Pilih Mana : High Chair atau Booster Seat

By Imawati A. Wardhani - Januari 13, 2020


Saat ide menulis sedang tumpul, seorang sahabat meminta pendapatku apakah sebaiknya ia membeli booster seat atau high chair untuk bayinya yang sebentar lagi memasuki masa MPASI. Wah! Langsung terpikir untuk membahas ini karena aku pernah menggunakan keduanya. Hehe.. Inspirasi memang bisa datang dari mana pun ya?!

Salah satu kado lahiran yang kuterima dari sahabat-sahabatku adalah booster seat. For Your Information (FYI), booster seat ini merupakan kursi yang biasa digunakan bayi untuk duduk saat makan dan biasa diletakkan dilantai atau bisa juga ditempatkan diatas dudukan kursi. Senang sekali mendapat kado itu, aku sudah membayangkan anakku akan duduk manis sambil menikmati makanannya diatas kursi tersebut.

Beberapa hari sebelum MPASI, aku mencoba mendudukan anakku diatas booster seat. Awalnya dia tampak tenang, namun lama-lama oleng miring-miring hingga akhirnya menangis karena merasa tidak nyaman. Memang saat itu ia masih dalam proses belajar duduk mandiri, sehingga kontrol dirinya saat posisi duduk belum sempurna. Tak apalah, aku berharap saat mulai makan ia mau duduk dikursi itu tanpa menangis. Memang sejak awal aku berniat untuk mengajarkan makan sambil duduk pada anakku, agar ia terbiasa dan tidak makan sambil jalan-jalan atau main kesana-kemari. Selain mencoba menerapkan teori, malas juga rasanya ngejar anak kesana-kemari sambil menyuapinya.

Kenyataannya beberapa kali ku dudukan dibooster seat saat waktu makan tiba, anakku seperti tidak nyaman dengan posisi duduknya. Mulanya ku ganjal bantal, menangis. Kursinya ku letakkan dilantai, menangis. Lalu kucoba meletakkan kursinya diatas kursi makan dewasa, oleng hingga hampir terjatuh. Haduuh, kayaknya failed deh pake ini kursi! Pikirku saat itu dan memilih mendudukan anakku distrollernya saat ia makan.

Suatu ketika aku dan suami pergi ke sebuah rumah makan dan mendudukkan anak kami dihigh chair yang disediakan oleh rumah makan tersebut. Amazingly, si bocah duduk anteng disitu dan makan dengan tenang. Aku dan suami langsung mengambil kesimpulan bahwa anak kami lebih cocok duduk dihigh chair daripada dibooster seat, sampai terpikir untuk membeli high chair, tapi niat tersebut kami urungkan karena merasa boros dan masih berharap anak kami suatu saat mau duduk dibooster seatnya. Saat aku mudik ke Jogja, aku menyewa high chair untuk dipakai anakku makan disana agar ia bisa belajar makan sungguhan tanpa harus duduk distroller lagi. Hari-hari pertama makan menggunakan high chair berjalan dengan mulus, namun beberapa minggu kemudian saat usianya menginjak 10 bulan ia mulai tidak bisa diam, tidak betah saat dipakaikan sabuk dan sibuk memanjat hingga berdiri diatas high chairnya. Meleng dikit bisa jadi bahaya yang serius! Akhirnya, balik lagi deh makan distroller.

Sekembalinya dari Jogja, aku kembali menggunakan booster seat untuk anakku duduk saat makan. Ternyata, ia sudah terlihat lebih nyaman duduk disana. Semakin hari, terlihat kebiasaan makan sambil duduk 'dikursinya' mulai terbentuk. Mulanya ia mulai mencoba untuk duduk dikursinya sendiri, pada awalnya sering (hampir) jatuh hingga akhirnya ia mahir duduk sendiri dibooster seatnya. Saat mulai berjalan dan sudah bisa mengikuti instruksi, ia akan menurut ketika aku memintanya untuk duduk dikursi karena waktu makan telah tiba. Yes! Dia berjalan menuju kursinya dan duduk sendiri, mencoba memakai sabuk pengamannya. Wah! Bermanfaat sekali ini booster seat, jadi tidak menyesal tidak menyerah mengajarkan anak makan dikursinya.

Mana yang lebih cocok ya?
Jadi, dari pengalamanku diatas kira-kira beginilah poin-poin perbandingan positif dan negatif menggunakan High Chair dan Booster Seat :

High Chair
Poin Positif :
1. Kaki kursinya yang tinggi membuat si kecil bisa ikut belajar makan bersama keluarga dimeja makan.
2. Menurut berbagai sumber, menggunakan bahan yang cukup kokoh sehingga jangka waktu penggunaan lebih lama.
3. Memiliki tray/meja yang lebar.
4. Beberapa merk memiliki safety belt berupa pengaman badan dan pinggang sehingga lebih aman untuk bayi.
5. Beberapa merk memiliki dudukan yang nyaman untuk digunakan bayi yang baru belajar duduk.

Poin Negatif :
1. Ukurannya besar dan berat sehingga tidak mudah dibawa kemana-mana.
2. Bayi harus digendong untuk bisa duduk diatas high chair.
3. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merakit high chair dan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi (lebih ribet) saat memasang kaki-kaki high chair dengan sempurna. Ya, harus perfect masangnya supaya aman saat digunakan.
4. Memakan tempat/ruang yang cukup banyak, tidak cocok untuk rumah dengan ruang yang sempit.
5. Menurutku lebih berbahaya saat anak sudah tidak bisa diam karena khawatir jatuh dari kursinya dengan ketinggian yang sedemikian rupa sehingga anak harus selalu dipasangi safety belt dan tidak boleh luput dari pengawasan orang tua.
6. Harganya relatif lebih mahal (dari booster seat).

Booster Seat
Poin Positif :
1. Mudah dilipat dan dibawa kemana-mana.
2. Bisa diletakkan dilantai, bisa juga diletakkan diatas kursi dewasa untuk mengajarkan anak makan bersama dimeja makan.
3. Ukurannya relatif kecil sehingga tidak memakan banyak ruang/tempat.
4. Anak bisa duduk sendiri dibooster seat tanpa harus digendong.
5. Harga relatif lebih murah (dibandingkan dengan high chair)

Poin Negatif :
1. Ukuran meja relatif lebih kecil.
2. Pilihan modelnya terbatas.
3. Dudukan kursinya tidak begitu empuk dan sabuk pengaman hanya untuk perut dan kaki (badan tidak termasuk).
4. Bahan tidak sekokoh high chair.

Setelah dijabarkan seperti diatas, masing-masing memiliki poin plusnya tersendiri ya. Kalau aku pribadi lebih memilih menggunakan booster seat, karena area makan keluarga kami dirumah saat ini lesehan (belum punya meja makan. Haha!), selain itu ukuran ruangan yang tidak terlalu luas sehingga kalau pakai high chair pasti makin sempit, ditambah kemudahan booster seat untuk dibawa-bawa terutama saat mudik ke Bandung.

Ku rasa cukup untuk tulisan kali ini, semoga bisa membantu para orangtua dalam memilih kursi yang cocok untuk anak-anaknya makan. Terima kasih sudah membaca!

Sukabumi, 14 Januari 2020

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar