Ramadan Anti Rebahan, Tips Tetap Produktif Saat Ramadan

Ramadan Anti Rebahan, Tips Tetap Produktif Saat Ramadan

Tiap tahun, Ramadan itu pasti selalu punya ceritanya sendiri. Ada tahun-tahun saya menjalankan puasa dengan sangat effort untuk mengejar ibadah Ramadan, ada pula masa di mana saya hampir sebulan tidak berpuasa karena sakit asam lambung yang cukup lama. MasyaAllah, alhamdulillah masih terus dipertemukan dengan Ramadan hingga tahun ini.

Tahun ini, meskipun masih mengambil rukhsah dengan tidak berpuasa sebab masih menyusui, saya berusaha untuk tetap produktif dalam hal yang lain. Bagi saya, tetap produktif saat Ramadan itu bukan melulu tentang melakukan hal besar, tapi lebih ke gimana memaksimalkan peran yang sedang kita jalani.

Jujurly, tantangan tahun ini bertambah seru. Saya sedang membersamai anak pertama yang belajar puasa penuh untuk pertama kalinya. Tahun lalu dia masih puasa saat sekolah aja, pulang sekolah TK jam 11 siang ya udahan deh puasanya.

Di Ramadan kali ini, putera sulung saya ikut mulai dari bangun sahur dan menjalankan ibadah puasa berikut ibadah-ibadah lainnya (mengaji hingga tarawih). Tentu saja saya ikut menemaninya meskipun tidak berpuasa, sembari tetap mengasuh adiknya yang masih ASI.

Di sela-sela itu, of course saya pun mengusahakan agar dapur tetap ngebul untuk sahur, berbuka, sekaligus menyiapkan MPASI. Kayak konten-konten yang belakangan sering muncul di FYP saya, masa-masa Ramadan ini masanya ibu rumah tangga cuci piring lagi, lagi dan lagi! Relate banget, sih!

Dari hal-hal yang saya lakukan di rumah, justru saya sadar kalau Ramadan nggak bisa jadi alasan untuk melambat, melainkan momen terbaik untuk mengatur ulang prioritas dan jadi versi diri yang lebih terarah (berusaha kembali ke jalan yang benar lah minimal :P)


Membersamai Anak Belajar Puasa, Sekaligus Belajar Sabar

Tahun ini jadi momen spesial karena anak pertama saya mulai belajar puasa. A little bit challenging, karena saya yang nggak puasa tetap harus belajar sabar.

Mulai dari membangunkannya sahur. Kalau biasanya bangunin buat sekolah dar-der-dor, bangunin sahur tuh harus dengan aura malaikat yang penuh kelembutan. Ya nggak pengen dong ya anak saya jadi trauma sahur karena ibunya ngomel-ngomel sejak dini hari.

Lanjut sepulang sekolah di siang hari, ia mulai mengeluh haus lah, lapar lah. Di sana lah saya perlu memutar otak untuk menyemangatinya agar kuat sampai magrib. Cara saya menjelaskan bahwa puasa itu bukan cuma menahan lapar, tapi juga belajar sabar juga akan berdampak padanya.

Di situ saya sadar, produktif saat Ramadan bukan selalu tentang checklist pekerjaan yang tuntas, tapi tentang hadir sepenuhnya untuk proses kecil yang bermakna.

Menemaninya sholat dan murojaah juga jadi pengingat buat saya. Kadang niatnya ingin cepat beres supaya bisa lanjut kerjaan lain, tapi justru di momen itu saya belajar memperlambat diri. Sambil memangku adiknya, saya ikut mengulang hafalan, membetulkan gerakan sholatnya, dan ngobrol tentang puasa hari itu.

Produktif di Dapur Tanpa Merasa Terbebani

Kalau biasanya dapur terasa seperti “zona wajib”, saat Ramadan justru jadi ruang latihan manajemen waktu. Menyiapkan sahur, berbuka, sekaligus MPASI untuk si kecil memang terdengar ribet. Tapi saya mencoba mengubah cara pandang. Daripada menganggapnya sebagai beban tambahan, saya mulai menyusunnya dengan lebih terencana. Misalnya, bikin menu sederhana tapi bergizi, prep bahan sejak malam, atau masak dalam porsi yang bisa dipakai untuk dua waktu sekaligus.

Jujur saja, tidak setiap hari menunya heboh. Ada hari-hari di mana sahur cukup dengan lauk simpel dan sayur cepat masak. Dan itu tidak apa-apa. Saya belajar bahwa produktif di dapur bukan berarti harus selalu fancy, tapi bagaimana tetap konsisten menyiapkan yang terbaik untuk keluarga tanpa menguras energi berlebihan. Dengan cara itu, saya masih punya tenaga untuk membersamai anak-anak dan menyelesaikan tanggung jawab lainnya tanpa merasa kehabisan daya di tengah jalan.

Tetap Berkarya di Tengah Kesibukan Ramadan

Di sela-sela jadwal mengurus anak dan urusan dapur, saya tetap menyempatkan diri untuk menulis dan menyelesaikan internship di bootcamp SEO VA. Waktunya? Tentu tidak selapang dulu. Biasanya saya mencuri waktu setelah Subuh saat rumah masih relatif tenang, atau malam hari ketika anak-anak sudah tidur.

Tidak lama memang, kadang hanya satu sampai dua jam fokus. Tapi ternyata, konsisten sedikit demi sedikit jauh lebih terasa hasilnya dibanding menunggu waktu luang yang entah kapan datangnya.


Ikut tantangan menulis juga jadi penyemangat tersendiri. Rasanya seperti punya “teman seperjuangan” yang sama-sama berproses setiap hari. Dari proses ini, ada hari-hari yang bisa dengan lancar berjalan atas izin Allah, namun ada juga yang terasa berat.

Semuanya bisa diterima, yang terpenting bagaimana kita tetap bergerak dan tidak menyerah pada rasa malas yang sering menyamar jadi alasan untuk rebahan. Duh, drakor on going tinggal 2 episode terakhir nih padahal! Eits, nanti dulu setelah semua prioritas selesai dikerjakan. Hehe..

Ramadan anti rebahan versi saya juga bukan berarti harus super sibuk dari pagi sampai malam. Meskipun malam ini saya masih buka laptop untuk menulis, dan bakalan lanjut memasak nasi untuk sahur. Wkwk!

Bukan juga tentang seberapa banyak to-do list yang tercoret, tapi lebih ke bagaimana saya bisa hadir sepenuhnya dalam setiap peran. Mindful nih sebagai ibu yang membersamai anak belajar puasa, sebagai ibu menyusui yang tetap menguatkan si kecil (meski badan terasa rapuh, hiks dikit!), sebagai istri yang menyiapkan kebutuhan keluarga, dan sebagai perempuan yang tetap ingin bertumbuh dengan berkarya dari rumah.

Saya belajar menurunkan ekspektasi, mengatur ulang prioritas, dan menerima bahwa produktif saat Ramadan itu bentuknya bisa berbeda bagi setiap orang. Selama kita tetap bergerak, tetap belajar, dan tetap mendekat pada Allah, insyaAllah Ramadan kita tidak akan berlalu begitu saja.

Artikel ini ditulis untuk mengikuti Challenge IIDN hari ke-6.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. setuju banget kalau puasaan bukan berarti menghambat aktivitas kita, justru kalau males-malesan kayaknya memang gak berfaedah. Mending disibukkan sama urusan disana sini.

    Entah itu sibuk kuliah, ke perpus misalnya, sibuk ke dapur, sibuk lembur atau blogging. pokoknya kudu produktif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya kalau rebahan-rebahan aja lapar makin berasa dan pusing juga nggak sih mba kepala tidur-tiduran doang?

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉

Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍