Desa Kecil itu Bernama Walikukun

desa walikukun jawa timur

Sebetulnya hari ini rencanaku adalah menulis tentang salah satu tempat wisata di Sukabumi yang dikunjungi sebelum pandemi, tapi entah kenapa pikiranku malah jalan-jalan ke mana-mana. Sampailah aku memikirkan desa yang sering kukunjungi semasa kecil dulu, Walikukun yang terletak di Jawa Timur.

Walikukun, adalah kampung halaman kakek. Di sana, tinggal beberapa kerabat dari ayah. Sekitar tiga tahun yang lalu, aku bersama ayah dan ibu berkunjung ke sana untuk memberi kabar perihal rencana pernikahanku. Kami juga menyempatkan diri untuk sowan ke makam kakek dan nenekku yang letaknya tidak jauh dari rumah kerabat kami.

Sama halnya ketika aku mencoba untuk menuliskan kampung halaman ibuku di Alabio, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, saat menggali informasi terkait Walikukun di Google, tidak banyak yang bisa aku dapatkan. Seterpencil itukah kampung halamanku? Haha.


Walikukun, Desa Kecil di Ngawi, Jawa Timur

Aku yakin tidak banyak dari teman-teman yang familiar ketika mendengar nama Walikukun disebut. Desa Walikukun adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Propinsi Jawa Timur.

Ketika aku sekeluarga masih tinggal di Cilegon, kami menempuh perjalanan sekitar kurang lebih 12 jam menggunakan mobil pribadi. Setelah pindah ke Jogja, perjalanan menuju Walikukun menjadi lebih singkat. Hanya sekitar 4 sampai 5 jam menggunakan mobil pribadi.

Selain menggunakan kendaraan pribadi, Desa Walikukun juga dapat dicapai dengan menggunakan moda transportasi umum seperti kereta api. Tentu bukan kereta api kelas eksekutif, hanya kereta api kelas ekonomi yang singgah di Stasiun Walikukun.

gunung lawu indonesia
Keindahan Gunung Lawu, Jawa Timur (GNFI)

Walikukun terletak di kaki gunung Lawu. Indah sekali pemandangan alamnya. Di desa tempat keluarga kami tinggal, hamparan sawah berhektar-hektar menjadi pemandangan setiap hari. Udaranya pun masih segar, langitnya terlihat lebih jernih, jauh berbeda dengan apa yang kita lihat di kota besar.

st ka walikukun jawa timur
Suasana di Stasiun KA Walikukun (heritage.kai.id)

Di sana nggak ada mall, bioskop atau kafe-kafe instagramable yang sering dibuat tempat nongkrong anak gaul. Dua tempat yang paling tersohor di sana adalah Stasiun KA Walikukun dan Pasar Tradisional Walikukun.

Kalau dipikir-pikir, cocok juga daerah ini untuk dijadikan tujuan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Hehe.

Kegiatan Eksplor Alam di Desa Walikukun

Mengenang masa kecil dulu, nih. Mungkin, aku senang menjelajah ke berbagai tempat dan lebih senang bermain di alam daripada di mall adalah buah dari apa yang aku tanam semasa kecil. Mudik ke Walikukun adalah suatu hal yang menyenangkan dan paling dinantikan, it was.

Biarpun rumah keluarga kami di sana terbilang jadoel banget, banyak nyamuk dan agak spooky dalam arti yang sebenarnya, namun banyak kegiatan eksplorasi alam yang bisa aku lakukan bersama dengan saudara-saudaraku.

Jelajah Sawah

Siapa yang waktu kecil senang bermain di sawah? Toss dulu dong! Bermain di sawah dan berjalan-jalan di pematang sawah adalah kegiatan lumrah yang aku lakukan saat berada di Walikukun. Hanya beberapa langkah dari rumah, aku dan saudara-saudaraku sudah bisa menonton Pak Tani dan Bu Tani sedang menggarap sawah.

Pernah suatu kali, aku bersama adik-adik dan sepupuku berjalan-jalan di pematang sawah hingga tak terasa sudah jauh sekali dari rumah kami. Anggota keluarga di rumah pun panik dan mengitari desa untuk mencari keberadaan kami.

Kemudian kami ditemukan oleh penduduk desa yang langsung mengenali bahwa kami adalah cucu-cucunya kakek kami yang mana ternyata dulu dikenal di sana. Melihat pakaianku dan yang lain tidak seperti orang setempat, mereka pun menghubungi pihak keluargaku di rumah. Aku, adik-adik serta sepupuku dijemput oleh Pakde menggunakan sepeda motor. Hehe.

Berenang di Sungai

Jauh sebelum aku belajar snorkeling dan free diving di laut lepas, aku pernah menghabiskan masa kecil dengan belajar berenang di sungai dekat rumah di Walikukun sana. Jika berjalan dari rumah ke sebelah kiri maka kita akan menemukan sawah, berjalan beberapa langkah ke sebelah kanan maka pemandangan sungai akan tampak dari atas jembatan.


Saat masih kanak-kanak dulu, yang tertanam di ingatanku adalah sungai dengan aliran air yang cukup deras, lumayan jernih dan banyak terdapat ikan-ikan kecil yang bebas berenang. Kala itu, sore hari menjadi waktu yang paling aku dan saudara-saudaraku nanti-nantikan. Selepas ashar, Bapak memperbolehkan kami untuk bermain air di sungai dekat rumah tersebut. Senangnya!

Belakangan, hingga terakhir kali aku ke sana tiga tahun lalu, pemandangan di sana sudah tidak seperti dulu lagi. Hawa seram alias aroma-aroma mistis malah yang aku rasakan ketika melihat rimbunya pepohonan di sekitar jembatan akses menyebrang sungai tersebut. Dasar penakut aja sekarang! Hehe.

Sungainya pun tidak lagi sebagus yang kuingat saat kecil dulu, tiga tahun yang lalu malah kering nggak ada airnya.

Memberi Pakan Ayam

Pekerjaan utama yang dilakukan oleh warga desa di Walikukun tidak jauh dari bertani, berdagang dan beternak. Jadi, memelihara ayam di pekarangan rumah adalah hal yang sudah biasa ditemui. Ingat pada suatu waktu aku dan sudara-saudara yang lain main ke rumah salah seorang kerabat, Pakde tersebut memelihara banyak ayam. Di sana adalah pertama kalinya aku melihat ayam kalkun. Hehe.

Kegiatan main bersama ayam dan memberi pakan ayam menjadi satu dari sekian kegiatan favorit selama mudik di Walikukun. Beberapa orang setempat bahkan mengira kami belum pernah melihat ayam di kota. Saking semangatnya kali ya main sama ayam-ayam di sana. Hihi.

Berburu Belut dan Lele

Kalau kegiatan yang terakhir ini sih aku skip, kebanyakan yang melakukannya adalah geng bapak-bapak. Beberapa saudara laki-lakiku juga pernah nih ikut-ikutan mencari belut dan lele untuk ditangkap. Hasil tangkapannya, tentu saja untuk dimasak dan disantap ramai-ramai.

Wah, jadi rindu lele goreng serta mangut lele buatan bude-ku di Walikukun sana. Sudah lama sekali tidak berkunjung ke sana. Apalagi setelah Bapak tiada, tentu kami sekeluarga lebih memilih untuk nyekar ke makam Bapak dan makin-makin jarang pergi ke Walikukun.


Padahal ingin sekali rasanya mengajak suami dan anakku untuk mengenal tempat mudik masa kecilku dulu. Hiks.

Yang disayangkan dari tulisan ini, susah sekali untuk menemukan foto-foto lama saat berada di sana untuk dimasukkan ke dalam blog. Jadi kan, visualisasinya kurang nih. Ditambah dengan sama susahnya menemukan foto terkait Walikukun di Google. Yawes bayangkan sendiri aja ya. Hehe.

Kalau dibaca ulang, sepertinya ceritaku ini seperti tugas bahasa Indonesia anak SD yang diminta untuk menceritakan kampung halamannya ya? Haha. Tak apalah, sekali-kali menulis untuk mengenang tempat yang pernah dihabiskan semasa kecil ternyata membahagiakan juga.

Teman-teman jadi ikut bernostalgia dengan kampung halamannya juga nggak, nih?

Sukabumi, 15 Juli 2021

Posting Komentar

42 Komentar

  1. Aku jd ingat desa kampung halaman kakekku dan budheku di Lamongan. Kl lebaran mudik ke sana. Desaaaa banget. Kami bilangnya Desa Padengan dan Desa Pajangan.

    Dari Jalan lintas Propinsi masih masuk belasa kilometer lagi. Lewat jalan2 kecil yang diapit sawah-sawah. (tp anehnya kami gak pernah main ke sawah. Sawah disana jauh dr perkampungan. Kaya terpisah gt)

    Zaman aku SD masih batu2 besar gt jalanannya. Mobil goyang-goyang banget tiap lewat. Terus Sambil diputerin lagu Tasya yang "Libur Tlah Tiba", "Anak Gembala" dll. Aku, adek2ku dan sepupu2ku menikmati goncangan sambil nyanyi2 seru hahahaha...

    Jadi pengen nulis juga. Nostalgia banget ya... Kangen aku. Terakhir ke sana kl gak salah tahun 2017

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulis dong tulis. Seru kayaknya kalo Mbak Asri yang nulis, kosakatanya bakalan lebih kaya buat menggambarkan suasana kampung halaman 🤗

      Hapus
  2. Wah enak ngebolang nih udaranya sejuk ya Deket Gunung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, tapi kadang kalau siang ama malam ya panas juga sih. Sumuk, banyak nyamuk pulak. Hehe..

      Hapus
  3. Duuuuh aku sukaaa Ama view gunungnya mba. Sempet pengeeen banget punya kampung di daerah gunung, Krn kampungku di pesisir, jadi panasnya ampuuuuun :p hahahahha. Kalo gunung kan ingetnya sejuk.

    Tapi memang mau seperti apapun kampung sendiri, ttp aja bikin kangen yaaa. Walo ga suka pantai, tp aku suka dengan seafood yg segeeer bgt di kampungku. Makanya kalo balik ke Sorkam, Tapanuli tengah, pasti aku lhs wiskul-an :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahh dari Sumatera Utara ya Mbak Fan, keluarga ayah saya dari kecil juga tinggal di Medan. Sampai sekarang juga masih banyak saudara yang disana. Seneng memang wisata kulineran di kampung sendiri tuh. Hehe..

      Hapus
  4. Pengen banget main ke Ngawi, saya pernah ke sana sekitar 12 tahun yang lalu mam, udah lama banget ya. Ada temen di sana, pengen banget bisa nengokin, udah 10 tahun ngga ketemu. Kan lumayan bisa sambil main.

    BalasHapus
  5. kayaknya sahabatku pas SMP pernah cerita soal desa ini, mbaaa
    dia asli ngawi juga.
    aakkk, seru ya mengenang desa masa kecil ituuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya Mba, tau tau muncul aja kenangan masa kecil dan langsung pengen nulis deh..

      Hapus
  6. Huhu sayang bgt foto2nya susah dicari ya mbak. Cuma bisa membayangkan doang nih. Boleh nih kl ke jatim main ke Walikukun untuk menikmati alamnya yg asri😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih asri banget di sana waktu terakhir ke sana pun. Walaupun sudah berbeda ya sama zaman saya kecil yang saya tulis dalam artikel ini. Hehe..

      Hapus
  7. Sebenarnya daerah asal saya di Purworejo juga ngga jauh beda dengan gambaran desa walikukun yang Mbak tulis. Desa yang masih sepi, hijau, dan ngangenin. Alhamdulillah saya masih bisa sering-sering pulang kampung karena Solo - Purworejo bisa ditempuh hanya dalam waktu 4 jam.

    Tapiii, saat saya mendengar walikukun, yang terbayang adalah merek minyak gosok favorit bapak saya. Hihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk ada ya merk minyak gosok walikukun? Saya malah baru denger..

      Hapus
  8. Mbak...jadi ingat kampung halaman saya nih. Masa kecil suka ke jalan-jalan ke sawahsama eksplor macam pendaki gunung ala anak-anak dulu jalan-jalan ke pelosok desa, apadahal masih anak-anak da alhamdulillah aman. Btw, nama desa Walikukun unik ya Mbak? ada artinya ndak?he..he..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah saya kurang tau juga tuh. Lupa juga pernah nanya nggak ya ke bapak saya? Wkwk..

      Hapus
  9. ih mbak ima asik banget deh di desanya. yuk kapan kapan kita meet up di sukabumi, aku di kampung nyangsang mbak. tau ga mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayok mbaak. Kapan kalau ke sukabumi berkabar dong. Saya di Goalpara nih. Hehe..

      Hapus
  10. Saya sih urang kampung. Di pakidulan Cianjur... Jadi suasana kampung atau pedesaaan udah jadi kehidupan sehari-hari. Hehehe...
    Alhamdulillah meski di kampung kalau udah masuk internet, ga kudet kudet banget jadinya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kalau internet di mana-mana udah bisa masuk ya, cuma kadang baru beberapa provider saja yang lancar jaya sinyalnya.

      Hapus
  11. Pertama baca nama desanya aku pikir ini di luar negeri nih. Unik ya. Setelah baca dan lihat foto-fotonya waaah indah banget dan nuansanya itu bener-bener menenangkan.

    BalasHapus
  12. Whuah Mbak, pasti senang banget nostalgia ke desa masa kecil. Nama desanya sendiri sudah unik Walikukun. Tidak apa seperti tugas mengarang bahasa Indonesia, yg penting kita memang senang melakukan dan menceritakannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, kalau nulis sesuatu yang kita suka dan berkesan banget itu ngalir aja ya. Hehe..

      Hapus
  13. Wah iya, aku pernah ke walikukun
    Waktu itu dalam rangka melakukan perjalanan dari ngawi ke solo
    wah mbak ima ada keturunan dari ngawi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waw pernah ke sana ya, Mbak. Pasti lewatin "kota"nya ya, tempat kakek saya mah blusukan. Hehe. Iya, kakek dari Bapak yang asli sana..

      Hapus
  14. Kalo denger kata 'desa' tuh auto kebayang suasana seger asri ijo-ijo gitu. Jadi penasaran sama desa walikukun ini, kalo diliat dari foto stasiunnya aja masih banyak pohon ya, seger banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, hawanya berasa lah bedanya dengan di kota. Lebih fresh yang pasti..

      Hapus
  15. Happy sekali bisa berlibur berkegiatan eksplor macam pedesaan begini. Ini yang mahal karena di kota pasti gak ada beginian. Pengalaman tersendiri buat anak-anak yang tidak pernah merasakan berkegiatan seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya pengen ajak anak saya ke sana. Karena kenal sama yang punya sawah dan lingkungan sekitar jadi boleh-boleh aja main. Kalau di daerah sini ada juga sawah tapi nggak tau punya siapa jadi nggak bisa sembarangan main kan. Hehe..

      Hapus
  16. Tadinya saya pikir Walikukun itu di mana, ternyata di Jatim. Kampung halaman emang selalu berkesan ya Mba. Saya Jadi inget kenangan masa kecil bareng nenek dan kakek di Garut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha banyak memang yang masih jarang denger nama desa ini. Makanya saya tuliskan siapa tau muncul dia di google. Wkwk..

      Hapus
  17. Liburan nggak harus ke tempat wisata hits ya, Mbak. Mengunjungi desa masa kecil atau kampung halaman pun bisa punya memori sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mbak Alfa. Kampung halaman punya kesan sendiri.

      Hapus
  18. Ya Allah, berasa damai memang tinggal di desa yaa..
    Gak ada lagi yang sibuk dengan urusan-urusan sinyal dan pekerjaan digital.
    Ini nyaman banget banget untuk kesehatan, hehhee..

    Kampung halamanku, tempat lahirku juga di desa.
    Tapi nun jauh di sanaa... Aku lahir di desa Sumatera Utara, Pangkalan Brandan, namanya.

    Rasanya butuh waktu panjang kalau mau ke sana...heheeh..
    Semoga someday bisa menilik kampung halaman kembali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru tau Mbak Lendy tanah kelahirannya di Sumut. Aku pun loh. Haha. Udah lama juga nggak ke Medan. Oiya kalau aku lahir di kota Medannya..

      Semoga ya someday bisa balik lagi Mbak..

      Hapus
  19. Seru Mbak ceritanya. Tinggal dikreasikan lagi bisa jadi cerita anak2. Hehe

    BalasHapus
  20. Wuih di kaki gunung, membayangkan dinginnya gimana kalau pagi, mungkin berkabut ya mba. Dari foto2 diatas, menurutku instagramable karena masih asri, bukan yang buatan kayak di kota gitu. Malah bagus ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih ke sejuk sih sebenarnya, kalau malam ya gerah juga banyak nyamuk. Apalagi masih banyak hutan di sekitar rumah eyang saya itu. Emang pemandangannya alami banget..

      Hapus
  21. baru dengar juga saya nama desa walikukun. pastinya kalau dibandingkan puluhan tahun lalu kondisi desanya sudah berubah ya, mbak. apalagi kalau teknologi internet sudah masuk. heu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Zaman dulu juga kayaknya udah bisa sih telpon-telponan pakai ponsel gitu. Terakhir ke sana sih update status IG udah lancar. Wkwk..

      Hapus
  22. Saya asli walikukun dan skg menetap d walikukun mbak
    Tepatnya blakng SMP 1 walikukun

    Walikukun skg bnyk brubah mbk

    Icon stasiun nya jg berubah total

    Tapi bgmn pun jg walikukun tetap d hati 🤭

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉

Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍