Ke Manado, Mengunjungi Wisata Alam Sampai Wisata "Ekstrem"


Tanggal 21 Maret 2021 adalah tepat satu tahun ayahku tersayang, tercinta, inspirasiku sepanjang masa kembali ke pangkuan Sang Penciptanya. Bagaimana rasanya setelah setahun ditinggal pergi? Rasanya seperti Voldemort yang kehilangan salah satu horcrux-nya. Seperti ada yang kosong di dalam diri ini, merasa merindukan sosok yang sudah tidak mungkin lagi ditemui entah sampai kapan.

Tapi tenang, tulisan ini tidak akan mengandung bawang merah atau bawang bombay yang bikin mata berair. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mengenang hal-hal yang membahagiakan saat Bapak masih berada di tengah-tengah keluarga kami.

Salah satu momen yang selalu menyenangkan untuk dikenang adalah momen saat Bapak mengajak keluarga kami bepergian atau travelling. Sejak aku dan adikku masih kanak-kanak, Bapak selalu mengajak kami bepergian mengunjungi tempat-tempat baru. Baik itu tempat wisata maupun kulineran. 


Terkadang Bapak rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk makan siang misalnya, atau saat kami tinggal di Cilegon, Banten, dulu, Bapak mengajak kami sekeluarga menyebrang menggunakan kapal ferry ke Bakaheuni, Lampung kemudian kembali lagi ke Pelabuhan Merak. Biar pernah, ucap beliau. Hehe.

Dalam tulisan kali ini, aku ingin menceritakan perjalanan liburan keluarga yang menurutku sangat berkesan sebab ini adalah kali pertamanya Bapak mengajak kami terbang ke pulau Sulawesi dan liburan tersebut juga menjadi liburan keluarga kami (full team) untuk yang terakhir kalinya.

Pada bulan Agustus tahun 2015 silam, setelah menghadiri acara pernikahan kerabat di Jakarta, Bapak membawa kami sekeluarga liburan panjang. Saat itu, destinasi kami ada dua yaitu Manado dan Makassar. Bapak mengajak kami ke Sulawesi sebab belum ada satu pun dari keluarga kami kecuali beliau yang sudah menapaki tanah Celebes. Manado dan Makassar dipilih sebab kedua kota tersebut merupakan kota besar yang tersohor dari pulau Sulawesi.

Dari Jakarta, aku, ayah, ibu serta adik-adikku berangkat ke Manado. Seingatku, kami tiba di Bandar Udara Sam Ratulangi International Airport, Manado, saat hari sudah gelap. Kami kemudian singgah di hotel untuk menaruh barang sebelum pergi mencari makan malam.

Saat itu, kami sekeluarga menginap di Lion Hotel & Plaza, Manado. Hotel ini dipilih karena letaknya yang dekat dengan pantai dan tidak jauh dari pusat kota. Setelah itu, kami makan malam di salah satu rumah makan seafood yang aku lupa namanya. Hehe, udah lawas sekali ya hampir 6 tahun yang lalu. Akan tetapi, yang aku ingat adalah rumah makan tersebut menyajikan ikan-ikan segar dan itu adalah pertama kalinya aku mencoba yang namanya sambal dabu-dabu. Meskipun udah "jutaan" tahun yang lalu, masih terbayang tuh segarnya sambal dabu-dabu pada waktu itu.

hotel wisata manado
Lion Hotel & Plaza, Manado (agoda.com)

Setelah menghabiskan santapan makan malam kami, aku beserta keluarga diajak berkeliling kota Manado oleh driver yang sudah disewa untuk selama perjalanan kami di Manado. Kota Manado ini tidak sebesar kota-kota yang ada di pulau Jawa. Kalau dilihat dari peta saja, Sulawesi Utara itu terlihat "tipis" dibandingkan dengan propinsi lain di Sulawesi. Kota Manado ini terletak di dekat pantai, sehingga ya dikit-dikit ketemu laut. Tidak jauh dari Manado, kita bisa menyebrang ke Pulau Bunaken yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya.

Keesokan harinya, baru kami sekeluarga memulai petualangan kami menjelajah tempat-tempat wisata yang ada di Manado dan daerah lain di propinsi Sulawesi Utara.

wisata manado
Peta Propinsi Sulawesi Utara (pinterest.id)

Taman Laut Bunaken

Sebagai pecinta pantai dan laut, nggak lengkap rasanya kalau sudah jauh-jauh ke Manado tapi nggak mencicipi berenang di Pulau Bunaken. Beruntungnya, ayahku memang menjadwalkan hari pertama kami di Manado untuk pergi menyebrang ke Pulau Bunaken. Alhamdulillah, salah satu travelling wish list bisa tercoret!

Dari sebuah pelabuhan di kota Manado, ayahku menyewa speed boat untuk menyebrang ke Pulau Bunaken. Perjalanan kami untuk sampai ke Pulau Bunaken sekitar 45 menit atau lebih waktu itu. Di sepanjang perjalanan, ombak tampak tenang dan cuaca pun cerah ceria. Saat sudah memasuki kawasan Taman Laut Bunaken, dari dalam kapal kami bisa melihat ke dalam air menggunakan kaca yang ada di bagian bawah kapal. Jadi tuh lantai kapalnya bisa dibuka untuk melihat pemandangan laut di bawahnya.

wisata ke bunaken manado
Foto kenangan Mama dan Bapak

Melihat pemandangan bawah air di sana bikin semakin gemas ingin cepat-cepat nyebur! Semakin mendekati bibir pantai di Pulau Bunaken, warna air laut tampak semakin crystal clear dan terumbu karang serta hewan-hewan laut semisal ikan atau bintang laut pun terlihat jelas. Masha Allah, sudah bertahun berlalu masih begitu jelas ingatan tentang Pulau Bunaken.

Sesampainya di Pulau Bunaken, sebenarnya aku membayangkan pemandangan layaknya di Pulau Dewata, banyak turis dan arsitekturnya rapi serta banyak tempat-tempat makan atau wisata lainnya. Tapi ternyata beda jauh, guys! Hehe. 

Di tahun 2015 lalu, suasana di pantai Bunaken tidak seberapa ramai malah cenderung sepi. Mungkin karena kami saat itu pergi bukan di hari akhir pekan. Kemudian, banyak terdapat persewaan baju renang dan sepatu katak untuk snorkeling, juga banyak yang menyewakan kamera bawah laut. Belom ada Go-Pro kayak sekarang, dulu tuh!

Di samping itu, banyak toilet umum untuk wisatawan berganti pakaian dan bilas setelah main air di laut. Banyak juga anjing liar yang berkeliaran di jalanan atau suka mengikuti wisatawan, duh yang diinget pas diikutin anjingnya!

Tanpa pikir panjang, kami sekeluarga pun menghabiskan siang hari yang terik untuk berenang dan snorkeling di sekitar Taman Laut Bunaken. Masing-masing dari aku dan adik-adikku juga sempat berfoto dipinggir palung laut.

wisata manado sulawesi utara
Bungsu berfoto di samping palung laut


Danau Linow

Next nih ya, panjang banget kalau ngomongin snorkeling di Bunaken nggak ada selesai-selesainya. Berasa baru kemarin aja ke sananya. Hehe. Tempat wisata berikutnya yang aku kunjungi bersama keluarga adalah Danau Linow yang terletak di kota Tomohon. Perjalanan dari kota Manado menuju objek wisata tersebut sekitar satu jam kurang lebih.

danau wisata manado
Indahnya Danau Linow saat hari cerah (gocelebes.com)

Apa istimewanya Danau Linow? Danau ini merupakan danau vulkanik yang warna airnya kerap berubah-ubah mulai dari merah, hijau tua (toska atau zamrud) hingga biru gelap. Saat tiba di sana, memang tercium aroma belerang yang khas. Pada waktu itu, air di Danau Linow tampak berwarna hijau toska dan hujan turun dengan cukup lebat.

Aku dan keluargaku hanya bisa menikmati pemandangan di Danau Linow dari dalam kafe yang terletak di sana. Sembari menyeruput teh hangat, memandangi hujan turun ke permukaan danau ditemani cuaca yang dingin, adalah cara yang sempurna untuk melepas penat.

wisata manado sulut
Menikmati hujan di pinggir Danau Linow

Pasar "Ekstrem"

Selain Danau Linow dan festival bunga Tomohon, hal menarik lain dari kota kecil di Minahasa ini adalah Pasar Beriman. Berbeda dengan kebanyakan pasar pada umumnya, Pasar Beriman di Tomohon ini lebih terkenal dengan sebutan Pasar Ekstrem. Alasannya? Di dalam pasar ini, teman-teman bisa menemukan banyak hewan tak lazim seperti anjing, kelelawar, tikus, babi hutan, kucing bahkan ular yang dipajang layaknya teman-teman menemukan daging sapi atau ayam di pasar.

Semerbak aroma menyengat sudah sangat terasa sesaat setelah aku keluar dari dalam mobil. Maap-maap nih, gue orangnya jijikan banget kan yaa, keluar mobil auto tutup hidung dan tahan nafas. Abis itu di"marahin" sama babeh, "Gak usah gaya-gayaan." Hehe. Aku pun memberanikan diri untuk ikut masuk ke dalam pasar bersama keluargaku.

Memasuki pasar, bahkan belum masuk ke dalam pasar aja teman-teman bisa melihat kucing-kucing hutan yang sudah dipanggang dijejer untuk dijual. Semakin jauh masuk ke dalam, semakin unik hewan-hewan yang ditemukan. Ter-ekstrem adalah saat aku melihat ular piton sebesar pohon sedang digantung-gantung dan dagingnya dijajakan pada pembeli. Bahkan aku dan adik-adikku sempat berfoto loh, tapi nggak usah di-share di blog lah ya, dari pada pembaca pada kabur. Hehe.

Driver yang mengantar kami bercerita kalau hewan-hewan ini biasanya dimasak untuk keperluan acara-acara adat Minahasa, atau didistribusikan ke tempat-tempat makan. Ada sebuah ungkapan yang menurutku cukup lucu yang disebut menggambarkan masyarakat Minahasa :

Semua yang bisa terbang asal bukan pesawat, semua yang melata asal bukan kereta api, bisa dimakan oleh orang Minahasa.

Duh, ada-ada saja!

Makam Pahlawan Tuanku Imam Bonjol

Saat mengajak kami jalan-jalan, Bapak memang sudah menyampaikan sejak awal kalau kami akan diajak berwisata dengan tema "Wisata Alam, Wisata Budaya dan Wisata Sejarah". Setelah tadi sudah bercerita tentang wisata alam dan wisata budaya yang diwakili oleh Pasar Ekstrem, Bapak memilih untuk berziarah ke makam pahlawan yaitu Tuanku Imam Bonjol sebagai wisata sejarah kami di Sulawesi Utara.

Tuanku Imam Bonjol merupakan pahlawan nasional yang berasal dari Sumatera Barat dan meninggal pada tahun 1854 dalam pengasingannya di Minahasa. Beliau kemudian dimakamkan di Desa Lotta, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Dari kota Manado sekitar setengah jam saja kalau tidak salah.

Ada beberapa foto yang sempat diambil selama kami berada di sana, namun keberadaannya entah ke mana. Mungkin di ponsel-ku yang sudah dilungsurkan untuk adikku atau di ponsel ibuku? Beberapa hal yang aku ingat mengenai makam Tuanku Imam Bonjol adalah bentuknya yang menyerupai rumah gadang. Hal ini sudah pasti sebab beliau berasal dari Sumatera Barat.

wisata sejarah manado
Area makam Tuanku Imam Bonjol (wikipedia.id)

Sebelum masuk ke dalam rumah gadang tempat Tuanku Imam Bonjol dimakamkan, wisatawan akan disuguhkan dengan pemandangan taman yang asri dan terawat. Bangunan yang menyerupai rumah gadang tersebut tampak menonjol dari arah taman sebab catnya yang berwarna putih.

Area sekitar makam Tuanku Imam Bonjol diberi rantai pembatas, pada sisi-sisi dindingnya terdapat lukisan-lukisan yang menggambarkan perjuangan beliau semasa hidup.

Tempat Wisata Lainnya

Selain tempat-tempat wisata yang sudah aku ceritakan di atas, masih banyak sebenarnya tempat wisata yang kami kunjungi selama di Sulawesi Utara. Kunjungan kami ke sana kalau tidak salah 4 hari 3 malam sebelum kami lanjut bertolak ke Makassar.

Tempat wisata lain yang kami kunjungi antara lain adalah Pagoda Ekayana di kota Tomohon, Danau Tondano yang merupakan danau terluas di Sulawesi Utara, Bukit Kasih yang terletak di Desa Kanonang, serta sempat mampir untuk berfoto di Rio de Janeiro versi Indonesia alias Patung Yesus Memberkati di Manado. Bakal panjang banget kalau diceritakan semua di sini. Hehe.

Pengalaman ini juga pernah aku ceritakan di podcast bersama Coffee and Pie dalam episode "Pengalaman Traveling Dalam Negeri Paling Berkesan".

Pengalaman berwisata ke Sulawesi Utara ini tentu saja menjadi pengalaman yang akan selalu terkenang dan tentu saja akan aku ceritakan pada anakku kelak. Meskipun Bapak sudah tidak mungkin lagi mengajak kami bepergian dan travelling seperti ini, namun kenangan dan pengalaman menyenangkan yang beliau tinggalkan tidak akan terlupa.

Saat aku sudah lebih mandiri dan pergi travelling tanpa keluargaku pun, aku akan selalu teringat Bapak. Betapa beliau akan senang jika pergi ke sana, makanan apa yang akan dipilih oleh beliau dan tempat-tempat seperti apa yang akan beliau kunjungi.

Dad, you will always be with me wherever I go.

Sukabumi, 21 Maret 2021

Posting Komentar

37 Komentar

  1. Cantiknya, Manado. Salah satu wishlist wisata dalam negeri saya adalah ke Pulau Bunaken. Pengen banget menikmati snorkeling di Taman Laut Bunaken. Semoga bisa kesampaian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin semangat Mba Alfa. Semoga suatu hari bisa ke sana bareng orang2 tercinta..

      Hapus
  2. Pasar Beriman di Tomohon ini jadi viral sejak tahun lalu munculnya covid-19. Konon di negara asal virus ini muncul kan berasal dari hewan ekstrem gitu. Maka ikut viral lah pasar Beriman ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa betul bangeet. Waktu ada berita ttg pasar di wuhan itu saya lgsg ingat pasar ekstrem ini deh

      Hapus
  3. Semua yang bisa terbang asal bukan pesawat, semua yang melata asal bukan kereta api, bisa dimakan oleh orang Minahasa. >>>> Luar biasa. Apakah hewan-hewan tersebut dimakan untuk keperluan pengbatan penyakit tertentu, Mbak Ima? Terima kasih telah berbagi. Selamat sore.Doa sehat untukmu selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sore, Nek. Kalau yg saya dengar memang hewan2 tsb biasa dikonsumsi penduduk. Bisa untuk makanan sehari2, utk rumah makan atau acara adat. Aamiin. Terima kasih doa baiknyaa

      Hapus
  4. Belum pernah euy ke Manado..konon wisata bawah lautnya pemandangnnya bagus2 ya mbak duh semoga bisa segera traveling kesana

    BalasHapus
  5. Senangnya ya mbak bisa liburan bareng keluarga. Manado terkenal dengan wisata pantainya ya, salah satunya Bunaken ini. Semoga ada kesempatan juga bisa berkunjung ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bunaken ini daya tarik utama wisatawan kalo ke manado deh. Jangan sampai kelewatan..

      Hapus
  6. Pasar Ekstrem seekstrem namanya. Aku kuat nggak ya ke sana. Beneran wisata uji nyali yak. Tempat2 lain juga sangat menarik nih di manado. Wajib banget berarti kunjungan ke spot2 tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru yaa. Saya juga nggak mengira Manado semenarik ini ternyata. Beautiful destination deh..

      Hapus
  7. Selalu banyak kenangan manis bersama bapak yaa... Aku jadi ingat jaman kecil sering diajak touring naik motor berdua bapak, ke berbagai kota yang ada di sekitar Semarang. Bahkan pernah Semarang-Surabaya naik motor berdua. Kangen banget dengan mendiang bapak nih jadinya.

    Kebayang suasana di berbagai tempat di Manado yang indah itu deh. Duuuh mupeng pengin ke Bunaken juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhu iya Mbak Uniek. Kita sama2 mendoakan Bapak kita yaa..

      Betul, seru banget wisata ke sana loh ternyata

      Hapus
  8. Wah, seru banget sih mba jalan-jalan dan snorkling.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe udah lama nih, jadi kangen juga pengen traveling jaujauuhh

      Hapus
  9. "Wisata Alam, Wisata Budaya dan Wisata Sejarah" semuanyaaa ada di Manado ya Mba
    aku satu kali ke sono, dan blum puas eksplorasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaa semoga suatu hari bisa menuntaskan eksplorasinya ya di sana..

      Hapus
  10. Wah.. saya baru tau ada pasar ekstrem di Indonesia. Makasih, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama sama mbaak. Terima kasih sudah mampir ya..

      Hapus
  11. Iih Mbak Ima nggak ajak-ajak ke Bunaken. Aku mau juga dong ke Bunaken.. Siapa tahu kan bisa ketemu Nemo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak nemo di sana mbal rani. Duh, ke manado waktu jaman aku dan kamu masih bukan siapa2 😂

      Hapus
  12. Aah...jadi ingat Bapakku juga niih...tulisan kak Ima.
    Ini yang membuata anak terkenang dan bahagia bila bersama seorang Bapak. Karena jika memiliki Bapak itu selalu ada hari esok yang lebih cerah dan mimpi yang dirajut bersama.

    Btw, Bapakku pernah dinas di Indonesia Timur.
    Dan kisah perjalanan wisata selama di Manado ini, persiiis banget sama cerita Ibu. Bersyukur ketika orang Muslim berjalan di sepanjang tempat kuliner, warga asli selalu mengingatkan makanan halal dan haram, sehingga gak terjebak ketika mencoba kuliner khas Manado.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mbak lenchiin, orang Manado kelihatannya garang2 padahal baik2 banget ya ampuun 😭

      Hapus
  13. Jadi serasa dibawa jalan-jalan juga nih baca blognya mbak, kebetulan aku belum pernah ke Manado. Ohiya, ngebayangin pasar beriman lumayan ngeri juga ya.. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, memorable bukan karena bagus dan indahnya tapi karena ngerinya itu mbak..

      Hapus
  14. Oh ya ampun indah banget pemandangannya 😍 Belum kesampaian ke Manado. Baru sekadar mencicip makanannya. Padahal keluarga saya ada campuran Manadonya dikit. Wwkwkwk. Bunaken dari dulu pengeeeeen banget ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa ke sana kapan2 ya mbak nieke. Pasti mau balik lagi deh. Hehe..

      Hapus
  15. ahh mbak ima, jadi pengen peluk...
    kenangan bersama bapak itu akan selalu manis dan tak terlupakan ya mbak
    makanya bisa selalu kita ingat, btw aku jadi makin pengen ke bunaken nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak dk. Banyak banget hal2 manis bersama Bapak dulu.

      Ayok mbak dk, semoga ada yang sponsorin ke sana ya! Haha

      Hapus
  16. perjalanan itu pasti meninggalkan kenangan ya Mbak. banyak sekali tempat bagus di manado, foto di bawah airnya menarik sekali dengan palung laut itu. bagaimana dg keadaannya skrg ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh entahlah mbaa, zuzur saya takut sebetulnya foto di samping palung laut itu. Soalnya airnya dalaaam banget sampe gelap kalo liat ke bawah. Hiiy..

      Hapus
  17. Aku belum ke Manado
    Ada teman di sana
    Selalu ngajak
    Semoga suatu saat bisa kesana sama anak-anak
    Setidaknya memberikan kenangan terbaik saat jalan jalan

    BalasHapus
  18. Wow indah sekali wisata manadonya kak, aku selalu tertarik wisata bawah air gini. Beneran menikmati banget nggak perduli muka gosong habis snorkeling gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk iya mbaa gosong bisa balik lagi, kalo ke bunaken entah kapan balik laginya ye kan..

      Hapus
  19. seru juga liburan kesini.. jadi pengen

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉

Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍