Tanggal 17 Mei 2021 yang lalu, Indonesia baru merayakan Hari Buku Nasional. Tulisan ini dibuat itung-itung untuk ikut menyemarakkan hari tersebut, meskipun udah lewat harinya ya. Hehe.

Berbicara tentang buku dan membaca, aku sudah pernah bercerita di tulisan yang berjudul "Mencintai Membaca", kalau kebiasaan membaca sudah sejak kecil ditanamkan oleh kedua orang tuaku terutama ayah.

Semasa kecil, tempat favorit aku dan adik-adikku setiap kali pergi jalan-jalan bersama ayah dan ibu adalah toko buku. Bagi kami, toko buku itu adalah tempat wajib untuk dikunjungi minimal sebulan sekali.

Aku dan adik-adikku seketika meluncur ke bagian komik sesaat setelah menginjakkan kaki di toko buku. Kami pun dijatah untuk membeli maksimal 3 buah buku setiap kali pergi ke toko buku.

Momen mencari 3 buku ini menjadi momen yang sekarang menjadi kenangan tak terlupakan juga ternyata. Aku dan adikku yang pertama, akan fokus berburu komik detektif untuk melengkapi koleksi buku kami.

Sementara adikku yang kedua, sibuk mencari komik-komik Doraemon seri petualangan. Adikku yang ketiga, kayaknya dulu masih terlalu kecil untuk ikut berburu komik.

Kalau ditanya tentang buku favorit semasa kecil, jawabannya banyaaak! Haha. Nggak bisa kalau aku hanya menjawab "Harry Potter" series, karena aku juga suka buku-buku petualangan "Lima Sekawan"-nya Enid Blyton.


Selain itu novel detektif Sherlock Holmes dan Agatha Christie juga selalu masuk daftar buruanku. Nggak cuma genre itu, aku juga suka dengan komik-komik serial cantik. Hehe.

Akan tetapi, ada 3 buku komik detektif yang menjadi pemersatu antara aku dan adik-adikku. Terutama adikku yang pertama, kami selalu bekerja sama untuk mengumpulkan komik-komik detektif ini sehingga kami memiliki koleksi lengkap di rak buku di rumah kami.

Detektif Conan

Source : animagz

Adakah di sini yang tidak mengenal Sinichi Kudo? Sini-sini, Mbak kasih tau. Haha. Komik Detektif Conan ini termasuk buku bacaan sejuta umat, paling diminati oleh anak-anak Gen Y.

Detektif Conan adalah seri manga shonen dari Jepang, yang merupakan buah karya seorang Aoyama Gosho.

Bercerita tentang seorang detektif muda berbakat, Sinichi Kudo, yang terpaksa harus hidup dalam tubuh anak kecil karena sebuah obat yang didapat dari organisasi misterius.

Ia kemudian mengubah identitasnya menjadi Conan dan tinggal bersama seorang detektif bodoh Kogoro Mouri, serta anak perempuannya yang juga teman SMA Sinichi Kudo, Ran Mouri.

Dibantu oleh peralatan canggih dari Professor Agasha, Conan membantu Kogoro Mouri untuk memecahkan berbagai kasus termasuk penculikan hingga pembunuhan.

Conan juga memiliki geng detektif cilik yang anggotanya adalah Ayumi, Genta, Mitsuhiko dan Ai Haibara.

Komik Conan ini termasuk yang panjaaang sekali episodenya. Kayaknya sampai sekarang belum tamat deh. Inget banget beli komik Conan dari harganya masih di bawah Rp10.000,- sampai harganya melonjak hingga di atas Rp20.000,-.

The Kindaichi Case Files

Source : animagz

Komik detektif kedua yang menjadi favoritku dan adikku adalah Detektif Kindaichi (The Kindaichi Case Files). Manga dan anime detektif ini merupakan karya dari Yozaboru Kanari, Seimaru Amagi dan Fumiya Sato.

Di Jepang, manga ini terbit di sebuah majalah dari tahun 1984 hingga tahun 2000. Di Indonesia, setidaknya ada 19 judul seri yang diterbitkan. Masing-masing judul terdiri dari beberapa volume.

Tokoh utama dalam komik ini adalah Hajime Kindaichi, seorang siswa SMA yang pemalas namun memiliki IQ 180. Ia juga memiliki insting dan kemampuan analisa yang baik dalam memecahkan sebuah masalah.

Ada juga teman perempuan Kindaichi yaitu Miyuki Nanase. Kindaichi dan Miyuki sering kali terlibat dalam sebuah kasus bersama-sama. Peran Miyuki ya kebanyakan tim hore aja sih, dia ini gadis yang selalu dilindungi oleh Kindaichi dan selalu mencoba membantu Kindaichi.

Kemudian, ada pula Inspektur Kenmochi yang sering turun tangan bersama Kindaichi memecahkan kasus-kasus. Inspektur Kenmochi sangat kagum dengan kemampuan analisa Kindaichi sehingga meskipun bukan anggota kepolisian, Kindaichi diberikan wewenang untuk ikut melakukan investigasi di setiap kasus.

Bagiku, yang membuat cerita dari Detektif Kindaichi ini menarik adalah karena setiap judul mengangkat cerita legenda atau mitos yang beredar. Sehingga kasus pembunuhannya ada temanya masing-masing. Seru, deh!

Detective School Q

Source : animagz

Komik detektif terfavorit yang terakhir adalah DDS (Dan Detective School) atau Detective School Q. Aku biasa menyebutnya dengan DDS.

Manga ini adalah karya dari Seimaru Amagi dan Fumiya Sato. Yap! Sama dengan pencipta Detektif Kindaichi. Di Jepang, manga ini diterbitkan dalam sebuah majalah sejak tahun 2001 hingga 2005. Di Indonesia, komiknya terbit menjadi 22 jilid.

Ceritanya adalah tentang sekelompok siswa yang bersekolah di sekolah detektif bernama Dan Detective School. Sekolah ini milik Morihiko Dan.

Tokoh utama dalam komik adalah anak laki-laki bernama Kyu Renjo, Megumi Minami, Kintaro Toyama, Kazuma Narusawa dan Ryu Amakusa. Masing-masing tokoh memiliki kemampuan tersendiri.

Aku paling ingat dengan tokoh Meg atau Megumi Minami yang memiliki ingatan fotografis. Hanya dengan sekali melihat, ia dapat mengingat semua hal detail yang ada di TKP.

Ceritanya tidak seberat Conan dan Kindaichi, tapi cukup menarik untuk dibaca hingga aku dan adikku memiliki koleksi lengkap semua seri DDS.

What About Now?

Saat ini, mungkin koleksi komik kami sudah tidak selengkap dulu. Setelah pindah rumah dari Cilegon ke Jogja, banyak buku-buku termasuk komik-komik yang tersimpan di dalam kardus.

Berhubung rumah kami di Jogja tidak sebesar rumah kami di Cilegon, tidak cukup tempat untuk mengeluarkan dan menyusun buku-buku koleksi kami seperti dahulu. Udah lama juga nggak membongkar kardus-kardus buku, seperti apa bentuknya sudah nggak paham lagi. Hiks!

Padahal dulu, aku dan adikku termasuk yang rajin merawat buku-buku koleksi kami. Setelah membeli dan membuka plastik pembungkus bukunya, kami akan memberi nama dan tanggal kapan membeli buku tersebut. Lalu, kami bubuhkan tanda tangan sebagai tanda kepemilikan.


Aku dan adikku juga rajin membungkus cover buku koleksi kami dengan sampul plastik agar tidak mudah lecek atau terlipat. Setelahnya, kami menyusun rapi di rak buku sesuai dengan judul dan urutannya dari nomor terkecil hingga terbesar.

Berhubung koleksi buku anak-anak di rumah kami dulu cukup banyak, aku sampai berinisiatif membuka perpustakaan kecil-kecilan untuk anak-anak tetangga ataupun teman sekolah yang ingin membaca buku. Ya ampun, what a moment!

Begitulah sedikit ceritaku mengenai buku komik favorit semasa kecil, yang membuatku bisa menuliskannya kembali dalam tulisan ini.

Aku berharap agar anakku dan lebih banyak anak Indonesia lainnya yang mencintai membaca, menghargai karya-karya literasi dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu hoax yang menyesatkan.

Sukabumi, 23 Mei 2021