Ramadan dan Momen Berdamai dengan Peran yang Allah Titipkan

ramadan dan momen damai

Seiring bertambahnya usia, setiap Ramadan datang saya menyadari bahwa bulan ini merupakan bulan penuh refleksi. Ramadan saya masih tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Masih di rumah aja, menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga dengan rutinitasnya yang berulang. Entah kenapa, tahun ini rasanya saya ingin lebih berdamai dengan keadaan.

Pagi saya, sebagaimana ibu-ibu lainnya, dimulai lebih awal. Bangun sahur masih setengah mengantuk, menanak nasi, menghangatkan lauk, memastikan suami dan anak-anak makan cukup. Setelah itu lanjut berkutat dengan pekerjaan rumah yang nggak kelar-kelar.

Capek ya pastinya! Wkwk.. Bohong banget kalau bilang nggak capek atau biasa aja. Kadang saya pun bertanya-tanya, "Hidup gue kok gini-gini doang perasaan?"

Namun di bulan ini, di tahun ini, saya pikir sudah waktunya saya berdamai. Mengikhlaskan jalan yang sudah Allah SWT tetapkan untuk saya.

Ketika Peran Terasa Berat (Dan Itu Wajar)

Di kala lagi muak-muaknya sama berita-berita seputar pemerintah, beberapa hari lalu saya WA-an dengan salah satu teman SMA yang sudah lama tidak berkabar. Saat saya menanyakan keberadaannya, ia menjawab, "Somewhere in Atlantic Ocean.."

Nggak berapa lama, saya juga melihat postingan-postingan teman-teman saya yang bukber dengan teman kantornya, pursuing their master degree, dan hal-hal yang tampak "menyenangkan" lainnya. Dalam hati tentu terbesit, "Wah, gue masih di sini-sini aja. Di rumah, ngurusin bocil, menjadi penerima MBG (sebagai ibu menyusui)."


Kalau sudah mikir kayak gitu, alhamdulillahnya biasanya langsung ingat untuk istighfar, sih. Perasaan tersebut hadir bukan karena nggak bersyukur sama keadaan, tapi sometimes karena lagi capek aja. Capek yang bukan cuma fisik, tapi juga batin. Hormon ibu menyusui juga kali ya? Kadang merasa peran yang saya jalani ini seolah nggak pernah selesai dan nggak ada juga tuh yang mengapresiasi.

Di momen Ramadan kali ini, yang mana Hari Raya Idul Fitri nanti bertepatan dengan 6 tahunnya ayah saya dipanggil, membuat saya lebih melambat dan banyak berpikir. Selama ini tuh saya ngerjain ini-itu tuh mau ngejar apa, sih? Biar apa? Kayaknya ada banyak momen di mana saya khilaf kalau yang saya lakukan ini semestinya lilahi ta'ala. Astagfirullah..

Menemukan Makna di Balik Rutinitas Rumah

Sebagaimana ibu rumah tangga lainnya, selama Ramadan saya cukup banyak menghabiskan waktu di dapur. Sampai-sampai saya merasa relate dengan konten di media sosial yang menggambarkan kegiatan ibu saat Ramadan yakni mencuci piring, lagi, lagi dan lagi! Iya banget. Haha..

Namun, mulai bulan Ramadan ini saya mencoba meniatkan agar lebih mindful dalam menjalankan peran di rumah. Dari pada mengeluh karena tidaksempurnaan yang memang nggak akan tercapai, lebih baik sadar, berdamai dan tetap berusaha melakukan yang terbaik.

Ya nggak selalu mudah sih, yaa.. Tetap ada hari ketika pikiran negatif datang. Saya merasa kurang, merasa tertinggal, merasa fase hidup saat ini bukan the best part that I want to achieve. Emosi juga kadang naik turun, apalagi saat badan lelah dan pekerjaan terasa menumpuk. Serius kayaknya dosis minum vitamin saya harus ditambah deh nih, cape mulu perasaan! Hihi..

Beberapa bulan terakhir, ketika perasaan-perasaan negatif hadir, saya akan membiarkannya menang menguasai pikiran saya. Bawaannya tentu jadi badmood dan mudah kesal dengan hal sepele. Sekarang saya mencoba menerimanya dulu tapi setelah itu berdamai lagi dengan keadaan. Nggak mudah menjadi ibu rumah tangga sembari tetap mengejar karir sebagai remote worker. Namun, yaudah lah sekarang mah lebih dibawa santuy!

Apalagi di bulan puasa ini kan, saya mencoba istiqomah memulai pekerjaan dengan niat karena Allah ta'ala. Sesederhana apapun pekerjaannya. Lalu, berusaha juga untuk mengurangi keluhan, meski belum bisa hilang sepenuhnya. Simple, tapi bisa bikin hati lebih tenang.

Ikhlas Itu Proses, Bukan Sekali Jadi

Ikhlas bukan berarti perasaan negatif langsung hilang, tapi tetap melangkah meski hati masih belajar menerima. Tetap menjalankan tanggung jawab walau kadang terasa berat. Dari awal saya sudah mengatakan kalau bekerja menjadi ibu rumah tangga bukan passion saya. Makanya selama 8 tahun ini, saya masih belajar ikhlas menjalani peran ini.

Akan tetapi, bertahun-tahun juga saya berpikir kalau saya juga cukup banyak mendapat privilege sebagai ibu rumah tangga. Suami saya selalu mendukung apapun yang saya lakukan di rumah, nggak ngapa-ngapain pun didukung, yang penting saya betah di rumah. Wkwk. Jadi PR saya adalah menjadikan rumah saya sebagai playground yang nyaman untuk saya bermain.


Momentum Ramadan ini merupakan titik balik yang tepat untuk meluruskan niat. Belajar untuk menahan ego dan yakin dengan ketetapan dan rencanaNya. Nggak mungkin dong Allah salah menempatkan hambaNya?

Berdamai Bukan Berarti Menyerah

Meskipun beberapa bulan belakangan, terutama di bulan Ramadan ini saya sedang berusaha berdamai, bukan berarti saya berhenti punya mimpi. Bukan berarti pasrah tanpa usaha.

Momen Ramadan ini lebih ke refleksi sih, tentang penerimaan diri saya yang saat ini punya anak-anak di usia yang masih butuh perhatian ekstra. Saya, saat ini masih menjadi pusat dunia mereka, sehingga dunia yang saya kejar harus saya pause dulu.

Saya tetap belajar hal baru. Tetap punya rencana ke depan untuk peran saya sebagai diri sendiri. Dan alhamdulillah-nya, atas izin Allah langkah-langkah ini dipermudah sehingga yang ada di mindset saya adalah bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik dari diri saya sebelumnya. Nggak melihat sejauh apa pencapaian orang lain.

Ramadan juga mengajarkan bahwa tidak ada peran yang terlalu kecil di hadapan Allah. Menjadi ibu rumah tangga bukan “sekadar”. Di dalamnya ada amanah besar, ada pendidikan anak, ada kenyamanan dalam rumah, dan tentunya ada doa-doa yang tak terlihat tapi terus mengalir.

Afirmasi dan kebiasaan yang saya terapkan sepanjang Ramadan kali ini antara lain:
  • Saya sedang berada di tempat yang Allah pilihkan.
  • Setiap lelah yang saya rasakan tidak sia-sia.
  • Sabar dan ikhlas ini proses seumur hidup.

Dengan refleksi dan kebiasaan sederhana yang saya lakukan di Ramadan ini memang nggak lantas mengubah status saya dan nggak membuat hidup saya tiba-tiba jadi berbeda juga.

Namun, cukup mengubah perspektif saya bahwa Allah SWT tidak pernah salah menempatkan hambaNya. Dia yang tau porsi saya saat ini, tugas saya adalah menjalankannya dengan sebaik mungkin selama masih ada kesempatan.

Artikel ini ditulis untuk mengikuti Challenge Menulis IIDN hari ke-9.

Posting Komentar

0 Komentar