Ramadan itu selalu punya cerita. Ada yang fokus memperbanyak ibadah, ada yang justru merasa ritmenya berubah total sampai gampang banget tergoda rebahan. Jujur ya, saya pun pernah ada di fase “nanti aja”-nya Ramadan. Bangun sahur rasanya masih ngantuk, siang agak lemas, sore mulai sibuk di dapur, tahu-tahu hari sudah selesai tanpa merasa melakukan hal yang berarti. Tapi tahun ini saya belajar, ternyata tetap produktif saat Ramadan itu bukan soal melakukan hal besar, melainkan bagaimana kita memaksimalkan peran yang sedang kita jalani.
Apalagi sekarang tantangannya bertambah seru. Saya sedang membersamai anak pertama yang belajar puasa untuk pertama kalinya—ikut bangun sahur, menemaninya sholat, murojaah, sambil tetap mengasuh adiknya yang masih full ASI. Di sela-sela itu, dapur tetap ngebul untuk sahur, berbuka, sekaligus menyiapkan MPASI. Belum lagi urusan ngeblog, ikut tantangan menulis, dan menyelesaikan internship di bootcamp SEO VA. Capek? Pasti. Tapi justru dari situ saya sadar, Ramadan bukan alasan untuk melambat, melainkan momen terbaik untuk mengatur ulang prioritas dan jadi versi diri yang lebih terarah.
Baca juga: Tantangan Ibu Rumah Tangga Saat Berpuasa
Membersamai Anak Belajar Puasa, Sekaligus Belajar Sabar
Tahun ini jadi momen spesial karena anak pertama mulai belajar puasa. Rasanya campur aduk, antara haru, bangga, sekaligus deg-degan. Bangun sahur bukan cuma soal menyiapkan makanan, tapi juga membangunkannya dengan lembut, menyemangati supaya kuat sampai magrib, dan menjelaskan bahwa puasa itu bukan cuma menahan lapar, tapi juga belajar sabar. Di situ saya sadar, produktif saat Ramadan bukan selalu tentang checklist pekerjaan yang tuntas, tapi tentang hadir sepenuhnya untuk proses kecil yang bermakna.
Menemaninya sholat dan murojaah juga jadi pengingat buat saya. Kadang niatnya ingin cepat beres supaya bisa lanjut kerjaan lain, tapi justru di momen itu saya belajar memperlambat diri. Sambil menggendong adiknya yang masih ASI, saya ikut mengulang hafalan, membetulkan gerakan sholatnya, dan menikmati obrolan polosnya tentang puasa hari itu. Capeknya ada, tapi hangatnya juga terasa. Dari situ saya belajar, Ramadan mengajarkan bahwa produktivitas bukan soal sibuk terus, melainkan tentang mengisi waktu dengan hal yang bernilai.
Produktif di Dapur Tanpa Merasa Terbebani
Kalau biasanya dapur terasa seperti “zona wajib”, saat Ramadan justru jadi ruang latihan manajemen waktu. Menyiapkan sahur, berbuka, sekaligus MPASI untuk si kecil memang terdengar ribet. Tapi saya mencoba mengubah cara pandang. Daripada menganggapnya sebagai beban tambahan, saya mulai menyusunnya dengan lebih terencana. Misalnya, bikin menu sederhana tapi bergizi, prep bahan sejak malam, atau masak dalam porsi yang bisa dipakai untuk dua waktu sekaligus.
Jujur saja, tidak setiap hari menunya heboh. Ada hari-hari di mana sahur cukup dengan lauk simpel dan sayur cepat masak. Dan itu tidak apa-apa. Saya belajar bahwa produktif di dapur bukan berarti harus selalu fancy, tapi bagaimana tetap konsisten menyiapkan yang terbaik untuk keluarga tanpa menguras energi berlebihan. Dengan cara itu, saya masih punya tenaga untuk membersamai anak-anak dan menyelesaikan tanggung jawab lainnya tanpa merasa kehabisan daya di tengah jalan.
Tetap Berkarya di Tengah Kesibukan Ramadan
Di sela-sela jadwal mengurus anak dan urusan dapur, saya tetap menyempatkan diri untuk menulis dan menyelesaikan internship di bootcamp SEO VA. Waktunya? Tentu tidak selapang dulu. Biasanya saya mencuri waktu setelah Subuh saat rumah masih relatif tenang, atau malam hari ketika anak-anak sudah tidur. Tidak lama memang, kadang hanya satu sampai dua jam fokus. Tapi ternyata, konsisten sedikit demi sedikit jauh lebih terasa hasilnya dibanding menunggu waktu luang yang entah kapan datangnya.
Ikut tantangan menulis juga jadi penyemangat tersendiri. Rasanya seperti punya “teman seperjuangan” yang sama-sama berproses setiap hari. Dari situ saya belajar bahwa tetap produktif saat Ramadan bukan soal bekerja tanpa henti, melainkan pintar membaca ritme tubuh dan suasana rumah. Ada hari yang lancar, ada juga yang terasa berat. Dan itu wajar. Yang penting bukan seberapa banyak yang selesai, tapi bagaimana kita tetap bergerak dan tidak menyerah pada rasa malas yang sering menyamar jadi alasan untuk rebahan.
Pada akhirnya, Ramadan anti rebahan versi saya bukan berarti harus super sibuk dari pagi sampai malam. Bukan juga soal seberapa banyak to-do list yang tercoret. Tapi lebih ke bagaimana saya bisa hadir sepenuhnya dalam setiap peran—sebagai ibu yang membersamai anak belajar puasa, sebagai ibu menyusui yang tetap menguatkan si kecil, sebagai istri yang menyiapkan kebutuhan keluarga, dan sebagai perempuan yang tetap ingin bertumbuh lewat menulis dan menyelesaikan internship.
Ada hari yang terasa ringan, ada juga yang penuh drama dan kelelahan. Namun justru di situlah prosesnya. Saya belajar menurunkan ekspektasi, mengatur ulang prioritas, dan menerima bahwa produktif saat Ramadan itu bentuknya bisa berbeda bagi setiap orang. Selama kita tetap bergerak, tetap belajar, dan tetap mendekat pada Allah, insyaAllah Ramadan kita tidak akan berlalu begitu saja. Bukan tentang sibuknya, tapi tentang makna yang kita isi di dalamnya.
Artikel ini ditulis untuk mengikuti Challenge IIDN hari ke-6.


0 Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉
Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍