Rabu, 20 Mei 2020

Siang Tidak Mau Tidur, Malam Susah Tidur


Memasuki usia 18 bulan atau 1.5 tahun, anakku menjadi semakin aktif dan tidak mau diamnya makin menjadi-jadi. Berantakin mainan dimana-mana, manjat sana sini, lari-larian di dalam rumah yang terkadang gak lihat depan belakang kanan kiri gas terus! Jangan heran kalau tiba2 menangis karena nyosor lantai atau mencium tembok.

Memang fitrahnya di usia segitu anak sedang aktif-aktifnya. Sedang memasuki puncak periode sensitifitas terhadap gerak menurut metode Montessori. Tapi, yang bikin gemas adalah ketika dia menolak tidur siang padahal mata sudah 5 Watt. Maunya tetap bermain dengan kondisi oleng kesana kemari.

Kalau sudah begini, jam tidurnya akan menjadi kacau. Waktunya makan tidak fokus karena sibuk kisik-kisik mata, menguap berkali-kali dan berujung mengemut makanannya di dalam mulut. Dibawa ke kamar, anaknya auto kabur keluar dan kembali ke box mainannya. Heheu.


Ujungnya dia akan tertidur di sore hari. Ini sih yang gawat karena pasti begadang malam harinya. Terkadang, aku terlelap lebih dulu di malam hari sementara dia masih sibuk ngoceh-ngoceh tidak karuan. Kadang ia menangis karena tidak diijinkan bermain di luar kamar oleh ayahnya. Yaiyalah, malam waktunya tidur bukan lagi bermain.

Setelah aku observasi, penyebab dia susah tidur siang dan tidur terlalu larut di malam hari antara lain sebagai berikut :

1. Bangun Terlalu Siang

Akhir-akhir ini, anakku sering terbangun saat ayah dan ibunya makan sahur. Awalnya hanya minta ASI, kalau beruntung dia akan kembali terlelap tapi ketika mendengar suara piring dan sendok ayahnya kelontangan maka matanya akan langsung terbuka lebar.

Setelah menjadi tim hore dalam acara sahur, biasanya ia akan tidur lagi setelah subuh sekitar jam 5 atau setengah 6 pagi. Ini nih yang menjadi sumber masalah, ia akan bangun kembali sekitar jam 9 atau setengah sepuluh. Nggak mungkin dong jam 12 atau 1 siang sudah tidur lagi, ya kan? Durasi ia bangun akan tetap sekitar 7-8 jam hanya saja di jam yang berbeda dari biasanya.

Kalau begini, menyiasatinya adalah dengan tidak memberikan ASI ketika ia meminta di pagi hari supaya langsung bangun dan tidak tidur lagi sampai siang. Tapi ini ada konsekuensinya, waktu tidurnya yang belum cukup bisa membuatnya cranky seharian. Bagaimana ini ibu-ibu?

2. Tidur Siang Terlalu Sore

Ini adalah akibat dari penyebab nomor 1. Bangun yang terlalu siang menyebabkan aktifitas anakku dimulai lebih siang juga seperti sarapan, ngemil, minum susu, main dan lainnya. Pergeseran waktu ini berdampak pada tidur siang yang seharusnya dilakukan di siang hari berpindah jadi sore hari.

Memang anakku suka sekali menahan kantuk untuk tetap bermain dengan mainannya atau lari-larian di dalam rumah, tapi kalau sudah ngantuk dan capek banget ya pasti tidur ujung-ujungnya.

Aku pernah mencoba menyiasatinya dengan menahan agar ia tidak tidur di sore hari. Mengajaknya tetap beraktifitas dan menghindari sesi pemberian ASI, yang terjadi adalah anakku tetap tertidur bahkan pada saat makan camilan. LOL!


3. Tidur Siang/Sore Terlalu Lama

Idealnya, anakku tidur siang selama 1-2 jam. Ini tidak akan terlalu berpengaruh pada jam tidur malamnya, misalnya ia tidur jam 1 siang dan bangun jam setengah 3 sore. Malam harinya sekitar jam 9 malam ia sudah bisa kembali tidur.

Lain cerita kalau tidur siang atau sore lebih dari 2 jam. Beberapa kali anakku tidur hingga 3-3.5 jam sehingga bangun kesorean. Akibatnya, begadang lah dia kadang sampai jam 11 atau setengah 12.

Kalau sudah begitu, malam hari akan kuserahkan pada ayahnya karena aku pasti akan sangat mengantuk dan memilih untuk tidur duluan. Kasihan juga sih suamiku, sudah capek pulang kerja tapi masih harus menemani anakku hingga tertidur.

Terkadang, kami berdua tidur duluan dan anakku masih sibuk main sendiri. Harapannya agar dia segera merasa bosan dan ikut tidur bersama orangtuanya, kadang cara ini berhasil namun kadang dia akan tetap bermain hingga cranky karena tau tidak ada teman.

4. Ingin Bermain Lebih Lama Bersama Ayahnya

Ini juga menjadi salah satu faktor anakku begadang, apalagi kalau ayahnya harus bekerja sampai malam. Sering sekali saat ia sudah bersiap tidur lalu mendengar suara kendaraan ayahnya memasuki garasi rumah, bye bye kamar dan kasur. Ia akan segera bersemangat menghampiri pintu dan memintaku membukakan pintu untuk ayahnya tercinta.

Ya anakku memang begitu dekat dengan ayahnya. Sampai-sampai saat ayahnya datang ke Jogja pada waktu aku dan suamiku harus menjalani LDM, anakku teruus membuntuti ayahnya bahkan menangisinya saat suamiku pergi ke kamar mandi. Haha.

Sesungguhnya tulisan ini hanya berisi curhatan, tidak ada tips atau apapun. Aku menuliskannya karena ini permasalahan yang sedang kuhadapi saat ini. Huhu. Untuk mengatasi ini semua aku mencoba konsisten untuk menerapkan keteraturan untuk anakku, tapi karena banyaknya faktor X maka teori tidak semudah prakteknya.


Sekian, sampai jumpa di tulisan yang lebih berfaedah lainnya! Hehe.

Sukabumi, 20 Mei 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar