Intinya aku nggak boleh kecapekan. Setelah 3 hari mondok, aku diperbolehkan pulang. Sakit perut yang kurasakan juga berangsur-angsur membaik, masih ada sisa-sisa but it was accepted. "Bu, nanti ada kemungkinan kalo ukuran janinnya membesar lagi Ibu akan merasakan sakit seperti ini lagi, beberapa yang kehamilannya ada kistanya seperti ini. Kalo memang sakitnya mengganggu banget, mau nggak mau kita operasi buat angkat kista dan miomnya setelah kandungan lewat dari 16 minggu," sedih mendengar kata-kata dokter tapi aku harus stay strong supaya bayiku juga mendapat energi positif.

Benar saja apa yang dikatakan dokter, pada usia 5 atau 6 bulan kehamilanku tepat sebelum mudik lebaran aku merasakan sakit yang mengerikan itu lagi. Sakitnya ku tahan hingga hampir seminggu, hanya mengkonsumsi obat penahan sakit yang pernah diberikan waktu dirumah sakit. Keluarga suami menyuruh suamiku untuk kembali membawaku ke rumah sakit, namun aku menolak karena jika aku ke rumah sakit pasti aku disuruh mondok lagi dan berakibat gagalnya rencana pulang ke Jogja. Hehe. Selama sakit itu aku hanya bisa berbaring dan berdoa agar semua ini segera berlalu. Setelah mudik terlaksana, aku dan suami langsung mengunjungi dokter kandungan di Jogja. Kesimpulan dokter disana hampir sama dengan dokter yang di Bandung, "beberapa pasien dengan kista dan miom ada yang seperti ini. Ada juga yang kista dan miomnya nggak rewel sehingga ibunya nggak sakit-sakit," begitu penjelasan dokter. Dokter tersebut kemudian meresepkanku suplemen antioksidan dan antibiotik karena ia juga melihat ada peradangan dirahimku.

Setelah kontrol terakhir itu, kondisiku semakin lama semakin membaik hingga akhir kehamilan tidak pernah lagi merasakan sakit perut yang hebat seperti sebelum-sebelumnya. Sampai akhirnya dokter kandungan yang akan membantuku saat persalinan yaitu dokter Enny S. Pamudji, Sp.OG. mengatakan bahwa aku nggak perlu dicaesar karena miomnya tidak menggangu jalan lahir dan kistanya pun sudah tidak terlihat lagi di USG. "Terus nggak apa-apa dibiarin gitu, dokter?" aku khawatir dong dengan masa depanku nanti. "Nggak apa-apa buktinya ini bisa hamil, beda cerita kalo letaknya bikin kamu susah hamil." jawab Bu Dokter.

Ternyata, persalinanku berakhir dimeja operasi setelah lebih dari 24 jam menahan kontraksi. Saat proses operasi berlangsung, dokter mengatakan akan mengangkat miomnya. Aku pun meminta dokter agar mengangkat kistanya sekalian, namun dokter mengatakan bahwa tidak ada kista disana. Aku kaget dan heran dan nggak percaya, "Ada dokter. Katanya saya ada kista coklat," jawabku pada saat itu. "Nggak ada, Bu. Udah bersih kok ini,". Aku teringat kembali perkataan dokter Yanne jika kista bisa hilang seiring dengan perkembangan bayi.

Selesai operasi, dokter menunjukkan miom yang telah diangkat dari dalam rahimku. Ukurannya saat itu membesar dari terakhir kontrol 4 cm menjadi 6.5 cm. "Alhamdulillah, Bu. Bayinya besar, biasanya kalo ibunya punya miom bayinya kecil," ujar dokter. Berat lahir anakku saat itu adalah 3.2 kg.

4 bulan pasca operasi, aku kembali kontrol untuk memeriksakan kondisi rahimku. Dokter menyatakan rahimku bersih dari kista mau pun miom, dokter memberiku informasi bahwa menyusui dapat menghambat pertumbuhan miom mau pun kista namun alangkah baiknya jika tetap rutin memeriksakan kondisi rahim 6 bulan sekali terutama untuk yang memiliki riwayat seperti diriku.

Mulanya aku ragu untuk membagikan cerita ini, namun akhirnya aku menuangkannya dalam tulisan untuk mengenang perjalanan kehamilanku yang disertai kista dan miom. Walau pun dokter sempat memvonis aku tidak subur dan harusnya susah punya anak, namun Allah SWT berkehendak lain dengan menjadikanku salah satu orang kepercayaannya untuk menjaga titipanNya. Alhamdulillah..

Yogyakarta, 10 Oktober 2019

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar