Rabu, 13 Mei 2020

Alabio, Kampung Nenek Moyang di Hulu Sungai Utara


Sebagian besar teman-teman dan kerabat yang mengenalku tau bahwa sebagian dari diriku berasal dari Kalimantan Selatan, ibuku berasal dari Banjarmasin. Tak heran jika beberapa tahun sekali aku akan mudik ke Banjarmasin saat liburan atau lebaran tiba, bergantian dengan tempat asal ayahku yang masih di pulau Jawa.

Sebenarnya, kalau boleh ditelusuri menggunakan pohon keluarga maka nenek moyangku berasal dari Alabio bukan Banjarmasin. Mendengar cerita-cerita dari ibu serta adik-adik ibu, mereka kerap menyebut kakek dan neneknya tinggal di Alabio. Hingga saat ini, jika aku berkunjung ke Banjarmasin pasti akan menyempatkan diri untuk datang ke Alabio.

Mungkin beberapa dari kalian yang membaca ini belum pernah mendengar nama Alabio? Memang saat melakukan pencarian di mesin pencari internet, sedikit sekali tulisan yang aku temukan mengenai Alabio. Pada tulisan kali ini, aku akan mencoba bercerita mengenai kecamatan yang sebenarnya bernama Sungai Pandan ini. 

Sungai Pandan yang lebih terkenal dengan nama Alabio merupakan suatu distrik di Kalimantan Selatan yang berada di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Alabio, dalam bahasa banjar disebut dengan Halabiu terkenal dengan masyarakatnya yang sebagian besar hidup dari berdagang serta hewan endemiknya yaitu itik Alabio.

Untuk menuju Alabio, dari kota Banjarmasin bisa kita tempuh melalui jalur darat selama kurang lebih 4-5 jam, sekitar 200 km dari Banjarmasin. Sepanjang perjalanan, kita akan banyak disuguhi pemandangan berupa rawa-rawa serta lahan gambut tipikal daerah Kalimantan.

Biasanya, di tengah perjalanan kami akan singgah di daerah Kandangan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati kuliner khas daerah sana yaitu ketupat Kandangan. Visualnya mirip dengan opor ya, menggunakan kuah santan. Tapi yang membuat ketupat ini berbeda dengan yang lain adalah teman makannya yaitu dengan iwak haruan alias ikan gabus yang sudah dibumbui. Rasanya nikmat deh, wajib mencoba kalau berkunjung kesini!

Ketupat Kandangan + Iwak Haruan,
Duet maut yang tidak boleh terlewatkan
Sumber : gramco.com

Sebelum sampai di Alabio, kita bisa singgah di kota Amuntai dan berfoto dengan itik raksasa yang merupakan ikon kota tersebut. Meskipun demikian, itik Alabio sepertinya lebih terdengar namanya daripada itik Amuntai. Haha.

Adikku bersama itik raksasa di Amuntai

Setibanya di Alabio, terlihat rumah-rumah penduduk yang kebanyakan masih berupa rumah panggung dan dikelilingi oleh rawa-rawa besar. Konon, masih banyak hewan-hewan liar dan buas seperti buaya yang menghuni rawa tersebut.

Di rumah nenekku sendiri, saat aku kecil masih juga dikelilingi rawa dimana untuk pergi ke rumah saudara kami yang letaknya di belakang rumah harus menyebrang menggunakan papan kayu yang hanya cukup dilalui oleh satu orang. Di depan rumah saudaraku tersebut kami disuguhkan dengan pemandangan sungai yang besar.

Beberapa tahun belakangan, saat terakhir kali aku berkunjung kesana ternyata sebagian besar rawa sudah ditimbun dengan tanah dan pasir. Jalan menuju rumah saudara di belakang rumah nenek pun sudah bisa dijejaki banyak orang orang karena sudah tidak ada lagi air dibawahnya.

Pengalaman seru yang pernah terjadi saat masih rumah nenek masih dikelilingi rawa adalah ketika keluargaku mengadakan kegiatan baiwak. Dalam kegiatan ini, seluruh anggota keluarga yang berjenis kelamin laki-laki turun ke dalam kolam (rawa) di samping rumah untuk menangkap ikan-ikan yang ada di dalamnya.

Sementara itu, ibu-ibu dan anak-anak perempuan sibuk mempersiapkan segala hal untuk memasak hasil tangkapan para bapak-bapak dan anak-anak laki-laki. Pada waktu itu, hampir semua keluarga besarku berkumpul dan turut serta dalam kegiatan ini jadi ramai dan seru sekali.

Setelah ikan-ikan yang kebanyakan adalah ikan haruan ditangkap lalu dimasak, kami semua makan besar bersama-sama. Makannya pun lahap karena semua lelah setelah heboh baiwak setengah harian.

Hal lain yang tidak boleh ketinggalan ketika mampir di Alabio adalah mencicipi itik panggang khas Alabio. Seperti yang sudah aku sampaikan di atas, Alabio terkenal sebagai penghasil itik. Hewan ini kemudian dijadikan bahan utama kuliner khas daerah Alabio. Itik panggang biasanya disantap bersama nasi hangat serta sup berisi sayuran dan bihun. Tekstur itik yang tentunya berbeda dengan ayam atau bebek membuat ada sensasi nikmat tersendiri saat menyantapnya. Wahh, jadi kangen ingin makan itik panggang disana nih! Hihi.

Itik panggang tanpa tulang, kuliner khas Alabio
Sumber : gramco.com

Sekian dulu ceritaku tentang kampung mbah buyutku di Alabio, Kalimantan Selatan. Meskipun hanya singgah semalam atau dua malam disana saat mudik ke Banjarmasin, rasanya selalu rindu ingin mampir ke Alabio sembari bernostalgia dengan kenangan-kenangan masa kecil dulu.

Sampai jumpa di cerita travelling berikutnya!

Sukabumi, 13 Mei 2020

2 komentar:

  1. Wah ketemu orang Banjar di sini. Salam kenal dari Banjarmasin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe halo Mba, salam kenal juga. Banjarmasin'y dmna ni?

      Hapus