produktivitas hasil ngedrakor

"Lulusan farmasi, kok malah review drakor ya sekarang.."

"Ima itu loh, yang tau banget sama oppa-oppa Korea.."

Beberapa komentar julid itu justru saya terima dari orang-orang di lingkungan terdekat. Nggak deket-deket amat tapi ngerasa ikrib banget sama saya.

Menonton drama Korea memang sudah menjadi kegiatan yang saya lakukan sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. SMP udah ngedrakor gue, bukan penonton karbitan apalagi ngikutin tren semata.

Setelah berderai-derai air mata menonton Autumn in My Heart alias Endless Love tahun 2000, saya menemukan happiness ketika menonton drama-drama bergenre romcom seperti Full House, Sassy Girl Chun-Hyang dan Princess Hours yang hitz abiz pada masa itu.

5 Produktivitas dari Hobi Nonton Drakor

Belasan tahun kemudian, saya tidak menyangka hobi yang sering kena julid orang ini justru membawa saya menjadi pribadi yang lebih produktif.

Yakin produktif? Nggak cuma rebahan-rebahan doang ngeliatin oppa? LOL!

Review Drama Korea

Bermula dari mengikuti tantangan menulis 30 topik seputar drama Korea, saya jadi ketagihan untuk menulis review drama Korea. Selain karena bisa menuangkan isi pikiran dan pandangan mengenai drama tersebut, ternyata tulisan-tulisan saya di blog tentang drama Korea banyak dibaca orang juga :')

Bagi saya yang pada waktu itu baru mulai nulis di blog, melihat jumlah traffic yang meningkat secara signifikan seperti mendapat suntikan semangat untuk terus menulis. Alhasil, hingga hari ini saya masih senang menulis dan berbagi pendapat mengenai drama-drama Korea yang sudah saya tonton.

Di samping itu, saya juga menjadi salah satu kontributor untuk menulis di website yang isi tulisannya terinspirasi dari drama Korea. Di sana, dari teman-teman kontributor yang lain saya belajar banyak untuk menulis sesuatu dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Jadi, biarpun kadang kami membahas satu drama yang sama, namun topik yang kami angkat sebagai bahan tulisan tidak sama antara satu penulis dengan penulis lainnya. Dari sana saya belajar untuk menulis dengan mengeksplorasi berbagai angle.


Tampil di Events Drama Korea

Crash Landing on K-Drama adalah judul dari salah satu event yang diadakan oleh pusat kebudayaan Korea di Indonesia. Saya bersama teman-teman satu komunitas berkesempatan untuk menyampaikan presentasi mengenai hubungan antara literasi dengan drama Korea.

Dari kali pertama itu, siapa sangka datang kesempatan-kesempatan lain bagi saya untuk tampil dan berkolaborasi dengan berbagai komunitas untuk membahas drama Korea.

Sebagai ibu rumah tangga yang masih sering dianggap kuper dan susah bersosialisasi, ternyata hasil saya drakoran selama ini, mengantarkan saya bertemu dengan banyak pihak eksternal yang sebelumnya nggak pernah kepikiran bisa bekerja sama dengan mereka.

Menjadi Juri Lomba Review Drama Korea

Satu lagi pengalaman saya yang berkesan dari hasil drakoran adalah menjadi person in charge (PIC) sekaligus salah satu juri dari kompetisi menulis review drama Korea yang diadakan oleh pusat kebudayaan Korea di Indonesia.

Lagi-lagi, saya belajar banyak dari pengalaman ini. Mulai dari membagi waktu antara pekerjaan domestik, mengurus anak, koordinasi dengan pihak penyelenggara hingga koordinasi dengan para juri lainnya agar dapat memenuhi tenggat waktu yang ditentukan.

Ada sekitar 70 peserta lomba pada waktu itu. Dari sana saya juga belajar bagaimana menilai tulisan per orang secara objektif. Harus sabar, harus teliti, nggak boleh terburu-buru bacanya dan nggak boleh subjektif ketika menemukan nama-nama beberapa teman blogger yang ikutan lomba tersebut.

Memproduksi Podcast

Selain menulis di website drama Korea, saya dan teman-teman komunitas juga mengembangkan konten melalui podcast. Sama seperti menulis, kami berusaha untuk konsisten menayangkan episode baru podcast setiap minggu. Hasilnya setelah setahun mengudara, podcast kami sudah memiliki lebih dari 3000 pendengar.

podcast drakor class
Podcast ngobrolin drama Korea 2021

Nggak hanya asal cuap-cuap, saya juga belajar bagaimana membuat podcast yang baik. Mulai dari mempersiapkan skrip pembicaraan, mengatur durasi hingga proses editing dan finishing. Saya dan beberapa teman bahkan mengikuti kelas podcast selama 6 pekan untuk mempelajari produksi podcast mulai dari hulu ke hilir.

Bahkan teman saya yang bekerja di suatu instansi pemerintahan pernah meminta saya untuk mengajarkan bagaimana cara memproduksi podcast untuk kebutuhan pekerjaannya. Hoho~ again, semua bermula dari hobi drakoran.

Siaran Radio

Kesempatan lain yang saya dapatkan dari hobi ngedrakor adalah menjadi pengisi radio di salah satu stasiun radio Jakarta. Tentu saja, siaran radio saya lakukan dari rumah menggunakan jaringan internet.

Nevertheless, Now We Are Breaking Up dan Ghost Doctor adalah tiga drama yang pernah saya ulas dalam acara Johayo Show yang juga disiarkan melalui channel youtube.


Kalau dulu menonton drakor hanya sekedar hobi di mana saya lebih senang menonton drama secara marathon, untuk keperluan siaran saya harus mengikuti drama terbaru serta menonton on going.

Mengisi acara di radio membuat saya mau nggak mau harus belajar sedikit banyak mengenai public speaking. Berbeda dengan mengisi podcast yang formatnya lebih santuy, tampil dalam acara radio tentu harus bisa memposisikan diri untuk berbicara dengan lebih formal tapi tetap terdengar nyaman dan natural.

Saya juga belajar menjawab secara objektif, pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung isu sensitif terkait cerita dalam drama Korea. Makin banyak drakor yang jalan ceritanya ala Hollywood, makin senang juga pendengar mendengar pendapat kami mengenai isu tersebut.

Tentang Hobi yang Suka Dijulidin

Julid adalah bentuk iri hati atau dengki. Sampai akhirnya istilah julid populer dan digunakan oleh akun-akun gosip dengan menggambarkan perilaku nyinyir atau komentar pedas.

-Pengertian "julid", KBBI

Udah cuma ibu rumah tangga, hobinya drakoran pulak! Beuh, sasaran empuk nih buat jadi bahan julid netijen. Haha. Padahal, konten di blog saya nggak melulu soal drakor. Ada tentang parenting, cerita perjalanan dan macam-macam topik lainnya.


Saya juga nggak hanya mengikuti drama-drama Korea, saya menonton series Amerika, saya suka dengan film-film romance dan action Hollywood. Nah, kurang kerjaan apa tuh hidup gue kerjaannya kok nonton mulu (kelihatannya)? lol!

Mungkin branding saya yang berhasil adalah sebagai penonton drama Korea dibanding sebagai blogger atau podcaster. Yaudin nggak apa-apa, yang penting ketika nama saya disebut pikiran orang langsung triiiing~ oh, Ima yang itu, yang suka drakoran. Yeah, you remember me, right?

Sebenarnya orang julid nggak hanya pada orang-orang yang hobi menonton drama Korea. Beberapa teman saya pernah juga kena komentar pedas netijen tentang hobi yang ditekuninya.

"Sarjana elektro kok jadi pengamen?", cerita salah seorang teman yang menekuni hobi bermain musiknya hingga sudah menghasilkan dan mengeluarkan album.

"Lah, susah-susah kuliah S2 ujung-ujungnya jadi tukang jualan?", another story dari seorang sahabat yang menekuni hobi memasaknya hingga sudah membuka usaha kulinernya sendiri.

Bingung ya, yang kurang kerjaan itu sebenernya memang yang dijulidin atau yang suka julid tentang hobi orang lain? Apakah mereka merasa lebih superior dengan menindas orang lain yang kelihatan nggak banget di matanya?

Atau sama seperti saya yang punya hobi menonton dan teman saya yang hobinya bermain musik, julid adalah salah satu hobi mereka? Ehehe..

Ah, sudahlah. Saya nggak mau jadi bagian dari orang-orang yang suka julidin hobi orang lain, termasuk mereka yang hobinya julid :)

Peace and send lot of love ^^

Sukabumi, 24 Februari 2022