Lelah yang Berbuah Pahala, Ketika Menyusui dan Mengasuh Jadi Ladang Pahala

Lelah yang Berbuah Pahala

Sejak saya kecil hingga sebelum memiliki anak, Ramadan sering saya asumsikan sebagai bulan yang penuh kekhusyukan. Tarawih panjang di masjid, tadarus setiap setelah sholat hingga itikaf di sepuluh malam terakhir. Namun semua berbeda ketika saya diberi peran sebagai ibu, terlebih lagi yang sehari-harinya di rumah.

Dulu banget saya mikir, bisalah ngaji saat anak tidur atau tetap terbangun di tengah malam untuk menunaikan tahajud. Nyatanya, kok waktu saya rasanya tetap habis hanya untuk mengurus rumah dan anak-anak ya? Apalagi si bungsu yang masih menyusui, baterai saya keburu low sebelum sempat bangun tahajud.


Alih-alih khusyuk berlama-lama dalam doa, saya justru sering kali segera beranjak dari atas sajadah untuk menenangkan tangisan. Di sela-sela itu semua, terbesit di dalam pikiran saya, Apakah saya dapat pahala nih di bulan Ramadan ini? Mengingat ya itu tadi, merasa ibadahnya kurang maksimal.

Memaknai Ulang Konsep Ibadah di Bulan Ramadan

Saya jadi tersadar, sering kali kita menyempitkan makna ibadah hanya pada aktivitas ritual yang terlihat besar. Padahal dalam Islam sendiri, nilai sebuah amal sangat ditentukan oleh niatnya. Rutinitas harian bisa berubah menjadi ibadah ketika dilakukan karena Allah.

Menyapu lantai agar anak bisa bermain dengan aman. Memasak makanan bergizi agar keluarga kuat berpuasa. Menyusui dengan sabar meski tubuh terasa remuk. Semua itu bisa menjadi amal, jika hati menghadirkan niat "Ya Allah, ini kulakukan sebagai bentuk amanah dan ibadah kepada-Mu".

Peran Ibu sebagai Amanah Besar

Satu-satunya yang membuat saya masih bertahan menjadi ibu rumah tangga di tengah keinginan untuk kembali bekerja di ranah publik adalah mindset bahwa anak adalah titipan. Di mana pertanggung jawabannya, alias bosnya, alias atasannya adalah langsung Sang Maha Pencipta.

Maka, mengasuh anak bukan hanya sekadar pekerjaan domestik, tetapi lebih berat dari pada itu, merupakan sebuah tanggung jawab spiritual. Nah, bulan Ramadan ini sebenarnya bisa menjadi momen yang tepat untuk memperbarui niat dalam menjalani peran sebagai ibu. Setiap pelukan, setiap nasihat, setiap kesabaran meski sumbu pendek adalah bagian dari penghambaan kepada Allah.

Menyusui Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Ladang Pahala

Menyusui saat nggak berpuasa aja udah sangat menghabiskan energi, apalagi menyusui saat berpuasa? Terbayang betapa melelahkannya. Tubuh menahan lapar dan haus, tetapi tetap harus memproduksi ASI. Malam hari terbangun berkali-kali, sementara esoknya tetap menjalani aktivitas seperti biasa.

Dan hal ini, dianggap biasa saja oleh orang-orang sekitar. Ya emang gitu, namanya juga lagi menyusui.

Di balik kekesalan kita pada mereka-mereka yang nggak paham, di situlah letak keistimewaannya. Lelah yang tidak terlihat oleh manusia, sangat terlihat oleh Allah. Oleh karenanya, Allah sampai meringankan ibu hamil dan menyusui untuk boleh mengambil cuti berpuasa di bulan Ramadan.

Ujian Kesabaran Saat Mengasuh Anak di Tengah Puasa

Menjelang waktu berbuka, biasanya energi kita sudah tinggal sisa-sisa. Kepala terasa sedikit pusing, badan lemas, dan rasanya ingin duduk tenang sambil menunggu azan. Tapi entah kenapa, justru di jam-jam segitu anak bisa jadi lebih rewel dari biasanya. Mainan berserakan di mana-mana, nangis tanpa bisa dipahami dengan mudah, dan permintaan simpel terasa seperti tugas besar.

Di momen seperti itulah puasa benar-benar terasa diuji. Momen menahan emosi, di tengah perasaan overwhelmed yang lain. Ramadan memang bulan kesabaran. Bentuk sabarnya seorang ibu pun berbeda-beda. Tidak membentak saat suara ingin meninggi, memilih berbicara lembut meski ngerasa super capek, atau inhale exhale dulu sebelum akhirnya memeluk anak yang sedang tantrum.

Mungkin hari itu kita tidak sempat membaca satu juz. Tidak ikut kajian online. Tidak tarawih di masjid. Tapi kita berhasil menahan marah. It's a big win!

Aktivitas Rumah Tangga yang Tak Pernah Selesai

Pekerjaan rumah seperti lingkaran yang tak berujung. Abis masak, makan, cuci piring, repeat. Habis nyuci baju, jemur, angkat, setrika, repeat. Setelah merapikan mainan, beberapa menit kemudian kembali berantakan. Setelah susah-susah menidurkan anak, dengan mudahnya ia terbangun lagi karena terkejut.

Fun fact-nya, Ramadan yang mana merupakan bulan istimewa pun tidak menghentikan siklus itu. Bahkan terasa lebih padat karena ada sahur dan persiapan berbuka. Balik lagi sih, kita niatkan saja semuanya karena Allah ta'ala. InsyaAllah, meskipun pekerjaannya tetap banyak, langkahnya terasa lebih ringan.

Merasa “Kurang Ibadah” Dibanding Orang Lain

Di era media sosial, mudah saja kita melihat seperti apa sih Ramadan-nya orang lain? Kajian setiap hari, khatam berkali-kali, pergi ke masjid setiap tarawih. Sometimes, tanpa sadar kita membandingkan diri.

Padahal, setiap orang punya ujian dan “ladang amal”-nya masing-masing. Kalau ada yang ladangnya adalah waktu luang untuk berlama-lama di masjid atau menuntaskan banyak bacaan, maka ladang seorang ibu dengan anak kecil sering kali bernama kesabaran yang diuji hampir sepanjang hari.

Calm frens (dan reminder untuk diri saya sendiri juga sih), nggak ada kebaikan sekecil apa pun yang terlewat dari penilaian Allah. Bahkan niat baik yang belum sempat kita lakukan saja sudah dicatat sebagai pahala. Gimana dengan lelah yang benar-benar terasa di pikiran, di tengah derai air mata yang sering kali ditutupi, atau aktivitas yang dilakukan setiap hari tanpa jeda?

Surga di Balik Lelah Seorang Ibu

Menyusui dan mengasuh itu bukan penghalang untuk beribadah. Justru di situlah ibadahnya berada. Lelahnya seorang ibu di bulan Ramadan bukan tanda ibadahnya kurang maksimal, tapi tanda bahwa mereka sedang menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh. Bismillah, insyaAllah ya frens..

Menyiapkan sahur sambil terkantuk-kantuk, langkah bolak-balik dari dapur ke kamar, pelukan untuk anak yang tiba-tiba rewel, hingga malam-malam sleepless karena harus menyusui, semuanya adalah kebaikan. Mungkin kelihatan gitu doang di mata manusia, tapi yakinlah bahwa semua tidak pernah luput dari perhatian Allah.

Siapa tahu, dari rutinitas yang terasa biasa dan berulang itulah Allah membukakan pintu pahala yang luas. Dari kesabaran yang tampak sederhana, dari lelah yang sering kita anggap sepele, justru tersimpan jalan menuju ridha dan surga-Nya. Aamin ya Allah..

Untuk para ibu yang masih strugling dengan aktivitas perbocilan di tengah Ramadan, nggak perlu merasa tertinggal. Apa yang sedang kalian lakukan hari ini adalah bagian dari ibadah, selama diniatkan karena Allah Ta’ala.

Semoga setiap lelah kita berubah menjadi pahala, dan setiap pengorbanan menjadi jalan menuju kebaikan yang lebih besar. Allah melihat, Allah tahu, dan Allah tidak pernah salah menilai :)


Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Challenge IIDN hari ke-7.


Posting Komentar

0 Komentar