Pentingnya Growth Mindset Bagi Perempuan di Era Digital

growth mindset cover

Konferensi Ibu Pembaharu sebagai puncak acara perayaan 1 dekade Ibu Profesional telah berakhir tanggal 22 Desember 2021 yang lalu. Meskipun demikian, sebagian besar member Ibu Profesional masih merasakan euforia-nya.

Gimana enggak? Selama 6 hari, kami disuguhkan dengan berbagai agenda konferensi bersama 14 narasumber wanita yang inspiratif. Tak lengkap rasanya, jika saya tidak menuliskan ilmu yang saya dapatkan dari pemateri di hari terakhir.

anna soemarmo google

Anna Soemarmo adalah narasumber yang hadir di hari keenam dalam perhelatan Konferensi Ibu Pembaharu. Beliau membawakan topik yang sangat relate dengan kehidupan perempuan di masa sekarang yakni "Perempuan di Era Digital".

Perempuan Identik dengan Gaptek

Dengan tingginya skala patriarki di Indonesia, perempuan di Indonesia diidentikan dengan aktivitas mbulet dapur-sumur-kasur. Perempuan dengan pendidikan tinggi dianggap percuma karena ujung-ujungnya hanya berkutat dengan 3 aktivitas tersebut.

Ngapain pinter-pinter, nanti laki-laki nggak ada yang mau? Ouch! Fakta menyakitkan ini masih sering kita jumpai bahkan di era digital 5.0 seperti sekarang ini.

Stigma ini sedikit banyak mempengaruhi kepercayaan diri para perempuan itu sendiri, sehingga mereka ikut merendahkan dirinya sendiri dengan kalimat negatif seperti,

"Saya mah apa atuh gaptek..."

atau

"Saya mah ibu rumah tangga doang, kurang update. Anak-anak zaman sekarang yang lebih canggih.."

Dengan demikian, stigma ini semakin menguat dan mengakar di negara kita.

Akan tetapi, seorang sosok wanita bernama Anna Soemarmo mampu menepis stigma tersebut. Beliau merupakan Head of Retail and Payments Activation for Google Play Southeast Asia and Australia. Hari gini kayaknya semua manusia tau yang namanya Google ya?

Pentingnya Menanamkan Growth Mindset

anna soemarmo dalam kip
Anna Soemarmo dalam Konferensi Ibu Pembaharu

Pencapaian yang diraih Anna di Google Inc. bukan terjadi secara instan. Menjadi seorang pemimpin wanita di perusahaan internasional adalah sebuah hasil dari perjalanan panjang. Menurut Anna, kunci dari pencapaiannya ini selain kerja keras dan kecerdasan adalah ketekunan dan cara berpikir yang terbuka dan berkembang.

Perseverance solved more problems than brilliance

Bekerja di perusahaan sekelas Google, pastinya memiliki tantangan yang berat. Terutama ketika Anna berada dalam lingkungan yang isinya orang-orang pintar dan terpilih dari seluruh belahan dunia. Bahkan beliau pun sempat merasa minder dengan rekan-rekannya yang notabene adalah bawahannya, merupakan lulusan Ph.D dari universitas terkemuka di dunia seperti Harvard.

Namun perasaan minder tersebut tidak menjadikan Anna rendah diri, justru menjadi semangatnya untuk terus tekun dan belajar dari lingkungannya. Anna percaya bahwa kepintaran belum tentu menjadikan seseorang bisa berpikir out of the box.

Kepintaran juga tidak menjamin seseorang bisa memiliki mimpi yang besar. Kepintaran tidak berarti seseorang menjadi pemimpin yang baik, memiliki komunikasi dan perilaku yang baik pula. Semua itu perlu ketekunan untuk terus belajar dan berkembang.

Lalu bagaimana agar seseorang memiliki ketekunan untuk terus maju dan mengembangkan dirinya? Jawabannya ada di dalam pikiran kita sendiri.

Everything begins inside your mind. With the right mindset you will succeed. With the right mindset, you can turn your weaknesses into your strengths.

Oleh karenanya, kita harus menyingkirkan jauh-jauh fixed mindset dan mencoba untuk menanamkan growth mindset dalam pikiran kita.

Fixed vs Growth Mindset

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai bagaimana cara menanamkan dan menerapkan growth mindset dalam pikiran kita, terlebih dulu tentu kita harus memahami apa yang dimaksud dengan fixed mindset dan growth mindset itu sendiri.

fixed vs growth mindset
Sumber gambar : freepik

Fixed Mindset

Diartikan sebagai pola pikir tetap. Mereka yang memiliki pola pikir seperti ini yakin bahwa kecerdasan dan bakat adalah suatu hal yang mutlak menentukan kesuksesan seseorang. Mereka tidak terlalu memikirkan faktor-faktor lain yang dapat membantu seseorang meraih kesuksesan.

"Dia mah emang dari sananya pinter, wajar lah cepet dapet kerja. Gue mah kuliah juga alhamdulillah lulus, dapet panggilan kerja ya gini deh, lama..."

Kira-kira gitu kali ya contohnya. Hehe. Pemilik fixed mindset akan selalu menjauhi sebuah resiko dalam permasalahan yang ia hadapi, ketika sudah berada di zona nyaman maka ia akan cenderung untuk menetap di dalamnya dan takut mencoba hal baru karena takut gagal.

Orang-orang dengan fixed mindset ini biasanya memandang sebuah masukan adalah kritik yang menjatuhkan, berpikir negatif terlebih dahulu tanpa bisa melihat sudut pandang positif dari suatu hal. Mereka juga selalu punya excuse ketika mendapati pilihan untuk mengambil sebuah tantangan.

Growth Mindset

Kebalikan dari fixed mindset, growth mindset diartikan sebagai pola pikir yang terus berkembang. Orang-orang dengan pemikiran ini akan berpendapat bahwa kecerdasan dan bakat itu hanyalah permulaan dan sebuah privilege.

Bagi orang-orang dengan pemikiran seperti ini, kesuksesan bukan berarti tidak dapat diraih jika mereka tidak memiliki bakat dan kecerdasan yang luar biasa. Kesuksesan dapat diraih dengan berbagai usaha dan upaya, salah satunya adalah dengan ketekunan yang diterapkan oleh Anna Soemarmo.

Ketika seseorang sudah menanamkan growth mindset dalam pikirannya, maka ia akan terus mencari jalan dan berusaha menemukan solusi dari permasalahan yang ia hadapi. Tidak mudah menyerah dan tidak putus asa ketika menemukan masalah yang tampak buntu.

Membangun Pola Pikir Genius Sejak Dini

growth mindset

Kedua pola pikir yang sudah dijelaskan di atas, terbentuk dari orang-orang terdekat yang berpengaruh dalam hidup seseorang dan juga lingkungan di sekitarnya. Kedua pola pikir ini sudah dapat ditanamkan bahkan sejak saat masih anak-anak.

Oleh sebabnya, para parents yang ingin anak-anaknya kelak memiliki pola pikir yang terus berkembang, brilliant bahkan genius, ada beberapa cara yang dapat diterapkan :

Model the Mindset of a Genius for Students

Mengajarkan anak untuk berpikir strategis. Jangan terpaku dengan hanya mengatakan tidak, tapi trigger mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang membawa mereka pada pemahaman mengapa hal tersebut tidak boleh dilakukan.

Emphasize the Process

Lihat dan apresiasi proses belajarnya, bukan hanya berpatokan pada hasil akhirnya.

Surround Them With Different Forms of Genius

Jenius bukan hanya terpaku pada matematika dan science, kenalkan anak-anak bahwa kemahiran seseorang bisa dari berbagai bidang seperti seni, olahraga dan lainnya.

Value Mistakes

Jangan menganggap kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak adalah hal yang memalukan. Ajak anak-anak berdiskusi untuk belajar dari kesalahannya agar mereka tidak melakukan kesalahan yang berulang.

Encourage Perseverance

Menanamkan pada anak-anak bahwa ketekunan adalah salah satu kunci kesuksesan selain faktor kecerdasan.

Genius is a Behavior

Menjadi jenius bukan hanya dilihat dari kepintarannya tapi tercermin juga dari perilakunya.

Embrace 'Weird'

Ajarkan pada anak bahwa it's okay to be different. Tidak apa-apa untuk mencoba suatu hal yang baru, mungkin yang belum pernah dilakukan oleh orang lain.

Risk Tolerance

Bantu anak-anak untuk berani ambil resiko.

PIVOT Framework

PIVOT Framework merupakan strategi yang umum digunakan di Google Inc. oleh para perempuan untuk membantu mereka menentukan langkah selanjutnya dari apa yang sudah direncanakan. Strategi ini sangat membantu para perempuan untuk terus berkembang.

Plant

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menilai apa saja kekuatan yang kita miliki, kemudian menentukan mana saja kekuatan yang sudah membawa kita pada titik kesuksesaan saat ini?

Scan

Di langkah kedua ini, kita melihat orang lain yang sudah melakukan hal yang ingin kita lakukan terlebih dahulu. Selanjutnya, minta mereka untuk menjadi mentor kita. Di tahapan ini juga kita juga sudah mulai mempelajari hal-hal yang ingin dikuasai untuk menunjang pencapaian kita selanjutnya.

Kemudian, kita juga sudah dapat menginisiasi sebuah project kecil.

Pilot

Pada tahapan ini, kita mentukan tujuan atau visi untuk satu tahun ke depan. Apa yang ingin kita capai dan amunisi apa yang sudah kita miliki, mulai dari networking, skills, values dan kekuatan.

Launch

Terakhir, setelah semua perencanaan kita matang maka tentukan timeline untuk diri sendiri. Manfaatkan sumber daya yang kita punya untuk mencapai tujuan akhir dan jangan lupa untuk mulai bergerak!

Growth Mindset dan Era Digital

Suka banget deh sama materi yang disampaikan oleh Anna Soemarmo. Beliau benar-benar menjadi role model sosok wanita yang nggak kudet, nggak gaptek dan mampu bersaing dengan banyak orang di seluruh dunia di era digital seperti saat ini.

Bahkan Bu Anna sendiri bukan hanya menguasai bahasa Indonesia, Inggris, Jepang dan Spanyol saja, tapi juga menguasai bahasa pemrograman seperti Phyton dan JavaScript. So cool!

Menurut saya, di zaman sekarang ini udah nggak musim lagi yang namanya perempuan gaptek. Dunia digital ini sebenarnya membuka kesempatan yang sangat luas bagi para perempuan jika ingin berkembang, berkarya dan berdaya di dalamnya.

Saya pribadi nggak mau sih kalau anak saya lebih up to date dari pada saya *mama ambiss wkwk. Maunya saya yang ngajarin anak saya soal masalah gadget, game, aplikasi dan lainnya gitu kan.

Jadi meskipun saya nggak yang canggih-canggih banget juga dalam mengikuti perkembangan dunia digital, minimal berusaha nggak males baca dan mau mencari tau bagaimana cara kerja dan mengerjakannya.

Semoga materi tentang pentingnya growth mindset bagi perempuan di era digital ini bermanfaat ya teman-teman. Semoga kita juga bisa menanamkan dan menerapkan pola pikir ini dalam kehidupan sehari-hari.

Yogyakarta, 30 Desember 2021

Posting Komentar

14 Komentar

  1. Inspiratif sekali Ibu Anna Soemarno ini..memang membangun growth mindset di era digital penting. Apalagi kini udah nggak musim lagi yang namanya perempuan gaptek.
    Kesempatan yang sangat luas terbuka bagi para perempuan jika ingin berkembang, berkarya dan berdaya di dunia digital

    BalasHapus
  2. Padat berisi sharinya Mbak :D. Beruntung banget bisa dengar langsung dari narasumbernya. Setuju banget ini mah. Malah menurut saya, perempuan itu mutlak harus punya growth mindset. Saya yang ibu rumah tangga pun mencoba terus mengembangkan diri. Bukan hanya untuk kepentingan saya, tapi juga untuk menjadi contoh buat anak-anak saya yang semuanya perempuan, kalau kita bisa lho tetap memenuhi kewajiban sambil mewujudkan mimpi pribadi.

    BalasHapus
  3. Bener banget nih stereotip perempuan gaptek sering banget diucapkan khususnya dari laki-laki..Jadiya emang perempuan yang harus upgrade soal apapun tentang teknologi ya

    BalasHapus
  4. Asyik, asyiiikk, dapat insight dan ilmu yg super berfaedah nih mba, makasiii makasiii, semoga kita bisa bangettt menerapkan ilmu yg dibagikan Ibu Anna Soemarno ya. Makin jaya di kancah digital utk perempuan Indonesia!

    BalasHapus
  5. Growth mindset memang harus diasah sejak dini ya agar kita sebagai manusia tidak berpikir tertutup dan bisa terbuka atau menerima segala kemungkinan baik sehingga lebih mudah berkembang.

    BalasHapus
  6. Saya lebih suka ketemu perempuan yang tanya "bagaimana caranya" dari[ada "ah eku enggak bisa" karena yang terakhir ini biasanya gak ada obat udah haha

    BalasHapus
  7. setuju banget sekarang memang sudah bukan jamannya perempuan gaptek yaa. sebagai seorang ibu kita juga harus terus meningkatkan potensi diri agar bisa juga mengimbangi anak kita nanti

    BalasHapus
  8. Setuju banget mbak, growth mindset ini harus dibangun oleh semua perempuan termasuk juga para ibu rumah tangga. Soalnya kita perlu ilmu untuk mendampingi anak di era yang serba digital ini.

    BalasHapus
  9. Bersama Ibu Profesional, mindset mengenai perempuan berdaya ini memang menjadi sangat kuat dan ini meningkatkan kepercayaan diri seorang perempuan di mata suami, anak dan mansyarakat agar bisa menjadi Ibu Pembaharu yang mengedepankan keluarga tapi bisa tetap mengembangkan kemampuan.

    BalasHapus
  10. Yups sebagai ibu rumah tangga jangan sampai kalau dengan anak-anak ya mbak. Jangan gaptek juga jangan merendahkan diri sendiri

    BalasHapus
  11. Saya terkesan banget dengan quote ini,Mbak...
    "Everything begins inside your mind. With the right mindset you will succeed. With the right mindset, you can turn your weaknesses into your strengths."

    Rasanya menampar jiwa yang saat ini sedang banyak negative thinking, hehehe

    BalasHapus
  12. Awalnya saya gak paham itu growth mindset. Ternyata setelah membaca keseluruhan artikel ini, sebagai perempuan pada nyatanya emang harus lebih pintar dan lebih bisa...
    Terimakasih sangat inspiratif dan menginspirasi saya

    BalasHapus
  13. Setuju banget nih mbak dengan membangun growth mindset, insyaallah dengan mindset yang baik maka kelemahan kita akan terganti dengan kekuatan. semoga bisa selalu

    BalasHapus
  14. Sepakat mba perempuan sekarang jangan bnyak diam dan menerima saja. Upgrade skill diri agar lebih terbuka mindset dan bisa berperan dalam RT, lingkungan maupun di tempat kerja. Semangat semuanya,makasih ya udah dikasih insight yg bermanfaat

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉

Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍