Tulisan ini terinspirasi saat beberapa kali aku mengikuti kelas menulis online. Pertama mengenai Self-Editing dan kedua yaitu workshop menulis dengan judul Creative Writing. Setelah mengikuti kedua kelas tersebut yang aku pikirkan adalah, "Waktu sekolah gue ngapain aja sih?"

Baca tentang : Mempelajari Self-Editing

Kembali mempelajari SPOK, imbuhan, jenis-jenis paragraf dan yang lain harusnya gampil untuk seseorang yang sudah mempelajari bahasa Indonesia sejak SD, SMP hingga SMA. 12 tahun loh belajar itu semua, namun saat workshop berlangsung aku masih saja loading dan masih harus berpikir keras ketika menulis apakah tata bahasaku ini benar? Haha.

Ceritanya, sebagai seorang yang ingin serius dalam dunia tulis menulis berniat memperdalam ilmu bahasa Indonesia supaya bisa menulis dengan lebih baik lagi. Karena tentunya mayoritas pembacaku adalah masyarakat Indonesia jadi aku harus bisa menulis menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar serta enak untuk dibaca.
Sebenarnya apa saja sih manfaat menggunakan bahasa Indonesia dalam tulisan dan pentingnya seorang penulis (termasuk blogger) untuk terus belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar?

1. Sopan Santun

Tidak hanya lisan yang harus mengedepankan sopan santun dalam berbahasa, menulis pun demikian. Tentunya kita ingin pembaca kita ikut merasakan emosi dari tulisan kita, ikut terbawa dan melihat diri kita sebagai seorang penulis. Coba bayangkan emosi apa yang didapat oleh pembaca apabila kita menggunakan bahasa yang kasar, tidak sopan dan terlalu vulgar?

Tentu pembaca akan mendapat pesan negatif dari tulisan kita, emosi tersebut akan sampai pada mereka sehingga mereka bisa menilai apakah tulisan kita layak untuk dilihat dengan mata pembaca yang terlalu berharga untuk membaca tulisan bernada negatif.

Selain itu, penggunaan bahasa yang tidak baik dan dapat menyinggung pihak-pihak tertentu atau menyangkut SARAT (Suku, Agama, Ras dan Anggota Tubuh) dapat menimbulkan kontroversi karena dianggap memprovokasi. Hadeehh, jauh-jauh deh dari model penulis macam begitu. Yuk kita hidup damai dengan memberi tulisan yang selalu positif.

2. Terbiasa Menggunakan Bahasa yang Baik dan Benar

Bisa karena biasa, peribahasa yang tepat untuk orang-orang yang terus belajar dan pantang menyerah. Bagi penulis yang masih baru (aku contohnya), susah sekali rasanya membiasakan diri untuk menggunakan tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ingin rasanya menulis seenak jidat tanpa memperhatikan EYD dan kaidah menulis yang baik.

Tapi karena ingin terus berkembang dan menghasilkan karya yang lebih baik, aku harus merubah kebiasaanku tersebut dan sedikit-sedikit mulai memperhatikan gaya bahasaku. Aku mulai memperhatikan bagaimana penggunaan kata 'pun', 'di-', pemakaian tanda koma, petik, dan tanda baca lainnya.

Jika dibandingkan dengan tulisanku tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya ketika aku masih suka menulis asal-asalan, terlihat sekali kalau tulisanku sekarang menurutku lebih enak dibaca. Salah satu alasannya adalah karena aku sudah menghindari menulis terlalu banyak kalimat dalam satu paragraf. Haha, ternyata begitu saja terasa efeknya loh!

3. Lebih Dihargai

Penulis yang menulis dengan kaidah bahasa yang baik serta paham betul bagaimana menulis kalimat akan menghasilkan tulisan yang mudah dipahami dan senantiasa menarik untuk dibaca oleh orang lain.

Orang-orang pasti akan lebih menaruh respect pada penulis yang menggunakan bahasa yang baik dan benar, meskipun tergolong santai. Penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan tentunya tidak selalu menggunakan kata-kata puitis yang njelimet dan membuat orang lain berpikir keras untuk menangkap maknanya. Ada penulis yang memilih menggunakan bahasa semi ataupun non-formal tapi masih sesuai kaidah yang baik dan benar.

Saat aku membaca tulisan salah satu mentor menulis dalam workshop kepenulisan kemarin, jujur aku merasa kagum sekaligus merasa diri ini begitu receh karena belum mampu menampilkan tulisan sebaik itu. Sampai-sampai setelah kelas selesai, saya menyempatkan diri untuk bertanya hal yang tidak penting, "Dulu waktu sekolah nilai bahasa Indonesianya bagus terus ya?".

Sangat mudah ditebak kalau ia menjawab nilai bahasa Indonesianya selalu sempurna. Kalau dalam buku Harry Potter nilainya selalu O alias Outstanding.

Mentor kelas menulis saat itu tidak hanya menulis berbahasa Indonesia, beliau juga telah menulis buku berbahasa Inggris dan menyatakan bahwa dirinya sometimes lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris. Tapi, bukan berarti melupakan bagaimana menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat menulis berbahasa Indonesia bukan?

4. Cerminan Diri Penulis

Bagi penulis, tentunya personal branding akan lebih mudah dilakukan melalui tulisan-tulisan yang dihasilkan. Bagaimana pembaca menilai sekilas mengenai seorang penulis tentu dari hasil karyanya.
Seperti poin 1 yang aku tulis di atas, pembaca secara tidak langsung akan ikut merasakan emosi dari tulisan yang mereka baca. Bagaimana kita menampilkan diri kita melalui tulisan juga akan terlihat oleh para pembaca dari tulisan kita. Apakah kita seorang yang jaim, kocak, berapi-api atau tidak percaya diri. Semua tersirat dan tersurat dari gaya bahasa yang kita pakai.

Tulisan dengan kata-kata, kalimat serta penggunaan tanda baca yang tepat membuat mata kita lebih mudah membaca tulisan dari pada tulisan yang tidak jelas bagaimana struktur kalimatnya. Kalau sudah begini, pembaca mungkin akan menilai bahwa kepribadian kita acak-acakan juga seperti tulisannya. Hehe, jangan sampai terjadi ya.

Keempat hal di atas merupakan alasan mengapa terus belajar untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai penulis Indonesia itu penting. Jadi, sebagai penulis dan calon-calon penulis jangan lupa untuk tidak malas belajar bahasa negara kita sendiri.

Sah-sah saja bila kita menulis menggunakan bahasa negara lain seperti Inggris, Jepang, Korea, China bahkan Rusia sekali pun. Tapi, alangkah baiknya sebagai warga negara Indonesia yang baik dan memiliki pembaca dari dalam negeri sendiri, kita juga mampu menyajikan tulisan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sekian pembahasanku kali ini. Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.

Sukabumi, 16 Mei 2020