Akhir Ramadan, Awal Perubahan. Harapan Sebagai Umat Muslim di Akhir Ramadan

harapan di akhir ramadan

Nggak berasa tau-tau kita sudah memasuki hari ke-12 Ramadan. Setiap kali melihat akhir dari bulan suci ini rasanya selalu campur aduk. Pastinya dan selalu merasa sedih karena bulan yang penuh berkah ini akan pergi. Akan tetapi, juga ada harapan karena merasa sudah “dibersihkan” selama sebulan penuh.

Pertanyaan yang selalu ditanyakan pada diri sendiri pun di akhir Ramadan sama, "Mau jadi pribadi seperti apa saya setelah ini?"


Ramadan Mengajarkan Saya Tentang Proses

Tahun ini saya kembali tidak berpuasa karena masih mengASIhi puteri saya yang usianya baru genap setahun. Di sisi lain, anak sulung saya pertama kalinya belajar menjalankan ibadah puasa full seharian. Memiliki balita yang lagi aktif-aktifnya dan anak usia 7 tahun yang mengeluh lapar serta haus setiap hari, tentu membutuhkan kesabaran yang luas.

Ramadan kali ini mengajarkan saya untuk sama-sama berproses bersama anak-anak. Belajar bagaimana menanamkan nilai-nilai agama pada putera saya sembari berpuasa, dan tetap istiqomah menjalankan pesan sebagai busui meski dalam hati tentu ingin ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ibadah.

Ada hari-hari ketika peran yang saya emban ini terasa ringan, hati tenang, dan sabar jadi lebih panjang. Nggak jarang juga ada hari ketika saya lelah, emosi naik, dan rasanya ingin menyerah. Nggak apa-apa, namanya juga proses belajar.

Ingin Menjadi Pribadi yang Lebih Baik untuk Diri Sendiri

Sebagai individu, harapan saya sederhana aja, yakni ingin jadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Lebih sabar, tidak mudah mengeluh, dan tidak gampang tersulut emosi. Sounds cliche, huh? Namun praktiknya tidak pernah semudah itu.

Bertumbuh sebagai Istri dan Ibu

Sebagai istri dan ibu, Ramadan juga sering kali menjadi momen evaluasi. Sudah cukup baikkah cara saya berbicara? Sudah cukup hadirkah saya untuk keluarga?

Saya ingin lebih sabar menghadapi anak-anak, lebih tenang saat situasi rumah tidak berjalan sesuai rencana. Ingin menjadikan rumah bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat pulang yang hangat. Tempat di mana doa-doa dilangitkan, bukan hanya rutinitas dijalankan.


Saya sadar, anak-anak belajar bukan dari apa yang kita ucapkan, tapi dari apa yang kita lakukan. Jadi kalau saya ingin mereka rajin salat, suka membaca Al-Qur’an, atau terbiasa berdoa, maka saya harus memberi contoh dulu.

Semakin Dekat dengan Allah, Bukan Hanya di Bulan Ramadan

Salah satu hal yang paling terasa di bulan Ramadan adalah kita berlomba-lomba untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Namun, tantangannya justru datang setelah Ramadan selesai. Bisakah kebiasaan baik ini bertahan?

Menjaga Konsistensi Ibadah

Tentunya, saya tidak ingin semangat ibadah ikut pergi bersama Ramadan. Nggak berharap langsung gas poll dengan hasil maksimal juga sih, tapi setidaknya konsisten. Berusaha sholat di awal waktu, meski sedang sibuk, termasuk bersama anak-anak. Merutinkan kembali tilawah walau hanya beberapa ayat sehari, serta membiasakan istighfar di sela aktivitas.

Ada banyak kisah inspiratif ibu rumah tangga yang masih bisa mempertahankan kualitas ibadahnya di sela-sela pekerjaan domestik dan mengurus anak-anak yang bisa dijadikan panutan. Hal-hal seperti ini, kalau dijaga efeknya bisa terasa besar lho. Hati jadi lebih tenang, pikiran lebih jernih. Saat masalah datang, rasanya tidak sendirian dan lebih kuat menghadapinya.

Meningkatkan Ketaatan Secara Perlahan

Sebagai istri, sebagai ibu, sebagai perempuan biasa dengan segala kekurangan, saya ingin setiap peran diniatkan karena Allah. Supaya lelahnya bernilai ibadah, sabarnya bernilai pahala, dan setiap usaha tidak terasa sia-sia.

Harapan Sebagai Umat Muslim di Akhir Ramadan

Ramadan juga mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri. Saat kita bisa berbuka dengan nyaman, ada saudara-saudara kita yang bahkan untuk makan saja sulit. Saat kita beribadah dengan tenang, ada yang hidup di tengah suara ledakan dan ketakutan.

Hati rasanya perih setiap kali melihat konflik si Palestina yang tak kunjung usai. Harapan saya semoga konflik yang berkepanjangan itu segera berakhir. Semoga Allah memberi kekuatan, perlindungan, dan kemenangan bagi saudara-saudara Muslim yang terzalimi.

Kita mungkin tidak bisa berada di sana, tapi setidaknya jangan lelah mendoakan, jangan bosan untuk terus memboikot produk-produk yang terafiliasi.

Selain itu, saya juga berharap negeri ini segera pulih dari berbagai bentuk kezaliman. Semoga Allah memberi ganjaran bagi para pemimpin dzolim yang membuat berita-berita dipenuhi kabar buruk dari negeri sendiri, dan menghadirkan pemimpin yang amanah, jujur, dan benar-benar memikirkan rakyatnya. Kita semua tentu ingin hidup di negara yang adil, di mana hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.

Menutup Ramadan dengan Harapan

Menuju akhir Ramadan bukan berarti kita mencapai garis akhir, justru inilah awalnya. Setelah berlatih berbuat banyak kebaikan di bulan yang mulia, mampukah kita tetap konsisten menjalankannya? Akan seperti apa cerita hidup selepas bulan Ramadan tahun ini?

Harapan saya di bulan Ramadan ini nggak muluk-muluk sih. Cukup menjadi versi yang sedikit lebih baik dari sebelumnya, tanpa membanding bandingkan pencapaian dengan orang lain.

Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita, mengampuni kekurangan kita, dan menjaga hati kita. Akhirnya, semoga harapan-harapan yang kita simpan hingga akhir nanti Ramadan tidak berhenti sebagai doa, tapi step by step menjadi nyata dalam hidup kita.

Artikel ini ditulis untuk mengikuti Challenge IIDN hari ke-10.

Posting Komentar

0 Komentar