Cerita Mengkhitan Anak Dengan Metode Smart Klamp


Buanglah darimu buku (rambut) kekufuran dan berkhitanlah

Rasulullah SAW. menyampaikan hal tersebut dalam hadist dan diriwayatkan oleh Imam Abud Daud dan Ahmad. Khitan atau sunat adalah salah satu anjuran bagi laki-laki yang beragama Islam. Alhamdulillah, tanggal 3 April 2021 yang lalu, aku bersama suamiku mengkhitan anak kami yang berusia 2 tahun 5 bulan.

"Kok masih kecil udah disunat?", "Kecil bangeet disunatnya, emang nggak rewel?", pertanyaan tersebut terlontar dari beberapa orang termasuk kerabat dekat mengenai keputusan mengkhitan anakku yang masih batita. Aku dan suamiku tidak memiliki alasan khusus mengapa ingin melakukan ini saat Dipta masih kecil. Sebelumnya, kami memang bersepakat untuk mengkhitan anak kami paling lambat ketika usianya menginjak 3 tahun, lah!

Jadi, kami memang sudah mempersiapkan diri (dan budget) untuk ini. Lagi pula, khitan memiliki banyak manfaat seperti menurunkan resiko penyakit infeksi saluran kemih dan penyakit penis lainnya. Ya kalau manfaatnya lebih besar ngapain ditunda-tunda? Gitu aja sih mikirnya. Hehe.

Pengumuman dulu ya, ceritanya memang agak panjang ini. Semoga betah membaca sampai selesai karena semua aku coba jelaskan secara detail. Selain untuk berbagi informasi, juga untuk memetakan kenangan dalam tulisan. Selamat melanjutkan membaca!

Bingung Memilih Metode Khitan

Dari yang rencananya ingin mengkhitan Dipta saat ia berulang tahun ke-3, kami berdua jadi memajukan jadwal hingga awal April ini saat kami berkunjung ke Bandung. Kebetulan, di akhir tahun nanti insha Allah keluargaku di Jogja akan mengadakan acara besar, sehingga kalau khitannya mendekati hari H acara keluarga kok ya repot pikirku?!

Sebelum memutuskan untuk memilih tempat khitan dan metode apa yang akan kami pilih, aku tentu saja mencari banyak informasi mengenai tempat-tempat khitan di Bandung dan metode apa yang sekiranya paling minim menimbulkan rasa sakit, serta yang perawatannya nggak ribet.

Beberapa menyarankan untuk menggunakan metode laser yang katanya setelah khitan bisa langsung pakai celana jeans, ada juga yang menyarankan untuk menggunakan metode konvensional di klinik khitan dekat rumah mertua di Bandung. Bingung deh, nih!

Sampailah pada pembicaraan di grup Whatsapp yang membawa Teh Nadya, pemilik blog aboutcoffeeandme.blogspot.com, bercerita mengenai pengalamannya mengkhitan anak laki-lakinya menggunakan metode smart klamp. Mendengar ceritanya, aku jadi ingin tahu lebih banyak tentang metode yang baru kudengar ini.

Akhirnya, ketemu nih perbandingan antara ketiga metode khitan yang disarankan tadi. Antara metode konvensional, laser dan smart klamp :

Metode Sirkumsisi atau Konvensional

Metode khitan yang satu ini sudah digunakan sejak zaman baheula dan masih banyak digunakan sampai hari ini. Pada metode konvensional, kulup penis langsung dipotong menggunakan gunting atau pisau bedah. Setelahnya dilakukan penjahitan menggunakan benang khusus yang dapat langsung menyatu dengan kulit tubuh.

Adapun kelebihan dari metode khitan ini adalah dapat dilakukan untuk segala usia dan biayanya pun lebih terjangkau. Tentunya, resiko infeksi yang ditimbulkan relatif kecil sebab semua alat medis yang digunakan sudah dipastikan sterilitasnya.

Untuk kelemahannya, pada proses pengerjaan maupun penyembuhannya relatif lebih lama. Selain itu, perawatan pasca khitan agak cukup ribet di mana luka tidak boleh terkena air terlebih dahulu, harus diolesi dengan salep atau obat luka lainnya dan harus mengganti perban kurang lebih setelah tujuh hari.

Metode Laser dan Electro Cauter

Metode laser memanfaatkan teknologi canggih nan modern yaitu laser CO2. Laser CO2 akan memotong kulup dari pasien khitan yang sebelumnya telah dibius lokal. Metode laser ini memiliki kelebihan seperti minimnya resiko perdarahan, penyembuhan akan lebih cepat dan memiliki nilai estetika dibandingkan dengan metode konvensional.

Meskipun demikian, setelah dikhitan, pasien akan tetap menerima jahitan. Selain itu, harganya cenderung lebih (paling) mahal dibandingkan dengan metode khitan yang lain dan karena menggunakan teknologi canggih, metode laser ini hanya dapat dijumpai di kota-kota besar yang sudah dilengkapi dengan fasilitas laser CO2.

Metode electro cauter banyak juga yang menyebutnya sebagai metode laser. Padahal peralatan yang digunakan berbeda. Pada pasien khitan dengan metode electro cauter, kulup penis akan dipotong menggunakan alat yang dipanaskan dengan arus listrik.

Kelebihan dari metode ini adalah prosesnya yang relatif lebih singkat yaitu sekitar 15-20 menit, proses penyembuhan luka juga lebih singkat (katanya) dibandingkan dengan metode konvensional. Anak atau pasien juga dapat melakukan aktivitas secara normal dalam waktu yang cepat.

Sementara untuk kekurangannya, meskipun sudah tergolong modern, metode electro cauter masih mengharuskan pasien khitan untuk dijahit pasca dikhitan. Selain itu juga masih ada resiko perdarahan walaupun minimal. Perawatan selama proses pemulihan juga masih menggunakan salep untuk dioles secara rutin.

Metode Smart Klamp

Metode ini menggunakan alat berupa klem yang sifatnya "single use only" sehingga tidak dapat digunakan berulang. Prinsipnya adalah dengan memasukkan tabung smart klamp pada kulup yang akan dipotong, lalu dijepit menggunakan penjepit klamp-nya. Pada hari ke-4 pasca khitan, penjepit akan dibuka dan tabung akan (di)lepas.

Metode ini tidak membutuhkan proses yang lama yaitu hanya sekitar 5-10 menit saja, tidak ada proses jahit menjahit, minim resiko perdarahan, tidak diperlukan perawatan yang ekstra setelah khitan (nggak ribet gitu, ceunah), serta pasien khitan dapat melakukan aktivitas seperti biasa tanpa dibatasi setelah proses khitan dilakukan. Boleh langsung kena air juga loh.

Nah, setelah mengetahui perbandingan plus dan minus dari masing-masing metode khitan, akhirnya aku dan suamiku memilih untuk mencoba menggunakan metode smart klamp.

Proses Khitan Dengan Metode Smart Klamp

Pendaftaran Khitan di Klinik Mutiara Cikutra (KMC)


Setelah menentukan akan mengkhitan anakku dengan metode smart klamp, aku menghubungi Klinik Mutiara Cikutra (KMC), Bandung untuk menggali informasi lebih lanjut. Proses pendaftaran bisa dilakukan via Whatsapp ke nomor 0878-2277-6009. Di KMC, selain metode smart klamp tersedia juga metode khitan dengan menggunakan electro cauter (cauter lasser). Detail price list dapat dilihat di gambar berikut :

Price list khitan di Klinik Mutiara Cikutra, Bandung

Aku sendiri memilih paket metode smart klamp (single person) ditambah dengan paket foto. Harus banget pake foto? Ya kalau aku supaya ada kenang-kenangan sekali seumur hidup. Kan nggak mungkin Dipta disunat lebih dari satu kali. Hehe.

Respon dari admin Whatsapp KMC cukup cepat, mereka langsung membantu mendaftarkan Dipta untuk khitan pada tanggal 3 April 2021. Ternyata, ia mendapatkan jadwal pukul 07.15 WIB dengan nomor antrian ke-4. Setelah itu, yaudah tinggal datang saja di hari H.

No endorse-endorse ya! ;)

Oiya, lagi-lagi teh Nadya yang memberikan rekomendasi tempat khitan yaitu KMC ini. Fyi, Pak Ridwan Kamil juga melakukan khitan anak laki-lakinya di KMC menggunakan metode smart klamp. Oleh sebabnya, klinik ini semakin terdengar namanya. Hihi.

The Day!

Hari Jum'at pagi, tanggal 2 April 2021, aku bersama suami dan anakku berangkat pagi-pagi dari Sukabumi. Di hari itu, aku semakin memperbanyak sounding bahwa esok ia akan dikhitan, prosesnya seperti ini-itu, aku jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Dia sih, terlihat happy-happy aja nggak ada beban.

Esok subuhnya, aku yang merasa tegang dan mulai panik. Memikirkan bagaimana proses khitan anakku nantinya. Belom pernah nih, bok! My very first experience. Berhubung rumah mertua dengan KMC jaraknya lumayan jauh dan khawatir jalanan padat, kami bertiga berangkat agak pagi agar tidak terlambat sampai di sana.

Sekitar pukul setengah tujuh pagi, kami sudah tiba di KMC dan sudah ada beberapa orang juga yang datang dan menunggu di depan. Pak Satpam menyambut kami dan memberikan kami pilihan untuk langsung menuju ruang tunggi di lantai 2, tapi di sana belum ada petugas yang datang, atau menunggu di depan klinik. Setelah berdiskusi dengan suamiku, kami memilih untuk menunggu di ruang tunggu.

Ruang tunggu di lantai 2 KMC

Surprisingly, ruang tunggunya nyaman sekali. Tidak tampak seperti klinik atau rumah sakit. Tempatnya di desain menarik, colorful dan ramah anak. Anakku tampak gembira ketika bisa berlarian dan bermain dengan teman-teman yang ada di sana. Disediakan juga snack seperti arem-arem dan puding sembari menunggu giliran, juga ada air putih di dalam dispenser yang dapat diminum secara free.

Tidak lama kemudian, terlihat beberapa petugas hadir dan mulai menuliskan nama-nama pasien khitan di papan tulis. Saat itu, nama-nama yang ada dalam list cukup panjang, sekitar 20 orang lebih. Akan tetapi, yang hadir ketika itu masih sepi. Aku melihat nama anakku berada di urutan ke-4. Oh my, bentar lagi nih~

Menunggu giliran sambil bermain bersama kakak-kakak

Sesaat sebelum naik ke lantai 3 yaitu ruangan praktik yang akan digunakan untuk tempat khitan, fotografer memanggil kami untuk berfoto bersama dulu. Setelah itu, kami pun menuju lantai 3 untuk menunggu giliran yang hampir tiba.

My strong baby

Menyaksikan Proses Khitan

Di lantai 3, aku semakin was-was karena konser tangisan anak-anak mulai terdengar saling menyahut. Anakku masih santai saja sambil makan puding, akan tetapi saat namanya dipanggil masuk ke dalam ruangan ia mulai menangis seperti tersugesti oleh teman-temannya yang lain.

Perawat menjelaskan bagaimana perawatan pasca khitan yang harus kami lakukan, kemudian dokter menjelaskan bagaimana kondisi penis anakku dan bagaimana cara memasang klamp serta pemotongannya. Jujurly, waktu mendengarkan dokter berbicara aku tidak bisa fowkes sebab Dipta sudah menangis sejadi-jadinya. Bikin suara-suara lain sayup-sayup nggak kedengeran.

 Bismillahirrahmanirrahiim...

Proses pun dimulai. Aku bertugas untuk memegang bagian tangan dan badan puteraku yang dibaringkan di atas tempat tidur, sementara suamiku memegang kedua kaki anak kami. Proses pertama adalah melakukan bius lokal di beberapa titik sekitar penis. Setelah dokter memastikan bahwa biusnya sudah bekerja, beliau memasang tirai yang menghalangi badan anakku dan memulai proses khitan. Persis seperti ketika sedang operasi sesar, yha langsung ingat dong saiaa...

Sebetulnya aku penasaran bagaimana dokter melakukan pemotongan pada kulup penis anakku dan ingin melihat cara memasang klamp-nya. Tapi, begitu melihat pisau bedah dan gunting mengenai kulit anakku sehingga mengeluarkan darah, aku menyerah!

Saat proses khitan berlangsung

Aku berpaling untuk melihat wajah suamiku dan tampaknya ia juga tidak tega melihat hal tersebut. Anak kami pun terus menerus menangis tidak berhenti. Bukan karena sakit, karena kan sudah dibius, tapi karena merasa tidak nyaman pastinya.

Alhamdulillah, proses khitan berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Setelah selesai, aku menebus resep antibiotik yang harus dihabiskan dan paracetamol untuk mengurangi rasa nyeri. Udah, dua itu tok obatnya. Dokter juga menyampaikan bahwa anak bisa melakukan aktivitas seperti biasa dan tidak dibatasi. Sekitar 5-7 hari, kami diminta kembali untuk kontrol.

Proses Pemulihan dan Perawatan Pasca Khitan

Gimana, Dipta, rewel nggak?
Banyak sekali teman-teman maupun saudara yang menanyakan hal tersebut. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, selama proses khitan Dipta terus menangis. Tangisannya pun konsisten hingga kami bertiga masuk mobil untuk pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, bocah jadi nggak mood. Makan nggak mau, minum susu nggak mau. Tiduran aja tuh, tapi aku dan Papanya tetap memintanya untuk makan walaupun sedikit agar ia bisa minum obat. Setelah minum obat ia tertidur lagi, setelah sebelumnya di perjalanan pulang juga tidur.

Tangisnya akan selalu pecah saat ia hendak buang air kecil dan saat penisnya terkena air ketika dibersihkan setelah buang air kecil. Kebayang sih, pasti nyeri banget kan biusnya sudah habis efeknya. Saking nggak pengennya kena air, ia akan selalu menolak dan menjawab tidak ketika ditanya mau pipis apa nggak.

Di hari-H tersebut, meskipun dokter bilang boleh langsung dimandikan, aku dan suamiku belum tega. Jadi, hari itu dia lebih banyak beristirahat dan rebahan di tempat tidur. Selain sudah boleh terkena air, tidak ada perawatan lain yang harus kami lakukan.

Keesokan harinya, kondisinya sudah mulai membaik meskipun saat buang air kecil dan dibasuh air masih menangis. Berita baiknya, nafsu makannya sudah mulai normal dan mau makan banyak.

Asal nggak kena air masih bisa senyum

Sehari setelah khitan tersebut, ia sudah mau dimandikan seperti biasa. Surprisingly, ia juga sudah mulai berjalan-jalan dan bermain dengan sepupunya di Bandung. Tapi nggak yang heboh gitu, sih. Pelan-pelan mainnya. Malam harinya, kami pulang kembali ke Sukabumi.

Besoknya yaitu hari Senin, Dipta sudah bisa beraktivitas seperti biasa dan tidak menangis saat harus buang air kecil dan dibasuh menggunakan air. Mandi juga sudah seperti biasa. Kata Neneknya saat video call, seperti bukan anak yang habis dikhitan. Lega banget rasanya, meskipun masih ada PR yaitu perawatan sebelum membuka klem yang dilakukan di hari Rabu.

Perawatan Sebelum Pembukaan Klem

Setelah khitan selesai dilakukan, perawat memberikan kami selembar kertas yang berisi panduan perawatan pasien khitan. Di sana tertulis bahwa pada hari Rabu, 7 April 2021, area di sekitar klem bagian atas dilumuri dengan baby oil dan mulai berendam pagi dan sore hari sekitar 10-15 menit.

Tidak ada perlawanan pada anakku saat aku membanjurkan baby oil ke area yang habis dikhitan. Saat diminta untuk berendam pun, ia melakukannya dengan senang hati. Bahkan, ia berendam sekitar setengah jam lebih. Haha, bocah demenannya emang main air! Air yang digunakan untuk berendam juga aku tambahkan dengan sedikit baby oil agar terasa berminyak.

Tujuan dari pemberian baby oil ini adalah agar mempermudah klem lepas dan meminimalisir rasa sakit. Sore harinya, waktunya membuka penjepit klem! Tentu saja suamiku yang melakukannya dengan bantuan gunting kuku yang berukuran sedang atau besar. Bagaimana reaksi Dipta? Ya jelas nangis, dong! Takut diapa-apain lagi, kali. Nangisnya nggak yang lama gitu, setelah penjepit klemnya dibuka ya sudah B aja.

Gunting kuku dan penjepit klem yang sudah dilepas

Setelahnya, kami tinggal menunggu sampai klemnya lepas. Konon katanya, klem tersebut bisa terlepas sendiri setelah penjepit klem dicopot. Akan tetapi, jika klem tidak terlepas maka akan dilepas saat kontrol ke dokter.

Harapanku, klemnya bisa lepas sendiri. Udah kebayang aja gimana lebay cirambay bombaynya anakku kalau sampai harus lepas klem di dokter. Namun, hingga esok paginya belum ada tanda-tanda klem terlepas. Hiks! Makin panik ketika melihat seorang ibu yang anaknya dikhitan di KMC pada hari yang sama dengan Dipta, membuat story dan bercerita kalau klem milik anaknya terlepas sendiri.

Kekhawatiranku berakhir saat akan mandi sore, aku melihat ada klem di pakaian dalam anakku. Yeay, alhamdulillah! Jadi, saat kontrol nanti dokter tinggal memeriksa kondisi luka pasca khitan saja.

Ini dia smart klamp-nya

Setelah klem terlepas, aku melihat seperti ada lingkaran coklat kehitaman di batang penis anakku, lalu ada juga cairan berwarna putih yang mengelilinginya. Namun, setelah membaca petunjuk yang diberikan dari Klinik Mutiara Cikutra, aku tidak heran sebab itu merupakan bekas luka yang akan lepas sendiri dan cairan putih tadi merupakan cairan alami penyembuh luka.

Perawatan Setelah Klem Dibuka

Hari Sabtu, 10 April 2021, kami kembali ke KMC untuk melakukan kontrol pasca khitan. Sebelumnya, aku sudah mengkonfirmasi via Whatsapp dan dijadwalkan untuk datang sekitar pukul 08.00 - 09.00 WIB. Prosesnya cepat sekali, saat datang dan melakukan konfirmasi ulang di bagian pendaftaran, petugas dengan mudah menemukan berkas milik kami. Anakku pun langsung bisa masuk ke ruang periksa.

Dokter mengatakan kalau bekas luka anakku sudah bagus, tinggal menunggu lingkaran coklat kehitamannya lepas sendiri. Adapun cairan alami penyembuh luka yang keluar dapat dibersihkan menggunakan air hangat dan kasa saja, atau menggunakan larutan saline (NaCl 0.9%) jika cairan penyembuh luka yang keluarnya cukup banyak.

Hari ini, bekas luka anakku sudah terlepas dan aku hanya membersihkan cairan alami penyembuh lukanya menggunakan air dan dilap-lap dengan handuk setelah mandi. Mudah dibersihkan ternyata, hanya saja anakku merasa was-was dan siaga ketika aku akan membersihkannya. Jadi, aku perlu hati-hati agar ia tetap merasa nyaman dan aman.

Sekian dulu cerita panjang kali lebar mengenai pengalaman mengkhitan anak menggunakan metode smart klamp. Kesanku, aku tidak menyesal memilih metode smart klamp meskipun memang biayanya sedikit lebih-lebih dibandingkan dengan metode khitan yang lain. Proses pengerjaannya cepat, perawatannya tidak ribet sama sekali dan pemulihan anak setelah khitan juga kilat banget!

Do'akan Dipta semoga jadi anak yang semakin sholeh ya, teman-teman.

Semoga bermanfaat.

Sukabumi, 13 April 2021

Posting Komentar

32 Komentar

  1. Mbaaa, aku agak ngilu pas yg bius lokal, di titik sekitar penis, maksudnya itu disuntik yaaa??? Berapa kali suntik? Ini mah udh pasti anakku juga bakal jejeritan di dalam hahahaha. Siap2 dah ini..

    Aku nyeseeel ga khitan anakku pas msh LBH kecil. Sepupunya di khitan pas bayi, tp itu Krn ada sakit infeksi. Aku pikir, terpaksa disunat Krn sakitnya. Tp ternyata dr bayipun udh bisa yaaa. Tau gitu kan dr bayi, biar rewelnya msh terhandle.

    Aku ga kebayang ini anaknya dipegangin pas sunat, Krn walo msh 5 THN, tenaganya udh ada :D. Si adek tiap ditanya udh mau sunat blm? Jawabannya pasti ga mau. Tapi kalo makin gede, makin susah ini pasti -_- .

    Cm setelah baca tulisan ini, fix aku bakal pake yg smart clamp juga mba. Aku ngerti dijahit kalo pake cara yg lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya mbaa tp kayak'y kalo udh gede ntar ada juga masa'y dy mau d sunat ya. Semoga bermanfaat infonyaa..

      Hapus
  2. Jadi ikutan deg-degan bacanya 😂 mungkin saya bakal gitu juga kalo nanti punya anak laki-laki dan udah harus dikhitan. Alhamdulillaah proses penyembuhan nya cepet dan gak ribet ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, nanti insha Allah kalo punya anak lanang merasakan juga. Hehe.

      Hapus
  3. Wah metode khitannya sudah modern dan canggih ya. Bermanfaat untuk anak dan orangtua. Tidak seperti zaman dulu jika saat dikhitan anak harus merasa was2 karena biasanya terasa sakit dan penyembuhannya lama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi makin mempermudah hidup manusia. Haha

      Hapus
  4. Wihiiii,, samaaan mba anakku juga pakai Smart Klamp. Umur 5 tahun biar samaan sama adek perempuannya yang di khitan. Numpang lapak juga ya siapa tau mau baca https://www.zenethobarony.com/2021/02/sunat-smart-clamp-hasan.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha sama kita tim khitan pake smart klamp ya..

      Hapus
  5. Metode klem yang sekarang sepertinya sudah lebih bagus daripada yang dijalani anak saya 8 tahun lalu. Saat itu, ada bagian yang tertinggal di penis anak saya, gak dilihat oleh nakes yang membuka alatnya. Nanti kami sadari setelah pulang ke rumah, selama 2 hari anak saya kesakitan. Setelah diperhatikan ternyata ada yang tertinggal, melingkar di penisnya berwarna bening jadi sekilas gak kelihatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh bisa gitu ya Mbak. Terus gimana kelanjutan'y? Akhirnya yg tertinggal itu diambil sama nakes atau bisa diambil aendiri?

      Hapus
  6. MasyaALLAH TabarokALLAH, Dipta kereeenn!
    Alhamdulillah, selamat yaaa anak sholeh gateng taqwa.
    semogaa jadi anak yg makin baik hati, pinter dan setrooong!

    BalasHapus
  7. Mbak...bacanya ikut deg-deg an, keingat sulungku dulu. Dia pakai metode laser. Klo bungsuku blom sunat nih, insya Allah sebentar lagi. Pas banget penasaran dengan teknik Klem. Terima kasih ya Mbak? Semoga ananda menjadi anak yang sholih. Amiin.

    BalasHapus
  8. Duh, baru tahu kalau khitan lebih baik dilakukan ketika anak masih kecil. Tapi kasian, saat dia disuntik bius. Semoga si gantengnya sehat selalu, cepat besar, dan menjadi anak saleh.

    BalasHapus
  9. Semoga si adek ganteng sehat selalu.... Aamiin...
    Momen khitan anak lanang ternyata jadi fase mendebarkan juga ya dalam emak-emak's life 😅

    BalasHapus
  10. Wah informasi bermanfaat ini karena tahun depan babay ponakan mau dikhitan juga terima kasih infonya

    BalasHapus
  11. waa aku deg deg an bacanya...pengalaman mengkhitankan anak cukup menantang ya mbak
    itu seninga punya anak cowok ya,.
    anak anakku cewek smua
    btw ruang tunggunya nyaman ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak cewek gada anjuran dikhitan juga ya mbak DK? Iya, seni'y punya anak cowok ya nyunatin sama ngelamarin cewek'y ntar. Wkwk..

      Ruang tunggu'y nggak kayak tempat mau sunat. Anak2 gak tau apa yg akan mereka hadapi. Haha..

      Hapus
  12. Cuma baca aja saya deg-degan lho mba. Si kecil pemberani sekali deh. Good job boy

    BalasHapus
  13. Bacanya serasa flashback saat anak sulung ku khitan. Sama juga menggunakan metode smart clamp. Makanya tau banget gimana deg-degan memandikan, gimana plognya saat alatnya bisa lepas wkwkwk. Yang paling enak ya itu ya bebas kena air jadi ga was-was

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe termasuk pengalaman yang berkesan ya mba..

      Hapus
  14. Alhamdulillah,
    kini akang sudah sunat. Meski masih kecil, berani dan tangguh.
    Semoga menjadi anak yang sholih.

    KMC ini memang terkenal banget kalau di Bandung.
    Hehhee..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih mbaleenn. Iya aku tau dr teh Nad. Wkwk..

      Hapus
  15. Duh aku deg-degan juga baca prosesnya nih. Pas banget anak keduaku laki-laki jadi ada referensi nih nanti dia mau disunat pakai metode apa. Tapi aku masih belum tahu sih anakku bakal disunat umur berapa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, semangat Mba. Pilih yang memudahkan aja, selain dari perawatan'y juga biaya'y pasti ya. Kalau metode'y kayak'y skrg semua udah trusted lah ya..

      Hapus
  16. Aku bersyukur banget baca artikel ini. Lagi bingung nyari metode khitan terbaik untuk anakku. Jadi pilihannya yang minim pendarahan dan proses cepat itu metode smart klamp ya mba. makasih reviewnya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga bermanfaat infonya ya. Makasih sudah mampir. Hehe..

      Hapus
  17. semoga Dipta jadi anak yang sholeh ya Mbak Ima, cepet sembuh dan sehat2 terus ya. anakku juga belum disunat nih, jadi referensi buat nanti. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih Mbak. Iya, semoga bermanfaat ya infonya..

      Hapus
  18. Assalamualaikum, saya ingin berbagi pengalaman, saya punya anak laki-laki ABK umur 10th, saat itu saya jg bingung, mau disunat tp takut anaknya bermasalah, akhirnya saya google dan ketemu sunat metode klamp Sealer pen, jadi disunat dgn metode klamp tp klampnya langsung dilepas, tidak terpasang 5 hari. Dan hasilnya memuaskan, hanya satu hari merasa tidak nyaman besoknya udah normal walaupun blm sembuh total. Biusnya pun tidak disuntik tapi pil yg dimasukan ke lobang anus. Metode ini memang sangat nyaman tapi harganya jg lebih mahal tapi menurut saya sangat worth it karena saya tidak takut bekas luka sunatnya kenapa-napa.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya 😊 yang mau ngobrol-ngobrol terkait artikel di atas, yuk drop komentar positif kalian di kolom komentar.

Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup ya, Frens! 😉

Satu lagi, NO COPAS tanpa izin ya. Mari sama-sama menjaga adab dan saling menghargai 👍