Sabtu, 15 Mei 2021

Serunya Belajar Free Diving di Pulau Kelor, Nusa Tenggara Timur


Haloha! Masih dalam suasana lebaran ya kita minggu ini, minal aidin walfaidzin semuanya. Maaf lahir dan bathin. Masak apa aja hari raya kemarin?

Biarpun hawa-hawa opor ayam dan sambal goreng kentang masih terasa, aku nggak akan membahas sesuatu tentang lebaran dalam tulisan kali ini. Hehe..


Belakangan, aku lagi melow karena super kangen dengan travelling. Beberapa tulisan terakhir juga berfokus pada penggalian memori jalan-jalan di masa lalu. Gagal move on deh!

Dulu, waktu masanya suka travelling, aku belum suka menulis di blog. Jadi kenangannya masih menetap di kepala, dan sekarang satu per satu mulai aku pindahkan ke pensieve milikku sebelum ingatanku memudar (((karena faktor U. Hiks!))).

Kali ini, aku akan membagikan pengalaman yang menjadi salah satu unforgettable moment dalam jejak travelling-ku. Belajar free diving.


Selain karena belajar teknik free diving dari ahlinya, yang membuat pengalaman ini semakin berkesan adalah tempat belajarnya. Yaitu di pulau Kelor, Kepulauan Komodo, Nusa Tenggara Timur.

Tahun 2017 silam, giliran Labuan Bajo yang menjadi destinasi untuk melepas lelah setelah kerja keras bagai quda. Haha. Aku bertandang ke sana bersama dua orang temanku yaitu Evita dan Rani. Rani juga mengajak temannya bernama Gery. Kami berempat ikut kegiatan open trip sailing Komodo.

Live on Board

Selama sailing Komodo, tempat tinggal kami adalah di atas kapal. Istilahnya live on board. Selama 3 hari 2 malam, kami menjelajah pulau-pulau yang ada di kepulauan Komodo. Udah macam nenek moyang aja, merasakan jadi pelaut.

Semua kegiatan kami lakukan di atas kapal. Mulai dari tidur, makan, mandi dengan air bersih seadanya, melihat-lihat pemandangan, hingga bercengkrama dengan teman-teman baru serta awak kapal.

Ready to live on board

Setiap harinya, kami mengunjungi sekitar 2 hingga 3 pulau yang ada di kepulauan Komodo. Kegiatan hopping island kami adalah mengunjungi pulau Rinca "Loh Buaya", tempat di mana komodo-komodo hidup, pulau Padar, pulau Gili Lawa Barat, pulau Gusung, Pink Beach, pulau Kenawa dan pulau Kelor.

Tentu masing-masing pulau menyisakan cerita dan kenangan sendiri-sendiri. Semua berkesan! Akan tetapi, kali ini aku akan menuliskan pengalamanku snorkeling dan belajar menyelam bebas di pulau Kelor.

Pulau Kelor merupakan pulau yang menjadi tujuan terakhir dari kegiatan hopping island di kepulauan Komodo, sekaligus penutup dari kegiatan live on board kami selama di sana.

Tentang Free Diving

Istilah free dive atau menyelam bebas ini aku kenal sejak kuliah. Ketika itu aku sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di pulau Lombok.

Suatu waktu, aku bersama teman-teman KKN menyambangi Gili Trawangan dan berkesempatan untuk snorkeling di lautnya. Kebetulan, salah seorang teman KKN ku adalah anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Selam. Di sana, aku diperkenalkan dengan kegiatan free diving.

Aktivitas free diving
Sumber : baliocean.com

Selama ini, mungkin istilah menyelam sudah tidak asing lagi di kuping kita. Ketika mendengar kata "menyelam di laut" yang terpikir pasti menyelam di kedalaman sekian belas meter, dilengkapi dengan segala perlengkapan menyelam seperti tabung oksigen.

Istilah menyelam seperti ini dinamakan scuba diving (Self Contained Underwater Breathing Apparatus). Biasanya, seseorang harus melakukan pelatihan terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan scuba diving. Tempat pelatihannya pun harus memiliki lisensi.

Kalau menyelam harus menggunakan perlatan lengkap seperti suba diving, tentu hanya orang-orang berbudget yang bisa melakukannya. Nah, ternyata ada teknik menyelam yang hanya membutuhkan peralatan lebih sederhana, namanya free diving.

Pengertian dari free diving sendiri adalah menyelam dengan menggunakan alat selam dasar seperti fin (kaki katak) dan masker tanpa dilengkapi dengan tabung oksigen. Teknik menyelam ini sebenarnya adalah teknik purba yang sudah dilakukan sejak zaman dulu, namun sudah dimodifikasi.

Kegiatan yang dikategorikan sebagai olahraga ekstrem ini mengandalkan kemampuan seseorang dalam menahan nafas di dalam air pada kedalaman tertentu.

Belajar Free Diving di Pulau Kelor

Di hari terakhir rangkaian saling Komodo, kegiatan diisi dengan snorkeling di beberapa spot terbaik di sana. Ada Manta point, tempat di mana kita bisa melihat sekawanan manta berenang bebas, Pink Beach yang termahsyur, pulau Kenawa yang indah serta pulau Kelor.


Bang Iyus, pemandu wisata kami selama sailing Komodo sempat mengajariku untuk melakukan free diving di laut sekitar pulau Kelor. Awalnya, Evita meminta Bang Iyus untuk mengajarinya berenang dan snorkeling. Kemudian, aku yang mulanya menemani Evita jadi tertarik untuk belajar sedikit mengenai free diving. Aku dan beberapa teman open trip kemudian belajar teknik dasar free diving bersama Bang Iyus.

Pulau Kelor, Kepulauan Komodo, NTT
Sumber : dokumen pribadi

Satu hal yang perlu diketahui sebelum teman-teman melakukan kegiatan free dive, kegiatan ini bisa cukup berbahaya bagi pemula yang belum berpengalaman. Oleh karenanya, harus ada pendampingan oleh ahlinya maupun orang yang sudah berpengalaman dalam melakukan olahraga air ini.

Bang Iyus sendiri sudah tidak diragukan lagi pengalamannya melakukan free dive selama ia menjadi pemandu tur. Ia bahkan bisa menyelam bebas hingga kedalaman tertentu untuk mengambil foto-foto underwater.

Hal yang diajarkan pertama kali adalah bagaimana kita bisa rileks di dalam air. Ketenangan adalah hal penting dalam kegiatan free diving. Ini senada dengan apa yang pernah disampaikan oleh temanku saat KKN dulu.

Selama di dalam air, kita diminta untuk tidak panik dan tidak terburu-buru. Santuy aja! Sebab kita hanya mengandalkan kemampuan paru-paru dan keahlian dalam menahan nafas, pergerakan yang terlalu tergesa-gesa akan membuat kita mudah lelah dan cepat kehabisan nafas.

Selanjutnya adalah belajar untuk mengambil dan menghembuskan nafas. Terdengar sederhana ya? Akan tetapi, teknik ini adalah satu dari 4 teknik free diving yang harus diketahui dan dilakukan oleh pemula, loh. Teknik ini disebut dengan breath-up. Tujuannya adalah agar paru-paru terbiasa dan terlatih.

Kemudian, aku diajarkan juga untuk berenang ke bawah secara vertikal. Teknik ini disebut dengan duck diving. Jadi, kalau biasanya kita berenang secara diagonal ke depan, ini langsung menyelam ke arah bawah. Melihat Bang Iyus melakukannya dengan sangat mudah, aku merasa akan langsung bisa juga. Ternyata, susah vroh!

Perlu latihan berkali-kali hingga akhirnya aku dapat melakukannya tanpa bantuan dorongan dari Bang Iyus. Hal yang menantang adalah karena kita harus melawan arus air laut dan membenamkan diri kita sepenuhnya ke dalam air.

Setelah menyelam secara sempurna, hal yang harus dilatih selanjutnya adalah teknik finning yaitu bergerak dan melakukan akselerasi. Tujuannya adalah agar gerakan minimal yang kita lakukan menghasilkan pergerakan yang maksimal. Jadi, gerakan selama menyelam harus efisien agar kita tidak cepat kehabisan oksigen.

Satu lagi teknik yang harus dipelajari adalah equalize atau mendorong tekanan pada telinga. Kebayang kan ya, kalau kita naik pesawat terkadang kuping rasanya seperti tertekan dan tertutup?

Sama halnya apabila kita menyelam di dalam air, ini disebabkan karena adanya tekanan. Semakin dalam kita menyelam, maka telinga akan terasa semakin penging dan sakit. Oleh sebabnya, penting untuk mempelajari teknik equalize ini.

Pelajaran yang aku dapatkan mengenai teknik-teknik free diving ini tentu sangat singkat. Jika ingin mahir melakukan kegiatan ini, aku harus sungguh-sungguh mempelajarinya dan tidak bisa hanya beberapa jam saja untuk menguasai tekniknya.

Meskipun demikian, senang sekali rasanya bisa memiliki pengalaman belajar free diving dan mempraktekannya langsung di laut. Hehe.

Tips Untuk yang Ingin Belajar Free Diving

Terakhir, aku ingin membagikan sedikit tips untuk teman-teman pemula sepertiku yang ingin belajar free diving :

Belajar Berenang Dulu

First of all, tentu sebelum selam menyelam yang perlu dikuasai adalah kemampuan berenang. Sebelum masuk ke pembelajaran free diving, jika teman-teman belum terlalu bisa berenang, kalian bisa melancarkan dulu kemampuan berenang kalian.

Selanjutnya, mungkin teman-teman bisa mencoba kegiatan snokeling terlebih dahulu. Setelahnya, jika sudah cukup percaya diri dengan kemampuan renang diri sendiri, baru deh belajar free diving.

Jangan Langsung Belajar di Laut

Setelah membaca-baca, ternyata jika ingin belajar free diving dengan sungguh-sungguh kita lebih baik mengambil pelatihan serta sertifikasi, dan jangan langsung praktek di laut. Alasannya karena pemula harus mengetahui teknik-teknik dasar serta belajar mengenai arus laut terlebih dahulu.

Untuk pemula yang baru pertama kali melakukan kegiatan ini, memang sebaiknya mencoba di kolam renang sebelum mencicipi free diving di bawah laut. Pantas saja saat belajar free diving di laut, aku merasa sangat kesulitan beradaptasi.

Harus Didampingi oleh Profesional

Ini juga tips penting! Jika kita memang pemula banget, jangan berani-berani mencoba melakukan free dive tanpa pendampingan dan pengawasan profesional. Apalagi untuk yang baru pertama kali mencoba kegiatan ini. Nggak usah sok-sokan, deh. Bisa bahaya soalnya.

Kegiatan free diving ini memang terlihat menyenangkan dan mudah dilakukan, namun bisa menjadi ekstrem bagi pemula yang belum memiliki jam terbang tinggi. Aku sendiri saat belajar bersama Bang Iyus, rasanya insecure dan seperti anak ayam kehilangan induk ketika di dalam air tidak melihat dirinya di sekelilingku.

Berhubung kemampuan dan jam terbang masih minim, perlu sekali adanya penolong yang profesional di saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Jangan Mudah Menyerah

Tadi aku berkata bahwa kegiatan free diving terlihat menyenangkan dan mudah dilakukan, kenyataannya susah dan melelahkan! Haha. Nggak bisa instan dan butuh usaha keras dalam belajar.

Jadi, tips berikutnya adalah jangan mudah menyerah. Selalu berpikiran positif kalau kita akan bisa melakukannya, tidak usah terburu-buru dan nikmati proses belajarnya. Pikirkan bagaimana kita bisa menikmati keindahan laut saat sudah berhasil melakukan free dive.

Sama halnya dengan saat kita belajar sepeda atau mengendarai mobil. Awalnya ragu dan takut, pada akhirnya kita akan enjoy saat berhasil menguasai kegiatan tersebut. Don't give up!

Mengerti Kemampuan Diri Sendiri

Terakhir, jangan memaksakan diri dan pahami sejauh mana batasan diri sendiri. Berlatihlah sedikit-sedikit namun konsisten. Tidak perlu buru-buru ingin menguasai semua teknik dalam waktu singkat. Take your time, ya.

Bagaimana teman-teman, apa kalian tertarik untuk mempelajari free diving? Seru loh! Tapi, nggak tau nih, setelah badan melar begini apa masih mampu diriku untuk melakukan free diving? Haha.

Sampai ketemu di cerita selanjutnya.

Sukabumi, 15 Mei 2021

30 komentar:

  1. Selalu kagum dengan orang-orang yang mampu diving dan bisa melihat keindahan bawah laut. Apa daya, daku renang aja enggak bisa hadwuhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak apa-apa mbak indri, punya hal yang dijagoin lainnya. Hihi..

      Hapus
  2. free diving ini dia nggak pakai tabung oksigen ya, mbak? memang harus pakai teknik ya biar bisa tahan berada di bawah air gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak, mbak. Kalau pake tabung namanya scuba diving. Betul, free diving beda sama berenang biasa karena ada teknik khususnya

      Hapus
  3. Pernah tuh belajar free diving singkat sesingkat-singkatnya saat sebelum pandemi, ketika main ke kepulauan seribu. Kita nginap di Tidung, tapi belajar free diving di pulau lain. Seru tapi jujur saya mah ga bisa bisa. Sampai sekarang malah lupa. Parah, hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Susah memang, awal-awal rasanya berat banget mau dorong badan ke bawah air. Perlu trial berkali-kali..

      Hapus
  4. Senangnya bisa belajar free diving..aku tipe yang ga berani di lautan luas, jadi pas snorkeling cuma nyemplung sebentar terus naik ke boat lagi, nungguin anak dan suami hihi
    Saat tahun 2019 ke Labuan Bajo, Pulau kelor ini kami skip karena ada di akhir tour, eh mepet banget ke acara dinner, jadi dari Pulau Rinca sore balik ke hotel. Sayang banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sayang banget ya Mbak. Tapi pasti tetap berkesan ya perjalanan ke LBJ. Saya aja pengen balik lagi iihh..

      Hapus
  5. wahh seru ya mbak bisa belajar free diving, aku pun sebenarnya pengen
    tapi kayaknya harus belajar berenang dulu sebelum belajar free diving, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya Mbak, setelah renang lancar baru lanjut belajar free dive..

      Hapus
  6. Ananda Imaaaa....! Saya senang dengan kegiatan begini. Apalagi yang sesi kegiatan di atas kapal. Makan, tudur. Wow keren. Sayang tiada fasilitas dan masanya untuk itu. Plus usia yang sudah sepuh. He he ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah alhamdulillah bisa bikin nenek seneng dengan baca tulisan saya. Semoga ada kesempatan untuk holiday di atas kapal ya. Hehe..

      Hapus
  7. Seru banget ya diving di sana. Salah satu bucket list saya adalah belajar diving selain naik gunung. Pasti seru ya ngajak orang terdekat berpetualang

    BalasHapus
  8. Cantik banget lautnya. Jadi mengerti kalau di air ga boleh ketakutan ya, jadi ngaruh ke gerakan berlebihan

    BalasHapus
  9. duh meski 2017 tapi masih teringat jelas ya mbak ima. aku pribadi belum pernah nih ke labuan bajo, semoga bisa berkunjung ke sana ya Allah. aamiin

    BalasHapus
  10. Berarti aku harus belajar berenang dulu kalo mau free diving karena aku gak bisa renang mbak, wkwkwk. Duh jadi makin kangen jalan-jalan kalo gini mbak..

    BalasHapus
  11. Impian banget bisa diving.
    Ternyata bener yaa...kudu mahir berenang dulu. Tapi tekanan di laut dengan di kolam mestinya sangat jauh yaa..
    Stamina ini yang perlu diperhatikan.

    Seruuu~
    Jadi inget Nadine Chandrawinata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akutu kalau kena tekanan air bisa kaa auto-panik gituu..
      Memang jam terbang dan latihan ini penting banget yaa...demi bisa melihat dunia bawah laut.

      Hapus
  12. Seru banget imaaaaa!!!
    Aku nih yang belum kesampaian diving sama anak2..another bucket list ah.

    BalasHapus
  13. Wahhhh indah banget ya pemandangan bawah laut ini�� bisa renang sih tapi gak yakin bisa diving gitu. Secara ini udah emak emak

    BalasHapus
  14. Saya bisa berenang dan belum pernah diving. Berani nggak ya nyoba belajar? Bisa melihat keindahan dalam laut

    BalasHapus
  15. Wah ... Kereen nih kak free diving. Sayang Aku nggak berani... Beraninya hanya snorkeling saja itupun dipinggiran. Ah jadi pengen main ke laut lagi..

    BalasHapus
  16. Seru banget pasti belajar diving seperti ini. Aku juga mau asal ada instrukturnya. Jadi bisa lebih menikmati keindahan bawah laut dan tentunya menambah skill baru.

    BalasHapus
  17. jadi gagal fokus nih sama nama pulaunya; pulau kelor. Kok bisa dinamakan seperti itu, Mba? apakah karena di pulau itu banyak pohon kelornya? soalnya di daerahku, kelor itu jadi sayur andalan masyarakat

    BalasHapus
  18. Nyesel dulu pas pelajaran olahraga renang suka kabur dan cuma milih bayar doang. Padahal kalau bisa, bakal menarik bisa diving ke bawah laut dan menikmati keindahan alam bawah laut yang semua orang nggak bisa melakukannya.

    BalasHapus
  19. Foto-fotonya bikin kangen sailing Komodo. Terakhir ke sana 2019. Super wow dapat pengalaman menjelajah pulau-pulau di sana, karena sangat indah dan incaran banget buat kegiatan di air kayak berenang, snorkeling, diving.

    AKu suka free diving. Menyelam (tidak dalam) rasanya lebih bebas karena tanpa alat. Aku kurang pandai memakai alat bantu nafas. Selalu kayak ada rasa mau muntah :D
    Kalau misal cuma menyelam sampai kedalaman 3- 4 meter saja, aku lebih suka ga pakai alat bantu.

    BalasHapus
  20. Huuuuu Aku pengin banget bisa free diving, dapat licence gitu daripada scuba diving. Menyelami dalamnya laut, keajaiban di balik mistreri yang hitam, gelap Tapi tapi tapi tenang pun aku gabisa yaampun.

    BalasHapus
  21. Seru banget kayaknya kalau bisa free diving, bisa melihat keindahan laut langsung dari tempatnya. Tapi.... masalah yang kuhadapi adalah aku gak bisa berenang, haha. Aku dulu pernah snorkeling di salah satu pantai di daerahku dengan pelampung, sepertinya aku pun kalau sailing Komodo cuma bisa sebatas itu. Tapi pengen banget rasanya nyoba free diving, harus belajar berenang dulu lah ya

    BalasHapus
  22. Ini kayanya enak banget. Gunung, laut, alam bebas dan bepergian kemana saja sebelum pandemi menyerang. Sekarang semuanya jadi susah. Rindu jalan-jalan kemanapun tanpa harus colok-colok hidung :(

    BalasHapus
  23. Apalah daya bagi aku yang ngga bisa renang. Pengen bangettttt diving dari dulu, tapi kalau disuruh latihan renang, berasa langsung beku di air. Hahaha.

    Sering oadahal, sepupuku ajak aku untuk diving. Karena dia sering traveling jd tahu lokasi-lokasi apik untuk diving. Tapi ya itu tadi hiks..

    BalasHapus