BerPINDAH

By Imawati A. Wardhani - Oktober 21, 2019


Sejak kecil, ayahku kerap mengajakku berpindah. Aku lahir di Medan dan diboyong ke kota Cilegon saat berusia 4 bulan, 3 tahun kemudian ayahku membawaku ke Wollongong, Australia saat beliau menempuh studinya disana. Setelah ayah selesai dengan sekolahnya, aku kembali ke tanah air dan tinggal di Cilegon hingga lulus Sekolah Menengah Atas. Aku melanjutkan pendidikanku ke Yogyakarta selama 5 tahun.

Hidup berpindah mungkin sudah menjadi takdirku, setelah lulus sebagai Apoteker aku memilih bekerja di Cimahi dan meninggalkan keluargaku yang sudah menetap di Yogyakarta. 3 tahun bekerja, aku menikah dengan teman sekantorku dan memutuskan untuk resign untuk menjadi manager dalam rumah tangga setelah kontrakku dengan perusahaan berakhir. Aku pun kembali pindah untuk tinggal bersama suamiku dikota Bandung.

Hampir 2 tahun berlalu, suamiku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan mencari nafkah ditempat baru, Sukabumi. Baiklah, Sukabumi will be my next place to live in. Semua barang sudah dikemas, minggu depan aku akan memulai kehidupan ditempat yang begitu asing bagiku as I've never been there before.

Beberapa dari teman dan kerabat bertanya-tanya, "How could you live with that pattern?", "Emang nggak ribet pindahan terus?", "Nggak berat ninggalin kota yang lama? Teman-teman yang lama?", "Gimana lo bisa cepet adaptasi sama lingkungan yang baru?"

Kalau menjawab pertanyaan bagaimana aku bisa hidup dengan pola berpindah-pindah seperti ini, mungkin takdir menjadi jawaban terbaiknya. Ada seseorang yang ditakdirkan untuk menetap disuatu tempat sepanjang hidupnya, ada pula yang diberi 'ujian' dengan harus hidup berpindah. Waktu kecil tentunya aku nggak merasa ribet dan susah ketika harus pindah sana sini. Adanya rasa berat untuk pindah adalah ketika aku harus pindah ke Jogja dan meninggalkan kota Cilegon tempat aku bersekolah sejak TK hingga SMA. Terlalu banyak kenangan selama disana yang harus dilepaskan, dimulai dari rumah, teman, sahabat, tempat main dan tempat makan kesukaan, serta memori lainnya yang membekas selama 18 tahun aku tinggal dikota itu. Khawatir bagaimana menjalani hidup di Jogja nanti? Tentu. Khawatir apakah aku bisa memiliki sahabat-sahabat terbaik seperti di Cilegon? Jelas. Dan masih banyak kekhawatiran yang lain.

Jogja menjawab kekhawatiranku itu dengan kehangatannya. Kuakui, Jogja memang yang teristimewa dihati walau pun aku tidak menemukan belahan jiwa disana. I think Jogja is my forever comfort zone, bukan hanya karena keluargaku tinggal disana. Aku berkesempatan untuk bertemu dan mengenal orang-orang dari segala penjuru Indonesia, mengikuti berbagai kegiatan kampus yang mengantarku hingga ke negeri Ginseng dan mengunjungi negeri 3 bahasa yaitu Swiss. Aku juga menemukan sahabat-sahabat rasa keluarga disini. Jangan tanya betapa beratnya hati ini ketika harus pindah lagi untuk mengadu nasib di Cimahi. Walau pun aku pasti akan kembali ke Jogja (untuk mudik), pindah darinya merupakan salah satu momen yang sulit.

Seiring berjalannya hari, aku bisa beradaptasi dan menjalani kehidupanku di Cimahi dengan baik. Berteman dengan banyak orang dikantor, punya teman curhat, nonton, makan dan hangout bareng. Selama hidup di Cimahi aku juga bisa menikmati hasil kerjaku dengan plesiran kemana-mana. Mengunjungi teman-temanku di Cilegon, Jakarta, Depok, Karawang. Touring ke Lembang, Ciwidey mengendarai motor. Kepuasan terbesarku selama bekerja adalah aku dapat menikmati hidup untuk liburan ke berbagai pantai di Indonesia seperti Tanjung Lesung, Pulau Harapan, Derawan, Belitung dan Labuan Bajo. Aku juga sempat mengunjungi adikku yang kuliah di Malaysia dan main ke rumah saudaraku di Singapura. Tidak pernah ada rasa penyesalan dan pemborosan sedikit pun saat aku memutuskan untuk merogoh tabungan demi destinasi-destinasi tersebut.

Saat akan menikah dan memutuskan untuk berhenti bekerja, tentunya perasaan sedih dan berat itu muncul lagi, untuk yang kesekian kalinya. Lagi-lagi, aku harus meninggalkan zona nyamanku dan pergi 'berpetualang' ditempat yang baru. Bandung, bukan kota yang asing lagi untukku. Selama bekerja di Cimahi, kebanyakan akhir pekanku dihabiskan dikota Bandung. Nggak mesti akhir pekan karena kalau main seringnya ke Bandung, sih. Pastinya tidak akan sulit lagi beradaptasi dengan lingkungan dan suasana kotanya. Bagaimana dengan Rumah Mertua? Itu lah tantanganku saat memutuskan untuk pindah mengabdi pada suamiku dirumah orang tuanya. Ya, setelah menikah kami harus tinggal bersama ayah dari suamiku yang saat itu sedang sakit.

Banyak sekali perbedaan antara kebiasaan keluargaku dengan keluarga suamiku. Culture shock, ini yang kualami saat pertama-tama tinggal disana. Rasa sungkan, serba kurang nyaman serta tidak leluasa setiap hari kurasakan, meski pun ayah mertua dan saudara-saudara iparku very very welcome. Bisa dikatakan ini adalah fase adaptasi tersulit, bukan sekali dua kali aku memohon pada suamiku agar bisa hidup mandiri ketika mertuaku sudah sehat dan suamiku tidak berkewajiban stand by mengurus ayahnya. Bukan sekali dua kali pula suami memintaku untuk bersabar, sabar hingga saat yang tepat datang.

Allah Yang Maha Mendengar menjawab keinginanku. Suamiku mendapat tawaran untuk bekerja diluar kota sehingga ia memutuskan keluar dari perusahaan sebelumnya. Ia pun membulatkan rekad untuk membawaku pindah ke kota Sukabumi beserta anak kami untuk membangun kehidupan yang baru. Kehidupan yang lebih mandiri.

Begitulah, aku akan kembali berpindah. Senang akan tidak tinggal dengan mertua lagi? Yaiyalah! Siapa yang nggak senang tinggal mandiri dengan keluarga kecilnya? Namun tetap saja perasaan sungkan itu tetap ada, pun perasaan akan rindu dengan rumah beserta keramaiannya itu ada. 

Bandung, 21 Oktober 2019

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar