Mengatur Emosi dan Energi, Tantangan Ibu Rumah Tangga Saat Puasa Ramadan

tantangan-saat-puasa

Bagi ibu rumah tangga seperti saya, puasa adalah sebuah ujian kesabaran, manajemen energi, sekaligus kecerdasan mengatur emosi. Terlebih saat ini saya memiliki balita 13 bulan yang sedang aktif-aktifnya dan anak usia 7 tahun yang baru belajar puasa. Setiap hari ada aja gebrakannya, sulit sekali menahan emosi ketika melihat rumah seperti habis terkena bencana alam (berantakan banget T_T).

Ditambah lagi tanggung jawab pekerjaan rumah seperti memasak, beberes dan cuci-cuci, plus idealisme saya untuk tetap menulis blog, bekerja remote dan aktif berkomunitas. Semuanya berjalan beriringan dalam satu hari yang sama.

Jadi kalau di tanya soal tantangan terbesar saya saat Ramadan, jawaban saya adalag mengatur emosi dan energi! Tapi, ini bisa jadi pembelajaran juga ternyata.

Tantangan Mengatur Emosi Saat Puasa

Balita saya yang saat ini berusia 13 bulan sedang berada di fase eksplorasi. Semua ingin disentuh, dipanjat, dilempar, dan dimasukkan ke dalam mulut. Di sisi lain, kakaknya yang sekarang sudah 7 tahun sedang semangat belajar puasa.

Di pagi hari, emosi saya masih relatif stabil. Biasanya si bayi bangun siang dan kakak sekolah. Saya bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah tangga dalam hening. Namun, setelah adik bangun dan kakak sudah pulang sekolah, di sinilah emosi benar-benar diuji.

Ada momen di mana adik tidak mau lepas dari gendongan, terutama saat saya sedang sibuk di dapur. Mana sekarang sudah bisa menjangkau kenop kompor. Sometimes ketika saya sedang memasak, iseng aja dia matiin kompor karena ingin cari perhatian. Heu..


Belum lagi kakaknya yang sepulang sekolah sibuk haus lah, lemas lah, ingin batal dan sebagainya yang membuat saya tentunya harus mengedukasi soal ibadah puasa di tengah huru-hara bersama adiknya.

Mengatur emosi ini sebenarnya lebih mudah saat saya mendapatkan cukup tidur. Kenyataannya kan nggak selalu begitu, bahkan mungkin selalu kurang tidur karena sering kali menemani adik yang terbangun di malam hari, lanjut menyiapkan sahur. Baterai yang sudah terkuras sejak pagi, lalu menghadapi anak yang tantrum di siang hari bisa menjadi kombinasi yang memancing emosi.

Padahal kan yaa... esensi Ramadan itu sendiri justru mengajarkan pengendalian diri. Tantangannya adalah agar tidak terbawa suasana lalu meninggikan nada suara, dan menurunkan ekspektasi. Tak apalah rumah saya seperti kapal pecah asal menu takjil dan makan malam, serta sahur aman. Kkk~

Tantangan Mengelola Energi Seharian

Sebagai ibu rumah tangga yang juga bekerja dari rumah, saya harus bisa membagi energi dengan cermat. Di mana, aktivitas saya sejak dini hari biasanya diisi dengan:
  • Menyiapkan sahur dan sarapan adik
  • Membereskan rumah
  • Mendampingi anak belajar
  • Mengurus balita yang tidak bisa ditinggal lama

Sementara pekerjaan seperti menulis blog, menghadiri meeting komunitas, atau menyelesaikan pekerjaan secara remote tetap membutuhkan fokus dan kreativitas. Ditambah lagi, saat ini saya sedang mengikuti bootcamp dengan tugas-tugasnya yang tidak sedikit.

Tanpa manajemen energi yang baik, tubuh terasa cepat lelah, otak udah ngebul duluan bahkan sebelum waktu dzuhur.

Guna menyiasatinya, saya mulai menerapkan beberapa strategi sederhana:
  • Mengatur prioritas harian (tidak semua harus selesai hari itu juga)
  • Memanfaatkan waktu tidur siang balita untuk pekerjaan yang butuh fokus, biarpun kadang ikut tertidur juga sih supaya bisa kembali mengisi energi
  • Mengurangi distraksi media sosial
  • Menyederhanakan menu berbuka agar tidak terlalu menguras tenaga

Paling penting adalah saya tidak mau terlalu perfectionist. Apa yang bisa saya lakukan ya saya lakukan semampu saya, kalau tidak, yasudah demi kewarasan jiwa dan raga, kita ikhlaskan saya untuk dikerjakan nanti (cucian piring, baju yang belum dijemur, jemuran yang belum diangkat).

Realita IRT Remote Worker

Banyak orang mengira bahwa bekerja dari rumah itu fleksibel dan santai. Ya emang, sih. Tapi ada realita yang sering nggak disadari, di mana bekerja sambil mengurus rumah dan anak justru membutuhkan energi dua kali lipat.

Saat deadline menulis mendekat dan balita minta digendong bersamaan, di situlah kesabaran benar-benar diuji. Namun Ramadan mengajarkan saya satu hal penting. produktif bukan berarti memaksakan diri, melainkan tahu kapan harus istirahat dan kapan harus fokus.

Contohnya saat saya menulis artikel ini, saya kerjakan di malam hari saat anak-anak sudah tertidur pulas. Mau nggak mau, sedikit mengorbankan waktu istirahat. Nggak apa-apa lah, sekalian me time tipis-tipis. Kadang saya juga menyempatkan waktu untuk blogwalking ke blog teman-teman seperti blog Tulisandin dan mencari inspirasi menulis review drama dan film dari sana.

Belajar Menurunkan Standar, Meningkatkan Kualitas

Sebenarnya, sudah bertahun lalu saya meninggalkan ke-perfectionist-an saya. Pernah saya berada di fase benar-benar muak, burn out bahkan rasanya pengen kabur aja dari segala kerjaan rumah *eh! Lalu saya disadarkan oleh suami saya yang bilang kalau saya tuh orangnya kurang bersantai. Apa-apa dipikirin dan pengen segera diselesaikan. Wkwk..

Ditambah lagi sekarang bulan Ramadan kan ya, jadi saya lebih memilih fokus meningkatkan ibadah, menjaga kestabilan emosi mengatur energi supaya nggak mudah drop dan menikmati momen Ramadan ini bersama anak-anak.

Kalau Mae frens sendiri, apa nih tantangan terbesar selama Ramadan? Cerita juga yuk di kolom komentar!

Artikel ini ditulis untuk mengikuti Challenge Menulis IIDN hari ke-4.

Posting Komentar

0 Komentar